Anda di halaman 1dari 15

DAMPAK KORUPSI TERHADAP

BIDANG KESEHATAN

Mata Kuliah :

Pendidikan Budaya Anti Korupsi (PBAK)

Dosen Pengajar :

Erfan Roebiakto, S.KM,.Ms

Oleh Kelompok 2.2 :

Adinda Putri Damayanti P07134116214


Alma Suphia Devi P07134116216
Aulia Hasbi P07134116219
Dewi Ratih Afriyanti P07134116227
Helma Meilestiana P07134116237

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BANJARMASIN
DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadiran Allah SWT, atas limpahan rahmat dan
karunia_Nya lah, kami dapat menyusun makalah ini dengan sebaik mungkin untuk
menyelesaikan tugas pembuatan Makalah Dampak Korupsi Terhadap Bidang Kesehatan dalam
memenuhi tugas Mata Kuliah PBAK (Pendidikan Budaya Anti Korupsi). Sekaligus sebagai
sarana belajar dan penambah pemahaman.
Terimakasih saya ucapkan kepada Dosen pembimbing yang telah memberi
pembimbingan sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari dalam
pembuatan makalah ini tidak luput dari kekurangan. Sehingga kami ucapkan banyak
permohonan maaf apabila ada kesalahan dalam penyusunan makalah ini, kritik dan saran sangat
diharapkan agar kedepannya dapat kami gunakan sebagai pendorong dan pendukung dalam
menyelesaikan dan memperbaiki tugas selanjutnya. Semoga dengan terselesaikannya makalah ini
nantinya akan bermanfaat bagi kita semua baik sebagai penyusun ataupun bagi para
pembacanya.

Banjarbaru, September 2017


Penulis,
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kita sering mendengar kata “KORUPSI”, korupsi ada disekeliling kita, mungkin
terkadang kita tidak menyadari itu. Korupsi biasa terjadi di rumah, sekolah, masyarakat,
maupun instansi tinggi dalam pemerintahan dan juga di dunia kesehatan. Mereka yang
melakukan korupsi ini, terkadang menganggap remeh hal yang dilakukannya itu. Hal ini
sangat mengkhawatirkan sebab, bagaimanapun apabila organisasi dibangun oleh
korupsi, maka organisasi tersebut akan rusak. Dari kenyataan diatas dapat ditarik 2
kemungkinan dilakukannya korupsi: 1. Metode yang dilakukan pendidik belum sesuai
dengan kenyataan, sehingga pelajaran tidak dapat dicerna secara optimal oleh anak
didik 2. Kita sering menggangap remeh bahkan malas untuk mempelajari hal ini, karena
kurangnya motivasi pada diri sendiri, sehingga sering kali berasumsi “untuk apa
mempelajari” padahal itu sangat penting untuk diketahui agar tahu hak dan kewajiban
pada negara.
Pemberantasan korupsi marak dilakukan di berbagai institusi. Sejak diberlakukannya
program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) awal 2014 lalu, Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) mulai aktif melakukan kajian untuk menilai potensi korupsi dibidang
kesehatan. Korupsi merupakan bagian dari Fraud. Dalam sektor kesehatan,
istilah Fraud lebih umum digunakan untuk menggambarkan bentuk kecurangan yang
tidak hanya berupa korupsi tetapi juga mencakup penyalahgunaan aset dan pemalsuan
pernyataan. Fraud dalam sektor kesehatan dapat dilakukan oleh semua pihak yang
terlibat dalam program JKN mulai dari peserta BPJS Kesehatan, penyedia layanan
kesehatan, BPJS Kesehatan, dan penyedia obat dan alat kesehatan. Uniknya masing-
masing aktor ini dapat bekerjasama dalam aksi Fraud atau saling mencurangi satu sama
lain.
Fraud menyebabkan kerugian finansial negara. Di seluruh Indonesia, data yang
dilansir KPK menunjukkan bahwa hingga Juni 2015 terdeteksi potensi Fraud dari
175.774 klaim Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) dengan nilai Rp.
440 M. Ini baru dari kelompok klinisi, belum dari aktor lain seperti staf BPJS
Kesehatan, pasien, dan suplier alat kesehatan dan obat. Nilai ini mungkin saja belum
total mengingat sistem pengawasan dan deteksi yang digunakan masih sangat sederhana
(KPK, 2015).
Besarnya potensi kerugian yang ditimbulkan, mendorong pemerintah menerbitkan
Permenkes No. 36 tahun 2015 tentang Pencegahan Kecurangan (Fraud) dalam Program
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
sebagai dasar hukum pengembangan sistem anti Fraud layanan kesehatan di Indonesia.
Sejak diluncurkan April 2015 lalu, peraturan ini belum optimal dijalankan. Dampaknya,
Fraud layanan kesehatan berpotensi semakin banyak terjadi namun tidak diiringi dengan
sistem pengendalian yang mumpuni.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud korupsi ?
2. Bagaimana dampak Korupsi Pada Sector Kesehatan ?
3. Apa saja dampak korupsi dibidang kesehatan?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan korupsi
2. Mengetahui bagaimana dampak Korupsi Pada Sector Kesehatan
3. Mengetahui apa saja dampak korupsi dibidang kesehatan
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Pengertian korupsi
Secara etimologi Korupsi atau rasuah berasal dari bahasa Latin: corruptio dari
kata kerja corrumpere yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik,
menyogok adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta
pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal
menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk
mendapatkan keuntungan sepihak.

Menurut Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak


Pidana Korupsi, yang termasuk dalam tindak pidana korupsi adalah:

"Setiap orang yang dikategorikan melawan hukum, melakukan perbuatan


memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi, menyalahgunakan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara."

Sedangkan menurut Guy Benveniste dengan cantik memberikan pengertian korupsi


menjadi tiga bagian yaitu korupsi ilegal (corruption illegal), mercenery corruption dan
ideological corruption (korupsi ideologis).

Pengertian illegal corruption (illegal corruption) adalah suatu jenis tindakan yang
membongkar atau mengacaukan, bahasa ataupun maksud maksud hukum, peraturan
dan regulasi tertentu. Efektivitas untuk jenis korupsi ini bisa diukur. Namun ia jauh
lebih mudah untuk dikendalikan.

Kemudian pengertian mercenary corruption adalah sejenis korupsi dengan maksud


untuk memperoleh keuntungan individual / pribadi. Umumnya korupsi jenis ini
banyak digunakan oleh kompetitor politik dalam suksesi ataupun kampanye politik.

Kemudian pengertian korupsi ideologis (ideological corruption) adalah korupsi yang


dilakukan lebih karena kepentingan kelompok, karena komitmen ideologis seseorang
yang mulai tertanam diatas nama kelompok tertentu. Ummnya korupsi ideologis
sangat sulit dilacak dan diketahui secara material.

Secara umum, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi
untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah, pemerintahan rentan korupsi
dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam
bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima
pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik
ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para
pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.

Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat,
terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti
penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas
dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat
penting untuk membedakan antara korupsi dan kejahatan.

Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang
dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal
di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar memenuhi unsur-
unsur sebagai berikut:
• perbuatan melawan hukum,
• penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana,
• memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan
• merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Jenis tindak pidana korupsi di antaranya, namun bukan semuanya, adalah


• memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan),
• penggelapan dalam jabatan,
• pemerasan dalam jabatan,
• ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara), dan
• menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

II.2 Korupsi Pada Sector Kesehatan

Sektor kesehatan merupakan urusan publik yang tidak lepas dari praktek korupsi.
Korupsi pada sektor kesehatan melibatkan aparat dan pejabat tingkat rendah hingga
tingkat tinggi. Pada tingkat rendah menyentuh pada kepala dinas kesehatan (Dinkes)
pada tingkat kabupaten/kota dan provinsi, sedangkan pada tingkat tinggi melibatkan
pejabat pada kantor kementerian kesehatan dan lembaga lainnya pada tingkat nasional
seperti BPOM maupun anggota DPR yang membidangi kesehatan.

Hasil investigasi Indonesia Corruption Warch (ICW) sampai tahun 2008, kasus
korupsi pada sektor kesehatan telah menimbulkan kerugian negara mencapai Rp 128
miliar. Kasus-kasus tersebut melibatkan para pejabat tingkat lokal seperti level kepala
dinkes dan DPRD serta direktur rumah sakit, sedangkan korupsi pada tingkat tinggi
belum terungkap ketika itu. Modus korupsi yang dominan masih berputar dalam
pengadaan barang dan jasa dengan modus mark up yang menimbulkan kerugian
negara sebesar Rp 103 miliar, sisanya adalah modus penyuapan.

Pada tingkat pejabat dinas kesehatan lokal, salah satu kasus korupsi dilakukan oleh dr
Laode Budiono MPH, Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Brebes atas dugaan korupsi
dana Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) tahun 2009/ 2010 senilai Rp 150
juta. Dana Jamkesmas senilai Rp 150 juta itu digunakan untuk kepentingan pribadi.
Laode yang juga mantan Direktur RSUD Brebes itu ditahan di Lembaga Pemasyarakat
(LP) Brebes sejak Rabu (19/10). Penahanan dilakukan atas beberapa pertimbangan dan
sesuai asal 21 KUHP, di antaranya, dikhawatirkan melarikan diri, dikhawatirkan
menghilangkan barang bukti dan tersangka menggulangi perbuatannya. Sementara dr
Laode Budiono membantah tindakannya masuk korupsi karena hanya meminjam uang
Rp 150 juta dari dana Jamkesmas di Puskesmas Jatibarang (Cybernews).

Kasus lainnya pada tingkat lokal terjadi di Nias Selatan (Nisel) yang melibatkan
Mantan Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan setempat, Rahmat Al Yakin Dachi.
Pengadaan obat-obatan generik pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Nisel tahun 2007
dengan nilai kontrak Rp 3,7 miliar seharusnya melalui proses lelang, namun terdakwa
bersama Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Ketua Panitia Lelang menetapkan PT
Septa Sarianda sebagai rekanan melalui Penunjukan Langsung (PL), seolah-olah
sebagai pemenang lelang. Pihak panitia lelang tidak menetapkan daftar harga sesuai
SK Menkes No.521/Menkes/SK/IV/2007 tentang Harga Obat Generik sehingga dalam
pengadaan 203 jenis obat generik tersebut, PT Septa Sarianda melakukannya di atas
harga resmi sebagaimana ditetapkan dalam SK Menkes tersebut. Pihak Pemkab Nisel
membayar pengadaan obat-obatan generik tersebut kepada P Damanik sebesar Rp 3,2
miliar. Namun hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
Sumut ditemukan kerugian negara (Pemkab Nisel) sebesar 2,07 miliar.

Dalam perkara ini, penyidik menyita uang sebesar Rp 1,7 miliar yang tersimpan di
rekening Pemkab Nisel untuk negara. Terdakwa divonis satu tahun enam bulan (18
bulan) penjara karena melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana diubah menjadi UU
Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1
KUHPidana. Terdakwa juga divonis untuk membayar denda senilai Rp 50 juta
subsider satu bulan kurungan (Analisa, 28/10/2011).

Korupsi Skala Besar

Salah satu kasus korupsi skala besar pada tingkat pemerintah pusat adalah kasus
korupsi alat kesehatan pada Kemenko Kesra pada 2009 yang melibatkan terdakwa
Sutedjo Yuwono. Soetedjo Yuwono adalah Sekretaris ketika Aburizal Bakrie menjadi
Menko Kesra. Kasus ini ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena
sarat dengan korupsi yakni penunjukan langsung proyek alkes itu. PT Bersaudara
adalah perusahaan yang menjadi rekanan pada proyek tersebut. Soetedjo Yuwono
didakwa melakukan korupsi dalam proyek pengadaan alat kesehatan untuk
penanggulangan wabah flu burung tahun 2006. Terdakwa melaksanakan pengadaan
peralatan rumah sakit untuk penanggulangan flu burung tahun anggaran 2006 pada
Kemenko Kesra bertentangan dengan Keppres tentang pedoman pelaksanaan
pengadaan barang dan jasa.
Perbuatan korupsi Sutedjo secara sendiri atau bersama-sama dengan orang lain yang
diantaranya adalah Ngatiyo Ngayoko (Pejabat Pembuat Komitmen Kemenko Kesra),
Daan Ahmadi (Direktur Utama PT Bersaudara) dan M Riza Husni (Direktur Keuangan
PT Bersaudara). Soetedjo didakwa dengan dakwaan primer Pasal 2 ayat 1 UU
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan dakwaan subsider Pasal 3 UU yang sama.
Terdakwa menyalahgunakan kewenangan yang ada pada jabatannya selaku kuasa
pengguna anggara DIPA APBN-P Kemenko Kesra tahun 2006.

Soetedjo telah memenangkan PT Bersaudara sebagai pelaksana proyek pengadaan


dengan metode penunjukan langsung. Proyek pengadaan alat kesehatan senilai Rp
98,6 miliar itu telah mengakibatkan kerugian keuangan negara senilai Rp 36,2 miliar.
Kerugian berasal dari penggelembungan harga alat-alat kesehatan yang dibeli
Kemenko Kesra. Pembayaran bersih yang diterima PT Bersaudara untuk 2006 sebesar
Rp 88,3 miliar. Dari pembayaran tersebut yang dipergunakan oleh PT Bersaudara
untuk realisasi pengadaan hanya sebesar Rp 48,054 miliar.

Pada kasus pengadaan alat kesehatan tahun 2007, KPK menetapkan seorang mantan
pejabat di Kementerian Kesehatan bernama Rustam Syarifuddin Pakaya sebagai
tersangka kasus dugaan korupsi. Penetapan Rustam sebagai tersangka oleh KPK
berdasarkan pengembangan kasus korupsi pengadaan alat kesehatan untuk
penanggulangan flu burung pada 2006. Akibat perbuatannya, Rustam dijerat Pasal 2
Ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kasus korupsi tingkat pemerintah pusat lainnya yang ditangani Kejaksaan Agung
adalah kasus dugaan korupsi di Kementerian Kesehatan dalam pengadaan alat bantu
belajar mengajar pendidikan dokter/dokter spesialis di rumah sakit dengan nilai proyek
Rp 417 miliar. Kasus korupsi pelaksanaan pekerjaan pengadaan alat bantu belajar
mengajar pendidikan dokter/dokter spesialis di rumah sakit pendidikan dan rumah
sakit rujukan pada Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia di
Kemkes terjadi pada 2010. Ada tiga orang yang menjadi tersangka pada kasus tersebut
berdasarkan surat penetapan tersangka ditandatangani sejak 20 Oktober 2011 yakni
Widianto Aim (Ketua Panitia Pengadaan), Syamsul Bahri (Pejabat Pembuat
Komitmen) dan Bantu Marpaung (Direktur PT Buana Ramosari Gemilang). Syamsul
berperan sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) dan Widianto sebagai ketua
panitia pengadaan melakukan korupsi dengan pemenang tender, Bantu Marpaung.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih yang saat ini masih menjaabt tak
lepas dari isu korupsi. Adalah Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen
Indonesia (KP3I) yang melaporkan Endang dan Nazaruddin ke Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) pada Kamis (16/6/2011) atas dugaan korupsi Pengadaan Alat Bantu
Belajar Mengajar (ABBM) Pendidikan dokter/dokter Spesialis di Rumah Sakit (RS)
Pendidikan dan RS Rujukan Tahun 2010 pada Kementerian Kesehatan. Proyek ini
berasal dari APBN Perubahan 2010 lalu yang diduga melibatkan para mafia anggaran
di DPR yang diatur oleh Muh Nazaruddin (anggota Fraksi Partai Demokrat) dan
kawan-kawan. KP3I menganggap pengadaan ABBM tersebut sarat rekayasa dan
korupsi dengan potensi kerugian negara yang sangat besar.
II.3 Dampak korupsi dibidang kesehatan

Para pejabat korup pada sektor kesehatan telah mencederai upaya pembangunan
kesehatan yang oleh Notoatmodjo bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan,
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang
produktif secara sosial dan ekonomis (Notoadmodjo, 2010:53). Mengapa? Karena
anggaran untuk membangun sector kesehatan justru digunakan untuk memperkaya diri
dan kelompoknya dan mengabaikan hak masyarakat untuk mendapatkan alat
kesehatan dan pelayanan kesehatan.

Dampak korupsi pada sektor kesehatan dapat mengakibatkan menurunnya derajat


kesehatan masyarakat yang berimbas pada IPM (Indeks Pembangunan Manusia).
Indikator IPM seperti angka kematian bayi dan angka harapan hidup sangat terkait
dengan pendanaan sektor kesehatan. Apabila terjadi korupsi pada sektor kesehatan,
maka akan berimbas penurunan angka harapan hidup dan menaikkan angka kematian
bayi. Dampak korupsi lebih jauh adalah naik dan tingginya harga obat-obatan dan
rendahnya kualitas alat kesehatan pada rumah sakit dan puskesmas serta sarana
kesehatan masyarakat lainnya.

Terjadinya kasus-kasus korupsi pada sektor kesehatan yang melibatkan pejabat pada
kementerian kesehatan dan dinas kesehatan lokal menunjukkan rendahnya transparansi
dan akuntabilitas serta kepatuhan pada hukum. Besarnya diskresi atau kewenangan
pejabat dan rendahnya etika pejabat sektor kesehatan menyebabkan menguatnya dan
meningkatnya kesempatan melakukan praktek korupsi disektor kesehatan.

Korupsi kesehatan telah berdampak buruk bagi derajat kesehatan dan pelayanan
kesehatan di rumah sakit dan puskesmas. Hasil pengujian statistic atas kasus korupsi
dengan indicator kesehatan seperti angka kematian bayi, angka harapan hidup dan ipm
(indeks pembangunan manusia) ditingkat propinsi membuktikan kasus korupsi dan
kerugian negara telah menaikkan angka kematian bayi dan menurunkan angka harapan
hidup dan ipm.
Pemberantasan korupsi disektor kesehatan masih belum maksimal. Hal ini
ditunjukkan oleh masih banyaknya potensi korupsi yang belum diusut oleh KPK,
Kejaksaan dan Kepolisian. Kasus korupsi kesehatan yang diusut hanya mampu
menyeret kasus dan pelaku pada tingkat middle-lower seperti kadinkes dan direktur
Rumah Sakit. Sedangkan, kasus korupsi ditingkat middle-upper seperti yang
berpotensial melibatkan pejabat Depkes, BPOM (Badan Pengawas Obat dan
Makanan) serta anggota DPR masih belum satupun yang diusut. Padahal, korupsi
ditingkat ini memiliki dampak yang besar bagi kualitas layanan kesehatan yang dan
akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Dampak korupsi di bidang kesehatan, antara lain tingginya biaya kesehatan,
tingginya angka kematian ibu hamil dan ibu menyusui, tingkat kesehatan masih buruk,
dan lain - lain. Angka mortalitas ibu hamil dan melahirkan pada tahun 2012, ternyata
masih tinggi yakni 359 per 100.000 kelahiran. Angka ini meningkat tajam dibanding
tahun 2007, yakni 228 per 100.000 kelahiran hidup. Secara makro, angka kematian ibu
hamil dan melahirkan, merupakan parameter kualitas kesehatan masyarakat pada suatu
negara.

Sistem manajemen rumah sakit yang diharapkan untuk pengelolaan lebih baik
menjadi sulit dibangun. Apabila korupsi terjadi di berbagai level maka akan terjadi
keadaan sebagai berikut:

 Organisasi rumah sakit menjadi sebuah lembaga yang mempunyai sisi


bayangan yang semakin gelap;
 Ilmu manajemen yang diajarkan di pendidikan tinggi menjadi tidak relevan;
 Direktur yang diangkat karena kolusif (misalnya harus membayar untuk
menjadi direktur) menjadi sulit menghargai ilmu manajemen;
 Proses manajemen dan klinis di pelayanan juga cenderung akan tidak seperti
yang kita bayangkan;
 Adanya layanan kesehatan yang kurang memadai dan masih tumpang tindih
juga pengadministrasian yang kurang baik dari sebuah badan penyelenggara
yang bergerak di bidang kesehatan

Ada beberapa bentuk korupsi yang perlu diketahui:

 Perbuatan curang dengan orang yang besangkutan.


 Suap,dalam bentuk korupsi ini seringkali terjadi penyuapan di sekitar tempat
kita,misalkan ada beberapa orang yang ingin masuk di suatu pelayanan kesehatan
tetapi 2 orang ini melakukan penyuapan kepada pejabat yang ada di dalam
pelayanan kesehatan itu agar bisa masuk tanpa ada system atrian apapun.
 Pemerasan,yakni pemerasan ini biasanya terjadi dalam bentuk pungutan liar,
seperti memanfaatkan situasi pasien untuk meminta biaya tambahan.
 Pemberian hadiah atau cendera mata,misalkan pemberian tanpa ada maksud
ataupun kepentingan tertentu.
 Penyalahgunaan wewenang dalam memperlakukan pasien, seperti mendahulukan
pasien umum dibanding pasien dengan bantuan jaminan social, korupsi yang
dilakukan.

Berdasarkan hasil kajian ini maka disimpulkan pertama pemberantasan korupsi


kesehatan hanya mampu menyeret pelaku ditingkat middle lower (menengah bawah)
dan belum menyentuh sedikitpun pelaku atau aktor ditingkat middle upper (menengah
atas). Kedua, tingginya diskresi dan rendahnya transparansi, akuntabilitas, suara warga
dan penegakan hukum dalam sektor kesehatan telah mendorong meningkatknya
kesempatan korupsi. Sementara kesempata korupsi merupakan faktor dominan dalam
mendorong aktor untuk melakukan korupsi diantara dua faktor lainnya, rasionalisasi
dan tekanan. Ketiga, korupsi kesehatan telah berdampak terhadap derajat kesehatan
terutama terhadap angka kematian bayi, angka harapan hidup dan IPM. Selain itu,
korupsi kesehatan juga telah berdampak terhadap naiknya harga obat, rendahnya
kualita alkes di rumah sakit dan puskesmas dan menghambat akses publik terutama
dari kelompok miskin untuk mendapatkan layanan kesehatan yang bermutu.
Beberapa cara dalam upaya pencegahan korupsi pada sector kesehatan :

1. Pemberantasan korupsi diarahkan pada daerah rawan korupsi ditingkat nasional terutama
dalam tata niaga obat dan alkes serta pembangunan sarana dan prasarana kesehatan. Hal ini
diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menekan biaya berobat yang
semakin tinggi.
2. Pencegahan korupsi kesehatan difokuskan pada pengurangan kesempatan atau peluang
korupsi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi diskresi pejabat.birokrat kesehatan,
membuka informasi kebijakan keuangan lebih transparan, memperbaiki manajemen administrasi
lebih akuntabel, mendorong kekuatan suara warga dalam penyusunan kebijakan lebih tinggi, dan
peningkatan intensitas penegakan hukum atas pelanggaran yang ada.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Korupsi adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua
bentuk pemerintah, pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi
berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan
dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat
yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti
harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun
tidak ada sama sekali.
Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar memenuhi unsur-
unsur sebagai berikut:
• perbuatan melawan hukum,
• penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana,
• memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan
• merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Pemberantasan korupsi disektor kesehatan masih belum maksimal. Hal ini ditunjukkan
oleh masih banyaknya potensi korupsi yang belum diusut oleh KPK, Kejaksaan dan
Kepolisian. Kasus korupsi kesehatan yang diusut hanya mampu menyeret kasus dan
pelaku pada tingkat middle-lower seperti kadinkes dan direktur Rumah Sakit.
Sedangkan, kasus korupsi ditingkat middle-upper seperti yang berpotensial melibatkan
pejabat Depkes, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) serta anggota DPR
masih belum satupun yang diusut. Padahal, korupsi ditingkat ini memiliki dampak
yang besar bagi kualitas layanan kesehatan yang dan akses masyarakat terhadap
layanan kesehatan.
III.2 Saran
Korupsi bersifat jahat karena merugikan orang banyak dan negara. Orang yang
melakukan korupsi ini akan diberi hukuman penjara dan denda. Seharusnya kita dapat
menahan diri untuk tidak melakukan hal ini, seperti dengan menguatkan iman atau
mendekatkan diri pada Allah SWT, agar negara kita ini dapat terhindar dari semua
permasalahan korupsi agar terciptanya negara yang aman dan makmur. Oleh karena
itu kita sebagai calon tenaga kesehatan harus berperan aktif dalam memberantas
korupsi, dengan cara menumbuhkan kesadaran akan dampak dan bahaya korupsi yang
tidak hanya berdampak pada satu sector tetapi juga berdampak luas.
DAFTAR PUSTAKA

http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.antikorupsi.org/id/content/korupsi-
kesehatan&ei=JiZhQJF6&lc=id-

Lamintang, PAF dan Samosir, Djisman. 1985. Hukum Pidana Indonesia. Bandung : Penerbit
Sinar Baru

https://googleweblight.com/?lite_url=https://yuokysurinda.wordpress.com/2015/12/20/menganali
sis-korupsi-bidang-kesehatan-oleh-riska-nova/&ei=i92P6cCX&lc=id-

Sumber : http://otoritas-semu.blogspot.co.id/2017/01/dampak-korupsi-di-bidang-
kesehatan.html?m=1#ixzz4sziU5tgE