Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keperawatan merupakan profesi yang membantu dan memberikan pelayanan yang
berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan individu (ANA, 1965). Keperawatan
merupakan suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan
biopsikososial dan spiritual yan komprehensif di tujukan kepada individu, keluarga dan
masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia
(Lokakarya PPNI, 1985).
Sebagai seorang profesional, perawat menerima tanggung jawab dan mengemban
tanggung gugat untuk membuat keputusan dan mengambil langkah-langkah tentang asuhan
keperawatan yang diberikan. Perawat juga bekerja diberbagai tatanan dan mengemban
berbagai peran yang membutuhkan interaksi bukan saja dengan klien/pasien, keluarga dan
masyarakat tetapi juga dengan tim kesehatan lainnya. Dalam melaksanakan tugasnya perawat
akan sering mengalami konflik, baik dengan klien/pasien beserta keluarganya maupun
dengan tim kesehatan lain. Di samping itu perawat juga harus mempertahankan dan
meningkatkan kompetensinya dalam praktek sesuai dengan perkembangan IPTEK
keperawatan dan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan perpanjangan hidup yang sering
menimbulkan dilema etik.
Telaah tentang masalah etik dan isu/konflik yang mungkin timbul dalam praktek
keperawatan dapat dipakai sebagai landasan kerja bagi perawat dalam pendekatan yang
sistematis terhadap perilaku etis. Hal ini juga akan memberikan peningkatan kesadaran
tentang beragam masalah etik dan pengambilan keputusan dalam asuhan keperawatan.
Perawat dapat menjaga perspektif etis dengan jalan menyadari bahwa semua keputusan yang
diambil dalam praktek mempunyai dimensi etis.
Oleh karena itu perawat seharusnya ikut terlibat dalam memecahkan masalah besar
yang menyangkut kesehatan dan kebutuhan pasien, dengan demikian terdapat konsensus di
antara anggota tim dalam mengambil keputusan dan menangani informasi yang akan
disampaikan kepada pasien dan keluarganya secara realistis dan jujur, dan berpedoman pada
nilai-nilai moral dan kode etik.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana perawat mengambil keputusan dilemma etis sehubungan dengan asfiksia berat
yang hanya bisa bertahan hidup dengan menggunakan ventilator.
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Umum
Mengetahui strategi pengambilan keputusan keperawatan dalam menyikapi dilemma
etik pasien dengan asfiksian berat yang hanya bisa bertahan hidup dengan
menggunakan ventilator dengan Application six step’s in EDM.
1.3.2 Khusus
Menetapkan keputusan setiap tahap dalam Six Step”s in EDM
a. Clarify the ethical dilemma
b. Gather additional data
c. Identify options
d. Make decision
e. Act
f. Evaluate
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep etika
2.1.1 Etik
Etik adalah norma-norma yang menentukan baik-buruknya tingkah laku manusia,
baik secara sendirian maupun bersama-sama dan mengatur hidup ke arah
tujuannya ( Pastur scalia, 1971)
2.1.2 Etik Keperawatan
Etik keperawatan adalah norma-norma yang di anut oleh perawat dalam
bertingkah laku dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di
suatu pelayanan keperawatan yang bersifat professional. Prilaku etik akan
dibentuk oleh nilai-nilai dari pasien, perawat dan interaksi sosial dalam
lingkungan.
2.1.3 Kode Etik Keperawatan
Kode etik perawat adalah suatu pernyataan atau keyakinan yang mengungkapkan
kepedulian moral, nilai dan tujuan keperawatan. Kode etik bertujuan untuk
memberikan alas an/dasar terhadap keputusan yang menyangkut masalah etika
dengan menggunakan model-model moralitas yang konsekuen dan absolute.
Sebagai landasan utama dalam kode etik adalah prinsip penghargaan pada orang
lain, diikuti dengan prinsip otonomi yang menempatkan pasien sebagai focus dari
keputusan yang rasional. Prinsip-prinsip lain yang perlu diperhatikan adalah :
prinsip kemurahan hati atau selalu berbuat baik, menghargai keyakinan atau hak-
hak istimewa individu (confidentiality), selalu menepati janji (fidelity) dan
memperlakukan individu-individu secara adil.
1. Fungsi Kode Etik Perawat
Kode etik perawat yang berlaku saat ini berfungsi sebagai landasan bagi status
professional dengan cara sebagai berikut :
a. Kode etik perawat menunjukkan kepada masyarakat bahwa perawat
diharuskan memahami dan menerima kepercayaan dan tanggung jawab
yang diberikan kepada perawat oleh masyarakat
b. Kode etik menjadi pedoman bagi perawat untuk berperilaku dan menjalin
hubungan keprofesian sebagai landasan dalam penerapan praktek etikal
c. Kode etik perawat menetapkan hubungan-hubungan professional yang
harus dipatuhi yaitu hubungan perawat dengan pasien/klien sebagai
advocator, perawat dengan tenaga professional kesehatan lainnya sebagai
teman sejawat, dengan profesi keperawatan sebagai seorang contributor
dan dengan masyarakat sebagai perwakilan dari asuhan kesehatan
d. Kode etik perawat memberikan sarana pengaturan diri sebagai profesi
2. Maksud kode etik perawat
Kode etik perawat mempunyai maksud sebagai berikut :
a. Memberikan landasan bagi pengaturan hubungan antara perawat,
pasien/klien, rekan sejawat, masyarakat dan profesi
b. Mengingatkan perawat tentang tanggung jawab khusus yang mereka
emban bila sedang merawat pasien/klien
c. Memberikan standar sebagai dasar untuk member sanksi pada praktisi
keperawatan yang tidak mengindahkan moral dan sebaliknya digunakan
untuk membela praktisi keperawatan yang diperlakukan tidak adil
d. Sebagai landasan pembuatan kurikulum professional dan untuk
memberikan orientasi bagi lulusan baru terhadap praktek keperawatan
e. Membantu masyarakat umum agar dapat mengerti tingkah laku
keperawatan professional
f. Menuntun profesi dalam pengaturan diri
3. Prinsip-nilai dalam kode etik
Dalam kode etik perawat terkandung adanya prinsip-prinsip dan nilai-nilai
utama yang merupakan focus bagi praktek keperawatan. Prinsip dan nilai
bermuara pada interaksi professional dengan pasien serta menunjukkan
kepedulian perawat terhadap hubungan yang telah dilakukannya. Kedelapan
prinsip utama tersebut meliputi : respect, otonomi, beneficence (kemurahan
hati), non-maleficence, veracity (kejujuran), confideciality (kerahasiaan),
fidelity dan justice (kesetiaan, keadilan) (PP-PPNI, 2006)
a. Respek
Respek diartikan sebagai perilaku perawat yang menghormati atau
menghargai pasien/klien dan keluarganya. Perawat harus menghargai hak-
hak pasien/klien seperti hak untuk pencegahan bahaya dan mendapatkan
penjelasan secara benar. Penerapan Informed Consent secara tidak
langsung menyatakan suatu trilogy hak pasien yaitu hak untuk dihargai,
hak untuk menerima dan menolak treatment.
b. Autonomi
Autonomi berkaitan dengan hak seseorang untuk mengatur dan membuat
keputusannya sendiri meskipun demikian masih terdapat berbagai
keterbatasan, terutama yang berkaitan dengan situasi dan kondisi, latar
belakang individu, camput tangan hokum dan tenaga kesehatan
professional yang ada. Pada prinsipnya otonomi berkaitan dengan hak
seseorang untuk memilih bagi diri mereka sendiri, apa yang menurut
pemikiran dan pertimbangannya merupakan hal terbaik. Dengan demikian
akan melibatkan konsep diri dalam menentukan nasib atau
mempertanggungjawabkan dirinya sendiri
c. Benefecience
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan
pasien atau tidak menimbulkan bahaya bagi pasien. Kesulitan muncul
pada waktu menentukan siapa yang harus memutuskan hal terbaik untuk
seseorang. Pada dasarnya diharapkan seseorang dapat membuat keputusan
untuk dirinya sendiri kecuali bagi mereka yang tidak dapat melakukannya
seperti bayi, orang yang secara mental tidak kompeten dan pasien koma.
Permasalahan lain muncul berpusat pada “apa yang disebut baik” dan “apa
yang disebut tidak baik” sebagai contohnya adalah suatu keputusan yang
harus diambil, apakah lebih baik, menopang dan memperpanjang hidup
dalam menghadapi semua ketidak mampuan atau lebih baik
memperbolehkan seseorang untuk meninggal dan mengakhiri
penderitaannya. Tentu saja memerlukan pertimbangan yang sangat hati-
hati.
d. Non-maleficence
Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban perawat untuk tidak dengan
sengaja menimbulkan kerugian atau cidera. Kerugian atau cidera dapat
diartikan adanya kerusakan fisik seperti nyeri, kecacatan, kematian atau
adanya gangguan emosi yang antara lain adalah perasaan tidaak berdaya,
merasa terisolasi dan adanya kekesalan. Kerugian juga dapat berkaitan
dengan ketidak adilan, pelanggaran atau berbuat kesalahan.
Beberapa kewajiban yang berasal dari prinsip non-maleficence antara lain
adalah suatu larangan seperti : jangan membunuh atau menghilangkan
nyawa orang lain, kewajiban perawat untuk menghargai eksistensi
kemanusiaan yang mempunyai konsekuensi untuk melindungi dan
mempertahankan kehidupan dengan berbagai cara, jangan menyebabkan
nyeri atau penderitaan pada orang lain, jangan membuat orang lain tidak
berdaya dan jangan melukai perasaan orang lain.
e. Veracity
Merupakan prinsip moral dimana kita mempunyai suatu kewajiban untuk
mengatakan yang sebenarnya atau tidak membohongi orang lain / pasien.
Kebenaran merupakan hal yang fundamental dalam membangun suatu
hubungan denganorang lain. Kewajiban untuk mengatakan yang
sebenarnya didasarkan atau penghargaan terhadap otonomi seseorang dan
mereka berhak untuk diberi tahu tentang hal yang sebenarnya.

f. Konfidensialitas
Prinsip ini berkaitan dengan penghargaan perawat terhadap semua
informasi tentang pasien/klien yang dirawatnya. Pasien/klien harus dapat
menerima bahwa informasi yang diberikan kepada tenaga professional
kesehatan akan dihargai dan tidak disampaikan/diberbagikan kepada pihak
lain secara tidak tepat. Perlu dipahami bahwa berbagi informasi tentang
pasien/klien dengan anggota kesehatan lain yang ikut merawat
pasien/klien tersebut bukan merupakan pembeberan rahasia selama
informasi tersebut relevan dengan kasus yang ditangani.
Dalam praktek klinik perawat sering menemukan prinsip-prinsip yang
bertentangan, sehingga mendapatkan kesulitan dalam menanganinya.
Sebagai contoh : adanya seorang pasien yang tidak diberitahu tentang
diagnose penyakitnya, sehingga bertanya pada perawat. Jika perawat tidak
mempunyai kewenangan untuk menyampaikan informasi tersebut, maka
perawat akan mengalami dilemma etik, antara memberitahu pasien sesuai
dengan penghargaan terhadap otonomi atau tidak akan menceritakan
kebenaran yang berarti melanggar prinsip kejujuran.
g. Fedelity
Merupakan prinsip moral yang menjelaskan kewajiban perawat untuk
tetap setia pada komitmennya, yaitu kewajiban mempertahankan
hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Kewajiban ini
meliputi meenepati janji, menyimpan rahasia dan “caring”
h. Justice
Merupakan prinsip moral untuk bertindak adil bagi semua individu, setiap
individu mendapat pperlakuan dan tindakan yang sama. Tindakan yang
sama tidak selalu identik tetapi dalam hal ini persamaan berarti
mempunyai kontribusi yang relatif sama untuk kebaikan hidup seseorang
2.1.4 Dilema Etik
Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua (atau lebih) landasan
moral suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu
kondisi dimana setiap alternatif memiliki landasan moral atau prinsip. Pada
dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benara atau salah dan dapat
menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan,
tetapi banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat
nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga
timbul pertentangan dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson &
Thompson (1985 ) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak
ada alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan
atau tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau
yang salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang perawat tergantung
pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional.
1. Kerangka Proses Pemecahan Masalah Dilema Etik
Kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada
dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan / Pemecahan masalah
secara ilmiah, antara lain :
2. Model Pemecahan masalah (Megan, 1989)
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik, yaitu
:
a. Mengkaji situasi
b. Mendiagnosa masalah etik moral
c. Membuat tujuan dan rencana pemecahan
d. Melaksanakan rencana
e. Mengevaluasi hasil
3. Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 1989 )
a. Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi
sebanyak mungkin meliputi :
1) Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana
keterlibatannya
2) Apa tindakan yang diusulkan
3) Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
4) Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan
yang diusulkan.
b. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang
direncanakan dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi
tindakan tersebut
d. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa
pengambil keputusan yang tepat
e. Mengidentifikasi kewajiban perawat
f. Membuat keputusan
4. Model Murphy dan Murphy
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan
b. Mengidentifikasi masalah etik
c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d. Mengidentifikasi peran perawat
e. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin
dilaksanakan
f. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif
keputusan
g. Memberi keputusan
h. Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan
falsafah umum untuk perawatan klien
i. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan
menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan
berikutnya.
5. Model Curtin
a. Mengumpulkan berbagai latar belakang informasi yang menyebabkan
masalah
b. Identifikasi bagian-bagian etik dari masalah pengambilan keputusan.
c. Identifikasi orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
d. Identifikasi semua kemungkinan pilihan dan hasil dari pilihan itu.
e. Aplikasi teori, prinsip dan peran etik yang relevan.
f. Memecahkan dilema
g. Melaksanakan keputusan
6. Model Levine – Ariff dan Gron
a. Mendefinisikan dilema
b. Identifikasi faktor-faktor pemberi pelayanan
c. Identifikasi faktor-faktor bukan pemberi pelayanan
d. Pikirkan faktor-faktor tersebut satu persatu
e. Identifikasi item-item kebutuhan sesuai klasifikasi
f. Identifikasi pengambil keputusan
g. Kaji ulang pokok-pokok dari prinsip-prinsip etik
h. Tentukan alternatif-alternatif
i. Menindaklanjuti
7. Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel (1981)
Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Mengidentifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Melengkapi tindakan
8. Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981)
a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang
diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual.
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c. Mengidentifikasi Issue etik
d. Menentukan posisi moral pribadi dan professional
e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada
2.1.5 Strategi Penyelesaian Masalah Etik
Dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan etis, antara perawat dan dokter
tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan pendapat. Bila ini berlanjut dapat
menyebabkan masalah komunikasi dan kerjasama, sehingga menghambat
perawatan pada pasien dan kenyamanan kerja. (Mac Phail, 1988)
Salah satu cara menyelesaikan permasalahan etis adalah dengan melakukan
rounde (Bioetics Rounds) yang melibatkan perawat dengan dokter. Rounde ini
tidak difokuskan untuk menyelesaikan masalah etis tetapi untuk melakukan
diskusi secara terbuka tentang kemungkinan terdapat permasalahan etis.
2.2 PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL

Kelompok kerja Keperawatan Konsorsium Ilmu Kesehatan (1992) mendefinisikan


Praktek Keperawatan sebagai berikut :
Praktek Keperawatan adalah : Tindakan mandiri perawat professional melalui kerjasama
bersifat kolaboratif dengan pasien/klien dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan
asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya.
Malkemes, L.C (1983) mengatakan bahwa praktek keperawtaan professional
(professional Nursing Practice) adalah suatu proses dimana Ners terlibat dengan klien,
melalui kegiatan ini masalah kesehatan klien diidentifikasi dan di atasi.
Karakteristik praktek keperawatan professional :
a. Otoritas (authority) : mempengaruhi proses asuhan melalui peran profesiional
b. Akontabilitas (accountability) : tanggung jawab kepada klien, diri sendiri, dan
profesi, serta mengambil keputusan yang berhubungan dengan asuhan.
c. Pengambilan keputusan yang mandiri (Independent decision making) : membuat
keputusan pada tiap tahap proses keperawatan dalam menyelesaikan masalah klien
d. Kolaborasi (collaboration): mengadakan hubungan kerja dengan berbagai disiplin
dalam mengakses masalah klien, dan membantu klien menyelesaikannya
e. Pembelaan/dukungan(advocacy) : mengadakan intervensi untuk kepentingan atau
demi klien, dalam mengatasi masalahnya, serta berhadapan dengan fihak-fihak lain
yang lebih luas (system at large)
f. Fasilitasi (facilitation) : memaksimalkan potensi dari organisasi dan system klien-
keluarga (client-family system) dalam asuhan

2.2.1 PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEPERAWATAN


(PerMenKes no: H.K.02.02/MENKES/148/I/2010, bab III, pasal 8, 9, 10, 11,
12)
1. Pasal 8
(1) Praktik keperawatan dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat
pertama, tingkat kedua, dan ketiga
(2) Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
(3) Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui
kegiatan :
a. Pelaksanaan asuhan keperawatan
b. Pelaksanaan upaya promotif, preventif, pemulihan dan pemberdayaan
masyarakat dan
c. Pelaksanaan tindakan keperawatan komplementer
(4) Asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a. Meliputi
pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan
evaluasi kepoerawatan
(5) Implementasi keperawatan sebagaimana dimaksud ayat (4) meliputi penerapan
perencanaan dan pelaksanaan tindakan keperawatan
(6) Tindakan keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) meliputi pelaksanaan
prosedur keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling
kesehatan
(7) Perawat dalam menjalankan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) dapat memberikan obat bebas dan/atau obat bebas terbatas
2. Pasal 9
Perawat dalam melakukan praktik harus sesuai dengan kewenangan yang dimiliki
3. Pasal 10
(1) Dalam keadaan darurat untuk penyelematan nyawa seseorang/pasien dan tidak
ada dokter di tempat kejadian, perawat dapat melakukan pelayanan kesehatan
diluar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8
(2) Bagi perawat yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter
dalam rangka melaksanakan tugas pemerintah, dapat melakukan pelayanan
kesehatan diluar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8
(3) Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat 2,
harus mempertimbangkan kompetensi, tingkat kedaruratan dan kemungkinan
dirujuk
(4) Daerah yang tidak memiliki dokter sebagaimana dimaksud pada ayat 2, adalah
kecamatan atau kelurahan/desa yang ditetapkan oleh kepala Dinas Kesehatan
Kota/kabupaten
(5) Dalam hal daerah sebagaimana dimaksud pada ayat 4 telah terdapat dokter,
kewenangan perawat sebagaimana dimaksud pada ayat 2 tidak berlaku
4. Pasal 11
Dalam menjalankan praktek, perawat mempunyai hak :
a. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik keperawatan
sesuai standard
b. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari klien dan/atau keluarganya
c. Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi
d. Menerima imbalan jasa profesi dan
e. Memperoleh jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan
tugasnya
5. Pasal 12
(1) Dalam melaksanakan praktik, perawat wajib untuk :
a. Menghormati hak pasien
b. Melakukan rujukan
c. Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan
d. Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien/klien dan pelayanan
yang dibutuhkan
e. Meminta persetujuan tindakan keperawatan yang akan dilakukan
f. Melakukan pencatatan asuhan keperawatan secara sistematis dan
g. Mematuhi standard
2.2.2 KOMPETENSI REGSITER NURSE SE ASEAN BERDASARKAN MRA
(WPSEAR Common Competencies for Registered Nurses)
Berdasarkan kesepakatan yang tertuang dalam Mutual Recognition Arrangement on
Nursing services yang ditanda tangani pada 8 desember 2006 di Cebu-Phillipina,
maka ditetapkan Uji proficiency mengacu pada kualifikasi General Registered Nurse
yang berpedoman pada Standard Internasional ”18 Core Competencies” bagi negara-
negara Asia-Pasific, sehingga mampu melakukan praktik keperawatan yang
dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang yang diakui oleh negara yang
bersangkutan (MRA On Nursing Services, 2006 & Workshop APEC, 2006). Dalam
uraian kompetensi ini ditekankan sebagai domain yang pertama adalah kompetensi
tentang legal ethic. Berikut ini adalah 18 kompetensi yang dimaksud :

DOMAIN 1: LEGAL AND ETHICAL FRAMEWORK OF NURSING PRACTICE


COMPETENCY UNIT 1
RECOGNISES AND ACCEPTS PERSONAL ACCOUNTABILITY AND RESPONSIBILITY FOR
ALL ASPECTS OF PROFESSIONAL PRACTICE
 Practices in accordance with current competencies and scope of practice.
 Performs nursing interventions according to recognised standards of practice.
 Clari.es responsibility for aspects of care with other members of the health team.
COMPETENCY UNIT 2
UNDERSTANDS AND DEMONSTRATES KNOWLEDGE OF THE LEGAL AND ETHICAL
FRAMEWORK OF THE HEALTH SYSTEM THAT RELATES TO NURSING
 Recognises and acts upon breaches of law relating to nursing practice and/or
professional code of conduct.
 Practices in accordance with relevant legislation, national and local policies and
procedural guidelines.
 Maintains clear and legible documentation and records.
COMPETENCY UNIT 3
UNDERSTANDS AND UTILISES AN ETHICAL DECISION MAKING FRAMEWORK
 Practices in a manner that conforms with an agreed Code of Ethics.
 Engages effectively in ethical decision making.
 Demonstrates an understanding of the challenges to ethical decision making in a broad
range of Circumstances and practice settings including con.ict and natural disaster
situations.
 Maintains patient con.dentiality and security of patient information.
COMPETENCY UNIT 4
PROVIDES CULTURALLY SENSITIVE CARE
 Respects the values, customs, spiritual beliefs and practices of individuals and groups
(from ICN).
 Recognises own beliefs and values and how these may in.uence care giving.

DOMAIN 2: MANAGEMENT OF CARE


The “Management of Care” domain draws together the areas of ; Professional Practice,
Comunication, Consumer Rights, and Professional Advancement and development
A) Professional Practice
COMPETENCY UNIT 5
CONTRIBUTES TO EFFECTIVE MULTIDISCIPLINARY TEAM WORK BY MAINTAINING
COLLABORATIVE RELATIONSHIPS
 Collaborates with and co-ordinates health and social care teams.
 Demonstrates critical thinking and decisionmaking skills.
 Participates with members of the health and social care teams in decision making
concerning patients/clients (from ICN).
COMPETENCY UNIT 6
ENSURES CONSISTENT, CONTINUOUS HOLISTIC QUALITY OF CARE
 Undertakes a comprehensive and systematic assessment involving analysis and
interpretation of data.
 Formulates a plan of care in collaboration with the patient/ client and/ or signi.cant
other.
 Implements and documents planned nursing care.
 Evaluates and documents progress towards expected outcomes and uses evaluation data
to modify the plan of care.
 Utilises well-conducted/evaluated research .ndings in practice as appropriate (practice
based on evidence).
 Makes clinical judgements and provides appropriate nursing therapeutic interventions
and procedures for the individual patient, family and community.
 Teaches patients/families/carers/health professionals aspects of care as appropriate.
 Ensures that no action or omission on the part of the nurse, or within the nurse’s sphere
of responsibility, is detrimental to the patient, family and community.
 Works collaboratively with nursing colleagues to ensure continuity of quality nursing
care.
 Re.ects on practice outcomes and makes changes to practice when appropriate.
 Maintains and updates technical skills.
COMPETENCY UNIT 7
CREATES AND MAINTAINS A SAFE ENVIRONMENT THROUGH THE USE OF QUALITY
ASSURANCE AND RISK MANAGEMENT STRATEGIES
 Participates in continuous quality improvement and quality assurance activities.
 Acknowledges limitations in knowledge and competence and declines any duties or
responsibilities unless Able to perform them in a safe and skilled manner.
 Delegates, monitors and supervises work performed by assistants.
 Provides a safe environment for patient(s) and staff, including implementing infection
control procedures.
COMPETENCY UNIT 8
DEMONSTRATES UNDERSTANDING OF TRADITIONAL HEALING PRACTICES WITHIN
AN
INDIVIDUAL’S, FAMILY’S AND/OR COMMUNITY’S HEALTH BELIEF SYSTEM
 Seeks out knowledge about speci.c traditional healing practices that are culturally
relevant to individuals and communities.
 Makes changes to practice when appropriate.
COMPETENCY UNIT 9
DEMONSTRATES AN UNDERSTANDING OF NATIONAL HEALTH, SOCIAL AND
POLITICAL
PROCESSES
 Actively seeks to participate in health policy development and evaluation, and program
planning.
 Accepts leadership responsibility in the delivery of nursing and health care.
B) Communication
COMPETENCY UNIT 10
ESTABLISHES INTERPERSONAL RELATIONSHIPS BASED ON PUBLIC TRUST AND
CONFIDENCE
 Listens and interacts clearly by verbal, written and electronic means as appropriate, to
patients/clients, families, carers and other health professionals.
 Respects the professional boundaries of therapeutic relationships.
COMPETENCY UNIT 11
DISPLAYS CULTURAL AWARENESS AND SENSITIVITY IN RELATION TO VERBAL/NON
VERBAL COMMUNICATION
 Accesses and provides appropriate written resources for patients and their carers when
needed.
 Uses appropriate professional interpreters when needed.
 Involves an advocate for the patient/client if necessary to ensure effective
communication.
COMPETENCY UNIT 12
USES HEALTH and INFORMATION TECHNOLOGY EFFECTIVELY AND APPROPRIATELY
 Communicates and clari.es advances in appropriate technologies to the patient/client.
 Uses available information technology to access information and new knowledge.
 Undertakes training in the application of new health technologies as necessary.
C) Consumer Rights
COMPETENCY UNIT 13
RESPECTS EACH PATIENT/CLIENT IRRESPECTIVE OF THEIR ETHNIC ORIGIN,
RELIGION OR OTHER FACTORS
 Respects the patient’s/client’s rights to access information, privacy, choice and
selfdetermination.
 Responds appropriately to comments or complaints from patients/clients and co-operates
with complaints procedures.

COMPETENCY UNIT 14
PROVIDES AN ADVOCACY ROLE FOR PATIENTS’ RIGHTS AND EMPOWERS
PATIENTS/CLIENTS TO MAKE DECISIONS REGARDING THEIR CARE
 Protects and safeguards the interests and wellbeing of the patients /clients.
 Recognises and respects patients’/clients’ and carers’ involvement in the planning and
delivery of care.
 Respect patients’/clients’ rights to access information.
d) Professional
COMPETENCY UNIT 15
MAINTAINS COMPETENCE BY UNDERTAKING ACTIONS FOR PROFESSIONAL
DEVELOPMENT AND EDUCATION
 Applies evidence-based and/or best practice knowledge and technical skills.
 Participates in and contributes to research.
 Contributes to the education and professional development of others.
 Takes steps to remedy any de.cits in skill or personal knowledge.

DOMAIN 3: LEADERSHIP AND NURSING MANAGEMENT


COMPETENCY UNIT 16
UNDERSTANDS THE PRINCIPLES OF CONTINUOUS QUALITY IMPROVEMENT (CQI),
AND
INCORPORATES THIS IN PRACTICE
 Collects, analyses and utilises data about incidents and trends and implements remedial
changes to improve care delivery.
 Demonstrates an understanding of ef.cient resource utilisation and human resource
management.
 Uses the ability to think proactively, laterally and critically within a problem-solving
context.
COMPETENCY UNIT 17
HOLDS AND COMMUNICATES A CLEAR VISION OF NURSING WITHIN THE HEALTH
STRUCTURE IN WHICH SHE/HE WORKS
 Promotes and maintains the professional role of the nurse.
 Initiates and participates in dialogue about new initiatives and change processes in
nursing and health care.
 Demonstrates the ability to make appropriate management decisions.
 Demonstrates the ability to think laterally and critically within a problem-solving
context.
 Supports, collaborates and co-operates with colleagues.
COMPETENCY UNIT 18
PROVIDES A SAFE WORKING ENVIRONMENT
 Demonstrates knowledge of relevant aspects of occupational health and safety
legislation.
 Recognises the need for rest and diversion activities to prevent burnout.
 Manages workloads effectively.
 Acts as a collaborative team member.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kasus
Continue or Stop Treatment
A severe asphyxia patient was in ICU for a couple days and there was no progression. Patient's
family knew that the patient was still alive because of ventilator assistance. The family decided
to stop the ventilator. "Let the patient die. We could not afford for the cost." It was a dilemma for
me. I believed the treatment must be continued because I had duties to help the patient to
survive. If the patient would die, it was not our will. But, I had to follow the patient's family. Why
didn't they want to continue the treatment? Even though the possibility of surviving for the
patient was low, I did not want to disconnect the tube. It seemed like I killed the patient.

3.2 Pembahasan
3.2.1 Clarify of Ethical Dilemma
Dilema etik muncul ketika ketaatan terhadap prinsip menimbulkan penyebab konflik
dalam bertindak. Dalam kasus ini dilemma etik yang muncul adalah ketika seorang perawat
harus menghadapi keluarga pasien yang meminta menghentikan perawatan yaitu pelepasan
ventilator pada keluarganya yang sudah tidak ada harapan untuk sembuh padahal perawat
mempunyai kewajiban untuk menolong nyawa pasien meskipun harapan hidup pasien
sangat rendah. Namun, pihak keluarga tidak menyetujui dilakukan untuk perawatan tindak
lanjut untuk pemasangan ventilator di karenakan keluarga tidak mampu dalam finansial.

3.2.2 Gather Additional Data


Yang bisa didapatkan dari kasus di atas adalah bahwa keluarga pasien menginginkan
ventilator atau alat bantu napas yang terpasang pada pasien segera dilepas karena keluarga
pasien sudah kekurangan biaya. Keluarga mengatakan "Biarkan pasien meninggal karena
keluarga pasien tidak mampu membayar biaya pengobatan". Sedangkan perawat
mengalami dilema, menjadi seorang perawat harus melanjutkan perawatan karena seorang
perawat memiliki tugas untuk membantu pasien bertahan hidup, meskipun kemungkinan
bertahan hidup untuk pasien rendah. Perawat sudah berusaha dan akan berusaha
semaksimal mungkin dalam menangani pasien tersebut.

3.2.3. Identify Options


Sebuah tindakan dilakukan atau tidak dilakukan harus berdasarkan prinsip/asas etik
yaitu 1) Principle of Respect to the Patien’s autonomy, dimana pasien mempunyai
kebebasan untuk mengetahui serta memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapnya dan
untuk ini diperlukan informasi yang cukup. Pasien atau keluarga tidak boleh dipaksa dalam
mengambil keputusan, 2) Principle of Veracity, mengatakan hal yang sebenarnya secara
jujur apa yang terjadi, apa yang akan dilakukan dan apa akibat atau resiko yang dapat
terjadi, 3) Principle of Nonmaleficence, bahwa ”first of all do no harm (primum non
Nocere), tidak melakukan tindakan yang tidak perlu dan mengutamakan tindakan yang
tidak merugikan pasien dan mengupayakan supaya semua resiko bisa diminimalisir, 4)
Principle of Beneficence bahwa semua tindakan yang dilakukan dokter harus bermanfaat
bagi pasien, 5) Principle of Confidentiality, bahwa seorang dokter atau perawat harus
menghormati kerahasiaan penderita, 6) Principle of Justice, dokter atau perawat harus
berlaku adil pada saat merawat pasien.
Jadi pilihan tindakan yang dilakukan oleh perawat harus berdasarkan pada prinsip
etik tersebut di atas. Kasus di atas menjadi bukti dilema dari prinsip autonomy dan prinsip
nonmaleficence-beneficience.
3.2.4 Make Decision

Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan


mempertimbangkan hasil akhir/ konsekuensi tindakan tersebut.
a.Tidak menuruti keinginan keluarga tentang melepaskan alat bantu nafas pada klien.
Konsekuensi:
1. Tidak mempercepat kematian klien karena pernafasan tetap tersupport oleh ventilator
2. Pelanggaran terhadap prinsip autonomy, karena tidak menuruti keinginan keluarga
klien
3. Keluarga cemas dengan situasi tersebut karena finansial
b. Menuruti keinginan keluarga tentang melepaskan alat bantu nafas pada klien
Konsekuensi:
1. Mempercepat kematian klien karena tidak ada bantuan vital bagi klien. Jika ventilator
dilepas, maka tidak ada lagi alat oenunjang pada organ tubuh seperti paru-paru
sehingga fungsinya akan menurun dan tidak dapat difungsikan.
2. Pelanggaran terhadap prinsip nonmalficience dan beneficience
3. Pelanggaran etik hukum karena perawat tidak memberikan bantuan hidup kepada
klien

3.2.5 Act
Asuhan memiliki tradisi memberikan komitmen utamanya terhadap pasien dan
belakangan ini mengklaim bahwa advokasi terhadap pasien merupakan salah satu peran
yang sudah dilegimitasi sebagai peran dalam memberikan asuhan keperawatan. Advokasi
adalah memberikan saran dalam upaya melindungi dan mendukung hak-hak pasien. Hal
tersebut merupakan suatu kewajiban moral bagi perawat, dalam menemukan kepastian
tentang dua sistem pendekatan etika yang dilakukan yaitu pendekatan berdasarkan prinsip
dan asuhan.
Pengambilan tindakan yang dilakukan harus memperhatikan presentasi tingkat
kebermanfaatan. Dalam kasus ini terdapat dilema untuk mengambil sebuah keputusan
apakah akan mematikan alat bantu pernafasan sang klien atau membiarkan alat pernafasan
itu begitu saja yang mungkin lama-kelamaaan akan merusak kinerja jantung pasien dan
berujung kematian. Juga menimbang seberapa besar kemungkinan pasien untuk pulih.
Jika mengambil keputusan melanjutkan treatment ventilator (alat nantu pernafasan)
hanya media sementara untuk memanjangkan umur pasien karena kemungkinan klien
untuk pulih sangat rendah, dan akan menjadi beban untuk keluarga klien karena biaya yang
diperlukan tidak murah padahal pengobatan yang diberikan sudah tidak efektif lagi. Jika
mengambil keputusan menghentikan treatment ventilator (alat bantu pernafasan), kita dapat
meringankan beban penderitaan klien karena klien akan mengalami kematian alami.
Keluarga klien juga tidak terbebani dengan masalah finansial akibat pengobatan pada klien
yang kemungkinan pulih sangat rendah.
Maka, yang harus kita lakukan sebagai advokat adalah memberikan informasi secara
spesifik kepada keluarga klien kekurangan dan kelebihan dari kedua alternatif pilihan
tidakan tersebut, dan mengembalikan semua keputusan ke pihak pasien dan keluarga pasien
tentang pemasangan ventilator, jika keluarga pasien tetap menyetujui tindakan pelepasan
ventilator berarti harus ada bukti persetujuan secara tertulis antara dokter, perawat, dan
keluarga pasien.

3.2.6 Evaluate
Implikasi dari setiap tindakan yang dilakukan harus dievaluasi, sehingga perkembangan
kesehatan pasien bisa diukur. Evaluasi yang diharapkan dari tindakan keperawatan dalam
masalah dilemma etik adalah keluarga klien tidak merasa cemas dan perawat dapat melakukan
tugas tanpa melanggar etik keperawatan. Perawat menerima permintaan keluarga untuk
pelepasan ventilator dengan persyaratan melakukan penandatanganan surat persetujuan.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pengambilan tindakan yang dilakukan harus memperhatikan presentasi tingkat kebermanfaatan.
Yang harus kita lakukan sebagai advokat adalah memberikan informasi secara spesifik kepada
keluarga klien kekurangan dan kelebihan dari kedua alternatif pilihan tidakan tersebut, dan
mengembalikan semua keputusan ke pihak pasien dan keluarga pasien.

4.2 Saran
Yang diharapkan dari tindakan keperawatan dalam masalah dilemma etik adalah keluarga klien
tidak merasa cemas dan perawat dapat melakukan tugas tanpa melanggar etik keperawatan.