Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pengembangan elektronika akhir-akhir ini maju dengan sangat pesat setelah


ditemukan beberapa jenis rumpun Solid State diantaranya Transistor. Dioda, UJT, dll.
Beberapa laboratorium elektronika berusah menemukan suatu jenis Solid State yang
dapat dipergunakan untuk mengendalikan daya listrik sebagai pengganti tabung air raksa
yang biasa dikenal dengan nama THYRATRON. Ternyata keinginan ini telah dicapai dengan
ditemukannya apa yang disebut ”THYRISTOR” Nama telah diambil dari gabungan
Thyaratron dan Transistor.
Pada tahun 1957 Thyristor telah direproduksi dan telah dipasarkan pula. Thyristor
dibuat dari susunan bahan silicon dan sifat-sifatnya yang hamper mirip dengan silicon
rectifier juga dengan dioda 4 lapis. Keistimewaan dari Thyristor dibanding dengan silicon
rectifier, adanya tambahan elektroda yang disebut Gate. Gate ini merupakan tempat dimana
Thyristor dikendalikan (controlled) karena itu Thyristor juga disebut “Silicon Controlled
Rectifier” disingkat menjadi SCR. Pada saat sekarang ini penggunaan SCR sangat luas
karena SCR dapat mengendalikan arus listrik yang cukup besar dan dapat pula dipergunakan
langsung untuk jaringan arus tukar (AC).
Penggunaan yang nyata pada saat sekarang ini adalah untuk switching daya listrik
yang besar yang dapat mengendalikan pengaturan beban putaran motor listrik, pengaturan
alat pemanas listrik, pengatur lampu penerangan, relay dan alat-alat alarm yang sangat peka.
Bahkan dalam industri-industri sekarang ini SCR digunakan sebagai sarana pelengkap
automat yang menggantikan alat-alat yang sangat peka.
SCR merupakan jenis thyristor yang terkenal dan paling tua, komponen ini tersedia
dalam rating arus antara 0,25 hingga ratusan amper, serta rating tegangan hingga 5000 volt.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan beberapa masalahnya antara
lain :
 Apa yang dimaksud dengan SCR?
 Apa saja fungsi dan Karakteristik SCR?
 Apa saja jenis – jenis dari SCR ?
 Bagaimana Prinsip Kerja SCR?
 Bagaimana cara penyulutan pada SCR?
 Bagaimana system picu gate pada SCR?
 Bagaimana cara menguji SCR?

C. TUJUAN PENULISAN
Penulisan ini bertuJuan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah dan
Membahas lebih jauh tentang SCR.

D. MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat yang diperoleh dalam penulisan makalah tersebut adalah agar dapat
menambah pengetahuan bagi pembaca dan dapat menambah referensi tentang SCR.
BAB II

KAJIAN TEORI

A. THIRYSTOR

Ciri-ciri utama dari sebuah thyristor adalah komponen yang terbuat dari bahan
semiconductor silicon. Walaupun bahannya sama, tetapi struktur P-N junction yang
dimilikinya lebih kompleks dibanding transistor bipolar atau MOS. Komponen thyristor lebih
digunakan sebagai saklar (switch) ketimbang sebagai penguat arus atau tegangan seperti
halnya transistor.

Gambar 1. UJT

Struktur dasar thyristor adalah struktur 4 layer PNPN seperti yang ditunjukkan pada
gambar-1a. Jika dipilah, struktur ini dapat dilihat sebagai dua buah struktur junction PNP dan
NPN yang tersambung di tengah seperti pada gambar-1b. Ini tidak lain adalah dua buah
transistor PNP dan NPN yang tersambung pada masing-masing kolektor dan base.

Gambar 2. Struktur thyristor


Jika divisualisasikan sebagai transistor Q1 dan Q2, maka struktur thyristor ini dapat
diperlihatkan seperti pada gambar-2 yang berikut ini.

Gambar 3. visualisasi dengan transistor

Terlihat di sini kolektor transistor Q1 tersambung pada base transistor Q2 dan


sebaliknya kolektor transistor Q2 tersambung pada base transistor Q1. Rangkaian transistor
yang demikian menunjukkan adanya loop penguatan arus di bagian tengah. Dimana diketahui
bahwa Ic = β Ib, yaitu arus kolektor adalah penguatan dari arus base.

Jika misalnya ada arus sebesar Ib yang mengalir pada base transistor Q2, maka akan
ada arus Ic yang mengalir pada kolektor Q2. Arus kolektor ini merupakan arus base Ib pada
transistor Q1, sehingga akan muncul penguatan pada arus kolektor transistor Q1. Arus
kolektor transistor Q1 tidak lain adalah arus base bagi transistor Q2. Demikian seterusnya
sehingga makin lama sambungan PN dari thyristor ini di bagian tengah akan mengecil dan
hilang. Tertinggal hanyalah lapisan P dan N dibagian luar.

Jika keadaan ini tercapai, maka struktur yang demikian tidak lain adalah struktur
dioda PN (anoda-katoda) yang sudah dikenal. Pada saat yang demikian, disebut bahwa
thyristor dalam keadaan ON dan dapat mengalirkan arus dari anoda menuju katoda seperti
layaknya sebuah dioda.

Gambar 4. Thyristor diberi tegangan


Bagaimana kalau pada thyristor ini kita beri beban lampu dc dan diberi suplai
tegangan dari nol sampai tegangan tertentu seperti pada gambar 3. Apa yang terjadi pada
lampu ketika tegangan dinaikan dari nol. Ya betul, tentu saja lampu akan tetap padam karena
lapisan N-P yang ada ditengah akan mendapatkan reverse-bias (teori dioda).

Pada saat ini disebut thyristor dalam keadaan OFF karena tidak ada arus yang bisa mengalir
atau sangat kecil sekali. Arus tidak dapat mengalir sampai pada suatu tegangan reverse-bias
tertentu yang menyebabkan sambungan NP ini jenuh dan hilang. Tegangan ini disebut
tegangan breakdown dan pada saat itu arus mulai dapat mengalir melewati thyristor
sebagaimana dioda umumnya. Pada thyristor tegangan ini disebut tegangan breakover Vbo.

B. SCR (SILICON CONTROL RECTIFIER)

SCR singkatan dari Silicon Control Rectifier. Adalah Dioda yang mempunyai fungsi
sebagai pengendali. SCR adalah piranti 3 (tiga) terminal yang digunakan untuk mengatur arus
yang melalui suatu beban. Untuk mengatur arus yang cukup besar yang melalui Anoda-
Katoda, hanya diperlukan arus yang kecil dari Gate. Selama arus Anoda-Katoda tetap
mengalir, arus Gate dapat dihilangkan setelah satu kali melakukan penyulutan.

Gambar 5. SCR dan Identifikasi Terminal

Bila SCR digunakan pada arus AC, maka hanya akan mengalir arus ke satu arah saja,
seperti halnya pada dioda. Pada pengaturan daya AC dengan SCR dikenal istilah sudut tunda
penyulutan (firing delay angle) yaitu periode yang hilang sebelum SCR tersulut. Rangkaian
penyulut pada Gate dapat berupa R mapun RC. Dengan rangkaian RC akan dapat diatur
firing delay angle dalam jangkah yang lebar.

SCR mempunyai elektroda kendali (Gerbang) terpisah dan seperti juga torostor
lainnya, SCR mempunyai perilaku seperti tabung tiratron. Namun tidak tidak seperti triac,
SCR hanya dapat terkonduksi dalam satu alat saja. Anodanya harus dapat dibuat positif dan
katodanya dibuat negatif. SCR banyak digunakan dalam rangkaian penyearah terkendali,
pengubah dan rangkaian kendali serta penyaklaran.

SCR dapat digunakan tersendiri, digabung dengan SCR lainya atau digabung dengan
diac, triac, transistor konvensional, transistor unijunction atau lampu-lampu neon. Daerah
kerja SCR meliputi jangkah yang lebar, dari 1,7 A sampai 35 A dan 100 V sampai 700 V.
SCR adalah komponen spasi 4 lapis (pnpn) rangkaiannya seperti pada gambar berikut :

Gambar 6. SCR. (a) Susunannya. (b) Susunan ekivalen.

(c) Rangkaian ekivalen. (d) Lambang rangkaian

C. KARAKTERISTIK SCR

Sebuah SCR terdiri dari tiga terminal yaitu anoda, katoda, dan gate. SCR berbeda
dengan dioda rectifier biasanya. SCR dibuat dari empat buah lapis dioda. SCR banyak
digunakan pada suatu sirkuit elekronika karena lebih efisien dibandingkan komponen lainnya
terutama pada pemakaian saklar elektronik.

SCR biasanya digunakan untuk mengontrol khususnya pada tegangan tinggi karena
SCR dapat dilewatkan tegangan dari 0 sampai 220 Volt tergantung pada spesifik dan tipe dari
SCR tersebut. SCR tidak akan menghantar atau on, meskipun diberikan tegangan maju
sampai pada tegangan breakovernya SCR tersebut dicapai (VBRF). SCR akan menghantar
jika pada terminal gate diberi pemicuan yang berupa arus dengan tegangan positip dan SCR
akan tetap on bila arus yang mengalir pada SCR lebih besar dari arus yang penahan (IH).

Satu-satunya cara untuk membuka (meng-off-kan) SCR adalah dengan mengurangi


arus Triger (IT) dibawah arus penahan (IH). SCR adalah thyristor yang uni directional,karena
ketika terkonduksi hanya bisa melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju
katoda. Artinya, SCR aktif ketika gate-nya diberi polaritas positif dan antara anoda dan
katodanya dibias maju. Dan ketika sumber yang masuk pada SCR adalah sumber AC, proses
penyearahan akan berhenti saat siklus negatif terjadi.

Karakteristik SCR terlihat pada gambar berikut:

Gambar 7. Karakteristik SCR

Dalam tegangan belakang SCR seperti diode. Ini tidak akan terhubung sampai alat
ini breaks-over. Komponen SCR dirancang untuk break-over tegangan yang tinggi) dalam hal
ini untuk menghindari situasi ini). Vx lebih besar dari 400 V.

D. JENIS-JENIS SCR

Adapun jenis-jenis dari SCR antara lain sebagai berikut:

1. LASCR (light activated SCR)

LASCR adalah jenis SCR yang apabila terkena sinar matahari (cahaya yang
cukup kuat ) akan menyebabkan elektron-elektron valensi dalam SCR tersebut akan
dilepaskan dari orbit-orbitnya dan akan menjadi elektron-elektron bebas. Ketika
elektron-elektron ini mengalir keluar dari kolektor akan memasuki basis transistor,
maka proses regenerasi akan berlangsung sampai LASCR menjadi tertutup.

2. SCS (silicon controlled switch)


SCS adalah jenis SCR yang identik dengan saklar penahan SCS menyediakan
saluran kepada kedua basisnya satu picu prategangan maju yang diberikan kepada
salah satu basis tersebut akan menutupi SCS, begitu pula sebaliknya bila diberi
prategangan balik maka akan membuka piranti saklar.

3. GCS (gate-controlled switch)

GCS adalah saklar yang dirancang untuk dibuka dengan cara mudah yaitu
dengan picu prategangan balik. Untuk GCS penutupan dilakukan dengan picu positif
dan pembukaan dilakukan dengan picu negatif (atau dengan pemutusan arus rendah)

Karakteristik V – I SCR :
SCR dapat mengalirkan arus hanya pada satu arah yakni jika VA > VK serta
bisa diatur sudut penyalaannya dengan mengatur tegangan gatenya.

Gambar 8. Karakteristik V – I SCR

Pada daerah pemblokiran maju, bila tegangan maju ditambah maka arus bocor
hamper tidak berubah hingga pelipat gandaan pembawa muatan oleh adanya
breakdown avalanche setelah keadaan dilampaui arus di dalam SCR yang
mempunyai nilai cukup besar hingga loop gain = 1, pada keadaan ini SCR
berkonduksi jika VA berada pada nilai tertentu, yang disebut arus bertahan (holding
current). Bila arus anoda turun di bawah nilai arus bertahan SCR akan kembali pada
pemblokiran maju.
Pada keadaan pemblokiran mundur SCR berprilaku seperti dua dioda dipasang
seri
(terpanjar mundur).
Pada keadaan VA > VK penambahan harga IG akan memperkecil daerah
pemblokiran, untuk IG yang cukup besar bisa mengakibatkan SCR berperilaku
seperti dioda terpanjar maju.

Perhatikan contoh berikut ini :

Gambar 9. Rangkaian untuk melindungi alat dari tegangan lebih.

Cara kerjanya :
Jika Vi (DC) naik melebihi harga yang diijinkan maka Vab naik sehingga SCR
berkonduksi dan arus yang melewati fuse akan besar sehingga fuse akan putus.
(1) Kontrol Fasa pada SCR
SCR dapat dibuat agar berkonduksi pada bagian tertentu daripada siklus
tegangan PLN. Rangkaian yang digunakan untuk ini ditunjukkan pada gambar
dibawah ini :

(a) (b)
Gambar 10. Rangkaian kontrol fasa SCR
(a) Rangkaian
(b) Bentuk gelombang
Harga rata-rata keluaran adalah :

Vrata-rata 1

2  Vm sin t (dt )

Vm
 [cos t ]
2
Vm
Vm (cos   cos  )
Vrata  rata   (cos   1)
(tegangan keluaran 2 bisa diatur sesuai dengan harga α)
2
α berkisar dari 0° sampai dengan 180°
untuk α = 0°, θ = 180°, α = 180°, θ = 0°

Bentuk rangkaian picu SCR dapat bermacam-macam. Suatu rangkaian picu


yang menggunakan RC ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

(a) (b)
Gambar 11. Rangkaian picu SCR dengan RC
(a) Rangkaian
(b) Bentuk gelombang

(2)Bila anoda sedang negatif terhadap katoda, kapasitor C diisi muatan melalui D1
hingga tegangan Vp. Dioda D1 mencegah arus gate negatif pada SCR, selanjutnya
waktu anoda positif kapasitor C diisi melalui R dengan tetapan waktu (t = RC). Bila
Vc melampaui tegangan ambang (VGT) maka SCR akan berkonduksi sehingga VAK
 0 , dengan mengatur R sudut konduksi dapat diatur dari 0° sampai 180°.
BAB III

PEMBAHASAN

1. CARA KERJA SCR

Sebuah SCR terdiri dari empat lapis bolak P dan bahan tipe semikonduktor N. Silikon
digunakan sebagai semikonduktor intrinsik, dimana dopan yang tepat ditambahkan.
Persimpangan baik menyebar atau paduan. Pembangunan planar digunakan untuk SCRs daya
rendah (dan semua sambungan yang tersebar). Jenis Pembangunan mesa digunakan untuk
SCRs daya tinggi. Dalam hal ini, sambungan J2 diperoleh dengan metode difusi dan
kemudian dua luar lapisan paduan untuk itu, karena pelet PNPN diperlukan untuk menangani
arus besar. Hal ini benar bersiap dengan piring tungsten atau molybdenum untuk memberikan
kekuatan mekanik yang lebih besar. Salah satu pelat sulit disolder ke pejantan tembaga, yang
berulir untuk lampiran heat sink. Doping dari PNPN akan tergantung pada penerapan SCR,
karena karakteristik yang mirip dengan mereka yang thyratron tersebut. Saat ini, istilah
thyristor berlaku untuk keluarga besar perangkat multilayer yang menunjukkan bistable
negara-perubahan perilaku, yaitu, switching baik ON atau OFF.

Dalam keadaan normal "off", perangkat membatasi saat ini ke kebocoran arus. Ketika
tegangan gerbang-untuk-katoda melebihi ambang batas tertentu, perangkat ternyata "on " dan
melakukan saat ini. Perangkat akan tetap dalam "pada" negara bahkan setelah gerbang saat
ini dihapus sehingga selama arus melalui perangkat ini masih tetap diatas saat ini memegang.
Setelah saat ini jatuh di bawah memegang saat ini untuk jangka waktu yang tepat, perangkat
akan beralih "off". Jika pintu yang berdenyut dan arus melalui perangkat ini di bawah saat
memegang, perangkat akan tetap dalam keadaan "off".

Jika tegangan yang diberikan meningkat cukup pesat, kopling kapasitif dapat
menyebabkan biaya cukup ke gerbang untuk memicu perangkat ke dalam "pada" negara, hal
ini disebut sebagai "dv / dt memicu." Ini biasanya dicegah dengan membatasi laju kenaikan
tegangan pada perangkat, mungkin dengan menggunakan sebuah snubber. "dv / dt memicu"
tidak dapat beralih SCR menjadi konduksi penuh dengan cepat dan sebagian SCR-dipicu
mungkin menghilang daya lebih dari biasanya, mungkin merusak perangkat.

SCR juga dapat dipicu dengan meningkatkan tegangan ke depan melampaui tegangan
rusaknya pengenal mereka (juga disebut sebagai istirahat tegangan lebih), tapi sekali lagi, ini
tidak cepat aktifkan perangkat tersebut ke dalam konduksi dan dapat membahayakan jadi ini
Mode operasi ini juga biasanya dihindari. Juga, gangguan tegangan yang sebenarnya
mungkin jauh lebih besar daripada gangguan tegangan pengenal, sehingga memicu titik yang
tepat akan bervariasi dari perangkat ke perangkat. Perangkat ini umumnya digunakan dalam
aplikasi switching.

SCR tersedia dengan atau tanpa reverse menghalangi kemampuan. Reverse


memblokir kemampuan menambah drop tegangan maju karena kebutuhan untuk memiliki
wilayah, panjang P1 doped rendah. Biasanya, sebaliknya menghalangi rating tegangan dan
maju memblokir voltase adalah sama. Aplikasi khas untuk reverse memblokir SCR dalam
inverter sumber arus.

SCR mampu memblokir tegangan reverse yang dikenal sebagai SCR asimetris,
disingkat ASCR. Mereka biasanya memiliki peringkat kerusakan reverse di 10's volt. ASCR
digunakan di mana baik melakukan reverse dioda diterapkan secara paralel (misalnya, dalam
inverter sumber tegangan) atau dimana tegangan reverse tidak akan pernah terjadi (misalnya,
dalam switching pasokan listrik atau helikopter traksi DC). Asimetris SCR dapat dibuat
dengan dioda melakukan reverse dalam paket yang sama. Ini dikenal sebagai RCT, untuk
melakukan reverse thyristor.

SCR terutama digunakan pada perangkat dimana kontrol daya tinggi, mungkin
ditambah dengan tegangan tinggi, yang dituntut. Operasi mereka membuat mereka cocok
untuk digunakan dalam medium untuk aplikasi tegangan tinggi AC power control, seperti
peredupan lampu, regulator dan kontrol motor.

SCR kontrol daya AC Menjadi perangkat (satu arah) unidirectional, paling banyak
kita hanya bisa memberikan daya setengah gelombang untuk memuat, dalam siklus-setengah
dari AC dimana polaritas tegangan suplai positif pada bagian atas dan negatif di bagian
bawah. Namun, untuk menunjukkan konsep dasar kontrol waktu-proporsional, rangkaian
sederhana ini lebih baik dari satu mengendalikan penuh tenaga ombak (yang akan
membutuhkan dua SCRs).

Dengan tidak memicu ke pintu gerbang, dan sumber tegangan AC jauh di bawah
rating tegangan SCR's breakover, maka SCR tidak akan pernah menyala. Menghubungkan
SCR gerbang menuju anoda melalui sebuah dioda perbaikan standar (untuk mencegah
membalikkan arus melalui pintu gerbang dalam hal ini SCR berisi built-in resistor gerbang-
katoda), akan memungkinkan SCR yang akan dipicu segera pada awal setiap setengah siklus-
positif:

Kita bisa menunda pemicu SCR, namun, dengan memasukkan beberapa perlawanan
ke gerbang sirkuit, sehingga meningkatkan jumlah drop tegangan diperlukan sebelum pintu
gerbang cukup saat ini memicu SCR tersebut. Dengan kata lain, jika kita membuat lebih sulit
bagi elektron untuk mengalir melalui gerbang dengan menambahkan resistensi, tegangan AC
harus mencapai titik yang lebih tinggi dalam siklus sebelum akan ada gerbang cukup saat ini
untuk menghidupkan SCR.

Gambar 12. siklus penunda pemicu SCR

Keluaran sebuah SCR dapat diubah ubah secara halus dengan mengubah fasa picu
gerbang. Makin awal sinyal pemicu tiba pada setengah siklus positf tegangan anoda maka
maka makin lama siklus anoda yang mengalir, maka makin besar pula harga dari arus
tersebut. Dengan menggunakan sebuah SCR, suatu arus anoda yang besar dapat disaklarkan
dengan menggunakan arus gerbang yang kecil.Untuk mengerti tentang cara kerja dari SCR
kita bisa terangkan ini dengan sebuah rangkaian elektronik persegi sebagai berikut:
Gambar 13. Cara kerja dari SCR dengan sebuah rangkaian elektronik persegi

Saat kita menghubungkan SCR ke sumber tegangan, plus (+) dan minus (-) ke K dan
jangan menyuplai tegangan ke gate(G) ,kedua transisitor dalam keadaaan cutoff.

Menyuplai pulsa (bahkan untuk waktu yang sangat pendek) ke gate menyebabkan
transistor Q2 terhubung. Penghubungan ini menciptakan aliran arus yang pokok untuk
transisitor Q1.

Arus ini terhubung dan menyebabkan aliran yang rata ke base Q2. Aliran ini menjaga
transistor Q2 dalam keadaan terhubung, yang mana menjaga transistor Q1 dalam keadaan
terhubung walaupun pulsa dalam gate dalam keadaan berhenti.

Melakukan percobaan SCR

Pada percobaan SCR, besar tegangan dari Anoda Ke Katoda serta anoda ke gate paling
besar nilainya pada saat lampu mati (pada table 4.6.1). Hal ini disebabkan karena lapisan N-P
yang ada ditengah mendapatkan reverse-bias. Di mana pada saat lampu mati, tidak ada arus
yang mengalir dan tegangan yang dihasilkan besar. Dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 14. Rangkaian SCR


Pada saat lampu dalam keadaan mati, maka tidak ada arus yang bisa mengalir atau sangat
kecil sekali. Arus tidak dapat mengalir sampai pada suatu tegangan reverse-bias tertentu yang
menyebabkan sambungan NP ini jenuh dan hilang. Tegangan ini disebut tegangan
breakdown.

Untuk percobaan Anode Gate, dapat rangkaiannya dapat dilihat pada gambar berikut :

Vin = Vr + VGT

Vin = IGT(R) + VGT

Gambar 15. Rangkaian Anoda / Gate pada SCR

Untuk Katode / Gate

Untuk tegangan Katoda / Gate tegangannya hampir mendekati 0. Hal tersebut disebabkan
pada saat itu SCR dikatakan dalamm keadaan OFF, di mana sebelumnya SCR telah ON
dengan besar tegangan di Anoda / Katoda dan Anoda / Gate. Jadi tidak dapat dihitung
persentase kesalahannya, karena akan menghasilkan persentase kesalahan yang besar padahal
SCR dalam keadaan OFF bukan karena kurang presisi alat atau sebab lain seperti kurang
telitinya pembacaan besar tegangan yang dilakukan oleh para praktikan.

Resistor

Perhitungan untuk Resistor digunakan cara yang sama seperti perhitungan Tegangan di
Anoda / Gate sebagai berikut :

Vin = Vr + VGT

Vin = IGT(R) + VGT


Keuntungan penggunaan SCR pada pengaturan daya

Keuntungan penggunaan SCR pada pengaturan daya adalah SCR dapat mengontrol
tegangan tinggi sehingga SCR dapat melewatkan tegangan dari 0 sampai 220 Volt tergantung
pada spesifik dan tipe dari SCR tersebut. SCR tidak akan menghantar atau on, meskipun
diberikan tegangan maju sampai pada tegangan breakovernya SCR tersebut dicapai (VBRF).
SCR akan menghantar jika pada terminal gate diberi pemicuan yang berupa arus dengan
tegangan positip dan SCR akan tetap on bila arus yang mengalir pada SCR lebih besar dari
arus yang penahan (IH).
Aplikasi SCR dalam kehidupan sehari – hari

SCR biasa digunakan pada :

o Sebagai rangkaian Saklar (switch control)


o Sebagai rangkaian pengendali (remote control)

o SCR biasanya digunakan untuk mengontrol khususnya pada tegangan tingg

o Pengatur motor

o Pemanas

o AC

o Pemanas induksi

Aplikasi sederhana SCR :


BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Sebuah Silicon-Controlled Rectifier (SCR) pada dasarnya adalah sebuah dioda


Shockley dengan terminal tambahan ditambahkan. Tambahan terminal ini disebut pintu
gerbang, dan digunakan untuk memicu perangkat ini ke konduksi (kait itu) dengan penerapan
tegangan kecil. Untuk memicu, atau kebakaran, sebuah SCR, tegangan harus diterapkan
antara gerbang dan katoda, positif ke gerbang dan negatif terhadap katoda. Ketika pengujian
sebuah SCR, koneksi sesaat antara gerbang dan anoda memadai dalam polaritas, intensitas,
dan durasi untuk memicu itu.

Pada prinsipnya SCR dapat menghantarkan arus bila diberikan arus gerbang (arus
kemudi).Arus gerbang ini hanya diberikan sekejap saja sudah cukup dan thyristor akan terus
menghantarwalaupun arus gerbang sudah tidak ada. SCR tidak akan menghantar atau on,
meskipun diberikan tegangan maju sampai pada tegangan breakovernya SCR tersebut dicapai
(VBRF). SCR akan menghantar jika pada terminal gate diberi pemicuan yang berupa arus
dengan tegangan positip dan SCR akan tetap on bila arus yang mengalir pada SCR lebih
besar dari arus yang penahan (IH).

SCR hanya dapat mengalirkan arus satu arah saja. Arus yang mengalir hanya dari
anoda ke katoda atau dari anoda ke gate sehingga besar tegangan dari anoda ke gate atau dari
anoda ke katoda lebih besar dibandingkan dengan katoda ke gate, resistor ataupun
pengukuran pada beban
DAFTAR PUSTAKA

 Boylestad Robert, Nashelsky Louis,Electronic Devive and Circuit Theory. USA:


Prentice Hall International Edition.1996.
 Malvino, Prinsip – Prinsip Elektronika. Jakarta : Salemba Teknika.2003
 Richard Blocher. 2003. Dasar Elektronika. Andi: Yogyakarta.
 Kustija, Jaja, 2010, Modul Sillicon Controlled Rectiffer. Pusat Pengembangan Bahan
Ajar UMB.