Anda di halaman 1dari 8

NAMA : A Iqbal Adama Alhariz

NIM : 88150023

KELAS : 88.6A.33

UJIAN : BEHAVIOUR II

SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER

SYSTEM BEHAVIOUR 2

1. Jelasakan apa perbedaan gangguan jiwa Neurosa dan gangguan jiwa Psikosa? Sebutkan juga
contoh gangguan jiwa masing – masing minimal 3 diagnosa?

2. Sebutkan dan Jelaskan 7 diagnosa gangguan jiwa berat?

3. Jika anda merawat pasien dengan diagnose keperawatan Waham dan Halusinasi, jelaskan
tindakan keperawatan apa saja yang diberikan pada pasien?

4. Jika anda merawat pasien dengan diagnose keperawatan Defisit Perawatan Diri juga
Halusinasi Perabaan, Jelaskan tindakan keperawatan yang diberikan pada pasien ?

5. Jelaskan pengertian Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif ?

6. Sebutkan 4 Golongan Psikotropika beserta contohnya?

7. Sebutkan dan jelaskan 3 golongan efek Napza ?

8. Sebutkan ciri – ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan Napza ?
(Minimal 4)

9. Sebutkan dan Jelaskan tahapan – tahapan dalam Komunikasi Terapeutik ?

10. Jelaskan pendapat anda, jika anda menemui orang dangan gangguan jiwa (ODGJ) di jalanan
apa yang akan anda lakukan sebagai perawat jiwa ?
JAWABAN

1. Perbedaan gangguan jiwa neurosa dan gangguan psikosa

Neurosa adalah suatu keadaan mental, hanya memberi pengaruh pada sebagian kepribadian,
lebih ringan dari psikosa, dan seringkali ditandai dengan: keadaan cemas yang kronis,
gangguan pada indera dan motorik, hambatan emosi, kurang perhatian terhadap lingkungan
dan kurang memiliki energi fisik, sedangkan psikosa adalah istiah medis yang merujuk pada
keadaan mental yang terganggu oleh delusi dan halusinasi. Delusi adalah kesalah pahaman
atau pandangan yang salah terhadap suatu hal, sementara halusinasi adalah persepsi kuat atas
suatu peristiwa yang dilihat atau didengar tetapi sebebarnya tidak ada.

a. Gangguan jiwa neurosa

 Anxietas

 Gangguan citra tubuh

 Keputusasaan

 Ketidakberdayaan

 HDR situasional

b. Gangguan jiwa psikosa

 HDR kronis

 Isolasi sosial

 Perubagan persepsi sensori: halusinasi

 Defisit perawatan diri

 Perubahan proses fikir: waham

 Risiko perilaku kekerasan

 Risiko bunuh diri

2. 7 diagnosa gangguan jiwa berat

a. Isolasi sosial adalah upaya untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan maupun komunikasi dengan orang lain. Mempunyai kesulitan
untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain yang ditandai dengan sikap
memisahkan diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup membagi pengamatan
dengan orang lain.

b. Perubahan persepsi sensori: halusinasi adalah suatu keadaan dimana seseorang


mengalami perubahan dalam pola stimulus yang mendekat (yang diprakarsai secara
internal dan eksternal) disertai dengan kelainan respons terhadap stimulus. Perubahan
persepsi sensori halusinasi meliputi pendengaran, penglihatan, perabaan, penciumana,
pengecapan, kinestetik dan visceral.

c. Defisit perawatan diri adalah seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan


untuk melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri dalam hal
mandi/hygiene, berpakaian/berhias, makan dan toileting (BAB/BAK)

d. Perubahan proses fikir: waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan
kenyataan tetapi dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain,
keyakinan ini berasal dari pemikiran klien dimana sudah kehilangan kontrol. Adapun
beberapa jenis waham yaitu: waham agama, waham kebesaran, waham curiga,
waham somatik, waham nihilistik.

e. Risiko perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seorang individu mengalami
perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

f. Risiko bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk
menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam nyawa.
Dalam sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai perilaku destruktif terhadap
diri sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian. Perilaku destruktif
ini yang mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri, niatnya adalah kematian dan
individu menyadari hal ini sebagian sesuatu yang diinginkan.

g. HDR kronis adalah penilaian negatif seseorang terhadap diri sendiri dan kemampuan
yang dimiliki, yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung.

3. Tindakan keperawatan pada pasien waham dan halusinasi

a. Pasien waham

 Membantu orientasi realita

 Mendiskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi

 Membantu klien memenuhi kebutuhannya

 Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki

 Melatih kemampuan yang dimiliki


 Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur.

b. Pasien halusinasi

 Mengidentifikasi jenis halusinasi

 Mengidentifikasi isi halusinasi

 Mengidentifikasi waktu halusinasi

 Mengidentifikasi ferekwensi halusinasi

 Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi

 Mengidentifikasi respon klien terhadap halusinasi

 Mengajarkan klien menghardik halusinasi

 Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan


orang lain.

 Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan (kegiatan


yang biasa dilakukan dirumah)

 Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur.

4. Tindakan keperawatan pada pasien defisit perawatan diri dan halusinasi perabaan

a. Pasien defisit perawatan diri

 Mengkaji kemampuan klien melakukan perawatan diri: Mandi/ kebersihan


diri, berpakaian/ berhias, makan, BAB/BAK secara mandiri.

 Jelaskan pentingnya perawatan diri.

 Jelaskan alat dan cara perawatan diri.

 Memberikan latihan cara melakukan mandi / kebersihan diri secara mandiri.

 Memberikan latihan cara berpakaian / berhias secara mandiri.

 Memberikan latihan cara makan secara mandiri.

 Memberikan latihan cara BAB/BAK secara mandiri.


b. Pasien halusinasi perabaan

 Mengidentifikasi halusinasi perabaan yang pasien rasakan seperti apa

 Mengidentifikasi waktu halusinasi perabaan

 Mengidentifikasi ferekwensi halusinasi perabaan

 Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi perabaan itu muncul

 Mengidentifikasi respon klien saat halusinasi perabaan itu

 Mengajarkan klien menghardik halusinasi

 Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan


orang lain.

 Melatih klien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan (kegiatan


yang biasa dilakukan dirumah)

 Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur.

5. Pengertian narkotika, psikotropika dan zat adiktif

a. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik
sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat
menimbulkan ketergantungan.

b. Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah ataupun sintetis bukan narkotika yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.

c. Zat adiktif adalah bahan atau zat yang berpengaruh psikoaktif diluar narkotika dan
psikotropika meliputi: minuman alkohol, inhalasi (gas yang dihirup) solven (zat
pelarut), tembakau.

6. 4 golongan psikotropika

a. Golongan 1

Hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam
terapi dan berpotensi kuat untuk menimbulkan ketergantungan. Contoh: ekstasi.
b. Golongan 2

Dapat digunakan untuk terapi dan atau ilmu pengetahuan dan berpotensi kuat
ketergantungan, contoh: amphetamin.

c. Golongan 3

Digunakan untuk pengobatan dan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang
mengakibatkan ketergantungan. Contoh : phenobarbital

d. Golongan 4

Digunakan secara luas untuk pengobatan dan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi ringan ketergantungan. Contoh : diazepam.

7. 3 golongan efek napza

a. Golongan depresan (downer)

Adalah jenis napza yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh, jenis ini
membuat pemakainya menjadi tenang dan tertidur bahkan tidak sadarkan diri.
Contohnya: opioda(morfin, heroin, codein), sedative (penenang), hipnotik (obat tidur)
dan tranqualizer (anti cemas)

b. Golongan stimulan (upper)

Adalah jenis napza yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan
kerja, jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh :
ampetamin ( shabu, ekstasi), cocain.

c. Golongan halusinogen

Adalah jenis napza yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah
perasaan, fikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga
seluruh perasaan terganggu. Contoh: kanibis (ganja)

8. Ciri-ciri remaja yang memiliki risiko besar menggunakan napza

a. Cenderung memberontak

b. Memiliki gangguan jiwa lain (depresi, cemas)

c. Perilaku yang menyimpang dari norma dan aturan


d. Kurang percaya diri, pemalu, pendiam

e. Mudah kecewa, agresif dan destruktif, merasa bosan dan jenuh

f. Keinginan bersenang-senang berlebihan

g. Keinginan mencoba yang trend

h. Putus sekolah

i. Kurang iman dan kepercayaan kepada tuhan.

9. Tahap-tahap dalam komunikasi teurapeutik

a. Tahap persiapan

Tahap persiapan sangat penting dilakukan sebelum memulai berinteraksi dengan


klien, dimana pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi
kelebihan serta kekurangannya. Yaitu pre interaksi yang meliputi: mengeksplorasi
diri, perasaan, fantasi dan rasa takut, menganalisis kekuatan dan keterbatasan diri
sendiri, mengumpulkan data tentang pasien, merencanakan pertemuan pertama
dengan pasien.

b. Tahap perkenalan dan orientasi

Tugas perawat dalam tahap ini adalah untuk membina hubungan saling percaya dan
komunikasi terbuka, merumuskan kontrak bersama klien, menggali pikiran dan
perasaan serta mengidentifikasi masalah klien, merumuskan tujuan bersama klien.

c. Tahap kerja

Fase kerja merupakan fase dimana kebanyakan fasenya adalah pelaksanaan kegiatan
terapeutik. Perawat dan klien menggali stressor dan meningkatkan perkembangan
penghayatan pada klien dengan mengaitkan persepsi, pikiran, perasaan dan tindakan
yang dapat diintegrasikan dalam pengalaman hidup individu. Perawat menolong klien
dalam meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab diri, serta mengembangkan
mekanisme koping yang konstruktif. Sedangkan focus pada tahap ini adalah
perubahan perilaku klien.

d. Tahap terminasi

Tugas perawat pada tahap terminasi adalah sebagai berikut:

 Mengevaluasi pencapaian tujuan dan interaksi.


 Melakukan evaluasi subjektif.

 Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi.

 Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.

10. Bila bertemu odgj dijalanan bila memungkinkan dan aman untuk diajak berbicara atau
mengobrol kita bisa mengobrol atau berbicara dengan orang tersebut untuk mengetahui
dan mengidentifikasi masalah yang dialami odgj, penyebab mengapa orang tersebut
mengalami hal tersebut dan mengetahui perasaan dan harapan yang dirasakan oleh orang
tersebut. Mungkin saja kita bisa memberikan solusi untuk odgj tersebut.