Anda di halaman 1dari 30

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PHBS

1. Pengertian

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan sekumpulan

perilaku yang berupa tindakan dan dilakukan atas dasar kesadaran sebagai

hasil pembelajaran yang menjadikan individu atau kelompok dapat

menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam

mewujudkan kesehatan masyarakat. Sasaran dari program PHBS

merupakan seluruh elemen masyarakat. Tujuan dari dilakukannya PHBS

adalah untuk menjaga, memelihara, melindungi, serta meningkatkan

kesehatan setiap individu (Kemenkes RI, 2011).

2. Tatanan PHBS Indikatornya

Departemen Kesehatan RI menggalakkan program PHBS pada 5

tatanan, yaitu rumah tangga, sekolah, tempat kerja, sarana kesehatan, dan

tempat-tempat umum. Indikator PHBS yang telah resmi dirilis oleh

Departemen Kesehatan RI adalah pada tatanan rumah tangga yang

berjumlah sepuluh indikator, sedangkan untuk tatanan lainnya dapat

disesuaikan. Kesepuluh indikator tersebut yaitu persalinan ditolong oleh

tenaga kesehatan, memberi bayi ASI eksklusif, menimbang balita setiap

bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih yang

mengalir dan menggunakan sabun, menggunakan jamban sehat,


14

memberantas jentik nyamuk sekali dalam seminggu, makan sayur dan

buah setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari termasuk didalamnya

beristirahat yang cukup, dan tidak merokok (Kemenkes RI, 2011).

Terdapat 8 indikator dari kesepuluh indikator tersebut yang dapat

diimplementasikan pada anak.

Menimbang balita setiap bulan didefinisikan sebagai menimbang

anak pada usia 12-60 bulan setiap bulan dan mencatatnya pada KMS atau

buku KIA (Kemenkes RI, 2011). Jika pada bayi dan balita menimbang

dilakukan setiap bulan, maka pada usia anak SD, mengukur tinggi badan

dan menimbang berat badan dapat dilakukan minimal sekali dalam 6

bulan. Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan fisik pada anak usia 6-12

tahun cenderung lebih stabil dibandingkan masa balita dan masa remaja

(Rita Eka Izzaty, dkk, 2008). Pertambahan tinggi dan berat badan pada

anak harus tetap seimbang. Keseimbangan tersebut dapat dicapai jika

asupan gizi anak dan aktivitas yang dilakukannya seimbang. Anak-anak

sangat tidak dianjurkan untuk melakukan diet pengurangan asupan

makanan karena anak-anak masih berada pada usia pertumbuhan di mana

energi yang diperlukan sangat banyak.

Penggunaan air bersih dilakukan untuk berbagai macam aktivitas,

seperti mandi, mencuci pakaian dan perabotan lainnya, mencuci tangan

dan kaki, minum dan masak, serta lainnya. Air bersih dapat berasal dari air

kemasan, air ledeng, air pompa, sumur terlindung, mata air terlindung, dan

penampungan air hujan, dengan syarat tidak berasa, tidak berbau, tidak
15

berwarna (Kemenkes RI, 2011). Hal lain yang harus diperhatikan dalam

menentukan sumber air adalah jarak sumber air tersebut terhadap sumber

pencemaran seperti tempat penampungan kotoran atau limbah minimal 10

meter. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir

dapat mencegah menyebarnya bibit-bibit penyakit (Kemenkes RI, 2010).

Selain menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir, mencuci tangan

yang baik dilakukan dengan mencuci telapak tangan, punggung tangan,

sela-sela jari, dan kuku. Setelah membilas tangan dengan air, tangan juga

harus dikeringkan menggunakan tisu atau kain yang bersih.

Mencuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir

dilakukan sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, sebelum dan

sesudah makan, sebelum dan sesudah merawat orang sakit, sebelum dan

sesudah mengobati luka, sesudah menggunakan toilet, sebelum dan

sesudah memegang bayi, sesudah meniup hidung, batuk, dan bersin,

setelah menyentuh hewan, pakan ternak, atau kotoran hewan, serta sesudah

menyentuh sampah (Centers for Disease Control and Prevention, 2015).

Penggunaan jamban sehat dan pemberantasan jentik nyamuk

dilakukan berkaitan dengan pencegahan penyebaran bibit penyakit serta

pencemaran lingkungan. Jamban yang sehat merupakan jamban yang

tertutup dengan ventilasi udara yang cukup serta memiliki ketersediaan air

bersih yang cukup (Kemenkes RI, 2010). Pemberantasan bibit nyamuk

dapat dilakukan dengan langkah 3M plus (Kemenkes RI, 2010). 3M

meliputi tindakan menguras bak mandi minimal seminggu sekali, menutup


16

tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas. Selain itu, plus

meliputi ikanisasi, menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air,

menghindari menggantung pakaian, serta pemantauan terhadap jentik

nyamuk juga dapat memberantas perkembangbiakan bibit nyamuk.

Sayur dan buah mengandung vitamin, mineral, serta serat tinggi

yang baik untuk sistem pencernaan, dapat mengurangi banyak penyakit

kronis, dapat membantu mencapai dan memepertahankan berat badan ideal

(Centers for Disease Control and Prevention, 2011). Oleh karenanya,

mengkonsumsi sayur dan buah setiap hari sangat dianjurkan dengan

jumlah 2 porsi sayur dan 3 porsi buah atau sebaliknya (Kemenkes RI,

2011). Selain mengkonsumsi sayur dan buah, setiap individu juga harus

menjamin bahwa asupan makanannya bergizi seimbang (Notoatmodjo,

2010). Setiap individu tidak hanya berkewajiban untuk memberikan

asupan makanan pada tubuhnya. Selain memperhatikan asupan, individu

juga harus memperhatikan pengeluaran atau pemanfaatan energi dari

tubuhnya sehingga ia harus beraktivitas fisik, seperti berolahraga dan

bekerja, yang diimbangi dengan istirahat. Setiap individu melakukan

aktivitas fisik minimal 30 menit setiap harinya (Kemenkes RI 2011).

Mengkonsumsi rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit. Selain itu,

asap rokok juga dapat mencemari lingkungan sekitar, terutama udara.

Meskipun demikian, yang dimaksud dengan PHBS tidak hanya

mencakup kesepuluh indikator tersebut. Kesepuluh indikator tersebut

merupakan batas minimal perilaku individu dapat dikategorikan Perilaku


17

Hidup Bersih dan Sehat. PHBS juga mencakup perilaku lainnya yang

mendukung kesehatan seperti kebersihan pribadi atau personal hygiene,

perilaku sadar gizi, dan perilaku menyehatkan lingkungan (Kemenkes RI,

2011).

Kebersihan pribadi merupakan segala tindakan memelihara

kebersihan dan kesehatan setiap individu untuk kesejahteraan fisik dan

psikisnya. Kebersihan pribadi meliputi kebersihan kulit, kebersihan

rambut, kebersihan kuku, kebersihan tangan dan kaki, kebersihan mata,

kebersihan rongga mulut dan gigi, kebersihan telinga, kebersihan hidung,

serta pemeliharaan pakaian (Syarifuddin dan Muhadi, 2011).

Kebersihan kulit dilakukan dengan cara mandi menggunakan sabun

(Elaine Larson, 2008). Penggunaan sabun dilakukan untuk membersihkan

kulit dari bakteri, minyak, dan kotoran. Kemenkes RI (2010: 139)

menyebutkan bahwa sebaiknya mandi dilakukan minimal dua kali sehari.

Menjaga kebersihan rambut sama halnya dengan menjaga kebersihan kulit

kepala. Sampo digunakan untuk kulit kepala sebagai pengganti sabun pada

badan untuk membersihkan kotoran dan minyak pada kulit kepala (Koes

Irianto dan Putranto Jokohadikusumo, 2010). Keramas minimal seminggu

sekali menggunakan sampo merupakan salah satu cara yang dapat

dilakukan dalam menjaga kebersihan rambut. Bahkan, sebaiknya keramas

dilakukan saat kulit kepala sudah terasa kotor atau berminyak selain itu,

merapikan rambut dengan sisir juga dapat menjaga kebersihan rambut.


18

Menjaga kuku tangan dan kaki dalam keadaan pendek dengan

memotongnya minimal sekali dalam seminggu merupakan salah satu cara

menjaga kebersihan kuku (Koes Irianto dan Putranto Jokohadikusumo,

2010). Selain memotong kuku, kuku juga harus dibersihkan dengan sikat,

kain, ataupun benda halus lainnya agar tetap bersih. Selain menjaga

kebersihan kuku, kebersihan tangan dan kaki dapat diwujudkan dengan

mencuci tangan dan kaki dengan air mengalir dan sabun seperti yang

dijelaskan sebelumnya. Mencuci tangan dengan sabun sebaiknya

dilakukan saat sebelum menyajikan makanan, sebelum makan, setelah

makan, setelah beraktivitas di luar rumah/ bermain, setelah dari kamar

mandi, dan setelah memegang hewan ataupun bersin (Kemenkes RI,

2010). Mencuci kaki sebaiknya dilakukan setelah beraktivitas di luar

rumah baik menggunakan alas kaki ataupun tidak, serta sebelum tidur.

Selain itu, kaki juga sebaiknya senantiasa menggunakan alas. Saat

menggunakan kaos kaki harus rajin menggantinya minimal dua hari sekali.

Perilaku berkumur dan menyikat gigi dengan pasta gigi minimal dua

kali sehari saat pagi hari setelah sarapan dan sebelum tidur adalah contoh

perilaku menjaga keberishan mulut dan gigi (The Oral Health Foundation,

2016). Meskipun demikian, penggunaan sikat gigi harus diperhatikan.

Sikat gigi yang digunakan haruslah sikat gigi dengan bulu sikat yang

halus. Saat menggosok gigi, sebaiknya posisi sikat bergerak ke atas-bawah

atau memutar secara hati-hati. Selain itu, menggosok gigi harus dilakukan

pada gigi bagian luar dan dalam. Membersihkan sisa makanan dengan
19

mencongkel sebaiknya perlu diminimalisir, bahkan dihindari. Berkumur

dengan cairan khusus mulut dapat membantu membersihkan bagian mulut

yang sulit dicapai sikat gigi. Lidah yang merupakan bagian dari mulut

perlu dibersihkan dengan hati-hati menggunakan bulu sikat yang halus.

Konsumsi makanan juga perlu diperhatikan dalam menjaga kebersihan dan

kesehatan mulut, seperti mengurangi konsumsi gula dan makanan asam.

Selain itu, pemeriksaan ke dokter gigi juga diperlukan minimal enam

bulan sekali.

Pemeliharaan kebersihan terhadap pakaian perlu dilakukan karena

pakaian berfungsi sebagai pelindung bagi tubuh manusia yang kontak

langsung dengan tubuh. Pakaian yang memenuhi syarat kesehatan menurut

Syarifuddin dan Muhadi (2011) antara lain sebagai berikut.

a. Lembut sehingga tidak merusak kulit.

b. Berukuran sedang, tidak terlalu sempit dan tidak terlalu longgar.

c. Mudah dibersihkan (dicuci dengan sabun).

d. Warna sesuai dengan kondisi pemakai dan suasana.

Selain itu, pakaian yang baik adalah bersih dari kotoran, kering,

menyerap keringat, serta dapat melindungi tubuh. Setelah dicuci kering,

ada baiknya pakaian disetrika karena selain membuat pakaian menjadi

rapi, bibit penyakit juga akan mati saat pakaian disetrika (Koes Irianto dan

Putranto Jokohadikusumo, 2010). Penggunaan pakaian juga tidak boleh

terlalu lama. Pakaian harus segera diganti minimal sekali dalam sehari.
20

Pakain yang telah kotor harus segera dicuci, jikapun tidak, harus

dipisahkan dari pakaian bersih.

Perilaku sadar gizi merupakan perilaku yang berkaitan dengan

kuantitas dan kualitas asupan terhadap badan. Hal tersebut mencakup

makanan dan minuman, serta suplemen tambahan berupa vitamin.

Makanan yang dikonsumsi tidak hanya berfungsi untuk menghilangkan

rasa lapar, melainkan juga sebagai sumber tenaga, zat pembangun, dan zat

pengatur. Oleh karena itu, makanan yang dikonsumsi setiap waktunya

harus mengandung 5 kelompok zat gizi meliputi karbohidrat, protein,

lemak, vitamin, dan mineral (Mikdar, 2008).

Makanan seimbang sangat penting bagi tubuh untuk melawan infeksi

penyakit; mengendalikan berat badan; mengoptimalkan pertumbuhan

dengan mengembangkan, mengganti, dan memperbaiki sel-sel dan

jaringan tubuh, menghasilkan energi, melaksanakan proses kimia tubuh;

serta membantu kesehatan mental (New Health Guide, 2016). Menu

seimbang merupakan menu dengan komposisi protein, karbohidrat,

kalsium, vitamin, antioksidan, mineral, dan serat dalam jumlah yang

cukup, tidak berlebihan juga tidak kekurangan. Menu seimbang biasanya

terdiri atas makanan pokok berupa nasi, ketela, gandum, jagung, dan

lainnya, lauk pauk, sayur-mayur, dan buah-buahan dengan perbandingan

makanan pokok lebih sedikit dibanding yang lainnya. Banyaknya jenis

makanan dalam menu seimbang dikarenakan komposisi zat gizi setiap

jenis makanan memiliki keunggulan dan kelemahan tertentu.


21

Kebervariasian jenis makanan yang dikonsumsi bertujuan untuk

mengurangi resiko timbulnya ketidakseimbangan antara asupan dengan

kebutuhan akan zat gizi. Mengkonsumsi makanan yang bervariasi

membuat kekurangan zat gizi pada makanan yang satu akan dilengkapi

oleh susunan zat gizi dari jenis makanan yang lain sehingga diperoleh

asupan gizi yang seimbang.

Hal yang juga harus diperhatikan pada makanan adalah ada tidaknya

zat aditif. Zat aditif merupakan bahan tambahan pangan di mana

berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan diartikan sebagai

bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau

bentuk pangan, antara lain, bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti

gumpal, pemucat, dan pengental. Zat aditif terdiri atas zat aditif alami dan

buatan. Kebanyakan zat aditif buatan berbahaya bagi tubuh jika

dikonsumsi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Lingkungan manusia terbagi atas lingkungan fisik dan lingkungan

biotik (Syarifuddin dan Muhadi, 2011). Lingkungan fisik mencakup tanah,

air, udara, dan benda-benda lainnya. Lingkungan biotik mencakup seluruh

makhluk hidup yang ada di sekitar manusia itu sendiri, seperti manusia,

hewan, tumbuh-tumbuhan, kuman, dan lainnya. Perilaku menyehatkan

lingkungan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah perilaku yang

meliputi cara pembuangan dan pengolahan sampah, cara pembuangan

limbah kotoran manusia, cara pencegahan polusi udara, cara menjaga

kebersihan air serta pemanfaatannya, dan pemberantasan bibit penyakit.


22

Limbah merupakan buangan atau sisa yang dihasilkan dari proses

suatu kegiatan atau usaha (UU RI nomor 32 tahun 2009 pasal 1 ayat 20).

Limbah yang berkaitan dengan penelitian ini mencakup sampah dan

kotoran manusia. Mengenai pembuangan sampah dan pengolahannya,

perilaku yang tergolong dalam kategori ini dimulai dengan mengumpulkan

sampah dengan menyapu, mengepel lantai, membersihkan jendela,

pemilahan sampah pada tempat sampah hingga proses mengolah sampah.

Membakar sampah sangat tidak dianjurkan. Pembuangan limbah dilakukan

dengan mengarahkannya ke dalam septic tank. Jarak antara tempat

pembuangan limbah dan sumber air harus diperhatikan.

Limbah juga dapat mencemari lingkungan udara dan air. Pencemaran

tersebut dikenal dengan sebutan polusi. Pencegahan polusi udara dapat

dilakukan dengan meminimalisir penggunaan bahan bakar minyak bumi,

pembakaran sampah, aktivitas merokok, serta mengoptimalkan

penghijauan. Menjaga kebersihan air dapat dilakukan dengan

memperhatikan jarak sumber air dengan tempat pembuangan, serta

menggunakannya sebijak mungkin. Air bersih dapat digunakan untuk

minum, masak, mandi, mencuci, baik tangan, kaki, pakaian, atau perlatan

makan dan memasak. Pemberantasan bibit penyakit dapat dilakukan

dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar sebagaimana dijelaskan

sebelumnya. Selain itu, pemberantasan bibit penyakit dapat dilakukan

dengan program khusus pemberantasan bibit penyakit berupa nyamuk

penyebab demam berdarah yang digalakkan. Program tersebut yaitu 3M


23

plus (Kemenkes RI, 2010). 3M plus meliputi menguras bak mandi

seminggu sekali, mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan

air, serta melakukan ikanisasi, memakai kelambu, menabur bubuk abate,

menghindari menggantung pakaian, dan melakukan pemantauan di tempat

yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Perilaku hidup bersih dan sehat bagi siswa SD mencakup perilaku

hidup bersih dan sehat yang dapat dilaksanakan oleh siswa SD baik di

sekolah maupun di rumah. Berdasarkan uraian tersebut, maka indikator

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada siswa SD meliputi:

a. Menjaga kebersihan kulit;

b. Menjaga kebersihan dan kerapian rambut;

c. Menjaga kebersihan dan kerapian kuku;

d. Menjaga kebersihan tangan dan kaki;

e. Menjaga kebersihan mata;

f. Menjaga kebersihan mulut dan gigi;

g. Menjaga kebersihan hidung dan telinga;

h. Menjaga kebersihan dan kerapian pakaian;

i. Mengukur tinggi badan dan menimbang berat badan secara rutin;

j. Melakukan aktivitas fisik setiap hari;

k. Beristirahat yang cukup,

l. Menggunakan air bersih;

m. Makan makanan sehat dan bergizi seimbang;

n. Tidak merokok dan menghindari asap rokok;


24

o. Menggunakan jamban sehat;

p. Ikut dalam usaha memberantas jentik nyamuk; serta

q. Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

3. Tujuan PHBS

Menurut Muhadi dan Syarifudin (2011) tujuan PHBS di sekolah

mempunyai tujuan yakni:

a. Tujuan Umum:

Memperdayakan setiap siswa, guru, dan masyarakat lingkungan

sekolah agar tau, mau, dan mampu menolong diri sendiri di bidang

kesehatan dengan menerapkan PHBS dan berperan aktif dalam

mewujudkan sekolah sehat.

b. Tujuan Khusus:

1) Meningkatkan pengetahuan tentang PHBS bagi setiap siswa, guru,

dan masyarakat lingkungan sekolah.

2) Meningkatkan peran serta aktif setiap siswa, guru, dan masyarakat

lingkungan sekolah ber PHBS di sekolah.

3) Memandirikan setiap siswa, guru, dan masyarakat lingkungan

sekolah ber PHBS.

4. Manfaat PHBS

Menurut Muhadi dan Syarifuddin (2011) manfaat PHBS yaitu

sebagai berikut :
25

a. Manfaat bagi siswa:

1) Meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit

2) Meningkatkan semangat belajar

3) Meningkatkan produktivitas belajar

4) Menurunkan angka absensi karena sakit

b. Manfaat bagi warga sekolah:

1) Meningkatnya semangat belajar siswa berdampak positif terhadap

pencapaian target dan tujuan

2) Menurunnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan oleh orangtua

3) Meningkatnya citra sekolah yang positif

c. Manfaat bagi sekolah:

1) Adanya bimbingan teknis pelaksanaan pembinaan PHBS di sekolah

2) Adanya dukungan buku pedoman dan media promosi PHBS di

sekolah

d. Manfaat bagi masyarakat

1) Mempunyai lingkungan sekolah yang sehat

2) Dapat mencontoh perilaku hidup bersih dan sehat yang diterapkan

oleh sekolah

e. Manfaat bagi pemerintah provinsi/kabupaten/kota

1) Sekolah yang sehat menunjukkan kinerja dan citra pemerintah

provinsi/kabupaten/kota yang baik

2) Dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam

pembinaan PHBS di sekolah


26

5. Strata PHBS di Sekolah

Strata Pratama Strata Madya Strata Utama


1) Memelihara rambut Perilaku di strata pertamaPerilaku di strata
agar bersih dan rapih ditambah: madya ditambah:
2) Memakai pakaian 8) Memberantas jentik13) Mengkonsumsi
bersih dan rapih nyamuk jajanan sehat di
3) Memelihara kuku 9) Menggunakan jamban kantin sekolah
agar selalu pendek yang bersih dan sehat 14) Menimbang berat
dan bersih 10) Menggunakan air bersih badan dan
4) Memakai sepatu 11) Mencuci tangan dengan mengukur tinggi
bersih dan rapih air mengalir dan badan setiap bulan
5) Berolahraga teratur memakai sabun
dan terukur 12) Membuang sampah ke
6) Tidak merokok di tempat sampah yang
sekolah terpilah (sampah basah,
7) Tidak menggunakan sampah kering, sampah
NAPZA berbahaya)
( Sumber : Banun, 2016 )

B. Pengetahuan

1. Pengertian Pengetahuan
Salam (2008) mengemukakan bahwa pengetahuan ialah apa yang

diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil

daripada : kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai.


Menurut Rober (2010) pengetahuan dalam makna kolektifnya

adalah kumpulan informasi yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok

atau budaya tertentu. Pengetahuan merupakan komponen-komponen

mental yang dihasilkan dari semua proses apapun, entah lahir dari bawaan

atau dicapai lewat pengalaan.


Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa

pengetahuan adalah kumpulan informasi dari hasil tahu dan bisa didapat

dari kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak oleh

manusia itu sendiri.


27

2. Sumber Pengetahuan
Menurut Suhartono (2008) cara memperoleh pengetahuan dapat

berdasarkan :
a. Tradisi, adat dan agama
Sumber pertama yaitu kepercayaan berdasarkan tradisi, adat dan

agama, adalah berupa nilai-nilai warisan nenek moyang. Sumber ini

biasanya berbentuk norma-norma dan kaidah-kaidah baku yang

berlaku di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam norma dan kaidah

itu terkandung pengetahuan yang kebenarannya boleh jadi tidak dapat

dibuktikan secara rasional dan empiris, tetapi sulit dikritik untuk

diubah begitu saja. Jadi, harus diikuti dengan tanpa keraguan, dengan

percaya secara bulat. Pengetahuan yang bersumber dari kepercayaan

cenderung bersifat tetap (mapan) tetapi subjektif


b. Otoritas kesaksian orang lain
Sumber kedua yaitu pengetahuan yang berdasarkan pada otoritas

kesaksian orang lain, juga masih diwarnai oleh kepercayaan. Pihak-

pihak pemegang otoritas kebenaran pengetahuan yang dapat

dipercayai adalah orangtua, guru, ulama, orang yang dituakan, dan

sebagainya. Apa pun yang mereka katakan benar atau salah, baik atau

buruk, dan indah atau jelek, pada umumnya diikuti dan dijalankan

dengan patuh tanpa kritik. Karena, kebanyakan orang telah

mempercayai mereka sebagai orangorang yang cukup berpengalaman

dan berpengetahuan lebih luas dan benar. Boleh jadi sumber

pengetahuan ini mengandung kebenaran, tetapi persoalannya terletak

pada sejauh mana orang-orang itu bisa dipercaya. Lebih dari itu,

sejauh mana kesaksian pengetahuannya itu merupakan hasil pemikiran


28

dan pengalaman yang telah teruji kebenarannya. Jika kesaksiannya

adalah kebohongan, hal ini akan membahayakan kehidupan manusia

dan masyarakat itu sendiri.


c. Pengalaman Indriawi
Sumber ketiga yaitu pengalaman indriawi. Bagi manusia,

pengalaman indriawi adalah alat vital penyelenggaraan kebutuhan

hidup sehari-hari. Dengan mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit,

orang bisa menyaksikan secara langsung dan bisa pula melakukan

kegiatan hidup.
d. Pikiran
Sumber keempat yaitu akal pikiran. Berbeda dengan panca

indera, akal pikiran memiliki sifat lebih rohani. Karena itu, lingkup

kemampuannya melebihi panca indera, yang menembus batas-batas

fisis sampai pada hal-hal yang bersifat metafisis. Kalau panca indera

hanya mampu menangkap hal-hal yang fisis menurut sisi tertentu,

yang satu persatu, dan yang berubah-ubah, maka akal pikiran mampu

menangkap hal-hal yang metafisis, spiritual, abstrak, universal, yang

seragam dan yang bersifat tetap, tetapi tidak berubah-ubah. Oleh

sebab itu, akal pikiran senantiasa bersikap meragukan kebenaran

pengetahuan indriawi sebagai pengetahuan semu dan menyesatkan.

Singkatnya, akal pikiran cenderung memberikan pengetahuan yang

lebih umum, objektif dan pasti, serta yang bersifat tetap, tidak

berubah-ubah
e. Intuisi
Sumber ini berupa gerak hati yang paling dalam. Jadi, sangat

bersifat spiritual, melampaui ambang batas ketinggian akal pikiran


29

dan kedalaman pengalaman. Pengetahuan yang bersumber dari intuisi

merupakan pengalaman batin yang bersifat langsung. Artinya, tanpa

melalui sentuhan indera maupun olahan akal pikiran. Ketika dengan

serta-merta seseorang memutuskan untuk berbuat atau tidak berbuat

dengan tanpa alasan yang jelas, maka ia berada di dalam pengetahuan

yang intuitif. Dengan demikian, pengetahuan intuitif ini kebenarannya

tidak dapat diuji baik menurut ukuran pengalaman indriawi maupun

akal pikiran. Karena itu tidak bisa berlaku umum, hanya berlaku

secara personal belaka

3. Tingkatan Pengetahuan
Menurut Efendi dan Makhfudin (2009) tingkatan Pengetahuan

tercakup dalam 6 tingkatan yaitu :

a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Kata kerja untuk mengukurnya yaitu

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan

sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

mengintrepretasikan materi tersebut secara benar.


c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real

(sebenarnya).
d. Analisis (analysis)
30

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam

satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk

meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek

berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan

kriteria yang ada.


4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Mubarok (2007) terdapat tujuh faktor yang memengaruhi

pengetahuan seseorang, yaitu sebagai berikut :


a. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada

orang lain agar dapat memahami sesuatu hal. Tidak dapat dipungkiri

bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah pula

mereka menerima informasi, dan pada akhirnya pengetahuan yang

dimilikinya akan semakin banyak. Sebaliknya, jika seseorang

memiliki tingkat pendidikan rendah, maka akan menghambat

perkembangan sikap orang tersebut terhadap penerimaan informasi

dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.


b. Pekerjaan
31

Lingkungan pekerjaan dapat membuat seseorang memperoleh

pengalaman dan pengetahuan, baik secara langsung maupun tidak

langsung.

c. Umur
Dengan bertambahnya umur seseorang akan mengalami

perubahan aspek fisik dan psikologis (mental). Pada aspek psikologis

atau mental, taraf berpikir seseorang menjadi semakin matang dan

dewasa.
d. Minat
Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi

terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan

menekuni suatu hal, sehingga seseorang memperoleh pengetahuan

yang lebih mendalam.


e. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami

seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Orang

cenderung berusaha melupakan pengalaman yang kurang baik.

Sebaliknya, jika pengalaman tersebut menyenangkan, maka secara

psikologis mampu menimbulkan kesan yang sangat mendalam dan

membekas dalam emosi kejiwaan seseorang. Pengalaman baik ini

akhirnya dapat membentuk sikap positif dalam kehidupannya.


f. Kebudayaan lingkungan sekitar
Lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap

pribadi atau sikap seseorang. Kebudayaan lingkungan tempat kita

hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap

pembentukan sikap kita.


g. Informasi
32

Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat

mempercepat seseorang memperoleh pengetahuan baru.


5. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek

penelitian atau responden kedalam pengetahuan yag akan kita ukur atau

kita ketahui dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatannya, Adapun

pertanyaan yang dapat digunakan untuk pengukuran pengetahuan secara

umum dapat di kelompokan kedalam dua jenis (Arikunto, 2010).

a. Pertanyaan subjektif misalnya pertanyaan essay disebut pertanyaan

subjektif karena penilainnya untuk pertanyaan ini melibatkan faktor

subjektif, sehingga akan berbeda dari seseorang penilaian yang satu di

bandingkan dengan penilaian yang lain dari satu waktu ke waktu yang

lain.
b. Pertanyaan objektif, misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple

choise), betul salah, da pertanyaan menjodohkan, pertanyaan pilihan

ganda betul salah, disebut pertanyaan objektif karena pertanyaan-

pertanyaan itu dapat dinilai secara pasti oleh penilai dari kedua jenis

pertanyaan tersebut, pertanyaan objektif khususnya pertanyaan pilihan

ganda lebih disukai untuk dijadikan sebagai alat ukur dalam

pengukran pengetahuan karena lebih mudah disesuaikan

denganpengetauan yang akan diukur dan penilaiannya akan lebih

cepat.
33

Pengetahuan diukur dengan skala guttman, yang memiliki pilihan

pada setiap pertanyaan dengan keriteria sebagai berikut.


a. Untuk jenis pertanyaan positif
1) Jawaban benar, nilai 1
2) Jawaban salah, nilai 0
b. Untuk jenis pertanyaan negatif
1) Jawaban benar, nilai 0
2) Jawaban salah, nilai 1

Menurut Arikunto (2010) pengetahuan seseorang dapat diukur dan

diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:


a. Baik, jika pertanyaan dijawab benar sejumlah 76% -100% dari total

nilai/skor item pertanyaan yang ada.


b. Cukup, jika pertanyaan dijawab benar sejumlah 56% - 75% dari total

nilai/ skor item pertanyaan yang ada.


c. Kurang, jika pertanyaan dijawab sejumlah <56% dari total nilai/skor

item pertanyaan yang ada.

C. Sikap

1. Pengertian Sikap
Menurut Sherif & Sherif dalam Repangga (2014) menyatakan bahwa

Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya suatu

perbuatan atau tingkah laku. Sikap menentukan keajegan dan kekhasan

perilaku seseorang dalam hubungannya dengan stimulus manusia atau

kejadian tertentu.
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek

tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang


34

bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik,

dan sebagainya) (Notoatmodjo, 2010).


Berdasarkan kedua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa

sikap adalah suatu respon seseorangterhadap stimulus atau objek tertentu

yang memungkinkan timbulnya suatu perbuatan.


2. Komponen Sikap
Menurut Azwar (2007), struktur sikap terdiri dari 3 komponen yang

saling menunjang yaitu :


a. Komponen kognitif, merupakan representasi apa yang dipercayai

oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan

stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat

disamakan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut

masalah isu atau yang kontroversial.


b. Komponen afektif, merupakan perasaan yang menyangkut aspek

emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling

dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling

bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah

mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan

perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.


c. Komponen konatif, merupakan aspek kecenderungan berperilaku

tertentu sesuai sikap yang dimiliki oleh seseorang. Aspek ini berisi

tendensi atau kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi

terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.


3. Tingkatan Sikap
Menurut Notoatmodjo dalam Wawan (2011) sikap terdiri dari

berbagai tingkatan yaitu :


a. Menerima (receiving)
35

Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).


b. Merespons (responding)
Pada tingkat ini, sikap individu dapat memberikan jawaban

apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang

diberikan.
c. Menghargai (valuing)
Pada tingkat ini, sikap individu mengajak orang lain untuk

mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.


d. Bertanggung jawab (responsible)
Pada tingkat ini, sikap individu akan bertanggung jawab dan

siap menanggung segala risiko atau segala sesuatu yang telah

dipilihnya.
4. Sifat Sikap

Menurut Purwanto dalam Wawan (2011), sikap dapat pula bersifat

positif dan dapat pula bersifat negatif yaitu :

a. Sikap posotif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyayangi,

mengaharapkan objek tertentu.

b. Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari,

membenci, tidak menyukai objek tertentu.

5. Ciri-ciri Sikap

Adapun ciri-ciri sikap menurut Purwanto dalam Wawan (2011)

adalah:

a. Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari

sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan objeknya.


36

b. Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap

dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan

syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.

c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan

tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap itu terbentuk,

dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek

tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.

d. Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga

merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.

e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat

alamiah yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau

pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap

Menurut Azwar (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

keluarga terhadap objek sikap antara lain:

a. Pengalaman pribadi

Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman

pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat.

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya individu cenderung untuk memiliki sikap yang

konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

c. Pengaruh kebudayaan
37

Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah

sikap kita terhadap berbagai masalah.

d. Media massa

Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio ataupun media

komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual disampaikan secara

objektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya akibatnya

berpengaruh terhadap sikap konsumennya.

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga

agama sangat menentukan sistem kepercayaan.

f. Faktor emosional

Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan bentuk pernyataan

yang didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran

frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

D. Peran Guru

1. Pengertian

Peran ialah Pola tingkah laku tertentu yang merupakan ciri-ciri khas

semua petugas dari pekerjaan atau jabatan tertentu. Guru harus

bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi

belajar-mengajar. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil

tidaknya proses belajar, dan karenanya guru harus menguasai


38

prinsipprinsip belajar disamping menguasai materi yang akan diajarkan.

Dengan kata lain Guru harus mampu menciptakan suatu situasi kondisi

belajar yang sebaik- baiknya

2. Peran Guru

Menurut Usman (2009) dan Mulyasa (2010) guru memiliki tugas

yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas

guru dalam bidang kemanusiaan adalah memposisikan dirinya sebagai

orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik simpati dan menjadi idola para

siswanya. Adapun yang diberikan atau disampaikan guru hendaklah dapat

memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku

kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa.

Menjadi seorang Guru Profesional sebagai pengajar guru harus memiliki

tujuan yang jelas, membuat keputusan secara rasional agar peserta didik

memahami keterampilan yang dituntut oleh pembelajaran. Untuk

kepentingan tersebut, perlu dibina hubungan yang positif antara guru

dengan peserta didik. Dalam hal ini ada sembilan belas peran guru yaitu:

a. Guru sebagai pendidik

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi

bagi para peseta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus

memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencangkup tanggung

jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.

b. Guru sebagai pengajar


39

Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk

mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk

kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari.

c. Guru sebagai pembimbing

Guru dapat diibartkan sebagai pembimbing perjalanan (jorney), yang

berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas

kelancaran perjalanan itu. Dal hal ini, istilah perjalanan tidak hanya

menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreativitas,

moral dan spiritual.

d. Guru sebagai pelatih

Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan

ketermapilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut

guru untuk bertindak sebagai pelatih.

e. Guru sebagai penasehat

Guru adalah seorang penasehat bagi pesrta didik, bahkan bagi orang

tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai

penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk

menasehati orang.

f. Guru sebagai pembaharu (innovator)

Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu kedalam kehidupan

yang bermakna bagi peserta didik.

g. Guru sebagai model dan teladan Guru merupakan model atau teladan

bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggapnya dia
40

guru terdapat kecendrungan yang besar untuk menganggap bahwa

peran ini tidak mudah untuk ditentang. Sebagai teladan, tentu saja

pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta

didik dan orang sekitar lingkungannya.

h. Guru sebagai pribadi

Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus

memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Sebagai

pribadi yang hidup di tengah-tengah masyarakat, guru perlu juga

memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat.

i. Guru sebagai peneliti

Guru adalah seorang pencari atau peneliti. Dia tidak tahu dan dia tahu

bahwa dia tidak tahu, oleh karena itu dia sendiri merupakan subyek

pembelajaran. Dengan kesadaran bahwa ia tidak mengetahui sesuatu

maka ia berusaha mencarinya melalui kegiatan penelitian

j. Guru sebagai pendorong kreativitas

Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran,

dan guru dituntut unutuk mendemonstrasikan dan menunjukan proses

kreativitas tersebut. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan

menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan

oleh seseorang atau adanya kecendrungan untuk menciptakan sesuatu.

k. Guru sebagai pembangkit pandangan

Dunia ini panggung sandiwara, yang penuh dengan berbagai kisah dan

peristiwa, mulai dari kisah nyata sampai yang direkayasa. Dalam hal
41

ini, guru dituntut untuk memeberikan dan memelihara pandangan

tentang keagungan kepada peserta didiknya. Fungsi ini guru harus

terampil dalam berkomunikasi dengan peserta didik.

l. Guru sebagai pekerja rutin.

Guru bekerja dengan keterampilan, dan kebiasaan tertentu. Serta

kegiatan rutin yang amat diperlukan dan sering kali memberatkan.

Jika kegiatan tersebut tidak dikerjakan dengan baik, maka bisa

mengurangi atau merusak keefektifan guru pada semua peranannya.

m. Guru sebagai pemindah kemah.

Guru adalah seorang pemindah kemah, yang membantu peserta didik

meninggalkan hal lama menuju sesuatu yang baru yang bisa mereka

alami. Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik.

n. Guru sebagai pembawa cerita.

Guru sebagai pembawa cerita adalah mampu membawa peserta didik

memiliki pandangan yang rasional terhadap sesuatu.

o. Guru Sebagai Aktor

Guru menguasai materi standar dalam bidang studi yang menjadi

tanggung jawabnya, memperbaiki ketrampilan, dan mengembangkan

untuk mentransfer bidang studinya kepada peserta didik.

p. Guru Sebagai Emanisipator.


42

Guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap

insan, dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “ budak”

kebudayaan.

q. Guru sebagai evaluator

Evaluator atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling

kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan

serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan

konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap

segi penilaian.

r. Guru sebagai pengawet.

Guru harus berusaha mengawetkan pengetahuan yang telah dimiliki

dalam pribadinya, dalam arti guru harus berusaha menguasai materi

standar yang akan disajikan kepada peserta didik.

s. Guru sebagai kulminator

Guru yang mengarahkn proses belajar secara bertahap dari awal

hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangnnya peserta didik akan

melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap

peserta didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya.