Anda di halaman 1dari 11

EFEK HORMONAL PADA OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN

Oleh :
Nama : Muhammad Fauzi Ramadhani
NIM : B1A016065
Rombongan :I
Kelompok :4
Asisten : Lisa Purwandari Rahayu

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kelenjar pituitari atau kelenjar hipofisis merupakan organ yang relatif kecil
ukurannya jika dibandingkan dengan ukuran tubuh, tetapi mempunyai pengaruh pada
sejumlah proses vital dalam tubuh manusia maupun hewan. Hormon yang dihasilkan
oleh kelenjar hipofisa ada sembilan macam, yaitu ACTH, TSH, FSH, LH, STH, MSH,
Prolaktin, Vasopresin, dan Oksitosin (Diba et al., 2016). FSH dan LH adalah dua
hormon yang mempunyai daya kerja mengatur dungsi kelenjar kelamin. FSH
mempunyai daya kerja merangsang pertumbuhan folikel pada ovarium dan pada testis
memberikan ransangan terhadap spermatogenesis. LH mempunyai daya kerja
merangsang ovulasi dan menguningkan folikel ovarium dan pada hewan jantan (Oka,
2016).
Induksi hormon reproduksi diperlukan ikan untuk mengatasi atresia. Hal ini
dilakukan dengan suntikan kelenjar pituitari dari ikan donor ke ikan resipien atau
dengan suntikan gonadotropin sintetis analog hormon (GnRH-a). Sel-sel hipofisis
diketahui dapat menjalani proses mitosis terus menerus. Kelenjar pituitari dapat
dikultur secara in vitro untuk digunakan sekresinya untuk induksi pemijahan pada ikan
lain (Oyeleye et al., 2016).
Sistem pemijahan kawin suntik sebenarnya hanya cocok untuk ikan yang secara
alamiah sulit memijah. Hipofisasi adalah merangsang induk agar memijah setelah
penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisis ke dalam tubuh ikan. Hipofisasi mutlak
memerlukan ikan donor sebagai penyumbang hipofisis. Kelenjar hipofisis dapat
diperoleh dengan cara memotong kepala ikan donor sampai putus. Kepala ikan donor
tersebut dibelah dari arah bawah sampai bagian tengkoraknya terbuka. Letak hipofisis
(sekecil merica) berada dilekukan tulang dibawah otak besar. Kelenjar akan tampak
putih jika otak beasar disingkirkan lebih dulu (Santoso, 1995).

B. Tujuan

Tujuan acara praktikum kali ini adalah untuk merangsang ikan untuk ovulasi dan
memijah dengan induksi kelenjar hipofisis.
II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam acara praktikum kali ini adalah spuit volume
1cc, bantalan busa berukuran 40 x 30 cm dilapisi plastik atau talenan, centrifugasi,
tabung Effendorf, centrifuge, pisau besar dan kecil, ember plastik, lap, pinset, gelas
arloji, dan spatula.
Bahan-bahan yang digunakan dalam acara praktikum kali ini adalah ikan mas
(Cryprinus carpio) sebagai ikan donor, ikan nilem (Osteochilus vittatus) sebagai ikan
resipien, dan akuabidest.
B. Metode

1. Bak penampungan dan bak pemijahan disiapkan, lalu diisi dengan air bersih
dan diberi aerasi.
2. Ikan resipien diaklimasi selama 3 – 4 hari.
3. Ikan donor dipotong kepalanya dengan menggunakan pisau besar tepat
dibelakang operculum sampai putus.
4. Pemotongan kedua dilakukan dengan meletakkan kepala ikan donor dengan
menghadap ke atas, selanjutnya dipotong bagian belakang kepala dimulai dari
lubang hidung diatas otak sampai putus sama sekali sehingga tengkorak kepala
terbuka.
5. Berkas saraf dipotong sebelah depan yang berwarna putih, kemudian otak
diangkat sehingga akan terlihat kelenjar hipofisis tepat dibawah otak, terletak
di dalam celah selatusika, bentuknya bulat, berwarna putih dan ukurannya lebih
kecil dari butir kacang hijau.
6. Kelenjar hipofisis diambil dengan menggunakan pinset dan diletakkan di gelas
arloji, kemudian di beri 1cc akubidest dan dilumatkan hingga tercampur rata.
7. Akubidest ditambahkan secukupnya berdasarkan kebutuhan:
Volume keseluruhan = jumlah ikan yang akan disuntik (resipien) x 0,3 cc.
8. Hasil lumatan dimasukkan ke dalam tabung effendorf, kemudian dilakukan
sentrifugasi selama ± 10 menit dengan kecepatan 3500 rpm.
9. Kemudian diambil menggunakan spuit injeksi sebanyak 0,3 cc untuk jantan
dan 0,4 cc untuk betina.
10. Ikan resipien disuntikan ekstrak kelenjar hipofisis secara intra muskular pada
urutan ke lima sisik setelah operculum ke samping dan turun ke bawah 3 sisik,
kemudian disuntikkan. Ikan yang telah disuntikkan dimasukkan kedalam bak
pemijahan. Kemudian waktu yang diperlukan untuk ikan memijah diamati.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Tabel 3.1. Keberhasilan Pemijahan Ikan Dengan Rasio


Rasio ♂/♀ Pemijahan Tidak Memijah
1:3 - 
1:2 - 

Tabel 3.1.2. Keberhasilan Pemijahan Ikan Dengan Dosis


Dosis ♂/♀ Pemijahan Tidak Memijah
0.2 cc - 
0.3 cc - 
0.4 cc - 

B. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan dan percobaan didapatkan hasil bahwa dengan
menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisis pada ikan nilem dengan ratio berbeda yaitu
1:3 dan 1:2 dengan ikan betina lebih banyak tidak terjadi pemijahan. Hal ini sesuai
dengan Burmansyah et al. (2014), bahwa sex ratio merupakan perbandingan ideal
jumlah ikan jantan dengan ikan betina dalam populasi untuk pembuahan sel telur.
Beberapa penelitian mengenai sex ratio yang berbeda dalam pemijahan pada ikan
penggunaan sex ratio terbaiknya adalah 2 jantan dan 1 betina (2:1) dengan daya tetas
61%. Ikan Bada (Rasbora argyrotaenia) sex ratio terbaik yaitu 3 jantan dan 1 betina
(3 : 1) dengan tingkat pembuahan sebesar 98% sedangkan pada perbandingan 1 jantan
dan 1 betina (1 : 1) menunjukkan tingkat pembuahan sebesar 71%.
Hasil untuk penyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisis pada ikan nilem dengan
dosis berbeda yaitu 0.2 cc tidak terjadi pemijahan, dosis 0.3 cc dan 0.4 cc tidak terjadi
pemijahan. Kejadian tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya pengaturan hormon
reproduksi dalam tubuh yang menyebabkan kematangan gonad. Hal ini sesuai dengan
Yasin (2013), bahwa luteinizing hormone (LH) dikenal sebagai hormon kunci dalam
kontrol reproduksi untuk mensekresi produksi gonad steroid, sedangkan gonadotropin
releasing hormone (GnRHs) dalam otak ikan berperan untuk pengontrol proses
reproduksi. Pemberian level dosis hormon dapat mempercepat waktu mulai
percumbuan ikan setelah pencampuran induk. Kemampuan ovulasi ikan sangat
berkaitan dengan pemberian LHRHa dalam gonadotropin untuk mempercepat masa
ovulasi telur ikan. Ikan dalam kondisi normal dapat mengatur hormon reproduksi
dalam tubuh (hormon steroid) sebagai pembentukan faktor perangsang kematangan
gonad.
Hipofisasi merupakan menyuntikkan suspensi kelenjar hipofisa kepada ikan
yang akan dibiakan. Kelemahan dari teknik hipofisasi adalah hilangnya sejumlah
donor untuk diambil hipofisasinya (Oka, 2016). Namun, teknik ini juga memiliki
keunggulan menurut Thamrin et al. (2010), pembenihan buatan diantaranya terletak
pada waktu pembenihan yang tidak lagi tergantung pada musim. Pematangan gonad
dapat dikendalikan dengan makana, dan kemudian waktu pemijahan dikontrol dengan
beberapa bahan kimia atau kelenjar hipofisis itu sendiri. Selain itu menurut Saad &
Billard (1987), menambahkan dengan penyuntikkan ekstrak hipofisis ternyata dapat
meningkatkan volume dan jumlah spermatozoa.
Dosis untuk penyuntiksan kelenjar hipofisis ada dua cara yaitu dengan rasio ikan
jantan dan ikan betina (1:2, 1:3, dan 1:1) dimana rasio untuk ikan jantan adalah 0,3 ml
dan betina sebesar 0,4 ml. Perbandingan jumlah ikan resipien betina dan jantan adalah
1 : 3, dimana untuk tiap ekor ikan betina diperlukan 3 ekor ikan jantan. Waktu yang
dibutuhkan untuk melakukan pemijahan adalah 8 – 10 jam setelah menyuntikan
(Yuwono & Sukardi, 2001). Jika dengan perhitungan rumus maka menggunakan
rumus Dosis = berat ikan resipien/1000 x dosis. Ikan jantan lebih mudah terangsang
untuk memijah dibandingkan dengan ikan betina. Rasio pemijahan yang bervariasi
dilakukan untuk melihat peluang keberhasilan pemijahan (Gordon, 1982).
Terdapat beberapa cara pemberian kelenjar hipofisis yaitu intracranial, intra
peritoneal, dan intramuscular. Beberapa waktu intra-injeksi peritonial diambil dari
ikan mas dan di berikan pada pangkal sirip dada. Bagian atas intramuscular agar dapat
diakses ke pituari diberikan pada pangkal sirip ekor tengkorak yang dibelah dengan
menggunakan pisau (More et al., 2010). Menurut Sutisna & Sutarmanto (1995), teknik
penyuntikan dibagi menjadi tiga yaitu intra muscular (penyuntikan ke dalam otot),
intra peritonial (penyuntikan pada rongga perut), dan intra cranial (penyuntikan pada
rongga otak melalui tulang occipital bagian tipis). Ketiga teknik penyuntikan tersebut
yang paling umum dan paling mudah dilakukan adalah secara intra muscular.
Penyuntikan secara intra muscular dilakukan pada punggung, yakni di bagian otot
yang paling tebal. Ikan bersisik seperti tawes, ikan mas, dan sebagainya, penyuntikan
dilakukan pada 3-4 sisik ke bawah.
Teknik hipofisasi pada pemijahan ikan memerlukan ikan sebagai donor dan
resipien. Menurut Hadjamulia (1980), bahwa syarat ikan donor yang digunakan yaitu
masak kelamin dan tidak boleh mati (tidak lebih dari 2 jam), beratnya 2x ikan resipien.
Ikan resipien adalah jenis yang sama mempunyai berat 0,5x ikan donor. Perbandingan
ikan donor dan resipien yang digunakan adalah 3:1 yaitu 3 jantan dan 1 betina. Serta
ikan harus sudah matang kelamin. Ikan yang memiliki gonad yang sudah matang
biasanya terlihat gelisah, sering muncul di permukaan air dan ikan jantan sering
berpasangan dengan ikan betina/Menurut Gordon (1982), ciri-ciri betina yang sudah
masak kelamin diantaranya perut mengembung, lubang genital kemerahan, perut
lembek. Ikan jantan yang telah masak kelamin adalah bila perut di stripping akan
keluar cairan putih seperti susu (milt). Menurut Muchlisin et al., (2014), bahwa induksi
pemijahan dipengaruhi oleh jenis dan dosis hormon yang digunakan tergantung pada
kualitas indukan. Oleh karena itu, manajemen induk harus dilakukan dengan baik
sebelum program pemuliaan.
Pemijahan adalah proses pengeluaran sel telur oleh induk betina dan sperma oleh
induk jantan yang kemudian diikuti dengan perkawinan. Pemijahan sebagai salah satu
proses dari reproduksi merupakan mata rantai siklus hidup yang menentukan
kelangsungan hidup spesies (Sinjal, 2014). Mekanisme kelenjar hipofisis mampu
menginduksi ovulasi dan pemijahan ikan yaitu secara alamiah kerja hormone untuk
perkembangan dan pematangan gonad dimulai dari adanya rangsangan dari luar,
seperti visual untuk fotoperiode, kemoreseptor untuk suhu dan metabolit. Rangsangan
ini kemudian diterima oleh susunan saraf otak melalui reseptor-reseptor penerima
rangsangan susunan saraf otak selanjutnya, merangsang hipotalamus untuk
melepaskan Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH) untuk mestimulasi kelenjar
hipofisa (pituitary) untuk mengsekresikan Gonadotropin Hormon (GtH). Dialirkan
kedalam darah untuk merangsang kematangan gonad akhir melalui simulasi untuk
mensintesis hormon-hormon steroid pematangan (seperti hormone testoteron dan
estradiol) dalam ovarium atau testis, dan mempengaruhi perkembangan kelamin
sekunder. Sehingga ikan dikatakan berhasil memijah biasanya ditandai dengan
munculnya buih-buih di tepi kolam atau akuarium sebagai tempat letaknya telur yang
sudah dikeluarkan. (Sunandar et al., 2007).
Faktor yang mengakibatkan tidak memijahnya ikan, karena belum cukup
matangnya gonad induk ikan meskipun didukung oleh faktor eksterna yang cukup.
Faktor internal yang utama adalah kematangan gonad itu sendiri. Faktor eksternal
berupa lingkungan, seperti faktor fisika (cahaya, suhu, arus), faktor kimia (pH,
kelarutan oksigen, feromon), dan faktor biologi (lawan jenis) (Zairin et al., 2005).
Menurut Susanto (1992), menambahkan bahwa suhu air merupakan salah satu faktor
fisik yang dapat mempengaruhi nafsu makan dan pertumbuhan ikan serta proses
metabolisme lainnya. Kisaran suhu dalam bak pemijahan yang tidak sesuai dengan
batas toleransi ikan akan dapat menggagalkan proses pemijahan. Suhu optimum yang
dibutuhkan ikan untuk memijah ialah 28-30OC. Faktor lain yang sangat berpengaruh
yaitu cara pengambilan dan penyuntikan ikan. Pengambilan ikan harus hati-hati untuk
keberhasilan hipofisasi. Luka atau hilangnya sisik dapat mengakibatkan ikan resipien
tidak dapat memijah walaupun telah diberikan suntikan ekstrak hipofisa, karena
gangguan secara fisiologis pada ikan.
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai


bahwa ikan resipien tidak berhasil memijah pada perlakuan dosis 0,2 cc, 0,3 cc dan 0,4
cc, sedangkan perlakuan dosis dan perlakuan rasio ikan tidak berhasil memijah hal ini
kemungkinan disebabkan oleh tingkat kematangan gonad ikan yang belum sempurna,
kesalahan pada saat penyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisis kepada ikan resipien yang
menyebabkan stres, dosis yang kurang tepat, dan sebagainya.
DAFTAR REFERENSI

Burmansyah, Muslim, & Fitrani, M. 2014. Pemijahan Ikan Betok (Anabas testudineus)
Semi Alami Dengan Sex Ratio Berbeda. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia,
1(1), pp. 23-33.
Diba, N. F., Muslim, Yulisman. 2016. Pemijahan Ikan Betok (Anabas testudineus
Bloch) yang Diinduksi dengan Ekstrak Hipofisa Ayam Broiler. Jurnal
Aquakultur Rawa Indonesia, 4(1), pp. 188-199.
Gordon, M. S. 1982. Animal Physiology Princile. New York: McMillan Publishing
Company.
Hadjamulia, A. 1980.Pembenihan Ikan dengan Teknik Hipofisasi. Sukabumi: BBAI.
Muchlisin, Z.A. et al., 2014. Induced spawning of seurukan fish, Osteochilus vittatus
(Pisces: Cyprinidae) using ovaprim, oxytocin and chicken pituitary gland
extracts. AACL BIOFLUX, 7(5), pp. 412-418.
More, P.R., Bhandare, R.Y., Shinde, S.E., Pathan, T.S., & Sonawane, D.L. 2010.
Comparative Study of Synthetic Hormones Ovaprim and Carp Pituitary Extract
Used in Induced Breeding of Indian Major Carps. Libyan Agriculture Research
Center Journal Internation, 1(5), pp. 288-295.
Oka, A.A. 2016. Penggunaan Ekstrak Hipofisa Ternak Untuk Merangsang Spermiasi
pada Ikan (Cyprinus carpio L.). Denpasar: Jurusan Produksi Ternak, Fakultas
Peternakan, Universitas Udayana.
Oyeleye, O. O., Ola, S. I. & Omitogun, O. G. 2016. Ovulation Induced In African
Catfish (Clarias gariepinus, Burchell 1822) by Hormones Produced in The
Primary Culture of Pituitary Cells. International Journal of Fisheries and
Aquaculture, 8(7), pp. 67-73.
Saad, A. & Billard, R. 1987. Spermatozoa Production and Volume of Semen Collected
After Hormonal Stimulation in The Carp, Cyprinus carpio. Aquaculture, 65, pp.
67 – 77.
Santoso, B. 1995. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Yogyakarta: Kanisius.
Sinjal, H. 2014. Efektifitas Ovaprim Terhadap Lama Waktu Pemijahan, Daya Tetas
Telur dan Sintasan Larva Ikan Lele Dumbo, Clarias gariepinus. Budidaya
Perairan, 2(1), pp. 14 – 21.
Susanto, H. 1992. Budidaya Ikan di Pekalongan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sutisna, D. H., & Sutarmanto, R. 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta:
Kanisius.
Thamrin., R., Abdul, P., Mulyadi, & Rosyadi. 2010. Penelitian Pendahuluan Pengaruh
Temperatur Terhadap Survival Embrio dan Ebriogenesis Ikan Silais Tricopteris
Limpok. Journal of Environment Science, 1(4).
Yasin, M. N. 2013. Pengaruh Level Dosis Hormon Perangsang Yang Berbeda Pada
Pemijahan Ikan Betok (Anabas testudineus Bloch) Di Media Air Gambut. Jurnal
Ilmu Hewani Tropika, 2(2), pp. 52-56.
Yuwono, E. & Sukardi P. 2001. Fisiologi Hewan Air. Jakarta: CV Sagung Seto.
Zairin, M., Sari, R.K., & Raswin, M. 2005. Pemijahan Ikan Tawes dengan Sistem
Imbas Menggunakan Ikan Mas Sebagai Pemicu. Jurnal Akuakultur Indonesia,
4(2), pp. 103-108.