Anda di halaman 1dari 32

HERNIA INGUINALIS

KEPANITRAAN KLINIK SENIOR DI BAGIAN ILMU BEDAH


RSUD DR. H. KUMPULAN PANE TEBING TINGGI

Disusun oleh:
HAZRI JAYANTI Br. SITORUS
?
NIA ULFA A.TAMBUNAN
?
YURISSA ASTRINIA
71160891865

Pembimbing :

dr. HIDAYATULLAH, Sp.B

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA
2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunianya kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan akan dibahas lebih lanjut dalam
sebuah laporan kasus yang berjudul ‘Hernia Inguinalis”. Penyusunan laporan kasus ini
dimaksudkan sebagai penambah wawasan bagi pembaca khususnya mahasiswa/i
fakultas kedokteran UISU, dimana dalam perjalanan akademiknya mahasiswa fakultas
kedokteran dituntut untuk terus berekreasi secara inovatif dan dinamis.
Dalam laporan kasus ini nantinya akan dibahas tentang hernia inguinalis.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dr.Hidayatullah, Sp.B yang telah
membimbing dalam penyelesaian laporan kasus ini dan dan seluruh pihak lain yang
telah berpartisipasi dalam penyusunan laporan kasus ini.
Semoga laporan kasus ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan
wawasan bagi para pembaca. Tentunya sebagai mahasiswa yang sedang menempuh
pendidikan coass yang sedang membangun character building dalam pemikirannya,
dalam laporan kasus ini masih banyak terdapat kekurangan dalam berbagai hal. Oleh
sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan. Agar dalam
pembuatan laporan kasus selanjutnya lebih sempurna.

Wasalamualaikum Wr.Wb

Tebing Tinggi, Juli 2018


Hormat Saya,

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 2
2.1 PENGERTIAN ........................................................................................ 2
2.2 ANATOMI DAN FISIOLOGI
2.2.1 anatomi ..................................................................................... 3
2.2.2 fisiologi .............................................................................. ..... 4
2.3 KLASIFIKASI ......................................................................................... 6
2.4 ETIOLOGI ......................................................................................... .. 7
2.5 PATOFISIOLOGI.................................................................................... 8
2.6 MANIFESTASI KLINIK ........................................................................ 8
2.7 PENATALKSANAAN ........................................................................... 10
2.8 KOMPLIKASI ......................................................................................... 11
BAB III LAPORAN KASUS .................................................................................... 29
BAB IV DISKUSI KASUS ....................................................................................... 36
KESIMPULAN .......................................................................................................... 38
BAB VI PENUTUP................................................................................ ................... 40
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 41
BAB I
PENDAHULUAN

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut
menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskuloaponeurotik dinding
perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia (karnadihardja, 2005)
Hernia (Latin) merupakan penonjolan bagian organ atau jaringan melalui
lobang abnormal. (Dorland,1998). Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu
rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada
hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan
muskolo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia.
(Jong, 2004).
Hernia iguinalis lateralis adalah suatu keadaan dimana sebagian usus masuk
melalui sebuah lubang pada dinding perut ke dalam kanalis inguinalis. Kanalis
inguinalis adalah saluran berbentuk tabung, yang merupakan jalan tempat turunnya
testis (buah zakar) dari perut ke dalam skrotum (kantung zakar) sesaat sebelum bayi
dilahirkan

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui
defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (Jong,2004).
Hernia adalah tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dinding
rongga dimana rongga tersebut harusnya berada dalam keadaan normal
tertutup (Nanda,2006).
Hernia adalah suatu keadaan keluarnya jaringan organ tubuh dari suatu
ruangan melalui suatu celah atau lubang keluar di bawah kulit atau menuju
rongga lain, dapat kongenital ataupun aquisita.
Hernia inguinalis indirek disebut juga hernia inguinalis lateralis yaitu
hernia yang keluar dari rongga peritonium melalui anulus inguinalis internus
yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian hernia
masuk ke dalam kanalis inguinalis (Jong 2004).
Hernia inguinalis direk disebut juga hernia inguinalis medialis yaitu
hernia yang melalui dinding inguinal posteromedial dari vasa epigastrika
inferior di daerah yang dibatasi segitiga Hesselbach (Arif Mansjoer,2000).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hernia adalah
ketidaknormalan tubuh berupa tonjolan yang disebabkan karena kelemahan
pada dinding otot abdomen, dapat congenital maupun aquisita.

2
2.2. Anatomi dan Fisiologi
2.2.1 Anatomi
a. Usus halus

Panjangnya kira-kira 2-8 m dengan diameter 2,5 cm. Berentang dari


sphincter pylorus ke katup ileocecal.
Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum)
panjangnya 25 cm, usus kosong (jejunum) 1-2 m, dan usus penyerapan
(ileum) 2-4 m.
1). Usus dua belas jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang
terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum).
Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus,
dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.
Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak
terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang
normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua
muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum
berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang berarti dua belas jari.
2). Usus Kosong (jejunum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah
bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan
usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus
antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan
usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium. Jejunum

3
diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti "lapar" dalam bahasa Inggris
modern. Arti aslinya berasal dari bahasa Latin, jejunus, yang berarti
"kosong". 3). Usus Penyerapan (illeum) Usus penyerapan atau ileum adalah
bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem pencernaan manusia, ini
memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum,
dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral
atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam
empedu.

b. Usus Besar

Usus besar dimulai dari katup ileocecal ke anus dan rata-rata


panjangnya 1,5 m dan lebarnya 5-6 cm.Usus besar terbagi kedalam cecum,
colon, dan rectum. Vermiform appendix berada pada bagian distal dari cecum.
Colon terbagi menjadi colon ascending, colon transversal, colon descending,
dan bagian sigmoid. Bagian akhir dari usus besar adalah rectum dan anus.
Sphincter internal dan eksternal pada anus berfungsi untuk mengontrol
pembukaan anus.(Brunner & Suddarth, 2001).

2.2.2 Fisiologi
Fungsi usus halus adalah :
a. Sekresi mukus. Sel-sel goblet dan kelenjar mukosa duodenum akan
mensekresi mukus guna melindungi mukosa usus.
b. Mensekresi enzim. Sel-sel mikrovilli (brush border cell) mensekresi
sucrase, maltase, lactase dan enterokinase yang bekerja pada disakarida guna
membentuk monosakarida yaitu peptidase yang

4
bekerja pada polipeptida, dan enterokinase yang mengaktifkan trypsinogen
dari pankreas.
c. Mensekresi hormon. Sel-sel endokrin mensekresi cholecystokinin, secretin,
dan enterogastrone yang mengontrol sekresi empedu, pancreatic juice, dan
gastric juice.
d. Mencerna secara kimiawi. Enzim dari pankreas dan empedu dari hati masuk
kedalam duodenum.
e. Absorpsi. Nutrisi dan air akan bergerak dari lumen usus kedalam kapiler
darah dan lacteal dari villi.
f. Aktifitas motorik. Mencampur, kontraksi dan peristaltik. Gerakan
mencampur disebabkan oleh kontraksi serabut otot sirkuler pada usus
menyebabkan chyme kontak dengan villi untuk diabsorpsi. Fungsi utama usus
besar adalah :
a. Sebagai aktifitas motorik. Gerakan mengayun dan peristaltik akan
menggerakkan zat sisa menuju kebagian distal.
b. Sekresi. Pada umumnya memproduksi mukus yang melindungi
mukosas akan tidak mengalami injury, melunakkan feces yang
memungkinkan bergerak dengan lancar kearah pelepasan dan
menghambat pengaruh pembentukan keasaman oleh bakteri.
c. Absorpsi air, garam, dan chlorida. Colon mempunyai kemampuan
mengabsorpsi 90% air dan garam dan mempertahankan keseimbangan
cairan dan elektrolit.
d. Mensintesa vitamin. Bakteri pada usus halus akan mensintesa
vitamin K, thiamin, riboflavin, vitamin B12, dan folic acid.
e. Membentuk feses. Feses terdiri dari ¾ air dan ¼ massa padat. Massa
padat termasuk sisa makanan dan sel yang mati. Pigmen empedu
memberikan warna pada feses. Dan menstimulasi gerakan isi usus
kearah pelepasan.
f. Defekasi. Yaitu aktifitas mengeluarkan feces dari dalam tubuh
keluar. Pada saat feses dan gas berada dalam rektum, tekanan dalam
rektum meningkat, menyebabkan terjadinya refleks defekasi.

5
2.3 Klasifikasi
1. Bagian-bagian hernia
a. Kantong hernia Pada hernia abdominalis berupa peritoneum
parietalis. Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia insisional,
hernia adipose, hernia intertitialis.
b. Isi hernia Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong
hernia, misalnya usus,ovarium dan jaringan penyangga usus (omentum).
c. Pintu hernia Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui
kantong hernia.
d. Leher hernia Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan
kantong hernia.
e. Locus minoris resistance (LMR).

2. Macam-macam hernia

a. Berdasarkan terjadinya:
1) Hernia bawaan atau kongenital
2) Hernia didapat atau akuisita
b. Berdasarkan tempatnya:
1) Hernia Inguinalis
Adalah hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (regio
inguinalis).
2) Hernia femoralis
Adalah hernia isi perut yang tampak di daerah fosa femoralis.
3) Hernia umbilikalis
Adalah hernia isi perut yang tampak di daerah isi perut.
4) Hernia diafragmatik
Adalah hernia yang masuk melalui lubang diafragma ke dalam
rongga dada.
5) Hernia nucleus pulposus (HNP).
c. Berdasarkan sifatnya
1) Hernia reponibel
Yaitu isi hernia masih dapat dikembalikan ke kavum
abdominalis lagi tanpa operasi.

6
2) Hernia ireponibel
Yaitu isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam
rongga.
3) Hernia akreta
Yaitu perlengketan isi kantong pada peritonium kantong hernia.
4) Hernia inkarserata
Yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia.
d. Berdasarkan isinya
1) Hernia adiposa Adalah hernia yang isinya terdiri dari
jaringan lemak.
2) Hernia litter Adalah hernia inkarserata atau strangulata yang
sebagian dinding ususnya saja yang terjepit di dalam cincin
hernia.
3) Slinding hernia Adalah hernia yang isi hernianya menjadi
sebagian dari dinding kantong hernia. (Sjamsuhidajat, 2004).

2.4 Etiologi/Predisposisi
Penyebab dari hernia adalah adanya peningkatan tekanan intra
abdominal akibat adanya tindakan valsava maneuver seperti batuk, mengejan,
mengangkat benda berat atau menangis.
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomaly congenital atau karena
sebab yang didapat. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan
pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar, sehingga dapat
dilalui oleh kantong dan isi hernia. Selain itu diperlukan pula faktor yang
dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar
itu.
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus
vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut dan
kelemahan otot dinding perut karena usia. Tekanan intra abdominal yang
meninggi serta kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi dan
asites sering disertai hernia inguinalis. Anak yang menjalani operasi hernia
pada waktu bayi mempunyai kemungkinan mendapat hernia kontralateral pada
usia dewasa (16%). Bertambahnya umur menjadi faktor risiko, dimungkinkan

7
karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan
berkurangnya kekuatan jaringan penunjang.
Setelah apendektomi menjadi faktor risiko terjadi hernia inguinalis
karena kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan
nervus ilioinguinalis dan nervus iliofemoralis.(Jong, 2004).

2.5. Patofisiologi
Terjadinya hernia disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah
faktor kongenital yaitu kegagalan penutupan prosesus vaginalis pada waktu
kehamilan yang dapat menyebabkan masuknya isi rongga perut melalui
kanalis inguinalis, faktor yang kedua adalah faktor yang didapat seperti hamil,
batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat dan faktor usia, masuknya isi
rongga perut melalui kanal ingunalis, jika cukup panjang maka akan menonjol
keluar dari anulus ingunalis eksternus. Apabila hernia ini berlanjut tonjolan
akan sampai ke skrotum karena kanal inguinalis berisi tali sperma pada
lakilaki, sehingga menyebakan hernia. Hernia ada yang dapat kembali secara
spontan maupun manual juga ada yang tidak dapat kembali secara spontan
ataupun manual akibat terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding
kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Keadaan
ini akan mengakibatkan kesulitan untuk berjalan atau berpindah sehingga
aktivitas akan terganggu. Jika terjadi penekanan terhadap cincin hernia maka
isi hernia akan mencekik sehingga terjadi hernia strangulate yang akan
menimbulkan gejala ileus yaitu gejala obstruksi usus sehingga menyebabkan
peredaran darah terganggu yang akan menyebabkan kurangnya suplai oksigen
yang bisa menyebabkan Iskemik. Isi hernia ini akan menjadi nekrosis.
Kalau kantong hernia terdiri atas usus dapat terjadi perforasi yang
akhirnya dapat menimbulkan abses lokal atau prioritas jika terjadi hubungan
dengan rongga perut. Obstruksi usus juga menyebabkan penurunan peristaltik
usus yang bisa menyebabkan konstipasi. Pada keadaanstrangulate akan timbul
gejala ileus yaitu perut kembung, muntah dan obstipasi pada strangulasi nyeri
yang timbul letih berat dan kontineu, daerah benjolan menjadi merah
(Syamsuhidajat 2004).

8
1. Hernia Inguinalis

Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke

8dari kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal


tersebut.Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum
sehingga terjaditonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis
peritonea. Bila bayilahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi,
sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam
beberapa hal sering belummenutup, karena testis yang kiri turun terlebih
dahulu dari yang kanan, makakanalis inguinalis yang kanan lebih sering
terbuka. Dalam keadaan normal, kanalyang terbuka ini akan menutup pada
usia 2 bulan.
Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila
kanalterbuka terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul
herniainguinalis lateralis kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini
terjadi keranausia lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut
melemah. Sejalandengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh
mengalami prosesdegenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup.
Namun karena daerahini merupakan locus minoris resistance, maka pada
keadaan yang menyebabkantekanan intraabdominal meningkat seperti batuk
batuk kronik, bersin yang kuat dan mengangkat barang barang berat,
mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia
inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatujaringan tubuh dan keluar
melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dindingrongga yang telah melemas
akibat trauma, hipertropi protat, asites, kehamilan,obesitas, dan kelainan
kongenital dan dapat terjadi pada semua

Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan


prosesperkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial
komplikasiterjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong
hernia sehingga isihernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan
terhadap cincin hernia,akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin
hernia menjadi sempit danmenimbulkan gangguan penyaluran isi usus.
Timbulnya edema bila terjadi obtruksiusus yang kemudian menekan pembuluh

9
darah dan kemudian terjadi nekrosis. Bilaterjadi penyumbatan dan perdarahan
akan timbul perut kembung, muntah,konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan,
maka lama kelamaan akan timbul edemasehingga terjadi penekanan pembuluh
darah dan terjadi nekrosis.
Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar.
Bila isi perut terjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses.
Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia.
Antara lain obstruksiusus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang
akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis.
A.Hernia Inguinalis Direkta (Medialis)
Hernia ini merupakan jenis henia yang didapat (akuisita) disebabkan oleh
faktorpeninggian tekanan intra abdomen kronik dan kelemahan otot dinding di
trigonumHesselbach*. Jalannya langsung (direct) ke ventral melalui annulus
inguinalissubcutaneous. Hernia ini sama sekali tidak berhubungan dengan
pembungkus talimani, umumnya terjadi bilateral, khususnya pada laki-laki tua.
Hernia jenis inijarang, bahkan hampir tidak pernah, mengalami inkarserasi dan
strangulasi.
*trigonum hesselbach merupakan daerah dengan batas
 Inferior : Ligamentum Inguinale
 Lateral : Vasa epigastrika inferior
 Medial : Tepi m.rectus abdominis
Dasarnya dibentuk oleh fascia transversalis yang diperkuat serat aponeurosis
m.tranversus abdominis.

10
B.Hernia Inguinalis Indirekta (lateralis)
Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut di lateral
pembuluhepigastrika inferior. Dikenal sebagai indirek karena keluar melalui
dua pintu dansaluran, yaitu annulus dan kanalis inguinalis. Pada pemeriksaan
hernia lateralisakan tampak tonjolan berbentuk lonjong. Dapat terjadi secara
kongenital atauakuisita.

2.6 Manifestasi Klinis


Pada umumnya keluhan orang dewasa berupa benjolan di inguinalis
yang timbul pada waktu mengedan, batuk, atau mengangkat beban berat dan
menghilang pada waktu istirahat berbaring. Pada inspeksi perhatikan keadaan
asimetris pada kedua inguinalis, skrotum, atau labia dalam posisi berdiri dan
berbaring. Pasien diminta mengedan atau batuk sehingga adanya benjolan atau
keadaan asimetris dapat dilihat. Palpasi dilakukan dalam keadaan ada benjolan
hernia, diraba konsistensinya, dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat
direposisi. Setelah benjolan dapat direposisi dengan jari telunjuk, kadang
cincin hernia dapat diraba berupa anulus inguinalis yang melebar (Jong, 2004).
Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaaan isi
hernia. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adanya benjolan di lipat
paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk bersin, atau mengejan dan
menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada
biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau paraumbilikal berupa nyeri
viseral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus
masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru
timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis
atau gangren.
Tanda klinis pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada
inspeksi saat pasien mengedan, dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul
sebagai penonjolan di regio ingunalis yang berjalan dari lateral atas ke medial
bawah. Kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada vunikulus
spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang memberikan sensasi
gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan sutera,
tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau kantong hernia berisi organ,
tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus,omentum (seperti karet),

11
atau ovarium. Dengan jari telunjuk atau kelingking pada anak, dapat dicoba
mendorong isi hernia dengan menekan kulit skrotum melalui anulus eksternus
sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Dalam
hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam anulus
eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau ujung jari menyentuh hernia,
berarti hernia inguinalis lateralis, disebut hernia inguinalis lateralis karena
menonjol dari perut di lateral pembuluh epigastrika inferior. Disebut juga
indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran yaitu, anulus dan kanalis
inguinalis. Pada pemeriksaan hernia lateralis akan tampak tonjolan berbentuk
lonjong, sedangkan hernia medialis berbentuk tonjolan bulat. Dan kalau sisi
jari yang menyentuhnya, berarti hernia inguinalis medialis. Dan jika kantong
hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum, disebut hernia skrotalis. Hernia
inguinalis lateralis yang mencapai labium mayus disebut hernia labialis.
Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan yang dapat direposisi, atau jika tidak
dapat direposisi, atas dasar tidak adanya pembatasan yang jelas di sebelah
cranial dan adanya hubungan ke cranial melalui anulus eksternus. Hernia ini
harus dibedakan dari hidrokel atau elefantiasis skrotum. Testis yang teraba
dapat dipakai sebagai pegangan untuk membedakannya.(Jong, 2004)

2.8 Diagnosa dan Pemeriksaan Fisik


1. Inspeksi
Hernia reponibel terdapat benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri,
batuk, bersin atau mengedan dan mneghilang setelah berbaring.

Herniainguinal-
Lateralis : muncul benjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral ke medial,
tonjolanberbentuk lonjong.-
Medialis : tonjolan biasanya terjadi bilateral, berbentuk bulat.

Hernia skrotalis : benjolan yang terlihat sampai skrotum yang merupakantojolan


lanjutan dari hernia inguinalis lateralis.

Hernia femoralis : benjolan dibawah ligamentum inguinal.Hernia epigastrika :


benjolan dilinea alba.

Hernia umbilikal : benjolan diumbilikal.Hernia perineum : benjolan di perineum.

2. Palpasi

12
Titik tengah antar SIAS dengan tuberkulum pubicum (AIL) ditekan lalu pasiendisuruh
mengejan. Jika terjadi penonjolan di sebelah medial maka dapat diasumsikan bahwa
itu hernia inguinalis medialis

Titik yang terletak di sebelah lateral tuberkulum pubikum (AIM) ditekan lalupasien
disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateral titik yang kita tekanmaka dapat
diasumsikan sebagai nernia inguinalis lateralis.

Titik tengah antara kedua titik tersebut di atas (pertengahan canalis inguinalis)ditekan
lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateralnya berartihernia
inguinalis lateralis jika di medialnya hernia inguinalis medialis.

Hernia inguinalis : kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba padafunikulus
spermatikus sebagai gesekan dua permukaan sutera, tanda ini disebut sarung tanda
sarung tangan sutera. Kantong hernia yang berisi mungkin terabausus, omentum
(seperti karet), atau ovarium. Dalam hal hernia dapat direposisipada waktu jari masih
berada dalam annulus eksternus, pasien mulai mengedankalau hernia menyentuh
ujung jari berarti hernia inguinalis lateralis dan kalausamping jari yang menyentuh
menandakan hernia inguinalis medialis. lipat pahadibawah ligamentum inguina dan
lateral tuberkulum pubikum.

Hernia femoralis : benjolan lunak di benjolan dibawah ligamentum inguinal

Hernia inkarserata : nyeri tekan.

3.Perkusi
Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus dipikirkan kemungkinan
herniastrangulata. Hipertimpani, terdengar pekak.

4.Auskultasi
Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada hernia yang
mengalamiobstruksi usus (hernia inkarserata).- Colok duburTonjolan hernia yang
nyeri yang merupakan tanda Howship romberg (herniaobtutaratoria).

- Tanda tanda vital : temperatur meningkat, pernapasan meningkat, nadimeningkat,


tekanan darah meningkat.

Pemeriksaan Finger Test


Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.2.
Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus eksternus ke kanal inguinal.3.
Penderita disuruh batuk: Bila impuls diujung jari berarti hernia inguinalis lateralis
Bila impuls disamping jari berarti hernia inguinalis medialis

13
Gambar
Pemeriksaan Finger Test

Pemeriksaan Ziemen Test


1. posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan dulu (biasanya oleh penderita)
2. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan.
3. Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada :
jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.
jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis.
jari ke 4 : Hernia Femoralis.

Gambar
Ziement Test

Pemeriksaan Tumbh Test


Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh mengejan
Bila keluar benjolan berarti hernia inguinalis medialis
Bila Tidak berarti Hernia inguinalis lateralis

14
Gambar
Tumbh Test

PEMERIKSAAN PENUNJANG-

Hasil laboratorium
Leukosit > 10.000 18.000 / mm3
Serum elektrolit meningkat

Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan Ultrasound pada daerah inguinal dengan pasien dalam posisi supinedan
posisi berdiri dengan manuver valsafa dilaporkan memiliki sensitifitas danspesifisitas
diagnosis mendekati 90%. Pemeriksaan ultrasonografi juga bergunauntuk
membedakan hernia incarserata dari suatu nodus limfatikus patologis ataupenyebab
lain dari suatu massa yang teraba di inguinal. Pada pasien yang sangat jarang dengan
nyeri inguinal tetapi tak ada bukti fisik atau sonografi yangmenunjukkan hernia
inguinalis.

CT scan dapat digunakan untuk mengevaluasi pelvis untuk mencari adanya


herniaobturator.

Diagnosis Banding
Kegananasan: Limfoma
Metastasis
Tumor Testis
Penyakit testis Primer: Hidrokel
Torsio testis
Hematoma

2.8 Penatalaksanaan
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah
direposisi. Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulata, kecuali pada

15
pasien anak-anak, reposisi spontan lebih sering (karena cincin hernia yang lebih
elastis). Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang hernia
membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya ke arah cincin hernia
Testbantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi dan
tidak pernah menyembuhkan, sehingga harus dipakai seumur hidup. Namun, cara
yang sudah berumur lebih dari 4000 tahun ini masih saja dipakai sampai sekarang.
Sebaiknya cara seperti ini tidak dianjurkan karena menimbulkan komplikasi, antara
lain merusak kulit dan tonus otot dinding perut di daerah yang tertekan, sedangkan
strangulasi tetap mengancam.
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis
yang rasional. Indikasi operatif sudah ada begitu diagnosa ditegakkan. Prinsip dasar
operatif hernia terdiri atas herniotomi dan hernioplastik. Pada herniotomi dilakukan
pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia
dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit-ikat
setinggi mungkin lalu dipotong. Pada hernioplastik dilakukan tindakan untuk
memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis
iguinalis. Hernioplastik lebih penting dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan
dengan herniotomi. Hernia bilateral pada orang dewasa, dianjurkan melakukan
operasi dalam satu tahap kecuali jika ada kontra indikasi. Begitu juga pada anak-anak
dan bayi, operasi hernia bilateral dilakukan dalam satu tahap, terutama pada hernia
inguinalis sinistra (Jong, 2004).

2.8 Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi
hernia dapat tertahan dalam kantong, pada hernia ireponibel ini dapat terjadi kalau isi
hernia terlalu besar, misalnya terdiri atas omentum, organ ekstraperitonial. Disini
tidak timbul gejala klinis kecuali berupa benjolan. Dapat pula terjadi isi hernia
tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia strangulata yang menimbulkan
gejala obstruksi usus yang sederhana. Sumbatan dapat terjadi total atau parsial. Bila
cincin hernia sempit, kurang elastis, atau lebih kaku, lebih sering terjadi jepitan
parsial. Jarang terjadi inkarserasi retrograd, yaitu dua segmen usus terperangkap di
dalam kantong hernia dan satu segmen lainnya berada dalam rongga peritonium,
seperti huruf “W”.

16
Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia.
Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur di
dalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya udem menyebabkan
jepitan pada cincin hernia makin bertambah, sehingga akhirnya peredaran darah
jaringan terganggu. Isi hernia terjadi nekrosis dan kantong hernia berisi transudat
berupa cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri atas usus, dapat terjadi perforasi
yang akhirnya dapat menimbulkan abses local, fistel, atau peritonitis, jika terjadi
hubungan dengan dengan rongga perut (Jong, 2004). Gambaran klinis hernia
inguinalis lateralis inkarserata yang mengandung usus dimulai dengan gambaran
obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa. Bila
sudah terjadi strangulasi karena gangguan vaskularisasi, terjadi keadaan toksik akibat
gangren dan gambaran klinis menjadi kompleks dan sangat serius. Penderita
mengeluh nyeri lebih hebat di tempat hernia. Nyeri akan menetap karena rangsangan
peritoneal. Pada pemeriksaan local ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan
kembali disertai nyeri tekan dan tergantung keadaan isi hernia, dapat dijumpai tanda
peritonitis atau abses local. Hernia strangulata merupakan keadaan gawat darurat.
Oleh karena itu, perlu mendapat pertolongan segera (Jong 2004)

17
BAB III
LAPORAN KASUS

STATUS ORANG SAKIT


1. ANAMNESA PRIBADI OS
Nama : Ismet
Umur : 61 tahun
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Suku :
Alamat : Jl. Jend. Ahmad Yani Lk.II
Pekerjaan :
Tanggal masuk : 2 Juli 2018
No. Rm : 09-86-91

2. ANAMNESA PENYAKIT OS
Keluhan utama : Benjolan pada lipat paha dan skrotum sebelah kanan
Telaah : Pasien datang ke poliklinik bedah RS Dr. H.
Kumpulan Pane dengan keluhan benjolan pada lipat paha dan skrotum sebelah
kanan. Pasien mengeluhkan benjolan sudah dialami ±1 tahun dan dirasakan
semakin lama semakin membesar dan kadang disertai rasa sakit. Pasien
mengatakan bahwa 3 tahun yang lalu sudah pernah melakukan operasi hernia
di RS Bhayangkara pada lokasi yang sama. Namun setahun setelah operasi
pasien mengaku sering mengangkat beban berat dan mengalami riwayat batuk.

Riwayat penyakit terdahulu : Hernia Inguinalis ± 3 tahun yang lalu


Riwayat penyakit keluarga :-
Riwayat pemakaian obat :-

3. STATUS PRESENT
- Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
- Sensorium : Compos Mentis
- Temperatur : 36.7.°C

18
- Pernafasan : 18x/i
- Nadi : 64x/i
Keadaan Gizi :

BB : 65 kg
TB : 165 cm
IMT (BMI) :Berat Badan (Kg) / (Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)
IMT (BMI) : 65 Kg / 1.65 x 1.65 = Normal

4. STATUS GENERALISATA
PEMERIKSAAN FISIK
1. kepala
Ukuran : Normocephali
Rambut : Putih kehitaman
Wajah : Simetris
Mata : Sklera ikterik (-/-),konjungtiva : anemis (-/-) pupil
isokor,reflexcahaya(+/+)
Telinga : Dalam batas normal
Hidung : Septum deviasi : (-)
Bibir : Syanosis (-), Pucat (-)

2. Leher
Bentuk : Simetris
Trakea : Letak medial
KGB : Pembesaran kelenjar (-)
Kesan : Dalam batas normal

3. Thorax depan:
Inspeksi : Bentuk Simetris, paralitik
Ketinggalan bernafas : (-)
Pembengkakan (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Stem fremitus : kanan = kiri

19
Perkusi : Lapangan paru atas : sonor kanan = kiri
Lapangan paru tengah : sonor kanan = kiri
Lapangan paru bawah : sonor kanan = kiri
Auskultasi : Lapangan paru atas : vesikuler kanan = kiri
Lapangan paru tengah : vesikuler kanan = kiri
Lapangan paru bawah : vesikuler kanan = kiri
Suara tambahan (-)

4. Thorax belakang :
Inspeksi : Bentuk simetris, fusiformis
Palpasi : Nyeri tekan (-),
Stem fremitus : kanan = kiri
Perkusi : Lapangan paru atas : sonor kanan = kiri
Lapangan paru tengah : sonor kanan = kiri
Lapangan paru bawah : sonor kanan = kiri
Auskultasi : Lapangan paru atas : vesikuler kanan = kiri
Lapangan paru tengah : vesikuler kanan = kiri
Lapangan paru bawah : vesikuler kanan = kiri
Suara tambahan (-)

5. Abdomen
Inspeksi : Membesar (-)
Palpasi : Supel, massa (-), nyeri tekan (-)
Lien : tidak teraba
Ren : tidak teraba
Hepar : tidak teraba
Undulasi : (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Peristaltik usus (+)
6. Genitalia : DBN

7. Ekstremitas
a.Atas : DBN
b. Bawah : DB

20
5. STATUS LOKALISATA
Pemeriksaan hernia
 Teknik pinger test (+)
 Ziemen test (+)
Rectal toucher :TDP

RESUME
Pasien laki laki berusia 61 tahun, mengeluhkan benjolan pada lipat paha dan
skrotum sebelah kanan yang sudah dialami ± 1 tahun dan semakin membesar
dan kadang disertai rasa sakit. Pasien mengaku ± 3 tahun yang lalu sudah
melakukan operasi hernia pada lokasi yang sama di RS Bhayangkara .
.Keluhan demam (-), BAB (+), BAK (+), nyeri saat BAK (-), berpasir (-),
darah (-). mencret (-).

6. DIAGNOSA KERJA
Hernia inguinal lateralis (residive)

7. DIFFERENSIAL DIAGNOSA
1.Hidrokel
2.Testis ektopik
3.Limfoma

7. TERAPI

1. IVFD RL/ D5% 40gtt/i (mac)


2. Inj. Cefepime 1gr/12jam
4. Inj. Ketorolac 1a/8jam
5. Inj. Kalnex 1a/8 jam

9. PEMERIKSAAN ANJURAN

1. Darah Rutin
2. Kimia Klinik
3. Foto Thorax
HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG

21
Darah Rutin : Leukosit : 8.300 ul
Hb : 13.8 g/dL
Hematokrit : 42,3 %
Trombosit : 448.000 uL

Kimia Klinik : Glukosa Puasa : 71 mg/dl


Glukosa Post Prandial : 227 mg/dl
Bleeding Time : 3 Menit
Clotting Time : 6 Menit

Foto Thorax : TB Paru dengan Efusi Pleura kanan

10. PENATALAKSANAAN
Tindakan operatif Herniorhapy

11. DIAGNOSA AKHIR


Hernia inguinal lateralis (residive)

12. PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam

Follow Up

Tanggal S O A P
2-07-2018 Benjolan pada Status General : IVFD RL 20gtt/i
skrotum kanan (+) Sensorium : Compos Mentis
Nyeri perut kanan HR :100/60mmHg
bawah (+) TD : 64 x/i
Mual (-) RR : 18 x/i
Muntah (-) T : 36.7°C
Mencret (-)
Demam (-)
BAK (+)
BAB (+)

22
BAB IV
DISKUSI KASUS

Diagnosis untuk hernia inguinalis lateralis dextra residive pada kasus ini
ditegakan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Dari anamnesis didapatkan bahwa benjolan dilipat paha kiri dialami pasien ± 1 tahun
lamanya dan memiliki riwayat operasi hernia pada lokasi yang sama ± 3 tahun yang
lalu. Benjolan keluar terutama ketika penderita mengangkat beban berat atau berjalan
jauh. Benjolan yang bersifat keluar masuk dilipat paha merupakan tanda adanya
hernia inguinalis. Pada anamnesis juga didapatkan setelah benjolan keluar penderita
tidak merasakan nyeri, tidak ada demam, mual dan muntah juga benjolan dapat masuk
kembali jika penderita beristirahat ( tiduran ), sehinga menyingkirkan telah terjadi
inkarserata atau strangulasi.

Mengangkat beban berat, batuk dan mengedan merupakan contoh kegiatan


yang meningkatkan tekanan intraabdominal. Bila terjadi peningkatan tekanan
abdominal, isi peritoneum akan terdorong atau terdesak keluar kebagian terlemah dari
dinding peritoneum dalam hal ini adalah kanalis inguinalis. Pada saat beristirahat,
tekanan intraabdominal menurun dan bila annulus internum cukup lebar atau elastik,
isi usus dapat kembali masuk ke rongga peritoneum. Dengan demikian benjolan akan
menghilang kebali atau disebut reponibel.

Adanya benjolan menunjukkan hernia inguinalis lateralis karena bentuk


kanalis inguinalis yang memanjang. Pada hernia inguinalis medialis, benjolan bentuk
bulat karena isi hernia keluar dari trigonum hasselbach. Warna kulit yang sama
dengan sekitar dan tidak adanya nyeri tekan menyingkirkan adanya tanda – tanda
infeksi atau tanda strangulate, sedangkan konsistensi benjolan yang lunak dengan
batas atas yang tidak jelas menunjukkan isi kantong yang kemungkinan adalah usus
dan menyingkirkan kemungkinan isi kantong adalah cairan.

Pada hernia inguinalis lateralis, isi kantong keluar dari annulus internus
sehingga bila jari dimasukkan kedalam kanalis inguinalis dan penderita disuruh
mengedan, maka benjolan akan terasa menyentuh ujung jari ( tahanan dari depan ).
Bila lokasi keluar hernia dari trigonum hasselbach, benjolan akan terasa menyentuh
sisi jari. Dengan tes oklusi yaitu satu jari di annulus internus akan teraba adanya
pulsasi di posisi tersebut ini disebut dengan pemeriksaan finger test.

Etiologi pada kasus ini diduga karena berkurangnya kekuatan otot dinding
perut karena usia penderita yang sudah mencapai 46 tahun. Kemungkinan kelemahan
otot dinding perut biasanya merupakan penyebab kendurnya annulus internus.

23
Penanganan hernia inguinalis yang paling rasional adalah tindakan oeratif.
Dengan demikian pada kasus ini penanganan yang dipilih adalah operatif dengan
herniotomi dan pemasangan mesh. Dipilih herniotomi dengan pemasangan mesh
karena teknik ini jarang residif terutama menyangkut faktor usia.

Kasus hernia inguinalis yang reponibel umumnya tidak disertai dengan


komplikasi yang cukup berat karena isi hernia masih dapat mesuk kembali dan tidak
terjadi gangguan pasase usus atau gangguan vaskularisasi. Walaupun demikian, jika
hernia tidak diobati maka kemungkinan hernia reponibilis akan berkembang menjadi
hernia ireponibilis, inkarserata sampai strangulate yang banyak komplikasinya seperti
abses fokal, fistel atau bahkan peritonitis dan membutuhkan tindakaoperasi segera.
Kemungkinan untuk terjadi rekuren 1- 3%.

Prognosis pada kasus hernia inguinalis lateralis residive adalah baik jika ditangani
secara tepat dan cepat.

24
KESIMPULAN

Hernia adalah suatu keadaan keluarnya jaringan organ tubuh dari suatu
ruangan melalui suatu celah atau lubang keluar di bawah kulit atau menuju
ke rongga lain, dapat kongenital ataupun aquisita (didapat)1. Hernia
inguinalis lateralis merupakan suatu hernia yang melalui annulus inguinalis
yang terletak disebelah vasa epigastrika inferior, menyusuri kanalis
inguinalis dan keluar dari rongga abdomen melalui kanalis inguinalis
eksternus.

Pada hernia, terdapat bagian – bagian yang penting yaitu2 :

1. Kantung hernia : Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis.


Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya : hernia incisional,
hernia adipose dan hernia intertitialis.
2. Isi hernia : Berupa organ atau jaringa yang keluar melalui kantong
hernia. Pada hernia abdominalis berupa usus.
3. Pintu hernia : Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui
kantong hernia.
4. Leher hernia/cincin hernia : Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai
dengan kantong hernia.
5. Locus minoris resistence (LMR) : Merupakan defek/bagian yang lemah
dari dinding rongga2.

Henia diberi nama berdasarkan letak hernia tersebut, umpamanya


diafragma, inguinal, umbilikal, femoral. Berdasarkan terjadinya, hernia
dibagi menjadi : hernia kongenital (bawaan) dan hernia didapat (akuisita).
Berdasarkan sifatnya, hernia dapat dibagi menjadi : hernia reponibel bila isi
hernia dapat keluar masuk (usus keluar jika berdiri atau mengedan dan
masuk lagi jika berbaring atau di dorong masuk ke perut ) dan jika isi
kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut, maka disebut
hernia iropenibel (ini disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada
peritoneum kantong hernia5 .

Secara garis besar , pembagian hernia dibagi menjadi 2, yaitu


:

1. Hernia Eksterna : adalah hernia yang menonjol keluar melalui dinding


perut, pinggang, atau perineum, contoh : hernia inguinalis, femoralis dan
hernia umblikalis, dll4.
2. Hernia Interna : adalah tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui
suatu lubang dalam rongga perut seperti foramen winslow, resesus
retrosekalis atau defek dapatan pada mesenterium umpamanya setelah
anastomosis usus. Contoh : hernia diafragmatika.

Pada umumnya penderita hernia mengeluh adanya benjolan di lipat


paha yang dapat sampai ke skrotum pada pria atau ke labia pada wanita.

25
Keadaan umum penderita biasanya baik. Pada inspeksi, diperhatikan keadaan
asimetri pada kedua sisi lipat paha, skrotum, atau labia dalam posisi berdiri
dan berbaring. Bila benjolan tidak tampak, pasien disuruh mengedan dengan
menutup mulut dalam keadaan berdiri, atau batuk. Bila hernia akan tampak
benjolan6. Palpasi Kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada
funiculus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang
memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut tanda
sarung tangan sutera. Kantong hernia yang berisi, maka tergantung isinya.
Mungkin teraba usus, omentum (seperti karet) atau ovarium
Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi
hernia. Hernia yang reponibilis dapat tertahan pada kantong hernia dan
menjadi hernia ireponibilis dan bila terjadi perforasi akan menimbulkan
abses local, fistel atau bahkan peritonitis2.
Penatalaksanaan. Terbagi atas : Terapi konservatif : sambil
menunggu untuk dilakukan terapi operatif. Terapi konservatif berupa alat
penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya
pemakaian korset pada hernia ventralis sedangkan pada hernia inguinalis
pemakaiannya tidak dianjurkan karena selain tidak dapat menyembuhkan alat
ini dapat melemahkan otot dinding perut. Terapi operatif : Pengobatan
operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional.
Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi
hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.

26
BAB V
PENUTUP

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui


defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (Jong,2004).
Hernia adalah tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dinding rongga
dimana rongga tersebut harusnya berada dalam keadaan normal tertutup
(Nanda,2006).
Hernia adalah suatu keadaan keluarnya jaringan organ tubuh dari suatu
ruangan melalui suatu celah atau lubang keluar di bawah kulit atau menuju
rongga lain, dapat kongenital ataupun aquisita. Hernia inguinalis indirek
disebut juga hernia inguinalis lateralis yaitu hernia yang keluar dari rongga
peritonium melalui anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari
pembuluh epigastrika inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis
inguinalis (Jong 2004).
Terjadinya hernia disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah
faktor kongenital yaitu kegagalan penutupan prosesus vaginalis pada waktu
kehamilan yang dapat menyebabkan masuknya isi rongga perut melalui
kanalis inguinalis, faktor yang kedua adalah faktor yang didapat seperti hamil,
batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat dan faktor usia, masuknya isi
rongga perut melalui kanal ingunalis, jika cukup panjang maka akan menonjol
keluar dari anulus ingunalis eksternus. Apabila hernia ini berlanjut tonjolan
akan sampai ke skrotum karena kanal inguinalis berisi tali sperma pada
lakilaki, sehingga menyebakan hernia.
Hernia Inguinalis Direkta (Medialis) Hernia ini merupakan jenis henia
yang didapat (akuisita) disebabkan oleh faktorpeninggian tekanan intra
abdomen kronik dan kelemahan otot dinding di trigonumHesselbach*.
Jalannya langsung (direct) ke ventral melalui annulus inguinalissubcutaneous.
Hernia ini sama sekali tidak berhubungan dengan pembungkus talimani,
umumnya terjadi bilateral, khususnya pada laki-laki tua. Hernia jenis
inijarang, bahkan hampir tidak pernah, mengalami inkarserasi dan strangulasi.
*trigonum hesselbach merupakan daerah dengan batas
 Inferior : Ligamentum Inguinale
 Lateral : Vasa epigastrika inferior

27
 Medial : Tepi m.rectus abdominis
Hernia Inguinalis Indirekta (lateralis)Hernia ini disebut lateralis karena
menonjol dari perut di lateral pembuluhepigastrika inferior. Dikenal sebagai
indirek karena keluar melalui dua pintu dansaluran, yaitu annulus dan kanalis
inguinalis. Pada pemeriksaan hernia lateralisakan tampak tonjolan berbentuk
lonjong. Dapat terjadi secara kongenital atau akuisita.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Aiken JJ, Oldham KT. Chapter 338: Inguinal hernias. In: Kleigman RM, Stanton BF,
St. Geme JW, Schor NF, Behrman RE, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed.
Philadelphia: Elsevier Saunders; 2011. Hal. 1362–1368.

2. Karnadihardja, W. Dinding Perut, Hernia, Retroperitoneum, Omentum. Buku Ajar


Ilmu Bedah, edisi ke 2: Jakarta; 2004. Hal. 519-540.

3. John T Jenkins, Patrick J.O’dwyer. Clinical Review: Inguinal Hernias. 2008. Available
From:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/pmc2223000/. [Accessed 2 Juli 2018].

4. Chris Tanto, Iskandar Raharjdo Budianto. Hernia Anak, Kapita Selekta Kedokteran.
4th ed. Jakarta: Media Aesculopius; 2014.

5. Chang SJ, Chen JY, Hsu CK, Chuang FC, Yang SS. (2015). the incidence of inguinal
hernia and associated risk factors of incarceration in pediatric inguinal hernia: a nation-
wide longitudinal population-based study. Hernia. Available from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26621139. [Accessed 2 Juli 2018 ]

6. Cincinnati Childrens Hospital. Health Topics of Inguinal Hernia. Ohio; 2013.


Available from:
http://www.cincinnatichildrens.org/health/i/inguinal-hernia/. [Accessed 24 March 2016].

8. Hidayat, A. Aziz Alimul. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Erlangga PT Gelora


Aksara Pratama. Edisi 3. Jakarta; 2008.

9. Shochat Stephen. Hernia Inguinalis. Dalam : Behrman, Kliegman, Arvin (ed). Ilmu
Kesehatan Anak Nelson vol. 2 ed.15. Jakarta: 2000. Halaman: 1372-1375.

10. Kumala, Poppy. Kamus Saku Kedokteran Dorland, 25th ed, Jakarta: EGC; 2005.

29