Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bedak adalah salah satu bagian utama dan terpenting dari kosmetik wanita.Hampir semua wanita

pasti memulaskan bedak di pipinya untuk mempercantik penampilan atau hanya sekedar “syarat”

belaka. Bahkan bedak hampir tidak bisa dilepaskan dari wanita.bedak yang akan saya ulas disini

adalah bedak keluaran dari PT. Kimia Farma yaitu Marck. Kemasannya yang bundar berwarna

putih dengan penutup kuning bergambar perempuan paruh baya.

Bedak marck memiliki 3 varian warna yaitu : white, cream, dan rose.Bedak Marcks

diproduksi oleh PT.Kimia Farma lebih dari 50 tahun yang lalu.Dulu bedak ini dikeluarekan oleh

perusahaan peninggalan Belanda yang ketika Indonesia merdeka,maka perusahaan tersebut

diambil alih oleh pamerintah Indonesia yang sekarang menjadi (KIMIA FARMA).

Bedak Marcks ini memiliki kualitas baik,artinya berbahan dasar aman bagi kulit wajah

dan tidak mengandung zat berbahaya, seperti hydroquinone atau merkuri.Tetapi pada saat ini

Para dokter kulit dan praktisi kecantikan merekomendasikan bedak ini untuk digunakan sehari-

hari. Inilah sebabnya bedak Marcks memiliki konsumen yang loyal sejak bertahun-tahun lalu

hingga kini.

Bedak marck yang beredar dipasaran harus memenuhi persyaratan yang di keluarkan oleh

badan pom bahwasannya kadar asam salisilat dalam bedak marck maksimal 0,5%. Apabila kadar

asam salisilat melebihi kadar tersebut maka akan menimbulkan kerusakan kulit pada wajah atas

berlebihnya zat asam salisilat.


Berdasrkan keterangan inilah maka penulis tertarik memeriksa kadar asam salisilat pada

bedak marck.

1.2. Perumusan Masalah

Apakah kadar asam salisilat dalam sediaan bedak secara titrasi asam basa, sesuai dengan

persyaratan yang di keluarkan oleh badan pom bahwasannya kadar asam salisilat dalam bedak

marck maksimal 0,5%.

1.3. Pembatasan Masalah

Mengingat Banyaknya sediaan bedak dipasaran dan diproduksi oleh beberapa industri

farmasi, maka penulis hanya mengambil 3 sampel dengan nomor batch yang berbeda.

1.4. Tujuan Penelitian

Untuk memeriksa kadar Asam salisilat dalam sediaan bedak apakah memenuhi

persyaratan, seperti yang di keluarkan oleh badan pom bahwasannya kadar asam salisilat dalam

bedak marcks maksimal 0,5%.

1.5. Manfaat Penelitian

1. Sebagai penambah bagi mahasiswa/I tentang penetapan kadar asam salisilat dalam bedak secara

titrasi asam basa.

2. Untuk menambah wawasan penulis tentang cara penetapan kadar Asam salisilat dalam bedak

secara titrasi asam basa.

3. Sebagai bahan masukan bagi peneliti selanjutnya.


1.6. Metodologi Penelitian

a. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dari sediaan bedak yang beredar di Apotek sekitar

Sunggal

b. Sampel yang ditentukan adalah bedak Marcks yang dilakukan secara titrasi asam basa.

1.7. Lokasi Penelitian

Penulis melakukan penelitian dilaboratorium kimia Universitas Sari Mutiara Indonesia.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Umum Acidium Salicylicum :

1. Rumus molekul : C7H6O3

2. Berat molekul : 138,12

3. Titik lebur : 1580C sampai 1610C

4. Nama Kimia : Asam salisilat

5. Pemerian : Hablur putih, berbentuk jarum halus atau serbuk

hablur halus putih, rasa agak manis, tajam dan stabil di udara.

6. Kelarutan : sukar larut dalam air dan dalam benzene, mudah larut

dalam etanol dan dalam eter,larut dalm air mendidih,

agak sukar larut dalam klorofrom.

7. Khasiat : Keratolitikum, anti fungsi.

8. Rumus Bangun :

Asam Salisilat

COOH

OH

2.2Farmakologi

2.2.1 Pemakaian
Asam salisilat bersifat sebagai fungsisida dan juga sebagai keratolitika.Asam salisilat

sebagai obat luar pada kulit dapat dapat menyebabkan destruksi epithelium kulit.Umumnya

asam–asam bersifat bakteriostatik oleh karena asam dapat melepaskan ion hydrogen. Adapunion

hydrogen akan merusak protolasma sel bakteri, sehingga dapat menghambat pertumbuhan

bakteri dan lama kelamaan bakteri akan mati.

2.2.2 Mekanisme kerja

Turunan asam pada umumnya digunakan sebagai anti jamur setempat pada

kulit.Mekanisme kerja pada anti jamur turunan ini di sebabkan oleh efek keratolitika.Asam

salisilat mempunyai efek keratolitika dan digunakan secara local untuk menghilangkan

kutil.Proses penyerapan kulit dan kesanggupan larut dalam lipoid dari suatu obat penting, karena

dapat menentukan mudah atau sulitnya di serap kulit. Asam salisilat mengiritasi kulit, mukosa

dan merusak epitel kulit.

Sediaan asam salisilat dalam bentuk serbuk tabur adalah campuran kering bahan obat atau

zat kimia yang di haluskan dan di tujukan untuk pemakaian luar. Karena mempunyai

permukkaan yang luas, serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut daripada sediaan yang di

dapatkan.

Serbuk tabur adalah serbuk ringan untuk penggunaan topical dapat di kemas dalam

wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaanpada kulit.Pada

umumnya serbuk tabur harus dapat melewati ayakan dengan derajat kehalusan tertentu, seperti

tertera pada pengayakan dengan derajat halus, agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang

peka.

2.2.3 Absorbsi Ektraksi


Asam salisilat cepat sekali di absorbsi oleh kulit, terutama bila berada dalam campuran

lemak. Setelah di absorbsi, salisilat di temukan dalam berbagai cairan tubuh seperti cairan

sinoviall, peritoneal, pada pemakaian asam salisilat dapat menimbulkan introksikasi sistemik.

Ekskresi asam salisilat terutama di lakukan melalui ginjal. Di dalam urine ditemukan salisisat

dalam bentuk asli.

Ekskresi oleh ginjal berlangsung cukup lambat, 50% dari suatu dikluarkan dalam 24 jam

dan jumlah kecil masih di temukan setelah usia 48 jam atau lebih, kadar salisilat dalam serum

dapat di pertahankan dengan konstan jika dosis yang di berikan tiap 4-6 jam.

2.2.4 Efek Toksik

Asam salisilat mengiritasi kulit pada pemakaian yang lama, dan dari preparat asam

salisilat juga dapat menyebabkan dermatitis, gejela keracunan secara sistematik dapat terjadi bila

pemakaian asam salisilat dalam sediaan pada daerah yang luas dari tubuh, dengan konsentrasi

5%.Asam salisilat (asam O-hidroksibenzoat) mempunyai aktifitas antibakteri tetapi isonernya

yaitu para (asam p-hidrosibenzoat) tidak mempunyai aktifitas antibakteri.

Kebalikannya terjadi pada esternya, yaitu metil salisilat yang mempunyai sifat antibakteri

yang sangat kecil, tetape metil p-hidroksibenzoat memberikan sifat anti bakteri.Sejumlah ester p-

hidroksibenzoat (terutama metil dan propil) digunakan sebagai pengawet, berbagai sediaan

farmasi dan kosmetika.Perbedaan aksi antibakteri dari asam bebas dan esternya dapat dijelaskan

melalui pembentukan ikatan hydrogen. Hanya isomer orto (asam salisilat) menunjukkan sifat

analgetik dan antifiretik.

Asam salisilat suatu asam kuat dengan pKa = 3,0 dan asam p-hidroksibenzoat

mempunyai pKa= 4,5. Asam salisilat kurang larut dalam air jika dibanding isomer para, tetapi

koefisien partisi (benzene/air) lebih besar dari sekitar 300 kali.


2.3. Teori Asam Basa

Pada dasarnya prinsip dasar asam basa adalah netralisasi. Yang dimaksud dengan asam

basa adalah penetapan kadar asam dengan menggunakan larutan basa. Pada titrasi asam basa ini

sebagai pentiter digunakan natrium hidroksida. Kedalam larutan sampel di tambahkan larutan

standart basa dengan jumlah yang berlebihan secara kuantitatif , sehingga standart yang kita

tambahkan ini di titrasi kembali dengan standart asam.

2.3.1 Teori Archenius

Menurut Archenuis, asam adalah suatu zat yang bila dilarutkan dalam air berdisosiasi

menghasilkan ion hydrogen (H+) sebagai satu-satunya ion positif.

HCL→ H+ + CL-

Asam

Basa adalah suatu zat yang bila di larutkan dalam air berdisosiasi menghilangkan ion

hidroksida( OH-) sebagai satu-satunya ion negatif.

NaOH→Na + + OH-

Basa

2.3.2 Teori Bronsted – Lowry

Teori ini merupakan teori umum dari asam basa, karena dapat di terapkan pada semua

jenis pelarut, termasuk pelarut organik.

Menurut teori ini, asam adalah suatu zat yang cenderung untuk melepaskan proton (

donor proton) sedangkan basa cenderung untuk mengikat proton ( akseptorm proton ).

Reaksi : HB → H+ + B-

Asam Proton Basa Konjungsi


Reaksi : B- + H+ →HB

Basa Proton Asam Konjungsi

2.3.3 Prinsip Titrasi Asam Basa

Prinsip titrasi asam basa adalah suatu reaksi netralisasi ion-ion hidroksida yang

mengandung molekoul air.

Reaksi : H+ +O H-→ H2O

Titrasi asam basa menggunakan larutan standart sekunder dan larutan primer. Larutan

standart sekunder adalah larutan yang belum diketahui secara pasti normalitasnya, sehingga

untuk mengetahui normalitasnya harus di standarisasi kembali dengan baku primer.

Contohnya : NaOH , HCL , H2SO4

Sedangkan larutan baku primer adalah larutan yang sudah diketahui pasti normalitasnya

yang di buat dengan cara menimbang dan melarutkan zat baku primer dalam sejumlah tertentu

pelarut .

Contoh : Kalium Biftalat, Asam oksalat , natrium karbonat anhidrat.

2.3.4 Titrasi Asam Basa

Titrasi asam basa adalah penetapan kadar suatu zat (asam atau basa) berdasarkan reaksi

asam basa. Bila titran digunakan baku basa maka penetapan tersebut dinamakan alkalimetri, dan

bila titran yang di gunakan baku asam maka penetapan tersebut dinamakan acidimetric.

2.3.5 Indikator asam basa

Indikator asam basa adalah senyawa organic yang berubah warnanya dalam larutan

sesuai dengan pH larutan, contohnya adalah kertas lakmus yang berwarna merah dalam larutan

yang bersifat asam, dan berwarna biru dalam larutan basa.Indikator asam basa biasanya

merupakan asam basa lemah agar dapat dikatakan protalit lemah.


Berdasarkan zat yang bereaksi :

1. Titrasi asam kuat dengan basa lemah.

Titrasi asam klorida dengan amonium hidroksida.

Contoh : HCL + NH4OH → NH4CL + H2O

2. Ttitrasi asam kuat dan basa kuat.

Titrasi NaOH dengan HCL

Contoh : NaOH + HCL → NaCL + H2O

3. Titrasi asam lemah dan basa kuat

Titrasi asam asetat dengan natrium hidroksida.

Contoh : CH3COOH + NaOH → CH3COONa +H2O.

2.3.7 Jenis-jenis Indikator

1. Fenoftalein

2. Timolftalein

3. Kuning dimetil

4. Biru Bromfenol

5. Merah metil

6. Merah fenol

7. Biru timol
BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1. Alat Yang Digunakan :

1. Batang Pengaduk

2. Beaker glass 100 ml

3. Buret 50 ml

4. Erlenmeyer 250 ml

5. Labu Tentukur 100 ml

6. Klem dan statif

7. Kertas saring

8. Neraca analitik

9. Pipet Tetes

10. Tissue gulung ,serbet ,plastic, dan karet.

3.2.Bahan Yang Digunakan :

 NaOH 0,1 N p.a (E.Merck)

 Etanol Netral p.a (E.Merck)

 Fenolftalin p.a (E.Merck)

 Air Suling
3.3. Pembuatan Larutan Pereaksi :

3.3.1. Pembuatan Air Bebas CO2

Didihkan air suling selama lebih kurang 5 menit atau lebih, tutup dan dinginkan

sampai suhu kamar.

3.3.2. Pembuatan Etanol Netral

1. Etanol encer : Encerkan 526 ml etanol 95% dengan aquadest hingga 1000 ml.

2. Etanol encer netral : Pipet 25 ml etanol encer, masukan kedalam Erlenmeyer, tambahkan 2-3

tetes indicator PP titrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terbentuk larutan berwarna merah

muda.Catat volume NaOH yang akan terpakai (misal : A ml).

3. Pembuatan 200 ml Etanol netral : Ukur 200 ml Etanol encer netral, kemudian ditambahkan

larutan NaOH 0,1N sebanyak : 200/25 x A ml dan kocok homogen.

3.3.3. Pembuatan Indikator Fenolftalein

Timbang 100Fenolftaleinmasukkan dalam labu 50 ml, larutkan dalam 30 ml etanol 96 % dan

cukupkan dengan aquadest sampai garis tanda.

3.3.4. Larutan NaOH 0,1N

Larutkan 4 gram NaOH larutkan dalam 1 liter air suling bebas CO2.

3.4 Pembakuan Larutan NaOH 0,1 N

1. Timbang seksama 50 mg asam oksalat yang telah dikeringkan selama 2 jam pada suhu 120 ,

masukkan dalam Erlenmeyer 250 ml.

2. Tambahkan 20 ml aquadest dan kocok sampai larut.

3. Tambahkan 2-3 tetes indikator Fenolftalein.


4. Titrasi dengan larutan NaOH sampai timbul warna pada larutan (menandakan titik akhir titrasi),

dan catat volume NaOH yang terpakai.

3.5. Prosedur Kerja :

1. Timbang bedak 150 mg,masukkan kedalam erlemeyer 250 ml.

2. Tambahkan 20,0 ml etanol netral, lalu kocok kuat-kuat, kemudian di biarkan beberapa menit

sampai larutan memisah antara larutan yang jernih dengan endapanya.

3. Saring,bilas setelah dicuci.

4. Filtratnya tambahkan fenolftalein 2-3 tetes.

5. Titrasi dengan larutan standart NaOH 0,1N sampai terbentuk warna merah muda.

6. Lakukan penetapan blanko.

3.6. Perhitungan Kadar :

% Kadar = 100%

Keterangan :

V : Volume titrasi (ml)

N : Normalitas NaOH

B : Berat asam salisilat dalam sampel yang ditimbang (mg)

Berat sampel per kemasan : 4000 mg

Kesetaraan : 1 ml NaOH 0,1N setara dengan 13,8 mg Asam salisilat


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

4.1.1 PERHITUNGAN NORMALITAS LARUTAN NaOH 0,1 N

(Lampiran I, hal 17)

4.1.2 DATA PERHITUNGAN KADAR SAMPEL KODE A

(Lampiran II, hal 19)

4.1.3 DATA PERHITUNGAN KADAR SAMPEL KODE B

(Lampiran II, hal 23)

4.1.4 DATA PERHITUNGAN KADAR SAMPEL KODE C

(Lampiran II, hal 27)

4.1.5 DATA PERHITUNGAN PERSENTASE KADAR RATA-RATA DAN

PERHITUNGAN STANDART DEVIASI KADAR ASAM SALISILAT

(Lampiran III, hal 31)

4.2 PEMBAHASAN

 Penetapan kadar Asam salisilat dalam sediaan Bedak Marcks dilakukan secara titrasi asam

basa dengan Natrium hidroksida 0,1 N sebagai pentiternya.

 Penambahan indikator Fenolftalein yang bertujuan untuk mengetahui titik akhir titrasi, yang

diketahui dari perubahan sampai merah muda

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

 Kadar Asam salisilat yang diperoleh pada sediaan Bedak Marck yang diperiksa, yaitu:

- Sampel kode A adalah 0,28%

- Sampel kode B adalah 0,30%

- Sampel kode C adalah 0,39%

 Ketiga sampel diatas Memenuhi persyaratan yang di keluarkan oleh Badan Pom

bahwasannya kadar asam salisilat dalam bedak marcks maksimal 0,5%.

5.2 SARAN

Disarankan kepada penelitian selanjutnya agar kadar Asam salisilat diperiksa pada

sediaan lain, misalnya pada bedak dengan merek lain.

DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, Arsil. 2007. Analis Farmasi Secara Titrtimetri. Cetakan II. Medan: CV Bin Harun

Anief, M. 2003. Ilmu Meracik ObatI.Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia.Edisi IV. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI

Gusnistar. G. Sulistia, dkk. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Jakarta: Bagian Farmakologi

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Hadjar. M. J. 1993. Ilmu Kimia Analisis III. Yogyakarta


Jr. R. A. Day, A. L. Underword. 1992. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: PT Gelora Aksara

Pratama

LAMPIRAN I

PERHITUNGAN HASIL PEMBAKUAN LARUTAN NaOH

Dilakukan 3 kali pembakuan :

1. Berat Asam Oksalat yang ditimbang = 50,6 mg

BM = 126,07

BE =2

Volume titrasi (NaOH) yang dipakai = 8,30 ml

Maka Normalitas NaOH:

= BE = V N

= 2 = 8,30 N

N = 0,0967

2. Berat Asam Oksalat yang ditimbang = 50,5 mg

BM = 126,07

BE =2

Volume titrasi (NaOH) yang dipakai = 8,50 ml

Maka Normalitas NaOH:

= BE = V N

= 2 = 8,50 N
N = 0,0942

3. Berat Asam Oksalat yang ditimbang = 50,8 mg

BM = 126,07

BE =2

Volume titrasi (NaOH) yang dipakai = 8,40 ml

Maka Normalitas NaOH:

= BE = V N

= 2 = 8,40 N

= 0,0959

Maka Normalitas NaOH yang dipakai:

= 0,0956

LAMPIRAN II

PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT

I. BEDAK MARCK WHITE (KODE A)

Kode Berat Volume Normalitas Kesetaraan Berat

Sampel Penimbangan Titrasi NaOH (N) (mg) Sampel/Kemasan

(mg) (ml) (mg)


A1 150,9 0,14

A2 150,6 0,13

A3 150,7 0,12
0,0956 13,8 4000
A4 150,3 0,13

A5 150,4 0,13

A6 150,5 0,14

A1. Berat Penimbangan = 150,9 mg

Volume titrasi = 0,14 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,30%

A2. Berat Penimbangan = 150,6 mg

Volume titrasi = 0,13 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,28%
A3. Berat Penimbangan = 150,7 mg

Volume titrasi = 0,12 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,26%

A4. Berat Penimbangan = 150,3 mg

Volume titrasi = 0,13 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,28%

A5. Berat Penimbangan = 150,4 mg

Volume titrasi = 0,13 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,28%
A6. Berat Penimbangan = 150,5 mg

Volume titrasi = 0,14 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,30%

II. BEDAK MARCK CREAM (KODE B)

Kode Berat Volum Normalita Kesetaraa Berat

Sampe Penimbanga e s NaOH n Sampel/Kandunga

l n (mg) Titrasi (N) (mg) n

(ml) (mg)

B1 150,4 0,15

B2 1504 0,16
0,0956 13,8 4000
B3 150,5 0,15

B4 150,8 0,14
B5 150,8 0,14

B6 150,2 0,15

B1. Berat Penimbangan = 150,4 mg

Volume titrasi = 0,15 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,33%

B2. Berat Penimbangan = 150,4 mg

Volume titrasi = 0,16 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,35%

B3. Berat Penimbangan = 150,5 mg

Volume titrasi = 0,15 ml

Normalitas NaOH = 0,0956


Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,32%

B4. Berat Penimbangan = 150,8 mg

Volume titrasi = 0,14 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,30%

B5. Berat Penimbangan = 150,8 mg

Volume titrasi = 0,14 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,30%
B6. Berat Penimbangan = 150,2 mg

Volume titrasi = 0,15 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,32%

III. BEDAK MARCK ROSE (KODE C)

Kode Berat Volume Normalitas Kesetaraan Berat

Sampel Penimbangan Titrasi NaOH (N) (mg) Sampel/Kemasan

(mg) (ml) (mg)

C1 150,4 0,18

C2 150,2 0,18

C3 150,9 0,17
0,0956 13,8 4000
C4 150,2 0,16

C5 150,1 0,18

C6 150,2 0,17

C1 . Berat Penimbangan = 150,4 mg

Volume titrasi = 0,18 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg


Kadar = 100%

= 100%

= 0,39%

C2 . Berat Penimbangan = 150,2 mg

Volume titrasi = 0,18 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,39%

C3 . Berat Penimbangan = 150,9 mg

Volume titrasi = 0,17 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,37%
C4 . Berat Penimbangan = 150,2 mg

Volume titrasi = 0,16 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,35%

C5 . Berat Penimbangan = 150,1 mg

Volume titrasi = 0,18 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg

Kadar = 100%

= 100%

= 0,39%

C6 . Berat Penimbangan = 150,2 mg

Volume titrasi = 0,17 ml

Normalitas NaOH = 0,0956

Tiap 1 ml NaOH 0,1 N setara dengan 13,8 mg


Kadar = 100%

= 100%

= 0,37%

LAMPIRAN III

PERHITUNGAN PERSENTASE KADAR RATA-RATA DAN STANDART DEVIASI

ASAM SALISILAT DALAM BEDAK MARCK

I. UNTUK SAMPEL DENGAN KODE A

Kadar A1 (I) = 0,30%

Kadar A2 (II) = 0,28%

Kadar A3 (III) = 0,26%

Kadar A4 (IV) = 0,28%

Kadar A5 (V) = 0,28%

Kadar A6 (VI) = 0,30%

- Persen kadar rata-rata I dan II =

= 0,29%

Persen deviasi I dan II = 100%


= 100%

= 3,44%

- Persen kadar rata-rata II dan III =

= 0,27%

Persen deviasi II dan III = 100%

= 100%

= 3,70%

- Persen kadar rata-rata III dan IV =

= 0,27%
Persen deviasi III dan IV =

100%

= 100%

= 3,70%

- Persen kadar rata-rata IV dan V =

= 0,28%

Persen deviasi IV dan V =

100%

= 100%

= 0%

- Persen kadar rata-rata V dan VI =


=

= 0,29%

Persen deviasi V dan VI = 100%

= 100%

= 3,44%

- Persen kadar rata-rata VI dan I =

= 0,30%

Persen deviasi VI dan I =

100%

= 100%

= 0%

Persentase penyimpangan terkecil terhadap persentase rata-rata adalah 0% maka kadar Asam

salisilat yang dipakai 0,30%

II. UNTUK SAMPEL DENGAN KODE B

Kadar B1 (I) = 0,33%

Kadar B2 (II) = 0,35%

Kadar B3 (III) = 0,32%


Kadar B4 (IV) = 0,30%

Kadar B5 (V) = 0,30%

Kadar B6 (VI) = 0,32%

- Persen kadar rata-rata I dan II =

= 0,34%

Persen deviasi I dan II = 100%

= 100%

= 2,94%

- Persen kadar rata-rata II dan III =

= 0,33%

Persen deviasi II dan III = 100%

= 100%
= 3,70%

- Persen kadar rata-rata III dan IV =

= 0,31%

Persen deviasi III dan IV =

100%

= 100%

= 3,22%

- Persen kadar rata-rata IV dan V =

= 0,30%

Persen deviasi IV dan V =

100%

= 100%
= 0%

- Persen kadar rata-rata V dan VI =

= 0,31%

Persen deviasi V dan VI = 100%

= 100%

= 3,22%

- Persen kadar rata-rata VI dan I =

= 0,31%

Persen deviasi VI dan I =

100%

= 100%

= 3,22%
Persentase penyimpangan terkecil terhadap persentase rata-rata adalah 0% maka kadar Asam

salisilat yang dipakai 0,30%

III. UNTUK SAMPEL DENGAN KODE C

Kadar C1 (I) = 0,39%

Kadar C2 (II) = 0,39%

Kadar C3 (III) = 0,37%

Kadar C4 (IV) = 0,35%

Kadar C5 (V) = 0,39%

Kadar C6 (VI) = 0,37%

- Persen kadar rata-rata I dan II =

= 0,39%

Persen deviasi I dan II = 100%

= 100%

= 0%

- Persen kadar rata-rata II dan III =


=

= 0,38%

Persen deviasi II dan III = 100%

= 100%

= 2,63%

- Persen kadar rata-rata III dan IV =

= 0,36%

Persen deviasi III dan IV =

100%

= 100%

= 2,77%

- Persen kadar rata-rata IV dan V =

=
= 0,37%

Persen deviasi IV dan V =

100%

= 100%

= 5,40%

- Persen kadar rata-rata V dan VI =

= 0,38%

Persen deviasi V dan VI = 100%

= 100%

= 2,63%

- Persen kadar rata-rata VI dan I =

= 0,38%
Persen deviasi VI dan I =

100%

= 100%

= 2,63%

Persentase penyimpangan terkecil terhadap persentase rata-rata adalah 0% maka kadar Asam

salisilat yang dipakai 0,39%

DAFTAR TABEL SAMPEL

NO KODE VOLUME KADAR ASAM KADAR RATA- STANDART STANDART


SAMPEL TITRASI SALISILAT RATA (%) DEVIASI DEVIASI
(ml) (%) (%) TERKECIL (%)
1 A1 0,14 0,30 0,29 3,44
2 A2 0,13 0,28 0,27 3,70
3 A3 0,12 0,26 0,27 3,70
0
4 A4 0,13 0,28 0,28 0
5 A5 0,13 0,28 0,29 3,44
6 A6 0,14 0,30 0,30 0
1 B1 0,15 0,33 0,34 2,49
2 B2 0,16 0,35 0,33 3,70
3 B3 0,15 0,32 0,31 3,22
0
4 B4 0,14 0,30 0,30 0
5 B5 0,14 0,30 0,31 3,22
6 B6 0,15 0,32 0,31 3,22
1 C1 0,18 0,39 0,39 0
2 C2 0,18 0,39 0,38 2,63
3 C3 0,17 0,37 0,36 2,77
0
4 C4 0,16 0,35 0,37 5,40
5 C5 0,18 0,39 0,38 2,63
6 C6 0,17 0,37 0,38 2,63