Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

ABSES FEMUR DEXTRA SEBAGAI REAKSI LOKAL KEJADIAN


IKUTAN PASCA IMUNISASI

Disusun oleh:
Pinka Nurashri Setyati
030.13.152

Pembimbing:
dr. Ani Yuniar, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE AGUSTUS 2018 – NOVEMBER 2018

LEMBAR PENGESAHAN

1
Laporan kasus yang berjudul:
“Abses Femur Dextra sebagai Reaksi Lokal Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi”

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Kepaniteraan Klinik


Ilmu Kesehatan Anak RS Umum Daerah Karawang
Periode Agustus 2018 – November 2018

Yang disusun oleh:


Pinka Nurashri Setyati
030.13.152

Telah diterima dan disetujui oleh dr. Ani Yuniar, Sp.A selaku dokter pembimbing
Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUD Karawang

Karawang, September 2018

(dr. Ani Yuniar, Sp.A)

2
BAB I

PENDAHULUAN

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan


seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila suatu saat terpajan
dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.(1)
Tujuan imunisasi adalah untuk melindungi individu terhadap penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi, mengurangi prevalensi penyakit pada masyarakat dan
akhirnya mengeradikasi penyakit tersebut.(2) Dengan imunisasi, sekitar 2-3 juta
orang dapat diselamatkan dari kematian akibat penyakit infeksi yang dapat dicegah
denga imunisasi setiap tahunnya. Angka kejadian telah berkurang lebih dari 99%
dibandingkan sebelum adanya program imunisasi.(3)
Program imunisasi nasional berubah dengan adanya Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 tentang penyelenggaraan
Imunisasi. Perubahan yaitu dengan dimasukkanya vaksin Hib dalam program
imunisasi nasional. Vaksin HiB yang digunakan adalah DTP-HB-HiB atau dikenal
sebagai Pentabio. Dengan demikian enam imunisasi dasar dalam program
imunisasi nasional adalah imunisasi Hepatitis B, BCG, DTP, HiB, Polio dan
Campak.(4)
Pada pemberian imunisasi dapat terjadi reaksi akibat pemberian vaksin.
Reaksi ini dapat bersifat lokal maupun sistemik. Sebagian besar hanya ringan dan
biasanya hilang sendiri. Hal ini sangat penting diketahui oleh tenaga kesehatan
termasuk dokter dan orang tua, tetapi orang tua harus diberikan informasi mengenai
risiko dan keuntungan dari pemberian vaksinasi.(5)
KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam kurun
waktu 1 bulan setelah pemberian imunisasi, dan diperkirakan sebagai akibat dari
imunisasi. KIPI disebut juga sebagai reaksi simpang atau adverse events following
immunization (AEFI), yaitu kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi
baik berupa efek vaksin ataupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek
farmakologis atau kesalahan program, koinsiden, reaksi suntikan, atau hubungan
kausal yang tidak dapat ditentukan. Pengamatan KIPI antara 42 hari sampai 6 bulan.

3
KIPI akan timbul setelah pemberian vaksin dalam jumlah besar. Pada jumlah
penerima vaksin yang terbatas, mungkin KIPI belum tampak.(6)
Angka kejadian KIPI bervariasi. Sebagai gambaran KIPI yang banyak
dijumpai adalah keluhan demam ringan 42,9% dan 2,2% diantaranya mengalami
hiperpireksia, yang dapat disebabkan oleh vaksinasi DTP.(7) Vaksin lain yang
menyebabkan demam adalah vaksinasi campak, dengan angka kejadian demam
antara 5-15% kasus. Demam dapat mencapai 39,50C dan terjadi pada hari ke 5-6
sesudah imunisasi selama 2 hari. Gejala lokal seperti kemerahan, bengkak dan nyeri
pada lokasi suntikan angka kejadiannya dapat mencapai 42,9%. Gejala lain yang
sering dijumpai adalah anak gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa
jam setelah suntikan (inconsolable crying). Pada pemberian vaksin campak, dapat
ditemukan ruam sekitar 5%, timbul pada hari ke 7-10 sesudah imunisasi dan
berlangsung 2-4 hari.(8)
Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat
dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi
lainnya. Pada umumnya makin cepat KIPI terjadi makin cepat gejalanya.
Individu yang belum diimunisasi harus tetap mendapatkan sesuai dengan
jadwal catch up immunization. Sebagai contoh, pada imunisasi Hepatitis B individu
yang belum mendapatkan harus mendapatkan 3 dosis dengan interval masing-
masing dosis berbeda. Perlu juga diperhatikan batas usia pemberian sebuah
imunisasi.(9) Upaya pencegahan terjadinya KIPI dapat dilakukan dengan
mengidentifikasi apakah resipien termasuk dalam kelompok risiko. Hal ini akan
mengurangi kejadian timbulnya KIPI.(10)

4
BAB II
LAPORAN KASUS

STATUS PASIEN
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RSUD KARAWANG

STATUS PASIEN
Nama Mahasiswa: Pinka Nurashri S Penguji: dr. Ani Yuniar, Sp.A
NIM : 030.13.152 Tanda tangan:

IDENTITAS PASIEN
Nama :Y Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 2 Bulan Suku Bangsa : Sunda
Tanggal Lahir : 01/06/2018 Agama : Islam
Pendidikan : Belum sekolah Anak ke- : 1 dari 1
Alamat : Pulo Besar No. RM : xx.xx.xx.xx

Orang Tua/Wali

Profil Ayah Ibu

Nama Tn. W Ny. Y

Umur 25 tahun 22 tahun

Alamat Pulo Besar

Pekerjaan Wiraswasta Ibu rumah tangga (IRT)

Pendidikan SD SD

Suku Sunda Sunda

Agama Islam Islam

Hubungan dengan orang tua : Pasien merupakan anak kandung.

5
I. ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ibu kandung pasien.
Lokasi : Rawamerta R. 150, RSUD Karawang
Tanggal/Waktu : 3 September 2018 (13.00 WIB)
Tanggal masuk : 1 September 2018
Keluhan utama : Bengkak pada paha kanan atas sejak 3 hari SMRS
Keluhan tambahan : Demam sejak 3 hari SMRS, sudah turun dengan
pemberian obat penurun panas

A. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang diantar oleh orang tua ke IGD Anak RSUD Karawang dengan
keluhan bengkak pada paha kanan atas sejak 3 hari SMRS. Bengkak berwarna
kemerahan, nyeri, konsistensi kenyal, mobile, permukaan rata, bentuk
beraturan, ukuran 7x8cm. Menurut ibu pasien, keluhan timbul 3 hari setelah
dilakukan vaksinasi Pentabio (DTP, HB, HiB) di bidan dekat rumah.
Vaksinasi dilakukan pada hari Sabtu, 25 Agustus 2018 sekitar pukul 14.00.
Setelah dilakukan vaksinasi, bidan segera memberikan paracetamol tetes pada
pasien. 3 hari setelah vaksinasi (Selasa, 28 Agustus 2018) menurut ibu pasien
mulai timbul bengkak pada paha kanan atas dan demam dengan suhu yang tidak
terlalu tinggi. Bengkak awalnya terlihat masih kecil dengan warna sedikit
kehijauan dan ketika diraba terasa hangat. Keesokan harinya (Rabu, 29 Agustus
2018) pasien dibawa ke bidan tempat pasien di vaksinasi dan diberikan kompres
hangat selama 30 menit dan diberikan obat penurun panas. Setelah itu pasien
dibawa pulang ke rumah. Bengkak dirasakan semakin membesar dan kaki
semakin hangat. Pasien kemudian dibawa ke RSUD pada hari Sabtu, 1
September 2018.
Keluhan disertai dengan demam sejak 3 hari SMRS. Demam timbul
bersamaan dengan bengkak pada kaki, demam dengan suhu tidak terlalu tinggi,
hilang timbul, tidak disertai menggigil dan kejang. Demam hilang dengan
pemberian paracetamol. Nafsu makan pasien baik dan tidak tampak rewel.
Frekuensi menyusu sama seperti sebelum sakit, yaitu kurang lebih sekitar

6
10x/hari. Ibu pasien mengatakan BAB dan BAK dalam batas normal. Keluhan
lain seperti penurunan berat badan, batuk, pilek dan sesak disangkal.

B. Riwayat Kehamilan/Kelahiran

Kehamilan Morbiditas Ibu pasien tidak pernah mengalami


kehamilan keguguran.
Kejang (-), anemia (-), hipertensi (-),
diabetes melitus (-), penyakit jantung (-),
penyakit paru (-), merokok (-), infeksi (-),
minum alkohol (-), vaksinasi TT 2x (+),
suplemen (-)

Perawatan antenatal Rutin kontrol ke bidan 1x pada trimester


pertama-kedua, dan 2x pada trimester tiga.

Kelahiran Tempat persalinan Rumah Sendiri

Penolong persalinan Dukun anak

Cara persalinan Spontan Pervaginam

Masa gestasi Cukup bulan (38 minggu)

Keadaan bayi Berat lahir: 2500 gram

Panjang lahir: tidak diukur

Lingkar kepala: tidak diukur

Langsung menangis: (+)

Kemerahan : (+)

Nilai APGAR : orang tua pasien tidak tahu

Kelainan bawaan : (-)

Kesimpulan riwayat kehamilan dan kelahiran: Riwayat kehamilan dan


kelahiran normal.

7
C. Riwayat Perkembangan

Kesimpulan Riwayat Perkembangan: Tidak terdapat keterlambatan pada


pertubuhan dan perkembangan pada pasien

D. Riwayat Makanan

Umur (bulan) ASI/PASI Buah/ Biskuit Nasi Tim Bubur Susu

0–6 ASI - - -

Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah

ASI 10x sehari

Kesimpulan riwayat makanan: Kualitas makanan baik dan kuantitas makanan


cukup.

E. Riwayat Imunisasi

Vaksin Dasar ( umur ) Ulangan ( umur )

Hepatitis B - (+) 2 - -
bulan

Polio - - - -

BCG (+) 1 bulan

DPT / PT (+) 2 bulan - -

Hib (+) 2 bulan - -

Campak -

8
Kesimpulan riwayat imunisasi: Imunisasi dasar pasien tidak lengkap sesuai
usia.

F. Riwayat Keluarga
a. Corak Reproduksi
No. Usia Jenis Hidup Lahir Abortus Mati Keterangan
Kelamin Mati (Sebab) Kesehatan
1. 3 Laki-laki  Sehat
Bulan
(1 Juni
2018)

b. Riwayat Pernikahan
Ayah Ibu
Nama P F
Perkawinan ke- 1 1
Umur saat menikah 24 tahun 21 tahun
Pendidikan terakhir SD SD
Suku Sunda Sunda
Agama Islam Islam
Keadaan kesehatan Sehat Sehat
Kosanguinitas (-) (-)

c. Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit yang sama dengan
pasien. Riwayat penyakit turunan seperti hipertensi, diabetes mellitus,
penyakit jantung, penyakit paru, penyakit infeksi lain disangkal.

d. Riwayat Kebiasaan Keluarga: Ayah pasien memiliki kebiasaan merokok 3


batang/hari
Kesimpulan riwayat keluarga : Riwayat keluarga cukup baik.

9
G. Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita
Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi (-) Difteria (-) Penyakit jantung (-)
Cacingan (-) Diare (-) Penyakit ginjal (-)
DBD (-) Kejang (-) Radang paru (-)
Otitis (+) Morbili (-) TBC (-)
Parotitis (-) Operasi (-) Lain-lain: (-)

Kesimpulan riwayat penyakit yang pernah diderita: Pasien tidak memiliki


riwayat penyakit sebelumnya.

H. Riwayat Lingkungan Perumahan


Pasien tinggal dirumah sendiri bersama kedua orangtua, nenek, kakek dan adik
ayah pasien. Ibu pasien mengatakan tempat tinggal terletak di perkampungan,
jarak antar rumah tidak terlalu padat. Ventilasi udara dan pencahayaan cukup.
Terdapat 3 kamar tidur serta 1 kamar mandi yang berada di dalam rumah.
Sumber air minum berasal dari air galon isi ulang dan air mandi serta air untuk
masak berasal dari PAM.
Kesimpulan keadaan lingkungan: Tempat tinggal dan lingkungan rumah
pasien cukup baik.

I. Riwayat Sosial Ekonomi


Ayah bekerja sebagai wiraswasta dan ibu pasien sebagai ibu rumah tangga.
Penghasilan orang tua pasien Rp. 3.000.0000/bulan dan cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
Kesimpulan sosial ekonomi: Penghasilan orang tua pasien cukup untuk
memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

J. Riwayat Pengobatan
Pasien sudah mendapat pengobatan untuk keluhan yang dialaminya saat itu,
yaitu obat penurun panas dan kompres hangat.
Kesimpulan pengobatan: Pasien sudah mendapat terapi untuk keluhan saat ini.

10
II. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesan sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Kesan gizi : Gizi normal
Keadaan lain : Tangis kuat, gerak aktif, pucat (+), dispnoe (-), sianosis (-),
ikterik (-)

Data antropometri
Berat badan : 4,5 kg
Panjang badan : 51 cm

Status Gizi (WHO) Status Gizi (CDC)


BB/U: diantara 0 dan 2 SD BB/U: 4,5/5,2 x 100% = 86%
TB/U: diantara -2 dan 0 SD TB/U: 51/58 x 100 % = 87%
BB/TB: diantara 2 dan 3 SD BB/TB: 4,5 /3,8 x 100% = 110,5 %
Kesan gizi :
BB/U  Berat badan normal
TB/U  Perawakan kurang
BB/TB  Gizi normal

Tanda vital
Nadi : 123 x/menit
Nafas : 34 x/menit
Suhu : 37.0°C
SpO2 : 97%

Kepala : Normosefali, ubun-ubun datar


Rambut : Hitam, tipis, distribusi merata
Wajah : Wajah simetris, tidak ada dismorfik wajah, tidak ada
pembengkakan pada daerah wajah, tidak tampak sianosis
Mata
Oedem palpebra : (-/-)

11
Visus : Tidak diperiksa
Ptosis : (-/-) Lagoftalmos : (-/-)

Sklera ikterik : (-/-) Cekung : (-/-)

Enoftalmus : (-/-) Injeksi : (-/-)

Eksoftalmos : (-/-) Konjungtiva anemis : (+/+)

Strabismus : (-/-) Pupil : Bulat, isokor

Refleks cahaya : (+/+) Air mata : (+/+)

Telinga
Bentuk : Normotia

Nyeri tarik/tekan : (-)

Liang telinga : Lapang, hiperemis (-), sekret (-), oedem (-)

Hidung
Bentuk : Deformitas (-) Napas cuping hidung : (-)
Sekret : (-/-) Deviasi septum : (-)
Mukosa hiperemis : (-/-)

Bibir : mukosa basah (+), sianosis (-), pucat (+)

Mulut : Trismus (-), Hipersalivasi (-), Warna pucat (+)

Lidah : Normoglosia, mukosa pucat, atrofi papil (-), tremor (-),


lidah kotor (-)

Tenggorokan : Tonsil T1-T1, tidak hiperemis, arcus faring simetris, uvula


terletak ditengah, tidak terdapat detritus

12
Leher : Bentuk tidak tampak kelainan, edema (-), massa (-), kaku
kuduk (-), tidak tampak dan tidak teraba pembesaran tiroid
maupun KGB.

Thoraks : Simetris fusiformis, retraksi (-)


 Jantung
Inspeksi : Iktus kordis terlihat di ICS V line midclavicularis sinistra
Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS V linea midclavicularis sinistra
Auskultasi : Bunyi jantung I/II reguler, murmur (-), gallop (-)
 Paru-paru
Inspeksi : Gerak dinding thoraks simetris, pola nafas abdomino-thorakal,
iga dapat terlihat dengan jelas, pelebaran sela iga (-)
Palpasi : Massa (-), gerak nafas simetris kanan dan kiri
Perkusi : Sonor dikedua lapang paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler, reguler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen
Inspeksi : Bentuk abdomen normal, gerak dinding perut saat pernapasan
simetris,
Auskultasi : Bising usus 3x/menit
Perkusi : Timpani pada seluruh kuadran abdomen
Palpasi : Supel, turgor kulit kembali cepat, nyeri tekan (-), hepar dan lien
tidak teraba

Genitalia : Laki-laki, dalam batas normal

Kelenjar getah bening


Preaurikuler : Tidak teraba membesar
Postaurikuler : Tidak teraba membesar
Superior cervical : Tidak teraba membesar
Submandibula : Tidak teraba membesar
Supraclavicula : Tidak teraba membesar

13
Axilla : Tidak teraba membesar
Inguinal : Tidak teraba membesar

Ekstremitas
Inspeksi : Ekstremitas bawah tidak simetris. Ditemukan edema
pada regio femur dextra, berwarna kemerahan, nyeri, konsistensi kenyal,
mobile, permukaan rata, bentuk beraturan, ukuran 7x8cm. Diameter paha
kiri 5 cm, paha kanan 8 cm. Tidak ada deformitas, tidak sianosis,
Palpasi : Pada keempat ekstremitas akral hangat, turgor kulit
kembali cepat, tidak ada atrofi otot, tonus otot baik, capillary refill time (CRT) <2
detik.

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


o Laboratorium (1 September 2018)
Hematologi Hasil Satuan Nilai Rujukan

Hemoglobin 5 g/dL 12,5-16,1

Eritrosit 1,79 x106/uL 4,5-5,9

Leukosit 27,74 x103/uL 4,0-10,5

Trombosit 437 x103/uL 150-400

Hematokrit 15,3 % 40-52

Basofil 1 % 0-1

Eosinofil 0 % 1.0-3.0

Neutrofil 55 % 54-62

Limfosit 32 % 25-33

Monosit 12 % 3-7

MCV 86 fL 57-88

MCH 28 Pg 24-30

MCHC 33 g/dL 32-36

RDW 17,7 % 12,2-15,3

14
o Laboratorium (2 September 2018)
Hematologi Hasil Satuan Nilai Rujukan

Hemoglobin 6,9 g/dL 12,5-16,1

Eritrosit 2,42 x106/uL 4,5-5,9

Leukosit 15,6 x103/uL 4,0-10,5

Trombosit 364 x103/uL 150-400

Hematokrit 20,7 % 40-52

MCV 86 fL 78-95

MCH 29 Pg 26-32

MCHC 33 g/dL 32-36

RDW 14,9 % 12,2-15,3

IV. RESUME
Pasien laki-laki atas nama Y usia 3 bulan datang ke IGD RSUD Karawang
dengan keluhan bengkak pada paha kanan atas sejak 3 hari SMRS. Keluhan
dirasakan setelah dilakukan imunisasi Pentabio. Bengkak awalnya berukuran kecil,
kemudian segera dibawa ke bidan dan dikompres air hangat dan diberikan obat
penurun panas. Bengkak dirasakan semakin membesar. Keluhan disertai dengan
demam sejak 3 hari saat ini sudah turun dengan pemberian obat penurun panas. Ibu
pasien mengatakan BAB dan BAK dalam batas normal. Keluhan lain seperti
penurunan berat badan, batuk, pilek dan sesak disangkal.
Riwayat kehamilan dan persalinan baik. Riwayat pertumbuhan dan
perkembangan sesuai usia. Kualitas makanan baik dan kuantitas makan cukup.
Riwayat imunisasi dasar pasien tidak lengkap. Kondisi rumah pasien layak huni,
penghasilan ayah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Riwayat penyakit dahulu
tidak ada. Pasien sudah mendapat terapi untuk keluhan saat ini.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, tampak sakit
sedang, status gizi berdasarkan CDC BB/U 86% (berat badan normal), TB/U 87%
(perawakan kurang) dan BB/TB 110,5% (gizi normal). Pada tanda vital didapatkan

15
nadi 123x/menit, frekuensi nafas 34x/menit, dan suhu 37,0oC. Pada pemeriksaan
status generalis didapatkan kedua konjunctiva anemis, bibir pucat dan mukosa lidah
pucat. Pada pemeriksaan status lokalis tampak edema pada regio femur dextra
berwarna kemerahan, nyeri, konsistensi kenyal, mobile, permukaan rata, bentuk
beraturan, ukuran 7x8cm.
Pemeriksaan penunjang yaitu hematologi rutin pada 1 September 2018
pukul 13.24 WIB didapatkan hasil Hemoglobin 5, Eritrosit 1,79, Leukosit 27,74,
Trombosit 437, Hematokrit 15,3, Monosit 12, RDW-CV 17,7. Pada pemeriksaan
penunjang yang dilakukan pada tanggal 2 September 2018 pukul 10.11 WIB
didapatkan hasil nilai Hemoglobin 6,9, Eritrosit 2,42, Leukosit 15,6, Trombosit 364
dan Hematokrit 20,7% dan RDW-CV 14,9%.

V. DIAGNOSIS KERJA
- Anemia Normositik Normokrom e.c Perdarahan Akut
- Abses Femur Dextra
- Gizi normal
- Imunisasi dasar tidak lengkap sesuai usia

VI. DIAGNOSIS BANDING


(-)

VII. PEMERIKSAAN ANJURAN


- Rontgen regio femur dextra dan sinistra
- Hematologi rutin
- Morfologi darah tepi

VIII. PENATALAKSANAAN
1. Medika mentosa
 Terapi cairan rumatan:
 Kebutuhan cairan: 4,5 kg x 100 cc = 450 cc/24 jam
 IVFD KA-EN 2A 19 tpm mikro
 Transfusi PRC:

16
 Kebutuhan:
(12,5−5)𝑥80𝑥4,5=122,72 𝑐𝑐
 22

 123 cc
 Kebutuhan per hari:
 15 x 4,5 = 67,5 cc
 Paracetamol 3x45 mg  Drops: 3x0,5 ml
 Amoxicillin 3x60 mg  Drops: 3x0,6 ml
 Kompres NaCl diganti 1x/hari

2. Non medika mentosa


 Tirah baring

 Lanjutkan pemberian ASI (kebutuhan kalori per hari sebesar 130


kkal)
 Observasi tanda-tanda vital.
 Observasi kemungkinan sepsis.
 Konsultasi dokter spesialis bedah anak untuk tatalaksana abses
femur dextra.
 Edukasi kepada orang tua pasien mengenai perawatan luka, kejadian
ikutan pasca imunisasi, pelaporan kejadian KIPI, transfusi darah,
catch up imunisasi.

17
IX. Follow up

TANGGAL TANGGAL

16 Agustus 2018 17 Agustus 2018

S BAB cair 4x warna kekuningan, ampas BAB cair 3x warna kekuningan, ampas (+),
(+), lendir (-), darah (-), muntah 4x lendir (-), darah (-), muntah (-), demam (-),
setiap makan dan minum, muntah berisi batuk (-), pilek (-), Kejang (-), BAK dalam
susu dan makanan, demam (-), batuk (- batas normal
), pilek (-), Kejang (-), BAK dalam
batas normal

18
O BB : 10 kg BB : 10 kg
Kesan sakit : tampak sakit sedang Kesan sakit : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis Kesadaran : compos mentis
HR : 140x/menit HR : 120x/menit
RR : 32x/menit RR : 28x/menit
T : 36,7°C T : 36,4°C
Kepala : Tidak tampak konjungtiva Kepala : Tidak tampak konjungtiva anemis,
anemis, tidak tampak sklera ikterik, tidak tampak sklera ikterik, mata cekung (-)
mata cekung (+) Thorax : paru-paru: simetris fusiformis,
Thorax : paru-paru: simetris fusiformis, ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada
ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada jantung: bunyi jantung 1 dan 2 reguler, tidak
jantung: bunyi jantung 1 dan 2 reguler, ada mur-mur , tidak ada gallop
tidak ada mur-mur , tidak ada gallop Abdomen : Supel, BU (+) 3x/menit
Abdomen : Supel, BU (+) 3x/menit kstremitas : Akral hangat di ke-empat
kstremitas : Akral hangat di ke-empat ekstremitas, CRT <2”
ekstremitas, CRT <2”

Pemeriksan Lab :
Hemoglobin 9,5 g/dL, Trombosit Pemeriksan Lab :
464rb/u, Hematokrit 30,9%, MCV 59 Hemoglobin 9,5 g/dL, Trombosit 464rb/u,
fL, MCH 18pq, MCHC 31 g/d. Hematokrit 30,9%, MCV 59 fL, MCH 18pq,
Pemeriksaan faeces didapatkan leukosit MCHC 31 g/d. Pemeriksaan faeces
8-10/ lpb dn aritrosit 1-2/lpb didapatkan leukosit 8-10/ lpb dn aritrosit 1-
2/lpb.

19
A Diare Akut dehidrasi ringan - sedang Diare Akut dehidrasi ringan - sedang
(Terehidrasi) (Terehidrasi)
Epilepsi Epilepsi
Imunisasi Dasar Lengkap Imunisasi Dasar Lengkap
Gizi normal Gizi normal

P o IVFD KA-EN 2A 14 o IVFD KA-EN 2A 14 tpm


tpm makro makro
o Oralit 100 ml/BAB o Oralit 100 ml/BAB
o Zinc tablet 20mg  1 x o Zinc tablet 20mg  1 x 1 tab
1 tab P.O P.O
o Parasetamol Syr  3x1 o Parasetamol Syr  3x1 sdt
sdt (120 mg) (120 mg)
o As. Valproat Syr 2x1 o As. Valproat Syr 2x1 sdt (250
sdt (250 mg) mg)

TANGGAL
18 Agustus 2018
S BAB cair (-), muntah (-), demam (-), batuk (-
), pilek (-), Kejang (-), BAK dalam batas
normal

20
O BB : 10 kg
Kesan sakit : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
HR : 128x/menit
RR : 28x/menit
T : 36,6°C
Kepala : Tidak tampak konjungtiva anemis,
tidak tampak sklera ikterik, mata cekung (-)
Thorax : paru-paru: simetris fusiformis,
ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada
jantung: bunyi jantung 1 dan 2 reguler, tidak
ada mur-mur , tidak ada gallop
Abdomen : Supel, BU (+) 3x/menit
kstremitas : Akral hangat di ke-empat
ekstremitas, CRT <2”

Pemeriksan Lab :
Hemoglobin 9,5 g/dL, Trombosit 464rb/u,
Hematokrit 30,9%, MCV 59 fL, MCH 18pq,
MCHC 31 g/d. Pemeriksaan faeces
didapatkan leukosit 8-10/ lpb dn aritrosit 1-
2/lpb.

A Diare Akut dehidrasi ringan - sedang


(Terehidrasi)
Epilepsi
Imunisasi Dasar Lengkap
Gizi normal

21
P o IVFD KA-EN 2A 14 tpm
makro
o Oralit 100 ml/BAB
o Zinc tablet 20mg  1 x 1 tab
P.O
o As. Valproat Syr 2x1 sdt (250
mg)

X. DIAGNOSIS AKHIR
- Anemia Normositik Normokrom e.c Perdarahan Akut
- Abses Femur Dextra
- Gizi normal
- Imunisasi dasar tidak lengkap sesuai usia

XI. PROGNOSIS
- Ad vitam : bonam
- Ad functionam : dubia ad bonam
- Ad sanationam : dubia ad bonam

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Menkes RI. 2017. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12


Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi.
2. World Health Organization. Immunization. Update 2014. Diunduh dari
http://www.who.int/topics/immunization/en/ diakses 8 September 2018.
3. Roush SW, Murphy TV. Vaccine-Preventable disease table working group:
historical comparison of morbidity and mortality for vaccine-preventable diseases
in the United States. 2007. JAMA 298-2155-2163.
4. Gunardi H. Imunisasi Program Nasional. 2015. Dalam Soedjatmiko, Gunardi H,
Sekartini R, Medise BE. Intisari Imunisasi. Ed 2. Jakarta: Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM.
5. Arwin P., Akib, Purwanti A. Kejadian ikutan pasca imunisasi. 2014. Dalam Ranuh
IGN, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko,
penyunting. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Ed 5. Jakarta: Satgas Imunisasi
Ikatan Dokter Anak Indonesia.
6. Satari HI. Pelaporan KIPI. 2014. Dalam Ranuh IGN, Suyitno H, Hadinegoro SRS,
Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, penyunting. Pedoman Imunisasi di
Indonesia. Ed 5. Jakarta: Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.
7. Hadinegoro SRS, Ismoedijanto, Tumbelaka AR. Difteria, tetanus, pertussis. 2014.
Dalam Ranuh IGN, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto,
Soedjatmiko, penyunting. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Ed 5. Jakarta: Satgas
Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.
8. Salimo H, Soegianto S. Campak. 2014. Dalam Ranuh IGN, Suyitno H, Hadinegoro
SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, penyunting. Pedoman
Imunisasi di Indonesia. Ed 5. Jakarta: Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak
Indonesia.
9. Ranuh IGN, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Imoedijanto, et al. Pedoman
Imunisasi di Indonesia Edisi Keenam. Jakarta: Satgas Imunisasi Ikatan Dokter
Anak Indonesia; 2017
10. World Health Organization. Casuality assessment of an adverse event following
immunization (AEFI) user manual for the revised WHO classification. 2013.
World Health Organization.

23