Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KEBIDANAN KOMUNITAS

AKI (Angka Kematian Ibu)


“ Sebagai Bahan Ujian Tengah Semester Matakuliah Kebidanan Komunitas”

OLEH :

ADITYA SUHARTIKA
1415301053

UNIVERSITAS MUHAMADIYAH TANGGERANG


PRODI KEBIDANAN D4 – SERANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat-Nya, sehingga saya
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk
maupun pedoman bagi pembaca dalam pembelajaran, khususnya matakuliah Kebidanan
Komunitas.

Terimakasih penulis ucapkan kepada ibu Hj. Umalihayati, SKM, M.Pd selaku dosen
matakuliah Kebidanan Komunitas, serta teman-teman D4 Kebidanan UMT yang langsung
maupun tidak langsung membantu penulisan makalah ini.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Serang, 2 Mei 2015


Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................... 1
1.2 Tujuan ...................................................................................................................... 1

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian AKI ......................................................................................................... 2
2.2 Penyebab AKI .......................................................................................................... 2
2.3 Pendekatan dan Strategi dalam Penurunan AKI ...................................................... 3
2.4 Upaya Pemerintah dalam Penurunan AKI ............................................................... 3
2.5 Peran dan Fungsi Bidan di Komunitas dalam Menurunkan AKI ............................. 4

BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Contoh Kasus ........................................................................................................... 7
3.2 Masalah yang Terdapat dalam Kasus ...................................................................... 8
3.3 Pembahasan ............................................................................................................. 8

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan ............................................................................................................. 11
4.2 Saran ....................................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan, di seluruh dunia lebih dari 585
ribu ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu
perempuan yang meninggal (BKKBN, 2009). Sedangkan angka kematian ibu (AKI) di
Indonesia masih tinggi di kawasan ASEAN, walaupun sudah terjadi penurunan dari 307
per 100 ribu kelahiran hidup (SDKI 2002-2003) menjadi 248 per 100 ribu kelahiran hidup
pada tahun 2007.

Sudah berbagai upaya yang pemerintah lakukan dalam rangka menurunkan AKI di
Indonesia, diantaranya pada tahun 2000 dengan merancangkan Making Pregnancy Safer
(MPS) yang merupakan strategi sektor kesehatan secara terfokus pada pendekatan dan
perencanaan yang sistematis dan terpadu. Salah satu strategi MPS adalah mendorong
pemberdayaan perempuan dan keluarga. Output yang diharapkan dari strategi tersebut
adalah menetapkan keterlibatan suami dalam mempromosikan kesehatan ibu dan
meningkatkan peran aktif keluarga dalam kehamilan dan persalinan.

Namun demikian AKI sampai saat ini masih dinilai tinggi. Olehkarenanya, perlu
adanya evaluasi dari tenaga kesehatan khususnya bidan, maupun pemerintah sebagai
pemegang kebijakan untuk meninjau kembali sistem dan tatanan yang dirancang dalam
pelayanan kesehatan.

1.2 Tujuan
- Untuk mengetahui Pengertian AKI
- Untuk mengetahui Penyebab AKI
- Untuk mengetahui Pendekatan dan Strategi dalam Penurunan AKI
- Untuk mengetahui Upaya Pemerintah dalam Penurunan AKI
- Untuk mengetahui Peran dan Fungsi Bidan di Komunitas dalam Menurunkan AKI
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian AKI


Angka Kematian Ibu (AKI) menurut WHO adalah kematian yang terjadi saat hamil,
bersalin, atau dalam 42 hari pasca persalinan dengan penyebab yang berhubungan
langsung atau tidak langsung terhadap kehamilan.

2.2 Penyebab AKI

Berdasarkan penyebabnya Kematian ibu bisa dibedakan menjadi langsung dan tidak
langsung.

 Penyebab Langsung.
1. Perdarahan (42%).
2. Keracunan kehamilan/eklamsi (13%).
3. Keguguran/abortus (11%).
4. Infeksi (10%).
5. Partus lama/persalinan macet (9%).
6. Penyebab lain (15%).

 Penyebab tidak langsung


1. Pendidikan ibu-ibu terutama yang ada di pedesaan masih rendah.
2. Sosial ekonomi dan sosial budaya Indonesia yang mengutamakan bapak
dibandingkan ibu
3. “4 terlalu “dalam melahirkan, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering dan
terlalu banyak.
4. “3 terlambat”, yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk dikirim ke
tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan.

2.3 Pendekatan dan Strategi dalam Penurunan AKI

Pendekatan yang dikembangkan untuk menurunkan angka kematian ibu yang disebut
MPS atau Making Pregnancy Safer. Ada 3 (tiga) pesan kunci dalam MPS yang perlu
diperhatikan adalah :
a. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
b. Setiap komplikasi obstetric dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat
(memadai).
c. Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang
tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.

Sedangkan strategi dalam menurunkan AKI adalah Peningkatan cakupan dan kualitas
pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang cost efektif dan didukung oleh:
a. Kerjasama lintas program dan lintas sektor terkait, mitra lain, pemerintah dan
swasta
b. Pemberdayaan perempuan dan keluarga.
c. Pemberdayaan masyarakat.

2.4 Upaya Pemerintah dalam Penurunan AKI

- Peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan, melalui:


1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan antara lain berupa penyediaan
tenaga bidan di desa, kesinambungan keberadaan bidan desa, penyediaan fasilitas
pertolongan persalinan pada polindes/pustu dan puskesmas, kemitraan bidan dan
dukun bayi, serta berbagai pelatihan bagi petugas.
2. Penyediaan pelayanan kegawatdaruratan yang berkualitas dan sesuai standar,
antara lain bidan desa di polindes/pustu, puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri
Neonatal Emergency Dasar), Rumah sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal
Emergency Kualitas) 24 jam.

- Mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi


keguguran, antara lain dalam bentuk KIE untuk mencegah terjadinya 4 terlalu,
pelayanan KB berkualitas pasca persalinan dan pasca keguguran, pelayanan asuhan
pasca keguguran, meningkatkan partisipasi aktif pria.
- Pemantapan kerjasama lintas program dan sektor, antara lain dengan jalan menjalin
kemitraan dengan pemda, organisasi profesi (IDI, POGI, IDAI, IBI, PPNI), Perinasia,
PMI, LSM dan berbagai swasta.

- Peningkatan partisipasi perempuan, keluarga dan masyarakat, antara lain dalam


bentuk meningkatkan pengetahuan tentang tanda bahaya, pencegahan terlambat 1 dan
2, serta menyediakan buku KIA. Kesiapan keluarga dan masyarakat dalam
menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan (dana, transportasi, donor darah), jaga
selama hamil, cegah 4 terlalu, penyediaan dan pemanfaatan yankes ibu dan bayi,
partisipasi dalam jaga mutu pelayanan.

- Peningkatan kapasitas manajemen pengelola program, melalui peningkatan


kemampuan pengelola program agar mampu melaksanakan, merencanakan dan
mengevaluasi kegiatan (P1 – P2 – P3) sesuai kondisi daerah.

- Sosialisasi dan advokasi, melalui penyusunan hasil informasi cakupan program dan
data informasi tentang masalah yang dihadapi daerah sebagai substansi untuk
sosialisasi dan advokasi. Kepada para penentu kebijakan agar lebih berpihak kepada
kepentingan ibu dan anak.

2.5 Peran dan Fungsi Bidan dalam Komunitas

1. Sebagai Pendidik
Sebagai pendidik, bidan berupaya merubah perilaku komunitas di wilayah
kerjanya sesuai dengan kaidah kesehatan. Tindakan yang dapat dilakukan
oleh bidan di komunitas dalam berperan sebagai pendidik masyarakat antara lain
dengan memberikan penyuluhan di bidang kesehatan khususnya kesehatan ibu, anak
dan keluarga. Penyuluhan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti
ceramah, bimbingan, diskusi, demonstrasi dan sebagainya yang mana cara tersebut
merupakan penyuluhan secara langsung. Sedangkan penyuluhan yang tidak langsung
misalnya dengan poster, leaf let, spanduk dan sebagainya.

2. Sebagai Pelaksana (Provider)


Sesuai dengan tugas pokok bidan adalah memberikan pelayanan kebidanan
kepada komunitas. Disini bidan bertindak sebagai pelaksana pelayanan kebidanan.
Sebagai pelaksana, bidan harus menguasai pengetahuan dan teknologi kebidanan
serta melakukan kegiatan sebagai berikut :

 Bimbingan terhadap kelompok remaja masa pra perkawinan.


 Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas, menyusui dan masa interval
dalam keluarga.
 Pertolongan persalinan di rumah.
 Tindakan pertolongan pertama pada kasus kebidanan dengan resiko tinggi di
keluarga.
 Pengobatan keluarga sesuai kewenangan.
 Pemeliharaan kesehatan kelompok wanita dengan gangguan reproduksi.
 Pemeliharaan kesehatan anak balita.
3. Sebagai Pengelola
Sesuai dengan kewenangannya bidan dapat melaksanakan kegiatan praktek
mandiri. Bidan dapat mengelola sendiri pelayanan yang dilakukannya. Peran bidan di
sini adalah sebagai pengelola kegiatan kebidanan di unit puskesmas, polindes,
posyandu dan praktek bidan. Sebagai pengelola bidan memimpin dan
mendayagunakan bidan lain atau tenaga kesehatan yang pendidikannya lebih rendah.
Contoh : praktek mandiri/ BPS

4. Sebagai Peneliti
Bidan perlu mengkaji perkembangan kesehatan pasien yang dilayaninya,
perkembangan keluarga dan masyarakat. Secara sederhana bidan dapat memberikan
kesimpulan atau hipotersis dan hasil analisanya. Sehingga bila peran ini dilakukan
oleh bidan, maka ia dapat mengetahui secara cepat tentang permasalahan komuniti
yang dilayaninya dan dapat pula dengan segera melaksanakan tindakan.

5. Sebagai Pemberdaya
Bidan perlu melibatkan individu, keluarga dan masyarakat dalam
memecahkan permasalahan yang terjadi. Bidan perlu menggerakkan individu,
keluarga dan masyarakat untuk ikut berperan serta dalam upaya pemeliharaan
kesehatan diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.

6. Sebagai Pembela klien (advokat)


Peran bidan sebagai penasehat didefinisikan sebagai kegiatan memberi
informasi dan sokongan kepada seseorang sehingga mampu membuat keputusan
yang terbaik dan memungkinkan bagi dirinya.

7. Sebagai Kolaborator
Kolaborasi dengan disiplin ilmu lain baik lintas program maupun sektoral.

8. Sebagai Perencana
Melakukan bentuk perencanaan pelayanan kebidanan individu dan keluarga
serta berpartisipasi dalam perencanaan program di masyarakat luas untuk suatu
kebutuhan tertentu yang ada kaitannya dengan kesehatan.
BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 Contoh Kasus


Datang seorang ibu hamil ke rumah bidan dengan keluhan mulas sejak jam 14.00 WIB
dan si ibu sudah terasa ingin mengedan kelihatan sudah sangat sakit sekali. Kemudian
bidan melakukan anamnesa yang sangat singkat dan cepat kepada pasien karena si ibu
tidak pernah ANC ke bidan tersebut.

Nama : Ny.”D” Suami : Tn.”G”


Umur : 30 tahun Umur : 35 tahun
Alamat : Kp.Bayah Alamat : KP. Bayah
Pendidikan : SD Pendidikan : SD
IBU : G6P5A0
Jarak anak ke 6 dengan kehamilan ini 1 tahun. Riwayat persalinan normal tapi selalu
pendarahan setelah melahirkan.
Pemeriksaan fisik:
- Ibu kelihatan anemis (pucat-lemah)
- Kaki oedema
- Ibu kelihatan kesakitan
- Tanda-tanda vital (TD 100/70 mmHg, suhu tidak diukur, nadi :80x/ mnt)
Pemeriksaan Leopold :
LI : Tinggi fundus ½ PX dan pusat teraba bokong
L II : Punggung bayi teraba sebelah kiri dan bahian-bagian kecil sebelah kanan
L III : Bagian terendah janin teraba keras melenting dan sudah masuk PAP
L IV : Kedua tangan divergen berarti sebagian besar bagian terendah anak sudah
masuk PAP
Kemudian bidan melakukan pemeriksaan DJJ : 134 x/mnt dengan dopler dan melakukan
pemeriksaan dalam. Pembukaan 3 cm, bidan menyarankan ibu dan keluarga agar
melahirkan di puskesmas tetapi keluarga menolak.
Keluarga ibu yang akan bersalin memaksa bidan untuk menolong perrsalinan di rumah
dengan alasanjarak yang jauh dan tidak punya biaya untuk melahirkan dipuskesmas.
Pasien tidak punya kartu jaminan kesehatan (JAMKESMAS), bidan melakukan
observasi his,djj, pembukaan dengan menggunakan partograf setelah pembukaan 5 cm
pada pukul : 18.00. bidan membicarakan kembali agar si ibu melahirkan di puskesmas
tetapi keluarga tetap menolak dan akhirnya bidan membuat pernyataan untuk keluarga
yang isinya bahwa keluarga menolak untuk di rujuk. Pada pukul 20.00 ibu mengatakan
ingin mengedan, pada saat bidan melakukan pemeriksaan ketuban pecah secara spontan,
di dapatkan hasil bahwa pembukaan telah lengkap, dan dilakukan pimpinan persalinan.
Pada pukul 20.25 bayi lahir spontan tangisan kuat, gerakan aktif, warna kuli kemerahan,
JK. Laki laki, pada pukul 20.35 palsenta lahir spontan kotiledon lengkap,kontraksi
lembek pukul 20.40 terjadi perdarahan hebat, bidan menganjurkan keluarga agar segera
membawa ibu ke rumahsakit dikarenakan ibu mengalami perdarahan.Dalam waktu 10
menit pasien mengalami pre syok. pukul 21.00 pasien di rujuk ke RS, Diperjalanan bidan
melakukan KBI, KBE namun hasilnya nihil dikarenakan jarak yang jauh untuk mencapai
faskes dan kondisi ibu yang anemi, akhirnya pasien meninggal dalam perjalanan
merujuk.

3.2 Masalah yang terdapat pada kasus


1. Asuhan yang diberikan bidan tidak diakukan secara komprehensif :
 Bidan melakukan anamnesa yang sangat singkat dan cepat kepada pasien karena si
ibu tidak pernah ANC ke bidan tersebut.
2. 4 terlalu :
o Paritas tinggi : G6P5A0
o Kehamilan dengan usia resti : Usia ibu 30 tahun
o Jarak kehamilan terlalu dekat : Jarak anak ke 5 dengan kehamilan ini 1 tahun
3. Kurangnya pemahaman dan kesadaran dari keluarga tentang persalinan aman :
 Keluarga ibu yang akan bersalin memaksa bidan untuk menolong persalinan di
rumah
 Setelah terjadi perdarahan keluarga baru mau di rujuk ke RS

3.3 Pembahasan
Bidan memiiliki peran penting dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB), salah satunya melalui tugas dan tanggung jawabnya
sebagai bidan komunitas. Dalam komunitas sasaran pelayanan diberikan tidak hanya
secara personal melaikan seluruh lapisan masyarakat, sehingga bidan dituntut untuk
bersikap profesional dimana bidan harus mampu bersikap nonjudgement (tidak
menghakimi), non discriminative (tidak membeda–bedakan) dan memenuhi standar
prosedur kepada semua klien (perempuan, laki – laki, trans gender).
Namun sikap ini tidak ditunjukan oleh bidan dalam kasus, karena si ibu tidak pernah
ANC ke bidan tersebut, akhirnya bidan melakukan anamnesa yang sangat singkat dan
cepat kepada pasien.dan memberikan pelayanan sesuai dengan prosedur pelaksanaan
dengan memberikan lembar penolakan rujukan.
Selain itu, dalam menjalankan tugas sebagai bidan komunitas, tentunya kita tidak
dapat bekerja sendiri. Adakalanya kita juga membutuhkan orang lain, baik teman
sejawat, lintas sektoral, maupun masyarakat sekitar. Dalam kasus yang digambarkan,
sebaiknya bidan meminta bantuan teman sejawat yang terdekat karena riwayat
perdarahan pernah ibu alami. Pendamping (teman sejawat) perlu dihadirkan saat kondisi
seperti yang digambarkan dalam kasus, selain untuk membantu proses persalinan
pendamping dihadirkan sebagai saksi / bukti hukum atas tindakan yang diberikan pada
pasien.
Dalam komunitas bidan pun memiliki peran sebagai pendidik, dalam hal ini sebagai
pendidik, bidan berupaya merubah perilaku masyarakat d wilayah kerjanya agar sesuai
dengan kaidah kesehatan. Tindakan yang dapat dilakukan
oleh bidan di komunitasi dalam berperan sebagai pendidik masyarakat antara lain dengan
memberikan penyuluhan di bidang kesehatan khususnya kesehatan ibu, anak dan
keluarga.
Dari apa yang sudah digambarkan dalam kasus, terlihat bahwa bidan kurang
memaksimalkan perannya dalam komunitas sebagai pendidik. Dalam kehamilannya,
pasien tidak menghindari prinsip 4 terlalu, yaitu terlalu tua, terlalu muda, terlalu dekat,
dan terlalu banyak. Keluarga pun tidak tahu mengenai persalinan yang aman yang
sebaiknya dilakukan difasilitas kesehatan, namun keluarga memaksa bidan untuk
bersalin di rumah. Oleh karenanya bidan harus lebih memperhatikan P4K (Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi). Dimana Pasien dan Keluarga
harus merencanakan penolong persalinan, pendamping persalinan, fasilitas tempat
persalinan, calon donor darah, transportasi yg akan digunakan serta pembiayaan pada
awal kehamilan ibu.
Dari beberapa hal yang telah dibahas, dengan demikian dalam mewujudkan
persalinan yang aman perlu adanya kerjasama antara tenaga kesehatan (bidan), keluarga,
tokoh masyarakat dan masyarakat setempat. Sehingga keselamatan ibu dan bayi dapat
terjamin
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Angka Kematan Ibu (AKI) merupakan indikasi kemajuan suatu negara, olehkarena itu
penekanan AKI di perlu dilakukan oleh setiap negara, terutama indonesia sebagai negara
berkembang dengan AKI yang cukup tinggi.
Hal ini seharusnya menjadi perhatian khusus bagi tenaga kesehatan khususnya bidan,
maupun pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Perlu adanya peninjauan kembali
sistem dan tatanan pelayanan kesehatan yang ada saat ini. Sehingga AKI dapat
diturunkan dan kesejahteraan ibu dapat terjamin.

4.2 Saran
- Bagi Pemerintah
Pemerintah diharapkan pro aktif terhadap pelayanan kesehatan. Pemerintah
sebaiknya mengevaluasi kembali kebijakan-kebijakan terkait masalah kesehatan,
terutama kesehatan ibu dan anak. Selain itu, Fasilitas dan sarana prasarana yang
menunjang perllu ditingkatkan.

- Bagi Tenaga Kesehatan


Sebagai tenaga kesehatan sebaiknya memaksimalkan potensi yang dimiliki
baik secara kelompok maupun individual. Hal ini dapat diwujudkan dengan terus
memperbaharui informasi terkait pelayanan kesehatan melalui studi lanjut ataupun
mengikuti pelatihan- pelatihan.
DAFTAR PUSTAKA

Yulifah, R, dkk. 2012. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika

Soepardan, S. 2006. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC

Syafrudin, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC

http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/06/peran-dan-fungsi-bidan-bekerja-
di.html#ixzz3YtZ8fmGG, diunggah pada tanggal 1 mei 2015 pukul 20.00 WIB