Anda di halaman 1dari 6

PERSARAFAN KANDUNG KEMIH

Kandung kemih mendapat persarafan utama dari saraf-saraf pelvis, yang


berhubungan dengan medulla spinalis melalui pleksus sakralis, terutama
berhubungan dengan segmen sakral 2 dan sakral 3 dari medulla spinalis perjalanan
melalui saraf pelvis terdapat dalam 2 bentuk persarafan, yaitu serabut saraf
sensorik dan serabut sarf motorik. Serabut saraf sensorik mendeteksi derajat
regangan dalam kandung kemih. sinyal- sinyal regangan khususnya dari uretra
posterior merupakan sinyal yang kuat dan terutama berperan untuk memicu refleks
pengosongan kandung kemih.

Gambar 2. Persarafan Kandung Kemih

Persarafan motorik yang dibawa dalam saraf-saraf pelvis merupakan


serabut parasimpatis. Saraf ini berakhir di sel ganglion yang terletak di dalam
dinding kandung kemih. Kemudian sarf-saraf postganglionik yang pendek
akan mempersarafi otot detrusor.
Selain saraf pelvis, terdapat dua jenis persarafan lain yang penting untuk mengatur
fungsi kandung kemih.
Yang paling penting adalah serabut motorik skeletal yang di bawa
melalui saraf pudendus ke sfingter eksterna kandung kemih. Saraf ini merupakan
serabut saraf somatic yang mempersarafi dan mengatur otot rangka volunteer pada
sfingter tersebut. Kandung kemih juga mendapatkan persarafan simpatis dari
rangkaian simpatis melalui saraf-saraf hipogastrik, yang terutama
berhubungan dengan segmen lumbal 2 dari medulla spinalis. Serabut
simpatis ini terutama merangsang pembuluh darah dan member sedikit efek
terhadap proses kontraksi kandung kemih. Beberapa serabut saraf sensorik juga
berjalan melalui persarafan simpatis dan mungkin penting untuk sensai rasa penuh
dan nyeri (pada beberapa kasus) (Guyton, 2012).
Bertambahnya perubahan tekanan tonus selama pengisian kandung kemih
merupakan peningkatan tekanan akut periodik yang terjadi selama beberapa detik
hingga lebih dari semenit. Puncak tekanan dapat meningkat hanya beberapa
sentimeter air atau mungkin meningkat hingga lebih dari 100 sentimeter air. Puncak
tekanan ini disebut sebagai refleks mikturisi, dan refleks mikturisi ini dapat
dibantu oleh kontraksi volunter untuk mengeluarkan urin. Pada proses
pengeluaran urin terdapat 2 mekanisme, yaitu:

a. Refleks Berkemih
Miksi atau berkemih adalah proses pengosongan kandung kemih yang
diatur oleh dua mekanisme: refleks berkemih dan kontrol volunter.
Refleks berkemih terpicu ketika reseptor regang di dalam dinding
kandung kemih terangsang. Kandung kemih pada orang dewasa dapat
menampung hingga 250 sampai 400 ml urin sebelum tegangan di
dindingnya mulai cukup meningkat untuk mengaktifkan reseptor regang.
Semakin besar tegangan melebihi ukuran ini, semakin besar tingkat
pengaktifan reseptor. Serat-serat aferen dari reseptor regang membawa impuls
ke medula spinalis dan akhirnya, melalui antar neuron merangsang
saraf parasimpatis untuk kandung kemih dan menghambat neuron motorik ke
sfingter eksternus. Stimulasi saraf parasimpatis kandung kemih
menyebabkan organ ini berkontraksi.
Tidak ada mekanisme khusus yang dibutuhkan untuk membuka sfingter
internus, perubahan bentuk kandung kemih selama kontraksi akan secara
mekanis menarik terbuka sfingter internus. Secara bersamaan, sfingter
eksternus melemas karena neuron-neuron motoriknya dihambat. Kini kedua
sfingter terbuka dan urin terdorong melalui uretra oleh gaya yang ditimbulkan
oleh kontraksi kandung kemih.

b. Kontrol Volume Berkemih


Selain memicu refleks berkemih, pengisian kandung kemih juga
menyadarkan yang bersangkutan akan keinginan untuk berkemih. Persepsi
penuhnya kandung kemih rnuncul sebelum sfingter eksternus secara refleks
melemas, memberi peringatan bahwa miksi akan segera terjadi. Akibatnya,
kontrol volunter berkemih, yang dipelajari selama toilet training pada masa
anak-anak dini, dapat mengalahkan refleks berkemih sehingga pengosongan
kandung kemih dapat berlangsung sesuai keinginan yang bersangkutan
dan bukan ketika pengisian kandung kemih pertama kali mengaktifkan
reseptor regang. Jika waktu refleks miksi tersebut dimulai kurang sesuai untuk
berkemih, maka yang bersangkutan dapat dengan sengaja mencegah
pengosongan kandung kemih dengan mengencangkan sfingter eksternus
dan diafragma pelvis. Impuls eksitatorik volunter dari korteks serebri
mengalahkan sinyal inhibitorik refleks dari reseptor regang ke neuron- neuron
motorik yang terlibat (keseimbangan relatif PPE dan PPI) sehingga otot
otot ini tetap berkontraksi dan tidak ada urin yang keluar.
Berkemih tidak dapat ditahan selamanya. Karena kandung
kemih terus terisi maka sinyal refleks dari reseptor regang meningkat seiring
waktu. Akhirnya, sinyal inhibitorik refleks ke neuron motorik sfingter
eksternus menjadi sedemikian kuat sehingga tidak lagi dapat diatasi oleh sinyal
eksitatorik volunter sehingga sfingter melemas dan kandung kemih secara tak
terkontrol mengosongkan isinya. Berkemih juga dapat secara sengaja dimulai,
meskipun kandung kemih tidak teregang, dengan secara sengaja
melemaskan sfingter eksternus dan diafragma pelvis. Turunnya dasar
panggul memungkinkan kandung kemih turun, yang secara simultan menarik
terbuka sfingter uretra internus dan meregangkan dinding kandung
kemih. Pengaktifan reseptor regang yang kemudian terjadi akan
menyebabkan kontraksi kandung kemih melalui refleks berkemih.
Pengosongan kandung kemih secara sengaja dapat dibantu oleh
kontraksi dinding abdomen dan diafragma pernapasan. Peningkatan
tekanan intraabdomen yang ditimbulkannya menekan kandung kemih ke bawah
untuk mempermudah pengosongan.

Persarafan dari kandung kencing dan sfingter

1. Persarafan parasimpatis (N.pelvikus)


Pengaturan fungsi motorik dari otot detrusor utama berasal dari neuron
preganglion parasimpatis dengan badan sel terletak pada kolumna intermediolateral
medula spinalis antara S2 dan S4. Neuron preganglionik keluar dari medula spinalis
bersama radiks spinal anterior dan mengirim akson melalui N.pelvikus ke pleksus
parasimpatis pelvis. Ini merupakan suatu jaringanhalus yang menutupi kandung
kencing dan rektum. Serabut postganglionik pendek berjalan dari pleksus untuk
menginervasi organ- organ pelvis. Tak terdapat perbedaan khusus postjunctional
antara serabut postganglionik danotot polos dari detrusor. Sebaliknya, serabut
postganglionik mempunyai jaringan difus sepanjang serabutnya yang mengandung
vesikel dimana asetilkolin dilepaskan. Meskipun pada
beberapa spesies transmiter nonkolinergik nonadrenergik juga ditemukan,
keberadaannya pada manusia diragukan
2. Persarafan simpatis (N.hipogastrik dan rantai simpatis sakral)
Kandung kencing menerima inervasi simpatis dari rantai simpatis
torakolumbal melalui a hipogastrik. Leher kandung kencing menerima persarafan
yang banyak dari sistem saraf simpatis dan pada kucing dapat dilihat pengaturan
parasimpatis oleh simpatis, sedangkan peran sistim simpatis pada proses miksi
manusia tidak jelas. Simpatektomi lumbal saja tidak berpengaruh pada kontinens
atau miksi meskipun pada umumnya akan menimbulkan ejakulasi retrograd. Leher
kandung kencing pria banyak mengandung mervasi noradrenergik dan aktivitas
simpatis selama ejakulasi menyebabkan penutupan dari leher kandung kencing
untuk mencegah ejakulasi retrograde
3. Persarafan somantik (N.pudendus)
Otot lurik dari sfingter uretra merupakan satu-satunya bagian dari traktus
urinarius yang mendapat persarafan somatik. Onufrowicz menggambarkan suatu
nukleus pada kornu ventralis medula spinalis pada S2, S3, dan S4. Nukleus ini yang
umumnya dikenal sebagai nukleus Onuf, mengandung badan sel dari motor neuron
yang menginnervasi baik sfingter anal dan uretra. Nukleus ini mempunyai diameter
yang lebih kecil daripada sel kornu anterior lain, tetapi suatu penelitian mengenai
sinaps motor neuron ini pada kucing menunjukkan bahwa lebih bersifat
skeletomotor dibandingkan persarafan perineal parasimpatis preganglionik.
Serabut motorik dari sel-sel ini berjalan dari radiks S2, S3 dan S4 ke dalam
N.pudendus dimana ketika melewati pelvis memberi percabangan ke sfingter anal
dan cabang perineal ke otot lurik sfingter uretra. Secara elektromiografi, motor unit
dari otot lurik sfingter sama dengan serabut lurik otot tapi mempunyai amplitudo
yang sedikit lebih rendah.
4. Persarafan sensorik traktus urinarius bagian bawah
Sebagian besar saraf aferen adalah tidak bermyelin dan berakhir pada
pleksus suburotelial dimana tidak terdapat ujung sensorik khusus. Karena banyak
dari serabut ini mengandung substansi P, ATP atau calcitonin gene-related peptide
dan pelepasannya dapat mengubah eksitabilitas otot, serabut pleksus ini dapat
digolongkan sebagai saraf sensorik motorik daripada sensorik murni.
Ketiga pasang saraf perifer (simpatis torakolumbal, parasimpatis sakral dan
pudendus) mengandung serabut saraf aferen. Serabut aferen yang berjalan dalam
n.pelvikus dan membawa sensasi dari distensi kandung kencing tampaknya
merupakan hal yang terpenting pada fungsi kandung kencing yang normal. Akson
aferen terdiri dari 2 tipe, serabut C yang tidak bermyelin dan serabut Aδ bermyelin
kecil.
Peran aferen hipogastrik tidak jelas tetapi serabut ini mungkin
menyampaikan beberapa sensasi dari distensi kandung kencing dan nyeri. Aferen
somatik pudendal menyalurkan sensasi dari aliran urine, nyeri dan suhu dari uretra
dan memproyeksikan ke daerah yang serupa dalam medula spinalis sakral sebagai
aferen kandung kencing. Hal ini menggambarkan kemungkinan dari daerah-daerah
penting pada medula spinalis sakral untuk intergrasi viserosomatik.
Nathan dan Smith (1951) pada penelitian pasien yang telah mengalami kordotomi
anterolateral, menyimpulkan bahwa jaras asending dari kandung kencing dan
uretra berjalan di dalam traktus spiotalamikus. Serabut spinobulber pada kolumna
dorsalis mungkin juga berperan pada transmisi dari informasi aferen.

Hubungan dengan susunan saraf pusat


1. Pusat Miksi Pons
Pons merupakan pusat yng mengatur miksi melalui refleks spinal-bulber-
spinal atau long loop refleks. Demyelinisasi Groat (1990) menyatakan bahwa pusat
miksi pons merupakan titik pengaturan (switch point) dimana refleks transpinal-
bulber diatur sedemikian rupa baikuntuk pengaturan pengisian atau pengosongan
kandung kencing. Pusat miksi pons berperansebagai pusat pengaturan yang
mengatur refleks spinal dan menerima input dari daerah lain di otak
2. Daerah kortikal yang mempengaruhi pusat miksi pons
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lesi pada bagian anteromedial dari
lobus frontal dapat menimbulkan gangguan miksi berupa urgensi, inkontinens,
hilangnya sensibilitas kandung kemih atau retensi urine. Pemeriksaan urodinamis
menunjukkan adanya kandung kencing yang hiperrefleksi.