Anda di halaman 1dari 3

eEdited Puryagustama , M. Ridho. (2016).

PERKEMBANGAN
SATELIT PENGINDRAAN JAUH DAN KEGUNAANNYA.
Makalah.
Penginderaan jauh menurut pengertiannya adalah suatu ilmu dan teknik untuk
memperoleh data dan informasi tentang obyek dan gejala menggunakan alat
tanpa kontak langsung dengan obyek yang dikaji. Komponen utama dalam
penginderaan jauh meliputi 4 hal berikut : 1. Sumber energi, 2. Obyek, 3.
Sensor, sebagai alat perekam energi dan, 4. Atmosfir sebagai media energi dari
sumbernya ke bumi dan ke sensor. Sumber energi untuk penginderaan jauh
meliputi matahari (sistem pasif) dan energi buatan manusia (sistem aktif),
misalnya lampu blits, Radar. Obyek dalam penginderaan jauh adalah muka
bumi dan planet-planet lain di luar bumi, sedang atmosfir berfungsi sebagai
media yang memiliki sifat untuk menyerap, melalukan dan menghamburkan
energi.

Haryanto, Bambang. (2013). Perkembangan Teknologi Penginderaan Jauh.


Diakses pada 6 September 2018 melalui
https://www.kompasiana.com/lapan.go.id/552dffa26ea8349e168b456d/perk
embangan-teknologi-penginderaan-jauh

Percobaan pernah dilakukan perkembangan Teknologi Inderaja :

 Gaspar Felix Tournachon/ Pelix Nadar (1858)seniman foto dari Perancis melakukan
pemotretan dari udara pertama dilakukan daerah Bievre dengan ketinggian 80 meter
dengan bantuan balon udara
 James Wallac Black 1860 dari Amerikamelakukan uji coba balon udara dengan
ketinggian 365 meter di kota Boston
 Pemotretan dengan menggunakan Wahana Layang-layang dilakukan oleh ED
Archibalg dari Inggris 1882 dengan tujuan untuk memperoleh data meteorlogi
 18 April 1906 Pemotretan dengan menggunakan Wahana Layang-layang dilakukan
oleh G. R Lawrence dari Amerika memotret daerah San Fransisco setelah bencana
gempa bumi.dan kebakaran
 Tahun 1909 dilakukan dengan pesawat terbang dengan pilotnya bernama Wibur
Wright di atas Centovelli (Italia) dengan menggunakan esawat terbang jauh lebih
praktis

Danoedoro. (2012). Program S2 Penginderaan Jauh: Perkembangan


Penginderaan Jauh. Diakses pada 6 September 2018 dari
http://puspics.ugm.ac.id/s2pj/Perkembangan_PJ.php
Penginderaan jauh pada awalnya dikembangkan dari teknik interpretasi foto udara. Pada
tahun 1919 telah dimulai upaya pemotretan melalui pesawat terbang dan interpretasi foto
udara (Howard, 1990). Meskipun demikian, teknik interpretasi foto udara untuk keperluan
sipil (damai) sendiri baru berkembang pesat setelah Perang Dunia II, karena sebelumnya
foto udara lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan militer.

Dalam tiga puluh tahun terakhir, penggunaan teknologi satelit dan teknologi komputer
untuk menghasilkan informasi keruangan (atau peta) suatu wilayah semakin dirasakan
manfaatnya. Penggunaan teknik interpretasi citra secara manual, baik dengan foto udara
maupun citra non-fotografik yang diambil melalui wahana selain pesawat udara dan sensor
selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dan diakui manfaat dan akurasinya. Di sisi
lain, pengolahan atau pemrosesan citra satelit secara digital telah taraf operasional untuk
seluruh aplikasi di bidang survei-pemetaan.

Perolehan data penginderaan jauh melalui satelit menawarkan beberapa keunggulan


dibandingkan melalui pemotretan udara, antara lain dari segi harga, periode ulang
perekaman daerah yang sama, pemilihan spektrum panjang gelombang untuk mengatasi
hambatan atmosfer, serta kombinasi saluran spektral (band) yang dapat diatur sesuai
dengan tujuan.

Di Indonesia, penggunaan foto udara untuk survei-pemetaan sumberdaya telah dimulai oleh
beberapa lembaga pada awal tahun 1970-an. Pada periode yang sama, ketika berbagai
lembaga di Indonesia masih belajar memanfaatkan foto udara, Amerika Serikat pada tahun
1972 telah meluncurkan satelit sumberdaya ERTS-1 (Earth Resources Technology Satellite -
1), yang kemudian diberi nama baru menjadi Landsat-1. Satelit ini mampu merekam hampir
seluruh permukaan bumi pada beberapa spektra panjang gelombang, dan dengan resolusi
spasial sekitar 80 meter. Sepuluh tahun kemudian, Amerika Serikat telah meluncurkan
satelit sumberdaya Landsat-4 (Landsat-D) yang merupakan satelit sumberdaya generasi
kedua, dengan memasang sensor baru Thematic Mapper yang mempunyai resolusi yang
jauh lebih tinggi daripada pendahulunya, yaitu 30 meter pada enam saluran spektral
pantulan dan 120 meter pada satu saluran spektral pancaran termal. Pada tahun yang
hampir bersamaan itu pula, beberapa lembaga di Indonesia baru mulai memasang sistem
komputer pengolah citra digital satelit, dan menjadi salah satu negara yang termasuk awal
di Asia Tenggara dalam penerapan sistem pengolah citra digital. Meskipun demikian,
tampak nyata bahwa Indonesia sebagai negara berkembang cenderung tertinggal dalam
pengembangan dan pemanfaatan teknologi.

Memasuki awal sasrawarsa (milenium) ketiga ini, telah beredar banyak jenis satelit
sumberdaya yang diluncurkan oleh banyak negara. Dari negara maju seperti Amerika
Serikat, Kanada, Perancis, Jepang, dan Rusia, hingga negara-negara besar namun dengan
pendapatan per kapita yang masih relatif rendah seperti India dan Republik Rakyat Cina.
Berbagai satelit sumberdaya yang diluncurkan itu menawarkan kemam-puan yang
bervariasi, dari resolusi sekitar satu meter atau kurang (IKONOS, OrbView, QuickBird dan
GeoEye milik perusahaan swasta Amerika Serikat), 10 meter atau kurang (SPOT milik
Perancis, COSMOS milik Rusia, IRS milik India dan ALOS milik Jepang), 15-30 meter (ASTER
yang merupakan proyek kerjasama Jepang dan NASA, Landsat 7 ETM+ milik Amerika
Serikat, yang sayangnya mengalami kerusakan sejak tahun 2003), 50 meter (MOS, milik
Jepang), 250 dan 500 meter (MODIS milik Jepang) hingga 1,1 km (NOAA-AVHRR milik
Amerika Serikat).

Penginderaan jauh sekarang tidak hanya menjadi alat bantu dalam menyelesaikan masalah.
Begitu luasnya lingkup aplikasi penginderaan jauh sehingga dewasa ini bidang tersebut telah
menjadi semacam, kerangka kerja (framework) dalam menyelesaikan berbagai masalah
terkait dengan aspek ruang (lokasi, area), lingkungan (ekologis) dan kewilayahan (regional).
Perkembangan ini meliputi skala sangat besar (lingkup sempit) hingga skala sangat kecil
(lingkup sangat luas). Gambar 1.4 memberikan deksripsi visual tentang hubungan antara
bidang aplikasi dengan resolusi spasial (kerincian ukuran atau detil informasi terkecil yang
diekstrak) dan resolusi spasial (kerincian informasi dari sisi frekuensi perekaman atau
observasi ulang).

Penginderaan jauh di awal perkembangannya berasosiasi dengan aplikasi


militer, karena gambaran wilayah yang dapat disajikan secara vertikal mampu
memberikan inspirasi bagi pengembangan strategi perang yang lebih efektif
daripada peta. Efektivitas ini khususnya menyangkut pemantauan posisi dan
pergerakan musuh, serta peluang penyerbuan dari titik-titik tertentu. Kemajuan
teknologi pemotretan yang melibatkan film peka sinar inframerah dekat juga
telah mendukung analisis militer dalam membedakan kenampakan kamuflase
objek militer dari objek-objek alami seperti misalnya pepohonan.

Penggunaan teknologi foto inframerah akhirnya juga dimanfa-atkan untuk


aplikasi pertanian, khususnya dalam konteks perkiraan kerapatan vegetasi,
biomassa dan aktivitas fotosintesis, karena kepekaan pantulan sinar inframerah
dekat ternyata berkaitan dengan struktur interal daun dan kerapatan vertikal
vegetasi. Foto udara inframerah juga terbukti efektif pembedaan objek air dan
bukan air, sehingga pemetaan garis pantai pun sangat terbantu oleh teknologi
ini.