Anda di halaman 1dari 12

Metode pemasangan meter induk

1. Umum
Beton harus merupakan campuran dari semen, agragat halus, agregat kasar dan air, dengan
perbandingan sedemikian sehingga dalam beton yang dihasilkan, jumlah semen yang terdapat di
dalamnya minimum sesuai dengan persyaratan dalam spesifikasi.
Hasil akhir pekerjaan harus berupa beton yang baik, padat dan tahan lama serta memiliki kekuatan
dan sifat-sifat lai sebagaimana disyaratakan.
Perbandingan antara agregat halus dengan agregat kasar tergantung dari gradasi bahannya, tetapi
jumlah agragat halus harus selalu minimum dengan ketentuan bahwa bila dicampur dengan semen
akan menghasilkan adukan yang cukup untuk mengisi ruang-ruang/rongga-rongga diantara agragat
kasar dan terdapat sedikit sisa untuk finishing.
Untuk menjamin kekuatan dan ketahanan beton yang optimal, jumlah air yang dipakai dalam adukan
harus minimum sehingga menghasilkan kemudahan untuk dikerjakan dan konsisitensi yang sesuai
dengan kondisi dan cara pengecoran beton.
Semua bahan pengujian dan lain-lain yang diuraikan dalam spesifikasi ini menikuti British Standart
yang telah diterapkan dengantujuan menetapkan suatu standart yang dapat diterima.
Standard lokal atau standar lainnya dapat juga diterapkan asal sudah disetujui oleh Direksi sebagai
setara.

2. Bahan Bangunan Secara Umum


Semua bahan harus merupakan mutu terbaik yang tersedia dan sesuai dengan ”Peraturan Umum
Bahan Bangunan Indonesia (NI-3)”, British Standard yang relevan atau yang setara.
Kontraktor harus menyediakan contoh dari semua bahan yang akan dipakai untuk pekerjaan beton
untuk memperoleh persetujuan dari direksi dan tidak boleh memesan bahan-bahan tersebut dalam
jumlah besar sebelum diberikan persetujuan untuk pemakaian tiap bahan.
Direksi akan menahan contoh-contoh bahan yang sudah disetujui sebagai patokan, pengiriman-
pengiriman bahan selanjutnya akan dicek kesesuaiannya dengan contoh tersebut, tidak boleh
melakukan penyimpangan yang berarti terhadap contoh yang sudan disetujui, tanpa persetujuan
dari direksi.
Semua bahan yang ditolak oleh direksi harus segera disingkirkan dari lapangan atas biaya.

3. Semen
Semen harus berupa Semen Portland ( PC ) biasa yang sesuai dengan Pedoman Pekerjaan Beton
sebagaimana dinyatakan dalam PPB/SKSNI T15-1991-03 atau British Standard No. 12: 1958 untuk
kelas I – Z475. Semua semen harus berasal dari pabrikan yang sudah disetujui oleh Direksi. Bilamana
dikehendaki, harus memberikan pada direksi, satu copy sertifikat pengujian dari pabrikan yang
menyatakan bahwa semen yang dikirim sudah diuji dan dianalisa serta dalam segala hal sesuai
dengan standar.
Semua semen harus diangkut dan disimpan dalamtempat yang tidak tembus air serta dilindungi dari
kelembaban sampai saat pemakaian.
Direksi berhak untuk menolak semen yang terbukti tidak memuaskan, sekalipun sudah terdapat
sertifikat dari pabrikan.
Kontraktor harus menyediakan dan memberikan gudang-gudang di tempat yang sesuai untuk
penyimpanan dan menangani semen.
Gudang-gudang tersebut harus benar-benar kering, berventilasi baik, tidak tembus air dan
berkapasitas cukup serta berlantai minimum harus 30 cm diatas tanah atau diatas air yang mungkin
tergenang di lantai.
Ketika diangkut ke lapangan dengan lori/gerobak, semen harus ditutup dengan terpal atau bahan
penutup lain yang tidak tembus air.
Semen harus segera mungkin digunakan setelah dikirim tiap semen yang menurut pendapat direksi
sudah rusak atau tidak sesuai lagi akibat penyerapan air dari udara atau dari manapun, harus ditolak
dan disingkirkan dari lapangan atas biaya. Semen-semen yang berlainan jenis harus disimpan dalam
gudang terpisah. Semen-semen harus disimpan menurut pangiriman sedemikian sehingga yang
dikirim lebih dahulu dapat dipakai.

4. Agregat
Agregat harus sesuai dalam segala hal dengan PBB/SKSNI T15-1991-03, Bagian 2 atau B.S. No. 852 :
1965.
Agregat kasar adalah agregat yang bertahap pada saringan 5 mm dan agregat halus adalah agregat
yang lolos saringan 5 mm.
Untuk struktur atas dan beton tumbuk, agregat kasarnya harus bergradasi dari 38 mm-5 mm.
Sebelum pembetonan dimulai, sejumlah contoh tiap ukuran dan jenis agregat harus diserahkan
kepada direksi untuk disetujui. Dari tiap jumlah tersebut harus mengambil dua contoh yang
representatif dan mengadakan analisa gradasi serta pengujian lain sebagaimana diperintahkan oleh
direksi. Semuanya harus sesuai dengan British Standard No. 812 : 1968 atau yang setara.
Bila agragat yang disetujui oleh Direksi sudah terpilih, harus mengusahakan agar seluruh pemasukan
untuk tiap bahan berasal dari satu sumber yang disetujui untuk menjaga agar mutu dan gradasi
dapat dipertahankan pada seluruh pekerjaan.

5. Air
Air sebagai bahan campuran beton harus bersih, bebas dari unsur-unsur atau kotoran yang dapat
mempengaruhi daya pengikatan semen.
Direksi dapat meminta agar dilakukan pengujian kimia setiap saat dan biaya pengujian ini
dibebankan pada Kontraktor.

6. Penolakan Beton
Jika pengujian kekuatan tekan dari suatu kelompok kubus uji gagal mencapai standar yang
ditetapkan, maka direksi berwenang untuk menolak seluruh pekerjaan beton darimana kubus-kubus
tersebut diambil.
Direksi juga berwenang untuk menolak beton yang berongga, porous atau yang permukaan akhirnya
tidak baik. Dalam hal ini kontraktor harus menyingkirkan beton yang ditolak tersebut dan
menggantinya menurut instruksi dari Direksi sehingga hasilnya menurut penilaian direksi sudah
memuaskan.

7. Pengukuran Beton
Semua bahan untuk beton harus ditetapkan proporsinya menurut berat, kecuali air yang boleh
diukur menurut volume. Agregat halus dan kasar diukur secara terpisah dengan alat perimbangan
yang disetujui , yang memenuhi ketepatan + 1 %. Pengukuran volume dapat diijinkan asal disetujui
oleh Direksi. Peralatan yang dipakai untuk menimbang semua bahan dan mengukur air yang
ditambahkan serta metoda penentuan kadar air harus sudah disetujui oleh direksi sebelum beton di
cor.

8. Pengadukan Beton
Beton harus diaduk ditempat yang sedekat mungkin dengan tempat pengecoran. Pengadukan harus
memakai mixer yang digerakkan dengan daya yang tidak kontinyu serta mempunyai kapasitas
minimum 1 m3.
Jenisnya harus disetujui oleh direksi dan dijalankan dengan kecepatan sebagaimana dianjurkan oleh
pabrikan.
Pengaturan, pengangkutan, pengukuran dan pengadukan bahan beton harus mendapat persetujuan
dari direksi bila mungkin, harus diatur sedemikian sehingga seluruh operasi dapat dilihat dari suatu
titik dan diawasi serta dicek oleh seorang pengawas.
Pengadukan beton dengan tangan tidak diijinkan, kecuali jika sudan disetujui oleh direksi untuk
mutu beton kelas III.
Pengadukan harus sedemikian sehingga bahan beton tersebar merata ke seluruh massa, tiap partikel
terbungkus mortar dan mampu menghasilkan beton padat yang homogen tanpa adanya air yang
berlebihan.

9. Pengangkutan dan Pengecoran Beton


Pengecoran beton di bagian manapun tidak boleh dimulai sebelum direksi memeriksa dan
menyetujui bekisting, penulangan, anker-anker, plastik konus dan lain-lain dimana beton akan
dicorkan.
Pengadukan beton (mixer) harus dikeluarkan dalamsatu operasi menerus dan beton harus diangkut
tanpa terjadi seagregasi komponen-komponennya.
Beton harus diangkut dalam ember yang bersih dan tidak tembus air atau gerogak dorong. Metoda
pengangkutan yang lain dapat dipakai asalkan sudah mendapat persetujuan dari Direksi dan harus
tepat mengikuti instruksi terinci yang diberikan untuk maksud tersebut. Alat-alat yang dipakai untuk
mengangkut dan mencor beton harus dibersihkan dan dicuci setiap hari setelah selesai bekerja dan
bilamana pengecoran dihentikan selama lebih dari 30 menit. Semua beton yang diaduk dilapangan
harus ditempatkan pada posisi akhirnya dan dipadatkan dalam waktu 40 menit setelah ditambahkan
dalam mixer.
Pada umumnya beton tidak boleh dijatuhkan bebas dari ketinggian lebih dari 1.50 m, tetapi jika
bagian pekerjaan tertentu memerlukan agar beton dijatuhkan dari tempat tinggi, maka harus dijaga
agar aliran beton tidak terputus-putus. Seluruh operasi ini harus mendapat persetujuan dari direksi.
Beton harus ditempatkan selapis demi selapis dengan tebal tiap lapis tidak lebih dari 60 cm dan
dipadatkan sebagaimana diuraikan di bawah tanpa terjadi segregasi komponen-komponennya.
Pengecoran suatu unit atau bagian pekerjaan harus dilaksanakan dalam satu operasi menerus atau
hingga mencapai sinar yang ditentuka. Beton dan penualangan yang menonjol tidak boleh diganggu
dengan cara apapun sampai sekurangnya empat puluh delapanjam sesudah beton dicor, kecuali jika
diperoleh ijin tertulis dari direksi.
Semua beton garus dicorkan pada siang hari, pengecoran bagian manapun tidak boleh dimulai jika
tidak dapat diselesaikan dalam siang hari, kecuali jika tertulis dari direksi untuk pengerjaan melam
hari. Ijin demikian tidak akan diberikan jika tidak menyediakan sistem penerangan yang memeadai
yang disetujui oleh Direksi. Harus membuat catatan lengkap mengenai tanggal, waktu dan kondisi
pengecoran beton pada tiap bagian pekerjaan. Catatan ini harus tersedia untuk diperiksa oleh direksi
setiap saat.

10. Pemadatan Beton


Beton harus dipadatkan seluruhnya dengan memakai vibrator mekanis yang dioperasikan oleh
tenaga ahli, berpengalaman dan terlatih. Hasil pekerjaan beton harus berupa masa yang seragam,
bebas dari rongga, segregasi dan sarang lebah (honey comg), memperlihatkan permukaan yang rata
ketika bekisting dibuka dan mempunyai kepadatan yang mendekati kepadatan kubu uji.
Vibrator harus bertipe ”rotary out of balance” ( berputar diluar kesinambungan ) dengan frekwensi
tidak kuran dari 8.000 putaran per menit dan mampu menghasilkan percepatan sebesar 69 pada
beton yang disentuhnya.
Harus diperhatikanagar semua bagian beton terkena vibrasi tanpa timbul segregasi agregat akibat
vibrasi yang berlebihan. Vibrator tidak boleh langsung mengenai penulangan terutama jika
penulangan menerus pada beton yang sudah mulai mengeras. Jumlah vibrator yang dipakai dalam
satu pengecoran harus sesuai dengan laju pengecoran.
Juga harus menyediakan sekurang-kurangnya satu vibrator cadangan untuk dipakai bila terjadi
kerusakan.

11. Lantai Kerja


Beton bertulang tidak boleh diletakkan langsung di atas permukaan tanah, kecuali jika ditetapkan
lain maka harus dibuat lantai kerja setebal 10 cm minimum, kelas III, diatas tanah/urugan sebelum
tulangan beton yan ditempatkan.

12. Spesi Semen (Cement Mortar )


Spesi harus terdiri dri satu bagian semen berbanding sejumlah bagian agregat halus yang sudah
ditetapkan dan ditambah dari air bersih sedemikian sehingga dihasilkan campuran akhir yang
konsistensi plastisnya disetujui oleh direksi. Spesi harus diaduk pada suatu landasan kayu atau logam
dalam jumlah kecil menurut keperluah dan setiap spesi yang sudah mulai mengeras atau telah
dicampur dalam waktu lebih dari 30 menit tidak boleh dipakai dalam pekerjaan. Spesi yang sudah
mengeras sebagian tidak boleh diolah lagi untuk dipakai.

13. Perlindungan dan Pengeringan Beton


Semua permukaan yang terbuka harus dilindungi dari matahari dan semua beton harus dijaga agar
tetap lembab dengan cara dibasahi selama tujuh hari sekurang-kurangnya setelah pengecoran.
Perlindungan diberikan dengan cara menutupi dengan pasir basah sekurang-kurangnya setebal 5 cm,
atau dengan kantong-kantong goni basah.
Permukaan-permukaan yang baru saja dicor harus dilindungi dari hujan maupun dari pengaruh-
pangaruh lain yang dapat merusak permukaan yang lunak sebelum terjadi pengerasan. Harus
menjaga agar pekerjaan beton yang baru selesai tidak diberi beban yang intensitasnya dapat
menimbulkan kerusakan.
Setiap kerusakan yang timbul akibat pembebanan yang terlalu dini atau pembebanan berlebih harus
diperbaiki oleh biaya sendiri hingga memuaskan direksi.
14. Pekerjaan Permukaan Beton Dengan Sendok Semen (Trowelling)
Bilamana dilaksanakan perataan permukaan atas dari beton yang dicor setempat, permukaan yang
dihasilkan harus datar dengan hasil akhir yang rata tetapi bertekstur kasar sebelum pengerasan
pertama mulai, permukaan tersebut harus diratakan lagi dengan sendok dimana perlu untuk
menutup retakan-retakan dan mencegah timbulnya lelehan yang berlebihan pada permukaan beton
baru yang terbuka.

15. Siar-Siar Konstruksi


Semua siar konstruksi dalam beton harus dibentuk rata horizontal atau vertikal. Siar-siar tersebut
harus berakhir pada bekisting yang kokoh yang ditunjang dengan baik, dibor guna melewati
penulangan.
Bila pekerjaan pengecoran ditunda sampai beton yang sudah dicor mulai mengeras, maka dianggap
terdapat siar konstruksi. Jika diperlukan siar konstruksi ditempat yang lain dari pada yangtelah
disetujui, karena terjadi kerusakan alat atau alasan lain yang tak terduga, harus disediakan penopang
tegak lurus pada garis tegangan-tegangan utama, tetapi jika lokasinya dekat tumpuan suatu pelat
atau balok, atau ditempat lain yang dianggap tidak menguntungkan Direksi, maka beton yang sudah
dicor harus dipecah kembali dan disingkirkan sehingga dicapai suatu lokasi yang cocok untuk siar
konstruksi sebagaiamana disetujui direksi.
Pengecoran beton dilaksanakan menerus dari satu siar ke siar berikutnya, tanpa memperhatikan
jam-jam istirahan dan makan.
Siar-siar konstruksi pada permukaan-permukaan yang terbuka harus sungguh-sungguh horizontal
atau vertikal dan jika diperlukan dipasang juga beading di dalam dinding bekisting pada permukaan
terbuka untuk menjamin penampilan siar yang memuaskan sebelum menempatkan beton baru pada
beton yang sudah mengeras, permukaan siar beton yang sudah dicor harus dibersihkan seluruhnya
dari benda-benda asing atau serpihan-serpihan. Jika beton kurang dari 3 hari umurnya, permukaan
tersebut harus disiapkan dengan penyikatan seluruhnya, tetapi jika umumnya sudah lebih dari 3 hari
atau sudah terlalu keras, permukaan tersebut harus dicetak secara ringan atau diembus dengan
pasir (sandblasted) untuk memperlihatkan agregat. Setelah permukaan tersebut dibersihkan dan
disetujui oleh direksi bekisting akan diperiksa dan dikencangkan.

16. Siar Kontraksi ( Penyusutan )


Siar-siar kontraksi harus dikerjakan sebagaimana ditetapkan pada gambar atau spesifikasi. Jenis seal,
bila ada harus diserahkan untuk disetujui oleh tenaga ahli/direksi.

17. Bekisting
Semua bekisting harus dirancang dan dibuat hingga dinilai sesuai oleh direksi. Harus menyerahkan
rancangannya untuk disetujui, dalam jangka waktu yang cukup sebelum pekerjaan dimulai. Semua
bekisting harus diperkuat dengan klam dari balok kecil dan harus yang kuat serta cukup jumlahnya
untuk menjaga agar tidak terjadi distorsi ketika beton dicorkan, dipadatkan dan mengeras.
Bekisting dari kayu dan triplex 3 mm harus dibuat dari kayu yang sudah diolah dengan baik. Semua
sambungan harus cukup kencang agar tidak terjadi kebocoran.
Agar beton tidak menempel pada bekisting bagian permukaan dalam bekisting diberi selapis minyak
yang jenisnya sudah disetujui sebelum beton dicorkan. Minyak pelumas baik yang sudah atau belum
dipakai tidak boleh dipakai untuk maksud ini. Harus diperhatikan agar besi tulangan tidak terkena
bahan pelapis semacam ini.
Pengikat baja untuk di dalam atu blok antara ( sapcer ) yang sudah disetujui boleh dipakai. Bagian
dari pengikat atau pengantara yang ditanam permanen dalam beton sekurang-kurangnya harus
berjarak 5 cm dari permukaan akhir beton. Setiap lubang dalam permukaan beton yang timbul
akibat pengikat atau pengantara harus ditutup dengan raih segera setelah bekisting dibuka dengan
spesi semen yang campuran serta konsistensinya sama dengan mutu beton induknya.
Semua permukaan beton yang terbuka harus licin dan halus maka bekisting harus dilapisi dengan
triplek bermutu tinggi yang sudah disetujui Direksi. Pada umumnya bekisting dari kayu lapis tidak
boleh dipakai ulang lebih dari 3 kali. Sebelum memasang kayu bekisting, Direksi akan memilih panil
kayu lapis yang boleh dipakai ulang. Panil kayu lapis yang ditolak oleh direksi harus disingkirkan.
Direksi sama sekali tidak bertanggungjawab atas mutu permukaan akhir setelah memberikan
persetujuan atas bekisting.
Semua sudut kolom dan balok yang terbuka harus diberi alur ( 1,5 cm ) kecuali jika ditetapkan lain
pada gambar.
Bekisting untuk kolom dan dinding harus diberi lubang agar kotoran, debu dan benda lainnya dapat
disingkirkan sebelum beton dicorkan. Beton di bagian mananpun tidak boleh dicorkan sebelum
bekistingnya diperiksa dan disetujui oleh direksi.

18. Pembukaan Bekisting


Permukaan bekisting harus dikerjakan sedemikian sehingga tidak timbul kerusakanpada beton.
Bekisting tidak boleh dibuka sebelum beton mencapai kekuatan yang cukup untuk menahan
tegangan-tegangan yang timbul akibat pembukaan dan jika diperlukan harus membuktikannya
sehingga dianggap baik oleh direksi. Jangka waktu minimum antara pengecoran dan pamadatan
beton dengan pengangkatan bekisting adalah 3 hari, namun demikian hal ini tidak membebaskan
dari kewajibannya untuk menunda pengangkatan bekisting sampai beton mencapai kekuatan yang
memadai. Harus bertanggungjawab dan wajib memperbaiki semua kerusakan yang timbul akibat
pengangkatan bekisting yang terlalu dini, atas biaya sendiri.
Jika setelah pengangkatan bekisting ternyata terdapat ”sarang lebah” pada beton atau cacat lainnya,
harus segera dilaporkan kepada direksi. Perbaikan atau pengerjaan apapun tidak boleh dilakukan
tanpa persetujuan dari Bekisting.
Setelah struktur selesai, semua bekisting harus dibongkar seluruhnya, namun demikian,
pembongkaran tidak boleh dilakukan tanpa adanya persetujuan dari Direksi.

19. Penulangan
Semua baja tulangan harus bebas dari serpihan karat lepas, minyak, gemuk, cat, debu atau zat
lainnya yang dapat mengganggu perletakan yang sempurna antara tulangan dan beton. Jika
diinstruksikan oleh Direksi, baja harus disikat dan dibersihkan sebelum dipakai. Beton tidak boleh
dicorkan sebelum penulangan diperiksa dan disetujui oleh Direksi.

20. Bahan-bahan
Baja tulangan sedang harus BJTP 24 yang sesuai dengan SII 0136 1984, British Standard No. 785 atau
yang setara untuk baja tulangan sedang yang polos. Baja tulangan bertegangan tinggi harus BJTP 40
yang sesuai dengan SII 0136-1984, British Standard No. 4449:1969 atau yang setara untuk baja ulir
bertegangan tinggi.
Tegangan leleh baja tulangan bertegangan tinggi harus minimum 40,4 kg/cm2.
Baja tulangan pabrik harus sesuai dengan bagian yang relevan pada British Standard 4483 : 1969
atau yang setara.

21. Penyimpangan
Baja tulangan harus disimpan di bawah atap yang tahan air dan diberi alas dari muka tanah atau air
yang tergenang serta harus dilindungi dari kemungkinan kerusakan dan karat.

22. Penekukan
Pada tahap awal pekerjaan harus mempersiapkan daftar tekukan (bending schedule) untuk disetujui
Direksi.
Semua baja tulangan harus ditekuk secara tepat menurut bentuk dan dimensi yang diperlihatkan
dalam gambar yang sesuai dengan British Standard 4483 : 1969 atau yang setara dipasang pada
posisi yang tepat seperti diperlihatkan pada gambar sehingga beton deking yang ditetapkandapat
dipenuhi di semua tempat. Baja harus ditekuk atau diluruskan dengan cara yang dapat menimbulkan
kerusakan, tulangan yang mempunyai lengkungan atau tekukan yang tidak sesuai dengan gambar
tidak boleh dipakai.
Harus diperhatikan agar panjang keseluruhan dari tulangan yang mempunyai banyak tekukan, tepat
dan sesudah penekukan dan pemasangan batang baja tetap di tempat tanpa timbul lengkungan atau
puntiran.
Bila diperlukan suatu radius untuk tekuak atau lengkungan, maka dikerjakan dengan sebuah per
yang mempuyai diameter 4 kali besar batang yang ditekuk.

23. Pemasangan
Tulangan harus dipasang dengan tepat pada posisi yang diperlihatkan pada gambar dan harus
ditahan jaraknya dari bekisting dengan memakai dudukan beton atau gantungan logam menurut
kebutuhan, dan pada persilangan-persilangan diikat dengan kawat baja yang dipilar dingin dengan
diameter tidak kurang dari 16 mm, ujung kawat harus diarahkan ke bagian tubuh utama beton. Baja
tidak boleh ditumpu dengan penahan logam yang menonjol sehingga permukaan beton, pada
tumpuan kayu atau kepingan-kepingan agregat kasar.
Bila pengatur jarak dari spesi pra cetak untuk mengatur tebal beton deking sekurang-kurangnya
harus mempunyai kekuatan yang sama dengan kekuatan yang ditetapkan untuk beton yang sedang
dicor dan harus sekecil mungkin.
Blok-blok ini harus dikencangkan dengan kawat yang ditanam di dalamnya dan harus dicelupkan
dalam air sebelum dipakai.
Selama pengecoran berlangsung, seorang pemasang tulangan yang ahli harus berada ditempat
untuk mengecek, menyesuaikan dan memperbaiki tulangan.
Tulangan yang untuk sementara dibiarkan menonjol keluar dari beton pada siar konstuksi atau
lainnya tidak boleh ditekuk selama pengecoran ditunda kecuali diperoleh persetujuan dari Direksi.
Sebelum pengecoran, seluruh tulangan harus dibersihkan dengan teliti dari beton yang sudah
mengering sebagian yang munkin menempel dari pengecoran sebelumnya. Sebelum pengecoran,
tulangan yang sudah dipasang pada tiap bagian pekerjaan harus disetujui oleh Direksi.
Pemberitahuan pada Direksi untuk melakukan pemeriksaan harus disampaikan dengan tenggang
waktu yang cukup.
Jarak minimum dari permukaan suatu barang termasuk sengkang ke permukaan beton terdekat
harus sesuai dengan gambar untuk tiap bagian pekerjaan.
24. Toleransi Untuk Beton yang Tidak Terbuka (Tidak Diekspos)
Posisi bagian-bagian struktur antara lain as-as blok/dinding/pelat harus tepat dalam atas-batas
toleransi 1 cm, tetapi akumulasi toleransi tidak diperbolehkan, Ukuran bagian antara lain pada
potongan-potongan balok/pelat harus tepat dengan toleransi -0,3 cm sampai dengan +0,5 cm.

25. Toleransi Untuk Beton Dengan Muka Halus (Fair Face)


Toleransi untuk beton dengan muka halus adalah 0,6 cm, posisi bagian struktur dan maksimum 0,3
cm untuk ukuran bagian struktur.
Penggeseran papan bekisting pada sinar-sinar tidak boleh melebihi 0,1 cm dan perbedaan garis
sempadan (alignment) bagian struktur harus dalam batas 0,1 % Akumulasi toleransi tidak
diperbolehkan.

26. Komponen-komponen Pracetak


Komponen-komponen dari beton pracetak harus dibentuk menurut gambar dan dibuat dari beton
K225. Permukaan-permukaan yang terbila harus licin dan rata. Tepi-tepi dibulatkan dengan alat yang
sesuai. Radius pembulatan yang dihasilkan harus 1 cm.

27. Pemasangan Kolom-Kolom Pracetak


Kolom-kolom pracetak harus dipasang sedemikian sehingga tidak timbul kerusakan pada kolom.
Sebelum mulai pemasangan kolom, level yang tepat harus ditentukan dengan memakai blok-blok
datar yang dicor pada pondasi, semuanya harus disetujui oleh Direksi.
Posisi kolom yang tepat selama pengerasan spesi dijaga dengan penopang-penopang yang didesain
dengan baik dan dianker pada balok atau pelat pondasi.
Penopang-penopang ini dapat dilepaskan menurut persyaratan kekuatan bahan spesi, tetapi tidak
boleh kurang dari 7 hari setelah spesi diterapkan.
Direksi berhak untuk menolak kolom yang mengalami kerusakan.

28. Pemberian Lapis Permukaan


Lantai permukaan sebagaimana ditunjukkan pada gambar arsitektur harus merupakan master cron
non metallic floor hardener.
Pemberian lapisan harus mengikuti petunjuk dari pabrikan.

29. Kemiringan Pelat Lantai


Semua kemiringan pelat lantai sebagaimana ditunjukkan pada gambar harus dihitung dari tebal
minimum pelat lantai yang diperlukan.
Bagian bawah dari pelat lantai yang miring harus horizontal.

Pasal 11
BESI TULANGAN
1. Umum
a. Bidang Lingkup
Mengadakan, membuat dan memasang semua pembesian tulangan yang tertera digambarkan dan
yang dijelaskan dalam persyaratan ini. Pekerjaannya mencakup pemasangan semua kawat ikat,
jepitan penunjang dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan guna memenuhi ketentuan
persyaratan ini dan akan menghasilkan bangunan beton jadi, sesuai dengan teknik praktis yang
terbaik.

b. Gambar Kerja
Sebelum pembuatan besi tulangan, harus menyiapkan dan menyampaikan kepada Direksi gambar
kerja, diagram pembengkokan, daftar pemasangan. Persetujuan terhadap gambar dagang terbatas
untuk mengikuti secara umum gambar kontrak.
Harus bertanggungjawab akan ketelitian ukuran dan perincian, ukuran dan perincian tersebut harus
diteliti oleh direksi sewaktu pemasangan.
Persetujuan direksi terhadap gambar kerja tersebut tidak membebaskan dari kesalahan-kesalahan
salah satu macam di dalam gambar kerja.

c. Standart
Apabila peraturan lokal tidak memiliki persyaratan yang dapat digunakan, memperinci dan
menempatkan batangan tulangan harus sesuai dengan pedoman standart praktis. (ACI – Designation
318).

2. Bahan
Besi tulangan adalah besi beton polos atau berulir dengan tegangan 2400 kg/cm2 dan harus sesuai
dengan persyaratan PBI, 1971-NI-2 atau JIS-G-3112, Batangan Besi Tulangan Beton ”atau standart
International lainnya yang dapat diterima.

3. Pembuatan
Tualangan harus dibuat seteliti mungkin berukuran seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
Diperhatikan secara khusus tidak menggunakan cincin ( Beugel) yang berkelebihan ukurannya agar
mendapatkan selimut beton (beton dekking)
Tulagan tidak boleh ditekuk atau diluruskan dengan cara yanga akan melukai bahannya. Tulangnya
yang dipanaskan untuk membengkokkan tidak diperbolehkan. Pembengkokan dan penekukan harus
secara dingin, kecuali ditentukan lain dalam gambar atau diperintahkan; dibengkokkan melalui
melingkari sebuah pen berdiameter tidak kurang dari 6 x diameter batangnya, kecuali batangan yang
25 mm lebih, bagaimanapun pen berdiameter yang tidak kurang dari 8 x diameter batangnya.
Batang untuk sengkang ( beugel ) dan pengikat harus dibengkokkan mengelilingi pen yang
berdiameter tidak kurang dari 2,5 kali tebal batang yang terkecil.

4. Pemasangan
Besi tulangan didudukkan secara tidak tepat sesuai dengan gambar, diperkokoh dengan diikatan
kawat beton atau jepitan yang cocok, setiap jarak tertentu, ditunjang atau diberi anatara dengan
bantalan beton atau logam atau dengan gantungan dari logam. Jepitan atau ganjalan dari logam
tidak boleh terpasang berhubungan dengan scuan. Kawat ikat diharuskan ditekuk menghindari
acuan agar menghasilkan selimut beton yang disyaratkan.
a. Sambungan batang
Kecuali lain tertera ditentukan digambarkan, sambungan tulangan vertiakal dalam kolom dan semua
sambungan batangan yang lain harus ada lewatan minimal 64 x diameter batangnya. Panjang
lewatan bagi batang yang beda diameternya berdasarkan diameter yang terbesar. Batang lewatan
dapat dilas sesuai dengan persyaratan lokal.
b. Izin Direksi
Tidak diperbolehkan menutupi besi tulanagan dengan beton sebelum diperiksa oleh Direksi jumlah
dan letak tulangan dan diberi izin melanjutkan dengan pembetonan.
Sebelum Direksidiberi cukup waktu untuk memeriksanya.

5. Pelurusan
Besi tulangannya tidak boleh diluruskan dalam hal ini mencakup pekerjaan pembuatan saluran air
hujan, gorong-gorong dan lain-lain serta perbaikan kembali bangunan/pagar yang terkena proyek.

Pasal 12
PEKERJAAN PEMASANGAN

1. Umum
Semua ukuran dari pekerjaan pasangan harus mengikuti gambar rencana. Apabila ternyata ada
kekurangan-kekurangan dalam gambar rencana tersebut, mak Pemborong harus minta persetujuan
Direksi untuk menetapkannya. Untuk dinding-dinding penahan tanah atau bangunan-bangunan
seperti pelengsengan batu dan sebagaimana harus diberi lubang drainase dengan diameter
sekurang-kurangnya 5,0 cm. Kecuali dinyatakan lain dalam gambar rencana, makalubang-lubang
tersebut harus ditempatkan pada jarak yang merata, yakni berselang ¹,5 m dan diletakkan sedikit
diatas peil pembuangan air. Pekerjaan ini tidak di bayarkan tersendiri tetapi merupakan bagian dari
pekerjaan tembok, atau pasangan lain yang digunakan untuk bagian dari konstruksi tembok penahan
tanah atau pelindung-pelindung erosi.

2. Standar
Semua pekerjaan pasangan harus memenuhi standar sebagai berikut :
a. Peraturan umum untuk Bahan Bangunan NI-3
b. Syarat-syarat untuk kapur Bahan Bangunan NI-7
c. Peraturan Semen Portland Indonesia NI-8
d. Peraturan Bata Merah Bangunan Indonesia NI-10
e. Undang-undang dan Peraturan Pemerintah di bidang Perumahan

3. Bahan – bahan
a. Semen Portland
Semen yang dipakai di sisni adalah dari jenis kualitas yang dipakai pada padapekerjaan beton secara
umum harus memenuhi syarat-syarat yang tertera pada peraturan Semen Portland Indonesia NI-8

b. Pasir
Pasir untuk adukan pasangan harus memenuhi syarat-syarat sbb :
a. Butir-butir pasir harus tajam, keras dan tidak dapat dihancurkan dengan tangan.
b. Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5 %
c. Warna larutan pada pengujian dengan 3% natrium hidroksida, akibat adanaya zat-zat organik tidak
boleh tua dari larutan normal.
d. Bagian yang hancur dari pengergajian dengan larutan jernih natrium sulfat tidak boleh lebih dari
10 %.
e. Jika dipergunakan untuk adukan dengan semen yang mengandung lebih dari 6 % alkali, dihitung
sebagai Natrium Oksida pada pengujian tidak boleh menunjukkan sifat reaktif terhadap alkali.
f. Keteguhan adukan percobaan dibandingkan dengan adukan pembanding yaitu dengan adukan
semen dengan pasir normal tidak boleh kurang dari 65 % pada pengujian selama 7 hari.
g. Pasir laut untuk adukan sama sekali tidak diiperbolehkan.
h. Butir-butir pasir harus apatb melalui ayakan yang berlubang 3 mm.
c. Batu Alam
Untuk pasangan batu alam dipakai batu kali dengan permukaan yang kasar dan ini digunakan untuk
pekerjaan pondasi/talud, dan juga bisa digunakan batu karang. Untuk keperluan ini harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut :
a. Harus cukup keras, besih dan sesuai besarnya serta bentuknya
b. Batu bulat atau batu pecah tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda lapuk.
c. Batu karang harus sebagian besar berwarnaputih atau kuning muda dan tidak hitam, biru atau
kecoklatan-coklatan, tanpa garis-gais kelapukan, mempunyai kepadatan dan warna puth yang
merata.
Pengadukan dan pelaksanaan :
1. Adukan
Semua pasangan batu kali dilakukan dengan ¹ bagian PC (Portland Cement ) dan 4 bagian
pasir ukuran isi untuk setiap campuan )
2. Pelaksanaan
Pondasi pasangan batu kali harus disusun dan dibangun menurut ukuran dan tinggi seperti
ditunjukkan dalam gambar.
d. Bata Merah
Batu merah harus batu biasa dari tanah liat melalui proses pembakaran, dapat digunakan produksi
lokal dengan ukuran nominal 6 cm x 12 cm x 24 cm dan ukuran diusahakan tidak jauh menyimpang.
Batu merah yang dipakai harus berkualitas No. ¹ berwarna merah tua merata tanpa cacat atau
mengandung kotoran. Bata merah minimum harus mempunyai daya tekan ultimate 30 kg/m2 . Blok-
blok semen yang baru dicetak harus dilindungi dari panas matahari dan dirawat selama tidak kurang
dari 10 hari dengan memakai karung basah.
1. Macam Adukan
a. Susunan
1 Bagian PC : 3 Bagian Pasir = Adukan pasangan kedap air
1 Bagian PC : 4 Bagian Pasir = Adukan pasangan tidak terkena air
b. Adukan
Adukan yang akan diaduk harus dengan adukan atau dengan tangan yang dapat disetujui, ditempat
yang bersih. Tidak ada adukan yang telah mulai mengeras dipakai atau menghancurkan kembali
untuk dipakai ulang.

2. Pelaksanaan
Dinding harus dipasang dan dibangun sesuai dengan ukuran, ketebalan dan ketinggian seperti yang
ditunjukkan pada gambar.
Bila harus dipasang dengan ikatan anatara dengan sambungan yang diratakan seperti lajunya
pekerjaan dan tidak ada bagian yang dilaksanakan lebih dari 1 meter pada suatu waktu.

e. Air
Untuk keperluan membuat adukan, air yang disyaratkan dan boleh dipakai seperti yang dipakai
untuk pekerjaan beton.

f. Lain-lain
Bahn-bahan lain yang dapat dipakai untuk pelaksanaan seperti tegel-tegel teraso, keramik dan lain-
lainnya harus sesuai dengan yang disyaratkan oleh Direksi atau seperti yang diisyaratkan pada saat
rapat penjelasan.

4. Adukan
a. Mencampur
Adukan harus dicampur di temapt tertentuyang bersih dari kotoran, mempunyai alas yang rata dan
keras, tidak menyerap airyang sebelumnya harus ada persetujuan dari Direksi. Kalau tidak
ditentukan lain mencampur dan mengaduk boleh dilakukan dengan tangan ( dengan memakai
cangkul dan sebagainya ) sampai memperlihatakan warna adukan merata.

b. Komposisi
Jenis adukan berikut harus dipakai sesuai dengan yang disebutkan dalam gambar atau dalam uraian
dan syarat-syarat ini.

5. Pasangan Batu Merah


a. Pemasangan
Penembokan harus dipilih dan dipasang dengan ukuranseperti pada gambar rencana juga mengenai
tinggi dan tebalnya sebelum pemasangnbatu merah harus dibasahi dulu dengan air untuk menjamin
pelekatan yang lebih baik anatara mortar dan batu merah. Pasangan batu merah dan sebagainya
harus disususn dan diberi jarak minimum 1 cm antara batu merah yang satu dengan yang lain.
Penembokan harus dilaksanakanpada keadaan secar baik ataupun dengan perlindungan yang khusus
dan tiap hari tidak diperbolehkan melaksanakan pasangan dengan tinggi melebihi ¹ m.

b. Mengorek
Semua hubungan harus dikorek paling sedikit 0,5 cm agar daya perekat antar mortar plesteran dan
tembok dapat bekerja dengan sebaik-baiknya.

c. Pelindungan dan Perawatan


Pada saat pemasangan tembok berlangsung dan terbukaterhadap cuaca maka harus di lindungi
terhadap hujan dengan menutupinya bagian atas dari tembok tersebut dengan bahan
pelapispelindung yang disetujui. Tembok tersebut harus dibasahi atau dijaga dengan air untuk
minimum 7 hari setelah pemasangan.

Bogor 09 juli 2018

CV sinar Ciomas

Najmudin