Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA HEMORROID

Dosen Pengampu: Ns. Saelan, M.Kep


Tugas ini di Buat Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pencernaan

Disusun Oleh
Kelompok 2

1. Alifa Dzuhri A. (S16004) 11. Marditia Adi N (S16038)


2. Angesti Dyah T (S16006) 12. Meta Mulyandari (S16040)
3. Baruna Eko S (S16011) 13. Nur Aeni K (S16047)
4. Dian Fatmawati (S16013) 14. Rara Suci R (S16050)
5. Fatimah Zakiyah (S16019) 15. Riska Ayu P (S16052)
6. Fitri Poniasih (S16022) 16. Sari Malak H (S16055)
7. Hana Permata (S16025) 17. Septiana Lestari (S16045)
8. Iin Sekarasari (S16027) 18. Siti zumrotun (S16058)
9. Intan Anjasmara (S16032) 19. Taufiqoh Rizqi A (S16059)
10. Kiki Novitasari (S16034) 20. Yuantika K D (S16064)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Hemorrhoid adalah varikositis akibat dilatasi (pelebaran) pleksus vena
hemorrhodialis interna yang fisiologis, sehingga tidak begitu berbahaya.
Meskipun hemorrhoid tidak berbahaya, akan tetapi bila pelebaran pembuluh
darah vena bertambah luas, maka kita tetap perlu mencegahnya. Pencegahan
dengan cara memperbanyak makan makanan yang berserat tinggi, seperti
buah-buahan dan sayur-sayuran segar. Selain itu juga minum air putih yang
banyak (1 jam 1 gelas air putih). Dengan minum air putih yang banyak dan
makan makanan yang berserat dapat mempermudah defekasi. Apabila buang
air besar lancar, maka hemorrhoid kemungkinan besar tidak akan terjadi.
Selain mengonsumsi makanan yang berserat dan banyak minum air putih,
hemorrhoid dapat dicegah dengan cara olah raga teratur, perbanyak jalan
kaki, kurangi berdiri terlalu lama dan duduk terlalu lama, serta istirahat yang
cukup. Penyakit hemoroid sering menyerang usia diatas 50 tahun. Hemoroid
seringkali dihubungkan dengan konstipasi kronis dan kehamilan. Terkadang
dihubungkan dengan diare, sering mengejan, pembesaran prostat, fibroid
uteri, dan tumor rectum. Komplikasi dapat menyebabkan nyeri hebat, gatal
dan perdarahan rectal.

B. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian hemoroid
2. Mengetahui etiologi hemoroid
3. Mengethaui patway hemoroid
4. Mengetahui patofisiologi hemoroid
5. Mengetahui tanda dan gejala hemoroid
6. Mengetahui pemeriksaan penunjang hemoroid
7. Mengetahui penatalaksanaan hemoroid
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Hemoroid adalah Suatu pelebaran dari vena-vena didalam pleksus
hemoroidalis (Muttaqin, 2011). Hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah
vena hemoroidalis dengan penonjolan membrane mukosa yang melapisi
daerah anus dan rectum (Nugroho, 2011).
Hemoroid adalah varises direktum bagian bawah atau anus. Hemoroid
interval berasal dari bagian atas sfingter anal internal ditandai dengan
perdarahan tanpa sakit saat BAB (Broker,2009)

B. Etiologi
1. Peradangan pada usus,seperti pada kondisi colitis ulseratif atau penyalit
crohn.
2. Kehamilan, berhubungan dengan banyak masalah anorektal.
3. Konsumsi makanan rendaj serat.
4. Obesitas.
5. Hipertensi portal.( Mutaqqin,2011)

C. Manifestasi Klinis
1. Perdarahan Keluhan yang sering dan timul pertama kali yakni : darah
segar menetes setelah buang air besar (BAB), biasanya tanpa disertai nyeri
dan gatal di anus. Pendarahan dapat juga timbul di luar wakyu BAB,
misalnya pada orang tua. Perdaran ini berwarna merah segar.
2. Benjolan Benjolan terjadi pada anus yang dapat menciut/ tereduksi
spontan atau manual merupakan cirri khas/ karakteristik hemoroid.
3. Nyeri dan rasa tidak nyaman Dirasakan bila timbul komplikasi thrombosis
( sumbatan komponen darah di bawah anus), benjolan keluar anus, polip
rectum, skin tag.
4. Basah, gatal dan hygiene yang kurang di anus Akibat penegluaran cairan
dari selaput lender anus disertai perdarahan merupakan tanda hemoroid
interna, yang sering mengotori pakaian dalam bahkan dapat menyebabkan
pembengkakan kulit (Lumenta,2006).
D. Patofisiologi
Dalam keadaan normal sirkulasi darah yang melalui vena
hemoroidalis mengalir dengan lancar sedangkan pada keadaan hemoroid
terjadi gangguan aliran darah balik yang melalui vena hemoroidalis.
Gangguan aliran darah ini antara lain dapat disebabkan oleh peningkatan
tekanan intra abdominal. Apabila aliran darah vena balik terus terganggu
maka dapat menimbulkan pembesaran vena (varices) yang dimulai pada
bagian struktur normal di regio anal, dengan pembesaran yang melebihi katup
vena dimana sfingter ani membantu pembatasan pembesaran tersebut. Hal ini
yang menyebabkan pasien merasa nyeri dan feces berdarah pada hemoroid
interna karena varices terjepit oleh sfingter ani.
Peningkatan tekanan intra abdominal menyebabkan peningkatan vena
portal dan vena sistemik dimana tekanan ini disalurkan ke vena anorektal.
Arteriola regio anorektal menyalurkan darah dan peningkatan tekanan
langsung ke pembesaran (varices) vena anorektal. Dengan berulangnya
peningkatan tekanan dari peningkatan tekanan intra abdominal dan aliran
darah dari arteriola, pembesaran vena (varices) akhirnya terpisah dari otot
halus yang mengelilinginya ini menghasilkan prolap pembuluh darah
hemoroidalis. Hemoroid interna terjadi pada bagian dalam sfingter anal, dapat
berupa terjepitnya pembuluh darah dan nyeri, hal ini akan menyebabkan
pendarahan dalam feces. Jumlah darah yang hilang sedikit tetapi apabila
dalam waktu yang lama bisa menyebabkan anemia. Hemoroid eksternaakan
ditandai di bagian luar sfingter anal tampak merah kebiruan, jarang
menyebabkan perdarahan dan nyeri kecuali bila vena ruptur. Jika ada darah
beku (trombus) dalam hemoroid eksternal bisa menimbulkan peradangan dan
nyeri hebat. (Nugroho,2011)
E. Patway
Gambar 2.1 Alur asuhan Keperawatan Pasien Hemoroid

( Muttaqin,2011, Made Sumarwati,2010 )

F. Tanda dan Gejala


1. perdarahan lewat dubur
2. nyeri
3. pembengkakan atau penonjolan di daerah dubur, sekret atau keluar cairan
melalui dubur
4. rasa tidak puas waktu buang air besar
5. dan rasa tidak nyaman di daerah pantat (Merdikoputro, 2006).

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Inspeksi
a. Hemoroid eksterna mudah terlihat terutama bila sudah mengandung
thrombus.
b. Hemoroid interna yang prolap dapat terlihat sebagai benjolan yang
tertutup mukosa.
c. Untuk membuat prolap dengan menyuruh pasien mengejan.
2. Rectal touch
a. Hemoroid interna biasanya tidak teraba dan tidak nyeri, dapat teraba
bila sudah ada fibrosis
b. Rectal touch diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma
recti.
c. Anoscopi
Pemeriksaan anoscopi diperlukan untuk melihat hemoroid interna yang
belum prolap. Anoscopi dimasukkan dan dilakukan sebagai struktur
vaskuler yang menonjol ke dalam lubang.

H. Penatalaksanaan
Hemorrhoid merupakan sesuatu yang fisiologis, maka terapi yang
dilakukan hanya untuk menghilangkan keluhan, bukan untuk menghilangkan
pleksus hemorrhoidalis. Pada hemorrhoid derajat I dan II terapi yang
diberikan berupa terapi lokal dan himbauan tentang perubahan pola makan.
Dianjurkan untuk banyak mengonsumsi sayur-sayuran dan buah yang banyak
mengandung air. Hal ini untuk memperlancar buang air besar sehingga tidak
perlu mengejan secara berlebihan. Pemberian obat melalui anus
(suppositoria) dan salep anus diketahui tidak mempunyai efek yang berarti
kecuali sebagai efek anestetik dan astringen. Selain itu dilakukan juga
skleroterapi, yaitu penyuntikan larutan kimia yang marengsang dengan
menimbulkan peradangan steril yang pada akhirnya menimbulkan jaringan
parut. Untuk pasien derajat III dan IV, terapi yang dipilih adalah terapi bedah
yaitu dengan hemoroidektomi. Terapi ini bisa juga dilakukan untuk pasien
yang sering mengalami perdarahan berulang, sehingga dapat sebabkan
anemia, ataupun untuk pasien yang sudah mengalami keluhan-keluhan
tersebut bertahun-tahun. Dalam hal ini dilakukan pemotongan pada jaringan
yang benar-benar berlebihan agar tidak mengganggu fungsi normal anus
(Murbawani, 2006).
Ada berbagai macam tindakan operasi. Ada yang mengikat pangkal
hemoroid dengan gelang karet agar hemoroidnya nekrosis dan terlepas
sendiri. Ada yang menyuntikkan sklerosing agen agar timbul jaringan parut.
Bisa juga dengan fotokoagulasi inframerah, elektrokoagulasi dengan arus
listrik, atau pengangkatan langsung hemoroid dengan memotongnya dengan
pisau bedah (Faisal, 2006). Pada hemoroid derajat II dapat dicoba dengan
terapi sklerosing secara bertahap. Apabila terapi sklerosing tidak berhasil
dapat dilakukan tindakan operasi.
Pada derajat III dapat dicoba dengan rendaman duduk. Cara lain yang
dapat dilakukan adalah operasi, bila ada peradangan diobati dahulu. Teknik
operasi pada hemoroid antara lain :
a. Prosedur ligasi pita-karet.
Prosedur ligasi pita-karet dengan cara melihat hemoroid melalui
anoscop dan bagian proksimal diatas garis mukokutan di pegang dengan
alat. Kemudian pita karet kecil diselipkan diatas hemoroid yang dapat
mengakibatkan bagian distal jaringan pada pita karet menjadi nekrotik
setelah beberapa hari dan lepas. Tindakan ini memuaskan pada beberapa
pasien, namun pasien yang lain merasakan tindakan ini menyebabkan
nyeri dan menyebabkan hemoroid sekunder dan infeksi perianal.
b. Hemoroidektomikriosirurgi
Metode ini dengan cara mengangkat hemoroid dengan jalan
membekukan jaringan hemoroid selama beberapa waktu tertentu sampai
waktu tertentu. Tindakan ini sangat kecil sekali menimbulkan
nyeri.Prosedur ini tidak terpakai luas karena menyebakan keluarnya rabas
yang berbau sangat menyengat dan luka yang ditimbulkan lama sembuh.
c. LaserNd:YAG
Metode ini telah digunakan saat ini dalam mengeksisi hemoroid,
terutama hemoroid eksternal. Tindakan ini cepat menimbulkan
nyeri.Hemoragi dan abses jarang menjadi komplikasi pada periode pasca
operatif.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Hemoroid atau ”wasir (ambeien)” merupakan vena varikosa pada
kanalis ani. Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan oleh
gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Hemoroid sering dijumpai dan
terjadi pada sekitar 35% penduduk berusia lebih dari 25 tahun. Walaupun
keadaan ini tidak mengancam jiwa, namun dapat menimbulkan perasaan yang
sangat tidak nyaman.

B. Saran
Diharapkan seorang perawat agar dapat lebih professional dengan
pengatahuan dan keterampilan yang di miliki sehingga dapat mendeteksi dini.
Bagi Pasien kasus-kasus yang patologi khususnya dalam kasus hemoroid
DAFTAR PUSTAKA

Brooker,Chris. 2009. Ensiklopedia Keperawatan. EGC. Jakarta.

Carpenito, Moyet dan Lynda Juall. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Alih
Bahasa Yasmin Asih. Editor Monika Ester. Edisi 10. Jakarta: EGC,
2006.

Grace, Pierce A. dan Neil R. Borley. At a Glance Ilmu Bedah . Alih Bahasa dr.
Vidia Umami. Editor Amalia S. Edisi 3. Jakarta: Erlangga, 2006.

Kurnia, Hendrawan. Kiat Jitu Tangkal Penyakit Orang Kantoran. Yogyakarta


Best Publisher, 2009.
Lumenta, Nico A., Kenali Jenis Penyakit dan Cara Penyembuhannya Manajemen
Hidup Sehat. Jakarta : Gramedia, 2006.

Mitchell, Kumar,Abbas,Fausto. buku Saku Dasar Patologis Penyakit. Alih


Bahasa Andry Harsono. Editor Inggrid Tania, et al. Edisi 7. Jakarta:
EGC, 2008.
Merdikoputro, D, 2006, “Jalan Kaki Cegah Wasir”, www. suaramerdeka. com.
Diakses tanggal 15 mei 2018. Jam 16.13 WIB.
Faisal, 2006, “Wasir”, www. medika. blogspot. com.
Diakses tanggal 15 mei 2018. Jam 16.13 WIB.

Muttaqin, Arif Dan Kumala Sari. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan


Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika, 2011.

Nugroho, Taufan. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, Penyakit


Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika, 2011.

Sjamsuhidajat, R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC, 2010.