Anda di halaman 1dari 9

PEKERJAAN PERSIAPAN

1. Persyaratan Bahan

a. Untuk penampungan air kerja disiapkan drum penampung, air harus memenuhi kualitas
yang ditentukan dalam PBI 1991.
b. Untuk papan nama proyek digunakan tiang dari kayu dan triplek dicat putih.
c. Bahan bouwplank dipakai tiang kayu meranti atau sengon 5/7 dan papan meranti atau
sengon ukuran 2/20 cm.
d. Untuk alat-alat kerja berupa kotak adukan, kotak takaran, gerobak dorong dan lain-lain
digunakan bahan kayu setempat.
2. Pedoman Pelaksanaan

a. Pengadaan air untuk pelaksanan pekerjaan


Pengadaan air untuk pelaksanaan pekerjaan diambil dari sumber air terdekat, kemudian
ditampung dalam drum-drum yang telah disediakan. Kebutuhan air ini harus disediakan
dalam jumlah yang cukup selama pelaksanaan pekerjaan. Air harus memenuhi syarat yang
tercantum dalam PBI NI 2.
b. Pembuatan papan nama proyek
Membuat papan nama proyek dari papan dengan ukuran 200 x 100 cm. Didirikan tegak
diatas kayu 5/7 cm setinggi 240 cm. Diletakkan pada tempat yang mudah dilihat umum.
Papan nama proyek memuat
c Pemasangan Bouwplank
Tiang Bouwplank harus terpasang kuat. Papan diketam halus dan lurus pada sisi atasnya dan
dipasang waterpass (timbang air) dengan sudut-sudutnya harus siku.

PASAL 4
PEKERJAAN STAKING OUT
1. Untuk menentukan posisi dan ketinggian rencana bangunan di lapangan Pemborong harus
melakukan pengukuran di lapangan secara teliti dan benar, sesuai dengan referensi Bench
Mark atau titik tetap di lapangan seperti ditunjukan dalam gambar atau atas petunjuk
Direksi.
2. Pengukuran untuk penentuan posisi dilakukan dengan peralatan yang mempunyai presisi
tinggi dengan metode trianggulasi dan hasilnya disampaikan ke Direksi untuk mendapatkan
persetujuan.
3. Dalam hal terdapat perbedaan rencana gambar dan hasil pengukuran yang dilaksanakan
pemborong dengan kenyataan yang ada di lapangan, maka sebelum melanjutkan pekerjaan
yang mungkin di pengaruhi perbedaan tersebut Pemborong harus melaporkan hal ini kepada
Direksi untuk mendapatkan keputusan dan dinyatakan dalam Berita Acara.
4. Keputusan akan hasil pengukuran oleh Pemborong akan didasarkan atas keamanan
konstruksi dan kelancaran operasional penggunaan bangunan tersebut.
PASAL 5
PATOK-PATOK REFERENSI, BOUPLANK dan PENGUKURAN
1. Direksi akan menetapkan 1 (satu) “Bench Mark” sebagai referensi yang ditetapkan di
lapangan. Bila Bench Mark belum ada maka pemborong berkewajiban membuat Bench Mark
sesuai dengan petunjuk Direksi.
2. Pemborong harus atau wajib membuat Bowplank dan memasang patok-patok pembantu
sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan untuk menjamin ketelitian bentuk, posisi, arah
elevasi dan lain-lain, yang harus dipelihara keutuhan letak dan ketinggiannya selama
pekerjaan berlangsung.
3. Sebelum pekerjaan dimulai patok-patok pembantu, Bowplank harus disetujui Direksi.
Patok-patok dan referensi lainnya tidak boleh disingkirkan sebelum diperintahkan oleh
Direksi.

PASAL 6
DAERAH KERJA DAN JALAN MASUK
Pemborong akan diberikan daerah kerja untuk pelaksanaan pekerjaan ini. Lokasi tersebut dapat
diperoleh dengan cara sewa/pinjam berdasarkan ketentuan yang berlaku. Harus membatasi
operasinya di lapangan yang betul-betul diperlukan untuk pekerjaan tersebut.
Tata letak yang meliputi jalan masuk, lokasi penyimpanan bahan bangunan dan jalur
pengangkutan material dibuat oleh Pemborong dengan persetujuan Direksi.

PASAL 7
MATERIAL
1. Material yang dipakai dalam pekerjaan-pekerjaan ini diutamakan produksi dalam negeri yang
memenuhi persyaratan teknis yang ditentukan.
2. Jika pemborong memiliki bahan lain yang akan digunakan selain yang disyaratkan, maka
mutunya minimal harus sama dengan yang diisyaratkan dalam Dokumen Lelang, sebelum
pemesanan bahan harus diberitahu pada Direksi yang meliputi jenis, kualitas dan kuantitas
bahan yang dipesan untuk mendapatkan persetujuan.
PASAL 11
UMUM
1. Semua bahan-bahan yang akan dipakai dalam pekerjaan ini harus memenuhi ketentuan-
ketentuan umum yang berlaku di Indonesia, mengenai bahan bangunan serta persyaratannya
akan dicantumkan di bawah ini.
2. Bilamana akibat satu dan lain hal bahan yang diisyaratkan tidak dapat diperoleh.
Pemborong boleh mengajukan usul perubahan kepada Direksi sepanjang mutunya paling
tidak sama atau lebih tinggi dari apa yang diisyaratkan.
3. Direksi akan menilai dan memberikan persetujuan secara tertulis sepanjang memenuhi
persayaratan teknis dan Pemborong diwajibkan untuk sedapat mungkin mempergunakan
bahan-bahan produksi dalam negeri.
PASAL 12
SEMEN
1. Kecuali ditentukan oleh Pengawas semen yang digunakan semen type I sesuai ASTM C 150,
dan segala sesuatu harus mengikuti ketentuan dalam SK-SNI T-15-1991-03. Semen yang
digunakan harus merupakan produk dari suatu pabrik yang telah mendapat persetujuan
Pengawas terlebih dahulu. Tidak boleh memakai semen (PC) yang sudah mengeras
(Sweping).
2. Kontraktor harus menunjukkan sertifikat dari produsen dari setiap pengiriman semen, yang
menunjukkan produk tadi telah memenuhi suatu test standart yang lazim digunakan untuk
material.
3. Pengawas berhak untuk memeriksa semen yang disimpan dalam gudang pada setiap waktu
sebelum dipergunakan dan dapat menyatakan untuk menerima atau tidak semen-semen
tersebut.
4. Kontraktor harus menyediakan tempat / gudang penyimpanan semen pada tempat-tempat
yang baik sehingga tersebut senantiasa terlindung dari kelembaban atau keadaan cuaca lain
yang merusak, terutama sekali tempat lantai penyimpanan tadi harus kuat dan berjarak
minimal 30 cm dari permukaan tanah.
5. Semen dalam kantong-kantong semen tidak boleh ditumpuk lebih tinggi dari dua meter.
Tiap-tiap menerima semen harus disimpan sedemikian rupa sehingga dapat dibedakan
dengan penerimaan-penerimaan sebelumnya. Pengeluaran semen harus diatur secara
kronologis sesuai dengan penerimaan. Kantong-kantong semen yang kosong harus segera
dikeluarkan seluruhnya.
6. Kontraktor harus mengambil pengelola yang cakap, yang mengawasi gudang-gudang semen
dan mengadakan catatan-catatan yang cocok dari penerimaan dan pemakaian semen
seluruhnya.
7. Tindasan dari catatan-catatan harus disediakan untuk Pengawas bila dikehendaki, yaitu
jumlah semen yang digunakan selama hari itu ditiap bagian kerja.

PASAL 13
AIR KERJA
1. Air yang digunakan untuk bahan beton, adukan pemasangan dan grouting, bahan pencuci
agregat dan untuk curing beton, harus air tawar yang bersih dari bahan-bahan yang
berbahaya bagi penggunaannya seperti minyak, alkali, sulfat, bahan organis, garam, silt
(lanau), kadar silt (lanau) yang terkandung dalam air tidak boleh lebih dari 2% dalam
perbandingan beratnya. Kadar sulfat maksimum yang diperkenankan adalah 0,5% atau 5
gram / liter, sedangkan kadar chloor maksimum 1,5% atau 15 gram / liter.
2. Kontraktor tidak diperkenankan menggunakan air dari rawa, air laut, air payau dan sumber
air yang berlumpur. Tempat pengambilan harus dapat menjaga kemungkinan terbawanya
material-material yang tidak diinginkan tadi. Sedikitnya harus ada jarak vertikal 0,5 meter
dari permukaan atas air kesisi tempat pengambilan tadi.
3. Apabila diadakan perbandingan test beton antara beton yang diaduk dengan aquadest
dibandingkan dengan beton yang diaduk menggunakan air dari satu sumber dan hasilnya
menunjukkan indikasi ketidak pastian dalam mutu beton walaupun telah digunakan semen
yang sama telah disetujui, maka air dari sumber tadi tidak dapat dipakai bila hasil
perbandingan test tadi menunjukkan harga-harga yang berbeda lebih kecil dari 10 persen.
Test tadi dapat dibandingkan dari mutu kekuatan, dan juga dari waktu pengerasannya.
Dalam keadaan ditolak ini, pemborong diwajibkan mencari sumber lain yang lebih baik dan
dapat diterima dan disetujui Pengawas.
PASAL 14
AGREGAT HALUS

1. Didalam spesifikasi ini dipakai bermacam-macam jenis untuk pekerjaan bangunan yang
ditetapkan sebagai berikut :
a. Pasir buatan : Pasir yang dihasilkan dari mesin pemecah batu.
b. Pasir alam : Pasir yang disediakan oleh kontraktor dari sungai atau pasir alam yang didapat
dari persetujuan Direksi
c. Pasir paduan : Paduan dari pasir buatan dan pasir alam dengan perbandingan campuran
sehingga mencapai gradasi ( susunan butiran ) yang dikehendaki
2. Semua pasir alam yang dibutuhkan untuk pekerjaan pembangunan harus disediakan oleh
kontraktor dan dapat diperoleh dari sungai atau tempat lain sumber alam yang disetujui. Jika
pasir alam didapat dari sumber-sumber yang tidak dimiliki atau tidak dikuasai kontraktor,
kontraktor harus mengadakan persetujuan yang perlu dengan pemiliknya dan harus
membayar semua sewa atau biaya lain yang bersangkutan dengan hal tersebut.
3. Persetujuan untuk sumber-sumber pasir alam tidak dimaksud sebagai persetujuan
keseluruhan untuk semua bahan yang diambil dari alam tersebut, dan kontraktor harus
bertanggung jawab untuk kualitas satu demi satu dari bahan sejenis yang dipakai dalam
pekerjaan.
a. Pasir untuk beton, adukan dan grouting harus meruapakan pasir alam, pasir hasil
pemecahan batu dapat digunakan untuk mencampur agar didapat gradasi pasir yang baik.
Pasir yang di pakai harus mempunyai kadar air yang merata dan stabil, dan harus terdiri dari
butiran yang keras, padat, tidak terselaput oleh material lain.
b. Pasir yang ditolak oleh Pengawas, harus segera disingkirkan dari lapangan kerja. Dalam
melaksanakan adukan baik untuk adukan beton, plesteran ataupun grouting, pasir tidak
dapat digunakan sebelum mendapat persetujuan Pengawas mengenai mutu dan jumlahnya.
c. Pasir harus bersih dan bebas dari gumpalan-gumpalan tanah liat, alkali, bahan-bahan
organik dan kotoran-kotoran lainnya yang merusak. Berat substansi yang merusak tidak
boleh lebih dari 5%.
d. Pasir beton harus mempunyai modulus kehalusan butir sesuai dengan persyaratan pada SK-
SNI T-15-1991-03.
PASAL 15
AGREGAT KASAR

1. Agregat kasar untuk beton dapat berupa koral dari alam, batu pecah atau campuran dari
keduanya. Koral yang dipakai harus mempunyai kadar air yang merata dan stabil.
Sebagaimana juga pada pasir, koral keras, padat, tidak poros dan tidak berselaput material
lain. Dalam penggunannya koral harus dicuci terlebih dahulu dan diayak agar dapat gradasi
sesuai dengan yang dikehendaki, mempunyai modulus kehalusan butir antara 6 sampai 7,5
atau bila diselidiki dengan saringan standart harus sesuai dengan SK-SNI T-15-1991-03 dan
material yang halus yaitu yang lebih kecil dari 5 mm harus disingkirkan.
2. Koral yang sudah tersedia tidak dapat langsung digunakan sebelum mendapat persetujuan
dari Pengawas baik mengenai mutu ataupun jumlahnya.
3. Kontraktor diwajibkan memperhatikan pengaturan komposisi material untuk adukan, baik
dengan menimbang ataupun volume, agar dapat dicapai mutu beton yang direncanakan,
memberikan kepadatan maksimum, baik workebilitynya, dan memberikan kondisi
watercement ratio yang maksimum.
PASAL 16
BESI SIKU L30.30.3

1. Baja tulangan harus memenuhi standart ketentuan dalam SK-SNI 07-2054-2006 dengan
profil berpenampang L dengan yang dihasilkan dari proses canai panas (hot rolling mill)
dengan lebar kedua kaki sama dan tebal kedua kaki sama
2. Semua ukuran Besi siku harus sesuai dengan standar yg ditetapkan
3. Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan lemak / minyak, dan tidak bercacat seperti retak, dan
tolaransi karat ringan yaitu karat yang apabila digosok secara manual tidak menimbulkan
cacat pada permukaan
PASAL 17
PEKERJAAN BETON
1. Pekerjaan Pondasi Terdiri Dari :
a. Pekerjaan Pondasi didahului dengan lantai kerja beton campuran 1pc : 3ps : 5kr dan
bekisting sesuai gambar kerja.
b. Pondasi bangunan dibuat pondasi telapak dengan lebar dan tebal sesuai gambar,
menggunakan beton campuran 1pc : 2ps : 3kr .

a. Pengecoran.
 Sebelum adukan dituangkan pada acuannya, kondisi permukaan dalam dari bekisting atau
tempat beton dicorkan harus benar-benar bersih dari segala macam kotoran. Semua bekas-
bekas beton yang tercecer pada baja tulangan dan bagian dalam bekisting harus dengan
segera dibersihkan.
 Air tergenang pada acuan beton atau pada tempat beton akan dicor harus segera dihilangkan.
Aliran air yang dapat mengalir ketempat beton dicor, harus dicegah dengan mengadakan
drainase yang baik atau dengan metode lain yang disetujui Pengawas, untuk mencegah
jangan sampai beton yang baru dicor menjadi terkikis pada saat atau setelah proses
pengecoran.
 Pengecoran tidak boleh dimulai sebelum kondisi bekisting, tempat beton dicor, kondisi
pemukaan beton yang berbatasan dengan daerah yang akan dicor, dan juga keadaan
pembesian selesai diperiksa dan disetujui oleh Pengawas. Setelah diperiksa dan disetujui
Pengawas maka pekerjaan yang dapat dilakukan hanyalah pekerjaan dalam atau terhadap
bekisting sampai selesainya pengecoran beton pada daerah yang telah disetjui, terkecuali
dengan seijin Pengawas.
 Dalam hal ini terjadi kerusakan alat pada saat pengecoran, atau dalam hal pelaksanaan suatu
pengecoran tidak dapat dilaksanakan dengan menerus. Kontraktor harus segera
memadatkan adukan yang sudah dicor sampai batas tertentu dengan kemiringan yang
merata dan stabil saat beton masih dalam keadaan plastis. Bidang pengakhiran ini harus
dalam keadaan bersih dan harus dijaga agar berada dalam keadaan lembab sebagaimana juga
pada kondisi untuk construction joint, sebelum nantinya dituangkan adukan yang masih
baru. Bila terjadi penyetopan pekerjaan pengecoran yang lebih lama dari satu jam, pekerjaan
harus ditangguhkan sampai suatu keadaan dimana beton sudah dinyatakan mulai mengeras
yang di tentukan oleh pihak Pengawas.
 Beton yang baru selesai dicor, harus dilindungi terhadap rusak atau terganggu akibat sinar
matahari ataupun hujan. Juga air yang mungkin mengganggu beton yang sudah dicorkan
harus ditanggulangi sampai suatu batas waktu yang disetujui Pengawas terhitung mulai
pengecorannya. Tidak sekalipun diperkenankan melakukan pengecoran beton dalam kondisi
cuaca yang tidak baik untuk proses pengerasan beton tanpa suatu upaya perlindungan
terhadap adukan beton, hal ini bisa dalam terjadi baik dalam keadaan cuaca yang panas
sekali atau dalam keadaan hujan. Perlindungan yang dilakukan untuk mencegah hal-hal ini
harus mendapat persetujuan Pengawas.
 Apabila pengecoran beton harus dihentikan, maka tempat penghentiannya harus disetujui oleh
Direksi/Konsultan Pengawas

b. Pemadatan dan adukan beton.


 Adukan beton harus dipadatkan hingga mencapai kepadatan yang maksimum sehingga
didapat beton yang terhindar dari rongga-rongga yang timbul antara celah-celah koral,
gelembung udara, dan adukan tadi harus benar-benar memenuhi ruang yang dicor dan
menyelimuti seluruh benda yang seharusnya tertanam dalam beton. Selama proses
pengecoran, adukan beton harus dipadatkan dengan menggunakan vibrator yang mencukupi
keperluan pekerjaan pengecoran yang dilakukan. Kekentalan adukan beton dan lama proses
pemadatan harus diatur sedemikian rupa agar dicapai beton yang bebas dari rongga,
pemisahan unsur-unsur pembentuk rongga.
 Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit
14 (empat belas) hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara karung-karung goni yang
senantiasa basah sebagai penutup beton.
PASAL 20
PEKERJAAN BESI SIKU
a. Lingkup Pekerjaan
Tiang Besi Siku
Pemasangan tiang besi dilakukan untuk seluruh bagian dari pagar bangunan atau seperti
dalam gambar dan dijelaskan dalam gambar detail.
b. Persyaratan Bahan
1. Besi Siku
Bentuk standar besi siku adalah bentuk L, bersudut siku-siku dan tajam, permukaan rata
dan tidak menampakan adanya retak-retak yang merugikan. Memiliki ketebalan kaki yang
sama dan panjang kaki yang sama. Yang dihasilkan dari proses canai panas (hot rolling mill)
2. Kawat Las
Kawat Las Alumunium yang mengandung 5% silicon untuk penyambungan yang berlainan
gradenya
Kekuatan Tarik: 34.000 psi
Kekerasan: BHN 40 – 45
Arus Listrik: DC+
Diameter 2,5 mm = 50 – 80 A
Diameter 3,2 mm = 70 – 110 A

c. Pedoman Pelaksanaan
1. Pekerjaan besi siku mempunyai 2 (dua) macam, yaitu :
a. Pelobangan Besi Siku
b. Pengelasan Sambungan
2. Persyaratan
Pemasangan dan Pengelasan harus disesuaikan dengan spesifikasi yang sudah ditentukan
dalam spek ini
3. Pengukuran harus dilakukan oleh Kontraktor secara teliti dan sesuai gambar, dengan syarat
semua pasangan

PASAL 20
PEKERJAAN PEMASANGAN PAGAR KAWAT BERDURI

a. Lingkup Pekerjaan
Pagar Kawat Berduri
Pemasangan Pagar Kawat dikerjakan untuk seluruh bagian dari pagar bangunan atau seperti
dalam gambar dan dijelaskan dalam gambar detail.
a. Persyaratan Bahan
1. Pagar Kawat
2. Kawat Duri Berkwalitas SNI : 07-0107-1987 Dengan Bahan Kawat Hot Dipped Galvanized
Kwalitas SNI Dengan Specifikasi Sbb. : - Kawat = Bwg 14 (2,10Mm) - Duri = Bwg 12 (2,85
Mm) - Dimensi = 26 X 26 X 30,5 Cm - 1 Kg = +/- 7,7 Mt (4,2 Kg = +/- 32,5 Mt, Pegangan = 0,04
Kg - Kemasan=4,2 Kg;4,3 Kg;4,5 Kg / Roll
b. Pedoman Pelaksanaan

c. Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat dinilai sebagai kemajuan pekerjaan apabila telah selesai dilaksankan
sesuai dengan gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis yang telah disyahkan oleh Direksi/
Pengawas Lapangan.
Pasal 21
PEMASANGAN PIPA

a. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan Pemasangan Pipa meliputi pemasangan jaringan pipa GIP yang tertera dalam
gambar kerja,

b. Bahan-bahan yang digunakan


1. Pipa GIP dia 2,5” dengan jarak yang sudah ditentukan pada gambar bestek.
2. Pipa yang digunakan harus sesuai dengan spek yang sudah ditentukan dan bersih dari
segala material perusak

b. Pedoman Pelaksanaan
1. Pemasangan pipa serta jenis yang dipakai harus dikerjakan sesuai dengan gambar.
Sedangkan system pemasangan pipa-pipa listrik pada dinding maupun beton harus ditanam
(system inbouw)
c. Pengukuran hasil Kerja
Pekerjaan ini dapat dinilai sebagai kemajuan apabila telah selesai dipasang sesuai dengan
gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta telah disyahkan oleh Direksi/ Pengawas Lapangan.

Pasal 22
PEKERJAAN PLESTERAN DINDING

Pekerjaan Plesteran
 Lingkup Pekerjaan
 Meliputi pekerjaan permukaan dinding pada semua tembok yang dikerjakan dengan pasangan
beton, yang tidak dinyatakan dalam gambar sebagai penyelesaian dengan bahan lain.
 Bahan Pokok
 Pasir pasang
Pasir pasang yang digunakan harus bersih bermutu baik dengan butiran kasar, tidak
mengandung lumpur dan bahan lain yang akan mempengaruhi mutu pekerjaan.
 Semen PC
PC yang dipergunakan adalah produk dalam negeri.
 Air
Air yang digunakan haruslah bersih dan sesuai dengan ketentuan.
 Komposisi Adukan
 1 PC : 4 Ps dipakai untuk semua bagian yang dilaksanakan

 Pelaksanaan
 Sebelum memulai pekerjaan plesteran dinding tidak boleh terlalu kering, jika bidang yang
akan diplester sudah terlalu kering harus dibasahi air terlebih dahulu hingga jenuh dan pada
bidang beton harus dikasarkan terlebih dahulu supaya mendapat pelekatan adukan yang
sempurna.
 Sebelum plesteran dinding dilaksanakan dipasti bahwa semua pipa-pipa sudah tertanam
dengan baik dan rapi sesui fungsi dan ukurannya
 Untuk mencegah pesteran menjadi kering sebelum waktunya, permukaan harus dibasahi air
sehingga tetap lembab dan dijaga jangan sampai terjadi penguapan terlalu banyak dan tidak
rata.
 Pekerjaan plesteran harus dilakukan dengan rata dan tidak retak , plesteran yang cacat atau
retak-retak setelah selesai harus segera diperbaiki hingga terlihat baik dan sempurna.
 Untuk dinding yang telah ada yang diperbaiki plesternya sebelum pelaksanaan pekerjaan
plesteran semua plesteran yang lama harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dinding
tersebut disiram air sampai tidak menyerap air lagi.

Pasal 20
PEKERJAAN LAIN-LAIN

1. Lingkup pekerjaannya adalah pekerjaan administrasi/dokumentasi, biaya keamanan/jaga malam, obat-obatan/P3K. Penjelasan masing-
masing lingkup pekerjaan ini telah dijabarkan pada masing-masing pasal diatas, kecuali pekerjaan administrasi proyek berupa :

1. Laporan berkala mengenai pekerjaan secara keseluruhan dan segala sesuatunya yang
berhubungan dengan pekerjaan tersebut dalam kontrak.
2. Catatan yang jelas mengenai kemajuan pekerjaan yang telah dilaksanakan dan jika diminta
oleh Direksi Pekerjaan/Pemilik untuk keperluan pemeriksaan sewaktu-waktu dapat
diserahkan.
3. Dokumen Foto :
Kontraktor diwajibkan membuat dokumen foto-foto, sebelum pekerjaan dimulai sampai
pada pekerjaan selesai 100 % dan tiap tahap permintaan angsuran disertai keterangan lokasi,
arah pengambilan dan tahap pelaksanaan pembangunan serta disusun secara rapih dan
diketahui oleh Direksi Pekerjaan/Pemilik dan Pengelola Teknis.
Syarat-syarat foto dokumentasi :
 Tiap Unit Bangunan diambil dari empat arah,
 Gambar menyeluruh pandangan dari empat arah,
 Sudut pengambilan gambar dari tiap tahap harus tetap pada sudut pengambilan tersebut
pada butir (a).
 Gambar dimasukkan dalam album diserahkan kepada Pemilik melalui Direksi Pekerjaan
rangkap 3 (tiga).
 Biaya dokumen merupakan tanggung jawab Kontraktor, Foto-foto tersebut harus dibuat dan
menjadi lampiran setiap permohonan angsuran pembayaran.
4. Segala laporan atau catatan tersebut dalam Pasal ini, dibuat dalam bentuk buku harian
rangkap 3 (tiga) diisi pada formulir yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan/Pemilik dan
harus selalu berada di tempat pekerjaan.

2. Kontraktor harus menyerahkan pada Pemilik as built drawing.

As built drawing adalah gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan yang
harus diselesaikan 4 minggu setelah serah terima pekerjaan untuk pertama kali, dalam
bentuk kertas A.3.
3. Apabila ada pekerjaan yang tidak tersebutkan dalam uraian ini, yang ternyata pekerjaan tersebut harus ada agar mendapatkan hasil akhir
yang sempurna, maka pekerjaan tersebut harus dilaksanakan oleh Kontraktor atas perintah tertulis Pejabat Pembuat Komitmen.
4. Rencana kerja dan syarat-syarat ini menjadi pedoman dan harus ditaati oleh Kontraktor dan Pejabat Pembuat Komitmen dalam
melaksanakan pekerjaan ini.

Pasal 21
PENUTUP

Apabila ada hal-hal yang tercakup dalam dokumen lelang ini yang harus dikerjakan, dibuat dengan
ketentuan-ketentuan yang telah ada dan kelaziman-kelaziman pekerjaan, yang nantinya akan diatur
dan dimuat dalam Berita Acara atau Addendum pekerjaan, merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari dokumen ini.

Bogor09 juli 2018


CV.NAWAROE BERSAUDARA

Muh Kabul Priyambodo