Anda di halaman 1dari 9

Materi V

Teori Melanie Klein

A. Latar Belakang Masalah


Seorang anak yang baru lahir pada dasarnya belum mengetahui apa-apa
namun memiliki fantasi atau khayalan kehidupan yang aktif. Hal ini dapat
dilihat dari kebiasaan bayi mengisap jari ketika mau tidur atau ketika bermain
dan menangis ketika merasa lapar atau perut kosong.
B. Tinjauan Teori
1. Pandangan Dasar
Teori Relasi Objek adalah turunan langsung teori insting dari Freud.
Melanie Klein dibentuk berdasarkan pengamatan teliti terhadap anak-anak
kecil. Berlawanan dengan Freud yang menekankan kehidupan 4 tahun
pertama, Klein menitikberatkan pentingnya 4 - 6 bulan setelah kelahiran.Ia
menekankan bahwa rangsangan bayi (kelaparan, seks, dan lainnya)
ditujukan kepada suatu objek payudara, penis, vagina, dan lain sebagainya.
Menurut Klein, hubungan bayi dan payudara sangatlah penting dan
merupakan prototipe bagi hubungan lanjutan seperti ayah dan ibu.
Kecenderungan bayi yang paling awal dalam menghubungkan sebagian
objek memberikan mereka pengalaman-pengalaman tidak realistis atau
seperti khayalan yang nantinya akan mempengaruhi semua hubungan antar
pribadi. Dengan demikian, ide-ide Klein cenderung mengubah fokus teori
analisa kejiwaan dari tahap perkembangan dasar yang natural sampai
kepada terbentuknya khayalan awal dalam pembentukan hubungan antar
pribadi. Sebagai tambahan, pembuat teori lain telah menspekulasi
pentingnya pengalaman awal seorang anak bersama ibunya.
Klein dan teori relasi objek lainnya memulai dari asusmsi dasar yang
dikemukakan Feud. Kemudian, mereka berspekulasi mengenai bagaimana
kenyataan atau khayalan seorang bayi diawal hubungan dengan ibunya atau
dengan payudara ibunya. Juga bagaimana keduanya menjadi model dari
hubungan interpersonalnya dimasa mendatang. Bagian terpenting dari
hubungan ini adalah representasi dari psikis internal pada objek-objek yang
terkait erat, seperti payudara ibunya dan kemudian diproyeksikan terhadap
pasangan hidupnya.
2. Struktur dan Dinamika Kepribadian
a) Kondisi psikis bayi, jika Freud menekankan tahun-tahun pertama
kehidupan, Klein menekankan pentingnya 4 atau 6 bulan pertama
kehidupan. Baginya, bayi tidak memulai hidupnya dengan selembar
kertas kosong melainkan dengan sebuah watak yang diwariskan untuk
mengurangi kecemasan yang mereka alami sebagai akibat dari konflik
yang dihasilkan oleh daya-daya insting kehidupan dan kekuatan insting
kematian.
b) Fantasi, Salah satu asumsi dasar yang dikemukakan Klein adalah
walaupun baru lahir, seorang bayi sudah memiliki fantasi atau khayalan
kehidupan yang aktif. Fantasi ini merupakan representasi psikis dari
ketaksadaran insting id: yang tidak bisa dicampur adukkan dengan
fantasi kesadaran yang dimiliki oleh anak-anak dan orang dewasa.
Klein memang sengaja mengejanya dengan fantasi (phantasy) untuk
membedakannya dengan kesadaran.
c) Objek, Klein setuju dengan Freud bahwa manusia mempunyai
dorongan bawaan dan insting termasuk insting kematian. Dorongan-
dorongan tersebut berupa objek. Dalam khayalan aktifnya, bayi
mengintroyeksi atau mencapai struktur psikis pada objek-objek
eksternal, termasuk penis ayahnya, tangan dan wajah ibunya, serta
bagian tubuh lainnya objek yang diinroyeksikan lebih dari sekedar
pemikiran internal mengenai objek eksternal, mereka juga berkhayal
dengan menginternalisasikan objek dalam istilah-istilah yang berwujud
dan konkret.
d) Posisi, Klein memandang bayi manusia secara konstan terlibat dalam
konflik mendasar antara insting hidup dan insting mati, yaitu antara
buruk dan baik, cinta dan benci, serta mencipta dan merusak. Seiring
dengan pergerakan ego menuju integritasi dan menjauhi disintegritasi,
secara alamiah bayi akan memilih sensasi yang menyenangkan dari
pada yang membuatnya frustasi. Dua posisi yang dikemukakannya
adalah:
 Posisi Paranoid Skizoid, yaitu cara bayi untuk mengatur
pengalamannya yang juga mengandung perasaan paranoid sebagai
pelaksana pemisahan objek internal dan eksternal menjadi objek
yang baik dan buruk. Hasrat bayi untuk menguasai payudara ibu
dengan melahap dan menjadikannya pelabuhan bagi bibirnya yang
mungil. Pada saat yang bersamaan, dorongan destruktif bawaan
bayi menciptakan khayalan yang merusak payudara dengan
menggigit, memukul dan melenyapkannya. Menurut Klein, bayi
mengembangkan posisi paranoid-schizoid ketika berusia 3 – 4
bulan. Pada saat ini, egonya mempersepsikan dunia eksternal
sebagai dunia yang subjektif dan fantastis, bukan bjektif dan nyata.
 Posisi Depresi, Sejak berusia 5-6 bulan, seorang bayi mulai
mengamati objek-objek eksternal sebagai sebuah keseluruhan dan
menyadari bahwa kebaikan dan keburukan dapat dimiliki oleh
orang yang sama yaitu ibunya. Pada waktu yang sama, bayi
mengembangkan gambar yang lebih realistik mengenai ibu dan
menyadari bahwa ibu adalah pribadi yang indevenden yang bisa
baik sekaligus buruk. Selain itu, ego juga mulai menjadi matang
sampai titik dimana dia dapat menoleransi beberapa perasaan
destruktifnya sendiri lebih daripada memproyeksikan perasaan-
perasaan itu keluar.Namun begitu bayi juga menyadari bahwa ibu
bisa saja pergi dan hilang selamanya. Takut akan kemungkinan
kehilangan ibu, bayi ingin melindungi dan menjaga dirinya dari
bahaya daya-daya destruktifnya sendiri, impuls-impuls kanibalistik
yang sebelumnya diproyeksikan kepada ibunya. Dan ego bayi
cukup matang untuk menyadari bahwa ia tidak memiliki kapasitas
untuk melindungi ibu, karena itu bayi mengalami rasa bersalah atas
dorongan-dorongn destruktif sebelumnya yang diarahkannya
kepada ibu.
3. Mekanisme Pertahanan Psikis
Klein mengemukakan bahwa sejak awal masa bayinya, anak dapat
mengadopsi beberapa mekanisme pertahanan psikis untuk melindungi
perasaan yang berasal dari kecemasan sadistis orang mengenai payudara-
payudara sebagai objek yang destruktif dan menakutkan di satu sisi,
namun payudara sebagai objek yang menyenangkan dan sangat
membantunya disisi lain. Untuk mengontrol kecemasan ini, bayi
menggunakan beberapa mekanisme pertahanan diri, seperti intriyeksi
(introjection), proyeksi (projection), pemisahan (splitting) dan identifikasi
proyekitif (projective identification).
a) Introyeksi. Introyeksi yang dimaksud Klein adalah khayalan yang
diperoleh bayi mengenai persepsi dan pengalaman mereka dengan
objek eksternal yang asalnya dari payudara ibu. Introyeksi dimulai saat
pertama kali bayi disusui, ketika dilakukannya usaha untuk
memasukkanputing ibu kedalam mulut bayi. Biasanya bayi mencoba
untuk mengintroyeksi objek-objek baik dan menyambut puting ibunya
itu sebagai objek yang dapat melindunginya dari rasa cemas. Objek-
objek yang terintrojeksi bukanlah representasi sesungguhnya dari
objek-objek aslinya, tetapi diwarnai oleh fantasi (khayalan) anak-anak.
Sebagai contoh, bayi akan mengkhayal kalau ibunya selalu ada, yaitu
mereka merasa ibunya selalu ada di dalam dirinya. Ibu dalam arti yang
sesungguhnya tentu tidak berada dalam bayi tersebut, namun ia
merupakan objek khayalan internal dari bayi tersebut.
b) Proyeksi, merupakan khayalan yang dirasakan oleh seseorang dalam
impuls-impuls yang sebetulnya dipindahkan oleh orang lain, tidak
berasal dari dalam diri sendiri. Bayi menyisihkan kecemasannya
mengenai penghancuran yang dilakukan oleh dorongan-dorongan
internal yang berbahaya dengan cara memproyeksikan impuls destruktif
yang tidak dapat dijadikan sebagai objek eksternal. Anak
memproyeksikan gambaran buruk dan baik dalam objek eksternal,
terutama objek mengenai orang tua mereka. Contonya, anak laki-laki
yang mempunyai keinginan untuk mengebiri ayahnya kemungkinan
merupakan proyeksi dengan seorang anak perempuan yang berkhayalan
untuk menguasai ibunya, tetapi ia memproyeksikan khayalannya
terhadap ibunya bahwa ibunya akan membalas dendam dan
menyiksanya.
c) Pemilahan, Bayi hanya dapat mengatur aspek baik atau buruk yang ada
dalam dirinya dan juga objek eksternal dengan membedakan dan
memisahkan, dengan cara mengesampingkan impuls yang tidak sesuai.
Untuk memisahkan objek yang baik dan yang buruk, ego itu sendiri
harus dibagi-bagi. Bayi membentuk sebuah gambaran akan “aku yang
baik” dan “aku yang buruk”, yang memungkinkan mereka untuk
berurusan dengan impuls yang menyenangkan dan impuls yang
menghancurkan terhadap objek-objek eksternal.Pemilahan ini dapat
memiliki efek positif atau negatif bagi anak.Jika pemisahan tidak
dilakukan secara ekstrem, dia dapat menjadi mekanisme yang positif
dan berguna bukan hanya bagi bayi namun juga bagi orang dewasa di
sekitarnya. Hal ini akan memampukan manusia melihat aspek-aspek
positif dan negatif diri mereka sendiri, untuk mengevaluasi perilaku
mereka sebagai baik dan buruk dan untuk membedakan antara
penerimaan yang disukai dan tidak disukai. Di sisi lain, pemisahan yang
berlebih-lebihan dan tidak fleksibel dapat mengarahkan anak kepada
represi patologis. Contohnya jika ego anak terlalu kaku untuk
memisahkan dirinya menjadi “aku yang baik” dan “aku yang buruk”,
mereka tidak akan dapat mengintroyeksikan pengalaman-pengalaman
buruk ke dalam ego yang baik. Ketika anak-anak tidak dapat menerima
perilaku buruk mereka sendiri, maka mereka harus menghadapi impuls-
impuls destruktif dan menakutkan dengan satu-satunya cara yang
mereka bisa yaitu merepresinya.
d) Identifikasi Proyektif, Cara keempat mengurangi kecemasan adalah
identifikasi proyektif, sebuah mekanisme pertahanan psikis yang
didalamnya bayi memilah-milahkan bagian-bagian diri mereka yang
tidak bisa diterima, kemudian memproyeksikan bagian-bagian itu
kepada objek lain dan akhirnya mengintroyeksikan kembali bagian-
bagian tersebut kembali ke dalam dirinya dalam bentuk yang sudah
diubah atau terdistorsi. Dengan membawa objek kembali pada dirinya
sendiri, bayi merasa bahwa mereka sudah menjadi seperti objek
tersebut dan mengidentifikasi diri dengan objek tersebut.Contohnya,
bayi biasanya memilah-milahkan bagian-bagian impuls destruktif
mereka dan memproyeksikannya kepada buah dada yang buruk dan
yang membuatnya frustasi. Begitupun mereka mengidentifikasi diri
dengan buah dada baik yang dia introyeksikan ke dalam dirinya, sebuah
proses yang mengizinkan mereka meraih pengendalian atas buah dada
yang menakjubkan sekaligus menakutkan. Tidak seperti proyeksi
sederhana yang dapat muncul sepenuhnya dalam fantasi, identifikasi
proyektif terjadi hanya dalam dunia relasi antarpribadi yang nyata.
e) Internalisasi, Ketika teori relasi objek berbicara mengenai internalisasi,
hal ini berarti bahwa orang melakukan introyeksi, yaitu memasukkan
aspek eksternal kemudian diolahnya menjadi rangka kerja yang
bermakna secara psikologis. Teori Klein menekankan tiga internalisasi
penting yaitu ego, superego, oedipus complex.
1) Ego, atau sifat mementingkan diri sendiri, sudah matang pada tahap
jauh lebih awal dari pada yang diperkirakan Freud. Sebenarnya
Freud menduga ego memang sudah ada pada saat kelahiran, namun
ia tidak menghubungkan kompleks fungsi-fungsi psikisnya sampai
sampai sekitar tiga atau empat tahun. Bagi Freud anak kecil
didominasi oleh id. Klein tidak menghiraukan id dan mendasarkan
teorinya pada ego sejak awal lahirnya sudah mampu mengenali
adanya dorongan destruktif juga mencintai, dan mengolahnya
melalui pemisahan, proyeksi, dan introyeksi.
2) Superego, Gambaran Klein mengenai superego berbeda dengan
Freud. Setidaknya ada tiga aspek penting yang membedakan
pandangannya ini. Pertama, proses penggabungan yang terjadi ppada
waktu kehidupan yang lebih awal. Kedua, pertumbuhan Oedipus
complex yang tidak mencukupi. Ketiga pandangannya lebih keji dan
kasar. Teori Klein sampai pada perbedaan ini melalui analisisnya
terhadap anak-anak, sebuah pengalaman yang tidak dialami oleh
Freud. Menurut Klein, superego anak-anak sangat berambisi
menghilangkan ancaman aktual apapun dari orang tuanya, yang
terletak kepada insting destruksi bayi itu sendiri yang dialaminya
sebagai rasa cemas.Untuk mengatur rasa cemas ini, ego anak
memobilisasi libido (insting kehidupan) melawan insting kematian.
Mekipun begitu, insting kehidupan dan insting kematian tidak dapat
dipisahkan sepenuhnya sehingga ego terpaksa membela diri terhadap
tindakan-tindakannya sendiri.
3) Oedipus Complex, dimulai jauh lebih awal daripada yang
diungkapkan oleh Freud. Freud percaya bahwa oedipus complex
terjadi selama tahap fisik, yaitu ketika anak berusia sekitar empat
atau lima tahun dan setelah mereka melewati tahap oral dan anal.
Sebaliknya, Klein mengungkapkan bahwa oedipus complex terjadi
bersamaan dengan tahap oral dan anal, dan mencapai puncaknya
pada tahap genital, yaitu sekitar usia tiga atau empat tahun. Anak
laki-laki atapun perempuan dapat mengarahkan rasa
cintanyaterhadap orang tuanya, baik pada masing-masing orang tua
maupun oada keduanya. Anak-anak juga mampu membangun
hubungan homoseksual atau heteroseksual terhadap orang tuanya.
Seperti yang diungkapkan Freud, Klein beramsusi bahwa anak
perempuan dan laki-laki mengalami oedipus complex secara
berbeda.
 Perkembangan Oedipus Complex Perempuan, Pada awal
perkembangan oedipal feminin, yaitu selama bulan pertama
dalam kehidupan, seorang anak perempuan melihat payudara
ibunya sebagai objek “baik dan buruk”. Kemudian, sekitar usia
enam bulan ia mulai melihat payudara lebih sebagai objek yang
positif dari pada negatif. Setelah itu, ia mulai melihat ibunya
secara keseluruhan sebagai objek yang penuh dengan kebaikan
dan sikap ini membuatnya berimajinasi mengenai bagaimana
hadirnya seorang bayi. Ia juga berkhayal bahwa penis ayahnya
memberi ibunya berbagai hal, termasuk bayi-bayi. Oleh karena
anak perempuan kecil ini melihat penis ayahnya sebagai pemberi
bayi, maka ia mengembangkan hubungan positif terhadap penis
ayahnya dan berkhayal bahwa ayahnya akan memenuhinya
dengan bayi-bayi. Jika proses perkembangan oedipus feminim ini
berjalan dengan mulus, maka anak perempuan akan mendapatkan
dirinya pada posisi feminin dan mengembangkan hubungan yang
positif dengan kedua orang tuanya.
 Perkembangan Oedipus Complex Laki-laki, setiap orang terlahir
dengan dua dorongan kuat insting hidup dan insting mati. Bayi
mengembangkan hasrat mengayomi pada payudara baik dan
kebencian pada payudara buruk. Hal ini menyebabkan
kecenderungan seseorang untuk bertahan dalam suatu kehidupan
pada gambaran-gambaran psikis ketidaksadaran mengenai baik
dan buruk serta senang dan menderita. Tahap yang paling penting
dalam kehidupan adalah beberapa bulan pertama, yang
merupakan tahap dimana hubungan dengan ibu dan objek
signifikan lainnya menjadi model untuk hubungan interpersonal
di kemudian hari. Kemampuan orang dewasa untuk mencintai
atau membenci berasal dari relasi objek yang didapatnya pada
masa-masa awal kehidupannya.
4. Kritikan Teori
a) Kelebihan teori Klein yaitu, teori relasi objek ini menejelaskan tentang
adanya pengaruh dari orang lain (orang tua) terhadap kepribadian
seseorang.
b) Kelemahan teori yaitu, memiliki permasalahan dalam hal
ketidakmampuan untuk diulang atau diuji kebenarannya sehingga
dinilai rendah.
C. Pembahasan
Perut penuh adalah baik; perut kosong tidak baik. Selanjutnya kelin
mengemukakan bayi yang tertidur saat sedang mengisap jarinya sedang
berfantasi bahwa ia mengisap puting payudara ibunya yang baik. Bayi yang
kelaparan dan menangis serta kakinya menendang berfantasi buruk sedang
menendang menghancurkan payudara ibunya buruk.pemikiran mengenai
payudara baik dan payudara buruk ini sama dengan gagasan Sullivan mengenai
Ibu baik dan Ibu buruk.
Seiring dengan berkembangnya sang bayi, fantasi ketidaksadaran
mengenai payudara ini masih berlanjut dan berdampak pada kehidupan
psikisnya sehingga muncul fantasi ketidaksadaran lainnya. Fantasi
ketidaksadaran yang muncul belakangan ini dibentuk melalui kenyataan yang
dialami dan predisposisi bawaan. Salah satu dari fantasi ini adalah Oedipus
complex atau keinginan anak untuk mengahancurkan salah satu orang tuanya
dan untuk terlibat secara seksual dengan orang tua satunya. Fantasi-fantasi ini
bisa kontadiksi satu sama lain karena merupakan fantasi ketidaksadaran.
Contohnya, seorang anak laki-laki berkhayal memukuli ibunya, namun pada
saat bersamaan ia juga ingin memiliki anak dari sang ibu. Fantasi tertentu
sebagian terbentuk dari pengalaman seorang anak laki-laki bersama ibunya,
sebagian lagi terbentuk dari prediposisi universal untuk menghancurkan
payudara ibunya dan untuk menyukai payudara yang baik.
D. DaftarPustaka
Monte, F. Christopher. 2003. Beneath The Mask An Introduction to Theories of
Personalty. Amerika: John Wiley & Sons, Inc.