Anda di halaman 1dari 70

Homepage RSS

Search:

LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS


 HOME
 ALL ARTICLE ( DAFTAR ISI )
 PRIVACY AND POLICY
 ABOUT ME
 MOTTO
Tuesday, January 21, 2014

LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS


Browse » Home » Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap » LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS

LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS


A. DEFINISI
 Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (94 inci), melekat pada sekum tepat di bawah
katup ileosekal. Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena
pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi.
(Brunner dan Sudarth, 2002).
 Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermivormis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.
Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki
berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, Arief,dkk, 2007).
 Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan
limfoid, dan cacing usus. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama Apendisitis. Erosi membran mukosa appendiks
dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, danEnterobius vermikularis (Ovedolf, 2006).
 Apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermiformis, karena struktur yang terpuntir, appendiks merupakan tempat ideal
bagi bakteri untuk berkumpul dan multiplikasi (Chang, 2010)
 Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapt terjadi tanpa penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh
feses atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya (Corwin, 2009).
APENDISITIS

B. ETIOLOGI
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi yaitu:
1. Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena:
a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks
c. Adanya benda asing seperti biji-bijian
d. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus
3. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena
peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
4. Tergantung pada bentuk apendiks:
a. Appendik yang terlalu panjang
b. Massa appendiks yang pendek
c. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
d. Kelainan katup di pangkal appendiks
(Nuzulul, 2009)

C. KLASIFIKASI
1. Apendisitis akut
Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen
yang selanjutnya akan diikuti oleh proses infeksi dari apendiks.
Penyebab obstruksi dapat berupa :
a. Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
b. Fekalit
c. Benda asing
d. Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin
meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin tinggi.
Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif yang
menghasilkan pus / nanah pada dinding apendiks.
Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar
secara hematogen ke apendiks.
2. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada
dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks.
Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga
serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia,
dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan,
nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat
terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
3. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah
lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan keluhan menghilang satelah
apendektomi.
Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen
apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens apendisitis kronik
antara 1-5 persen.
4. Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang
mendorong dilakukan apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila serangn
apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena terjadi
fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya
dilakukan apendektomi yang diperiksa secara patologik.
Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena sering penderita datang dalam serangan akut.
5. Mukokel Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal
apendiks, yang biasanya berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun tanpa infeksi. Walaupun
jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas.
Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak enak di perut kanan bawah. Kadang teraba massa
memanjang di regio iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis akut. Pengobatannya
adalah apendiktomi.
6. Tumor Apendiks
Adenokarsinoma apendiks
Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan sewaktu apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena
bisa metastasis ke limfonodi regional, dianjurkan hemikolektomi kanan yang akan memberi harapan hidup yang jauh
lebih baik dibanding hanya apendektomi.
7. Karsinoid Apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara
kebetulan pada pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis prabedah apendisitis akut. Sindrom
karsinoid berupa rangsangan kemerahan (flushing) pada muka, sesak napas karena spasme bronkus, dan diare ynag
hanya ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor karsinoid perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang menyebabkan
gejala tersebut di atas.
Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid ternyata bisa memberikan residif dan adanya metastasis sehingga
diperlukan opersai radikal. Bila spesimen patologik apendiks menunjukkan karsinoid dan pangkal tidak bebas tumor,
dilakukan operasi ulang reseksi ileosekal atau hemikolektomi kanan
APENDISITIS

D. ANATOMI DAN FISIOLOGI


1. ANATOMI
Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum.
Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu bagian ujung
dari protuberans sekum. Pada saatantenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi
appendiks yang akan berpindah dari medial menuju katup ileocaecal.
Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal dan menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi sebab
rendahnya insidens Apendisitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki lumen sempit di bagian proksimal dan melebar
pada bagian distal. Pada appendiks terdapat tiga tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum dan berguna untuk
mendeteksi posisi appendiks. Gejala klinik Apendisitis ditentukan oleh letak appendiks. Posisi appendiks
adalahretrocaecal (di belakang sekum) 65,28%, pelvic (panggul) 31,01%, subcaecal (di bawah sekum) 2,26%, preileal (di
depan usus halus) 1%, dan postileal (di belakang usus halus) 0,4%, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Appendiks pada saluran pencernaan

Anatomi appendiks Posisi Appendiks


2. FISIOLOGI
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya
mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis Apendisitis.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang
saluran cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A). Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung
terhadap infeksi yaitu mengontrol proliferasi bakteri, netralisasi virus, serta mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen
intestinal lainnya. Namun, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan sedikit
sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh tubuh.

E. PATOFISIOLOGI
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda
asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus
tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan
tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri
epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena,
edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum
setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini
disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks
hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses
atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan
pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2007) .

Pathway
Pathway APENDISITIS

F. MANIFESTASI KLINIK
1. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
2. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan.
3. Nyeri tekan lepas dijumpai.
4. Terdapat konstipasi atau diare.
5. Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.
6. Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
7. Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter.
8. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis.
9. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran
kanan.
10. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi akibat ileus paralitik.
11. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi
ruptur appendiks.

Nama pemeriksaan Tanda dan gejala


Rovsing’s sign Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan
pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada
sisi kanan.
Psoas sign atau Obraztsova’s Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian
sign dilakukan ekstensi dari panggul kanan. Positif
jika timbul nyeri pada kanan bawah.
Obturator sign Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan
dilakukan rotasi internal pada panggul. Positif
jika timbul nyeri pada hipogastrium atau vagina.
Dunphy’s sign Pertambahan nyeri pada tertis kanan bawah
dengan batuk
Ten Horn sign Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi lembut
pada korda spermatic kanan
Kocher (Kosher)’s sign Nyeri pada awalnya pada daerah epigastrium
atau sekitar pusat, kemudian berpindah ke
kuadran kanan bawah.
Sitkovskiy (Rosenstein)’s sign Nyeri yang semakin bertambah pada perut
kuadran kanan bawah saat pasien dibaringkan
pada sisi kiri
Aure-Rozanova’s sign Bertambahnya nyeri dengan jari pada petit
triangle kanan (akan positif Shchetkin-
Bloomberg’s sign)
Blumberg sign Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada
kuadran kanan bawah kemudian dilepaskan
tiba-tiba

APENDISITIS

G. KOMPLIKASI
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis. Faktor keterlambatan dapat berasal dari
penderita dan tenaga medis. Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis meliputi
kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan.
Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi komplikasi Apendisitis 10-32%, paling
sering pada anak kecil dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang
tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan orang tua.43 Anak-anak memiliki dinding appendiks yang
masih tipis, omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan pada
orang tua terjadi gangguan pembuluh darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya:
1. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah
pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila
Apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum
2. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi
dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif
pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak
toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutamapolymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi
bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
3. Peritononitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut
maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum.
Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan
dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri
abdomen, demam, dan leukositosis.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan
jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan
jumlah serum yang meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah
terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas
CRP yaitu 80% dan 90%.
2. Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography Scanning(CT-scan). Pada pemeriksaan USG
ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-
scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta
adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%,
sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100%
dan 96-97%.
3. Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri
perut bawah.
4. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati, kandung empedu, dan
pankreas.
5. Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa adanya kemungkinan kehamilan.
6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan
pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon.
7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Apendisitis, tetapi mempunyai arti penting dalam
membedakan Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan.
APENDISITIS

I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita Apendisitis meliputi penanggulangan konservatif dan operasi.
1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah
berupa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi,
sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik
2. Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang
appendiks (appendektomi). Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan
perforasi. Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).
3. Pencegahan Tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra-
abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka
abdomen dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan
pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intra-abdomen.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
 WawancaraDapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai:
 Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan
Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam
beberapa waktu lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama.
Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.
 Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. kesehatan klien sekarang.
 Diet,kebiasaan makan makanan rendah serat.
 Kebiasaan eliminasi.
 Pemeriksaan Fisik
 Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
 Sirkulasi : Takikardia.
 Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
 Aktivitas/istirahat : Malaise.
 Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
 Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
 Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik
Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi
ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
 Demam lebih dari 38oC.
 Data psikologis klien nampak gelisah.
 Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
 Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
 Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.

APENDISITIS

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Pre operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh inflamasi)
2. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan peritaltik.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
4. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
 Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi appenditomi).
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan).
3. Defisit self care berhubungan dengan nyeri.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi.

C. RENCANA KEPERAWATAN
PRE OPERASI

DIAGNOSA
NO NOC NIC RASIONAL
KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan Untuk mengetahui sejauh mana
dengan agen injuri biologi keperawatan, diharapkan karasteristik nyeri. tingkat nyeri dan merupakan
(distensi jaringan intestinal nyeri klien berkurang dengan indiaktor secara dini untuk
oleh inflamasi) kriteria hasil: dapat memberikan tindakan
 Klien mampu mengontrol selanjutnya
nyeri (tahu penyebab nyeri, 2. Jelaskan pada pasien tentang informasi yang tepat dapat
mampu menggunakan tehnik penyebab nyeri menurunkan tingkat kecemasan
nonfarmakologi untuk pasien dan menambah
mengurangi nyeri, mencari pengetahuan pasien tentang
bantuan) nyeri.
 Melaporkan bahwa nyeri 3. Ajarkan tehnik untuk pernafasan napas dalam dapat menghirup
berkurang dengan diafragmatik lambat / napas O2 secara adequate sehingga
menggunakan manajemen dalam otot-otot menjadi relaksasi
nyeri sehingga dapat mengurangi
 Tanda vital dalam rentang rasa nyeri.
hiburan meningkatkan relaksasi dan
normal 4. Berikan aktivitas
TD (systole 110-130mmHg, anggota dapat meningkatkan
(ngobrol dengan
diastole 70-90mmHg), kemampuan kooping.
keluarga)
HR(60-100x/menit), RR (16-  deteksi dini terhadap
5. Observasi tanda-tanda vital
24x/menit), suhu (36,5- perkembangan kesehatan
37,50C) pasien.
 Klien tampak rileks mampu  sebagai profilaksis untuk dapat
tidur/istirahat 6. Kolaborasi dengan tim medis menghilangkan rasa nyeri.
dalam pemberian analgetik
2. Perubahan pola eliminasi Setelah dilakukan asuhan 1. Pastikan kebiasaan membantu dalam pembentukan
(konstipasi) berhubungan keperawatan, diharapkan defekasi klien dan gaya hidup jadwal irigasi efektif
dengan penurunan peritaltik. konstipasi klien teratasi sebelumnya.
dengan kriteria hasil: 2. Auskultasi bising usus  kembalinya fungsi gastriintestinal
 BAB 1-2 kali/hari mungkin terlambat
 Feses lunak oleh inflamasi intra peritonial
 Bising usus 5-30 kali/menit  masukan adekuat dan serat,
3. Tinjau ulang pola diet dan makanan kasar memberikan
jumlah / tipe masukan cairan. bentuk dan cairan adalah faktor
penting dalam menentukan
konsistensi feses.
 makanan yang tinggi serat dapat
memperlancar pencernaan
4. Berikan makanan tinggi serat. sehingga tidak terjadi
konstipasi.

 obat pelunak feses dapat


melunakkan feses sehingga
5. Berikan obat sesuai indikasi, tidak terjadi konstipasi.
contoh : pelunak feses
3. Kekurangan volume cairan Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor tanda-tanda vital  Tanda yang membantu
berhubungan dengan mual keperawatan diharapkan mengidentifikasikan fluktuasi
muntah. keseimbangan cairan dapat volume intravaskuler.
dipertahankan dengan kriteria 2. Kaji membrane mukosa, kaji Indicator keadekuatan sirkulasi
hasil: tugor kulit dan pengisian kapiler. perifer dan hidrasi seluler.
 kelembaban membrane 3. Awasi masukan dan haluaran,
mukosa catat warna urine/konsentrasi, Penurunan haluaran urin pekat
 turgor kulit baik berat jenis. dengan peningkatan berat jenis
 Haluaran urin adekuat: 1 diduga dehidrasi/kebutuhan
cc/kg BB/jam 4. Auskultasi bising usus, catat peningkatan cairan.
 Tanda-tanda vital dalam kelancaran flatus, gerakan Indicator kembalinya peristaltic,
batas normal usus. kesiapan untuk pemasukan per
TD (systole 110-130mmHg, 5. Berikan perawatan mulut sering oral.
diastole 70-90mmHg), dengan perhatian khusus pada Dehidrasi mengakibatkan bibir
HR(60-100x/menit), RR (16- perlindungan bibir. dan mulut kering dan pecah-
24x/menit), suhu (36,5-
6. Pertahankan penghisapan pecah
37,50C) gaster/usus.
 Selang NG biasanya
dimasukkan pada praoperasi
dan dipertahankan pada fase
segera pascaoperasi untuk
dekompresi usus, meningkatkan
7. Kolaborasi pemberiancairan IV istirahat usus, mencegah
dan elektrolit mentah.
 Peritoneum bereaksi terhadap
iritasi/infeksi dengan
menghasilkan sejumlah besar
cairan yang dapat menurunkan
volume sirkulasi darah,
mengakibatkan hipovolemia.
Dehidrasi dapat terjadi
ketidakseimbangan elektrolit
4. Cemas berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Evaluasi tingkat ansietas, catat ketakutan dapat terjadi karena
dengan akan dilaksanakan keperawatan, diharapkan verbal dan non verbal pasien. nyeri hebat, penting pada
operasi. kecemasab klien berkurang prosedur diagnostik dan
dengan kriteria hasil: pembedahan.
 Melaporkan ansietas
2. Jelaskan dan persiapkan untuk dapat meringankan ansietas
menurun sampai tingkat tindakan prosedur sebelum terutama ketika pemeriksaan
teratasi dilakukan tersebut melibatkan
 Tampak rileks pembedahan.
3. Jadwalkan istirahat adekuat dan membatasi kelemahan,
periode menghentikan tidur. menghemat energi dan
meningkatkan kemampuan
4. Anjurkan keluarga untuk koping.
menemani disamping klien  Mengurangi kecemasan klien
POST OPERASI

DIAGNOSA
NO NOC NIC RASIONAL
KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji skala nyeri lokasi, Berguna dalam pengawasan
agen injuri fisik (luka insisi keperawatan, diharapkan karakteristik dan laporkan dan keefesien obat, kemajuan
post operasi appenditomi). nyeri berkurang dengan perubahan nyeri dengan tepat. penyembuhan,perubahan dan
kriteria hasil: karakteristik nyeri.
 Melaporkan nyeri berkurang2. Monitor tanda-tanda vital  deteksi dini terhadap
 Klien tampak rileks perkembangan kesehatan
 Dapat tidur dengan tepat pasien.
 Tanda-tanda vital dalam 3. Pertahankan istirahat dengan Menghilangkan tegangan
batas normal posisi semi powler. abdomen yang bertambah
TD (systole 110-130mmHg, dengan posisi terlentang.
diastole 70-90mmHg), 4. Dorong ambulasi dini.  Meningkatkan kormolisasi
HR(60-100x/menit), RR (16- fungsi organ.
24x/menit), suhu (36,5-  meningkatkan relaksasi.
5. Berikan aktivitas hiburan.
0
37,5 C)  Menghilangkan nyeri.
6. Kolborasi tim dokter dalam
pemberian analgetika.
2. Resiko infeksi berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji adanya tanda-tanda infeksi Dugaan adanya infeksi
dengan tindakan invasif keperawatan diharapkan pada area insisi
(insisi post pembedahan). infeksi dapat diatasi dengan
2. Monitor tanda-tanda vital.  Dugaan adanya
kriteria hasil: Perhatikan demam, menggigil, infeksi/terjadinya sepsis,
 Klien bebas dari tanda-tanda berkeringat, perubahan mental abses, peritonitis
infeksi 3. Lakukan teknik isolasi untuk mencegah transmisi penyakit
 Menunjukkan kemampuan infeksi enterik, termasuk cuci virus ke orang lain.
untuk mencegah timbulnya tangan efektif.
infeksi 4. Pertahankan teknik aseptik ketat mencegah meluas dan
 Nilai leukosit (4,5-11ribu/ul) pada perawatan luka insisi / membatasi penyebaran
terbuka, bersihkan dengan organisme infektif /
betadine. kontaminasi silang.
5. Awasi / batasi pengunjung dan menurunkan resiko terpajan.
siap kebutuhan.
6. Kolaborasi tim medis dalam terapi ditunjukkan pada bakteri
pemberian antibiotik anaerob dan hasil aerob gra
negatif.

3. Defisit self care Setelah dilakukan asuhan 1. Mandikan pasien setiap hari Agar badan menjadi segar,
berhubungan dengan nyeri. keperawatan diharapkan sampai klien mampu melancarkan peredaran darah
kebersihan klien dapt melaksanakan sendiri serta cuci dan meningkatkan kesehatan.
dipertahankan dengan kriteria rambut dan potong kuku klien.
hasil: 2. Ganti pakaian yang kotor
 klien bebas dari bau badan dengan yang bersih.  Untuk melindungi klien dari
 klien tampak bersih kuman dan meningkatkan
 ADLs klien dapat mandiri 3. Berikan Hynege Edukasipada rasa nyaman
atau dengan bantuan klien dan keluarganya tentang Agar klien dan keluarga dapat
pentingnya kebersihan diri. termotivasi untuk menjaga
4. Berikan pujian pada klien personal hygiene.
tentang kebersihannya.  Agar klien merasa tersanjung
dan lebih kooperatif dalam
5. Bimbing keluarga klien kebersihan
memandikan / menyeka pasien  Agar keterampilan dapat
6. Bersihkan dan atur posisi serta diterapkan
tempat tidur klien.
 Klien merasa nyaman dengan
tenun yang bersih serta
mencegah terjadinya infeksi.

4. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji ulang pembatasan aktivitas Memberikan informasi pada
tentang kondisi prognosis keperawatan diharapkan pascaoperasi pasien untuk merencanakan
dan kebutuhan pengobatan pengetahuan bertambah kembali rutinitas biasa tanpa
b.d kurang informasi. dengan kriteria hasil: menimbulkan masalah.
 menyatakan pemahaman 2. Anjuran menggunakan Membantu kembali ke fungsi
proses penyakit, pengobatan laksatif/pelembek feses ringan usus semula mencegah
dan bila perlu dan hindari enema ngejan saat defekasi
 berpartisipasi dalam program3. Diskusikan perawatan insisi,
pengobatan termasuk mengamati balutan,  Pemahaman meningkatkan
pembatasan mandi, dan kerja sama dengan terapi,
kembali ke dokter untuk meningkatkan penyembuhan
mengangkat jahitan/pengikat
4. Identifikasi gejala yang
memerlukan evaluasi medic,  Upaya intervensi menurunkan
contoh peningkatan nyeri resiko komplikasi lambatnya
edema/eritema luka, adanya penyembuhan peritonitis.
drainase, demam
DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth, J, Corwin. (2009). Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.


Fatma. (2010). Askep Appendicitis. Diakses http://fatmazdnrs.blogspot.com/2010/08/askep-appendicitis.html pada tanggal 09
Mei 2012.
Johnson, M.,et all, 2002, Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.
Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI
Mc Closkey, C.J., Iet all, 2002, Nursing Interventions Classification (NIC) second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.
NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.
Nuzulul. (2009). Askep Appendicitis. Diakses http://nuzulul.fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35840-Kep%20Pencernaan
Askep%20Apendisitis.html tanggal 09 Mei 2012.
Smeltzer, Bare (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC

Share this article :


Share603

Artikel Terkait : Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap


Title: LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS; Written by wiwing setiono; Rating: 5 dari 5
Diposkan oleh wiwing setiono Jam 5:48 AM
Label: Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap

7 Comments
2 Comments
nt.fb admin wiwing setiono
Newer PostOlder PostHome

Subscribe to: Post Comments (Atom)


Popular Posts


LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS


LAPORAN PENDAHULUAN SC (SECTIO CAESARIA)


LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI


LAPORAN PENDAHULUAN GAGAL GINJAL KRONIK/ CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)


LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS
Blog Archive
 ► 2017 (1)
 ▼ 2014 (47)
o ► March (11)
o ► February (3)
o ▼ January (33)
 LAPORAN PENDAHULUAN AMELOBLASTOMA
 LAPORAN PENDAHULUAN CA PARU/ KANKER PARU
 LAPORAN PENDAHULUAN SKIZOFRENIA
 INFEKSI NOSOKOMIAL
 LAPORAN PENDAHULUAN KETOASIDOSIS DIABETIKUM (KAD)
 LAPORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK...
 LAPORAN PENDAHULUAN MASTEKTOMI
 LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ ...
 LAPORAN PENDAHULUAN HIDROSEFALUS
 LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM
 LAPORAN PENDAHULUAN VERTIGO
 LAPORAN PENDAHULUAN COMBUSTIO/ LUKA BAKAR
 LAPORAN PENDAHULUAN ASMA
 LAPORAN PENDAHULUAN STROKE HEMORAGIK
 LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTIROID
 LAPORAN PENDAHULUAN BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLAS...
 LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS
 LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS (DM) DENGAN U...
 PITTING EDEMA
 LAPORAN PENDAHULUAN HEPATITIS
 PENGKAJIAN NEUROLOGI (SARAF KRANIAL, GLASGOW COMA ...
 LAPORAN PENDAHULUAN STROKE NON HEMORAGIK
 LAPORAN PENDAHULUAN DERMATITIS
 LAPORAN PENDAHULUAN PPOK
 LAPORAN PENDAHULUAN EFUSI PLEURA
 LAPORAN PENDAHULUAN DEMENSIA
 SGB (SINDROMA GUILLAIN BARRE)
 DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 2
 DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 1
 INDUKSI PERSALINAN
 LAPORAN PENDAHULUAN BRONKITIS
 CONTOH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN DISCHARGE PLANNING...
 DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 3
 ► 2013 (43)

Search here..

Author
 Benksquarz
 wiwing setiono
 wiwing setiono.skep.ns

Hak Cipta Oleh LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN LENGKAP


Homepage RSS
Search:

LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS


 HOME
 ALL ARTICLE ( DAFTAR ISI )
 PRIVACY AND POLICY
 ABOUT ME
 MOTTO
Tuesday, January 21, 2014
LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS
Browse » Home » Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap » LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS

LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS

A. DEFINISI
 Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (94 inci), melekat pada sekum tepat di bawah
katup ileosekal. Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena
pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi.
(Brunner dan Sudarth, 2002).
 Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermivormis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.
Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki
berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, Arief,dkk, 2007).
 Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan
limfoid, dan cacing usus. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama Apendisitis. Erosi membran mukosa appendiks
dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, danEnterobius vermikularis (Ovedolf, 2006).
 Apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermiformis, karena struktur yang terpuntir, appendiks merupakan tempat ideal
bagi bakteri untuk berkumpul dan multiplikasi (Chang, 2010)
 Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapt terjadi tanpa penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh
feses atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya (Corwin, 2009).

APENDISITIS

B. ETIOLOGI
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi yaitu:
1. Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena:
a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks
c. Adanya benda asing seperti biji-bijian
d. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus
3. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena
peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
4. Tergantung pada bentuk apendiks:
a. Appendik yang terlalu panjang
b. Massa appendiks yang pendek
c. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
d. Kelainan katup di pangkal appendiks
(Nuzulul, 2009)

C. KLASIFIKASI
1. Apendisitis akut
Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen
yang selanjutnya akan diikuti oleh proses infeksi dari apendiks.
Penyebab obstruksi dapat berupa :
a. Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
b. Fekalit
c. Benda asing
d. Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin
meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin tinggi.
Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif yang
menghasilkan pus / nanah pada dinding apendiks.
Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar
secara hematogen ke apendiks.
2. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada
dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks.
Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga
serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia,
dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan,
nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat
terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
3. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah
lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan keluhan menghilang satelah
apendektomi.
Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen
apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens apendisitis kronik
antara 1-5 persen.
4. Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang
mendorong dilakukan apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila serangn
apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena terjadi
fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya
dilakukan apendektomi yang diperiksa secara patologik.
Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena sering penderita datang dalam serangan akut.
5. Mukokel Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal
apendiks, yang biasanya berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun tanpa infeksi. Walaupun
jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas.
Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak enak di perut kanan bawah. Kadang teraba massa
memanjang di regio iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis akut. Pengobatannya
adalah apendiktomi.
6. Tumor Apendiks
Adenokarsinoma apendiks
Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan sewaktu apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena
bisa metastasis ke limfonodi regional, dianjurkan hemikolektomi kanan yang akan memberi harapan hidup yang jauh
lebih baik dibanding hanya apendektomi.
7. Karsinoid Apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara
kebetulan pada pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis prabedah apendisitis akut. Sindrom
karsinoid berupa rangsangan kemerahan (flushing) pada muka, sesak napas karena spasme bronkus, dan diare ynag
hanya ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor karsinoid perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang menyebabkan
gejala tersebut di atas.
Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid ternyata bisa memberikan residif dan adanya metastasis sehingga
diperlukan opersai radikal. Bila spesimen patologik apendiks menunjukkan karsinoid dan pangkal tidak bebas tumor,
dilakukan operasi ulang reseksi ileosekal atau hemikolektomi kanan
APENDISITIS

D. ANATOMI DAN FISIOLOGI


1. ANATOMI
Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum.
Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu bagian ujung
dari protuberans sekum. Pada saatantenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi
appendiks yang akan berpindah dari medial menuju katup ileocaecal.
Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal dan menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi sebab
rendahnya insidens Apendisitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki lumen sempit di bagian proksimal dan melebar
pada bagian distal. Pada appendiks terdapat tiga tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum dan berguna untuk
mendeteksi posisi appendiks. Gejala klinik Apendisitis ditentukan oleh letak appendiks. Posisi appendiks
adalahretrocaecal (di belakang sekum) 65,28%, pelvic (panggul) 31,01%, subcaecal (di bawah sekum) 2,26%, preileal (di
depan usus halus) 1%, dan postileal (di belakang usus halus) 0,4%, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Appendiks pada saluran pencernaan

Anatomi appendiks Posisi Appendiks


2. FISIOLOGI
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya
mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis Apendisitis.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang
saluran cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A). Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung
terhadap infeksi yaitu mengontrol proliferasi bakteri, netralisasi virus, serta mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen
intestinal lainnya. Namun, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan sedikit
sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh tubuh.

E. PATOFISIOLOGI
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda
asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus
tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan
tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri
epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena,
edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum
setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini
disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks
hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses
atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan
pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2007) .

Pathway
Pathway APENDISITIS

F. MANIFESTASI KLINIK
1. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
2. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan.
3. Nyeri tekan lepas dijumpai.
4. Terdapat konstipasi atau diare.
5. Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.
6. Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
7. Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter.
8. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis.
9. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran
kanan.
10. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi akibat ileus paralitik.
11. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi
ruptur appendiks.

Nama pemeriksaan Tanda dan gejala


Rovsing’s sign Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan
pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada
sisi kanan.
Psoas sign atau Obraztsova’s Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian
sign dilakukan ekstensi dari panggul kanan. Positif
jika timbul nyeri pada kanan bawah.
Obturator sign Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan
dilakukan rotasi internal pada panggul. Positif
jika timbul nyeri pada hipogastrium atau vagina.
Dunphy’s sign Pertambahan nyeri pada tertis kanan bawah
dengan batuk
Ten Horn sign Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi lembut
pada korda spermatic kanan
Kocher (Kosher)’s sign Nyeri pada awalnya pada daerah epigastrium
atau sekitar pusat, kemudian berpindah ke
kuadran kanan bawah.
Sitkovskiy (Rosenstein)’s sign Nyeri yang semakin bertambah pada perut
kuadran kanan bawah saat pasien dibaringkan
pada sisi kiri
Aure-Rozanova’s sign Bertambahnya nyeri dengan jari pada petit
triangle kanan (akan positif Shchetkin-
Bloomberg’s sign)
Blumberg sign Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada
kuadran kanan bawah kemudian dilepaskan
tiba-tiba

APENDISITIS

G. KOMPLIKASI
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis. Faktor keterlambatan dapat berasal dari
penderita dan tenaga medis. Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis meliputi
kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan.
Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi komplikasi Apendisitis 10-32%, paling
sering pada anak kecil dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang
tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan orang tua.43 Anak-anak memiliki dinding appendiks yang
masih tipis, omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan pada
orang tua terjadi gangguan pembuluh darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya:
1. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah
pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila
Apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum
2. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi
dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif
pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak
toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutamapolymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi
bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
3. Peritononitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut
maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum.
Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan
dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri
abdomen, demam, dan leukositosis.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan
jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan
jumlah serum yang meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah
terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas
CRP yaitu 80% dan 90%.
2. Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography Scanning(CT-scan). Pada pemeriksaan USG
ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-
scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta
adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%,
sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100%
dan 96-97%.
3. Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri
perut bawah.
4. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati, kandung empedu, dan
pankreas.
5. Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa adanya kemungkinan kehamilan.
6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan
pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon.
7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Apendisitis, tetapi mempunyai arti penting dalam
membedakan Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan.
APENDISITIS

I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita Apendisitis meliputi penanggulangan konservatif dan operasi.
1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah
berupa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi,
sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik
2. Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang
appendiks (appendektomi). Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan
perforasi. Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).
3. Pencegahan Tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra-
abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka
abdomen dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan
pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intra-abdomen.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
 WawancaraDapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai:
 Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan
Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam
beberapa waktu lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama.
Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.
 Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. kesehatan klien sekarang.
 Diet,kebiasaan makan makanan rendah serat.
 Kebiasaan eliminasi.
 Pemeriksaan Fisik
 Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
 Sirkulasi : Takikardia.
 Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
 Aktivitas/istirahat : Malaise.
 Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
 Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
 Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik
Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi
ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
 Demam lebih dari 38oC.
 Data psikologis klien nampak gelisah.
 Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.
 Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
 Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.

APENDISITIS

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Pre operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh inflamasi)
2. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan peritaltik.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
4. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
 Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi appenditomi).
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan).
3. Defisit self care berhubungan dengan nyeri.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi.

C. RENCANA KEPERAWATAN
PRE OPERASI

DIAGNOSA
NO NOC NIC RASIONAL
KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan Untuk mengetahui sejauh mana
dengan agen injuri biologi keperawatan, diharapkan karasteristik nyeri. tingkat nyeri dan merupakan
(distensi jaringan intestinal nyeri klien berkurang dengan indiaktor secara dini untuk
oleh inflamasi) kriteria hasil: dapat memberikan tindakan
 Klien mampu mengontrol selanjutnya
nyeri (tahu penyebab nyeri, 2. Jelaskan pada pasien tentang informasi yang tepat dapat
mampu menggunakan tehnik penyebab nyeri menurunkan tingkat kecemasan
nonfarmakologi untuk pasien dan menambah
mengurangi nyeri, mencari pengetahuan pasien tentang
bantuan) nyeri.
 Melaporkan bahwa nyeri 3. Ajarkan tehnik untuk pernafasan napas dalam dapat menghirup
berkurang dengan diafragmatik lambat / napas O2 secara adequate sehingga
menggunakan manajemen dalam otot-otot menjadi relaksasi
nyeri sehingga dapat mengurangi
 Tanda vital dalam rentang rasa nyeri.
hiburan meningkatkan relaksasi dan
normal 4. Berikan aktivitas
TD (systole 110-130mmHg, anggota dapat meningkatkan
(ngobrol dengan
diastole 70-90mmHg), kemampuan kooping.
keluarga)
HR(60-100x/menit), RR (16-  deteksi dini terhadap
5. Observasi tanda-tanda vital
24x/menit), suhu (36,5- perkembangan kesehatan
37,50C) pasien.
 Klien tampak rileks mampu  sebagai profilaksis untuk dapat
tidur/istirahat 6. Kolaborasi dengan tim medis menghilangkan rasa nyeri.
dalam pemberian analgetik
2. Perubahan pola eliminasi Setelah dilakukan asuhan 1. Pastikan kebiasaan membantu dalam pembentukan
(konstipasi) berhubungan keperawatan, diharapkan defekasi klien dan gaya hidup jadwal irigasi efektif
dengan penurunan peritaltik. konstipasi klien teratasi sebelumnya.
dengan kriteria hasil: 2. Auskultasi bising usus  kembalinya fungsi gastriintestinal
 BAB 1-2 kali/hari mungkin terlambat
 Feses lunak oleh inflamasi intra peritonial
 Bising usus 5-30 kali/menit  masukan adekuat dan serat,
3. Tinjau ulang pola diet dan makanan kasar memberikan
jumlah / tipe masukan cairan. bentuk dan cairan adalah faktor
penting dalam menentukan
konsistensi feses.
 makanan yang tinggi serat dapat
memperlancar pencernaan
4. Berikan makanan tinggi serat. sehingga tidak terjadi
konstipasi.

 obat pelunak feses dapat


melunakkan feses sehingga
5. Berikan obat sesuai indikasi, tidak terjadi konstipasi.
contoh : pelunak feses
3. Kekurangan volume cairan Setelah dilakukan asuhan 1. Monitor tanda-tanda vital  Tanda yang membantu
berhubungan dengan mual keperawatan diharapkan mengidentifikasikan fluktuasi
muntah. keseimbangan cairan dapat volume intravaskuler.
dipertahankan dengan kriteria 2. Kaji membrane mukosa, kaji Indicator keadekuatan sirkulasi
hasil: tugor kulit dan pengisian kapiler. perifer dan hidrasi seluler.
 kelembaban membrane 3. Awasi masukan dan haluaran,
mukosa catat warna urine/konsentrasi, Penurunan haluaran urin pekat
 turgor kulit baik berat jenis. dengan peningkatan berat jenis
 Haluaran urin adekuat: 1 diduga dehidrasi/kebutuhan
cc/kg BB/jam 4. Auskultasi bising usus, catat peningkatan cairan.
 Tanda-tanda vital dalam kelancaran flatus, gerakan Indicator kembalinya peristaltic,
batas normal usus. kesiapan untuk pemasukan per
TD (systole 110-130mmHg, 5. Berikan perawatan mulut sering oral.
diastole 70-90mmHg), dengan perhatian khusus pada Dehidrasi mengakibatkan bibir
HR(60-100x/menit), RR (16- perlindungan bibir. dan mulut kering dan pecah-
24x/menit), suhu (36,5-
6. Pertahankan penghisapan pecah
37,50C) gaster/usus.
 Selang NG biasanya
dimasukkan pada praoperasi
dan dipertahankan pada fase
segera pascaoperasi untuk
dekompresi usus, meningkatkan
7. Kolaborasi pemberiancairan IV istirahat usus, mencegah
dan elektrolit mentah.
 Peritoneum bereaksi terhadap
iritasi/infeksi dengan
menghasilkan sejumlah besar
cairan yang dapat menurunkan
volume sirkulasi darah,
mengakibatkan hipovolemia.
Dehidrasi dapat terjadi
ketidakseimbangan elektrolit
4. Cemas berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Evaluasi tingkat ansietas, catat ketakutan dapat terjadi karena
dengan akan dilaksanakan keperawatan, diharapkan verbal dan non verbal pasien. nyeri hebat, penting pada
operasi. kecemasab klien berkurang prosedur diagnostik dan
dengan kriteria hasil: pembedahan.
 Melaporkan ansietas
2. Jelaskan dan persiapkan untuk dapat meringankan ansietas
menurun sampai tingkat tindakan prosedur sebelum terutama ketika pemeriksaan
teratasi dilakukan tersebut melibatkan
 Tampak rileks pembedahan.
3. Jadwalkan istirahat adekuat dan membatasi kelemahan,
periode menghentikan tidur. menghemat energi dan
meningkatkan kemampuan
4. Anjurkan keluarga untuk koping.
menemani disamping klien  Mengurangi kecemasan klien
POST OPERASI

DIAGNOSA
NO NOC NIC RASIONAL
KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji skala nyeri lokasi, Berguna dalam pengawasan
agen injuri fisik (luka insisi keperawatan, diharapkan karakteristik dan laporkan dan keefesien obat, kemajuan
post operasi appenditomi). nyeri berkurang dengan perubahan nyeri dengan tepat. penyembuhan,perubahan dan
kriteria hasil: karakteristik nyeri.
 Melaporkan nyeri berkurang2. Monitor tanda-tanda vital  deteksi dini terhadap
 Klien tampak rileks perkembangan kesehatan
 Dapat tidur dengan tepat pasien.
 Tanda-tanda vital dalam 3. Pertahankan istirahat dengan Menghilangkan tegangan
batas normal posisi semi powler. abdomen yang bertambah
TD (systole 110-130mmHg, dengan posisi terlentang.
diastole 70-90mmHg), 4. Dorong ambulasi dini.  Meningkatkan kormolisasi
HR(60-100x/menit), RR (16- fungsi organ.
24x/menit), suhu (36,5-  meningkatkan relaksasi.
5. Berikan aktivitas hiburan.
0
37,5 C)  Menghilangkan nyeri.
6. Kolborasi tim dokter dalam
pemberian analgetika.
2. Resiko infeksi berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji adanya tanda-tanda infeksi Dugaan adanya infeksi
dengan tindakan invasif keperawatan diharapkan pada area insisi
(insisi post pembedahan). infeksi dapat diatasi dengan
2. Monitor tanda-tanda vital.  Dugaan adanya
kriteria hasil: Perhatikan demam, menggigil, infeksi/terjadinya sepsis,
 Klien bebas dari tanda-tanda berkeringat, perubahan mental abses, peritonitis
infeksi 3. Lakukan teknik isolasi untuk mencegah transmisi penyakit
 Menunjukkan kemampuan infeksi enterik, termasuk cuci virus ke orang lain.
untuk mencegah timbulnya tangan efektif.
infeksi 4. Pertahankan teknik aseptik ketat mencegah meluas dan
 Nilai leukosit (4,5-11ribu/ul) pada perawatan luka insisi / membatasi penyebaran
terbuka, bersihkan dengan organisme infektif /
betadine. kontaminasi silang.
5. Awasi / batasi pengunjung dan menurunkan resiko terpajan.
siap kebutuhan.
6. Kolaborasi tim medis dalam terapi ditunjukkan pada bakteri
pemberian antibiotik anaerob dan hasil aerob gra
negatif.

3. Defisit self care Setelah dilakukan asuhan 1. Mandikan pasien setiap hari Agar badan menjadi segar,
berhubungan dengan nyeri. keperawatan diharapkan sampai klien mampu melancarkan peredaran darah
kebersihan klien dapt melaksanakan sendiri serta cuci dan meningkatkan kesehatan.
dipertahankan dengan kriteria rambut dan potong kuku klien.
hasil: 2. Ganti pakaian yang kotor
 klien bebas dari bau badan dengan yang bersih.  Untuk melindungi klien dari
 klien tampak bersih kuman dan meningkatkan
 ADLs klien dapat mandiri 3. Berikan Hynege Edukasipada rasa nyaman
atau dengan bantuan klien dan keluarganya tentang Agar klien dan keluarga dapat
pentingnya kebersihan diri. termotivasi untuk menjaga
4. Berikan pujian pada klien personal hygiene.
tentang kebersihannya.  Agar klien merasa tersanjung
dan lebih kooperatif dalam
5. Bimbing keluarga klien kebersihan
memandikan / menyeka pasien  Agar keterampilan dapat
6. Bersihkan dan atur posisi serta diterapkan
tempat tidur klien.
 Klien merasa nyaman dengan
tenun yang bersih serta
mencegah terjadinya infeksi.

4. Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji ulang pembatasan aktivitas Memberikan informasi pada
tentang kondisi prognosis keperawatan diharapkan pascaoperasi pasien untuk merencanakan
dan kebutuhan pengobatan pengetahuan bertambah kembali rutinitas biasa tanpa
b.d kurang informasi. dengan kriteria hasil: menimbulkan masalah.
 menyatakan pemahaman 2. Anjuran menggunakan Membantu kembali ke fungsi
proses penyakit, pengobatan laksatif/pelembek feses ringan usus semula mencegah
dan bila perlu dan hindari enema ngejan saat defekasi
 berpartisipasi dalam program3. Diskusikan perawatan insisi,
pengobatan termasuk mengamati balutan,  Pemahaman meningkatkan
pembatasan mandi, dan kerja sama dengan terapi,
kembali ke dokter untuk meningkatkan penyembuhan
mengangkat jahitan/pengikat
4. Identifikasi gejala yang
memerlukan evaluasi medic,  Upaya intervensi menurunkan
contoh peningkatan nyeri resiko komplikasi lambatnya
edema/eritema luka, adanya penyembuhan peritonitis.
drainase, demam
DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth, J, Corwin. (2009). Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.


Fatma. (2010). Askep Appendicitis. Diakses http://fatmazdnrs.blogspot.com/2010/08/askep-appendicitis.html pada tanggal 09
Mei 2012.
Johnson, M.,et all, 2002, Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.
Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI
Mc Closkey, C.J., Iet all, 2002, Nursing Interventions Classification (NIC) second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.
NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.
Nuzulul. (2009). Askep Appendicitis. Diakses http://nuzulul.fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35840-Kep%20Pencernaan
Askep%20Apendisitis.html tanggal 09 Mei 2012.
Smeltzer, Bare (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC

Share this article :


Share603

Artikel Terkait : Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap


Title: LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS; Written by wiwing setiono; Rating: 5 dari 5
Diposkan oleh wiwing setiono Jam 5:48 AM
Label: Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap

7 Comments
2 Comments
nt.fb admin wiwing setiono
Newer PostOlder PostHome

Subscribe to: Post Comments (Atom)


Popular Posts


LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS


LAPORAN PENDAHULUAN SC (SECTIO CAESARIA)


LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI


LAPORAN PENDAHULUAN GAGAL GINJAL KRONIK/ CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)


LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS
Blog Archive
 ► 2017 (1)
 ▼ 2014 (47)
o ► March (11)
o ► February (3)
o ▼ January (33)
 LAPORAN PENDAHULUAN AMELOBLASTOMA
 LAPORAN PENDAHULUAN CA PARU/ KANKER PARU
 LAPORAN PENDAHULUAN SKIZOFRENIA
 INFEKSI NOSOKOMIAL
 LAPORAN PENDAHULUAN KETOASIDOSIS DIABETIKUM (KAD)
 LAPORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK...
 LAPORAN PENDAHULUAN MASTEKTOMI
 LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ ...
 LAPORAN PENDAHULUAN HIDROSEFALUS
 LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM
 LAPORAN PENDAHULUAN VERTIGO
 LAPORAN PENDAHULUAN COMBUSTIO/ LUKA BAKAR
 LAPORAN PENDAHULUAN ASMA
 LAPORAN PENDAHULUAN STROKE HEMORAGIK
 LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTIROID
 LAPORAN PENDAHULUAN BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLAS...
 LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS
 LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS (DM) DENGAN U...
 PITTING EDEMA
 LAPORAN PENDAHULUAN HEPATITIS
 PENGKAJIAN NEUROLOGI (SARAF KRANIAL, GLASGOW COMA ...
 LAPORAN PENDAHULUAN STROKE NON HEMORAGIK
 LAPORAN PENDAHULUAN DERMATITIS
 LAPORAN PENDAHULUAN PPOK
 LAPORAN PENDAHULUAN EFUSI PLEURA
 LAPORAN PENDAHULUAN DEMENSIA
 SGB (SINDROMA GUILLAIN BARRE)
 DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 2
 DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 1
 INDUKSI PERSALINAN
 LAPORAN PENDAHULUAN BRONKITIS
 CONTOH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN DISCHARGE PLANNING...
 DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 3
 ► 2013 (43)

Search here..

Author
 Benksquarz
 wiwing setiono
 wiwing setiono.skep.ns

Hak Cipta Oleh LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN LENGKAP


ShareThis Copy and Paste
Share to Facebook
Share to TwitterShare to PrintShare to EmailMore AddThis Share options
Homepage RSS Search: LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS HOMEALL ARTICLE ( DAFTAR ISI )PRIVACY AND POLICYABOUT
MEMOTTO Tuesday, January 21, 2014 LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS Browse » Home » Laporan Pendahuluan Asuhan
Keperawatan Lengkap » LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS A. DEFINISI ü
Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (94 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal.
Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya
kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi. (Brunner dan Sudarth, 2002). ü Apendisitis adalah peradangan
dari apendiks vermivormis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik
laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, Arief,dkk, 2007). ü
Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing
usus. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama Apendisitis. Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti
Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis (Ovedolf, 2006). ü Apendisitis merupakan inflamasi apendiks
vermiformis, karena struktur yang terpuntir, appendiks merupakan tempat ideal bagi bakteri untuk berkumpul dan multiplikasi (Chang,
2010) ü Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapt terjadi tanpa penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh feses
atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya (Corwin, 2009). APENDISITIS B. ETIOLOGI Apendisitis belum ada penyebab
yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi yaitu: 1. Factor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini
terjadi karena: a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak. b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks c.
Adanya benda asing seperti biji-bijian d. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya. 2. Infeksi kuman dari colon
yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus 3. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun
(remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut. 4. Tergantung pada bentuk apendiks:
a. Appendik yang terlalu panjang b. Massa appendiks yang pendek c. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks d.
Kelainan katup di pangkal appendiks (Nuzulul, 2009) C. KLASIFIKASI 1. 1. Apendisitis akut Apendisitis
akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan diikuti oleh
proses infeksi dari apendiks. Penyebab obstruksi dapat berupa : a. Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks. b. Fekalit
c. Benda asing d. Tumor. Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks,
hal ini semakin meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin tinggi. Tekanan yang
tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif yang menghasilkan pus / nanah pada
dinding apendiks. Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar
secara hematogen ke apendiks. 2.2. 2. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis) Tekanan dalam
lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan
trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam
dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan
mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum
lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler
dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum. 333. 3. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu,
radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan keluhan menghilang satelah apendektomi. Kriteria mikroskopik
apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan
ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens apendisitis kronik antara 1-5 persen. 4.
4. Apendissitis rekurens Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah
yang mendorong dilakukan apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila serangn apendisitis akut
pertama kali sembuh spontan. Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fribosis dan jaringan parut. Resiko
untuk terjadinya serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya dilakukan apendektomi yang diperiksa secara
patologik. Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi karena sering penderita datang dalam serangan akut. 5.
5. Mukokel Apendiks Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi musin akibat
adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang biasanya berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun tanpa infeksi.
Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas. Penderita sering datang dengan
eluhan ringan berupa rasa tidak enak di perut kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi
infeksi, akan timbul tanda apendisitis akut. Pengobatannya adalah apendiktomi. 6. 6. Tumor
Apendiks Adenokarsinoma apendiks Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan sewaktu apendektomi atas indikasi
apendisitis akut. Karena bisa metastasis ke limfonodi regional, dianjurkan hemikolektomi kanan yang akan memberi harapan hidup yang
jauh lebih baik dibanding hanya apendektomi. 7. 7. Karsinoid Apendiks Ini merupakan tumor
sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan patologi atas
spesimen apendiks dengan diagnosis prabedah apendisitis akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan kemerahan (flushing) pada muka,
sesak napas karena spasme bronkus, dan diare ynag hanya ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor karsinoid perut. Sel tumor
memproduksi serotonin yang menyebabkan gejala tersebut di atas. Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid ternyata bisa
memberikan residif dan adanya metastasis sehingga diperlukan opersai radikal. Bila spesimen patologik apendiks menunjukkan karsinoid
dan pangkal tidak bebas tumor, dilakukan operasi ulang reseksi ileosekal atau hemikolektomi kanan APENDISITIS D. ANATOMI DAN
FISIOLOGI 1. ANATOMI Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada
sekum. Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu bagian ujung dari protuberans sekum.
Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi appendiks yang akan berpindah dari medial
menuju katup ileocaecal. Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal dan menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi
sebab rendahnya insidens Apendisitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki lumen sempit di bagian proksimal dan melebar pada bagian
distal. Pada appendiks terdapat tiga tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum dan berguna untuk mendeteksi posisi appendiks.
Gejala klinik Apendisitis ditentukan oleh letak appendiks. Posisi appendiks adalah retrocaecal (di belakang sekum) 65,28%, pelvic
(panggul) 31,01%, subcaecal (di bawah sekum) 2,26%, preileal (di depan usus halus) 1%, dan postileal (di belakang usus halus) 0,4%,
seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Appendiks pada saluran pencernaan Anatomi appendiks Posisi
Appendiks 2. FISIOLOGI Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan
selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis Apendisitis.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk
appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A). Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu mengontrol proliferasi
bakteri, netralisasi virus, serta mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen intestinal lainnya. Namun, pengangkatan appendiks tidak
mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh
tubuh. E. PATOFISIOLOGI Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit,
benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang
diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai
keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe
yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai
oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena,
edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga
menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu
akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang
telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan
akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat
menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua
perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2007) . Pathway Pathway APENDISITIS F.
MANIFESTASI KLINIK 1. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu
makan. 2. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan. 3. Nyeri tekan lepas dijumpai. 4. Terdapat konstipasi atau
diare. 5. Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum. 6. Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal. 7. Nyeri
kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter. 8. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di
ujung pelvis. 9. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran
kanan. 10. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi akibat ileus paralitik. 11. Pada pasien
lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks. Nama
pemeriksaan Tanda dan gejala Rovsing’s sign Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada
sisi kanan. Psoas sign atau Obraztsova’s sign Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian dilakukan ekstensi dari panggul kanan. Positif
jika timbul nyeri pada kanan bawah. Obturator sign Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan dilakukan rotasi internal pada panggul. Positif
jika timbul nyeri pada hipogastrium atau vagina. Dunphy’s sign Pertambahan nyeri pada tertis kanan bawah dengan batuk Ten Horn sign
Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi lembut pada korda spermatic kanan Kocher (Kosher)’s sign Nyeri pada awalnya pada daerah
epigastrium atau sekitar pusat, kemudian berpindah ke kuadran kanan bawah. Sitkovskiy (Rosenstein)’s sign Nyeri yang semakin
bertambah pada perut kuadran kanan bawah saat pasien dibaringkan pada sisi kiri Aure-Rozanova’s sign Bertambahnya nyeri dengan jari
pada petit triangle kanan (akan positif Shchetkin-Bloomberg’s sign) Blumberg sign Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada kuadran
kanan bawah kemudian dilepaskan tiba-tiba APENDISITIS G. KOMPLIKASI Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan
Apendisitis. Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya,
sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan
penanggulangan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi komplikasi Apendisitis 10-32%, paling
sering pada anak kecil dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang tua. CFR
komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan orang tua.43 Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis, omentum lebih
pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi, sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh
darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya: 1. Abses Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di
kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus.
Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum 2. Perforasi Perforasi adalah pecahnya appendiks yang
berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat
tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak
sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi,
baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis. 3. Peritononitis Peritonitis adalah peradangan
peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada
permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus
meregang, dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit
perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan leukositosis. H. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara
10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. CRP adalah
salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses
elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80% dan 90%. 2. Radiologi Terdiri dari pemeriksaan
ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography Scanning (CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian memanjang pada
tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith
dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka
sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan sensitivitas dan
spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%. 3. Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi
saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah. 4. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa
peradangan hati, kandung empedu, dan pankreas. 5. Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa adanya
kemungkinan kehamilan. 6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan Barium enema dan
Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon. 7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak
menunjukkan tanda pasti Apendisitis, tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau
batu ureter kanan. APENDISITIS I. PENATALAKSANAAN MEDIS Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita Apendisitis
meliputi penanggulangan konservatif dan operasi. 1. Penanggulangan konservatif Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada
penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah
infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi, sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik
sistemik 2. Operasi Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi
membuang appendiks (appendektomi). Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi.
Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah). 3. Pencegahan Tersier Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu
mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra-abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses
intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi
diperlukan perawatan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intra-abdomen. ASUHAN
KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN Ø WawancaraDapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai:
· Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut
kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.Sifat
keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien
mengeluh rasa mual dan muntah, panas. · Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. kesehatan klien
sekarang. · Diet,kebiasaan makan makanan rendah serat. · Kebiasaan eliminasi. Ø Pemeriksaan Fisik · Pemeriksaan
fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat. · Sirkulasi : Takikardia. · Respirasi : Takipnoe, pernapasan
dangkal. · Aktivitas/istirahat : Malaise. · Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang. · Distensi
abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus. · Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar
epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau
napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak. · Demam lebih dari 38oC.
· Data psikologis klien nampak gelisah. · Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. · Pada pemeriksaan rektal
toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi. · Berat badan sebagai indicator untuk
menentukan pemberian obat. APENDISITIS B. DIAGNOSA KEPERAWATAN § Pre operasi 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen
injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh inflamasi) 2. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan
peritaltik. 3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah. 4. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan
operasi. § Post operasi 1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi appenditomi). 2. Resiko infeksi
berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan). 3. Defisit self care berhubungan dengan nyeri. 4. Kurang
pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi. C. RENCANA KEPERAWATAN PRE
OPERASI NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC RASIONAL 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan
intestinal oleh inflamasi) Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan nyeri klien berkurang dengan kriteria hasil: · Klien
mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
· Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri · Tanda vital dalam rentang normal TD (systole
110-130mmHg, diastole 70-90mmHg), HR(60-100x/menit), RR (16-24x/menit), suhu (36,5-37,50C) · Klien tampak rileks mampu
tidur/istirahat 1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri. 2. Jelaskan pada pasien tentang penyebab nyeri 3. Ajarkan tehnik
untuk pernafasan diafragmatik lambat / napas dalam 4. Berikan aktivitas hiburan (ngobrol dengan anggota keluarga) 5. Observasi
tanda-tanda vital 6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik § Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan
merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya § informasi yang tepat dapat menurunkan tingkat
kecemasan pasien dan menambah pengetahuan pasien tentang nyeri. § napas dalam dapat menghirup O2 secara adequate sehingga
otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. § meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan
kooping. § deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien. § sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri. 2.
Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan peritaltik. Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan
konstipasi klien teratasi dengan kriteria hasil: · BAB 1-2 kali/hari · Feses lunak · Bising usus 5-30 kali/menit 1. Pastikan
kebiasaan defekasi klien dan gaya hidup sebelumnya. 2. Auskultasi bising usus 3. Tinjau ulang pola diet dan jumlah / tipe masukan
cairan. 4. Berikan makanan tinggi serat. 5. Berikan obat sesuai indikasi, contoh : pelunak feses § membantu dalam pembentukan
jadwal irigasi efektif § kembalinya fungsi gastriintestinal mungkin terlambat oleh inflamasi intra peritonial § masukan adekuat dan serat,
makanan kasar memberikan bentuk dan cairan adalah faktor penting dalam menentukan konsistensi feses. § makanan yang tinggi serat
dapat memperlancar pencernaan sehingga tidak terjadi konstipasi. § obat pelunak feses dapat melunakkan feses sehingga tidak terjadi
konstipasi. 3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah. Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan
keseimbangan cairan dapat dipertahankan dengan kriteria hasil: · kelembaban membrane mukosa · turgor kulit baik ·
Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg BB/jam · Tanda-tanda vital dalam batas normal TD (systole 110-130mmHg, diastole 70-90mmHg),
HR(60-100x/menit), RR (16-24x/menit), suhu (36,5-37,50C) 1. Monitor tanda-tanda vital 2. Kaji membrane mukosa, kaji tugor kulit dan
pengisian kapiler. 3. Awasi masukan dan haluaran, catat warna urine/konsentrasi, berat jenis. 4. Auskultasi bising usus, catat
kelancaran flatus, gerakan usus. 5. Berikan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus pada perlindungan bibir. 6. Pertahankan
penghisapan gaster/usus. 7. Kolaborasi pemberian cairan IV dan elektrolit § Tanda yang membantu mengidentifikasikan fluktuasi
volume intravaskuler. § Indicator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler. § Penurunan haluaran urin pekat dengan peningkatan
berat jenis diduga dehidrasi/kebutuhan peningkatan cairan. § Indicator kembalinya peristaltic, kesiapan untuk pemasukan per oral. §
Dehidrasi mengakibatkan bibir dan mulut kering dan pecah-pecah § Selang NG biasanya dimasukkan pada praoperasi dan dipertahankan
pada fase segera pascaoperasi untuk dekompresi usus, meningkatkan istirahat usus, mencegah mentah. § Peritoneum bereaksi terhadap
iritasi/infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah, mengakibatkan hipovolemia.
Dehidrasi dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit 4. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi. Setelah dilakukan asuhan
keperawatan, diharapkan kecemasab klien berkurang dengan kriteria hasil: · Melaporkan ansietas menurun sampai tingkat teratasi
· Tampak rileks 1. Evaluasi tingkat ansietas, catat verbal dan non verbal pasien. 2. Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan
prosedur sebelum dilakukan 3. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur. 4. Anjurkan keluarga untuk menemani
disamping klien § ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, penting pada prosedur diagnostik dan pembedahan. § dapat meringankan
ansietas terutama ketika pemeriksaan tersebut melibatkan pembedahan. § membatasi kelemahan, menghemat energi dan meningkatkan
kemampuan koping. § Mengurangi kecemasan klien POST OPERASI NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC RASIONAL 1. Nyeri
berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi appenditomi). Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan nyeri
berkurang dengan kriteria hasil: · Melaporkan nyeri berkurang · Klien tampak rileks · Dapat tidur dengan tepat · Tanda-
tanda vital dalam batas normal TD (systole 110-130mmHg, diastole 70-90mmHg), HR(60-100x/menit), RR (16-24x/menit), suhu (36,5-
37,50C) 1. Kaji skala nyeri lokasi, karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat. 2. Monitor tanda-tanda vital 3.
Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler. 4. Dorong ambulasi dini. 5. Berikan aktivitas hiburan. 6. Kolborasi tim dokter dalam
pemberian analgetika. § Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat, kemajuan penyembuhan,perubahan dan karakteristik nyeri. §
deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien. § Menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang. §
Meningkatkan kormolisasi fungsi organ. § meningkatkan relaksasi. § Menghilangkan nyeri. 2. Resiko infeksi berhubungan dengan
tindakan invasif (insisi post pembedahan). Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan infeksi dapat diatasi dengan kriteria hasil:
· Klien bebas dari tanda-tanda infeksi · Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi · Nilai leukosit (4,5-
11ribu/ul) 1. Kaji adanya tanda-tanda infeksi pada area insisi 2. Monitor tanda-tanda vital. Perhatikan demam, menggigil, berkeringat,
perubahan mental 3. Lakukan teknik isolasi untuk infeksi enterik, termasuk cuci tangan efektif. 4. Pertahankan teknik aseptik ketat pada
perawatan luka insisi / terbuka, bersihkan dengan betadine. 5. Awasi / batasi pengunjung dan siap kebutuhan. 6. Kolaborasi tim medis
dalam pemberian antibiotik § Dugaan adanya infeksi § Dugaan adanya infeksi/terjadinya sepsis, abses, peritonitis § mencegah transmisi
penyakit virus ke orang lain. § mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif / kontaminasi silang. § menurunkan
resiko terpajan. § terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil aerob gra negatif. 3. Defisit self care berhubungan dengan nyeri.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan kebersihan klien dapt dipertahankan dengan kriteria hasil: · klien bebas dari bau
badan · klien tampak bersih · ADLs klien dapat mandiri atau dengan bantuan 1. Mandikan pasien setiap hari sampai klien
mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien. 2. Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih. 3. Berikan
Hynege Edukasi pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri. 4. Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya. 5.
Bimbing keluarga klien memandikan / menyeka pasien 6. Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien. § Agar badan menjadi segar,
melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan. § Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman § Agar
klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene. § Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam
kebersihan § Agar keterampilan dapat diterapkan § Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi. 4.
Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi. Setelah dilakukan asuhan keperawatan
diharapkan pengetahuan bertambah dengan kriteria hasil: · menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan dan ·
berpartisipasi dalam program pengobatan 1. Kaji ulang pembatasan aktivitas pascaoperasi 2. Anjuran
menggunakan laksatif/pelembek feses ringan bila perlu dan hindari enema 3. Diskusikan perawatan insisi, termasuk mengamati balutan,
pembatasan mandi, dan kembali ke dokter untuk mengangkat jahitan/pengikat 4. Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medic,
contoh peningkatan nyeri edema/eritema luka, adanya drainase, demam § Memberikan informasi pada pasien untuk merencanakan
kembali rutinitas biasa tanpa menimbulkan masalah. § Membantu kembali ke fungsi usus semula mencegah ngejan saat defekasi §
Pemahaman meningkatkan kerja sama dengan terapi, meningkatkan penyembuhan § Upaya intervensi menurunkan resiko komplikasi
lambatnya penyembuhan peritonitis. DAFTAR PUSTAKA Elizabeth, J, Corwin. (2009). Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta. Fatma.
(2010). Askep Appendicitis. Diakses http://fatmazdnrs.blogspot.com/2010/08/askep-appendicitis.html pada tanggal 09 Mei 2012. Johnson,
M.,et all, 2002, Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby. Mansjoer, A. (2001). Kapita
Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius FKUI Mc Closkey, C.J., Iet all, 2002, Nursing Interventions Classification (NIC) second
Edition, IOWA Intervention Project, Mosby. NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi. Nuzulul. (2009).
Askep Appendicitis. Diakses http://nuzulul.fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35840-Kep%20Pencernaan Askep%20Apendisitis.html
tanggal 09 Mei 2012. Smeltzer, Bare (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC
Share this article : Share603 Artikel Terkait : Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap Title: LAPORAN PENDAHULUAN
APENDISITIS; Written by wiwing setiono; Rating: 5 dari 5 Diposkan oleh wiwing setiono Jam 5:48 AM Label: Laporan Pendahuluan
Asuhan Keperawatan Lengkap 7 Comments 2 Comments nt.fb admin wiwing setiono Newer Post Older Post Home Subscribe to: Post
Comments (Atom) Popular Posts LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS LAPORAN PENDAHULUAN SC (SECTIO
CAESARIA) LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI LAPORAN PENDAHULUAN GAGAL GINJAL KRONIK/ CHRONIC KIDNEY
DISEASE (CKD) LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS Blog Archive ► 2017 (1) ▼ 2014 (47) ► March (11) ► February (3) ▼
January (33) LAPORAN PENDAHULUAN AMELOBLASTOMA LAPORAN PENDAHULUAN CA PARU/ KANKER PARU LAPORAN
PENDAHULUAN SKIZOFRENIA INFEKSI NOSOKOMIAL LAPORAN PENDAHULUAN KETOASIDOSIS DIABETIKUM (KAD) LAPORAN
PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (LOW BACK... LAPORAN PENDAHULUAN MASTEKTOMI LAPORAN PENDAHULUAN
CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/ ... LAPORAN PENDAHULUAN HIDROSEFALUS LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM
LAPORAN PENDAHULUAN VERTIGO LAPORAN PENDAHULUAN COMBUSTIO/ LUKA BAKAR LAPORAN PENDAHULUAN ASMA
LAPORAN PENDAHULUAN STROKE HEMORAGIK LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTIROID LAPORAN PENDAHULUAN BPH
(BENIGNA PROSTAT HIPERPLAS... LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS (DM)
DENGAN U... PITTING EDEMA LAPORAN PENDAHULUAN HEPATITIS PENGKAJIAN NEUROLOGI (SARAF KRANIAL, GLASGOW
COMA ... LAPORAN PENDAHULUAN STROKE NON HEMORAGIK LAPORAN PENDAHULUAN DERMATITIS LAPORAN
PENDAHULUAN PPOK LAPORAN PENDAHULUAN EFUSI PLEURA LAPORAN PENDAHULUAN DEMENSIA SGB (SINDROMA
GUILLAIN BARRE) DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 2 DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 1 INDUKSI PERSALINAN
LAPORAN PENDAHULUAN BRONKITIS CONTOH DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN DISCHARGE PLANNING... DIAGNOSA
KEPERAWATAN NANDA versi 3 ► 2013 (43) Author Benksquarz wiwing setiono wiwing setiono.skep.ns Hak Cipta Oleh LAPORAN
PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN LENGKAP Homepage RSS Search: LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS HOMEALL
ARTICLE ( DAFTAR ISI )PRIVACY AND POLICYABOUT MEMOTTO Tuesday, January 21, 2014 LAPORAN PENDAHULUAN
APENDISITIS Browse » Home » Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap » LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS
LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS A. DEFINISI ü Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (94
inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam
sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi.
(Brunner dan Sudarth, 2002). ü Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermivormis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang
paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia
antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, Arief,dkk, 2007). ü Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh
fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing usus. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama Apendisitis. Erosi membran
mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica, Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis (Ovedolf,
2006). ü Apendisitis merupakan inflamasi apendiks vermiformis, karena struktur yang terpuntir, appendiks merupakan tempat ideal bagi
bakteri untuk berkumpul dan multiplikasi (Chang, 2010) ü Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapt terjadi tanpa penyebab
yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh feses atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya (Corwin, 2009). APENDISITIS
B. ETIOLOGI Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi yaitu: 1. Factor yang tersering
adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena: a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab
terbanyak. b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks c. Adanya benda asing seperti biji-bijian d. Striktura lumen karena fibrosa
akibat peradangan sebelumnya. 2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus 3. Laki-laki lebih
banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid
pada masa tersebut. 4. Tergantung pada bentuk apendiks: a. Appendik yang terlalu panjang b. Massa appendiks yang pendek
c. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks d. Kelainan katup di pangkal appendiks (Nuzulul, 2009) C. KLASIFIKASI
1. 1. Apendisitis akut Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks. Apendisitis akut pada
dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya akan diikuti oleh proses infeksi dari apendiks. Penyebab obstruksi dapat berupa : a.
Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks. b. Fekalit c. Benda asing d. Tumor. Adanya obstruksi mengakibatkan mucin /
cairan mukosa yang diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin meningkatkan tekanan intra luminer sehingga
menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin tinggi. Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks
sehingga terjadi peradangan supuratif yang menghasilkan pus / nanah pada dinding apendiks. Selain obstruksi, apendisitis juga dapat
disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar secara hematogen ke apendiks. 2.2.
2. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis) Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan
terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada
apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa
menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen
terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans
muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda
peritonitis umum. 333. 3. Apendisitis kronik Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi
semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan
keluhan menghilang satelah apendektomi. Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan
parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens apendisitis
kronik antara 1-5 persen. 4. 4. Apendissitis rekurens Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan
jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong dilakukan apeomi dan hasil patologi menunjukan
peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila serangn apendisitis akut pertama kali sembuh spontan. Namun, apendisitis tidak perna kembali
ke bentuk aslinya karena terjadi fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis
rekurens biasanya dilakukan apendektomi yang diperiksa secara patologik. Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi
karena sering penderita datang dalam serangan akut. 5. 5. Mukokel Apendiks Mukokel
apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang biasanya berupa
jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun tanpa infeksi. Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu
kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas. Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak enak di perut kanan
bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis akut.
Pengobatannya adalah apendiktomi. 6. 6. Tumor Apendiks Adenokarsinoma apendiks Penyakit
ini jarang ditemukan, biasa ditemukan kebetulan sewaktu apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena bisa metastasis ke limfonodi
regional, dianjurkan hemikolektomi kanan yang akan memberi harapan hidup yang jauh lebih baik dibanding hanya apendektomi. 7.
7. Karsinoid Apendiks Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang didiagnosis
prabedah,tetapi ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis prabedah apendisitis
akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan kemerahan (flushing) pada muka, sesak napas karena spasme bronkus, dan diare ynag hanya
ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor karsinoid perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang menyebabkan gejala tersebut di atas.
Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid ternyata bisa memberikan residif dan adanya metastasis sehingga diperlukan opersai
radikal. Bila spesimen patologik apendiks menunjukkan karsinoid dan pangkal tidak bebas tumor, dilakukan operasi ulang reseksi ileosekal
atau hemikolektomi kanan APENDISITIS D. ANATOMI DAN FISIOLOGI 1. ANATOMI Appendiks merupakan organ yang berbentuk
tabung dengan panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum. Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi
minggu ke delapan yaitu bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum yang berlebih
akan menjadi appendiks yang akan berpindah dari medial menuju katup ileocaecal. Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada
pangkal dan menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya insidens Apendisitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki
lumen sempit di bagian proksimal dan melebar pada bagian distal. Pada appendiks terdapat tiga tanea coli yang menyatu dipersambungan
sekum dan berguna untuk mendeteksi posisi appendiks. Gejala klinik Apendisitis ditentukan oleh letak appendiks. Posisi appendiks adalah
retrocaecal (di belakang sekum) 65,28%, pelvic (panggul) 31,01%, subcaecal (di bawah sekum) 2,26%, preileal (di depan usus halus) 1%,
dan postileal (di belakang usus halus) 0,4%, seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Appendiks pada saluran pencernaan Anatomi
appendiks Posisi Appendiks 2. FISIOLOGI Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu secara
normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan
pada patogenesis Apendisitis. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat
disepanjang saluran cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A). Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap
infeksi yaitu mengontrol proliferasi bakteri, netralisasi virus, serta mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen intestinal lainnya. Namun,
pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah di
saluran cerna dan seluruh tubuh. E. PATOFISIOLOGI Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh
hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut
menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas
dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut
akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi
apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut
akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif
akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan
apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses di atas berjalan
lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat
apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan
apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan
terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2007) .
Pathway Pathway APENDISITIS F. MANIFESTASI KLINIK 1. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam
ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. 2. Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan. 3. Nyeri tekan
lepas dijumpai. 4. Terdapat konstipasi atau diare. 5. Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum. 6. Nyeri defekasi,
bila appendiks berada dekat rektal. 7. Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter. 8. Pemeriksaan
rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis. 9. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara
paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan. 10. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai abdomen terjadi
akibat ileus paralitik. 11. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien mungkin tidak mengalami gejala
sampai terjadi ruptur appendiks. Nama pemeriksaan Tanda dan gejala Rovsing’s sign Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan pada
kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada sisi kanan. Psoas sign atau Obraztsova’s sign Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian
dilakukan ekstensi dari panggul kanan. Positif jika timbul nyeri pada kanan bawah. Obturator sign Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan
dilakukan rotasi internal pada panggul. Positif jika timbul nyeri pada hipogastrium atau vagina. Dunphy’s sign Pertambahan nyeri pada
tertis kanan bawah dengan batuk Ten Horn sign Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi lembut pada korda spermatic kanan Kocher
(Kosher)’s sign Nyeri pada awalnya pada daerah epigastrium atau sekitar pusat, kemudian berpindah ke kuadran kanan bawah. Sitkovskiy
(Rosenstein)’s sign Nyeri yang semakin bertambah pada perut kuadran kanan bawah saat pasien dibaringkan pada sisi kiri Aure-
Rozanova’s sign Bertambahnya nyeri dengan jari pada petit triangle kanan (akan positif Shchetkin-Bloomberg’s sign) Blumberg sign
Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada kuadran kanan bawah kemudian dilepaskan tiba-tiba APENDISITIS G. KOMPLIKASI
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis. Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis.
Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat
merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan
mortalitas. Proporsi komplikasi Apendisitis 10-32%, paling sering pada anak kecil dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di
bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan orang tua.43 Anak-anak memiliki
dinding appendiks yang masih tipis, omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi,
sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya: 1. Abses Abses merupakan
peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa
flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh
omentum 2. Perforasi Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi
jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada
70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh
perut, dan leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat
menyebabkan peritonitis. 3. Peritononitis Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi
dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum.
Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok,
gangguan sirkulasi, dan oligouria. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen, demam, dan
leukositosis. H. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Laboratorium Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).
Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-18.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan
pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam
setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu
80% dan 90%. 2. Radiologi Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography Scanning (CT-scan). Pada
pemeriksaan USG ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada pemeriksaan CT-
scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran
sekum. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%, sedangkan CT-Scan mempunyai
tingkat akurasi 94-100% dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%. 3. Analisa urin bertujuan untuk
mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah. 4. Pengukuran enzim hati dan
tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati, kandung empedu, dan pankreas. 5. Serum Beta Human Chorionic
Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa adanya kemungkinan kehamilan. 6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi
sekum. Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon. 7.
Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Apendisitis, tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan
Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan. APENDISITIS I. PENATALAKSANAAN MEDIS Penatalaksanaan yang
dapat dilakukan pada penderita Apendisitis meliputi penanggulangan konservatif dan operasi. 1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian
antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi, sebelum operasi dilakukan
penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik 2. Operasi Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan
Apendisitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). Penundaan appendektomi dengan
pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah). 3.
Pencegahan Tersier Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra-
abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan
garam fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi
disesuaikan dengan besar infeksi intra-abdomen. ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN Ø
WawancaraDapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai: · Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di
sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah
nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.Sifat keluhan nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau
timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas. · Riwayat
kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. kesehatan klien sekarang. · Diet,kebiasaan makan makanan rendah
serat. · Kebiasaan eliminasi. Ø Pemeriksaan Fisik · Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
· Sirkulasi : Takikardia. · Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal. · Aktivitas/istirahat : Malaise. · Eliminasi :
Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang. · Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak
ada bising usus. · Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada
titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki
kanan/posisi duduk tegak. · Demam lebih dari 38oC. · Data psikologis klien nampak gelisah. · Ada perubahan denyut
nadi dan pernapasan. · Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
· Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat. APENDISITIS B. DIAGNOSA KEPERAWATAN § Pre
operasi 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh inflamasi) 2. Perubahan pola eliminasi
(konstipasi) berhubungan dengan penurunan peritaltik. 3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah. 4. Cemas
berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi. § Post operasi 1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post
operasi appenditomi). 2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan). 3. Defisit self care
berhubungan dengan nyeri. 4. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi. C.
RENCANA KEPERAWATAN PRE OPERASI NO DIAGNOSA KEPERAWATAN NOC NIC RASIONAL 1. Nyeri akut berhubungan dengan
agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh inflamasi) Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan nyeri klien berkurang
dengan kriteria hasil: · Klien mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk
mengurangi nyeri, mencari bantuan) · Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri · Tanda vital
dalam rentang normal TD (systole 110-130mmHg, diastole 70-90mmHg), HR(60-100x/menit), RR (16-24x/menit), suhu (36,5-37,50C)
· Klien tampak rileks mampu tidur/istirahat 1. Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri. 2. Jelaskan pada pasien tentang
penyebab nyeri 3. Ajarkan tehnik untuk pernafasan diafragmatik lambat / napas dalam 4. Berikan aktivitas hiburan (ngobrol dengan
anggota keluarga) 5. Observasi tanda-tanda vital 6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik § Untuk mengetahui
sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya § informasi yang tepat dapat
menurunkan tingkat kecemasan pasien dan menambah pengetahuan pasien tentang nyeri. § napas dalam dapat menghirup O2 secara
adequate sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. § meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan
kemampuan kooping. § deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien. § sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa
nyeri. 2. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan peritaltik. Setelah dilakukan asuhan keperawatan,
diharapkan konstipasi klien teratasi dengan kriteria hasil: · BAB 1-2 kali/hari · Feses lunak · Bising usus 5-30 kali/menit 1.
Pastikan kebiasaan defekasi klien dan gaya hidup sebelumnya. 2. Auskultasi bising usus 3. Tinjau ulang pola diet dan jumlah / tipe
masukan cairan. 4. Berikan makanan tinggi serat. 5. Berikan obat sesuai indikasi, contoh : pelunak feses § membantu dalam
pembentukan jadwal irigasi efektif § kembalinya fungsi gastriintestinal mungkin terlambat oleh inflamasi intra peritonial § masukan
adekuat dan serat, makanan kasar memberikan bentuk dan cairan adalah faktor penting dalam menentukan konsistensi feses. § makanan
yang tinggi serat dapat memperlancar pencernaan sehingga tidak terjadi konstipasi. § obat pelunak feses dapat melunakkan feses
sehingga tidak terjadi konstipasi. 3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah. Setelah dilakukan asuhan keperawatan
diharapkan keseimbangan cairan dapat dipertahankan dengan kriteria hasil: · kelembaban membrane mukosa · turgor kulit baik
· Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg BB/jam · Tanda-tanda vital dalam batas normal TD (systole 110-130mmHg, diastole 70-
90mmHg), HR(60-100x/menit), RR (16-24x/menit), suhu (36,5-37,50C) 1. Monitor tanda-tanda vital 2. Kaji membrane mukosa, kaji
tugor kulit dan pengisian kapiler. 3. Awasi masukan dan haluaran, catat warna urine/konsentrasi, berat jenis. 4. Auskultasi bising usus,
catat kelancaran flatus, gerakan usus. 5. Berikan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus pada perlindungan bibir. 6.
Pertahankan penghisapan gaster/usus. 7. Kolaborasi pemberian cairan IV dan elektrolit § Tanda yang membantu mengidentifikasikan
fluktuasi volume intravaskuler. § Indicator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler. § Penurunan haluaran urin pekat dengan
peningkatan berat jenis diduga dehidrasi/kebutuhan peningkatan cairan. § Indicator kembalinya peristaltic, kesiapan untuk pemasukan per
oral. § Dehidrasi mengakibatkan bibir dan mulut kering dan pecah-pecah § Selang NG biasanya dimasukkan pada praoperasi dan
dipertahankan pada fase segera pascaoperasi untuk dekompresi usus, meningkatkan istirahat usus, mencegah mentah. § Peritoneum
bereaksi terhadap iritasi/infeksi dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan volume sirkulasi darah,
mengakibatkan hipovolemia. Dehidrasi dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit 4. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan
operasi. Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan kecemasab klien berkurang dengan kriteria hasil: · Melaporkan ansietas
menurun sampai tingkat teratasi · Tampak rileks 1. Evaluasi tingkat ansietas, catat verbal dan non verbal pasien. 2. Jelaskan dan
persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan 3. Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur. 4. Anjurkan
keluarga untuk menemani disamping klien § ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, penting pada prosedur diagnostik dan
pembedahan. § dapat meringankan ansietas terutama ketika pemeriksaan tersebut melibatkan pembedahan. § membatasi kelemahan,
menghemat energi dan meningkatkan kemampuan koping. § Mengurangi kecemasan klien POST OPERASI NO DIAGNOSA
KEPERAWATAN NOC NIC RASIONAL 1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi appenditomi). Setelah
dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan nyeri berkurang dengan kriteria hasil: · Melaporkan nyeri berkurang · Klien tampak
rileks · Dapat tidur dengan tepat · Tanda-tanda vital dalam batas normal TD (systole 110-130mmHg, diastole 70-90mmHg),
HR(60-100x/menit), RR (16-24x/menit), suhu (36,5-37,50C) 1. Kaji skala nyeri lokasi, karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan
tepat. 2. Monitor tanda-tanda vital 3. Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler. 4. Dorong ambulasi dini. 5. Berikan aktivitas
hiburan. 6. Kolborasi tim dokter dalam pemberian analgetika. § Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat, kemajuan
penyembuhan,perubahan dan karakteristik nyeri. § deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien. § Menghilangkan tegangan
abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang. § Meningkatkan kormolisasi fungsi organ. § meningkatkan relaksasi. §
Menghilangkan nyeri. 2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan). Setelah dilakukan asuhan
keperawatan diharapkan infeksi dapat diatasi dengan kriteria hasil: · Klien bebas dari tanda-tanda infeksi · Menunjukkan
kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi · Nilai leukosit (4,5-11ribu/ul) 1. Kaji adanya tanda-tanda infeksi pada area insisi 2.
Monitor tanda-tanda vital. Perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan mental 3. Lakukan teknik isolasi untuk infeksi enterik,
termasuk cuci tangan efektif. 4. Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan luka insisi / terbuka, bersihkan dengan betadine. 5.
Awasi / batasi pengunjung dan siap kebutuhan. 6. Kolaborasi tim medis dalam pemberian antibiotik § Dugaan adanya infeksi § Dugaan
adanya infeksi/terjadinya sepsis, abses, peritonitis § mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain. § mencegah meluas dan
membatasi penyebaran organisme infektif / kontaminasi silang. § menurunkan resiko terpajan. § terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob
dan hasil aerob gra negatif. 3. Defisit self care berhubungan dengan nyeri. Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan kebersihan
klien dapt dipertahankan dengan kriteria hasil: · klien bebas dari bau badan · klien tampak bersih · ADLs klien dapat mandiri
atau dengan bantuan 1. Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku
klien. 2. Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih. 3. Berikan Hynege Edukasi pada klien dan keluarganya tentang pentingnya
kebersihan diri. 4. Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya. 5. Bimbing keluarga klien memandikan / menyeka pasien 6.
Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien. § Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan meningkatkan
kesehatan. § Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman § Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk
menjaga personal hygiene. § Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan § Agar keterampilan dapat diterapkan
§ Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi. 4. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis
dan kebutuhan pengobatan b.d kurang informasi. Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan pengetahuan bertambah dengan
kriteria hasil: · menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan dan · berpartisipasi dalam program pengobatan
1. Kaji ulang pembatasan aktivitas pascaoperasi 2. Anjuran menggunakan laksatif/pelembek feses ringan
bila perlu dan hindari enema 3. Diskusikan perawatan insisi, termasuk mengamati balutan, pembatasan mandi, dan kembali ke dokter
untuk mengangkat jahitan/pengikat 4. Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medic, contoh peningkatan nyeri edema/eritema luka,
adanya drainase, demam § Memberikan informasi pada pasien untuk merencanakan kembali rutinitas biasa tanpa menimbulkan masalah.
§ Membantu kembali ke fungsi usus semula mencegah ngejan saat defekasi § Pemahaman meningkatkan kerja sama dengan terapi,
meningkatkan penyembuhan § Upaya intervensi menurunkan resiko komplikasi lambatnya penyembuhan peritonitis. DAFTAR PUSTAKA
Elizabeth, J, Corwin. (2009). Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta. Fatma. (2010). Askep Appendicitis. Diakses
http://fatmazdnrs.blogspot.com/2010/08/askep-appendicitis.html pada tanggal 09 Mei 2012. Johnson, M.,et all, 2002, Nursing Outcomes
Classification (NOC) Second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby. Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI Mc Closkey, C.J., Iet all, 2002, Nursing Interventions Classification (NIC) second Edition, IOWA Intervention Project,
Mosby. NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi. Nuzulul. (2009). Askep Appendicitis. Diakses
http://nuzulul.fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35840-Kep%20Pencernaan Askep%20Apendisitis.html tanggal 09 Mei 2012. Smeltzer,
Bare (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner & suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC Share this article : Share603
Artikel Terkait : Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap Title: LAPORAN PENDAHULUAN APENDISITIS; Written by wiwing
setiono; Rating: 5 dari 5 Diposkan oleh wiwing setiono Jam 5:48 AM Label: Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Lengkap 7
Comments 2 Comments nt.fb admin wiwing setiono Newer Post Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) Popular Posts
LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS LAPORAN PENDAHULUAN SC (SECTIO CAESARIA) LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI LAPORAN PENDAHULUAN GAGAL GINJAL KRONIK/ CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) LAPORAN PENDAHULUAN
APENDISITIS Blog Archive ► 2017 (1) ▼ 2014 (47) ► March (11) ► February (3) ▼ January (33) LAPORAN PENDAHULUAN
AMELOBLASTOMA LAPORAN PENDAHULUAN CA PARU/ KANKER PARU LAPORAN PENDAHULUAN SKIZOFRENIA INFEKSI
NOSOKOMIAL LAPORAN PENDAHULUAN KETOASIDOSIS DIABETIKUM (KAD) LAPORAN PENDAHULUAN NYERI PUNGGUNG
BAWAH (LOW BACK... LAPORAN PENDAHULUAN MASTEKTOMI LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE (CARSINOMA MAMMAE)/
... LAPORAN PENDAHULUAN HIDROSEFALUS LAPORAN PENDAHULUAN WAHAM LAPORAN PENDAHULUAN VERTIGO LAPORAN
PENDAHULUAN COMBUSTIO/ LUKA BAKAR LAPORAN PENDAHULUAN ASMA LAPORAN PENDAHULUAN STROKE HEMORAGIK
LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTIROID LAPORAN PENDAHULUAN BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERPLAS... LAPORAN
PENDAHULUAN APENDISITIS LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS (DM) DENGAN U... PITTING EDEMA LAPORAN
PENDAHULUAN HEPATITIS PENGKAJIAN NEUROLOGI (SARAF KRANIAL, GLASGOW COMA ... LAPORAN PENDAHULUAN
STROKE NON HEMORAGIK LAPORAN PENDAHULUAN DERMATITIS LAPORAN PENDAHULUAN PPOK LAPORAN PENDAHULUAN
EFUSI PLEURA LAPORAN PENDAHULUAN DEMENSIA SGB (SINDROMA GUILLAIN BARRE) DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA
versi 2 DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 1 INDUKSI PERSALINAN LAPORAN PENDAHULUAN BRONKITIS CONTOH
DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN DISCHARGE PLANNING... DIAGNOSA KEPERAWATAN NANDA versi 3 ► 2013 (43) Author
Benksquarz wiwing setiono wiwing setiono.skep.ns Hak Cipta Oleh LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN LENGKAP
ShareThis Copy and Paste Share to Facebook Share to Twitter Share to Print Share to Email More AddThis Share options Share to
Facebook Share to Twitter Share to Print Share to Email More AddThis Share options
Share to Facebook
Share to TwitterShare to PrintShare to EmailMore AddThis Share options