Anda di halaman 1dari 26

PT.

PLN (Persero) PENYALURAN & PUSAT PENGATUR BEBAN JAWA BALI


PT. PLN (Persoro) DtSTRtBUSt JAKARTA RAYA DAN TANGERANG
PT. PLN (persero) DtSTRtBUSt JAWA BARAT & BANTEN
PT. pLN (persero) DtSTRtBUSt JAWA TENGAH & Dty
pT. pLN (persero) DtSTRtBUSt JAWA Tt tUR
PT. PLN (Persero) DtSTR|BUSt BALI
tr tut PtRSERol Pr Pt"x oa8€nol D6lnlu!
PEIIYATIIRAX DAII PI'SAT P$IGA]UR BEBAII
J W Sttl

PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI


TRAFO PENYUIANG 20 KV -

PT. PLN (PeTseTo) PEI{YALURAN & PUSAT PETIGATUR BEBAN BALI


'AWA

DENGAN

PT. PLI{ (PeTse'o) DISTRIBUSI ,AKARTA RAYA DAN TANGERA'{G,


PT, PLN (Pers€ro) DISTRIAUSI BARAT & aA TEN,
PT, PLN (P€]se'o) DISTRIAUSI'AWA TET{GAH & DIY,
PT. PL (Persero) DISTRIEUSI JAWA TIMU&
'AWA
PT. PL (Pers€ro) DISTRIBUSI BALI,

(2or2)
t
I
I PAiY lut
?I FL|i IPERSEROI
ltD itljsArt€rolTui8€Ett PT FlN PERSERO) IX'RIBUE

I JAW B tl

l KESEPAKATAN BERSAfiA

! Untuk menjamin kelancaran dan ketgdiban dalam pongoperasian sistem tenaga listrik
f did4rah batas ass6l sisi 20 kV antara PT PLN (Persero) Penyaluran dan pusat pengatur

f B€ban Jawa Bali dengan PT PLN (Pe6ero) Distibusi Jawa Baral dan Banlen khususnya
dalam pengelolaan sistem protekgi lrafo - ponyulang 20 kV telah disepakati aturan-aluran
I yano lertuang dalam buku kes€pakatan belsama ini yang mengatu. beborape kelentuan-

f kel€ntuan antara lain :

I 't. Penetapan setelad koordinasi si6lem proteksi,


I 2. lnwstigasi penyebab ganqguan,
3. Pro6€s p€mulihan pasca gangguan
I 4. Pengembangen sistefi prctgksi,
f 5. Pongelol€an relai frekuensirendah (UFR) untuk pelepasan beban penyulang,
I 6. Penyet6lan ulang (res€tting) sistem proteksi,
7. Pemeliharaan sistom p.oteksi.
I
I Hal-hal lain yang belum termasuk dalam kes€pakatan ini akan ditenlukan kemudian.

I
I
I Jakarta, 30 Aguslus 2012

I
I PT PLN (P€rsero)

I Distribusi Ja\fla Barat dan Banten

I
I
t
I Generel Manager G€neral Manag€r

t
f Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-PenyuLng 20 kv itl
I
I
I
f
t
I I Fr. Pur ( PERSaRO I
t+l Anr4 suRlxArt DAFIAR HADIR

PELAXSAI'/AAI{ IIARI / TANGGAL KA}iIS,9 AGUSTUS 2OI2


PEMSA}iASAI'] I(f,HL
20 KV SEJAWA 8AU
Y..+trJr
PK. T3.OO' SEL€SAI
TEMPAT RUANG MPAT PDKE I PLN AREA SUMKARTA

NO. NAMA UNIT/ JAAATAN TAI,{DA TAI'JGAN

I Ago<t ?na*"t-* F,h^t rca F- .-7


2
Ka,ov p. htrt ilr
-IJ
No(o rrtvt'(*oi 3H rrpTrarJ 6 PN A"-
fb4 X8
P,ta
" &fuw+
[4 Jtl kt rn,.t
io,ufvYr+
A\0 ml,f -L-itr^
in}t, YcrYvlaYt> APD l>frm
Qtuor t'&'t f W ff\+oi3
?:-t7 9.rqvw rJ 7-z
Kuw' P &16'e+', ./,
td;^ N,1*t^ 1.,+a ;ii; ttarb.
tl Citall*otra /ka*v r* i

y'l',ro,'' Q,i/c't4. +t^a,t\'^..-


\tl
l
I

l3

l4
SWry WfhneT^u,
f.,Y( TA,tr
'I
ft* 2;tt &0
I
\"

7tV',o*tot t e,,j liw.^^' f)1fr )\"f( I

I L
15

t7
I
I PT PLN (PERSERO)
PI P$I IPEiSERO) DISTNEUSI

! PENYAIUiAN DAN PUSAT PEIIO\TUR BEEAN


JAWA SALI

I DAFTAR ISI

I Halaman
i-v
I Keseoakatan Bersama
Daftar lsl
I Bab-l Pendahuluan 1

T Bab.2 Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kv 3

I 2.1
2.2
Penetapan atau Perencanaan Koordinasi Sistem Proteksi
lnvesligasi Penyebab Gangguan Trafo Trip
3

I 2.3
2.4
Pemulihan Pasca Gangguan
Pengembangan Pola Pengaman Trato-Penyulang
5
5

t 2.5
2.6
Pengelolaan UFR Untuk Pelepasan Beban Penyulang
Penyetelan ulang {Resetling) Sistem Proteksi
6
6
2.7 Pemeliharaan Sistem Proleksi 7
T
Bab-3 Faktor Teknis Yang Oiperhatikan Oalam Koordinasi Pengaman
T Trafo-Penyulang 8
I 3.'1 Pola Operasidan Konfigurasi Sistem
Kemampuan Trafo Terhadap Beban Lebih (Overload)
I
I
I 3.2
3.3 Ketahanan Trafo Tefiadap Gangguan Hubungan Singkat Eksternal
Trafo Arus (Cl Untuk Relai Proteksi
9
't0
I 3.4
3.5 Statistik Gangguan
Penutup Balik Otomatis (Recloser)
11
'tl
I 3.6
3.7
3.8
Pentanahan Sistem dan Konfigurasi Belitan Trafo
Kondisi Spesifik Yang Berpolensi Menyebabkan PMT Trafo Trip
I 3.9 Pengaman Yang Berlapis dan Sumber OC
3.'t0 Waktu Pemisahan Gangguan
13

I 3.1'l Penggunaan Pola Pengaman Non Kaskade


15
15

I 8.b.1 LAMPIRAN
Distribusi Wlayah
I Lampiran-1 Pola Koordinaoi Proteksi Trafo
Jakarta dan Banten 17

t Lampiran-2 Pola Koordinasi Proteksi Trafo


Jawa Barat dan Eali
Distribusi Wilayah
18

I Lampiran-3 Pola Koordinasi Proteksi Trafo


Jawa Tengah
Lampiran-4 Pola Koordinasi Proteksi Trafo
Dlstribusi Wilavah

Distribusi Wilayah
't9

I Jawa Timur
Lampiran-s Pola Koordinasi Proteksi Trafo Distribusi Wilayah Bali
20

I
t
I
I
I
I Pengelolaan Sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kV
t
I
I
I
I
t PI PIJI IPERSERO)
PEI{YATI'RAX OAX PUSAI PI ?tJ| {?ERSE OI OF'IRBI'€I
t J W^8 U
'SIGAIUR
BESAII

I KESEPAKATAN BERSAMA
I DALAM PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI TRAFO . PENYULANG 20 KV

I BAB I
I PENDAHULUAN
I Sehubungan dengan perubahan Organisasi pT pLN (persero) penyaluran dan pusat
Pengatur Beban Jawa Bali dan pengelolaan pemeliharaan asset 20 kV dad pT pLN (persero)
I Distribusi kepada PT PLN (Persero) penyaluran dan pusat pengalur Beban Jawa Bari sesuai
I Surat OireKur Operasi No. 293/455/D|TUSAHI/1996/K Tanggat 09 Juli 1996 pedhal
Pelimpahan Pengeroraen operasidan Baras Kepemirikan Aset dan surar dad Direktur
I oDerasi
Jawa Bali No. 04149/1o4/DrropJB 12011 langgar 30 Desember zoi1 perihar pemeriharaan
I Kubikel 20 kV Gl, maka diperlukan kesepakatan bersama dalam pengelolaan sistem proteksi

I kafo - penyulang 20 kV agsr :

I . Bates wewenang dan tanggung jawab menjadijelas, serta


. Kemungkinan terjadi keselahan dalam koordinasi sistem proteksi dapal dip€rkecjl.
I
Selelah serah terima asset, maka batas pengelolaan sistem proteksi sepefti Gambar,,1.
I diatur s€bagai berikul :

I
I
,| nsrt ulur
I /,/ l^cofiming
t - -- - - --- - - -- -- --- --
I ' ASETMTUK
j (P6cro) Dtlt'ibu'i
PT PLN

I i
I
I
I
I PENYIJI,{.NG z) KV
Gamb.r - I.1
BATAS PEMILIKAN ASSET INSTAI-.\ST z) KV
PeDgelolaar Slstem Proteksi Trafo.peDyulaDg 20 kV
PT PIJI PERSERO)
PT Pu{ (PERSERO} Otall nisl
PEIIYAII'RIII I}AII PI'EAI IfXGATUR SEBAII
JW 8U

PLN-P3B Jawa Bali :


1. Sistem proleksi trafo bedkut sislem catu daya dan wiringnya yang melipuli :
. Pengaman utama terhadap gangguan intemaltrafo tidak perlu dikoordinasikan dengan
sisi hilir, sehingga tidak termasuk dalam lingkup kesepakatan ini.
. Pengaman terhadap gangguan extemal lrafo (OCRyGFR dan SBEF) harus
dikoordinasikan dengan saslem pengaman penyulang 20 kV.
2. UFR yang terpasang di kubikel 20 kV untuk kebutuhan load shedding.
3. OLS yang terpasang unluk kebutuhan load shedding.

PLI{ Distribusi :
1. Sislem proteksi penyulang, kopel dan rel 20 kV harus dikoordinasikan dengan sisi hulu
(ocR, DGRyGFR ).
2. Penentuan penempatan lokasi UFR di kubikel 20 kV untuk kebutuhan dan larget load
shedding
3. Sistem proteksi khusus penyulang konsumen tegangan menengah, gardu hubung harus
dikoordinasikan dengan sisi hulu.
4. Penentuan penempatan lokasi UFR untuk konsumen tegangan tinggi.
5. Pemasangan UFR untuk kepentingan manajemen beban.

LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekeiaan yang dialur dalam kesepakatan bersama ini meliputi keEiatan yang
diuraikan sebagai berikut :

I I. PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI TRAFO.PENYULANG 20 KV.


Bab ll memborikan penjelasan tentang penyelesaian masalah sislem proteksi oleh kedua
I belah pihak dan kewajiban masing-masing pihak dalam pengelolaan sisi€m proteksi
I 2. FAKTOR TEKI{IS YANG DIPERHATIKAN DALAM KOORDINASI PROTEKSI TRAFO-
I PENYULANG 20 KV.
I Bab lll memb€rikan garis besar tentang karaKeristik peralatan primer, kondisi sistem dan
statistik gangguan yang perlu diperhatikan dan diikuli dalam melakukan koordinasi sistem
I orotsksi.
I
I
I
I
I
I
I PeDgelolaaD sistem Proteksi Trafo-Penyulang 20 kv
I
I
I
I PI Pt'I IP€RSERO) Pr Pt,| (PCRSEnO) o{SnEUSl
PAYALUMII DAII PUSAT PEIICAIUR BTBAII
I Jrlu 8 u
I BAB II
I PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI TRAFO - PENYULANG 20 KV

I Kepemitikan dan p€ngelotaan aset 20 kV telah dilimpahkan dan PLN P3B JAWA BALI ke
I PLN Dislribusi s$ual Surat Direlitur Operasi No' 293r45tDlTUSAHArl996tK Trnggal 09
Juli 1996 pedhal Pollmpahan Pengelolaan Operasl dan Batas Kgpemilikan Aset namun
I pemeliharaan penyulang 20 kV dilaksanakan PLN P3B JAWA BALI sesuai dengan Surat
I darl Dlrektur Opetasi Jawa Bali No.04149r104/DlTOPJBr20ll tanggal 30 Dos€mber
I 20tl ponhal Pemellhataan Kublkol 20 kV Gl, Agar diperoleh ke.ielasan lenlang batas
kewaiiban dan tanggung jawab dalam mengelola sistem proteksi trafo - penyulang 20 kV,
I maka disusun aturan pelaksanaan yang meliputi kegiatan sebagai bedkul :

I . Penelaoan setelan/ koordinasi sistem proteksi,


I . Invgsligasi penyebab gangguan,

I . Proses pemulihan pasca gangguan

I . Peng€mbangan sistem proteksi,

I . Pengelolaan relai frekuensi rendah (UFR) untuk pelepasan beban penyulang,


. Penyetelan ulang (resetting) sistem proteksi,
I . Pemefiharaan sisitem proteksi.
t
2.I PENETAPANATAUPEREI{CAI{MNKOORDINASISISTEMPROTEKSI
I Pelaksanaan koordinasi sistam proteksi pada masing-masing instalasi ditrafo dan penyulang
I beD€doman pads pengoperasian slstem 20 kV ndht, yang dilakukan dengan cara sebagai
T berikut :

1. Setelan rdai untuk OCR, GFR/DGR, SBEF (50/51i51G/67G) dan recloser, ditetapkan
I oleh masing-masing pihak d€ngan mengikuli batasan-batasan ieknis dengan tetap
I memperhatikan kualites pelayanan, seperti yang ditetapkan pada BAB lll atau,

T 2. Setelan relai didiskusikan kembali bila ada kasus khusus yang belum dialur pada Bab lll.

I Kewajiban masing-masing pihak dalam menetapkan koordinasi sislem pmteksi tEfo -


penyulang 20 kV sebagai berikut :
I PLN P3B Jawa Bali :
I . Menyediakan dala hubung singkat di rel tegangan tinggi (150 dan 70 kV) yang akan
I dipakai PLN Distdbusi sebagai dasar dalam menetapkan setelan rele OCR/GFR (50/51)
p€nyulang 20 kV.
I . Menetapkan dan melaksanakan penyetelan rele SBEF di NGR dan OCR (51S) di
I incoming sisi sekunder trafo.

I
I PetrgelolaaD Ststem Protektl Trafo-Penyularg 20 kV
I
I
PI PT.II IPERSERO} W PI.II PER8ERO) O|SNBUSI
rI Pf YALlrtrAIDAltPUS T PEIIoATUR 8€a
JA|V EAU

| . Menginformasikan kepada PLN Distribusi setelan rel€ tersebul di atas berikul data trafo
I arusnya.

I . Bila ade perubahan setelan rele disisi pengaman trafo, maka prosedur yang diikuti adalah
sesuai penjelasan pada butlr 2.5.
I PLN Drstrrbusi :
I
Menetapkan dan melaksanakan penyetelan rele OCR dan DGFyGFR (50/51/51G/57G) di
I sisi penyulang 20 kV.

r . Mengintormasikan kepada PLN P3B JAWA BALI setelan rele penyulang tersebut berikut
' data transformalor instrumenl untuk relai Droteksi.
| . Bila ada perubahan selelan rele disisi ponyulang, maka prosedur yang diikuti adalah
I sesuai penjelasan pada but?2,5.

I 2.2 INVESTIGASI PENYEBAB GANGGUAN TRAFO TRIP.

I Untut< menyelesaikan maselah sislem proteksi yang menyebabkan PMT lrato trip, akan
dilakukan olah flm Penanggulangan Gangguan franslormator PT PLN (Perserc) P3B
;
Jawa Batl dan PT PLN (P6rsero) D,sfrbusl Dengan cara ini masing-masing pihak akan
I mendapatkan informasi yang sama dan aKual, urfuk selaniutnya akan diperoleh
I penyelesaian yang oplimal, baik untukjangka panjang maupunjangka p€ndek.

| 2.2.1 Sumbor data investigasi gangguan


.I Untuk keperluan investigasi, data gangguan yang berlaku adalah data yang bersumber dari :

.t Hintui -1 : . DFR atau (digital fault recorder)


. SCADA diAPD DISTRIBUSI atauRCCPsBJB
I . Rekaman gangguan berupa osilografi rele alau bosaran yang
diukur rel6
!
, Hin*i-2 :. Indikasirele yang bekerja

Hind<i- 3 :. Laporan Operator


I
I Hirarkitersebut di atas menunjukkan tingkat keperc€yaan terhadap data.

a 2.2.2 Kewsjiban masing-maslng pihak

I Kewajiban masing-masing pihak dalam melaksanakan investigasi gangguan adalah sebagai


berikut :
I pLN pge JAWA BAL' :
I
Menyediakan data sesuai butir 2.2.'1, yang tersedia disisi incoming 20 kV.
I . Tim Penanggulangan Gangguan Tnnsformator PT PLN (Persero) P3B Jawa Bali
a d"n PT PLN (Perserc) Dlstribusi melakukan investigasi bersama.

r Pengelolaatr sistem Proteksl Trafo.Petryulang 20 kv 4


I
I
I
I P' PTX PERSERO)

I PEIY rusd ri,in'd'friEi#.erun a$4" Pr Prx PEnsERo) oBTRausl

I PLN Di"t ibu"i,


I . Menyediakan data sesuai butir 2.2.1, yang tersedia disisa penyulang dan rel 20 kV.

I . Tim Penanggutangan Gangguan Trcnsfomator PT PLN (Perserc) P3B Jawa Batl


ctan PT PLN (Porserc) Dis,rtbusi melakukan investigasi bersama.
a
_ Laporan hasil investigasi dibuat oleh flm Penanggutangan Cangguan fnnsformator PT
etN p"r'ero) PlB Jawa Bati dan PT PLN (Petserc) Dtslnbust.
'I
I Z.Z.gPenerapan,lmplementasiHasilInvestlgasl

! Penerapan ,asi, invesf,i?asi bersama pada masing-masing instalasi, baik berupa selelan relai

I- tr, p€kerjaan lainnye seperti perbaikan, penyempurnaan dan pengembangan sist€m


proteksi, menjadi tanggung jawab masing-masing pemilik asel dan pelaksanaannya
I d,lapo*an kepada Manajemen kedua belah pihak.

I z.s PEMULTHAN PAscA GANGGUAN


I Sebagai langkah anlisipasi untuk mengurangi dampak Through-Fault Cuneni, maka apabila
leriadi gangguan dengan indikasi rnonert perlu dilakukan investigasi dan atau pemyataan
1 dari pejabal yang beMenang atau yang diberi wewenang bahwa sumber gangguan telah
I ditemukan dan jaringan telah aman untuk dinormalkan.

a 2.4 PENGE|T|BANGAN poLA PENGAI AI{ TRAFo - PENYULANG


Kaidah dasar dalam koordinasi penyelelan relai arus lebih (pola kaskade), adalah dengan
I
menyetel relai dblsi hirh lebih cepa, darl slsi huru dengan beda waktu minimal 0.3-0.4
I aetir.
I Kaidah dasar penyetelan batas arus teblh adalah sebesa|l.2 kali kemampuan peratatan
terendah. Selelan lersebut harus dipastikan masih dapat bekeria dengan baik.
-I
I Bi,a kaldah dasar pada pola kaskade lersebut tidah dapat membeikan pengananan

I fang optimum pada tnfo dan penNang, maka pedu di e,.a,pkan Pota Non
sesuai dengan kesepakalan befsama.
I
I Bila dijumpai kondisi seperti tersebut di alas maka masing-masing pihak berkewajiban
I melakukan langkahlangkah sebagaiberikut :

I Kewaiiban PLN P3B JAWA BALI :

I . PLN P3B JAWA BALI APP memberilahukan kepada PLN APD DISTRIBUS|.
l\remberi saran atlematif penyelesaiannya.
I
T
r Pengelol.aD Si6tem Proteksl Trafo-PeDyulaDg 20 kV
I
T
I
I Pt Prx PEnS€RO)
nftr{tPERsEtot STnanisl
rr PEIYAIUn {0 ltR € rPEXCATURB€B tl
JAWA BAU

I
' Kowajiban PLN Dlstribusi:
I . PLN APD DISTRIBUSI mempelajari dan mengupayakan ahematif penyelesaian
masalah tersebul.

I 2.5 PENGELOLMN UFR UNTUK PELEPASAN BEAAN PENYULANG


Rele UFR untuk keperluan pelepasan beban yang ada saal ini sebagian terpasang pada
I
kubikel incoming 20 kV milik PLN P3B JAWA BALI dan sebagian lagiterpasang pada kubikel
I ZO kV lainnya milik PLN Distribusi, diperlukan kejetasan dalam pengelolaan UFR yang diatur

I sebagai berikut I

Kewajiban PLN P3B JAWA BALI


I :

I- . Meneniukan nilai setting UFR dan alokasi pelepasan beban pada setiap lahapan
frekuensi.
I . Menerapkan setting yang telah ditetapkan pada UFR yang terpasang di kubiket 20 kV.

I . Menyampaikan perubahan setelan dan hasil uji

I Kewaliben PLN Dlsbibusi:


. Mgnentukan lokasi kubikel yang masuk dalam program pelepasan beban.
t
Memberikan laporan secara |6al lirr6 perihal unjuk kerja UFR.
I
. Memberikan informasikepada P3B apabila ada perubahan beban yang menjaditarget
I pebpasan.

I
a 2.6 PENYETELAN ULANG (RESETTING) SISTEM PROTEKSI
- Setiap melakukan perubahan set€lan relai (OCR, DGRyGFR dan autoreclose), ierlebih dahulu
I harus diketahui dan disetujuioleh kedua belah pihak secara tertulis.
Set€lah dilakukan perubahan set€lan, relai harus diuji pada nrrai seleran
I )€ng baru (sesuai
dengan kepulusan Direksi No. 075.K016/D1FU1996, tanggat 9 Agustus 1996), dimana
I
' pelaksanaannya dilakukan oleh pemilik aset dan hasil pengujian disampaikan ke masing-
I masing unit lerkait.

I Kewajiban PLN P3B JAWA BALI :

I . Menentukan dan mgnerapkan nilai setting yang baru dari pengaman trafo sesuai
kaidah.
I
I . APP terkail menyampaikan hasil penerapan perubahan setting kepada pLN ApD
Distribusi
T
I
I
- PeDgelolaatr Slstem Proteksi Trafo-PenyulaBg 20 kV

I
I
I
I
PT Pr.lt {PEiSERO) Pr Put IPERS€ROI DrfitFUSl
PE|YALUR II OAII PUSAI ?EIIOATUR EEAAT
I JAWA 8AU

I Kewallban PLN Dbttibusl :


I . Menentukan dan menerapkan nilaisetling yang baru dati penyulang sesuai kaidah.
I . APD DISTRIBUSI menyampaikan penerapan perubahan setiing kepada PLN P3B
I APP terkait.

I 2.7 PEMELIHARMN SISTEM PROTEKSI


I Pemeliharaan peralatan dan sislem proleksi dilakukan dengan mengikuli petunjuk sesuai
Su€t Keputusan Direksi No. 075.1(016/D1Fy1996, knggal 09 Agustus 1996 tentang
I Pedoman Petunjuk Psmeliharaan Proteksi, Surat dari DireKur Operasi Jawa Bali
I No.04149/104/DITOPJB/2011 tanggal 30 Desembedi 2011 perihal Penyampaian Nota

I Kesepakatan, dan pelaksanaannya menjadi langgung jawab masing-masing pemilik aset.

I Kewallban PLN P3B JAWA BALI :

I . Melaksanakan pemeliharaan terhadap peralatan dan sistem proteksi yang terpasang


pada kubikel 20 kV incoming.
I . Melaksanakan pemeliharaan terhadap peralatan dan sistem proteksi y;g terpasang
I di semua kubikel 20 kV

I Kewallban PLN Dlstribusl :

I Menyiapkan hal-hal yang terkait dengan proses pemeliharaan kubikel 20 kV.

t Menjamin ketersediaan sparepart yang dibutuhkan apabila teriadi kerusakan.

I
I
I
I
t
t
I
I
I
I
I
I
I Pengelolaa! Slstem Prcteksl Trefo-PeDyulang 20 kv
I
I
I
I PT Put OERS€IO) PT PtJ{ (PERsERO) OISTRSUA

I PTI{IAIURAII OAII PU8AT PEIIGATUR BEEAII


.r utB u
I BAB III
I FAKTOR TEKNIS YAI{G DIPERHANKAN DALAfl KOORDINASI
I PENGAMAN TMFO . PENYULANG

I Kdteria umum yang perlu diperhatikan dalam melakukan koordinasi ptoteksi sistem adalah
I ledaminnya konlinuitas penyaluran lenaga listrik yang diukur dengan indeks sering dan
lamanya padam.
I Beberapa faktor yang dapat mempengaruhijumlah dan lama padam pada penyediaan tenaga
T listrik, antara lain :

I a. jumlah gangguan pada peralatan primer,


b. kondbi sistem/ jaringan dan
I c. kineia sistem proteksi,
I Agar sistEm proteksi dapat bekerja sesuai dengan ftingsinya. maka dalam melakukan
koordinasi sistem pengaman haru6 memperhalikan hal-hal sebagai berikui
I . Keamanan peralalan,
:

I . Keamanan sFtem,
I . K€butuhan konsumen.

t Perhatian terhadap koamanan peralatan dan si3lem serla kebuluhan konsum€n harus

I diberikan socara proporsional, agar sec€ra sistem akan diperoleh indeks sering dan lama
padam yang optimum. Pengimanan yang berlebih tefiadsp peralatEn dan sislem dapat
I m6nyebabkan tingginya jumlah padam, sedangkan perhalian yang b8rlebih lerhadap
I kebuluhan kon8umgn dapat membahayakan peralatan dan sistem .

I Lamanya waKu pomulihan setelah leriadi gangguan sangat tGrganlung pada lingkat
kerusskan p€raletan alau luas padam yang dtlimbulkan. Sebagai contoh behwa kerusakan
I pemanen pada lrafo akan menyebabkan pemadaman yang luas dsn waKu pemulihan yang

I lobih lama serta biaya unluk perbaikan yang lebih linggi-

I Dengan mempehalikan hal teBebut maka dalam mengkoodinasikan sistem pengaman


t trafo, kamanan derl tafo lersebul merupakan la4or yang harus lebih dipehatikan

I Hal yang perlu dipefiatikan dalam meneiapkan koordinesi pengaman trsfo dan ponyulang
I anlara lain sebagai berikut :

I .
.
Pola operasidan kontigurasi sistem,
Kemampuan trafo tefiadap beban lebih,
I . Ketahanan trato terhadap gangguan hubung singkat eksternal,
I . Trafo arus uniuk relaiproleksi,

I . Statistik gangguan,
. Panutup balik otomatis,
I PeDgelolaatr Slstem Protelcl Trafo-Penyulalg 20 kV
I
I
PI Ptr c€isERo) PT nX OER8EnOI D|lnnNl
PfxY UJR X D|lt PUS IPEICAIUnEEBA!|
Ji BU

Pentanahan sistem dan kontigurasi belitan lEio,


Kondisi spesifik yang berpotensi menyebabkan PMT trdo tdp,
Kelahanan kabelterhadap gangguan hubung singkat ianah,
Pengamanan yang berlapis dan sumber OC,
WaKu pemisahan gangguan,
Penggunaan Pola Pengaman Non kaskade.

3,t POLA OPERASI DAN KONFIGURASI SISTEII

I Pola yang dipakai pada pengoperasian sislem 20 kV adalah radial, dimana s6car€ normal
iaringan 20 kV iidek dioperasikan paralel, dengan netral sistem '12 Ohm, d€ngan panjang
I
saluran baku sesuai SPLN 59 : 1985, tentang kesndalan pada sistem disttibug 20 kV.
I
3,2 KEMATIPUAN TRAFO TERHADAP BEBAN LEBIH ( OVERLOAD )
I
Sesuai stendar intemalional IEC 354 tahun 1991 diijinkan unluk membebani traio meletihi
I nilai pengEnal sepedi yang disebutkan pada pEpan nama (name plale). Namun disadari
bahwa pembebanan lebih iersobut akan mengurangi umur trafo dan penguEngan umur
I
lersebrrt lidak dapat ditetapkan sec€ra akunrt hanya dengan mengandalkan dala operasi
I rutan.

I Memp€rhatikan auhu semar rata-rata (ambisnl iemp€rature) yang lebih tinggi ded nilei
standard ssrla taKor umur, maka kemampuan traio mEniadi lebih rendah dari nilai pengenal
I pada name plate.
I Meskipun pembebanan lebih tehadap trato tenaga menurut IEC diikan namun hendaknya
hal te's'ebut sajauh mungkin dihindai dan bil€ teryaksa dilkukan harus dengan pesetujuan
I p€,nilik instalasi (PLN PgB JAWA BALI
I
I 3,3 KETAHANAN TRAFO TERHADAP GANGGUAN HUAUNG SINGXAT EKSTERNAL
Ddam melakukan koordina8i pengaman lrafo, dampak lermis dan mekanis sebagai akibal
I dari arus gangguan ek6l6mal perlu dip6rhatikan. Untuk arus gangguan rendah yano
I msndekati ,ufad (range) bebaftlebih, pengaruh mekanis kurang dipeftitungkan, kecuali blla
I iumleh gangguan ekstama, tersebul clkup tinggi. Pada arus gangguan yang mendekali
batas kemampuan desain trafo, dampak mekanis lebih dominan dibandingkan dengan
I pongaruh themis.
I Menurul standar intemasional lEC, kolahanan trafo terhadap gengguan hubung singkd

I ekstemaledalah 2 detik (trato baru).


Walaupun ketahan talo tehadap arus hubung singkat ektemal dalam standar intemalional
I ditetapkan 2 detik tetapi mempedimbangkan usia trafo, maka waktu keda ,erai OCR di s,s,
T incomh|4 untuk gangguan di pl 20 kV dit€ntukan 1 delik (kecuali kondisi teftentu yang

I disebakati).

I Perselolaar Sistem Proteksl Trafo-PeEyulaBg 20 kV


I
I
I
I PI Al| IPERSERO) PUi PERsERO} ONSNAUSI
I
PT
PE|YATT'MT DAX PUSA] PE EAT'R BCSII.I
JW8tU
I Sgmpai batas ledentu arus gangguan hubung singkat ekstemal akan menyebabkan
T p€nurunan umur sebagai akiM pengaruh thermis. Namun diatas batas tersebul pengaruh

t thermis bersamaan dengan pengaruh dinamis akan menyebabkan penurunan umur tftfo
secara progresif dan penurunan lersebut akan dipercepat lagi bila jumlah gangguan makin
I tinggi.

I ANSI/ IEEE C57.1091985 merekomendasikan bahwa untuk arus gangguan yang besamya
melgbihi atau sama dengan 50% dari gangguan maksimum (> 0.5 Inr(0, maka waktu
I pemutusan gangguan harus dipercepat (tidak lagi mengikuti karaharistik tormis trato).
I
I Memphatikan hal te6ebul diatas dan mempe imbangkan diopensikannya Ecloser unfuk
gangguan fasa-fasa, maka r"le high set di penyulang untuk gangguan tas€-fas€ harus
I dhnlflen. S6fera, rpre l,igt sef penyulang 20 kV maksimum wamu kada 0,3 detk dengan
t atus maksimum adalah:

t . Tnlo kapasitas 60 MVA maksimum 2,0 kali ln tnfo


t . Tnfo kapasitas & MVA maksimum 2,2 kali ln tr€,lo
. Trafo kapasitas 30 MVA makimum 2,4 kali ln tnfo
I . Trafo kapasitas 20 MVA makgmum 2,6 kali ln trafo
I . Tnfo kapasitas 18 MVA ma//'simum 3,0 kaliln trato
I . Trafo kap8aitas 10 MVA maksimum 3.2 kali ln tnlo
I Sdangkan High Set di sisi lnconing diseting pada arus 4 kali Arus l,lominat Tnlo dengan
waktu keia 0,7 detik. Contoh Typical setling dapat dilihat pada lampian 1-s
I
l* -..; ;*;";;r. rnrr*".*
I i"ir
""ot.*.,-
Trafo arus untuk relai proteksi pade penyulang 20 kV menggunakan kelas p (istilah dalam
I IEC 185), yeng ketelitiannya dijamin baik sampai dengan arus lebih lerlentu, sesuai dengan
I beban (burden) lrafo arus yang teneE pada papan nama (name plate), misalnya 5p.t0 atau
I 5P20 dengan beban l0 VA.

I Sp€sifikasi tersebut yang menyatakan 10 atau 20 kali arus nominal CT akan msniadi batas
atas dalam memilih selelan arus unluk rehi momen di penyulang.
a
J Bld batas atas te/s,ebut tidak sesuai dengan batas seperli dibtapkn pada butir 3.3 maka
I yang dhilih adalah nilai yang tetuecil

J
f
r Pengelolaatr Sirtem Prot€ksl Trafo.Petryulang 20 kV 10
J
J
PT PIII IPERSEROI
PaIYAIURIII OAII PUSAT P€XIATUR BEA$I Pr Prx {P€isERo) usmsusl
J WA 8tU

3.5 STATISTIK GANGGUAN


Dsri data statislik diketahui bahwa penyebab trip dan kerusakan trafo yang paling dominan
adalah akibat dari arus gangguan extemal yang tedadi pada penyulang. Semakin tinggi
I
jumlah gangguan extemal maka semakin besar peluang terjadinya kerusakan trafo.
I Kondisi terssbut merupakan kendala yang penyelesaiannya memerlukan koordinasi antara
I PLN P3B JAWA BALI dengan PLN APD DISTRIBUSI.
Untuk mangunngi kerusakan tnfo oleh kondisi tersebut tidak dapat hanya mmgaMatkan
I
pada system ptoteksi. Untuk mengunngi kerusakan lr€fo sebagai aubat dai tingginya
I jumlah gangguan extema4 can yang paling elektil adalah dengan menurunkan jumlah
gangguan jumlah gangguan jaingan yang dipasok oleh tralo te|sebut.
I
Pada saat teiadi gangguan di jaingan 20 kV yang mengetjakan indikasi momont, maka pLN
I DISTRIBUSI harus nelakukan pemeiksaan s'belum p'c,ses penomalan.
I
3,6 PENUTUP BALTK OTOMAnS ( RECLOSER )
I
Penggunaan redossr pada SUTM merupakan salah satu usaha untuk meningkalkan
I keandalan pasokan daya disistem 20 kV khususnya untuk menurunkan jumtah dan lama
I padam saEt tedadi gangguan temporer yang umumnya berupa gangguan tanah.
Dlsisi lain bekedanya recloser dirasakan oleh trafo sebagai meningkatnya
I .iumlah gangguan
g)iemal yang membahayakan trafo khususnya bila recloser
beroperasi pada gangguan tasa_
I fasa maupun gangguan permanen yang terletak didekat rel 20 kV pada sydem dengan
pentanahan langsung (solid).
t
Dengan uraian diatas maka dalam mengaKifkan recloser perlu memperhalikan faKor_faKor
I sebagai bedkut ;
I 3.6,1 Pongoperasian Autorecloserrccloaer
I . Auloreclos€/Recloser diope.asikan hanya untuk gangguan tanah.

I . Atdoreclose/Fledos€r hanya dioperasikan pada penyulang SUTM.


. Autoreclose/Recloser dapal dioperasikan untuk gangguan fasa_fasa oengan syaral
I setelan rela momen di penyulang mengikuti kaidah yang diatur dalam butir 3.3,
I . Aulorectose/Recloser Udak akbl iika rcle momen bekeia.

I
3.8.2 Angka keluar SUTM
I
Aulorecloss/Redoser di Gl dioperasikan bila angka keluar penyulang SUTM tidak
I melebihi 0.59 kali/km/tahun dengan panjang saluran baku sesuai SPLN atau tidak

I melebihi 32 km (hasil studi PT PLN (persero) JTK, No. RDLMK 9t45 tanggal j1
September 1995). Jika panjang saturan metebihi panjang baku (32 km), maKa
I djperlukan tambahan recloser pada SUTM tersebut.
I
I PeDgelolaan Slgtem Protelrsl Trafo-Peryulang 20 kV t7
I
I
I
I PI PIJ (PERSERO)
ftI
t PSYAIURAX DAll ?I'SAT P€IIGATUR A€8AII
JAW 8U
PT (?€RS€RO) D6IRBU$

I 3,7 PENTANAHAN SISTE]II DAN KoNFIGUMSI BELITAN TMFo (KHUsUs UNTUK


I DKI JAYA & TANGERANG, JAWA BARAT, JAWA TIMUR OAN BALO

I Pola pengaman gangguan tanah disesuaikan dengan pola pentanahan nelral syslem.
Dengan adanya Netral Grounding Resislor (NGR) maka dalam mengamankan sistem selain
T
memperfialikan keamanan trafo juga perlu memperhatjkan keamanan NGR itu sendiri.
I
I Kan*len reb SBEF di sig lncoming dipilih Long
.Typicalarus seting
fiie tnvene 1tft1 Aen$n aiteria :

T - 0,1-0,2 kaliArus Nominat NGR (12 ohn),


I - 0,3-0,4 kali Arus Nominat NGR (40 ohn),

T
- 0,4 kali Arus Nominat NcR (SOO ohmI
. WaKu keia pada Arus Nom,hal NGR sebesar
t - < 500/6 batas kemampuan lhetmos NGR (12, 40 ohn).

t .
- 30 batas kemampuan themis NGR (SOO ohmL
Untuk ttip sisi Pimer dipedambat g detik dai sefting diatas.
T
t 3.8
3.8,'l
KONDISI SPESIFIK YANG BERFOTENSI iTE YEBABKAN PMT TRAFO TRIP
Yang disobabkan oleh kegagelan sbtem pongaman
t Oari pengalaman operasi, penyebab tdpnya pMT trafo pada saal terjadi gangguan di
I penyulang, disamping kordrhrs, sis'wn ptotakst yang uctak tepat,
dapat juga disebabkan
I oleh haf.hal sebsgai berikul :

T
. Kelambatan pembukaan PMT penyulang,
.
I Kegagalan proteksi ponyulang, sebagai akibat dari : a./. t|ao arus jenuh, b/. relai
pengaman rusak, c/. suplai OC terganggu dan d/. sirkil lripping tidak sempuma.
I . Pengaman utama trafo salah keda.
I Dai unian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa meskipun kootdinasi system prctekg
T sudah dilakukan secan optjmal, namun peluang hip pMT tralo pada saat gangguan
penyulang masih tetap ada. Bila kondisj ini ditemukan, maka pedu dilakukan
T investjgasi
Oersarrla s€suai pDsedur yang diunikan butir 2.2.
I 3.8.2 Yang disebabkan oleh pola operasl odak sesual
I S€ringkali dijumpai bahwa pMT trafo ikut trip oteh kondisi sebagai berikut :

t . Gangguan pada penyulang terjadi pada saat penyulang tersebut paralel dengan
penyulang lain.
T
. Pada sistem 20 kV dengan NGR tahanan Rendah 12 Ohm, trato trip pada saat
I pemisah/ cut out dijaringan te.buka salu fasa.
T Pda opensi pada kondisi diatas dihanpkan untuk dihindai
I PeDgelolaatr Slstem Proteksi Trafo"peDyulang 20 kV

I
I
I
I Pr PL PEns€Ro) PrPt|| fEnSEf,OtrX RAIS
I PE|tA!UR lto IPUS TPS|GATURECA |l
.aw au
T
3,9 PENGA AN YANG BERLAPIS DAN SU'IIBER DC
T
Pada dasamya seliap bagian dari sistom harus masuk ke dalam daerah pengamanan sislem
I proteksi. Untuk m€nghindad keadaan dimana ada bagian dst€m yang iidak ter€mankan

I karena gagalnya sistem proteksi maka diusahakan agar setiap bagian dari sistem harus
diamankan minimal oleh dua sislem pen(laman berlapis (redundancs).
I Untuk mengu.angi kemungkinan kedua sistem pengaman gagal bo6ama-sama maka agar
I diusahakan bagian dari peralatan proteksi yang dipakai bersama-sama oleh kedua sislem
pengaman ters€bul seminimal mungkin.
I Untuk mendapalkan sist€m pengaman yang berlapis, maka disamping mengandalkan pada
I pengaman utema diperlukan pengamanan cadangan yang dapat diperoleh dengan cara

I sebagai berikut
.
:

Pengaman c€dangan lokal alau,


I . Pengaman cadangan - iauh dad sistem proteksi yang berada digardu indukjauh.
I
T Jika system proteksi di gatdu induk yang jauh karena alasan opensional tidak dapat
difungsiken sabagai pangaman cadangan-jauh maka padu dipenimbangkan pemisahan
I sumber DC untuk pengaman cadangan hafo dan penwlang 20 kV (lihat gambar L.3.1).

I tQiteia dalam menentukan Gl-Gl yang pelu pemisah sumber DC tttetapkan kemudidn
oleh PLN P3B JAWA BALI den PLN Disttibusi.
I
I
t
I
I
T
I
t
I
T
T
I
I
I
I PeDgelolaaD Sistem Proteksl Trafo.PeDyulang 20 kV 13
a
I
I
t
PT nX PEn8Elol
I Pg{Y^lrn u Plr$T PS|o^IUR 8E8t^X PT nX OEn*RO) D€rfl8u8l
J/tta 8 u
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
t
I
! lGtaEng.n :

I e. OCR Ponyullng 20 kV,

I b. OCR Trato rl3i 20


c. OCR Tr.fo C'i
kV
Prim€..
I d. OCR Gardu Induk Jeuh

I
Gambr..L,3.l
I D.e.ah ponganan tr.iD - penyuhng 20 kV
I
T

I
I
I
I Pengclol.|! Ststem Protel(sl Trafo-pcnyulalg 2O kV 14
I
t
I
I PT PLX

I
IPERsIROI
PtllY luRtft o xPu6 TpEltc ]uRa€aax Pr Pt.l| PEiSERO) O$rntsUsl
JW 8U
I 3,IO WAKTU PEIIIISAHAN GANGGUAN
I Tunlutan konsumen lerhadap mulu pelayanan semakin meningkat, antara lain yang
t menginginkan berkurangnya jumlah dan lama kedip tegangan yang diakibatkan gangguan
pada sistem. Gangguan kedip tegangan dirasakan oleh konsumen oan
I seringkali
mengakjbalkan molor-molor dl konsumen trip. Lama kedip tegangan dipengaruhi |angsung
T oleh lault clearing time dari sistem.

I Mengingat tunfutan pelayan yang semakin meningkat, maka peiu diupayakan


agar fau
I claaing time dapat lebih singkat, namun [dak boteh mengorbankan se/ek[inas

t 3.'I PENGGUNMN POLA PENGAMAN NON KASKAOE

t Sebagaimana diuraikan diatas, bahwa pola pengaman yang digunakan


saat ani (pola
t kasksd6) ada kalanya tidak mgmberikan pengamanan yang optimal terhadap
dalam selektifitas dan clearing lime. Selektilit€s baru dapat tercapai bila
trafo, lerutama
instanleneous retai
I sisi 20 kV trafo (incoming) dinon-aktifkan. Kondisi ini membedkan peluang
kerus€kan trafo
I oleh gangguan ekstemal meniadi relatit besar, karena gangguan pada
dalam waktu relalif lama (yang umumnya tidak dilengkapi dengan pengaman
rel 20 kV di_clearkan

I Pe*embsngan leknologi (baru) relai dapat membedkan solusi terhadap


busbar).
masatah diatas. pola
t yang digunakan dengan teknologi baru tersebut disebul pola
kaskade, relai-relai disFi penyulang 20 kV dapal dikomunikasikan
non kaskade. pade pola non

I (incoming), dimana meskipun momen relal-relai dikedua


dengan relai disisi hulunya
sisi traro diaKiflGn, namun mssth
I totap diperoleh seleKifitas yang baik (cambar_L.3.2 dan cambar _13.3).

I Jika pola kaskade h'daf 0"r",


I dan tuntutan kemanan fiefo, maka atas kesepakan bersama penggunaan
pola non_Raskade
I pedu diEnpkan

I
I
I
I
I
I
I
I
I
I PcDgelolaar Slstem prcteksi Trafo-penyutaDg 20 kV
15
I
I
PI FtJ OERsENOI PI Pu{ |PERSEnO} O(8IREUS
PET'AIN DNI PU6AT P€IIGAIUR 3€UII
JW AU

.EEOM

Gambar-L.3.2.
Skema Pola Non Kaskado

Tripoing Logic Pola non Kaskade


t>
I
ocR I>> t-
OR
Ircomirs

t>>
&

ocR t>
Penyulang - OR

t>> T

Gsmbar-L.3.3. Triping Logic Pola Non Kaskade

Petrgclolaan Sistem Proteksl Trafo-Penyulang 20 kV 76


!
r tTrul eqraol 0A3RO)0|llnE g
I PClYltln ||DArtiF r?€|o n R8E8rr
tratu
PTnX

f LAIPIRAN 1
I
t
c)o
x'd
06 iE'"$li
u
"-lii
IE; !
I B9
15.
o
5
I Er iii;iIgi i'fii$;i -
t
I >,
:x
5E
Esisll4
cEEee
C'
tll
r i5
rf
i,itgg*s'lFiE
t 'lt
o
t-
t
:
E

B
I
ta'
lF
rB
a*
6-t
Eo
I
|
I
x
8
u
I m
E
z>
8 g .o
f 2'o
at
f I
I
I
I
I ;9
I ; v + J4
Ig t"Ii; r'"553 94
I '".[FH '""$Fg
2A
E>
I
I q ,iir$*
iEx
*EEf,3T
rs3
*iEgf,fl
i
,Erylr; a
>tl
zo
te
2.4
o
, a
o
I II
6
G
a
I Fig$E
I g* i*ef;t
ln =
5
>
I t"'t!; t'" F 5; -
I ""iEfi '" "$iF g
I lgl agt
^ra i:: F
-f;$fE
,a
-;!9f,il
!" a
I it d
a
t
9
4 aF
'iig$g 'iiE$it o
E
I a IAEE
q '-E 3

r 3 }F
B I
ti
gs
I
I Pcrgelol.|n Slrtcm hotel(tl Trrfo-Penyularg 20 kV t7
I
t
I
I gt Put PtRS€Rol
PT Pt t {PEnSEnq $SruUsl
I PEXYAIURAX OA'I PUSAT PEI{OATUN AEBAII
JW AAU

t
I LAIIIPIRAN 2

I J 5 A o-ts('
5-D
1; adbN
6C
I fg
d: a! e9
d q o
;83 2i::94.
I g
il:
B::: F* g-4.
5:F
s+?
6P;;n- F
-
I :n Ea€;9?
'gi:ig=*
L A*{ :;H
*F: g ;c t -D
I iF -5$iHd t! n
I :; s3
?6
I 3 i d 6'!(,
6! 66- Eo do o
t
,
,q
s>
.d
rr #g
,'a
39 !
o
r
x
I taiiRa. F
o
8A:::Fii3ifl€. Bieii9; FP;;N. 2
o vc,
I E$i:iF-=F aiii Ssii;ri giisF?
z
- I enaY z
I ?*dgi I Ed $S ,'
^
t
I it-5; :=$ a ffi :B
ag
ss
^4
a
RC
I
Ifi c2
E!
5I
I
6: *e FA to
Pni
! FA
-u
m t -{ -{
aV
t F>
2F tn
I m 6O
o
>o
t-.
t 6
J ul
lD
-l
4 >l 4.
I c ol
ID @

L
I V
_€
ta"b-l a -b N -D
I Bo r5-i; 6
t g.! oq,
-:l Fiis q eeF $9
z
I oQ
F;:
r;;r>ii t *;ilgF 699a i E'E:a; id
t
s
a :ti
tQe6
.-iE
E-
3 .lN ii:9
5Ll9 o
q;;s
s: 3!"r
z.60
;a06
i' $
-;i
I6
6

T
995
a
ts d:
g=
;r:g 2 r3!9 i z
I ?'E
32 sgg
E i'i"
e *'i -q 6
I
I Pergelolaalr SlsteE Proteksl Trafo-Pelyula[g 20 kV 18
I
I
rI PU{ IPERSERO)
PTIYAURAN DiIII PUSAT PEIICAIVR AEBAII FI PLII (PERSCRO) DISTNBU8I
JW 8U

LAIIIPIMN 3

?itt!(t :; td.'N lStd=S-


t 'rt .i6 r ^ FO
,!!
Ec.< la
.........a
g9 ?9
..,....,.U, !
a33i83 13^-iR0: o
6Pa;X-
3.95:6
:ia;ri: qoAlE I xD
F
Elsffq? -s-i€99 Hi5$F? o
"tseEI 6 i?-fl
Ft
3E +
;F
x o
t-
F;a > d_
o
3
i!
96;
n9
€'s
m
x
o
o
2
at
l,
A
g* l ;
5e
I
ln
IF *{
Eo I
-u
ko
z1
?F lN el I
am
>x
m 1g
I 1n
!r>
IO
I
at,
{
d
c
o
15t6.-!5
I|
I
to
,'i
gn 4A
o
TI '"'$5i!'".aF rE
t .... P
e;re;
A
-l fg
ii
lFFii$;
fo9.ZR
d'

':;glEfl 'geirt fli


OJese 9.
6 a
1;!56 16-- i I
I a"q
o
tr
$5Eg
5Eq ;g o

3; s E'flgue $3-f,9
@
B

Pcngelolaatr Slrtem ProGksl Trafo-penyula[g 20 kV


19
I
I PI NX {P€RIERO)
PI Ptt {PERSERO) 0|31REU9
I PEIIYAIURAII DAII PUSTT PENOAIUR AEEAI{
JW aU
I
I LAMPIRAN 4

I o i 56da3s, :;
:'6-
rabN
?
^
t"$g:
I 6 alE
as> a! f9
-a +s;
I !
s.
'. .... .!)
;!^lroE: !
o
aii33g83
I xi;fl; F
I
d
o
a::Pifc'H
3li '5o<
6 e< P 5; ;iiiii:
O :s-
:dr:ot
o
x
x
b

ii5
H
;!i ;t :a $E$gg
I *lg 9
3? o 1'
*-* 9g' 6 a& d- @q m o
r
I :' t 5 0
t
0. @ x
d) o
e o
I ,g
t I
{D
I
I
-t
gr4
2
! lm
|
I
I 3
3 8€ l-
IN #+
Eo
|
I
!
n
I ?q a 7
tn cq
A'
(o r
t o
3
<I
=m
to >o
I @
-r:
I 0,
c>
=i'rl
I 'o
:D

t x 6
-{
I 0) jooigi taa6o-3' ;aarb!., fa;rh :. 4,
(!
o +; o 6_n q, +; ? o
T dr9 r L
igx aB!
;- { Eiii $gs
I €
I
ie
d
6
F;!q3i
;ziqB
q3.
,6
F3:6S0. isif q5g
*:t*E
i
0.
z
o
,
t-

I a5;9qc I 93iia
5!=YN ?$i9"r a o
! tx - o
t
-odo,
5x o! i ie€ E fi95: o
t
I
aii; is
3
v-
'9 d
o
r N g

I
I PeDgelolaa.D Slstsm Proteksi Trafo-Penyulabg 20 kV 20
I
I
I
I P' PIJI PERSERO) PrX FER6EO) tXSrrEUSl
I
PT
PAryllURAII DAII PUSAI PENGAWR AEB II
JAW 8U

I
t LAMPIRAN 5

t
5 16 P 3 3'.6.i-:-
I 'Arec
4; o E€ ""$5: +; o
I is: ti '1gZ
E
94;
#:J
!
o
!
o
I igilitr$3 F F
x
I e Y::-5i? a,
x
o
t x o
N
I i,i'aiE$i'iiflE ii€gi;t* 'E;*gF'
o
n Iz
s
T =rE5g3 an
1'
I 7
o
{
T t 6-t m
I ^,q
i5< tv
I

lm
)J> -x
g(/'
I t: t- -{
-a
T r
m 'n
o
I c'
o
{
t 4
I V
ID
c
2
I
tdaaFt t6'a6F!, S6arbfr
T
*14 a-; a "^!2 ". $is d -=
I Agn +9!
'' '' '' '' ;l
s.dfr
g. 9. 'n 4&;1
_ r=l I
I
I
oQ
s
;^^;^^o-
gISfTE
FXAZR
FtFsfli FqiS$g' silsai
g;tB; i z
o
a et! 5 5
! X: #ti3 f:iia A ,
I a!
a
: n;
e@

n-
a iiiiT Itzis
! o! I -
E ri9 <
9Earq E
iF3F3 >
o
o
t I F96e' ; -s t"g'g;
3

I
3
5
P-r
sd'
I 5.s S -<n
T
N
o 6 di
T
I PetrSelolaa! Sl5tem Proteksl Trafo-Penyulars 20 kV 2l
I
I