Anda di halaman 1dari 20

Tes HIV

Tes HIV memungkinkan kita mengetahui apakah kita terinfeksi virus HIV. Kebanyakan tes HIV mencari antibodi
terhadap virus HIV. Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk menyerang kuman tertentu.
Setiap antibodi bersifat unik, jadi bila ditemukan antibodi terhadap virus HIV pada saat kita melakukan tes HIV dapat
dipastikan kalau kita mengidap virus HIV.

Fakta tentang tes HIV


 Tes HIV dilakukan untuk mendiagnosis mereka yang baru terinfeksi, untuk mengidentifikasi infeksi yang
sebelumnya tidak dikenal, dan untuk meringankan pikiran orang-orang yang tidak terinfeksi.
 Tes HIV harus menjadi bagian rutin dari praktek medis.
 Sangat penting untuk melakukan tes hiv pada wanita hamil untuk mengurangi penularan HIV dari ibu ke bayi.
 Tes HIV biasanya dilakukan dengan dua proses. Proses tes HIV pertama adalah untuk menguji antibodi dalam
darah atau air liur. Jika tes HIV ini positif, tes HIV kedua disebut Western blot dilakukan untuk memastikan bahwa
hasil tes HIV pertama adalah benar.
 Jika hasil kedua tes HIV(antibodi dan Western blot) adalah positif, kemungkinan > 99% bahwa pasien terinfeksi
HIV.
 Tes HIV mungkin kehilangan beberapa infeksi, sehingga tes HIV menunjukkan hasil negatif palsu. Hal ini sering
terjadi segera setelah infeksi ketika antibodi baru mulai terbentuk dan berada pada tingkat yang terlalu rendah
untuk dideteksi (dalam ~ empat minggu infeksi). Jadi sangat disarankan untuk melakukan tes HIV secara berkala.
 Ada tes HIV gratis di setiap negara. Jadi dimanapun anda berada, bukan alasan untuk tidak melakukan tes HIV,
karena setiap negara memberikan tes HIV secara cuma - cuma, atau tes HIV gratis

Bagaimana melakukan tes HIV ??


Biasanya tes hiv dilakukan dengan jalan tes darah di puskesmas, rumah sakit, atau klinik.Tes HIV ini dilakukan dengan
cara mengambil sample darah pasien. Darah pasien diambil menggunakan jarum suntik sekali pakai, jika tes HIV ini
menunjukkan hasil yang positif, maka darah pasien akan diambil sekali lagi, tes HIV akan dilakukan lagi dengan
metode tes HIV yang berbeda untuk mendapatkan hasil tes HIV yang lebih akurat.

Kapan waktu yang tepat untuk tes HIV?


Jika kita terinfeksi HIV, biasanya sistem kekebalan tubuh baru akan membentuk antibodi tiga minggu hingga tiga bulan
setelah kita terinfeksi. Masa ini disebut masa jendela. Jadi, jika kita merasa kita terpajan, atau melakukan perilaku
berisiko tertular HIV, kita sebaiknya menunggu tiga bulan setelah peristiwa berisiko sebelum kita melakukan tes HIV.
Kita juga dapat langsung melakukan tes HIV, dan mengulangi tes HIV tiga bulan setelah peristiwa (bukan setelah tes
pertama). Selama masa jendela ini, tes antibodi akan menunjukkan hasil non-reaktif (negatif), tetapi walaupun begitu,
jika kita sudah terinfeksi kita dapat menularkan orang lain. Sebetulnya, selama masa awal infeksi ini, daya menular kita
paling tinggi sehingga kita lebih mungkin menularkan orang lain kalau kita berperilaku berisiko. Menurut pedoman
Kemenkes RI, hasil tes HIV yang non-reaktif tiga bulan atau lebih setelah peristiwa berisiko berarti kita tidak terinfeksi
HIV, atau dalam kata lain, kita HIV-negatif.

Saya malu melakukan tes HIV di puskesmas, dapatkah saya tes hiv dirumah?
Bisa, tes HIV sudah bisa dilakukan sendiri dirumah. Badan Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) baru -
baru ini menyetujui alat tes hiv dijual bebas. Dengan alat ini semua orang bisa melakukan tes hiv dirumah. Ini
merupakan angin segar untuk menghambat penyebaran virus HIV. Semakin dini anda mengetahui status HIV
anda,semakin baik
Alat tes HIV yang dijual bebas dipasaran ada 2 jenisnya :
1. Alat tes HIV Ora Quick: Alat tes HIV di rumah pertama yang diakui oleh FDA. Ora Quick mudah untuk dipergunakan
juga sangat dapat diandalkan.
2. Alat tes HIV Icare: Alat tes HIV pribadi ini sangat sensitif, menampilkan hasil dengan cepat serta direkomendasikan
oleh USAID.
Penggunaan alat ini sangat mudah, dan hasil yang diperoleh juga cepat. Dalam 20 menit, alat ini sudah bisa
memberikan hasil tentang status HIV anda. Jika alat ini menunjukkan hasil yang positif, ada baiknya anda
memeriksakan diri ke klinik terdekat untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.
JENIS JENIS PEMERIKSAAN HIV/AIDS

HIV/AIDS termasuk jajaran penyakit yang mempunyai tingkat penularan yang sangat
tinggi. Hal ini terjadi karena seringkali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi
HIV, sehingga menjadi sumber penularan bagi orang lain.
Seseorang terkena HIV biasanya diketahui jika telah terjadi Sindrom Defisiensi Imun
Dapatan (AIDS) yang ditandai antara lain penurunan berat badan, diare berkepanjangan,
Sarkoma Kaposi, dan beberapa gejala lainnya.
Berkembangnya teknologi pemeriksaan saat ini mengijinkan kita untuk mendeteksi HIV
lebih dini. Beberapa pemeriksaan tersebut antara lain adalah :

1. . Test Saliva
Test ini untuk mendeteksi antibody HIV pada saliva pasien dengan menggunakan alat
OraSure test dengan akurasi 99,8%.
Seperti di ketahui saliva merupakan cairan tubuh yang dapat menularkan penyebaran
dari virus HIV. Test ini di gunakan untuk pemeriksaan virus HIV pada orang penderita
hemophilia yang sulit di ambil darahnya karena resiko perdarahan dan orang yang menggunakan
obat anti koagulan.

test HIV tidak perlu melakukan tes darah lagi melainkan dapat dilakukan hanya dengan teknik
baru menggunakan air liur (saliva) dan dapat memberikan hasil yang sangat cepat dalam 20 menit saja.
Teknik ini menggunakan oral mucosal transudate (OMT), cairan yang dilepaskan oleh gusi yang kemudian
berubah menjadi saliva (air liur) dengan metode immunochromatography.

OMT memiliki jumlah antibody yang sama seperti plasma darah dan immunochromatography
adalah metodologi yang sama dengan yang digunakan pada tes kehamilan (pregnancy test). Antibodi-
antibodi pada OMT bersama-sama menyingkap keberadaan antigen-antigen HIV (molekul-molekul yang
diserang oleh antibodi) sehingga kehadiran antibodi yang melawan HIV akan menimbulkan reaksi.
Sama seperti pada test kehamilan, OMT dikumpulkan dan dimasukkan dalam sebuah stik berbentuk pipa
kecil yang mengandung larutan khusus, dan dalam 20 – 40 menit kemudian sebuah garis berwarna ungu
akan muncul di ujung stik apabila saliva terbukti mengandung HIV positif.
Pengujian secara klinis telah dilakukan di Mahatma Gandhi Institute of Medical Sciences di Sevagram,
Maharastra, India.

Test HIV dengan menggunakan metode pengujian saliva dan sample darah telah dilakukan
kepada 1.222 wanita India dan kedua metode tersebut memberikan hasil tes dengan tingkat kecocokan
100%. Test air liur ini telah mendeteksi adanya HIV pada beberapa ibu hamil yang tidak menyadari jika
mereka telah terinfeksi, dan dengan adanya hasil ini dapat dilakukan perlakuan-perlakuan khusus untuk
menekan tingkat resiko penularan HIV kepada bayi mereka yang belum lahir.

4. ELISA
ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay), tes ini mendeteksi antibodi yang dibuat
tubuh terhadap virus HIV. Antibodi tersebut biasanya diproduksi mulai minggu ke 2, atau
bahkan setelah minggu ke 12 setelah terpapar virus HIV. Kerena alasan inilah maka para ahli
menganjurkan pemeriksaan ELISA dilakukan setelah minggu ke 12 sesudah melakukan aktivitas
seksual berisiko tinggi atau tertusuk jarum suntik yang terkontaminasi. Tes ELISA dapat
dilakukan dengan sampel darah vena, air liur, atau urine.
Hasil positif pada ELISA belum memastikan bahwa orang yang diperiksa telah
terinfeksi HIV. Masih diperlukan pemeriksaan lain, yaitu Western Blot atau IFA, untuk
mengkonfirmasi hasil pemeriksaan ELISA ini. Jadi walaupun ELISA menunjukkan hasil positif,
masih ada dua kemungkinan, orang tersebut sebenarnya tidak terinfeksi HIV atau betul-betul
telah terinfeksi HIV ( Price SA, Wilson LM, 2006)

ELISA atau singkatan dari Enzyme-linked Immunosorbent Assay


merupakan jenis immunoassay (uji imun) yang telah digunakan
secara luas. ELISA merupakan rapid test atau uji cepat dalam mendeteksi
atau mengkuantifikasi jumlah antibodi atau antigen melawan virus,
bakteri, atau bahan lain. ELISA dinamakan demikian karena memang
melibatkan penggunaan enzim dan immunosorbent.

Metode ELISA untuk mengukur reaksi Antigen (Ag)


Antibodi(Ab)meningkat penggunaannya dalam pendeteksian antigen
(dari agen infeksius) atau antibodi karena metodenya yang sederhana tapi
sensitif. Sensitivitasnya sama dengan radioimmunoassay (RIA) dan hanya
membutuhkan kuantitas mikroliter untuk penggunaan reagen ujinya.
Sekarang ELISA telah diterapkan secara luas dalam deteksi berbagai
antibodi dan antigen seperti hormon, toksin, dan virus.
Beberapa keuntungan khususnya:

1. Tes ELISA memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi


2. Hasil kuantitatif ELISA dapat dibaca secara visual
3. Sejumlah tes dapat dilakukan sekaligus : ELISA telah didesain secara
spesifik untuk men-screen (baca cepat, read) sejumlah besar spesimen
sekali waktu, menjadikannya cocok untuk digunakan dalam pengawasan
dan sentralisasi pelayanan transfusi darah
4. Reagen yang digunakan untuk ELISA stabil dan dapat didistribusikan ke
laboratorium distrik lain atau daerah lain tetapi ELISA membutuhkan
teknisi yang terampil serta alat yang mahal untuk menjalankan tesnya,
penggunaannya terbatas hanya untuk kebutuhan tertentu.

Prinsip:

Sebagian besar metode ELISA dikembangkan untuk deteksi antigen atau


antibodi terdiri dari antibodi atau antigen yang cocok dengan yang dicari,
yang kemudian dibentuk dalam fase solid, seperti permukaan plastik dari
plat polivinil atau tube polistirene, di dalamnya sumuran yang dalam dari
microdilution (cairan sejumlah mikro) atau di bagian luar dari plastik sferis
atau bead (mirip seperti kelereng kecil) yang terbuat dari logam. Sistem
tersebut dinamakan Solid Phase Immonusrbent Assay.
Sistem Enzim terdiri dari:
1. Enzim: horse radish peroxidase, alkaline phosphatase yang dilabeli atau
dihubungkan dengan antibodi spesifik.
2. Substrat spesifik:
 O-Phenyl-diamine-dihydrochloride untuk peroxidase
 P Nitrophenyl Phosphate- for Alkaline Phosphatase
yang ditambahkan setelah reaksi antigen-antibodi. Enzim akan
mengkatalisis substrat sehingga akan menunjukkan warna titik akhir reaksi
(senyawa kuning untuk alkaline fosfatase). Intensitas warna memberikan
indikasi jumlah ikatan antibodi atau antigen.

Pengertian
Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) adalah suatu teknik biokimia yang terutama digunakan
dalam bidang imunologi untuk mendeteksi kehadiran antibodi atau antigen dalam suatu sampel. ELISA
telah digunakan sebagai alat diagnostik dalam bidang medis, patologi tumbuhan, dan juga berbagai bidang
industri. Dalam pengertian sederhana, sejumlah antigen yang tidak dikenal ditempelkan pada suatu
permukaan, kemudian antibodi spesifik dicucikan pada permukaan tersebut, sehingga akan berikatan
dengan antigennya. Antibodi ini terikat dengan suatu enzim, dan pada tahap terakhir, ditambahkan
substansi yang dapat diubah oleh enzim menjadi sinyal yang dapat dideteksi. Dalam ELISA fluoresensi,
saat cahaya dengan panjang gelombang tertentu disinarkan pada suatu sampel, kompleks
antigen/antibodi akan berfluoresensi sehingga jumlah antigen pada sampel dapat disimpulkan berdasarkan
besarnya fluoresensi.
Penggunaan ELISA melibatkan setidaknya satu antibodi dengan spesifitas untuk antigen tertentu. Sampel
dengan jumlah antigen yang tidak diketahui diimobilisasi pada suatu permukaan solid (biasanya berupa
lempeng mikrotiter polistirene), baik yang non-spesifik (melalui penyerapan pada permukaan) atau spesifik
(melalui penangkapan oleh antibodi lain yang spesifik untuk antigen yang sama, disebut ‘sandwich’
ELISA). Setelah antigen diimobilisasi, antibodi pendeteksi ditambahkan, membentuk kompleks dengan
antigen. Antibodi pendeteksi dapat berikatan juga dengan enzim, atau dapat dideteksi secara langsung
oleh antibodi sekunder yang berikatan dengan enzim melalui biokonjugasi. Di antara tiap tahap, plate
harus dicuci dengan larutan deterjen lembut untuk membuang kelebihan protein atau antibodi yang tidak
terikat. Setelah tahap pencucian terakhir, dalam plate ditambahkan substrat enzimatik untuk memproduksi
sinyal yang visibel, yang menunjukkan kuantitas antigen dalam sampel. Teknik ELISA yang lama
menggunakan substrat kromogenik, meskipun metode-metode terbaru mengembangkan substrat
fluorogenik yang jauh lebih sensitif.
Dalam penelitian dengan metode ELISA didasarkan pada ikatan spesifik antara antigen (Ag) dan
antibody(Ab) yang terdiri dari :
Teknik Qualitatif : Tiap berikatan pada Ag spesifik
Teknik Quantitatif : Jumlah Ikatan Ag-Ab ditentukan dengan nilai absorbansi.
Antibody pada elisa yaitu Antibodi yang disekresi oleh Sel Plasma (Sel B), Biasanya yang digunakan
adalah monoklonal Antibody karena lebih spesifik untuk epitop tertentu daripada policlonal
Antibodi. Dapat dibeli terpisah atau dalam paket ELISA Kit, biasanya diproduksi dengan cara induksi
respon imun humoral pada hewan coba ( rat, mouse) dengan cara injeksi Antigen berulang, dengan
dilakukan ekstraksi sel dan purifikasi Ab. Dapat juga diekstraksi dari manusia yang telah diimunisasi
dengan Ag tertentu.
Test elisa ini memiliki beberapa keunggulan seperti teknik pengerjaan yang relatif sederhana, ekonomis,
dan memiliki sensitivitas yang cukup tinggi.
Test ini juga memiliki beberapa kerugian, salah satu di antaranya adalah kemungkinan besar terjadinya
hasil positif palsu, karena adanya reaksi silang antara antigen yang satu dengan antigen lain. Dan hasil
negatif palsu dapat terjadi apabila uji ini dilakukan pada window period, yaitu waktu pembentukan antibodi
terhadap suatu virus baru dimulai sehingga jumlah antibodi tersebut masih sedikit dan kemungkinan tidak
dapat terdeteksi.

Aplikasi ELISA
ELISA dapat mengevaluasi kehadiran antigen dan antibodI dalam suatu sampel, karenanya merupakan
metode yang sangat berguna untuk mendeterminasi konsentrasi antibodi dalam serum (seperti dalam tes
HIV), dan juga untuk mendeteksi kehadiran antigen. Metode ini juga bisa diaplikasikan dalam indiustri
makanan untuk mendeteksi allergen potensial dalam makanan seperti susu, kacang, walnut, almond, dan
telur. ELISA juga dapat digunakan dalam bidang toksikologi untuk uji pendugaan cepat pada berbagai
kelas obat.
Beberapa Tipe ELISA
A. Indirect ELISA
Tahap umum yang digunakan dalam indirect ELISA untuk mendeterminasi konsentrasi antibodi dalam
serum adalah:
1. Suatu antigen yang sudah dikenal dan diketahui konsentrasinya ditempelkan pada permukaan lubang
plate mikrotiter. Antigen tersebut akan menempel pada permukaan plastik dengan cara adsorpsi. Sampel
dari konsentrasi antigen yang diketahui ini akan menetapkan kurva standar yang digunakan untuk
mengkalkulasi konsentrasi antigen dari suatu sampel yang akan diuji.
2. Suatu larutan pekat dari protein non-interacting, seperti bovine serum albumin (BSA) atau kasein,
ditambahkan dalam semua lubang plate mikrotiter. Tahap ini dikenal sebagai blocking, karena protein
serum memblok adsorpsi non-spesifik dari protein lain ke plate.
3. Lubang plate mikrotiter atau permukaan lain kemudian dilapisi dengan sampel serum dari antigen yang
tidak diketahui, dilarutkan dalam buffer yang sama dengan yang digunakan untuk antigen standar. Karena
imobilisasi antigen dalam tahap ini terjadi karena adsorpsi non-spesifik, maka konsentrasi protein total
harus sama dengan antigen standar.
4. Plate dicuci, dan antibodi pendeteksi yang spesifik untuk antigen yang diuji dimasukkan dalam lubang.
Antibodi ini hanya akan mengikat antigen terimobilisasi pada permukaan lubang, bukan pada protein
serum yang lain atau protein yang terbloking.
5. Antibodi sekunder, yang akan mengikat sembarang antibodi pendeteksi, ditambahkan dalam lubang.
Antibodi sekunder ini akan berkonjugasi menjadi enzim dengan substrat spesifik. Tahap ini bisa dilewati
jika antibodi pendeteksi berkonjugasi dengan enzim.
6. Plate dicuci untuk membuang kelebihan konjugat enzim-antibodi yang tidak terikat.
7. Dimasukkan substrat yang akan diubah oleh enzim untuk mendapatkan sinyal kromogenik/ fluorogenik/
elektrokimia.
8. Hasil dikuantifikasi dengan spektrofotometer, spektrofluorometer atau alat optik/ elektrokimia lainnya.
Enzim bertindak sebagai amplifier, bahkan jika hanya sedikit antibodi terikat enzim yang tetap terikat,
molekul enzim akan memproduksi berbagai molekul sinyal. Kerugian utama dari metode indirect ELISA
adalah metode imobilisasi antigennya non-spesifik, sehingga setiap protein pada sampel akan menempel
pada lubang plate mikrotiter, sehingga konsentrasi analit yang kecil dalam sampel harus berkompetisi
dengan protein serum lain saat pengikatan pada permukaan lubang. Mekanisme indirect ELISA dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.
B. Sandwich ELISA
Tahapan dalam Sandwich ELISA adalah sebagai berikut:
Disiapkan permukaan untuk mengikatkan antibodi ‘penangkap’
Semua non spesifik binding sites pada permukaan diblokir
Sampel berisi antigen dimasukkan dalam plate
Plate dicuci untuk membuang kelebihan antigen yang tidak terikat
Antibodi primer ditambahkan, supaya berikatan secara spesifik dengan antigen
Antibodi sekunder yang berikatan dengan enzim dimasukkan, yang akan berikatan dengan antibodi primer
Plate dicuci, sehingga konjugat antibodi-enzim yang tidak terikat dapat dibuang
Ditambahkan reagen yang dapat diubah oleh enzim menjadi sinyal berwarna/ berfluoresensi/ elektrokimia
Diukur absorbansinya untuk menetukan kehadiran dan kuantitas dari antigen
Keuntungan utama dari metode sandwich ELISA adalah kemampuannya menguji sampel yang tidak murni,
dan mampu mengikat secara selektif antigen yang dikehendaki. Tanpa lapisan pertama antibodi
penangkap, semua jenis protein pada sampel (termasuk protein serum) dapat diserap secara kompetitif
oleh permukaan lempeng, menurunkan kuantitas antigen yang terimobilisasi. Prinsip kerja sandwich ELISA
dapat dilihat pada skema berikut ini:

C. ELISA kompetitif
Tahapan pengerjaan ELISA kompetitif berbeda dari dua metode yang telah dibahas sebelumnya, yaitu:
Antibodi yang tidak berlabel diinkubasi dengan kehadiran antigennya
Komplek antigen-antibodi ini selanjutnya ditambahkan pada lubang yang telah dilapisi antigen
Plate dicuci, sehingga kelebihan antibodi tercuci (semakin banyak antigen dalam sampel, semakin sedikit
antibodi yang dapat terikat pada antigen yang menempel pada permukaan lubang, karena inilah disebut
kompetisi
Ditambahkan antibodi sekunder yang spesifik utnuk antibodi primer. Antibodi sekunder ini berpasangan
dengan enzim
Substrat ditambahkan, enzim akan mengubah substrat menjadi sinyal kromogenik/ fluoresensi.
Dalam ELISA kompetitif, semakin tinggi konsentrasi antigen orisinal, semakin lemah sinyal yang dihasilkan.
Prinsip kerjanya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

2. Prinsip Dasar Teknik ELISA


Prinsip dasar dari teknik ELISA ini secara simple dapat dijabarkan sebagai berikut :
Pertama antigen atau antibodi yang hendak diuji ditempelkan pada suatu permukaan yang berupa
microtiter. Penempelan tersebut dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu penempelan secara non spesifik
dengan adsorbs ke permukaan microtiter, dan penempelan secara spesifik dengan menggunakan antibody
atau antigen lain yang bersifat spesifik dengan antigen atau antibodi yang diuji (cara ini digunakan pada
teknik ELISA sandwich). Selanjutnya antibodi atau antigen spesifik yang telah ditautkan dengan suatu
enzim signal (disesuaikan dengan sampel => bila sampel berupa antigen, maka digunakan antibodi
spesifik , sedangkan bila sampel berupa antibodi, maka digunakan antigen spesifik) dicampurkan ke atas
permukaan tersebut, sehingga dapat terjadi interaksi antara antibodi dengan antigen yang bersesuaian.
Kemudian ke atas permukaan tersebut dicampurkan suatau substrat yang dapat bereaksi dengan enzim
signal. Pada saat substrat tersebut dicampurkan ke permukaan, enzim yang bertaut dengan antibodi atau
antigen spesifik yang berinteraksi dengan antibodi atau antigen sampel akan bereaksi dengan substrat dan
menimbulkan suatu signal yang dapat dideteksi. Pda ELISA flourescense misalnya, enzim yang tertaut
dengan antibodi atau antigen spesifik akan bereaksi dengan substrat dan menimbulkan signal yang berupa
pendaran flourescense.

3. Kelebihan dn Kelemahan Teknik ELISA


Teknik ELISA ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain :
· Teknik pengerjaan relatif sederhana
· Relatif ekonomis (karena jenis a antibodi yang digunakan hanya satu saja, sehingga menghemat
biaya untuk membeli banyak jenis antibodi)
· Hasil memiliki tingkat sensitivitas yang cukup tinggi.
· Dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen walaupun kadar antigen tersebut sangat
rendah (hal ini disebabkan sifat interaksi antara antibodi atau antigen yang bersifat sangat spesifik)
· Dapat digunakan dalam banyak macam pengujian.

Sedangkan kekurangan dari teknik ELISA antara lain :


· Jenis antibodi yang dapat digunakan pada uji dengan teknik ELISA ini hanya jenis antibodi
monoklonal (antibodi yang hanya mengenali satu antigen)
· Harga antibodi monoklonal relatif lebih mahal daripada antibodi poliklonal, sehingga pengujian teknik
ELISA ini membutuhkan biaya yang relatif mahal.
· Pada beberapa macam teknik ELISA, dapat terjadi kesalahan pengujian akibat kontrol negatif yang
menunjukkan respons positif yang disebabkan inefektivitas dari larutan blocking sehingga antibodi
sekunder atau antigen asing dapat berinteraksi dengan antibodi bertaut enzim signal dan menimbulkan
signal.
· Reaksi antara enzim signal dan substrat berlangsung relatif cepat, sehingga pembacaan harus
dilakukan dengan cepat (pada perkembangannya, hal ini dapat diatasi dengan memberikan larutan untuk
menghentikan reaksi).
4. Alat dan Bahan Yang Digunakan
Alat paling utama yang digunakan dalam teknik ELISA adalah microtiter. Microtiter ini berupa suatu
papan plastik dengan cekungan sebanyak 96 buah (8 cekungan ke arah bawah dan 12 cekungan ke
samping). Microtiter ini terbuat dari bahan plistirena. Cekungan dari microtiter memiliki tinggi sekitar 1 cm
dan diameter 0,7 cm. Selain itu, alat dan bahan lain yang umum digunakan dalam teknik ELISA antara lain
:
· Antigen yang dimurnikan (jika sampel yang akan dideteksi atau dikuantifikasikan berupa antibodi).
· Larutan standard (kontrol positif dan negatif).
· Sampel yang ingin dites.
· Cairan pencuci (buffer).
· Antibodi atau antigen yang tertaut dengan enzim signal.
· Substrat yang bersifat spesifik terhadap enzim signal.
· ELISA reader (spektrofotometer) untuk pengukuran kuantitatif.

5. Macam-macam Teknik ELISA


Secara umum, teknik ELISA dibedakan menjadi dua jenis, yaitu teknik ELISA kompetitif yang
menggunakan konjugat antigen-enzim atau konjugat antibodi-enzim, dan teknik ELISA nonkompetitif yang
menggunakan dua antibodi (primer dan sekunder). Pada teknik ELISA nonkompetitif, antibody kedua
(sekunder) akan dikonjugasikan dengan enzim yang berfungsi sebagai signal. Teknik ELISA nonkompetitif
ini seringkali disebut sebagai teknik ELISA sandwich.
Dewasa ini, teknik ELISA telah berkembang menjadi berbagia macam jenis teknik. Perkembangan ini
didasari pada tujuan dari dilakukannya uji dengan teknik ELISA tersebut sehingga dapat diperoleh hasil
yang optimal. Berikut ini adalah beberapa macam teknik ELISA yang relatif sering digunakan, antara lain :

5. 1. ELISA Direct
Teknik ELISA ini merupakan teknik ELISA yang paling sederhana. Teknik ini seringkali digunakan
untuk mendeteksi dan mengukur konsentrasi antigen pada sampel ELISA direct menggunakan suatu
antibody spesifik (monoklonal) untuk mendetaksi keberadaan antigen yang diinginkan pada sampel yang
diuji.
Pada ELISA direct, pertama microtiter diisi dengan sampel yang mengandung antigen yang
diinginkan, sehingga antigen tersebut dapat menempel pada bagian dinding-dinding lubang microtiter,
kemudian microtiter dibilas untuk membuang antigen yang tidak menempel pda dinding lubang microtiter.
Lalu antibodi yang telah ditautkan dengan enzim signal dimasukkan ke dalam lubang-lubang microtiter
sehingga dapat berinteraksi dengan antigen yang diinginkan, yang dilanjutkan dengan membilas microtiter
untuk membuang antibody tertaut enzim signl yang tidak berinteraksi dengan antigen. Lalu, ke dalam
lubang-lubang microtiter tersebut ditambahkan substrat yang dapat bereaksi dengan enzim signal,
sehingga enzim yang tertaut dengan antibodi yang telah berinteraksi dengan antigen yang diinginkan akan
berinteraksi dengan substrat dan menimbulkan signal dapat dideteksi. Pendeteksian interaksi antara
antibodi dengan antigen tersebut selanjutnya dapat dihitung dengan menggunakan kolorimetri,
chemiluminescent, atau fluorescent end-point.
ELISA direct memiliki beberapa kelemahan, antara lain :
· Immunoreaktifitas antibodi kemungkinan akan berkurang akibat bertaut dengan enzim.
· Penautan enzim signal ke setiap antibodi menghabiskan waktu dan mahal.
· Tidak memiliki fleksibilitas dalam pemilihan tautan enzim (label) dari antibodi pada percobaan yang
berbeda.
· Amplifikasi signal hanya sedikit.
· Larutan yang mengandung antigen yang diinginkan harus dimurnikan sebelum digunakan untuk uji
ELISA direct.
Sedangkan kelebihan dari ELISA direct antara lain :
· Metodologi yang cepat karena hanya menggunakan 1 jenis antibody.
· Kemungkinan terjadinya kegagalan dalam uji ELISA akibat reaksi silang dengan antibody lain
(antibody sekunder) dapat diminimalisasi.
5. 2. ELISA Indirect
Teknik ELISA indirect ini pada dasarnya juga merupakan teknik ELISA yang paling sederhana, hanya saja
dalam teknik ELISA indirect yang dideteksi dan diukur konsentrasinya merupakan antibody. ELISA indirect
menggunakan suatu antigen spesifik (monoklonal) serta antibody sekunder spesifik tertaut enzim signal
untuk mendeteksi keberadaan antibody yang diinginkan pada sampel yang diuji.
Pada ELISA indirect, pertama mocrotiter diisi dengan larutan yang mengandung antigen spesifik, sehingga
antigen spesifik tersebut dapal menempel pada bagian dinding lubang microtiter. Selanjutnya microtiter
dibilas untuk membuang antigen yang tidak menempel pada dinding lubang microtiter. Kemudian larutan
sampel yang mengandung antibody yang diinginkan dimasukkan ke dalam lubang-lubnag microtiter,
sehingga terjadi terjadi interaksi antara antigen spesifik dengan antibody yang dinginkan. Selanjutnya
microtiter kembali dibilas untuk membuang antibodi yang tidak berinteraksi dengan antigen spesifik. Lalu
ke dalam lubang microtiter dimasukkan larutan yang berisi antibody sekunder spesifik tertaut enzim signal,
sehingga pada lubang microtiter tersebut terjadi interaksi antara antibody yang diinginkan dengan antibody
sekunder spesifik tertaut enzim signal. Selanjutnya microtiter dibilas lagi untuk membuang antibody
sekunder tertaut enzim signal yang tidak berinteraksi dengan antibody spesifik. Kemudian pada tahap akhir
ELISA indirect, ditambahkan substrat yang dapat bereaksi dengan enzim signal, lalu enzim yag tertaut
dengan antibody sekunder speifik yang telah berinteraksi dengan antibody yang diinginkan akan bereaksi
dengan substrat dan menimbulkan signal yang dapat dideteksi.
ELISA indirect memiliki beberapa kelemahan, antara lain :
· Membutuhkan waktu pengujian yang relative lebih lama daripada ELISA direct karena ELISA indirect
membutuhkan 2 kali waktu inkubasi yaitu pada saat terjadi interaksi antara antigen spesifik dengan
antibody yang dinginkan dan antara antibody yang diinginkan dengan antibody sekunder tertaut enzim
signal, sedangkan pada ELISA direct hanya membutuhkan 1 kali waktu inkubasi yaitu pada saat terjadi
interaksi antara antigen yang diinginkan dengan antibody spesifik tertaut enzim signal.
Sedangkan kelebihan dari ELISA indirect antara lain :
· Terdapat berbagai macam variasi antibody sekunder yang terjual secar komersial di pasar.
· Immunoreaktifitas dari antibody yang diinginkan (target) tidak terpengaruh oleh penautan enzim
signal ke antibody sekunder karena penautan dilakuka pada wadah berbeda.
· Tingkat sensitivitas meningkat karena setiap antibody yag diinginkan memiliki beberapa epitop yang
bisa berinteraksi dengan antibody sekunder.

5. 3. ELISA Sandwich
Teknik ELISA jenis ini menggunakan antibody primer spesifik untuk menangkap antigen yang
diinginkan dan antibody sekunder tertaut enzim signal untuk mendeteksi keberadaan antigen yang
diinginkan. Pada dasarnya, prinsip kerja dari ELISA sandwich mirip dengan ELISA direct, hanya saja pada
ELISA sandwich, larutan antigen yang diinginkan tidak perlu dipurifikasi. Namun, karena antigen yang
diinginkan tersebut harus dapat berinteraksi dengan antibody primer spesifik dan antibody sekunder
spesifik tertaut enzim signal, maka teknik ELISA sandwich ini cenderung dikhususkan pada antigen
memiliki minimal 2 sisi antigenic (sisi interaksi dengan antibodi) atau antigen yang bersifat multivalent
seperti polisakarida atau protein. Pada ELISA sandwich, antibody primer seringkali disebut sebagai
antibody penangkap, sedangkan antibody sekunder seringkali disebut sebagai antibody penangkap,
sedagkan antibody sekunder seringkali disebut sebagai antibody deteksi.
Dalam pengaplikasiannya, ELISA sandwich lebih banyak dimanfaatkan untuk mendeteksi
keberadaan antigen multivalent yang kadarnya sangat rendah pada suatu larutan dengan tingkat
kontaminasi tinggi. Hal ini disebabkan ELISA sandwich memiliki tingkat sensitivitas tinggi terhadap antigen
yang diinginkan akibat keharusan dari antigen tersebut untuk berinteraksi dengan kedua antibody.
Pada ELISA sandwich, pertama microtiter diisi dengan larutan yang mengandung antibody
penangkap, sehingga antibody penangkap tersebut dapat menempel pada bagian dinding lubang
microtiter. Selanjutnya microtiter dibilas untuk membuang antibody penangkap yang tidak menempel pada
dinding lubang microtiter. Kemudian larutan sampel yang mengandung antigen yang diinginkan
dimasukkan ke dalam lubang-lubang microtiter, sehingga terjadi interaksi antara antibody penangkap
dengan antigen yang diinginkan. Selanjutnya, microtiter kembali dibilas untuk membuang antigen yang
tidak bereaksi dengan antigen penangkap. Lalu, kedalam lubang microtiter dimasukkan larutan yang berisi
antibody detector sehingga pada lubang microtiter tersebut terjadi interaksi antara antigen yang diinginkan
dengan antibody detector. Selanjutnya microtiter dibilas lagi untuk membuang antibody detector yang tidak
berinteraksi dengan antibody spesifik. Kemudian pada tahap akhir ELISA indirect, ditambahkan substrat
yang dapat bereaksi dengan enzim signal, lalu enzim yang tertaut pada antibody detector yang telh
berinteraksi dengan antigen yang diinginkan akan bereaksi dengan substrat dan menimbulkan signal yang
dapat dideteksi.
Dalam ELISA sandwich, terdapat beberapa faktor yng mempengaruhi tingkat sensitivitas dari hasil
pengujian, antara lain :
· Banyak molekul antibody penangkap yang berhasil menempel pada dinding-dinding microtiter.
· Avinitas dari antibody penangkap dan antibody detector terhadap antigen sebenarnya, teknik ELISA
sandwich ini merupakan pengembangan dari teknik ELISA terdahulu, yaitu ELISA direct. Kelebihan teknik
ELISA sandwich ini pada dasarnya berada pada tingkat sensitivitasnya yang relatif lebih tinggi karena
antigen yang diinginkan harus dapat berinteraksi dengan dua jenis antibody, yaitu antibody penangkap dan
antibody detector. Namun demikian, teknik ELISA sandwich ini juga memiliki kelemahan, yaitu teknik ini
hanya dapat diaplikasikan untuk medeteksi antigen yang bersifat multivalent serta sulitnya mencari dua
jenis antibody yang dapat berinteraksi antigen yang sama pada sisi antigenic yang berbeda (epitopnya
harus berbeda).
5. 4. ELISA Biotin Sterptavidin (Jenis ELISA Modern)
Pada perkembangan selanjutnya, teknik ELISA sandwich ini juga dikembangkan untuk mendeteksi
antibody dengan tingkat sensitivitas relatif lebih tinggi. Teknik ini dikenal sebagai teknik ELISA penangkap
antibody, dimana prinsip kerjanya sama dengan ELISA sandwich, hanya saja yang digunakan dalam teknik
ini adalah antigen penangkap dan antigen detector (antigen bertaut enzim signal, bersifat opsional apabila
antibody yang diinginkan tidak bertaut dengan enzim signal).
Contoh dari aplikasi teknik ini adalah teknik ELISA untuk mendeteksi vitamin biotin yang bertaut dengan
suatu antibody avidin dengan mengubah antibody avidin menjadi antibody streptavidin, dimana satu
molekul streptavidin dapat mengikat empat molekul biotin (pengembangan dari ELISA indirect), sehingga
signal yang teramplifikasi menjadi semakin kuat akibat interaksi antara biotin dengan enzim yang menjadi
semakin banyak.
5. 5. ELISA Kompetitif
Teknik ELISA jenis ini juga merupakan pengembangan teknik ELISA terdahulu.Prinsip dasar dari teknik ini
adalah dengan menambahkan suatu competitor ke dalam lubang mikrotiter.Teknik ELISA kompetitif ini
dapat diaplikasikan untuk mendeteksi keberadaan antigen atau antibody.
Pada pendeteksian antigen, pertama mikrotiter diisi antibody spesifik yang dapat berinteraksi dengan
antigen yang diinginkan maupun antigen spesifik bertaut enzim signal, sehingga antibody spesifiktersebut
dapat menempel pada bagian dinding-dinding lubangmikrotiter. Lalu larutan yang mengandung antigen
spesifik yang telah ditautkan dengan enzim signal dan larutan sampel yang mengandung antigen yang
diinginkan dimasukkan ke dalam lubang-lubang mikrotiter sehingga terjadi kompetisi antaraantigen spesifik
bertaut enzim signal dengan antigen yang diinginkan untuk dapat berinteraksi dengan antibody spesifik
yang dilanjutkan dengan membilas mikrotiter untuk membuang antigen spesifik tertaut enzim signal atau
antigen yang tidak berinteraksi dengan antibody spesifik. Lalu kedalam lubang-lubang mikrotiter tersebut
ditambahkan substrat yang dapat bereaksi dengan enzim signal yang tertaut pada antigen spesifik,
sehingga enzim yang tertaut dengan antigen yang telah berinteraksi dengan antibody spesifik akan
bereaksi dengan substrat dan menimbulkan signal yang dapat dideteksi. Pada proses pendeteksian ini,
pendeteksian positif ditandai oleh tidak adanya signak yang ditimbulkan, yang berarti bahwa antigen yang
diinginkan telah menang berkompetisi dengan antigen spesifik tertaut enzim signal dan berinteraksi
dengan antibody spesifik.
Sedangkan pada pendeteksian antibody, pertama mikrotiter diisi antigen spesifik yang dapat berinteraksi
dengan anti bodi yang diinginkan maupun antibody spesifik tertaut enzim signal, sehingga antigen spesifik
tersebut dapat menempel pada bagian dinding-dinding mikrotiter, kemudian mikrotiter dibilas untuk
membuang antigen spesifik yang tidak menempel pada dinding-dinding mikrotiter. Lalu larutan yang
mengandung antibody spesifik yang telah ditautkan dengan enzim signal dan larutan sampel yang
mengandung antibody yang diinginkan dimasukkan ke dalam lubang-lubang mikrotiter, sehingga terjadi
kompetisi antara antibody spesifik tertaut enzim signal dengan antibody yang diinginkan untuk
dapatberinteraksi dengan antigen spesifik, yang dilanjutkan dengan membilas mikrotiter untuk membuang
antibody spesifik tertaut enzim signal atau antibody yang tidak berinteraksi dengan antigen spesifik. Lalu,
kedalam lubang-lubang mikrotiter tersebut ditambahkan substrat yang dapat bereaksi dengan enzim signal
yang tertaut pada antibody spesifik, sehingga enzim yang tertaut dengan antibody yang telah berinteraksi
dengan antigen spesifik akan bereaksi dengan substrat dan menimbulkan signal yang dapat dideteksi.
Pada proses pendeteksian ini, pendeteksian positif juga ditandai oleh tidak adanya signal yang
ditimbulkan, yang berarti antibody yang diinginkan telah menang berkompetisi dengan antibody spesifik
tertaut enzim signal dan berinteraksi dengan antigen spesifik.
Kelebihan dari teknik ELISA kompetitif ini adalah tidak diperlukannya purifikasi terhadap larutan sampel
yang mengandung antibody atau antigen yang diinginkan, tapi hasil yang diperoleh tetap memiliki tingkat
sensitivitas tinggi akibat sifat spesitifitas dari antibody dan antigen.
5. 6. ELISA Multiplex
Teknik ELISA merupakan pengembangan teknik ELISA yang ditujukan untuk pengujian secara
simultan,sedangkan prinsip dasarnya mirip dengan teknik ELISA terdahulu.

6. Contoh Langkah Kerja Teknik ELISA


Berikut ini adalah contoh langkah kerja beberapa macam teknik ELISA, yaitu:
Pendeteksian antibody dengan ELISA indirect:
1. Melapisi mikrotiter plate dengan antigen yang sudah dimurnikan dengan membiarkan larutan
berisi antigen menempel pada dinding/ permukaan selama 30-60 menit.
2. Membilas antigen yang tidak terikat dengan buffer.
3. Melapisi sisi-sisi tertentuyang mungkin tidak spesifik dilekati oleh antigen dengan protein yang
tidak berhubungan/ tidak spesifik (seperti larutan susu bubuk)
4. Membilas protein yang tidak melekat.
5. Menambahkan sampel serum yang akan dideteksi antibodinya dan membiarkan antibody spesifik
untuk berikatan dengan antigen.
6. Membilas antibody yang tidak terikat.
7. Menambahkan anti-Ig yang akan berikatan pada daerah Fc pada antibody yang spesifik (sebagai
contoh, anti-rantai gamma manusia yang berikatan dengan IgG manusia). Daerah Fc pada anti-Ig akan
berikatan secara kovalen dengan enzim.
8. Membilas kompleks antibody-enzim yang tidak terikat.
9. Menambahkan substrat chromogenic: substrat yang tidak berwarna yang terikat ke enzim akan
dikonversi menjadi produk.
10. Inkubasi sampai muncul warna, dan
11. Ukur dengan spectrometer. Jka semakin pekat warna yang dideteksi, maka makin besar kadar
antibody spesifik dalam sampel.
Pendeteksian antigen dengan ELISA sandwich:
1. Melapisi mikrotiter plate dengan antibodi yang sudah dimurnikandimurnikan dengan membiarkan
larutan berisi antigen menempel pada dinding/ permukaan selama 30-60 menit.
2. Membilas antibodi yang tidak terikat dengan buffer
3. Melapisi sisi-sisi tertentuyang mungkin tidak spesifik dilekati oleh antigen dengan protein yang tidak
berhubungan/ tidak spesifik (seperti larutan susu bubuk)
4. Membilas protein yang tidak melekat.
5. Menambahkan sampel yang akan dideteksi antigennya dan membiarkan antibodi untuk berikatan
dengan antigen spesifik dari sampel.
6. Membilas antigen yang tidak terikat.
7. Menambahkan antibody yang telah terlabeli dengan enzim dan bersifat spesifik untuk epitope yang
berbeda pada antigen sampel, sehingga terbentuk sandwich.
8. Membilas antibody-enzim yang tidak terikat.
9. Menambahkan substrat chromogenic: substrat yang tidak berwarna yang terikat ke enzim akan
dikonversi menjadi produk.
10. Inkubasi sampai muncul warna.
11. Ukur dengan spektrofotometer. Jika semakin pekat warna yang terdeteki, maka makin besar
kadarantigen spesifi dalam sampel.

Direct ELISA merupakan jenis ELISA yang digunakan untuk mendeteksi dan mengukur konsentrasi suatu
antigen. Antigen yang akan dideteksi akan berikatan langsung (direct) dengan antibodi detector (antibodi
yang telah dilabeli oleh enzim reporter). Antibodi yang digunakan pada teknik direct ELISA berjumlah satu
buah. Kelebihan dari direct ELISA yaitu Cepat dan tidak terdapat Cross Reaksi dengan antibodi sekunder.
Akan tetapi, direct ELISA memiliki kekurangan yaitu harga pelabelan antibodi primer yang mahal, tidak ada
fleksibilitas pemilihan antibodi primer, dan sinyal amplifikasinya sedikit (Walker & Rapley 2008: 668).
Indirect ELISA merupakan jenis ELISA yang digunakan untuk mendeteksi dan mengukur konsentrasi
antigen atau antibodi. Teknik tersebut memiliki karakteristik yaitu antigen tidak menempel langsung pada
antibodi detector (indirect). Antigen akan berikatan dengan antibodi lain terlebih dahulu. Antibodi tersebut
kemudian akan berikatan dengan antibodi yang telah dilabeli. Kelebihan indirect ELISA yaitu memiliki
sensitivitas tinggi dan sinyal amplifikasi yang tinggi. Kekurangan indirect ELISA yaitu membutuhkan waktu
yang lama dan terjadi cross reaksi terjadi (Walker & Rapley 2008: 669). .
Sandwich ELISA merupakan jenis ELISA yang dapat digunakan untuk mengukur antigen maupun
antibodi,. Karakteristik khas dari sandwich ELISA adalah menggunakan antibodi penangkap atau primer
antibodi. Antigen yang akan dideteksi dan diukur konsentrasinya berikatan terlebih dahulu dengan antibodi
penangkap. Antigen akan berikatan kembali dengan antibodi sesuai jenis sandwich ELISA yang
digunakan. Sandwich ELISA dibagi menjadi dua jenis yaitu sandwich direct ELISA dan sandwich indirect
ELISA (Crowther 1995: 39 – 43).
Sandwich direct ELISA menggunakan dua antibodi yaitu antibodi penangkap dan antibodi yang dilabeli
enzim. Antigen yang telah berikatan dengan antobodi penangkap akan berikatan kembali dengan antibodi
yang dilabeli enzim. Sandwich indirect ELISA menggunakan tiga antibodi yaitu antibodi penangkap,
antibodi detektor, dan anti-antibodi yang dilabeli enzim. Antigen yang telah berikatan dengan antibodi
penangkap akan berikatan dengan antibodi detektor dan anti-antibodi yang dilabeli enzim (Crowther 1995:
39). Antigen dalam sandwich ELISA tidak perlu dimurnikan sebelum digunakan. Sandwich ELISA sangat
spesifik sehingga tidak semua antibodi dapat digunakan.
Contoh aplikasi terapan menggunakan teknik ELISA adalah mendeteksi dan menghitung jumlah antibodi
virus HIV. Antigen (virus HIV) akan ditangkap oleh antibodi reseptor di dalam tubuh. Selanjutnya antigen
akan berikatan dengan anti-antibodi di dalam tubuh yang terdapat enzim dan akan memberikan sinyal
kepada tubuh.
Tes ini biasanya dipakai sebagai uji penyaring untuk donor darah, dan beberapa orang mempunyai resiko
tinggi menderita AIDS. Mereka yang menunjukkan hasil uji ELISA positif perlu perlu dikonfirmasi dengan uji
western blot. Uji konfirmasi yang lain yaitu IFA atau RIA.

Prinsip kerja: Kompetitif antibody ELISA ( competitive immunoassay recambinan antigen = CIA-RA ).
Antibodi dalam sampel dicampur dengan antibody terhadap HIV standar yang dilabel horse radish
peroxsidase ( HRP ). Campuran tersebut ditambahkan pada butiran polisteren yang dilapisi antigen
envelop\cole dari HIV sehingga terjadi kompetisi antara anti HIV dalam sampel dan anti-HIV dalam sampel,
dan anti-HIV berlabel HRP standar dalam mengikat antigen pada beats.

Bahan Pemeriksaan & Persiapan Pasien:

Untuk penentuan HIV tidak diperlukan persiapan yang khusus, darah dapat diambil sewaktu-waktu dan
penderita tidak perlu puasa. Bahan pemeriksaan dapat berupa serum atau plasma dari pasien, hanya
untuk pengambilan sampelnya perlu diwaspadai sebab infeksius dan belum ada obatnya.

Darah dapat diambil secara steril dari vena cubiti sebanyak 5 ml, dibiarkan membeku pada suhu ruang,
dan serumnya dipisahkan secara steril. Bila tak dapat segera diperiksa serum disimpan pada suhu 4 °C
selama 1-5 hari atau disimpan beku selama beberapa minggu.

Cara Pemeriksaan:

1. Beberapa butir polisteren ( polysterene beads ) yang dilapisi antigen HIV core ( p 24 dan bagian dari
p 15 dan p 18 ) atau antigen rekombinan evelop ( gp 41 dan gp 45 dari produk gene evelop gp 120)

2. Dicampur dengan 50 µl serum atau plasma dan 200 µl human anti-HIV core atau anti-HIV evelop
yang berlebel HRP.

3. Inkubasi selama semalam pada suhu ruangan.

4. Selanjutnya beads dicuci tiga kali dengan aguadestilata dan dipindahkan ke tabung reaksi.

5. Dalam tahap berikutnya untuk mendeteksi konjugat yang terikat ditambahkan 300 µl O-
phenylenediamine dihydrocloride yang baru dibuat.

6. Kemudian di inkubasi kembali pada suhu ruangan selama 30 menit, reaksi dihentikan dengan
penambahan 1 m Mol asam sulfat.

7. Derajat perubahan warna dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 490 nm.

8. Intensitas perubahan warna berbanding terbalik dengan kadar anti-HIV dalam sampel. Cut off
absorbance dikalkulasi dari:

ẋ absorban control negative + ẋ absorban control positif

Ket: n control negative 3 dan n control positif 2

Interprestasi Hasil: Sampel yang dinyatakan untuk positif anti-HIV bila member densitas optis kurang dari
nilai cut-off absorbance. Semua sera yang positif perlu diuji ulang dengan uji konfirmasi dari wester blot.

Kelemahannya: Uji ini dapat memberikan hasil positif dan negative semu, biasanya pada serum yang
sangat lipemik dan ikterik.

Karakteristik Tes: Kecuali pada periode windows sensitivitas pada uji ELISA anti- HIV amat tinggi (
mendekati 100% ). Spesifitas tes berkisar sekitar 99,3-99.9 %.

5. Western Blot
Sama halnya dengan ELISA, Western Blot juga mendeteksi antibodi terhadap HIV.
Western Blot menjadi tes konfirmasi bagi ELISA karena pemeriksaan ini lebih sensitif dan lebih
spesifik, sehingga kasus yang tidak dapat disimpulkan sangat kecil. Walaupun demikian,
pemeriksaan ini lebih sulit dan butuh keahlian lebih dalam melakukannya (Price SA, Wilson
LM, 2006)
Tes ini untuk mendeteksi antibodi HIV -1. Alat ini mengandung virus HIV yang sudah
di lemahkan dengan psoralen dan sinar ultra violet. Protein specific HIV-1 di kelompokkan
sesuai dengan berat molekulnya dengan elektroforesis pada larutan sodium dodecysulfat, larutan
ini di campur dengan serum yang akan di periksa, kemudian di simpan dalam incubator,
kemudian di nilai skor reaksi berdasarkan intensitasnya. Bila hasil tidak reaktif seseorang pasti
tidak terpapar dengan virus HIV.

6. IFA
IFA (Indirect Fluorescent Antibody) juga meurupakan pemeriksaan konfirmasi ELISA
positif. Seperti halnya pemeriksaan diatas, IFA juga mendeteksi antibodi terhadap HIV. Salah
satu kekurangan dari pemeriksaan ini adalah biayanya sangat mahal.

Indirect Immunofluorescence Assay ( IFA )

Prinsip tes: Prinsip dasar uji IFA-HIV adalah uji imonofluoresens tak langsung untuk penentuan antibody.

Cara pemeriksaan:

1. Sel limfosit yang terinfeksi HIV diinaktifkan dan difiksasi dengan aseton pada subuah gelas objek.

2. Sel limfosit T yang tidak terinfeksi ditermpatkan di daerah yang terpisah pada slide sebagai control.

3. Sampel penderita di tambambahkan pada sediaan sel tersebut di atas.

4. Setelah tahap pencucian, slide di inkubasikan dengan anti human IgG berlebel fluorofor, termasuk
control positif dan control negative.

5. Bila dalam sampel penderita terdapat anti-HIV maka akan menimbulkan fluoresensi pada beberapa sel
limfosit yang terinfeksi.

Tampaknya adanya korelasi yang baik antara hasil uji IFA anti-HIV dan uji western blot.

7. pcr
PCR atau polymerase chain reaction adalah uji yang memeriksa langsung keberadaan
virus HIV di dalam darah. Tes ini dapat dilakukan lebih cepat yaitu sekitar seminggu
setelah terpapar virus HIV. Tes ini sangat mahal dan memerlukan alat yang canggih.
Oleh karena itu, biasanya hanya dilakukan jika uji antibodi diatas tidak memberikan hasil
yang pasti. Selain itu, PCR test juga dilakukan secara rutin untuk uji penapisan
(screening test) darah atau organ yang akan didonorkan. terpapar virus HIV. Kerena
alasan inilah maka para ahli menganjurkan pemeriksaan ELISA dilakukan setelah
minggu ke 12 sesudah melakukan aktivitas seksual berisiko tinggi atau tertusuk jarum
suntik yang terkontaminasi. Tes ELISA dapat dilakukan dengan sampel darah vena, air
liur, atau urine.

8. Rapid HIV Test


- Rapid test HIV adalah tes yang digunakan untuk melakukan penapisan (screening)
awal sehingga dapat dilakukan deteksi ini.
- Rapid Diagnostic Test (RDT) atau sering disebut rapid test adalah tes diagnostic
untuk keperluan medis yang mudah dilakukan serta memberikan hasil yang cepat.
RDT biasanya dilakukan untuk pemeriksaan atau screening medis awal dan dapat
digunakan dengan peralatan yang terbatas.

Cara menggunakan rapid test hiv merk UJI


Sebelum melakukan pengujian, alat uji HIV, larutan buffer, sampel serum, plasma atau darah
dan/ sampel kontrol harus dibawa ke suhu ruang (15-20°C).

1. Keluarkan alat Uji HIV dari sachet dan segera gunakan. Hasil terbaik diperoleh jika
pengujian dilakukan tidak lebih dari stu jam sachet dibuka.
2. Tempatkan alat Uji HIV pada permukaan yang bersih dan datar.
3. Masukkan 2-4 tetes (20-40 uL) serum atau plasma dengan menggunakan pipet yang
tersedia ke dalam lubang “S”.
4. Atau masukkan 2 tetes (20 uL) sampel darah ke dalam lubang sampel (S) lalu
tambahkan 2 tetes buffer.
5. Tunggu selama 15 menit dan baca hasilnya. Jangan membaca hasil setelah 30 menit.

CATATAN : kemunculan garis uji yang lemah dapat disebabkan oleh titer antibodi anti HIV
½ yang rendah dalam sampel. Jangan membaca hasil setelah 30 menit.

INTERPRETASI HASIL

 POSITIF : Dua garis berwarna merah – ungu muncul. Satu garis pada daerah
kontrol (C) dan garis yang lain pada daerah uji (T).
 NEGATIF : Satu garis berwarna merah - ungu muncul di daerah kotnrol
(C). Tidak ada garis yang muncul di daerah uji (T).
 TIDAK VALID : Garis kontrol tidak muncul. Volume sampel yang tidak cukup
atau prosedur salah merupakan alasan yang paling banyak ditemui yang
menyebabkan kontrol tidak muncul. Kaji ulang prosedur yang telah dilakukan dan
ulangi pengujian dengan menggunakan alat uji yang baru.

CATATAN : Intensitas warna pada garis uji (T) akan bervariasi berdasarkan pada konsentrasi
antibodi anti-HIV ½ yang terdapat dalam sampel. Alat Uji HIV tidak dapat memberikan hasil
kuantitatif ataupun mengukur peningkatan level antibodi anti-HIV ½ yang terdapat dalam
sampel.

- Kelebihan dari rapid test HIV ini yaitu =


* Hasil dapat diketahui dengan cepat

* Proses pengerjaan sederhana dan mudah

- Kelemahan dari rapid test HIV ini yaitu =

* Biayanya cukup mahal

VCT Test

VCT TEST

- VCT kependekan dari Voluntary Counseling and Testing, atau KTS (Konseling dan
Testing HIV Sukarela). VCT adalah proses bagi seseorang yang ingin mengetahui
status HIV diri dengan cara melakukan tes darah untuk HIV.
- VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV
secara sukarela yang bersifat confidental (rahasia) dan secara lebih dini membantu
orang mengetahui status HIV.

VCT sebaiknya dilakukan 2-3 bulan setelah kita merasa melakukan kegiatan tersebut di atas.
Kenapa 2 bulan? Karena masa inkubasi HIV umumnya 3 minggu sampai dengan 2 bulan.
Biasanya dianjurkan untuk melakukan tes ulang 6 bulan berikutnya untuk mendapatkan hasil
yang lebih akurat.
Sekarang ini sudah ada obat yang dapat menekan jumlah HIV yang disebut dengan
antiretroviral (ARV). Ada beberapa manfaat dari terapi atau pemakaian ARV, antara lain:

Menghambat perjalanan HIV Untuk orang yang belum mempunyai gejala AIDS, ARV akan
mengurangi kemungkinan menjadi sakit. Untuk orang yang dengan gejala AIDS, memakai
ARV biasanya mengurangi atau menghilangkan gejala tersebut. ARV juga mengurangi
kemungkinan gejala tersebut timbul di masa depan Meningkatkan jumlah CD 4 (sel darah
putih) Mengurangi jumlah virus dalam darah Merasa lebih baik.

Pelaksanaan VCT terdiri dari tiga tahap, yaitu:

1. Konseling pre testing HIV


Yang dilakukan pada saat konseling pre testing HIV adalah:
 Menjelaskan tentang proses Konseling dan Testing HIV Sukarela.
 Menjelaskan tentang HIV/AIDS, pencegahan dan pengobatannya
 Mencari tahu tingkat pengetahuan klien mengenai HIV dan AIDS
 Menilai perilaku berisiko yang dapat menjadi sarana penularan HIV
 Menjelaskan keuntungan melakukan tes HIV & kerugian jika menolak atau
menunda
 Menjelaskan makna hasil testing HIV positif/negatif
 Memberikan penjelasan mengenai dampak pribadi, keluarga, dan social terhadap
hasil testing HIV
 Mendiskusikan kemungkinan tindak lanjut setelah ada hasil tes (rencana perubahan
perilaku)
2. Testing HIV
Testing HIV merupakan paket dari konseling dan testing HIV sukarela untuk
mengetahui status HIVnya dan dilakukan melalui proses pengambilan darah. Testing
HIV hanya akan dilakukan jika klien bersedia untuk diambil darahnya dan
menandatangani surat persetujuan (informed consent) tes HIV. Jika klien tidak
menyetujui untuk dites, konselor akan menawarkan kepada klien untuk datang
kembali sewaktu-waktu bila masih memerlukan dukungan dan/atau untuk dilakukan
tes. Jika klien setuju untuk dites, dilanjutkan dengan konseling post tes setelah ada
hasil laboratorium.
Tes HIV yang dapat dilakukan meliputi :
• TES ANTIBODI HIV
- Rapid tes
- ELISA
- Western Blot
• Tes Antigen
- PCR
Yang perlu diperhatikan dari hasil testing HIV adalah :
• Tanda reaktif berarti HIV sudah ada pada tubuh
• Tanda Non reaktif berarti HIV belum ada di dalam tubuh
• Indeterminate berarti perlu adanya pengulangan testing HIV karena hasil testing
HIV tidak jelas
• Masa jendela berarti masa inkubasi HIV yaitu masa antara masuknya virus HIV ke
dalam tubuh manusia sampai terbentuknya antibody terhadap HIV atau disebut HIV
positif (umumnya 2 minggu – 6 bulan).
3. Konseling post testing HIV
Pada proses konseling post testing HIV, konselor akan :
• Membacakan hasil tes HIV klien baik positif atau negative dengan nada biasa
• Memberikan waktu bagi klien untuk memahami hasil tes dan bereaksi
• Mendampingi klien dalam mengendalikan reaksi emosional
• Menjelaskan makna reaktif atau nonreaktif
• Menjelaskan kembali cara pencegahan dan penularan HIV/AIDS, terlepas hasil tes
negatif/positif
• Memberikan dukungan yang sesuai
• Membuat rencana lebih lanjut
• Rujukan konseling, MK, KDS, Layanan Kesehatan, PL, PMTCT
• Membahas tindak lanjut medis dan strategi perubahan perilaku

JIKA HASIL TEST HIV NEGATIF


Ketika hasil tes dinyatakan negatif, dapat diartikan klien tidak terinfeksi HIV atau
kemungkinan masih dalam masa jendela. Petugas konseling HIV/AIDS akan
membantu kita untuk :
• Menegaskan kembali cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS.
• Membantu merencanakan perubahan perilaku yang lebih sehat & aman.
• Memberi dukungan untuk mempertahankan perilaku yang lebih sehat.
• Anjuran untuk melakukan VCT kembali 3 bulan berikutnya.
JIKA HASIL TEST HIV POSITIF
Jika hasil tes dinyatakan positif, petugas konseling akan menekankan bahwa hasil
positif bukan akhir dari segalanya. Pada saat ini, dengan pengobatan, perawatan dan
perubahan perilaku yang sehat akan membantu ODHA dapat hidup lebih lama dan
lebih berkualitas. Sumber-sumber bantuan masyarakat membantu ODHA untuk
mendapatkan pelayanan dari kelompok dukungan hingga ke penanganan medis.
Petugas konseling HIV/AIDS akan memberitahukan di mana sumber bantuan atau
merujuk pada Program Manajemen Kasus.
Manajemen kasus adalah suatu pelayanan untuk membantu ODHA yang mengkaitkan
dan mengkoordinasi bantuan dari berbagai lembaga dan badan penyedia dukungan
medis, psikososial, dan praktis bagi individu-individu yang membutuhkan bantuan
tersebut. Selain itu, manajemen kasus juga diharapkan dapat membantu ODHA untuk
mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih sehat dan bertanggung jawab.
Petugas Lapangan memiliki beberapa tugas, yaitu menjelaskan manfaat VCT,
menjelaskan prosedur dalam VCT, memberi informasi tempat layanan VCT,
memotivasi KD untuk VCT, merujuk KD ke VCT. Tim yang ikut serta dalam
pelayanan VCT DI Griya ASA terdiri dari 1 dokter, 2 konselor, 1 manager kasus, 1
petugas laboratorium, petugas lapangan.

Apa yang harus saya lakukan jika tes HIV saya positif?
Terinfeksi HIV bukanlah vonis mati. AIDS dapat dicegah dengan pengobatan antiretroviral atau ARV. Pengobatan ARV
menekan laju perkembangan virus HIV di dalam tubuh sehingga orang dengan infeksi HIV dapat kembali “sehat” atau
‘bebas gejala’. Namun virus HIV masih ada di dalam tubuhnya dan tetap bisa menularkan pada orang lain.
Jadi apakah anda masih memiliki alasan untuk tidak melakukan tes HIV? Jika anda beresiko terinfeksi, segeralah
lakukan tes HIV.
DAFTAR PUSTAKA :
Hardjoeno. 2007. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Diagnostik. Cet 5. Makassar:
Hasanuddin University Press.
Nasrodin, Margarita M.Maramis. 2007. Konseling, Dukungan, Perawatan dan
Pengobatan ODHA. Surabaya : Airlangga University Press.
Walker, JM (1994). Basic Protein and Peptide Protocols, Volume 32. New Jersey:
Humana Press Inc..
- Barnes, L; Evian, C (2006), Life with HIV and AIDS (edisi ke-2nd), Gallo
Manor: Awareness Publishing Group (Pty) Ltd.
- Baratawidjaja Karnen Garna, Rengganis Iris. Imunologi Dasar. Ed.9. Jakarta:
Penerbit FKUI, 2010.
GenScript. 2010. ELISA protocol. GenScript USA Inc., USA : 5 hlm.
. Nurdin,,S.Si. Penuntun Pratikum Imunoserologi 1. 2015. Akademi Analis
Kesehatan Muhammadiyah Makassar