Anda di halaman 1dari 25

Sistem Informasi Untuk Persaingan Keunggulan

Perkembangan lingkungan industri yang dinamis pada era global seperti sekarang ini
menjadi pemicu bagi banyak organisasi perusahaan untuk menggali potensi yang dimilikinya,
serta mengidentifikasi faktor kunci sukses untuk unggul dalam persaingan yang semakin
kompetitif. Teknologi yang juga berkembang pesat menjadi sebuah kekuatan untuk diterapkan
dalam iklim persaingan. Usaha-usaha yang dilakukan pada akhirnya diarahkan untuk
memberikan produk terbaik kepada konsumen.

Konteks produk yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen dalam pengertian


manajemen produksi dan operasi adalah kombinasi produk barang dan jasa. Industri manufaktur
tidak akan dapat bersaing apabila produk yang ditawarkan murni hanya barang, dan industri jasa
juga tidak memiliki daya tarik apabila yang ditawarkan kepada konsumen murni berupa layanan.
Keberhasilan perusahaan dalam memberikan produk terbaik kepada konsumen meliputi
kombinasi di antara keduanya, yaitu barang dan jasa dalam porsi masing-masing yang ideal
menurut perusahaan.

Menyajikan produk dalam arti luas tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi
sistem produksi operasi yang harus dijalankan perusahaan. Mulai dari mengidentifikasi selera
konsumen sampai dengan mengupayakan seluruh kebutuhan input dari pemasok untuk
memproduksi dan mendistribusikan produk tersebut sesuai dengan selera konsumen yang
diincar. Untuk menyempurnakan itu semua , perusahaan perlu mengatur dengan baik sistem
persediaan serta pengiriman barang yang dibutuhkan dari supplier maupun ke customer untuk
dapat mengungguli para pesaingnya.

Selama beberapa tahun terakhir ini, topik keunggulan kompetitif telah menjadi fokus dari
banyak diskusi. Keunggulan kompetitif dapat dicapai melalui pengolahan sumber daya fisik,
akan tetapi sumber daya virtual ternyata juga dapat memainkan peranan yang besar. Michael E.
Porter diakui sebagai orang yang paling banyak mengungkapkan konsep keunggulan kompetitif
dan mengontribusikan pemikiran-pemikiran mengenai rantai nilai (value chain) dan sistem nilai
(value system), yang setara dengan melihat sesuatu secara sistem atas perusahaan dan
lingkungannya. Integrasi antara model sistem umum dan model delapan unsur lingkungan akan
menjadi suatu dasar dari suatu konsep rantai pasokan (supply chain management).

1|Page
Model sistem umum perusahaan akan dapat menjadi contoh pola yang baik untuk menganalisis
sebuah organisasi. Model ini akan menyoroti unsur unsur yang seharusnya ada dan bagaimana
unsur unsur tersebut seharusnya berinteraksi. Para eksekutif perusahaan dapat menggunakan
informasi tersebut untuk mendapatkan keunggulan strategis, taktis, dan operasional.

Sumber daya informasi sebuah perusahaan meliputi peranti keras, peranti lunak, spesialis
informasi, pengguna, fasilitas, basis data (database), dan informasi. Informasi memiliki empat
dimensi yang diinginkan: relevansi, akurasi, ketetapan waktu, dan kelengkapan. Eksekutif
perusahaan melakukan perencanaan strategis untuk keseluruhan organisasi, area bisnis, dan
sumber daya informasi. Chief information officer (yang disebut pula chief technology officer)
memainkan peranan penting dalam semua jenis perencanaan strategis. Sebuah rencana strategis
untuk sumber daya informasi akan mengidentifikasikan tujuan-tujuan yang harus dipenuhi oleh
sistem informasi perusahaan di tahun-tahun mendatang dan sumber daya informasi yang akan
diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Perusahaan dan Lingkungannya

Perusahaan adalah Suatu sistem fisik yang dikelola melalui penggunaan sebuah sistem
virtual. Sistem fisik perusahaan merupakan suatu sistem terbuka di mana ia berhadapan dengan
lingkungannya. Sebuah perusahaan mengambil sumber daya dari lingkungannya, mengubah
sumber daya tersebut menjadi produk dan jasa, dan mengembalikan sumber daya yang telah
diubah kembali ke lingkungan.

Model Sistem Umum Perusahaan

Gambar tersebut
menunjukkan aliran
sumber daya dari
lingkungan melalui
perusahaan dan kembali
kelingkungan.

2|Page
Aliran sumber daya fisik berada dibagian bawah ; aliran sumber daya virtual berada
dibagian atas. Bagian ini menggambarkan model sistem umum perusahaan, yang menampilkan
arsitektur bagian seluruh jenis organisasi dalam bentuk sebuah sistem.

Aliran Sumber Daya Fisik

Sumber daya fisik sebuah perusahaan meliputi pegawai, bahan baku, mesin dan uang.
Pegawai dipekerjakan oleh perusahaan, diubah ke tingkat keahlian yang lebih tinggi melalui
pelatihan dan pengalaman, dan pada akhirnya meninggalkan perusahaan. Bahan baku memasuki
perusahaan dalam bentuk input mentah dan diubah menjadi barang jadi, yang kemudian dijual
kepada para pelanggan perusahaan. Mesin dibeli, digunakan, dan pada akhirnya dijual dalam
bentuk besi tua atau ditukar dengan mesin yang lebih baru. Uang memasuki perusahaan dalam
bentuk penerimaan penjualan, investasi pemegang saham, dan pinjaman lalu diubah menjadi
pembayaran kepada pemasok, pajak kepada pemerintah, dan pengambilan kepada para
pemegang saham. Ketika berada di dalam perusahaan, sumber daya fisik dipergunakan untuk
menghasilkan produk dan jasa yang dijual oleh perusahaan kepada para pelanggannya.

Aliran Sumber Daya Virtual

Pada gambar 1 menunjukkan aliran dari sumber daya virtual: Data, informasi, dan
informasi dalam sebuah keputusan. Aliran dua arah, data dan informasi yang menghubungkan
perusahaan dengan lingkungannya ditunjukkan sebelah kanan.

Mekanisme Pengendalian Perusahaan

Unsur – unsur yang memungkinkan perusahaan mengendalikan operasinya sendiri meliputi:

1. Standar kinerja yang harus dipenuhi oleh perusahaan jika ia ingin mencapai sebuah
tujuan secara keseluruhan.
2. Manajemen perusahaan
3. Suatu pemrosesan informasi yang mengubah data menjadi informasi.

3|Page
Lingkaran Umpan Balik

Lingkaran umpan balik (feedback loop) terdiri atas sumber daya virtual. Data
dikumpulkan dari perusahaan dan dari lingkungan lalu dimasukkan kedalam pemroses informasi
yang mengubahnya menjadi informasi yang kemudian diberi kepada para manajer, untuk
melakukan pengambilan keputusan yang akan mempengaruhi perubahan-perubahan yang
dibutuhkan pada sistem fisik.

PERUSAHAAN DI DALAM LINGKUNGANNYA

Sebuah perusahaan tercipta atas dasar tujuan untuk memberikan produk dan jasa yang
memenuhi kebutuhan lingkungannya. Sama pentingnya, sebuah perusahaan tidak akan dapat
berfungsi tanpa sumber daya yang diberikan oleh lingkungannya. Unsur-unsur lingkungan
adalah organisasi dan individu yang berbeda
di luar perusahaan dan memiliki pengaruh
langsung maupun tidak langsung atas
perusahaan. Kedelapan unsur ini terdapat
didalam suatu sistem yang lebih besar yang
disebut masyarakat (society), gambar
disamping menggambarkan model delapan
unsur lingkungan.

Model 8 unsur lingkungan :

1. Pemasok (supplier) lebih disebut vendor, memasok bahan baku, mesin, jasa, orang, dan
informasi yang digunakan perusahaan untuk menghasilkan produk dan jasanya.
2. Pelanggan (customer)
3. Serikat kerja (Labor union) adalah organisasi dari para pekerja terampil maupun tidak
terampil dari berbagai jenis bidang usaha dan industri.
4. Komunitas keuangan (financial community) terdiri atas industri-industri seperti bank
dan institusi pemberi pinjaman lainnya yang mempengaruhi sumber daya keuangan
yang tersedia bagi perusahaan.

4|Page
5. Pemegang saham dan pemilik (stockbolders and owners) orang-orang yang
menginvestasikan uang kedalam perusahaan. Mereka adalah pemilik perusahaan yang
sebenarnya.
6. Pesaing (competitor) adalah mencakup semua organisasi yang bersaing dengan
perusahaan didalam pasar.
7. Pemerintah (goverment) baik itu ditingkat nasional, provinsi maupun lokal, akan
memberikan pembatasan dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan dan juga
memberikan bantuan dalam bentuk pembelian, informasi dan dana
8. Komunitas global (global community) adalah wilayah geografis dimana perusahaan
menjalankan operasinya. Perusahaan menunjukkan tanggungjawabnya kepada
masyarakat global dengan menghargai lingkungan hidup, memberikan produk dan jasa
dan memberikan kontribusi kepada mutu kehidupan, dan melakukan operasinya secara
etis.

Aliran sumber daya lingkungan

Perusahaan terhubung dengan unsur – unsur lingkungannya memalui aliran sumber daya
lingkungan (environmental resource flows). Beberapa sumber daya mengalir lebih sering dari
pada sumber daya yang lain. Aliran – aliran yang umum terjadi meliputi :

1. Aliran informasi dari pelanggan


2. Aliran bahan baku kepelanggan
3. Aliran uang kepada pemegang saham
4. Aliran bahan baku dari pemasok

Aliran yang lebih jarang terjadi meliputi aliran uang dari pemerintah (seperti uang
penelitian), aliran bahan baku kepada pemasok (pengembalian barang dagangan), dan aliran
pegawai kepada pesaing (karyawan yang “diajak” perusahaan lain),

Tidak semua aliran sumber daya terjadi diantara perusahaan dan seluruh unsur
lingkungannya. Satu-satunya sumber daya yang menghubungkan perusahaan dengan seluruh
unsur adalah informasi, dan perusahaan berusaha untuk menjadikan hubungan informasi dengan
pesaing sebagai sesuatu aliran satu arah.

5|Page
Mengelola Aliran Sumber Daya Fisik – Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain
Management)

Supply Chain merupakan suatu rangkaian proses-proses dan aliran yang terjadi didalam dan
diantara tahapan rantai pasok yang berbeda dan berkombinasi untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan atas suatu produk. Konsep supply chain ini mengintegrasikan secara efisien antara
pemasok, perusahaan manufaktur, pergudangan, dan toko, sehingga barang yang diproduksi dan
didistribusi dengan kualitas yang tepat, lokasi yang tepat, dan waktu yang tepat, untuk
meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan.

Dalam supply chain ada 3 aliran yang terlibat:

1. Aliran material : Dilihat mulai dari penyedia bahan baku: aliran bahan mentah, produk
setengah jadi, produk akhir.Arah sebaliknya: pengembalian pruduk gagal, daur ulang,
perbaikan.
2. Aliran informasi : Dilihat mulai dari penyedia bahan baku: kapasitas produksi pabrik,
penjadwalan pengiriman, promosi yang sudah dilakukan.Arah sebaliknya: laporan
penjualan, persediaan, perkembangan promosi.
3. Aliran uang : Dilihat mulai dari penyedia bahan baku: piutang, biaya pengiriman,
pembelian, pendapatan.Arah sebaliknya: pembayaran.

Supply chain management adalah suatu sistem yang ditujukan untuk mengendalikan supplier.
Pengendalian ini bertujuan utama untuk memastikan ketersediaan bahan baku atau bahan mentah
agar tidak menghambat kinerja perusahaan secara keseluruhan. Tujuan utama dari supply chain
management adalah untuk memenuhi permintaan pelanggan melalui penggunaan sumber daya
paling efisien, termasuk kapasitas distribusi, persediaan dan tenaga kerja. Secara teori, sebuah
supply chain berusaha untuk memenuhi permintaan dengan pasokan dan melakukannya dengan
persediaan minimal. Berbagai aspek mengoptimalkan rantai pasokan termasuk penghubung
dengan pemasok untuk menghilangkan hambatan; sumber strategis untuk menyerang
keseimbangan antara biaya bahan terendah dan transportasi, menerapkan JIT (Just In Time)
teknik untuk mengoptimalkan aliran manufaktur; mempertahankan campuran yang tepat dan
lokasi pabrik dan gudang untuk melayani pasar pelanggan, dan menggunakan lokasi / alokasi,
routing analisis kendaraan, pemrograman dinamis dan, tentu saja, tradisional logistik optimasi
untuk memaksimalkan efisiensi dari sisi distribusi.

6|Page
Perusahaan yang berada dalam supply chain pada intinya ingin memuaskan konsumen
dengan bekerja sama membuat produk yang murah, mengirimkan tepat waktu dan dengan
kualitas yang bagus. apabila mengacu pada sebuah perusahaan manufaktur, kegiatan-kegiatan
utama yang masuk dalam klasifikasi Supply Chain Management adalah : product development,
procurement, palanning and control, production dan distribution.

Pendekatan yang ditekankan dalam Supply Chain Management adalah terintegrasi dengan
semangat kolaborasi. Supply chain management tidak hanya berorientasi pada urusan internal
melainkan juga eksternal perusahaan yang menyangkut hubungan dengan perusahaan-
perusahaan partner.

Supply chain management yang didesain dengan baik menghasilkan net value positif dengan
memberikan keuntungan, mengurangi biaya, dan meningkatkan kelangsungan hidup keuangan.
Perusahaan dengan supply chain yang diselesaikan dengan baik dapat membagikan keuntungan
dengan layak, dengan menghasilkan yang disebut win-win relationship.

Manajemen Rantai Pasokan dan Sistem Perencanaan Sumber Daya Usaha

Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sistem yang dapat mengintegrasikan semua data dan
proses di sebuah perusahaan ke dalam sebuah sistem tunggal. Pengertian ERP sendiri berasal
dari sistem yang didesain untuk perancangan efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki
oleh suatu perusahaan. Program ERP sangat membantu perusahaan yang memiliki bisnis proses
yang luas, dengan menggunakan database dan reporting tools manajemen yang terbagi.

Dalam suatu sistem ERP, biasanya sudah terdapat beberapa modul software yang dapat saling
berkaitan antara satu dengan yang lain. Sebuah database dalam sistem ERP biasanya
mengandung semua data yang terdapat dalam module software yang meliputi, manufactring,
supply chain management, financial, projects, human resource, customer relationship
management, dan data warehouse.

Dengan banyaknya modul yang terdapat pada sebuah sistem ERP, tak heran jika aplikasi ini
dapat menurunkan banyaknya jumlah software yang dibutuhkan pada sebuah perusahaan besar.
ERP juga dapat menghasilkan laporan yang terbagi dalam beberapa sistem secara lebih mudah.
ERP juga dapat memudahkan manajemen tingkat tinggi, dalam melakukan fungsi analisa yang

7|Page
berlaku di suatu perusahaan besar, untuk mengindentifikasi tren yang berlaku di perusahaan
sehingga sehingga dapat membuat keputusan secara cepat.

Implementasi sebuah sistem ERP umumnya akan memerlukan proses re-engineering


(perubahan/penyempurnaan proses bisnis/industri), selama proses implementasi kita mempunyai
kesempatan untuk memperbaiki proses-proses yang kurang sempurna ataupun mengganti proses
bisnis dengan sistem yang lebih modern yang paling sesuai dengan bisnis anda. Projek ERP juga
meletakkan dasar sistem bisnis baru dimana sistem ERP dapat berintegrasi dengan E-commerce
dan Costumer Relationship Management (CRM, ERP umumnya juga dilengkapi sistem EDI
(Electronic Data Interchange) sehingga memungkinkan sistem untuk bertukar data dengan
sistem dari Vendor, Customer, dan lain lain, serta dilengkapi sistem email untuk pengiriman
informasi dan peringatan terhadap kondisi kondisi tertentu untuk membantu pengawasan dan
kontrol terhadap sistem.

Agar sebuah perusahaan dapat menerapkan konsep ERP dengan baik, setiap aspek dari
organisasi, manusia, informasi, dan teknologi harus dipersiapkan dengan baik.

Adapun keuntungan dari implementasi ERP antara lain :

a) Integrasi data keuangan


b) Standarisasi Proses Operasi
c) Standarisasi Data dan Informasi

Keuntungan diatas adalah keuntungan yang dapat dirasakan namun tidak dapat diukur.
Keberhasilan implementasi ERP dapat dilihat dengan mengukur tingkat Return on Investment
(ROI), dan komponen lainnya, seperti:

• Pengurangan lead-time
• Peningkatan kontrol keuangan
• Penurunan inventori
• Penurunan tenaga kerja secara total
• Peningkatan service level
• Peningkatan sales

8|Page
• Peningkatan kepuasan dan loyalitas konsumen -Peningkatan market share
perusahaan
• Pengiriman tepat waktu
• Kinerja pemasok yang lebih baik
• Peningkatan fleksibilitas
• Pengurangan biaya-biaya
• Penggunaan sumber daya yang lebih baik
• Peningkatan akurasi informasi dan kemampuan pembuatan keputusan.
• Kerugian yang mungkin terjadi ketika salah menerapkan ERP antara lain adalah :
• Strategi operasi tidak sejalan dengan business process design dan
pengembangannya
• Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran
• Karyawan tidak siap untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang baru
• Persiapan implementation tidak dilakukan dengan baik
• Berkurangnya fleksibilitas sistem setelah menerapkan ERP

Sistem ERP adalah sebuah terminologi yang secara de facto adalah aplikasi yang dapat
mendukung transaksi atau operasi sehari-hari yang berhubungan dengan pengelolaan sumber
daya sebuah perusahaan, seperti dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan
kapasitas.Sistem ERP dibagi atas beberapa sub-sistem yaitu sistem Financial, sistem Distribusi,
sistem Manufaktur, sistem Maintenance dan sistem Human Resource.

Untuk mengetahui bagaimana sistem ERP dapat membantu sistem operasi bisnis kita, kita
perhatikan suatu kasus kecil seperti di bawah ini:

“Katakanlah kita menerima order untuk 100 unit Produk A. Sistem ERP akan membantu kita
menghitung berapa yang dapat diproduksi berdasarkan segala keterbatasan sumber daya yang
ada pada kita saat ini. Apabila sumber daya tersebut tidak mencukupi, sistem ERP dapat
menghitung berapa lagi sumber daya yang diperlukan, sekaligus membantu kita dalam proses
pengadaannya. Ketika hendak mendistribusikan hasil produksi, sistem ERP juga dapat
menentukan cara pemuatan dan pengangkutan yang optimal kepada tujuan yang
ditentukanpelanggan. Dalam proses ini, tentunya segala aspek yang berhubungan dengan

9|Page
keuangan akan tercatat dalam sistem ERP tersebut termasuk menghitung berapa biaya produksi
dari 100 unit tersebut.”

Dapat kita lihat bahwa data atau transaksi yang dicatat pada satu fungsi/bagian sering digunakan
oleh fungsi/bagian yang lain. Misalnya daftar produk bisa dipakai oleh bagian pembelian, bagian
perbekalan, bagian produksi, bagian gudang, bagian pengangkutan, bagian keuangan dan
sebagainya. Oleh karena itu, unsur 'integrasi' itu sangat penting dan merupakan tantangan besar
bagi vendor vendor sistem ERP.

Pada prinsipnya, dengan sistem ERP sebuah industri dapat dijalankan secara optimal dan dapat
mengurangi biaya-biaya operasional yang tidak efisien seperti biaya inventory (slow moving
part, dll.), biaya kerugian akibat 'machine fault' dll. Dinegara-negara maju yang sudah didukung
oleh infrastruktur yang memadaipun, mereka sudah dapat menerapkan konsep JIT (Just-In-
Time). Di sini, segala sumber daya untuk produksi benar-benar disediakan hanya pada saat
diperlukan (fast moving). Termasuk juga penyediaan suku cadang untuk maintenance, jadwal
perbaikan (service) untuk mencegah terjadinya machine fault, inventory, dsb.

Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari sistem ERP, maka industri kita juga
harus mengikuti 'best practice process' (proses umum terbaik) yang berlaku. Disini banyak
timbul masalah dan tantangan bagi industri kita di Indonesia. Tantangannya misalnya,
bagaimana merubah proses kerja kita menjadi sesuai dengan proses kerja yang dihendaki oleh
sistem ERP, atau, merubah sistem ERP untuk menyesuaikan proses kerja kita. Proses
penyesuaian itu sering disebut sebagai proses Implementasi. Jika dalam kegiatan implementasi
diperlukan perubahan proses kerja yang cukup mendasar, maka perusahaan ini harus melakukan
Business Process Reengineering (BPR) yang dapat memakan waktu berbulan bulan. Analisis
Hubungan Supply Chain Management dan Enterprise Resources Planning

• SCM : adalah suatu sistem informasi untuk memudahkan pengendalian atas


supplier.
• ERP : adalah sistem inti perusahaan yang mengendalikan semua aspek internal
perusahaan.
• CRM : adalah sistem informasi untuk melakukan pengendalian atas konsumen
perusahaan.

10 | P a g e
ERP adalah sebuah sistem komputer yang dirancang untuk dapat mengendalikan seluruh aspek
dalam perusahaan. Sistem ERP adalah suatu sistem yang menyatukan semua subsistem-
subsistem diatas. Sistem ini luar biasa kompleks, tetapi apabila diinplementasikan, akan sangat
memudahkan manajemen dalam melakukan monitoring pekerjaan sehari-hari, evaluasi, dan pada
akhirnya mengambil keputusan. Pengembangan dari sistem ini adalah dengan teknologi
Electronic Data Interchange (EDI) yang memungkinkan supplier dapat memantau stok kita
secara realtime sehingga resiko kekurangan stok akan dapat diminimalisasikan. ERP merupakan
teknologi yang terintegrasi yang dapat memberikan value terhadap supply chain management.

Keunggulan Kompetitif
Seiring dengan perusahaan memenuhi kebutuhan produk dan jasa para pelanggannya,
perusahaan tersebut akan berusaha untuk mendapatkan keunggulan di atas para pesaingnya.
Mereka dapat mencapai keunggulan ini dengan memberikan produk dan jasa pada harga yang
lebih rendah, memberikan kebutuhan-kebutuhan khusus dari segmen-segmen pasar tertentu.
Satu hal yang tidak selalu terlihat jelas adalah adanya fakta bahwa sebuah perusahaan juga
akan dapat mencapai keunggulan kompetitif melalui penggunaan sumber daya virtualnya. Di
dalam bidang sistem informasi, keunggulan kompetitif (competitive advantage) mengacu pada
penggunaan informasi untuk mendapatkan pengungkitan (leverage) di dalam pasar. Ingat bahwa
para manajer perusahaan-perusahaan menggunakan sumber daya virtual sekaligus juga fisik
dalam memenuhi tujuan-tujuan strategis perusahaan.

Rantai Nilai Porter


Porter yakin bahwa sebuah perusahaan meraih keunggulan kompetitif dengan
menciptakan suatu rantai nilai (value chain). Margin adalah nilai dari produk dan jasa perusahaan
setelah dikurangi harga pokoknya, seperti yang diterima oleh pelanggan perusahaan.
Meningkatkan margin adalah tujuan dari rantai nilai.
Perusahaan menciptakan nilai dengan melakukan apa yang disebut oleh Porter sebagai
aktivitas nilai (value activities). Aktivitas nilai terdiri atas dua jenis : utama dan pendukung.
a. Aktivitas nilai utama (primary value activities) meliputi logistik input yang mendapatkan
bahan baku dan persediaan dari pemsok, operasi perusahaan yang mengubah bahan baku
menjadi barang jadi, logistik output yang memindahkan barang kepada pelanggan,
operasi pemasaran penjualan yang mengidentifikasi kebutuhan pelanggan dan

11 | P a g e
mendapatkan pesanan, dan aktivitas-aktivitas jasa yang menjaga hubungan pelanggan
yang baik setelah penjualan. Aktivitas nilai utama ini mengelola aliran sumber daya fisik
di sepanjang perusahaan.
b. Aktivitas nilai pendukung (support value activities) mencakup infrastruktur perusahaan,
bentuk organisasi yang secara umum akan memengaruhi seluruh aktivitas utama. Selain
itu, tiga aktivitas akan memengaruhi aktivitas utama secara terpisah maupun dalam
bentuk terkombinasi yaitu :
1. manajemen sumber daya manusia,
2. pengembangan teknologi, dan
3. pengadaan (atau pembelian).
Masing-masing aktivitas nilai, baik utama maupun pendukung akan mengandung tiga unsur
penting, yaitu :
1) input yang di beli, sumber daya manusia, dan
2) teknologi.
Setiap aktivitas juga akan menggunakan dan menciptakan informasi. Sebagai contoh, spesialis
informasi di dalam unit jasa informasi dapat menggabungkan basis data pembelian komersial,
peralatan komputasi yang disewa, dan program-program yang dikembangkan sendiri untuk
menghasilkan informasi pendukung keputusan bagi para eksekutif perusahaan.

Memperluas Ruang Lingkup Rantai Nilai


Kaitan rantai nilai perusahaan ke rantai nilai organisasi lain dapat menghasilkan suatu
sistem interorganisasional (interorganizational system-IOS). Perusahaan-perusahaan yang
berpartisipasi disebut sebagai sekutu bisnis (business partners). mereka bekerja bersama sebagai
suatu unit tunggal yang terkoordinasi, sehingga menimbulkan suatu sinergi yang tidak dapat
dicapai jika masing-masing bekerja sendirian.
Sebuah perusahaan dapat mengaitkan rantai nilainya kepada rantai nilai pemasoknya
dengan mengimplementasikan sistem yang membuat sumber daya input tersedia bila dibutuhkan.
Salah satu contoh adalah kesepakatan just-in-time (JIT) dengan pemasok untuk mengirimkan
bahan baku sehingga bahan baku akan tiba beberapa jam sebelum digunakan di dalam proses
produksi. JIT akan membantu meminimalkan biaya penyimpanan bahan baku.

12 | P a g e
Ketika para pembeli produk perusahaan adalah organisasi, rantai nilai mereka akan juga
dapat dikaitkan dengan rantai nilai perusahaan dan para anggota distribusinya. Sebagai contoh,
sebuah perusahaan produsen farmasi dapat melampirkan label harga pengecer kepada produk.
Produknya sebelum pengiriman, sehingga dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan
pengecer nantinya.
Ketika pembeli adalah pelanggan individual, mereka dapat menggunakan komputer
mereka untuk masuk ke dalam situs Web perusahaan untuk mendapatkan informasi dan
melakukan pembelian. Karena setiap aktivitas nilai mencakup komponen informasional,
mengelola sumber daya informasi sebuah perusahaan adalah langkah penting dalam meraih
keunggulan kompetitif.

Dimensi-dimensi Keunggulan Kompetitif


Keunggulan kompetitif dapat direalisasikan dalam hal mendapatkan keunggulan strategis,
taktis, maupun operasional. Pada tingkat manajerial yang tertinggi, tingkat perencanaan strategis-
sistem informasi dapat digunakan untuk mengubah arah sebuah perusahaan dalam mendapatkan
keunggulan strategisnya. Pada tingkat kendali manajemen (menengah), manajer dapat
memberikan spesifikasi mengenai bagaimana rencana strategis akan diimplementasikan sehingga
menciptakan suatu keunggulan taktis. Pada tingkat kendali operasional (lebih rendah), manajer
dapat menggunakan teknologi informasi dalam berbagai pengumpulan data dan penciptaan
informasi yang akan memastikan efisiensi operasi, sehingga mencapai keunggulan operasional.

Keunggulan Strategis
Keunggulan strategis (strategic advantage) adalah keunggulan yang dimiliki dampak
fundamental dalam membentuk operasi perusahaan. Sistem informasi dapat digunakan untuk
menciptakan keunggulan strategis. Sebagai contoh, sebuah perusahaan dapat memutuskan untuk
mengubah seluruh datanya menjadi basis data dengan alat penghubung standar (seperti alat
penghubung browser Web) guna kemungkinan berbagi dengan sekutu-sekutu bisnis dan
pelanggannya.

13 | P a g e
Basis data yang terstandardisasi dan dapat diakses melalui browser Web mencerminkan
pergeseran posisi perusahaan secara strategis. Strategi ini menyebabkan operasi perusahaan akan
dipengaruhi oleh beberapa cara secara fundamental, yaitu :
a. akses yang ada saat ini bisa jadi dilakukan melalui peranti lunak komputer buatan
perusahaan sendiri, sehingga perubahan tersebut akan menyebabkan perusahaan harus
mempertimbangkan untuk membeli peranti lunak pelaporan standar dari vendor luar atau
mempekerjakan perusahaan luar untuk merancang dan mengembangkan suatu sistem
pelaporan baru. Mobilitas akses laporan juga akan ikut terpengaruh, karena para pengguna
tidak lagi membutuhkan akses laporan juga akan ikut terpengaruh, karena para pengguna
tidak membutuhkan akses langsung ke sumber daya komputer perusahaan. setiap
sambungan ke internet akan memungkinkan pengguna menggunakan sebuah browser Web
untuk mengakses laporan dari hampir seluruh tempat di manapun di dunia ini.
b. Para pemasok dan pelanggan potensial di manapun di seluruh dunia akan memiliki potensi
akses atas tingkat persediaan bahan baku dan barang jadi perusahaan, sehingga akan
mempercepat transaksi pembelian dan penjualan perusahaan.
c. Keamanan juga tidak dapat diabaikan dalam contoh terjadinya perubahan sistem informasi
secara strategis ini. Dengan semakin besarnya keuntungan yang terkait dengan akses Web
kepada informasi perusahaan maka tingkat bahayanya pun akan semakin besar pula.
Tingkat strategis akan menentukan arah dan tujuan perusahaan, namun tetap masih
terdapat kebutuhan akan suatu rencana yang dapat mencapai suatu strategi yang
menyadari arti penting dari keamanan.

Keunggulan Taktis
Sebuah perusahaan mendapatkan keunggulan taktis (tactical advantage) ketika perusahaan
tersebut mengimplementasikan strategi dengan cara yang lebih baik dari para pesaingnya. Dalam
contoh kita, layanan pelanggan dapat ditingkatkan dengan menawarkan kepada pelanggan akses
langsung ke informasi. Semua perusahaan ingin memuaskan pelanggan, karena kepuasan
pelanggan akan menghasilkan pengulangan pembelian.

14 | P a g e
Perusahaan mendapatkan keunggulan taktis dalam beberapa hal, yaitu :
a. Pelanggan melihat potongan harga sebagai alasan untuk terus membeli produk dari
perusahaan. Potongan itu sendiri merupakan insentif bagi pelanggan, namun juga dapat
memberikan keuntungan ekonomis bagi perusahaan.
b. Sistem informasi dapat menyarankan produk mana yang mungkin ingin dibeli oleh
pelanggan. Perusahaan tidak hanya akan mendorong kesetiaan pelanggan, namun juga
dapat meningkatkan keuntungan dari penjualan.
Keputusan strategis adalah menjadikan sistem informasi perusahaan tersedia bagi para
pelanggan untuk meningkatkan layanan pelanggan. Perusahaan mengembangkan suatu sistem
informasi taktis yang tidak hanya akan meningkatkan kepuasan pelanggan, namun juga akan
meningkatkan profitabilitas.

Keunggulan Operasional
Keunggulan Operasional (Operational advantage) adalah keunggulan yang berhubungan
dengan transaksi dan proses sehari-hari. Di sinilah sistem informasi akan berinteraksi secara
langsung dengan proses.
Suatu situs Web yang “mengingat” pelanggan dan preferensi mereka dari transaksi-transaksi
masa lalu akan mencerminkan suatu keunggulan operasional. Browser sering memiliki cookies,
file-file kecil berisi informasi yang terdapat di dalam komputer pengguna, yang dapat
menyimpan nomor akun, kata sandi, dan informasi lain yang berhubungan dengan transaksi
pengguna. Ini merupakan kemudahan yang berharga bagi pelanggan, bahwa para pelanggan yang
menggunakan Web untuk menempatkan pembelian mereka akan menghemat beban perusahaan
membayar seorang juru tulis untuk memasukkan data, tetapi ini hanyalah keuntungan yang
bersifat minor saja.
Data yang dimasukkan oleh pengguna kemungkinan besar akan lebih akurat. Karena data
tidak dikomunikasikan secara lisan kepada orang lain, maka tidak akan terjadi kesalahpahaman
di dalam komunikasi. Ketika informasi (nama, alamat, dan seterusnya) dapat diambil dari catatan
sebelumnya, data tersebut bahkan akan memiliki atas data yang dimasukkan oleh pengguna. Jika
data tidak akurat, pengguna tidak akan menyalahkan perusahaan. Karena berbagai alasan
operasional, akses Web ke sistem informasi perusahaan akan dapat meningkatkan hubungan
dengan pelanggan.

15 | P a g e
Tiga tingkat keunggulan kompetitif di atas akan bekerja bersama-sama. Sistem informasi
yang terpengaruh oleh ketiga tingkat ini akan memiliki kemungkinan terbaik untuk
meningkatkan kinerja sebuah perusahaan secara substansial.

Dimensi Informasi
Ketika pengembang sistem (pengguna maupun spesialis informasi) mendefinisikan
output yang diberikan oleh prosesor informasi, mereka akan mempertimbangkan empat dimensi
dasar informasi. Keempat dimensi yang diinginkan akan dapat menambah nilai dari informasi
tersebut, yaitu :
· Relevansi : Informasi memiliki relevansi jika informasi tersebut berhubungan dengan
masalah yang sedang dihadapi. Pengguna seharusnya dapat memilih data yang diperlukan tanpa
harus melewati dahulu sejumlah fakta-fakta yang tidak berhubungan. Data yang relevan dengan
pengambilan keputusan yang akan diambil saja yang akan disebut sebagai “informasi”.
· Akurasi : Idealnya, seluruh informasi seharusnya akurat. Akan tetapi, fitur-fitur yang
memberikan kontribusi kepada tingkat akurasi sistem akan menambah biaya dari sistem
informasi tersebut. Karena hal ini, para pengguna sering kali terpaksa harus menerima tingkat
akurasi yang kurang dari 100 persen. Aplikasi-aplikasi yang melibatkan uang, seperti penggajian,
penagihan, dan piutang, berusaha untuk mencapai tingkat akurasi 100 persen. Aplikasi-aplikasi
lainnya, seperti peramalan ekonomi jangka panjang dan laporan-laporan statistik, sering kali
masih tetap bermanfaat meskipun data yang dipergunakan kurang dari 100 persen akurat.
· Ketetapan waktu : Informasi hendaknya tersedia untuk pengambilan keputusan sebelum
situasi yang genting berkembang atau hilangnya peluang yang ada. Para pengguna hendaknya
dapat memperoleh informasi yang menguraikan apa yang sedang terjadi saat ini, selain dari apa
yang telah terjadi di masa lalu. Informasi yang tiba setelah suatu keputusan diambil tidak akan
memiliki nilai yang bermanfaat.
Para pengguna hendaknya dapat memperoleh informasi yang menyajikan suatu gambaran
lengkap atas suatu masalah tertentu atau solusinya. Namun, sistem hendaknya juga tidak
menenggelamkan pengguna dalam lautan informasi. Istilah kelebihan muatan informasi
(information overload) menunjukkan bahwa memiliki informasi yang terlalu banyak juga dapat
memberikan kerugian. Pengguna hendaknya dapat menentukan jumlah rincian yang dibutuhkan.

16 | P a g e
Informasi dikatakan lengkap jika memiliki jumlah agregasi yang tepat dan mendukung semua
area di mana keputusan akan diambil.
Biasanya yang terbaik adalah membiarkan pengguna menentukan sendiri dimensi
informasi yang dibutuhkannya. Bilamana dibutuhkan, spesialis informasi dapat membantu
pengguna melakukan pendekatan atas pekerjaan ini dengan cara-cara yang logis.

Mengusahakan Optimalisasi Supply Chain

Tipikal supply chain dewasa ini sedang mengalami perubahan besar karena
perubahan atau perkembangan pasar. Dahulu, produk yang mempunyai brand atau nama
yang kuat seakan - akan mendikte pasaran, dan pelanggan akan tergantung dan
cenderung untuk mencari produk tersebut. Pabrik dengan demikian juga cenderung akan
memasarkan langsung produk tersebut atau melalui retail outlet-nya sendiri, dan hanya
sebagian dari produksinya dialokasikan atau disalurkan melalui retail outlet tertentu yang
dipilihnya.

Sekarang keadaan sudah lain. Pelanggan makin mempunyai pilihan yang banyak dan
berada pada posisi untuk menentukan sendiri brand pilihannya. Dan retail outlet makin
lebih mempunyai keleluasaan dan berkuasa untuk menjual dan memajang produk yang
dipilihnya sendiri berdasarkan kehendak dan selera pelanggan. Perkembangan tersebut
mempengaruhi pula bagairnana cara mengoptirnalkan supply chain sedemikian rupa
sehingga mencapai manfaat yang optimal. Sehubungan dengan itu, perlu dibicarakan beberapa
hal sebagai berikut:

1. Tuntutan pelanggan yang terus berkembang


2. Kekuasaan retailer yang rnakin besar.
3. Dilema dalarn pencapaian optimalisasi
4. Kendala dalarn membangun kepercayaan
5. Kemitraan sebagai suatu solusi
6. Teknologi inforrnasi sebagai katalisator

17 | P a g e
1. Tuntutan Pelanggan yang terus berkembang

Sebelumya telah dijelaskan bahwa terjadi perkembangan dan perubahan dalam sifat,
intensitas, ketergantungan, dan tuntutan para pelanggan. Dengan makin terbukanya pasar
bebas yang mendunia (Globalisasi), maka terjadi begitu banyak dan begitu ketat persaingan
antar perusahaan dan antar produk. Bagi para konsumen, ini merupakan keuntungan besar
karena mereka mendapatkan:

• Harga yang lebih kompetitif.


• Pilihan sumber pembelian yang lebih banyak.
• Mutu barang yang lebih baik.
• Pilihan brand yang lebih banyak.
• Penyediaan yang lebih cepat.
• Layanan lain yang lebih baik.

Oleh karena itu, supply chain yang tadinya hanya atau lebih terfokus pada sisi hulu, yaitu
hubungan antara sub-suppliers - suppliers - mamifacturer, bergeser ke hilir, yaitu manufacturer
- wholesalers - retailers - consumers. Inilah manifesta dari consumer focus atau consumer
oriented dalam supply chain management.

Sikap para pelanggan juga tidak boleh diabaikan dan harus diperhatikan dengan sungguh -
sungguh. Para pelanggan (consumers) cenderung bersikap seperti berikut ini:

• Menghindari penjual yang pernah mengecewakannya


• Ingin mengalarni proses pembelian barang dan jasa yang menyenangkan.
• Menyenangi pendekatan penjualan yang kreatif, ramah, dan murah
(pengecualian bagi pembeli yang mengejar brand yang berprestise).
• Menuntut "more for less".
• Mencari toko yang serba ada (department store, shopping mall, supermarket,
dan sebagainya) karena rnakin terbatasnya waktu berbelanja.
• Menghendaki barang yang aman dari segala hal.
• Pokoknya menghendaki harga, mutu, dan pelayanan yang lebih baik lagi.
• Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengendali utama supply chain
adalah para consumers.

18 | P a g e
2. Kekuasaan retailer yang rnakin besar

Kalau diatas telah disimpulkan bahwa pengendali utarna supply chain adalah
consumers, rnaka yang berhubungan langsung dengan mereka adalah para retailer. Retailer
ini menganggap kehendak dan tuntutan consumers yang rnakin meningkat dengan
mengadakan perubahan - perubahan besar dalam penataan, dekorasi, teknik pelayanan, dan
personil tokonya. Meskipun keputusan terakhir untuk memilih barang adalah para consumers,
tetapi sampai batas tertentu retailer dapat mempengaruhi pengambilan keputusan ini dengan
cara- cara sebagai berikut:

• Membuat display yang menarik untuk produk tertentu.


• Memberikan diskon yang menarik untuk produk tertentu.
• Memberikan bonus tertentu seperti hadiah dan sebagainya.
• Menawarkan secara lebih aktif.

Pada umurnnya keuntungan yang diperoleh oleh retailer relatif tidak banyak. Makin
banyak retailer, makin sedikit persentase keuntungan yang diperoleh karena persaingannya juga
makin ketat, dan sebaliknya. Oleh karena itu, wholesaler umurnnya memiliki
keuntungan yang jauh lebih besar karena jumlah wholesaler umumnya lebih sedikit.
Disini, berlaku hukum supply and demand. Oleh karena itu, para retailer umumnya Iebih
mengandalkan pada jumlah penjualan (omzet). Retailer besar dan terkenal seperti
Kmart, Wal-Mart, Home Depot, dan sebagainya memperoleh keuntungan besar karena
omzetnya sangat besar. Pengurangan biaya di retailer umumnya sedikit sekali yang bisa
dilakukan, namun dipihak wholesaler lebih banyak penghematan yang dapat dilakukan.

3. Dilema dalam pencapaian optimalisasi

Langkah pertarna yang sangat penting dalam melakukan manajemen supply chain
yang baik adalah menggalang dan memperbaiki komunikasi harian di antara semua pelaku
supply, mulai dari hilir sampai ke hulu (retailer, distributor, manufacturer, dan supplier).
Komunikasi yang baik ini dapat mencegah kelambatan pengadaan barang maupun
penumpukan barang di gudang yang berlebihan. Sayangnya, dalam prakteknya, sering kali
dijumpai semacam keengganan untuk melakukan komunikasi ini, karena beberapa pihak
masih ada yang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang bersifut rahasia atau sebagai

19 | P a g e
suatu layanan ekstra. Karena dianggap memberikan layanan ekstra, ada yang meminta
bayaran, baik secara resmi maupun tidak resmi.

Kendala ini tidak hanya dijumpai dalam hubungan atau komunikasi antar
perusahaan, tetapi juga dalam suatu perusahaan, misahnya antara bagian logistik
(penyedia barang) dan bagian teknik atau pabrik (pengguna barang). oleh karena itu, dalam
hal ini semua pihak perlu diyakinkan terlebih dahulu tentang perlunya membangun
informasi yang terbuka, cepat, dan akurat mengenai hal - hal yang menyangkut
penyediaan barang, agar semua pihak dapat memperoleh keuntungan-keuntungan yang
optimal.

4. Kendala dalam membangun kepercayaan

Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan manajemen supply chain
adalah membangun kepercayaan di antara semua pelaku supply barang dan jasa yang
bersangkutan. Namun, dalam prakteknya terdapat banyak kendala, bahkan banyak yang
tidak percaya bahwa hal tersebut sungguh - sungguh dapat dicapai. Beberapa hal yang
melatar belakangi kendala tersebut adalah:

• Masih banyaknya anggapan bahwa supplier atau pihak lain adalah "lawan"
atau bahkan "musuh" dalam berbisnis dan bukan "mitra".
• Masih banyaknya anggapan bahwa antara supplier atau pihak lain dan
perusahaan sendiri pada hakikatnya mempunyai tujuan yang berlainan,
bahkan saling bertentangan, sedangkan sebetulnya tujuan akhir mereka sama,
yaitu sarna – sama perlu survive dan growth.
• Dalam negosiasi, masih banyak yang mengharapkan hasil yang "win-lose"
dan kurang mengenal konsep "win-win negotiation".
• Banyak yang masih melihat pada hubungan ']angka pendek" dan kurang melihat
hubungan "jangka panjang" yang saling menguntungkan.

Oleh karena itu, konsep - konsep baru seperti "win-win negotiation", "supplier
partnering", dan sebagainya perlu dikembangkan di antara para peserta kegiatan supply dan
di dalam perusahaan sendiri untuk menciptakan kepercayaan yang sungguh diperlukan
dalam mengoptimalkan manajemen supply chain ini.

20 | P a g e
5. Partnering sebagai suatu solusi

Optimalisasi manajemen supply chain seperti telah disebutkan diatas memerlukan


aliran informasi yang lancar, transaparan, dan akurat, serta memerlukan kepercayaan antar
peserta pengadaan barang dan jasa. Hal ini hanya mungkin dilakukan melalui proses yang
panjang dan antar pihak yang makin saling mengenal. Dengan demikian, satu - satunya
cara adalah di antara mereka yang terkait terdapat semacam partnering. Optimalisasi
tidak mungkin dicapai apabila dilakukan oleh supplier yang terus - menerus berbeda dan
berganti, karena hal - hal yang diinginkan tersebut tidak akan mungkin terwujud secara
optimal. Oleh karena itu, dikatakan bahwa partnering adalah salah satu solusi yang
terbaik dalam melakukan optimalisasi manajemen supply chain ini. Perlu disampaikan juga
bahwa ada beberapa prinsip partnering yang perlu dipegang teguh dan dikembangkan
terus- menerus, yaitu:

• Meyakini memiliki tujuan yang sarna (common goal}.


• Saling menguntungkan (mutual benefit}.
• Saling percaya (mutual trust}.
• Bersikap terbuka (transparent}.
• Menjalin hubungan jangka panjang (long term relastionship}.
• Terus- menerus melakukan perbaikan dalam biaya dan mutu barang dan jasa.

6. Teknologi informasi sebagai katalisator

Kalau partnership dapat disebut sebagai "bumbu" yang penting untuk supply chain,
maka teknologi informasi merupakan katalisator untuk supply chain, yaitu mempercepat
proses dan mempermudah manajemen supply chain yang efektif dan efisien. Keberhasilan
manajemen supply chain tidak mungkin dapat dicapai tanpa menggunakan jasa teknologi
informasi yang dalam kasus ini harus bercirikan antara lain:

• Hardware dan software-nya mampu digunakan antar organisasi atau perusahaan.


• Clear information.
• Real time POS (point of sales) information.
• Customer and network friendly.
• High level effectiveness and efficiency.

21 | P a g e
Oleh karena itu, pengembangan teknologi informasi harus diusahakan sama
pentingnya dengan mengusahakan pengadaan inventory dan mempercepat delivery time
pembelian barang.

CONTOH KASUS CARREFOUR INDONESIA

Permasalahan

Salah satu permasalahan yang dihadapi Carrefour sebagai salah satu peritel terbesar di Indonesia
adalah masalah ketersediaan stok barang. Carrefour perlu adanya upaya untuk menjaga stok
barang selalu tersedia ketika pembeli mencari dan membeli barang tersebut.

Pembahasan Permasalahan

Untuk mengatasi masalah persediaan stok barang, Carrefour menerapkan strategi Supply
Chain Management (Manajemen Rantai Suplai/Pasokan). Supply chain dapat didefinisikan
sebagai sekumpulan aktifitas (dalam bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses
transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk
jadi pada konsumen akhir. Untuk memudahkan pelaksanaan Supply Chain Management,
Carrefour menerapkan penggunaan IT di dalam pelaksanaannya (e-bussiness).

Penerapan IT dalam manajemen rantai pasokan di Carrefour Indonesia tergolong baru.


Manajemen rantai pasokan sendiri secara mendasar menghubungkan antar proses bisnis
sedemikian sehingga antara pemasok, pelanggan, dan rekanan bisnis terhubung dalam suatu
jaringan. Dalam hal ini Carrefour Indonesia menggunakan perangkat lunak infolog. Sebelum
menggunakan perangkat ini Carrefour dan pemasoknya sering mengalami kesulitan. Carrefour
mengalami kendala dalam hal menjaga ketersedian stok untuk para pelanggannya sehingga
sering mengalami lost of sales. Kondisi ini juga tentunya dialami pemasoknya karena
bagaimanapun keseluruhannya merupakan satu mata rantai. Selain mengalami hal yang serupa,
pemasok juga harus mengalami kesulitan dalam hal pendistribusian barang karena harus
memasok sendiri ke seluruh gerai yang dimiliki Carrefour.

Rantai pasokan yang dibangun Carrefour ini berdasarkan perhitungan tingkat optimasi dari
pabrik atau pemasok sampai ke rak (shelf) gerai. Hal ini membutuhkan analisis dari setiap jenis
produk dan supply chain pemasok. Metode yang dipakai Carrefour untuk SCM ini dengan

22 | P a g e
menerapkan proses just-in-time (JIT) di pusat distribusi (Distribution Center/DC), yang disebut
Cross Dock. Tujuannya untuk mengefisienkan proses sehingga tidak diperlukan adanya stok di
pusat distribusi. Jadi ketika pemasok mengirim barang hari ini ke DC Carrefour di Pondok Ungu
dan Lebak Bulus, maka keesokan harinya barang itu sudah terkirim ke gerai-gerai. Singkatnya,
metode Cross Dock memungkinkan prosesnya lebih transparan dalam distribusi produk karena
tidak ada produk yang terdegradasi (tertinggal) di gudang.

Gambar 1. Skema sistem Cross Dock Carrefour Indonesia

Keunikan cara tersebut – dibanding bila pemasok mengirimkan langsung – bahwa produk-
produk tadi sudah dikonsolidasi ketika dikirim ke gerai. Misalnya, bila biasanya sebuah gerai
menerima 30 truk yang berbeda, kini cukup menerima 5 truk saja. Pasalnya, para pemasok bisa
mengirimkan ke DC Carrefour. Selanjutnya, barang dari berbagai pemasok itu akan dipilah-pilah
sesuai dengan permintaan gerai. Sebagai contoh, kini sebuah truk yang datang ke gerai Carrefour
Ratu Plaza, hanya perlu membawa produk-produk yang dibutuhkan khusus oleh gerai itu.

Untuk melakukan pemesanan barang dengan seluruh pemasok, Carrefour menggunakan sistem
Electronic Data Interchange (EDI). Jika order sudah diterima, pemasok bisa menerimanya
melalui Web. Ada pula pemasok yang sudah mengintegrasikannya dengan sistem ERP mereka.
Selanjutnya, mereka menyampaikan (submit) order itu ke pabriknya, lalu barang pun dikirim ke
DC Carrefour.

Mengingat kunci sukses atau tulang punggung proses order tersentralisasi adalah akurasi data
stok di gerai dan pusat distribusi Carrefour, pihak Carrefour menerapkan proses cycle count
(alias penghitungan stok menggunakan sampling setiap hari). Dengan begitu, akurasi data di
pusat distribusi diklaim hampir selalu 100%, walaupun mengelola puluhan ribu jenis produk.

23 | P a g e
Rantai pasokan yang tersentralisasi itu memberi beberapa keuntungan, baik bagi Carrefour
maupun pemasok :

o Bagi Carrefour, keuntungan utamanya perbaikan ketersediaan produk di gerai. Hal itu
sebenarnya juga merupakan keuntungan bagi pemasok, karena menghilangkan lost of sales yang
diakibatkan produk tidak tersedia.

o Bagi Pemasok, keuntungan utamanya adalah proses yang lebih sederhana, karena hanya
memproses satu order. Pemasok juga hanya perlu mengirim produk ke satu titik, sehingga lebih
menghemat biaya dibanding mengirim produk ke seluruh gerai. Pemasok pun akan merasakan
penghematan biaya pengiriman, ketersediaan produk yang lebih terjamin, dan terjaganya kinerja
pemasok di Carrefour dalam hal service level.

Kesimpulan

Carrefour telah ada di Indonesia sejak Tahun 1998 dengan konsep hypermarket. Saat ini telah
memiliki lebih dari 60 gerai di Indonesia. Kepemilikan sahamnya dimiliki mayoritas oleh sebuah
perusahaan Indonesia yaitu Trans Corp. Carrefour berbisnis dengan tiga pilar utama yaitu harga
yang bersaing, pilihan yang lengkap, dan pelayanan yang memuaskan.

Carrefour mulai menerapkan e-business secara serius pada bulan Juli 2007. Diawali dengan
investasi perangkat lunak infolog untuk memperbaiki supply chain management Carrefour
Indonesia. Penerapannya berdampak pada perubahan sistem distribusi tersentralisasi dengan
dibangunnnya distribution center (DC) Lebak Bulus dan Pondok Ungu.

Rantai pasokan yang tersentralisasi itu memberi beberapa keuntungan, baik bagi Carrefour
maupun pemasok. Bagi Carrefour, keuntungan utamanya perbaikan ketersediaan produk di gerai.
Hal itu sebenarnya juga merupakan keuntungan bagi pemasok, karena menghilangkan lost of
sales yang diakibatkan produk tidak tersedia. Keuntungan lain bagi pemasok adalah proses yang
lebih sederhana, karena hanya memproses satu order. Pemasok juga hanya perlu mengirim
produk ke satu titik, sehingga lebih menghemat biaya dibanding mengirim produk ke seluruh
gerai. Pemasok pun akan merasakan penghematan biaya pengiriman, ketersediaan produk yang
lebih terjamin, dan terjaganya kinerja pemasok di Carrefour dalam hal service level.

24 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Putra, Yananto Mihadi. (2018). Modul Kuliah Sistem Informasi Manajemen: Pengantar Sistem
Informasi Manajemen. FEB - Universitas Mercu Buana: Jakarta.)

http://heraa14.blogspot.com/2014/05/pengaruh-scm-bagi-perusahaan.html

https://www.scribd.com/doc/89602959/Studi-Kasus-Carrefour-Indonesia

25 | P a g e