Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah unit pelaksana teknik Dinas

Kesehatan Kabupaten/ Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan

Pembangunan kesehatan suatu atau sebagian wilayah kecamatan. Dan Puskesmas sebagai

unit organisasi fungsional dibidang kesehatan dasar yang berfungsi sebagai pusat

pembangunan kesehatan, membina peran serta masyarakat dan pelayanan kesehatan dasar

secara menyeluruh dan terpadu.Untuk mewujudkan pelaksanaan fungsi dan program

kegiatan puskesmas, maka telah dilengkapi dengan sistem menejemen seperti , Mini

lokakarya, SP2TP, Monitoring bulanan,laporan bulanan, laporan triwulan, laporan tahunan

dan hal yang menunjang pelaksaanannya.

Profil UPT Puskesmas Ngrandu adalah gambaran situasi kesehatan di UPT

Puskesmas Ngrandu yang diterbitkan setiap tahun sekali, Dalam Profil ini memuat

berbagai data tentang kesehatan, yang meliputi data derajat kesehatan, upaya kesehatan

dan sumber daya kesehatan. Profil kesehatan juga menyajikan data pendukung lain yang

berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, data sosial ekonomi, data

lingkungan dan data lainnya. Data dianalisis dengan analisis sederhana dan ditampilkan

dalam bentuk tabel dan grafik.

Penerbitan profil UPT Puskesmas Ngrandu tahun 2016 ini adalah agar diperoleh

gambaran keadaan kesehatan di UPT Puskesmas Ngrandu khususnya tahun 2016 dalam

bentuk narasi, tabel, dan gambar.

Profil UPT Puskesmas Ngrandu tahun 2016 diharapkan dapat memberikan data yang

akurat, untuk mengambil keputusan berdasarkan fakta. Selain itu profil ini dapat digunakan

sebagai penyedia data dan informasi dalam rangka evaluasi perencanaan, pencapaian

Program kegiatan di UPT Puskesmas Ngrandu dengan mengacu kepada Visi Indonesia

Sehat 2015 .

B. Tujuan Penyusunan Profil


1. Tujuan Umum

Tujuan dari penyusunan Profil UPT Puskesmas Ngrandu ini adalah untuk

memperoleh dan menghadirkan informasi kesehatan serta faktor-faktor kesehatan lainnya


yang dapat dijadikan sebagai bahan penilaian tercapai atau tidaknya target kegiatan, yang

kelak dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan langkah-langkah

perencanaan selanjutnya
2. Tujuan Khusus

Diperolehnya data/informasi kesehatan di tingkat UPT Puskesmas Ngrandu, yang

menyangkut data-data sebagai berikut :

1. data/informasi derajat kesehatan masyarakat

2. data/informasi perilaku masyarakat di bidang kesehatan

3. data/informasi kesehatan lingkungan

4. data/informasi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan


BAB II
GAMBARAN UMUM

A. Geografi

Luas Wilayah kerja Puskesmas Ngrandu adalah 10,47 km2 dengan batas-batas

adminsistrasi sebagai berikut :

Sebelah Timur Berbatasan dengan wilayah puskesmas siman

Sebelah barat berbatasan dengan wilayah puskesmas kauman

Sebelah selatan berbatasan dengan wilayah puskesmas jambon

Sebelah utara berbatasan dengan wilayah puskesmas kauman

Wilayah kerja UPT Puskesmas Ngrandu terdiri dari 5 desa Yaitu :

 Desa Ngrandu

 Desa Bringin

 Desa Pengkol

 Desa Nglarangan

 Desa Sukosari

Keadaan Topografi di Wilayah puskesmas ngrandu adalah pedesaan / dataran.

Dengan mata pencaharian penduduknya sebagian besar adalah bertani / bercocok tanam.

B. Demografi

Wilayah kerja Puskesmas Ngrandu berpenduduk 10.747 jiwa dimana 5.313 jiwa

laki-laki dan 5.434 jiwa perempuan, serta jumlah KK sebanyak 3621.


Sumber : Data
Primer

C. Keadaan Sosial Budaya dan Ekonomi

Penduduk wilayah kerja Puskesmas Ngrandu berlatar belakang suku Jawa ( 100%)

dan mayoritas beragama islam.. Perilaku masyarakat Sangat dipengaruhi oleh adat istiadat

setempat, seperti persatuan yang diwujudkan dalam sikap kegotong royongan yang kokoh.

Ini terlihat pada acara-acara seperti selamatan, pernikahan dan masih banyak lagi acara-

acara lain yang sangat mencerminkan budaya atau adat istiadat setempat. Mata pencaharian

penduduk pada umumnya adalah petani kebun. Sarana transportasi yang digunakan

mayoritas penduduknya adalah sepeda bermotor.


D. Keadaan Fasilitas Pendidikan

Tingkat pendidikan/Sumber Daya Manusia sangat berpengaruh terhadap kesehatan,

baik kesehatan secara personal maupun kesehatan lingkungan. Untuk menunjang sumber

daya manusia maka diperlukan sarana pendidikan sebagai sarana pengembangan sumber

daya manusia secara formal.

Berikut adalah tabel distribusi sarana pendidikan yang ada di wilayah kerja Puskesmas

Perawatan Binuang.
Tabel 2.1
DISTRIBUSI SARANA PENDIDIKAN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BINUANG
TAHUN 2010

NO DESA/KEL. TK SD/ MI MTs SMK/MA PT

1. Ngrandu 2 2 0 0 0

2. Bringin 2 2 1 2 0

3. Pengkol 1 2 0 0 0

4. Nglarangan 1 0 0 0 0

5. Sukosari 1 2 0 0 0

JUMLAH 7 6 1 2 0

Sebagai faktor predisposisi terhadap perubahan perilaku khususnya bagi pengetahuan


tentang kesehatan, maka diharapkan masyarakat yang berpendidikan tinggi memiliki
kesadaran yang tinggi pula dalam perilaku hidup sehat. Kondisi wilayah kerja puskesmas
Binuang pada umumnya tingkat pendidikan masih rendah sehingga menjadi tantangan bagi
petugas kesehatan dalam penyampaian informasi-informasi ataupun inovasi-inovasi
kesehatan.

E. Keadaan Fasilitas Kesehatan

Untuk menunjang peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, maka

sangat dibutuhkan fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan di wilayah kerja Puskesmas

Ngrandu terdiri atas :


 Sarana Kesehatan

 Puskesmas

Puskesmas Ngrandu berlokasi di Jl.Raya Ngrandu No 18 , Kecamatan Kauman Kab

Ponorogo Jawa Timur. Terbagi atas ruang rawat jalan dan ruang rawat inap dan ruang

persalinan, dengan luas bangunan 600 m²

 Ruang rawat jalan, terdiri dari :

Ruang Poli Gigi

Ruang Poli Umum

Ruang Gizi dan Promkes

Ruang KIA/ KB dan Imunisasi

Ruang TB dan P2

Ruang Loket

Ruang Apotik

 Ruang Rawat Inap, Terdiri dari :

 Kapasitas tempat tidur sebanyak 8 buah

 Kamar mandi/ WC 5 buah

 Ruang Jaga

 Dapur

 Ruang Tata Usaha

 Ruang Kepala Puskesmas


 2 Unit Ponkesdes masing-masing :

 Ponkesdes Bringin berlokasi di Dusun Sambeng Desa Bringin.

 Ponkesdes Pengkol berlokasi di dusun tengah desa pengkol

 2 Unit Polindes

 Polindes Nglarangan berlokasi di dusun nglarangan desa Nglarangan.

 Polindes Sukosari berlokasi di dusun Kropak desa Sukosari

 16 Posyandu Balita masing-masing :

5 Posyandu Desa Ngrandu

4 Posyandu Desa Bringin


3 Posyandu Desa Pengkol

3 Posyandu Desa Sukosari

1 Posyandu desa Nglarangan

 5 Posyandu Lansia

 2 Posbindu

 2 Unit kendaraan roda empat sebagai Puskesmas Keliling.

 2 Unit kendaraan roda dua ( motor dinas )

 Tenaga Kesehatan

 Tenaga Medis :

 1 dokter umum dengan jabatan fungsional sebagai dokter poli umum

 Tenaga Bidan :

 2 Tenaga Bidan Puskesmas dengan status Pegawai Negeri Sipil.

 4 Tenaga bidan desa.

3 dengan status Pegawai Negeri Sipil dan 1 dengan status bidan PTT.

 Tenaga Paramedis

 3 Tenaga Perawat di Puskesmas , yang semuanya berstatus sebagai Pegawai

Negeri Sipil.

 1 Tenaga Pelaksana Gizi dengan status Pegawai Negeri Sipil

 1 Tenaga Kesling dengan status Pegawai Negeri Sipil

1 Perawat Gigi dengan status Pegawai Negeri Sipil


 1 Petugas laboratorium dengan status Pegawai Negeri Sipil

 1 Petugas Farmasi dengan status Pegawai Negeri Sipil

 Tenaga Administrasi

 5 Tenaga Adminstrasi ,semuax berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil.

 1 tenaga sopir dengan status Pegawai Negeri Sipil

 2 Tenaga Cleaning Servis

3. Kader Kesehatan
 80 Kader Kesehatan Posyandu Balita status aktif

 10 Kader posyandu lansia status aktif

 3 Kader TB status aktif


F. VISI, MISI DAN STRATEGI UPT PUSKESMAS NGRANDU
Untuk meningkatkan kinerja Puskesmas Ngrandu, telah ditetaptapkan Visi dan Misi
untuk mendukung Rencana Strategis Depkes.

1. Visi

Terwujudnya Masyarakat yang sehat dan Mandiri


2. Misi

a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan

b. Meningkatkan sumber daya masyarakat di bidang kesehatan

c. Meningkatkan Mutu Pelayanan di Bidang Kesehatan


3. Tujuan

Meningkatkan Kesadaran, Kemauan dan Kemampuan hidup sehat bagi masyarakat.


4. Strategi

a. Meningkatkan pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di Puskesmas induk

2. Meningkatkan pelayanan promotif dan preventif.

3. Memperkuat jaringan komunikasi dan koordinasi dengan stake holder

4. Memperkuat jaringan peran serta masyarakat di bidang kesehatan


1.5. Tata Nilai Puskesmas

Melayani dengan : cepat, Aman, Nyaman, Tertib, Indah dan Kreatif.


II. BENTUK KEGIATAN

 Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif)

di Puskesmas induk
o Mengoptimalkan bentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan fasilitas dan kemampuan yang
tersedia

1. Pelayanan registrasi

2. Pelayanan Umum

3. Pelayanan KIA KB

4. Pelayanan gigi

5. Pelayanan imunisasi

6. Pelayanan laboratorium

7. Pelayanan farmasi

 Mengoptimalkan pelayanan UGD 24 Jam

 Mengoptimalkan peran SDM sesuai dengan tupoksi pelayanan yang ada

 Melengkapi fasilitas penunjang pelayanan medis secara bertahap


 Mengoptimalkan pelayanan : secara tepat waktu, standar mutu, efisien dan dengan

keramah tamahan

 Mengoptimalkan pelayanan rujukan terutama rujukan horisontal (antar lini

pelayanan di puskesmas) dalam rangka mendorong optimaliasi pelayanan dengan tetap

mengoptimalkan pelayanan rujukan vertikal.


 Mengoptimalkan koordinasi pada semua lini pelayanan puskesmas.

 Meningkatkan pelayanan promotif dan preventif.


 Mengoptimalkan petugas jaga layanan klinik sehat meliputi :

1. Konsultasi gizi

2. Konsultasi sanitasi

3. Konsultasi PHBS

4. Konsultasi medis

5. Konsultasi gigi
6. Konsultasi KIA dan KB dll.

 Meningkatkan pelayanan kesehatan (kuratif dan rehabilitatif) di Puskesmas

Pembantu dan Puskesmas Keliling.

o Mengoptimalkan peranan SDM sesuai dengan tupoksi pelayanan yang ada

o Mengoptimalkan pelayanan di Pustu secara tepat waktu, peningkatan mutu, efisien dan

dengan keramah tamahan

o Mengoptimalkan pelayanan Puskesmas keliling terutama pada dusun yang kesulitan

mengakses pelayanan kesehatan ke Puskesmas induk/Pustu

 Memperkuat jaringan komunikasi dan koordinasi dengan stake holder

o Mengoptimalkan koordinasi lintas sektoral tingkat kecamatan , secara aktif maupun pasif

o Membangun komunikasi dengan aparat dan lembaga tingkat desa dalam rangka

memperoleh dukungan untuk implementasi program kesehatan di tingkat desa.

o Membangun dan meningkatkan tingkat kepercayaan pelayanan puskesmas pada masyarakat

melalui tokoh masyarakat.

 Memperkuat jaringan peran serta masyarakat di bidang kesehatan

o Membangun komunikasi dan koordinasi dengan kader sebagai jaringan program dan

layanan kesehatan pada masyarakat.

o Mengoptimalkan pembinaan petugas puskesmas ke posyandu


o Mengoptimalkan peran petugas penanggunjawab wilayah desa

o Mengoptimalkan kerja sama lintas program dalam memberdayakan masyarakat

o Mengoptimalkan jaringan komunikasi dan koordinasi serta pelayanan kesehatan pada

institusi pendidikan.

BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
A. Mortalitas
Gambaran perkembangan derajat kesehatan Masyarakat dapat dilihat
dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu.
Disamping itu kejadian kematian dapat digunakan sebagai indikator
dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program
pembangunan kesehatan lain
1. AKB
kematian bayi di wilayah puskesmas ngrandu adalah 2,68% atau 3
bayi dari 112 persalinan yang terjadi tahun 2016
2. AKABA
Tahun 2016 tidak terjadi kematian pada anak usia balita
3. AKI
Tahun 2014 ada 1 kematian ibu di wilayah puskesmas ngrandu yang
disebabkan oleh emboli air ketuban. Tahun 2015 dan 2016 tidak
terjadi kematian ibu di wilayah puskesmas ngrandu, hal ini
menandakan bahwa derajat kesehatan ibu hamil dan bersalin di
wilayah puskesmas ngrandu mengalami peningkatan
B. MORBIDITAS
Disamping angka kematian, derajat kesehatan juga bisa dilihat dari
angka kesakitan dalam satu wilayah tertentu. Angka kesakitan yang
dituangkan dalam profil kesehatan ini didapat dari pengumpulan data
dari ponkesdes / polindes juga dari hasil kunjungan rawat jalan di
puskesmas ngrandu.
1. Penyakit Menular
Penyakit menular yang disajikan diantaranya adalah TB Paru,
HIV/ AIDS, Kusta dan Diare
a. TB Paru
Penyakit TB Paru masih menjadi masalah kesehatan di
masyarakat. Berbagai upaya pemerintah dilakukan untuk
pengendalian penyakit ini yaitu dengan menemukan,
mengobati dan menyembuhkan penderita TB paru dengan
stategi DOTS ( Directly Observed Treatmen Shortcourse )
tahun 2016 penderita TB paru di Wilyah Puskesmas Ngrandu
sebanyak 18 kasus.
b. HIV / AIDS
Penemuan Kasus HIV positif di wilayah puskesmas ngrandu
dilakukan antara lain lewat skrening pada ibu hamil ( ANC
terpadu ) maupun terhadap semua pasien dengan TBC
Sedangkan untuk mengatasi stigma yang ada di masyarakat
dilakukan penyuluhan.
c. Kusta
d. Jumlah kasus Kusta di wilayah Puskesmas Ngrandu Tahun
2016 Sebanyak................
2. Penyakit Menular yang Dapat dicegah dengan Imunisasi ( PD3I )
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas// ditekan
dengan pelaksanaan program imunisasi. Pada profil ini akan dibahas
penyakit tetanus neonatorum, campak, polio dan difteri
a. Tetanus Neonatorum
Dengan adanya program TT WUS dan Bias mulai tahun 2008
sampai sekarang di wilayah puskesmas Ngrandu tidak
Ditemukan Kasus Tetanus Neonatorum
b. Campak
Tidak terjadi kasus campak di wilayah puskesmas ngrandu
c. Difteri
Tidak terjadi kasus Difteri di wilayah puskesmas Ngrandu
d. Polio
Tidak terjadi Kasus Polio di wilayah puskesmas Ngrandu
3. Penyakit Potensi KLB
a. Demam Berdarah Dengue
Selama tahun 2016 terjadi..................
b. Diare

AB IV
UPAYA PROGRAM POKOK PUSKESMAS

Dalam upaya pelaksanaan program kesehatan Puskesmas, ada dua upaya

kesehatan Puskesmas yaitu :

A. Upaya Kesehatan wajib ( Basic six ) puskesmas meliputi :

Kesehatan Ibu, Anak dan KB

Peningkatan Gizi

Promasi Kesehatan

Pemberantasan Penyakit Menular

Kesehatan Lingkungan

Pengobatan

B. Upaya Kesehatan Pengembangan Puskesrmas

Upaya kesehatan pengembangan puskesmas dilaksanakan sesuai dengan masalah

kesehatan masyarakat yang ada dan kemampun puskesmas.Upaya labratorium (medis dan

kesehatan masyarakat) dan Perkesmas, pencatatan dan pelaporan merupakan kegiatan

penunjang dari tiap upaya wajib atau pengembangan. Untuk dapat melihat gambaran

keadaan Puskesmas Perawatan Binuang ,maka puskesmas memaparkan hasil cakupan

upaya program kesehatan Puskesmas Perawatan Binuang mulai bulan Januari sampai

dengan Desember 2010 sebagai berikut :

A. Hasil Cakupan KIA

Kegiatan KIA terdiri dari kegiatan pokok dan integratif. Kegiatan integratif adalah

kegiatan program lain (misalnya kegiatan imunisasi merupakan kegiatan pokok P 2M) yang
dilaksanakan pada program KIA karena sasaran penduduk program P 2M (ibu hamil dan

anak-anak) juga menjadi sasaran program KIA. Ruang lingkup kegiatan :

1. Pemeriksaan Kesehatan Bumil (ANC).

Pemeriksaan kehamilan diukur berdasarkan jumlah pemeriksaan kehamilan ibu di

tempat pelayanan kesehatan. Untuk pertama ( kontak pertama ) disingkat dengan K1

sedangkan yang lengkap K 4. Berdasarkan data tahun 2010 dari Program KIA diperoleh K1

dengan persentase cakupan ........ % dan K4 dengan persentase cakupan ........... %. Kondisi

ini memberikan gambaran pencapaian masih di bawah target yang harus dicapai yakni K1

100 % dan K4 80 %. Berikut adalah grafik pencapaian program KIA tahun 2010.
Sumber : Data program
KIA

2. Mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak balita, integrasi

dengan program gizi.

3. Memberikan nasihat tentang makanan, mencegah timbulnya masalah gizi

karena kekurangan protein dan kalori dan memperkenalkan jenis makanan


tambahan (vitamin dan garam beryodium). Integrasi program PKM (konseling) dan

Gizi.

4. Memberikan pelayanan KB kepada pasangan usia subur. (Integrasi program

KB).

5. Merujuk ibu-ibu atau anak-anak yang memerlukan pengobatan. Integrasi

program pengobatan.

6. Memberikan pertolongan persalinan dan bimbingan selama masa

nifas. Integrasi dengan program perawatan kesehatan masyarakat.

Angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sepanjang tahun 2010 mulai Januari

s/d Desenber cenderung mengalami peningkatan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu masyarakat sedikit lebih mengerti akan

pentingnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.


Sumber : Data Program
KIA

B. Hasil Cakupan KB

Tujuan jangka panjang program KB adalah menurunkan angka kelahiran dan

meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norma

Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).


Ruang lingkup kegiatan :

1. Mengadakan penyuluhan KB, baik di Puskesmas maupun di masyarakat (pada saat

kunjungan rumah, Posyandu, pertemuan dengan kelompok PKK, dasa wisma dan

sebagainya). Termasuk dalam kegiatan penyuluhan ini adalah konseling untuk PUS.

2. Penyediaan dan pemasangan alat-alat kontrasepsi, memberikan pelayanan pengobatan efek

samping KB.

Dari hasil pendataan yang dilakukan, menunjukkan bahwa Jumlah Pus tahun 2010

sebanyak 2.899, Peserta KB paling banyak menggunakan Pil 982 akseptor (34 %), menyusul

akseptor yang menggunakan suntikan 454 akseptor (16 %), Sistem Kalender 291 akseptor

(10%), Implant 24 akseptor (1 %), Kondom 25 akseptor (1 %), MOP/MOW 26 akseptor (1 %)

sedangkan jenis alat kontrasepsi yang paling sedikit dipilih adalah IUD 5 akseptor (0,17

%). Jumlah PUS yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 1.092 orang(37%).

Gambar 4.1
PERSENTASE PESERTA KB
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERAWATAN BINUANG 3. Meng
TAHUN 2010
adakan

pembinaan keluarga berencana untuk para dukun bersalin. Dukun diharapkan dapat

bekerja sama dengan petugas kesehatan dan bersedia menjadi motivator KB untuk ibu-ibu

yang mencari pertolongan pelayanan dukun. (Kegiatan KB di puskesmas diintegrasikan ke

dalam program KIA).

C. Hasil Cakupan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

Tujuan P2M adalah menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin, dan

mengurangi berbagai faktor resiko lingkungan masyarakat yang memudahkan terjadinya

penyebaran penyakit menular di suatu wilayah, memberikan proteksi khusus kepada

kelompok masyarakat tertentu agar terhindar dari penularan penyakit.

Secara umum penyakit menular yang masih endemis di Indonesia adalah TBC,

kolera, thypus abdominalis, demam berdarah, malaria, frambusia, filariasis, poliomyelitis,

batuk rejan dan cacingan.

Lebih khusus untuk Puskesmas Binuang, penyakit yang masih endemis adalah ;

1. Penyakit Menular bersumber pada binatang / Zonosis Disease

a). Rabies
Penyakit ini menular melalui gigitan hewan penular rabies ( anjing, kucing, kera dan hewan

lainnya)

Penyakit Rabies ini adalah penyakit yang memiliki IR yang rendah tetapi memiliki

CFR ( Case Fatality Rate ) yang tinggi sehingga penyakit ini sangat berbahaya bila tidak

segera diatasi.

Dari Surveylans Puskesmas Binuang pada tahun 2010 ditemukan adanya penderita

sebanyak 4 gigitan anjing , namun tidak ada orang meninggal dengan diagnosa rabies.

b). Malaria

Malaria adalah penyakit menular dan menyerang semua golongan umur yaitu bayi,

anak-anak dan orang dewasa. yang ditularkan melalui gigitan nyamuk

Setiap tahun terdapat 300-500 juta kasus malaria di dunia dan penyebab 1 juta

kematian anak. Di daerah yang terjangkit malaria dapat menjadi penyebab utama kematian

dan penghambat pertumbuhan anak.

Di Indonesia , angka penderita Malaria cukup tinggi, mencapai 70 juta atau 35 %

dari penduduk Indonesia. Dimasa yang akan datang , penderita malaria akan meningkat

akibat mobilitas penduduk yang relative cepat, perubahan lingkungan antara lain karena

pembagunan wilayah yang kurang memperhatikan aspek kualitas lingkungan.

Berdasarkan data dari program P2M tahun 2010 , kasus malaria klinis di wilayah

kerja Puskesmas Perawatan Binuang adalah 47 Kasus.


Tabel 4.1
Distribusi Penderita Malaria menurut desa
di Wilayah kerja Puskesmas Perawatan Binuang
tahun 2010

No Kelurahan / Desa Jml Malaria klinis


1 Amassangan 12
2 Batetangnga 13
3 Mirring 8
4 Paku 4
5 Amola 4
6 Rea 3
7 Kaleok 3
JUMLAH 47

Sumber : Data P2 Malaria

c). Demam Berdarah Dengue ( Dengue fever )

Penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD ) merupakan penyakit memiliki kasus yang

rendah namun memiliki CFR yang tinggi. Lokasi yang paling sering mewabah adalah

daerah yang berpenduduk padat dengan sanitasi yang buruk.

Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang menular yang sifatnya akut

dan disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan melalui perantaraan vector nyamuk

Aedes Aegypti.

Angka CFR yang tinggi dari penyakit ini sehingga dengan 1 penderita saja dinyatakan

KLB. Sepanjang tahun 2010, tidak ada ditemukan kasus demam berdarah (DBD) di wilayah

kerja Puskesmas Perawatan Binuang.

d). Filariasis

Filariasis atau penyakit kaki gajah yang penularannya melalui nyamuk sebagai vektor.

Endemik pada sebagian besar daerah panas lembab di dunia. Tingginya prevalensi

tergantung kepada besarnya infeksi dari reservoir dan vector yang berlebihan.

Untuk periode tahun 2010, Puskesmas Perawatan Binuang dinyatakan bebas dari kasus

penyakit filariasis.

2. Penyakit Menular langsung ( Direct Communicable Disease )

a). Diare

Penyakit diare adalah penyakit yang disebabkan antara lain vibrio, “E.Choli”, klostridia

dan intoksikasi / keracunan makanan. Merupakan penyakit yang mudah menular dan

sering menimbulkan wabah penyakit terutama pada awal musim penghujan. Lingkungan

yang terkendali, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sangat berpengaruh terhadap kesehatan

seseorang.

Untuk tahun 2010, kasus diare pada BALITA yang ditangani sebanyak 1072 kasus, namun

semuanya dapat diatasi dengan baik tanpa menimbulkan korban jiwa.


Tabel 4.4
Distribusi Kasus Diare Pada Balita Yang Tatangani
di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Binuang
Tahun 2010
No Kelurahan / Desa Jml ditangani
1 Amassangan 401
2 Batetangnga 207
3 Mirring 167
4 Paku 191
5 Amola 45
6 Rea 116
7 Kaleok 35
JUMLAH 1072

Sumber : P2 Diare

b). Kusta ( Lepra )

Penyakit Kusta adalah penyakit menular cronis dan disebabkan oleh kuman

kusta mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya.

Jumlah kasus penyakit kusta di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Binuang selama

tahun 2010 sebanyak 3 kasus.

c). Tifoid

Penyakit Typhoid merupakan penyakit yang menyerang system pencernaan

manusia. Penyakit ini dapat ditularkan melalui air dengan lingkungan yang tercemar. Oleh

karena itu sering mewabah pada daerah yang sulit mendapatkan air bersih untuk

dikomsumsi masyarakat.

Berdasarkan data, bahwa jumlah penderita Tifoid di wilayah kerja Puskesmas

Perawatan Binuang Kecamatan Binuang tahun 2010 sebanyak 87 penderita.

Tabel 4.5
Distribusi Penderita Tifoid Yang di Tangani Menurut Desa
di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Binuang
Tahun 2010

No Kelurahan / Desa Jml Penderita


1 Amassangan 15
2 Batetangnga 18
3 Mirring 14
4 Paku 12
5 Amola 13
6 Rea 10
7 Kaleok 7
JUMLAH 87

Sumber : data P2 Tipoid

d). ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut )


Infeksi Saluran Pernafasan Atas atau yang lebih dikenal dengan ISPA lebih banyak

mengenai kelompok usia muda yang rawan, khususnya Bayi dan Anak Balita. Dalam

program ISPA Penyakit ini digolongkan menjadi tiga, Bukan Pneumonia, Pneumonia dan

Pneumonia berat.

Di dunia, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) jadi penyebab kematian dari 2

Juta Anak Balita pada tahun 2000. Di Indonesia , ISPA merupakan penyebab 36,4%

kematian bayi tahun 1992 dan 32,1 % kematian bayi pada tahun 1995, serta penyebab 18,2 %

kematian pada balita tahun 1992 dan 38,8% tahun 1995.

Berdasarkan data dari program ISPA Puskesmas Perawatan Binuang tahun

2010, Cakupan penderita ISPA bukan pneumoni 6.03%,pneumoni dan pneumoni

berat masing-masing 0,07% dan 0.25%.


Sumber : Data P2
Ispa

Penyakit ini ditimbulkan terutama perumahan yang tidak layak, polusi udara

sehingga memungkinkan penularan penyakit ini. Dan faktor resiko lainnya seperti; Gizi

kurang, Status Imunisasi yang tidak lengkap, Menbedung Anak, Pemberian ASI

tidak/kurang Memadai, Riwayat penyakit cronis, dan Orang tua perokok.

e). Tubercolusis (TB)

Penyakit Tuberkulosis disebabkan oleh kuman tuberculosis dengan gejala khas. Pada

umumnya diderita oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah dan menyerang kelompok

usia produktif 15 tahun keatas.


Penyakit memiliki daya tular yang tinggi dan untuk mengetahuinya, dideteksi melalui

pemeriksaan dahak di laboratorium terhadap kuman BTA positif.

Indikator yang digunakan dalam Progam TB diantaranya ; Proporsi Suspek yang

diperiksa dahaknya, Angka konversi (Conversion Rate), Angka Kesembuhan (Cure Rate)

dan Angka Kesalahan Baca (Error Rate).

Fenomena yang terjadi pada penyakit TBC ini dikenal dengan istilah IceBerg

Phenomena , dimana jumlah penderita yang tidak terlaporkan (muncul) lebih banyak dari

pada yang terlaporkan, sehingga memerlukan perhatian khusus dalam upaya penemuan

kasus.

Di Puskesmas Perawatan Binuang, pada tahun 2010 Angka temuan suspek sebanyak 248

orang dan 34 orang diantaranya BTA Positif.


Tabel 4.6
Hasil Pencapaian Program P2 TB Paru
Periode Januari-Desember 2010
di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Binuang

NO BULAN SUSPEK BTA (+) KATEGORI I,II,III


1. JANUARI 15 2 I
2. FEBRUARI 24 2 I
3. MARET 21 2 I
4. APRIL 30 3 I
5. MEY 20 2 I
6. JUNI 27 3 I
7. JULI 25 3 I
8. AGUSTUS 20 4 I
9. SEPTEMBER 24 3 I
10. OKTOBER 15 4 I
11. NOPEMBER 20 2 I
12. DESEMBER 27 3 I
JUMLAH 248 34
Sumber : Data P2 TB Paru

3. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi

Ada tujuh penyakit infeksi pada anak-anak yang dapat menyebabkan kematian atau

cacad, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh penyakit

tersebut

adalah Poliomyelitis (kelumpuhan), Measles ( Campak ), Difteri (indrak), Pertusis (batuk rejan ;

batuk seratus hari), Tetanus, Tuberculosis (TBC), Hepatitis –B.


a). Poliomyelitis

Penyakit ini adalah merupakan suatu infeksi menular yang terutama mengenai

dan merusak sel-sel motorik dikurno anterior medulla spinalis dan inti motorik batang otak

sehingga menimbulkan kelumpuhandan atrofi otot.

Pada tanggal 21 April 2005 Indonesia mengalami importasi virus dari Afrika Barat.

Menteri Kesehatan melakukan upaya penanggulangan KLBPoliomyelitis di

Indonesia dengan :

1. Memutuskan mata rantai penularan polio (1) dengan

a. Outbreak Response Immunizattion (ORI) :

b. Mopping Up

2. Memutuskan mata Rantai Penularan (2) yaitu dengan PIN ( Pekan Imunisasi Nasional)

2). Campak

Campak Ialah infeksi akut menular yang disebabkan oleh virus. Terutama mengenai anak

umur 6 bulan – 5 tahun.

3). Diftheri

Ialah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kumanCorynebacterium

Diftheriae. Sangat mudah menular terutama mengenai anak-anak umur 2 bulan – 5 tahun.

4). Pertusis

Adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh Bordetella Pertusis. Nama lain penyakit

ini adalah tussis quinta, whooping cough, batuk rejan, batuk seratus hari.

5). Tetanus

Adalah penyakit toksemia akut yang disebabkan oleh Clostridium Tetaniyang

mengeluarkan eksotoksin. Seperti halnya penyakit Rabies, Penyakit tetanus juga memiliki

kasus yang jarang namun mempunyai CFR yang tinggi.

6). TBC

Tuberkulosis anak masih merupakan problema yang kompleks terutama di Negara

yang sedang berkembang. Morbiditas tuberculosis anak merupakan parameter daripada

berhasil atau tidaknya pemberantasan tuberculosis di suatu daerah atau suatu Negara.
7). Hepatitis-B
Grafik 4.4
Distribusi Cakupan Imunisasi
Di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Binuang
Tahun 2010

Ialah penyakit infeksi akut dengan gejala utama berhubungan erat dengan adanya nekrosis
pada hati. Berdasarkan laporan P2 (SST) Puskesmas Binuang akhir Desember 2010 belum
pernah dilaporkan adanya ketujuh macam penyakit tersebut di atas.
Sumber : Data Program
Imunisasi

GRAFIK 4.5
CAKUPAN IMUNISASI TTI, TT2 dan TT3
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERAWATAN BINUANG
TAHUN 2010
Sumber: Data Program
Imunisasi
D. Hasil Cakupan Peningkatan Gizi

Masalah gizi masih cukup rawan di beberapa wilayah Indonesia, tidak terkecuali

wilayah kerja Puskesmas Perawatan Binuang. Penyebab langsung adalah komsumsi zat gizi

kurang dan infeksi penyakit. Sedangkan penyebab tidak langsung yaitu ketersediaan

pangan ditingkat rumah tangga, asuhan Ibu dan anak . Disisi lain yang menjadi penyebab

utama yakni, kemiskinan , pendidikan, ketersediaan pangaN. Puskesmas harus mengatasi

masalah gizi, khususnya pada kelompok ibu hamil dan balita.

Tujuan Upaya Peningkatan Gizi di Puskesmas yaitu meningkatkan status gizi masyarakat

melalui usaha pemantauan status gizi kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai

risiko tinggi (ibu hamil dan balita), pemberian makanan tambahan (PMT) baik yang bersifat

penyuluhan maupun pemulihan.

Ruang lingkup kegiatan program gizi:

1. Menimbang berat badan Balita untuk memantau pertumbuhan anak. Dilakukan secara rutin

setiap bulan, baik di Puskesmas maupun di Pos timbang/Posyandu.

2. Pemeriksaan HB (dan BB) pada ibu hamil secara rutin. Kunjungan ibu hamil ke Puskesmas

untuk ANC dilakukan minimal 4 kali sepanjang kehamilannya.


3. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita yang kurang gizi. PMT

penyuluhan (pemberian makanan tambahan) dilakukan melalui demonstrasi pemilihan

bahan makanan yang bergizi dan cara memasaknya. PMT pemulihan dilakukan melalui

pemberian makanan yang sifatnya suplementasi (Vitamin A, Sulfas Ferrosus, Susu dan

sebagainya).

4. Memberikan penyuluhan gizi kepada masyarakat. Kegiatan gizi diintegrasikan ke dalam

program KIA baik di gedung Puskesmas maupun di Posyandu.

5. Pembagian vitamin A untuk Balita 2 x setahun, suplemen tablet besi (sulfas ferrosus) untuk

ibu hamil yang datang ke puskesmas untuk ANC dan pemberian obat cacing untuk anak

yang kurang gizi karena gangguan parasit cacing.

Target program perbaikan gizi telah ditetapkan meliputi, Cakupan distribusi Vitamin A,

cakupan Fe, Kapsul Yodium.

1) Cakupan distribusi Vitamin A

a) Ibu Nifas

Target Cakupan Distribusi Vitamin A tahun 2010 pada Bufas adalah 100 %, sedangkan

cakupan distribusi Vitamin A pada ibu nifas pada tahun 2010 adalah 96%. Untuk lebih

jelasnya dapat di lihat pada grafik di bawah ini :


Sumber : Data Program
Gizi
b) Balita

Cakupan pemberian Vitamin A kepada anak Balita di Puskesmas Perawatan

Binuang pada tahun 2010 adalah 87%. Artinya cakupan pemberian Vit. A belum mencapai

target 100 %. Berikut adalah grafik cakupan pemberian Vitamin A pada Balita di wilayah

kerja Puskesmas Perawatan Binuang.


Sumber: Data Program
Gizi
2) Cakupan Tablet Fe

Target pemberian tablet Fe1 dan Fe3 pada Bumil 80 %, sedangkan pencapaian

Puskesmas Perawatan Binuang Tahun 2010 adalah 116,5% ( Fe1) dan 85,5% (Fe3). Artinya

pencapaian pemberian tablet Fe pada bumil di atas target. Berikut adalah grafi cakupan

tablet Fe pada Bumil tahun 2010.


Sumber: Data program
gizi

3) Cakupan Kapsul Yodium dan Konsumsi Garam Beryodium

a) Cakupan Kapsul Yodium

Pemberian kapsul Yodium ditujukan pada beberapa sasaran yaitu Ibu hamil, Ibu menyusui,

Wanita Usia Subur, dan anak Usia Sekolah. Pembagian wilayah kerja menurut kategori

endemiknya sebagai berikut :

 Endemik berat : Tidak ada

 Endemik Sedang : Desa Batetangnga dan Kaleok


 Endemik ringan : Kelurahan Amassangan dan desa Batetangnga

Pencapaian pemberian Kapsul yodium pad WUS di wilayah kerja Puskesmas Perawatan

Binuang Kecamatan Binuang tahun 2010 tergambar dalam grafik berikut ini :
Sumber: Data program
gizi

Berdasarkan grafik di atas, dapat disimpulkan bahwa pencapaian taget pemberian

kapsul yodium pada bumil di wilayah kerja puskesmas perawatan binuang pada tahun 2010

masih sangat rendah cakupannya.


b) Komsumsi Garam Beryodium

Berdasarkan hasil pendataan dan survey penggunaan garam beryodium tahun 2010

di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Binuang kec. Binuang menununjukkan keberhasilan

yang berarti. Hal ini terlihat dari tingkat komsumsi garam beryodium cukup di kecamatan

Binuang tahun 2010, tingkat komsumsinya telah mencapai 85,7 %.

Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada Grafik dibawah ini :


Sumber: Data program
gizi
Akibat dari kekurangan Yodium akan menurunkan tingkat kecerdasan anak,

menciptakan generasi yang lemah. Untuk mengatasi kondisi ini dilakukan upaya Program

penyuluhan PUGS, GAKI, Penggunaan Garam Beryodium, Pemberian Kapsul Yodium.

Indikator status kesehatan juga diukur berdasarkan gizi penduduk

menurut ; Status Gizi, Anemia, KEK, BBLR, GAKI.

1) Status Gizi

Berdasarkan data petugas gizi, akhir Desember 2010 status gizi balita paling banyak

adalah Baik dengan persentase 96,3 %. Untuk lebih jelas dapat di lihat pada grafik di bawah

ini :
Sumber: data program
gizi
2) Anemia

Salah satu penyebab kematian pada ibu melahirkan adalah anemia yang disebabkan

kekurangan zat besi (Fe). Dari data KIA diperoleh informasi bahwa tahun 2010 angka

kematian ibu menurun.

Upaya penanggulangan tersebut dilakukan dengan pemberian tablet Fe selama hamil

sebanyak 90 tablet. Hasil cakupan pemberian tablet Fe pada Bumil, dapat di lihat pada

grafik 4.8.

3) Bumil KEK dan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)

Bayi yang dilahirkan dibawah 2500 gram disebut dengan BBLR. Berbagai faktor

penyebab terjadinya BBLR, namun faktor utama adalah gizi ibu selama hamil kurang

(Bumil KEK). Pada masa kehamilan ibu perlu mendapat perhatian khusus oleh karena

dampak yang ditimbulkan bukan saja pada berat yang tidak cukup, tetapi dengan bayi

BBLR memiliki kemungkinan kecil untuk tumbuh dengan baik, dan akan lebih mudah

terserang penyakit.

4) GAKI

Dalam rangka penanganan kasus Gizi Kurang khususnya Ibu Hamil Puskesmas telah

melakukan beberapa hal antara lain :


a. Memberikan penyuluhan baik secara perorangan maupun kelompok pada puskesmas dan

posyandu mengenai hal-hal yang akan terjadi apabila kondisi gizi buruk tidak ditangani

atau diatasi dengan tepat.

b. Mengadakan pemantauan melalui kunjungan rumah.

c. Mengadakan pengawasan akan kemungkinan-kemungkinan terjadinya kasus-kasus

penyakit sehubungan dengan kondisi kurang gizi.

1. Bayi dan Balita

a. Ditingkat Puskesmas

o Pada tahap awal kami melakukan registrasi akan adanya kasus gizi buruk yang terjadi

disetiap desa pada Wilayah Puskesmas melalui pendataan dan pemantauan status gizi pada

anak

o Melakuakan penyuluhan baik secara perorangan maupun kelompok yang dilaksanakan

diposyandu, puskesmas maupun kelompok masyarakat, dengan materi khusus mengenai

pemenuhan gizi pada anak melalui pemberian makanan seimbang serta mengadakan

demonstrasi makanan seimbang.

o Mengadakan pendampingan pada kasus gizi buruk anak balita oleh TPG, Puskesmas yang

bertujuan memberikan bimbingan kepadaa keluarganya cara hidup dengan pola makan

yang seimbang.

o Pengawasan akan kemungkinan-kemungkinan adanya kasus penyakit sehubungan dengan

kondisi gizi agar mendeteksi secara cepat.

o Pemberian bantuan paket makanan pendamping kepada Anak Gizi Buruk yang ada

diwilayah kerja Puskesmas Perawatan Binuang berupa

o Biskuit

o Susu Formula

Paket ini diberikan selama 3 (tiga) bulan.

E. Hasil Kegiatan Kesehatan Lingkungan

Environment atau Lingkungan adalah situasi atau kondisi diluar host danagent yang

memudahkan interaksi antara keduanya. Faktor ini juga dapat menjadi risiko timbulnya

gangguan penyakit pada host karena lingkungan memberikan peluang agent untuk

berkembang (breeding).
Tujuan Upaya Kesehatan Lingkungan adalah menanggulangi dan menghilangkan

unsur-unsur fisik pada lingkungan sehingga faktor lingkungan yang kurang sehat tidak

menjadi faktor resiko timbulnya penyakit menular di masyarakat.

Ruang lingkup kegiatan ;

a. Inspeksi Sarana Air Bersih

b. Pemeriksaan dan Pengawasan system pembuangan kotoran manusia.

c. Inspeksi Sanitasi Rumah

d. Pemeriksaan dan Pengawasan Sarana pengolahan sampah yang baik

e. Pemeriksaan dan Pengawasan Sarana Pembuangan Air Limbah

f. Pemeriksaan dan Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum.

g. Melakukan pemberantasan jentik dan pengendalian vektor.

a. Sarana Air Bersih

Air adalah benda berbentk cair dan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk minum,

mandi dan mencuci serta berbagai kebutuhan lainnyauntuk dapat bertahan hidup.

Air merupakan unsur yang sangat esensial bagi pemeliharaan berbagai bentuk

kehidupan semua mahluk termasuk manusia. Hampir semua organisme hidup hanya dapat

bertahan hidup dalam perioda yang pendek tanpa air. Pemenuhan kebutuhan akan air

haruslah memenuhi dua syarat yaitu kuantitas dan kualitas.

Kuantitas air yang diperlukan untuk berbagai penggunaan oleh masyarakat adalah

berbeda-beda, tergantung pada tingkat sosial budaya, suhu atau iklim, dan ketersediaanya

yang ditentukan oleh berbagai faktor. Syarat kualitas meliputi persyaratan fisik, kimiawi

dan bakteriologik. Pemakaian air yang tidak memenuhim baku kualitas air tersebut dapat

menimbulkan berbagai gangguan antara lain kesadaran, estetika dan ekonomis.


Gambar 4.4
PERSENTASE AKSES SARANA AIR BERSIH BERDASARKAN JENISNYA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERAWATAN BINUANG
TAHUN 2010
Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan terhadap sarana air bersih di wilayah kerja

Puskesmas Perawatan Binuang, yang memenuhi syarat fisik adalah sebagai berikut : desa

Batetangnga 95,07 %, Kelurahan Amassangan 75,43 %, Desa Mirring 91,77 %, Desa Paku

69,07 %, Desa Amola 98,66 %, Desa Kaleok 78,08 % dan Desa Rea 72,22 %.

b. Jamban keluarga

Jamban penting dalam kehidupan kita, seperti pentingnya makan dan minum,

karena kita setiap hari makan dan minum, maka kitapun harus mengeluarkannya setiap

hari. Untuk mengeluarkannya harus mempunyai tempat khusus, tempat itulah yang

disebut jamban.
Membuang tinja di sembarang tempat dapat menularkan penyakit , seperti Diare,
Disentri dan Kolera. Penyakit tersebut dapat terjadi karena binatang/ serangga yang kontak
dengan tinja yang di buang ke sembarang tempat akan membawa kuman yang
diperolehnya dari kotoran tinja, kemudian serangga/ binatang tersebut hinggap pada
makanan kita, bila kita makan makanan tersebut, akan mendatangkan penyakit seperti yang
disebutkan di atas.
Berikut adalah grafik distribusi akses jamban keluarga di wilayah kerja
Puskesmas Perawatan Binuang tahun 2010.
GRAFIK 4.13
DISTRIBUSI AKSES JAMBAN KELUARGA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERAWATAN BINUANG
TAHUN 2010
Sumber : Data program
Sanitasi
c. Sarana Pembuangan Air Limbah ( SPAL )

Menurut Anwar (2001) yang dimaksud degan air limbah atau air kotor adalah air yang

tidak bersih dan mengandung berbagai zat yang bersifat membahayakan kehidupan

manusia atau hewan dan lasimnya muncul karena hasil perbuatan manusia dan

industrialisasi.

Berdasarkan pengertian di atas maka secara umum dapat dikatakan bahwa limbah

cair adalah air bekas pakai yang dihasilkan akibat aktivitas manusia baik yang berasal dari

rumah tangga, pertanian, perdagangan, dan industri maupun tempat-tempat umum lainnya

yang harus di buang yang dapat mebahayakan manusia atau kelestarian lingkungan.

Untuk mencegah penyakit serta pencemaran akibat air limbah, maka perlu dibuatkan

Saluran Pembuangan Air Limbah dari rumah-rumah/ sumber-sumber air limbah sebelum di

lakukan pengolahan lebih lanjut. Air limbah yang dibiarkan tergenang, akan menimbulkan

pencemaran tanah serta menjadi tempat berkembang biaknya bibit penyakit.


Berikut adalah grafik distribusi pemanfaatan SPAL menurut jenisnya di wilayah kerja Puskesmas

Perawatan Binuang tahun 2010.


Sumber: data program
sanitasi
d. Sarana Pengolahan Sampah
Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan:

1. Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis

2. Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.

Terdapat perbedaan tentang pengelolaan sampah, tergantung dari jenis sampah itu sendiri.

CARA-CARA PENGELOLAAN SAMPAH

1. Daur-ulang
2. Pengkomposan
3. Pengurugan sampah

MANFAAT PENGELOLAAN SAMPAH

1. Penghematan sumber daya alam


2. Penghematan energi
3. Penghematan lahan TPA
4. Lingkungan asri (bersih, sehat, nyaman)
BENCANA SAMPAH YANG TIDAK DIKELOLA DENGAN BAIK
1. Longsor tumpukan sampah
2. Sumber penyakit
3. Pencemaran lingkungan

Berikut adalah grafik distribusi sarana penanganan sampah di wilayah kerja Puskesmas

Perawatan Binuang tahun 2010


GRAFIK 5.15
DISTRIBUSI SARANA PENANGANAN SAMPAH YANG DIGUNAKAN
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERAWATAN BINUANG
TAHUN 2010
Sumber: data program
sanitasi

e. Pemeriksaan dan Pengawasan TTU

Tempat-tempat umum merupakan lingkungan dimana banyak dilakukan interaksi/

aktifitas oleh banyak orang, sehingga perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan untuk

menjaga agar tempat-tempat umum tersebut tetap terpelihara kebersihan lingkungannya.

Lingkungan yang tidak saniter akan memudahkan penularan penyakit yang

membahayakan keselamatan banyak orang.

Berikut adalah grafik cakupan tempat-tempat umum yang di bina kesehatan

lingkungannya di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Binuang tahun 2010.


Sumber: data program
sanitasi
F. Pengobatan

Program pengobatan di Puskesmas Perawatan Binuang merupakan bentuk pelayanan

kesehatan dasar yang bersifat kuratif. Masyarakat cenderung memanfaatkan pelayanan

Puskesmas hanya untuk mendapat pelayanan pengobatan.

Ruang lingkup kegiatan :

A. Menegakkan diagnosis, memberikan pengobatan untuk penderita yang berobat

jalan.

a) Rawat Jalan
TABEL 4.7
JUMLAH KUNJUNGAN PENDERITA BEROBAT
DI PUSKESMAS PERAWATAN BINUANG
TAHUN 2010

JUMLAH JENIS KUNJUNGAN


NO BULAN UMUM GAKIN ASKES TOTAL
1. JANUARI 1.200 200 150 1.550
2. FEBRUARI 850 250 86 1.166
3, MARET 813 270 105 1.188
4 APRIL 1.093 205 130 1.428
5 MEI 1.073 222 97 1.392
6 JUNI 1.063 226 85 1.374
7 JULI 719 211 98 1.028
8 AGUSTUS 1.100 248 90 1.438
9 SEPTEMBER 939 215 83 1.237
10 OKTOBER 1.150 250 100 1.500
11 NOVEMBER 1.050 250 86 1.365
12 DESEMBER 1.072 207 93 1.372
JUMLAH 10.972 2.754 1.203 14.884

Sumber: data kunjungan pengobatan

b) Rawat Inap
TABEL 4.8
JUMLAH PASIEN RAWAT INAP
DI PUSKESMAS PERAWATAN BINUANG
TAHUN 2010

UMUR
0-1 2-5 6-24 25-45 50 Thn
NO JENIS KASUS Thn Thn Thn Thn keatas TOTAL

1 Thypoid Abdominalis 0 0 34 19 18 71
2 Diare 5 19 15 14 8 61
3 Disentri 0 1 0 0 2 3
4 Gastritis 0 0 7 15 13 35
5 Asthma 0 0 4 1 6 11
6 Perdarahan 0 0 2 3 0 5
7 Partus 0 0 17 29 0 46
8 Hypertensi 0 0 1 2 8 11
9 Kecelakaan 0 1 15 10 1 27
10 K.P 0 0 0 2 0 2
11 Ispa 0 1 1 0 1 3
12 Hepatitis 0 0 0 1 0 1
13 ISK 0 0 2 1 6 9
JUMLAH 5 22 96 97 63 2830
Sumber: data pasien rawat inap

B. Mengirim (merujuk) penderita ke pusat-pusat rujukan medis sesuai dengan jenis

penyakit yang tidak mampu ditangani oleh Puskesmas.


C. Menyelenggarakan Puskesmas keliling untuk menjangkau wilayah kerja Puskesmas

yang belum mempunyai Puskesmas Pembantu atau wilayah pemukiman penduduk

yang masih sulit sarana transportasinya.

Grafik 4.8
10 besar penyakit di wilayah kerja Puskesmas Perawatan Binuang
Tahun 2010

Sumber: data registrasi


pasien
G. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

Tujuan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat adalah untuk meningkatkan kesadaran ,

melalui upaya promosi kesehatan sehingga masyarakat dengan sadar mau mengubah

perilakunya menjadi perilaku sehat.

Penyuluhan Kesehatan Masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari

tiap-tiap program puskesmas. Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan pada setiap

kesempatan oleh petugas , apakah di klinik, rumah dan kelompok-kelompok masyarakat.

Di tingkat Puskesmas Perawatan Binuang, semua kegiatan penyuluhan kesehatan

dikoordinir oleh petugas Promkes.. Koordinator membantu para petugas puskesmas dalam

mengembangkan teknik dan materi penyuluhan.

H. Usaha Kesehatan Sekolah

Tujuan UKS adalah meningkatkan derajat kesehatan anak dan lingkungan sekolah.

Ruang lingkup kegiatan :

1. Membina sarana keteladanan di sekolah, berupa sarana keteladanan gizi

berupa kantin dan sarana keteladanan kebersihan lingkungan.

2. Membina kebersihan perseorangan peserta didik.

3. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan secara aktif dalam

pelayanan kesehatan melalui kegiatan dokter kecil.

4. Penjaringan kesehatan peserta didik kelas I

5. Pemeriksaan kesehatan periodic sekali setahun untuk kelas II sampai VI dan guru

berupa pemeriksaan kesehatan sederhana.

6. Immunisasi peserta didik kelas I dan VI

7. Pengawasan terhadap keadaan air

8. Pengobatan ringan pertolongan pertama

9. Rujukan medik

10. Penanganan kasus anemia gizi

11. Pembinaan teknis dan pengawasan di sekolah

12. Pencatatan dan pelaporan

Pelayanan dan pemeriksaan kesehatan siswa SD, SMP dan SMA di wilayah kerja

Puskesmas Perawatan Binuang pada tahun 2010 dapat di lihat pada grafik berikut:
Grafik 4.10
Cakupan Pelayanan Kesehatan Siswa SD/MI dan SMP/SMU
Di Wilayah Kerja Puskesmas Perawatan Binuang
Tahun2010

Sumber: Data Program UKS

I. Perawatan Kesehatan Masyarakat

Tujuan :

 Memberikan pelayanan perawatan secara menyeluruh (comprehensive health

care) kepada pasien dan keluarganya di rumah pasien.

 Memberikan konseling kepada anggota keluarga untuk mengenali kebutuhan

kesehatannya sendiri dan cara-cara penanggulangannya disesuaikan dengan batas-batas

kemampuan mereka.

 Menunjang program kesehatan lainnya dalam usaha pencegahan penyakit,

peningkatan dan pemulihan kesehatan individu dan keluarganya.

Ruang lingkup kegiatan ;


Melaksanakan perawatan kesehatan perorangan, keluarga dan kelompok-kelompok

masyarakat lainnya. Semua kegiatannya dilakukan di luar gedung puskesmas yaitu di

tingkat rumah tangga. Misalnya pertolongan persalinan, perawatan penyakit kronis,

peningkatan sanitasi lingkungan yang dilakukan di rumah-rumah penduduk sasaran.

J. Kesehatan Gigi

Tujuan Usaha Kesehatan Gigi adalah untuk menghilangkan dan mengurangi gangguan

kesehatan gigi dan mempertinggi kesadaran kelompok-kelompok masyarakat tentang

pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi.

Ruang lingkup kegiatan ;

a. Melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan perawatan gigi secara rutin

untuk anak-anak sekolah dan ibu hamil.

b. Penyuluhan kesehatan gigi di sekolah

c. Pelayanan medik gigi dasar, meliputi ;

1). Pengobatan gigi pada penderita yang berobat maupun yang dirujuk

2). Merujuk kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi ke sasaran yang lebih mampu

3). Memberikan penyuluhan secara individu dan kelompok

4). Memelihara kebersihan (hygiene klinik)

5). Memelihara atau merawat peralatan atau obat-obatan

d. Pencatatan dan Pelaporan

AB V
MASALAH DAN HAMBATAN
B. MASALAH

1. Pencatatan : Sejalan dengan perkembangan teknologi masa kini, sistem pencatatan semua

unit kegiatan masing program harusnya suda dilakukan dengan sistem koputerisasi,

namum dalam pengoperasiannya dibutuhkan latihan untuk bisa melakukan pencatatan

dengan baik, hal inilah yang menjadi kendala di Puksemas Perawatan Binuang bahwa tidak

semua penanggung jawab program mampu mengoperasikan komputer dengan baik,

sehingga pencatan masi dilakukan secara manual.

2. Pelaporan : pelaksanaan pelaporan masih sangat bersifat rutinitas ( tergantung permintaan

data sesuai format ) sehingga petugas tidak dapat mengoreksi hasil kerjanya, sama halnya

dengan pencatatan seperti diatas perlu juga adanya pelaporan dengan komputerisasi untuk

menjaga dan memberikan kualitas dan faliditas dari perlaporan.

3. Hasil : Hasil kegiatan setiap program, baik di dalam gedung maupun di luar gedung

seharusnya di catat sebagai bahan pembuatan laporan yang kemudian akan dilakukan

sebagai bahan evaluasi, namun tidak jarang kegiatan yang dilakukan tidak di

dokumentasikan dalam bentuk catatan, sehingga pada saat dilakukan pemeriksaan, petugas

tidak bisa memberikan penjelasan yang disertai bukti pencatatan. pencatatan dan pelaporan

program pada tiap-tiap unit sangat bervariasi bahkan banyak terjadi penurunan sehigga

hal-hal ini perlu dievaluasi secara seksama factor penyebabnya.

4. Pembinaan dan Pelatihan staf : Perlu adanya peningkatan pembinaan staf puskesmas baik

dalam bentuk bimbingan maupun dalam bentuk pelatihan pada semua program. Walaupun

sudah ada pelatihan yang dilaksanakan oleh dinas kesehatan kabupaten dan dinas

kesehatan Propinsi, tapi tidak semua program sehingga hanya beberapa staf yang dapat

mengikuti pelaksanaannya. Atau pengadaan instruktur computer untuk tiap puskesmas

bila akan diprogramkan system pencatatan dan pelaporan secara komputerisasi

dipuskesmas.

5 Peralatan Medis : peralatan dan perlengkapan medis untuk ukuran puskesmas suda boleh

di bilang lengkap, namun yang menjadi masalah ialah kedisiplinan dan kesadaran dari

petugas kesehatan dalam menggunakan dan memelihara perlatan tersebut, sehingga banyak

peralatan yang tidak bisa lagi digungsikan.


6. Sarana sanitasi Puskesmas : sarana sanitasi puskesmas seperti Jamban, Saluran Pemuangan

Air Limbah sudah tidak berfungsi dengan baik karena mengalami kerusakan, terutama

sarana jamban pada ruang perawatan pasien.

7. Kendaraan Roda Empat : Mobil Ambulance sebagai sarana Puskesmas Keliling untuk

memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang susah menjangkau sarana

kesehatan, sudah tidak bisa beroperasi dengan maksimal karena sering mengalami

kerusakan, hal ini disebabkan kondisi kendaraan yang suda tebilang tua (pengadaan tahun

anggaran 1992).

A. HAMBATAN

1. Lintas Sektor : kerja sama lintas sector belum terpadu dengan sempurnah antara instansi

terkait seperti Pertanian, Depag, Diknas, serta PKK sehingga kegiatan belum berjalan

sebagai mana yang diharapkan. Selain institusi terkait yang dimaksud di atas, kerjasama

dengan pemerintah setempat juga perlu lebi di tingkatkan untuk mendukung setiap

program kesehatan di lapangan.

2. Tokoh Masyarakat : organisasi yang ada dimasyarakat seperti LKMD adalah tempat tokoh

masyarakat, tapi karena belum berfungsinya peranan LKMD dengan baik dimana masih

banyak tokoh masyarakat yang kurang berperan dalam kegiatan kesehatan. Masih

kurangnya partisipasi masyarakat untuk menjadi kader serta banyaknya kader yang drop

out sehingga ada beberapa posyandu yang kurang maju dalam perkembangan kegiatan

kesehatan.

3. Data Penduduk : Pencatatan jumlah penduduk menurut golongan umur baik ditingkat

kecamatan maupun ditingkat desa tidak sesuai dengan data yang ada di Puskesmas, hal ini

disebabkan oleh karena kerjasama dalam melakukan validasi data sasaran setiap tahun

antara data Puskesmas dengan pemerintah setempat belum berjalan dengan baik.

4. Wilayah kerja : wilayah kerja Puskesmas Perawatan Binaung terdiri dari daerah

pegunungan dan daerah pantai, ada sebagian daerah yang tidak di jangkau oleh kendaraan

bermotor, sehingga untuk menjangkau daerah tersebut petugas harus bejalan kaki melewati

hutan selama beberapa jam.


B

AB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

4. Pada tahun 2010 Puskesmas Perawatan Binuang telah melaksanakan 6 program pokok

(Basic Six Program) ditambah 2 Muatan local kegiatan puskesmas.

5. Pengukuran pencapaian hasil kegiatan untuk beberapa program seperti KIA, GIZI,

Imunisasi, telah dapat dievaluasi karena adanya target yang telah ditetapkan oleh Dinas

kesehatan tetapi untuk program-program lainnya yang belum punya target agak sulit

dievaluasi sehingga pelaksanaan evaluasi hanya dengan menggunakan perbandingan hasil

kegiatan tahun lalu untuk mengukur keberhasilan program tersebut.

6. Dalam pelaksanaan evaluasi laporan tahunan, digunakan taget dengan mengacu pada

Standar Pelayanan Minimal (SPM) agar lebih mudah dalam meningkatkan hasil kerja

program tersebut, walaupun beberapa program dapat diukur melalui stratifikasi.

7. Untuk program-program baru seperti Program Lansia dan Kesehatan Kerja, perlu adannya

penataan pelaksanaan program khususnya bagi petugas pelakasana program yang


bersangkutan perlu mendapat perhatian khusus agar mereka dapat terampil dalam

mengelolah program tersebut.

B. SARAN-SARAN

1. Perlu adanya motivasi atau pembinaan bagi setiap petugas program dalam bentuk

pelatihan baik dipuskesmas maupun di Dinas Kesehatan pada masing-masing penanggung

jawab program.

2. Untuk pelaksanaan pencatatan dan pelaporan sekiranya dilakukan pelatihan komputer

untuk penanggungjawab tiap-tiap program dalam rangka pencapaian faliditas data.

3. peningkatan supervisi dan bimbinngan dari setiap seksi dari dinas kesehatan dalam upaya

peningkatan kualitas dan cakupan program.

4. Perlu adanya Umpan balik serta tanggapan dari tingkat dinas atas laporan rutin yang

dibuat puskesmas baik laporan bulanan dan triwulan juga teguran tertulis bila terjadi

kesalahan dan kekeliruan dalam pencatatan serta pelaporan, sehingga petugas dapat

memperbaiki dalam rangka peningkatan program selanjutnya.

5. Penambahan petugas tehnisi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap program yang ada

sehingga tidak terjadi banyaknya tugas rangkap.

6. Dalam pelaksanaan program-program baru perlu dibentuk Tim perumus agar dapat

memantau dan mengevaluasi kemajuan pelaksanaan program tersebut.

7. Diharapakan kepada pemerintah setempat ( Camat dan kepala desa ) serta institusi lintas

sektor untuk senantisa mendukung dan menjalin kerjasama yang baik dalam melaksanakan

program kesehatan di masyarakat.


B

AB VII
PENUTU P

Evaluasi bidang kesehatan dengan menilai derajat kesehatan dari beberapa

aspek diantaranya angka kematian, angka kesakitan dan status gizi. Aspek ini dipengaruhi

oleh upaya kesehatan yang dilakukan melalui upaya peningkatan, pemerataan pelayanan

kesehatan

Sedangkan upaya kesehatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sumber

daya manusia, sumber daya sarana dan prasarana dan sumber dana.

Di era Desentralisasi, data dan Informasi kesehatan sangat penting artinya baik

dalam menunjang perencanaan kesehatan maupun sebagai bahan pertimbangan dalam

pengambilan keputusan. Untuk menjawab kepentingan diatas, maka profil ini disusun

setiap tahunnya yang memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan di wilayah kerja

Puskesmas Binuang dalam bentuk persentase pencapaian Upaya Program Puskesmas. Profil

ini disajikan dalam bentuk teks, table, gambar ( grafik ) untuk mempermudah menganalisis

masalah kesehatan.

Progam kesehatan diera Desentralisasi terjadi beberapa perubahan terutama dalam

hal perencanaan kesehatan yang semakin dibutuhkan. Sementara dalam hal pendanaan

kondisinya masih jauh dari anggaran yang layak untuk bidang kesehatan.

Demikian hasil sajian kami, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.