Anda di halaman 1dari 35

KATA PENGANTAR

Puji Tuhan saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa, yang telah melimpahkan berkat-Nya kepada saya, sehingga saya
dapat menyelesaikan makalah Tambang Terbuka ini dengan topik Tahapan
Penambangan.
Adapun makalah Tambang Terbuka ini telah saya usahakan semaksimal
mungkin dan tentunya dengan bantuan teman - teman, sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya tidak lupa menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam
pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena
itu dengan lapang dada dan tangan terbuka saya membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada saya sehingga saya dapat
memperbaiki makalah ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini dapat diambil


hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.

Pontianak, 08 September 2018

Andri Triono
D1101151030

TAMBANG TERBUKA I-1


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1


DAFTAR ISI ......................................................................................................... 2
BAB I ................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN.................................................................................................. 3
1.1. LATAR BELAKANG ............................................................................... 3
BAB II .................................................................................................................. 4
TAMBANG TERBUKA ......................................................................................... 4
2.1. TAMBANG TERBUKA DENGAN EKSTRAKSI MEKANIS .................... 4
2.2. METODA EKSTRAKSI DENGAN AIR .................................................. 13
2.2.2. Placer Mining: Dredging ....................................................................... 16
2.3. MACAM-MACAM TAMBANG TERBUKA BATUBARA ........................ 21
BAB III ............................................................................................................... 30
PENUTUP ........................................................................................................ 30
3.1. KESIMPULAN....................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 32

TAMBANG TERBUKA I-2


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Penambangan dengan metoda tambang terbuka adalah suatu kegiatan
penggalian bahan galian seperti batubara, ore (bijih), batu dan sebagainya di mana
para pekerja berhubungan langsung dengan udara luar.dan iklim. Tambang terbuka
(open pit mining) juga disebut dengan open cut mining; adalah metoda
penambangan yang dipakai untuk menggali mineral deposit yang ada pada suatu
batuan yang berada atau dekat dengan permukaan.
Metoda ini cocok dipakai untuk ore bodies yang berbentuk horizontal yang
memungkinkan produksi tinggi dengan ongkos rendah. Walaupun “stripping” dan
“quarrying” termasuk ke dalam open pit mining, namun strip mining biasanya
dipakai untuk penambangan batubara dan quarry mining yang berhubungan dengan
produksi non-metallic minerals seperti dimension stone, rock aggregates, dll.
Apabila diyakini keberadaan endapan mineral dekat dengan permukaan,
hingga dapat dipastikan pemilihan metoda penambangannya adalah tambang
terbuka (open pit); hanya perlu dipertanyakan tentang “economic cut off limitnya”,
hingga dimungkinkan adanya perubahan metoda penambangan ke arah
underground (tambang bawah tanah) bila penyebaran endapan mineral dapat
menjamin.
Kebanyakan tambang batubara di Indonesia menggunakan metoda tambang
terbuka, oleh karena sebagian besar cadangan batubara terdapat pada dataran
rendah atau pada daerah pegunungan dengan topografi yang landai dengan
kemiringan lapisan batubara yang kecil (<30°). Untuk cebakan yang berada di
bawah permukaan tetapi relatif masih dangkal, maka metoda penambangan terbuka
umumnya akan lebih ekonomis dibandingkan dengan tambang dalam (bawah
permukaan).

TAMBANG TERBUKA I-3


BAB II
TAMBANG TERBUKA

2.1. TAMBANG TERBUKA DENGAN EKSTRAKSI MEKANIS

Metode penambangan terbuka dengan ekstraksi mekanis dapat dibedakan


menjadi 4 yaitu ;
1) Open pit mining

2) Quarry (Kuari)

3) Open cast mining

4) Auger mining

Keempat metoda tersebut adalah merupakan metode penambangan yang


berperan dalam menghasilkan 90% produksi bahan tambang yang dihasilkan
dari sistem tambang terbuka. Lebih spesifik lagi, jika dilihat dari total
produksinya maka tambang open pit (Gambar 2.1 dan Gambar 2.2) dan open
cast (Gambar 2.3) merupakan metode penambangan yang paling banyak
diterapkan dalam tambang terbuka.

2.1.1. Open pit

Open pit mining dicirikan dengan bentuk tambang berupa corong (kerucut
terbalik) di permukaan bumi. Pada open pit mining, tanah penutup dikupas dan
diangkut ke suatu daerah pembuangan yang tidak ada endapan ekonomis di
bawahnya. Kedua aktivitas, yaitu pengupasan dan penggalian, dilakukan pada
suatu pemuka kerja (front) yang berbentuk satu atau beberapa jenjang.
Pembuatan pemuka kerja lebih dari satu, baik pada elevasi yang sama maupun
beda elevasi, dimaksudkan untuk memastikan terjaminnya kemenerusan
produksi (tidak ada delay kerja).

TAMBANG TERBUKA I-4


Setelah didahului dengan aktivitas pengupasan lapisan penutup, pengupasan
dan penggalian bijih atau endapan target dilakukan secara seksama dengan
urut-urutan yang mengikuti kaidah perencanaan tambang, sehingga biaya
penggalian bijih/endapan target dan lapisan penutup dapat dibayar dari
penjualan bijih/ endapan target yang tergali, sedemikian rupa sehingga
operasional jangka panjang, yaitu pembukaan/ penggalian sampai pit limit
dapat tercapai.
Jenjang tunggal dirancang sesuai dengan peralatan mekanis yang digunakan.
Tinggi jenjang dibatasi oleh jangkauan excavator/shovel, sedangkan lebar
jenjang harus cukup luas bagi peralatan gali-muat dan truk untuk bermanuver.
Kemiringan lereng ditentukan berdasarkan perhitungan kemantapan lereng
dengan input berupa data sifat fisik dan data kuat geser material pembentuk
lereng tersebut.
Beberapa variasi dari open pit mining dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.1 Open Pit di Toquepala, Peru (diameter 1 Km, kedalaman 400m).

TAMBANG TERBUKA I-5


Gambar 2.2. Tambang tembaga Open Pit di Kanada (dekat laut).

Gambar 2.3. Tambang Open pit dan Open cast.

TAMBANG TERBUKA I-6


Gambar 2.4. Variasi dari berbagai Open Pit Mining (Hartman, 1987).

TAMBANG TERBUKA I-7


2.1.2. Quarry (Kuari)

Kuari adalah jenis tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang


endapan-endapan bahan galian industri atau mineral industri (industrial
minerals), misalnya penambangan batugamping, marmer, granit, andesit dan
sebagainya.
Kuari dapat menghasilkan material atau hasil tambang dalam bentuk pecah-
pecah (loose/broken stone) ataupun potongan batu dengan bentuk yang teratur
(dimensional stone). Namun demikian, ada beberapa ahli yang menyatakan
bahwa istilah Quarry hanya diterapkan pada tambang bahan galian mineral non
metal yang menghasilkan dimensional stones, sedangkan tambang bahan
galian mineral non metal yang menghasilkan bentuk pecah-pecah
(loose/broken material) tetap disebut open pit.
Kuari tipe broken stone (lihat Gambar 2.5) digunakan untuk menambang batuan
yang berbentuk agregat ataupun chemical limestone menggunakan metode
peledakan untuk menciptakan fragmentasi batuan. Tingkat produksi bahan
galian lebih tinggi daripada kuari tipe dimension stone.

Gambar 2.5. Tambang kuari agregat.

TAMBANG TERBUKA I-8


Kuari tipe dimensional stone biasanya digunakan untuk menambang
batugamping, batupasir, granit, marble dan dolomit. Hasil dari penambangan ini
berupa batuan berbongkah besar (lihat Gambar 2.6 dan 4.7). Teknik yang
digunakan pada metode ini antara lain: jet burning, wire saw, chain saw with
tungsteen cutting teeth, dan slot drilling (lihat Gambar 2.8).

Gambar 2.6. Kuari tipe dimensional stone.

Gambar 2.7. Contoh tambang kuari dimensional stone.

TAMBANG TERBUKA I-9


Gambar 2.8. Teknik drilling dan blasting pada kuari tipe dimensional stone.

Berdasarkan letak endapan yang digali atau arah penambangannya


secara garis besar kuari dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
a. Side hill type, diterapkan untuk menambang batuan atau endapan mineral
industri yang letaknya di lereng bukit atau endapannya membentuk bukit.
Berdasarkan jalan masuk ke pemuka penambangan dibedakan menjadi dua,
yaitu :
1. Jalan masuk berbentuk spiral

Kuari tipe Side Hill dengan jalan masuk spiral diterapkan pada cadangan
endapan bahan galian yang berbentuk bulat atau lonjong yang

TAMBANG TERBUKA I-10


membentuk bukit yang penambangannya dilakukan dengan mengupas bagian
atas bukit terlebih dahulu secara melingkar.
2. Jalan masuk langsung (Gambar 2.9.)
Kuari tipe Side Hill dengan jalan masuk langsung diterapkan pada cadangan
endapan bahan galian yang berbentuk atau memanjang atau persegi yang
terletak pada daerah berbukit yang penambangannya dimulai dari salah satu
sisi bukit.

Gambar 2.9. Kuari tipe side hill dengan jalan masuk langsung.

b. Pit type, diterapkan untuk menambang batuan atau endapan mineral industri
yang terletak pada suatu daerah yang relatif datar. Jadi tempat kerjanya digali
ke arah bawah sehingga membuat cekungan (pit). Berdasarkan jalan masuk
ke pemuka kerja, memiliki tiga kemungkinan jalan masuk, yaitu :
1. Jalan masuk spiral (Gambar 2.10)

Kuari tipe pit dengan jalan masuk spiral diterapkan pada cadangan endapan
bahan galian yang berbentuk bulat atau lonjong yang terletak pada daerah
yang datar.
2. Jalan masuk langsung (Gambar 2.11)

Kuari tipe pit dengan jalan masuk langsung diterapkan pada cadangan
endapan bahan galian yang berbentuk memanjang atau persegi yang terletak
pada daerah yang datar.

TAMBANG TERBUKA I-11


Gambar 2.10. Kuari tipe Pit dengan jalan masuk spiral.

Gambar 2.11. Kuari tipe Pit dengan jalan masuk langsung.

TAMBANG TERBUKA I-12


3. Jalan masuk zig-zag

Kuari tipe pit dengan jalan masuk zigzag diterapkan pada cadangan endapan
bahan galian yang berbentuk memanjang atau persegi yang terletak pada
daerah yang datar, namun demikian jalan akses jalan dibuat zig-zag.
Pembuatan jalan zig-zag dapat disebabkan antara lain karena :
1) Aktivitas penambangan sudah mencapai level yang cukup dalam sehingga
apabila dibuat jalan langsung maka kemiringan jalan akan sangat curam yang
tidak memungkinkan bagi alat angkut untuk memulainya.
2) Sebagai upaya konservasi cadangan sehingga perolehan penambangan
tinggi.

Bentuk-bentuk kuari yang diuraikan diatas adalah bentuk-bentuk dasar dari


kuari yang tentunya masih banyak lagi variasinya. Pada umumnya bentuk kuari
yang akan diterapkan diusahakan agar menyesuaikan bentuk-bentuk dasar
tersebut dengan keadaan dan bentuk endapan serta topografi daerahnya.

2.1.3. Opencast Mining

Pada open pit mining, tanah penutup dikupas dan ditransportasikan ke suatu
daerah pembuangan yang tidak ada endapan ekonomis di bawahnya,
sedangkan open cast mining, metodanya hampir sama dengan open pit mining,
tetapi berbeda pada satu hal yaitu tanah penutup tidak dibuang ke daerah
pembuangan di luar tambang tetapi dibuang langsung ke lokasi bersebelahan
yang telah ditambang. Aktivitas penambangan material waste disini terdiri dari
penggalian, pengangkutan dan sekaligus penimbunan (=casting), yang pada
umumnya dikombinasikan oleh suatu alat saja (lihat Gambar 2.12).

TAMBANG TERBUKA IV-10


Gambar 2.12. Contoh tambang Open Cast.

2.1.4. Auger mining

Auger mining adalah sebuah metode penambangan yang berhadapan dengan


dinding yang tinggi atau penambangan singkapan (outcrop recovery) lapisan
batubara/endapan target dengan pemboran ke dalam lapisan endapan tersebut
tanpa melakukan penggalian lapisan penutup.
Auger mining lahir sebelum 1940-an untuk mendapatkan batubara pada sisi
dinding tinggi (high wall) dari batas akhir tambang (pit limit) terbuka secara
konvensional. Penambangan batubara dengan auger bekerja dengan prinsip
drag bit rotary drill skala besar. Tanpa merusak lapisan batubara dan juga
lapisan batuan di atasnya, auger mengekstraksi dan menaikkan batubara dari
lubang dengan memanfaatkan ulir di stang-bor dan kungkungan dinding lubang
bor (lihat Gambar 2.13).
Keuntungan menggunakan metode ini adalah :
1) Dapat mencapai laju penetrasi yang tinggi.

2) Volume perusakan tinggi dalam waktu yang singkat.

3) Tingkat polusi suara rendah.

4) Tidak memerlukan medium pembilas untuk membersihkan kompresor


ataupun pompa pembilas.

TAMBANG TERBUKA IV-11


Kondisi endapan yang dapat menggunakan metode ini berdasarkan Pfleider
(1973) dan Anon (1979) adalah endapan yang memiliki bentuk tabular dan
berlapis, kemiringannya mendekati horisontal, keseragaman bijih/endapan
target tinggi, kadar dapat sangat rendah dan kedalamannya dangkal (terbatas
sampai ketinggian dinding dimana auger ditempatkan).
Pengembangan dan persiapan daerah untuk auger mining menjadi relatif
mudah jika dilakukan bersamaan dengan pemakaian metode open cast atau
open pit. Setelah open pit / open cast selesai dan belum dilakukan backfilling,
auger drilling dapat ditempatkan pada lokasi di dekat high wall.
Semua penambangan dengan menggunakan auger, diterapkan pada high wall
atau singkapan dari batubara di daerah pegunungan dan dikombinasikan
dengan metode penambangan open pit atau open cast (Gambar 2.13c dan d).

2.1.5. Peralatan Penambangan

Seperti telah diketahui bahwa macam tambang Kuari sangat bervariasi, baik
dilihat dari jenis bahan galiannya maupun kapasitas produksinya. Kondisi ini
tentu saja akan juga menyebabkan banyaknya jenis peralatan yang digunakan
dalam penambangan metode ini, mulai dari peralatan yang konvensional
sampai dengan peralatan yang modern. Pemilihan peralatan yang akan
digunakan tentu saja dipengaruhi oleh banyak faktor, yang diantaranya adalah :
1. sifat fisik dan mekanik bahan galian

2. peruntukan/bentuk akhir hasil galian yang diinginkan (dimensional


stone/crushed stone)
3. tingkat produksi yang diinginkan
4. tingkat penguasaan teknologi

5. keekonomian, dll.

Peralatan yang digunakan pada metode penambangan ini dapat


dikelompokkan berdasarkan fungsinya sebagai berikut.
 Pemberaian & pengggalian :

 Hasil akhir crushed stone : Bahan peledak (ANFO dan dinamit), ripper/alat
garu. Bila materialnya lunak: shovel/backhoe, dozer, sekop, cangkul-
belencong.
TAMBANG TERBUKA IV-12
 Hasil akhir dimensional stone: rotary saw, chain saw, atau wire-rope saw,
flame-jet channeler, water-jet channeler, palu-baji, linggis, smoth blasting.
 Pemuatan

- Hasil akhir crushed stone : shovel, wheel loader, sekop, scraper,


dragline

- Hasil akhir dimensional stone: crane

 Pengangkutan

 Hasil akhir crushed stone : scraper, conveyor, truck, train


 Hasil akhir dimensional stone: truck, crane, hoist
Pada operasinya, selain kegiatan-kegiatan diatas tentunya ada kegiatan
penunjang yang memerlukan peralatan yang spesifik, diantaranya adalah
; peralatan penunjang kelistrikan, perawatan peralatan, penirisan (pompa)
dan lain sebagainya.

2.2. METODA EKSTRAKSI DENGAN AIR

Metoda ini berhubungan dengan air atau cairan untuk memperoleh mineral dari
dalam bumi, baik dengan aksi hidrolik maupun dengan serangan cairan. Masih
sangat kurang pemakaiannya pada tambang terbuka.
Ada 2 (dua) jenis penambangan di dalam metoda ini yaitu placer mining dan
solution mining. Placer mining menggunakan air untuk menggali, mentransportasi
dan mengkonsentrasikan mineral-mineral berat. Solution mining adalah metoda
yang membuat cair mineral-mineral sehingga dapat ditransportasikan dengan
menggunakan air atau cairan pelarut. Placer mining terdiri dari hydraulicking dan
dredging, sedangkan solution mining terdiri dari borehole extraction dan leaching.

TAMBANG TERBUKA IV-13


Gambar 2.13. Contoh tambang auger pada highwall.

TAMBANG TERBUKA IV-14


2.2.1. Placer Mining: Hydraulicking

Kualitas yang berbeda dari endapan placer sehingga memungkinkan


dikategorikan sebagai ekstraksi aqueous adalah (Daily, 1968) :
1) Material di tempat memungkinkan terdesintegrasi oleh aksi tekanan air
(atau aksi mekanik ditambah hidrolik).
2) Ketersediaan supply air pada head yang diperlukan.
3) Ketersediaan ruang untuk penempatan waste.

4) Konsentrat berat adalah mineral yang berharga, sehingga


memungkinkan dilakukan pengolahan mineral sederhana.
5) Pada umumnya, gradient alamiah dan rendah sudah memungkinkan
transportasi hidrolik dari mineral.
6) Dapat mematuhi peraturan-peraturan lingkungan yang berhubungan
dengan air dan pembuangan waste.
Tinggi jenjang yang disemprot pada umumnya berkisar antara 5–15 m,
tetapi dapat mencapai 60 m (Morrison & Russell, 1973). Gambar 2.14
memperlihatkan metoda hydraulicking.

Gambar 2.14. Hydraulicking (tambang semprot di PT. Timah, Bangka).

TAMBANG TERBUKA IV-15


Contoh klasifikasi dari monitor pada tambang semprot adalah sebagai berikut.
Diameter nozzle : 40-150 mm
Head : 30-140 N/cm2 atau 300-1400 kPa
Debit : 30-250 liter/detik Debit water jet :
Pasir : 0,15 m/detik Kerikil (gravel) : 1,5 m/detik
Boulders : 3,0 m/detik

2.2.2. Placer Mining: Dredging

Dredger adalah mesin tambang menerus yang ditemukan pertama kali.


Dredging adalah penggalian endapan placer di bawah air. Dredger dapat
diklasifikasikan sebagai berikut (Turner, 1975):
1) Mekanik

a. Bucket line (endless chain of buckets revolving along ladder).

b. Bucket –wheel suction (buckets discharge in suction pipeline).

c. Dripper (shovel/back-hoe, grapple, or dragline mounted on barge).

2) Hidraulik

a. Suction (open intake suction line).

b. Cutter head (evcavation by rotating cutter on suction line).

Gambar 2.15 dan 4.16 menunjukkan metode dredging mekanik.

Gambar 2.15. Placer Mining: Dredger Mekanik.

TAMBANG TERBUKA IV-16


Gambar 2.16. Kapal keruk saat menambang bijih timah di perairan.

2.2.3. Solution Mining: Borehole Extraction

Bila produksi bijih konvensional menjadi lebih sulit dan lebih mahal, maka daya
tarik solution mining sebagai metoda eksploitasi meningkat. Solution mining
adalah salah satu metode ekstraksi aqueous dimana mineral biasanya
diperoleh ditempat dengan dilarutkan, dicairkan, diluluhkan atau slurrying
meskipun didahului dengan beberapa persiapan atau eksploitasi di bawah
tanah, tetapi hampir semua operasi dilakukan di permukaan.
Pada borehole mining (lihat Gambar 2.17 dan 4.18), air diinjeksi melalui lubang
bor ke dalam formasi mineral yang kemudian dilarutkan atau dicairkan sehingga
menjadi slurries mineral berharga dan dipompa ke permukaan melalui lubang
bor. Kadang-kadang suatu reagen ditambahkan ke air, yang membentuk
leaching kimia.
Contoh mineral yang dapat dieksploitasi dengan borehole mining adalah
evaporites (garam, potash, dan trona dengan dissolusi, belerang dengan
melting (frasch process), phospat, kaolin, oil sand, batubara, gilsonite, uranium
dengan slurrying (percobaan) dan uranium dan liquite dengan leaching kimia.

TAMBANG TERBUKA IV-17


Gambar 2.17. Solution Mining: Boreholes Extraction (Hartman, 1987).

Gambar 2.18. Solution Mining: Boreholes Extraction Tambang Uranium


(Hartman, 1987).

TAMBANG TERBUKA IV-18


2.2.4. Solution Mining: Leaching

Leaching (Gambar 2.19) adalah ekstraksi kimia untuk metal atau mineral dari
ikatan suatu cadangan bijih atau dari material yang telah digali dan ditambang
(Schlitt, 1982). Proses pada dasarnya adalah kimiawi tetapi dapat juga proses
bakteri (beberapa bakteri beraksi sebagai katalis untuk mempercepat reaksi
pada leaching sulfida). Jika ekstraksi dilakukan di tempat mineral tersebut maka
dinamakan leaching insitu, dan bila dilakukan di tempat penimbunan disebut
leaching timbunan (heap leaching) yang termasuk kategori metoda
penambangan sekunder.
Leaching pada saat ini adalah proses kombinasi, karena ditambahkan pada
ekstraksi, hal itu dilengkapi beneficiation dalam tahap awal dari pengolahan
mineral (Lastra dan Chase, 1984). Akibatnya, biaya produksi cenderung relatif
lebih rendah daripada metode penambangan konvensional. Sebagai
perbandingan (Bhappu, 1982), menunjukkan bahwa untuk tambang tembaga,
biaya produksi total yang diperkirakan untuk metoda open pit sekitar US$ 5,00–
US$ 6,80/ton sedangkan leaching insitu sekitar US$ 3,60-US$ 4,40/ton.
Aplikasi dari leaching insitu sejauh ini masih terbatas pada tembaga dan
uranium, sedangkan leaching timbunan pada emas dan perak. Studi percobaan
mengindikasikan bahwa banyak logam seperti mangan, emas-perak,
aluminium, dan cobalt-nikel, adalah kandidat utama untuk leaching insitu
(Porter et. al., 1982). Leaching insitu dari lignite juga sedang diteliti (Sadler dan
Huang, 1981).

TAMBANG TERBUKA IV-19


Gambar 2.19. Solution Mining: Leaching (Hartman, 1987).

2.2.5. Manual mining method

Cara penambangan ini sangat sederhana dengan menggunakan tenaga


manusia hampir tidak memakai alat mekanis (lihat Gambar 2.20). Cara ini
biasanya dilakukan oleh rakyat setempat atau oleh kontraktor-kontraktor kecil.
Biasanya endapan yang ditambang bentuknya :
a. Ukuran atau jumlah cadangannya kecil
b. Letaknya tersebar dan terpencil

c. Endapannya cukup kaya

Alat penambangan yang biasanya dipakai adalah :


a. Pahat dan palu

b. Linggis, belincong, cangkul, sekop

c. Bakul dan kerekan

d. Rod mill , pan (dulang) dan sluice box

TAMBANG TERBUKA I-20


Gambar 2.20. Contoh “Sluice Box” di PT. Tambang Timah, Bangka.

2.3. MACAM-MACAM TAMBANG TERBUKA BATUBARA

Pengelompokan jenis-jenis tambang terbuka batubara didasarkan pada letak


endapan, dan alat-alat mekanis yang dipergunakan. Teknik penambangan pada
umumnya dipengaruhi oleh kondisi geologi dan topografi daerah yang akan
ditambang.
Jenis-jenis tambang terbuka batubara dibagi menjadi :
1) Contour mining

Contour mining cocok diterapkan untuk endapan batubara yang relatif datar dan
tersingkap di lereng pegunungan atau bukit. Cara penambangannya diawali
dengan pengupasan tanah penutup (overburden) di daerah singkapan di
sepanjang lereng mengikuti garis ketinggian (kontur), kemudian diikuti dengan
penambangan endapan batubaranya. Penambangan dilanjutkan ke arah
tebing sampai dicapai batas endapan yang masih ekonomis bila ditambang.
Karena keterbatasan daerah yang bisa digali, maka daerah menjadi sempit
tetapi panjang sehingga memerlukan alat-alat yang mudah berpindah- pindah.
Umur tambang biasanya pendek.
Menurut Robert Meyers, contour mining dibagi menjadi beberapa metode,
antara lain :

TAMBANG TERBUKA I-21


a. Conventional contour mining

Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada daerah
dimana batubara tersingkap. Pemberaian lapisan tanah penutup dilakukan
dengan pemboran dan peledakan atau menggunakan dozer dan ripper serta
alat muat front end loader, kemudian langsung didorong dan ditimbun di daerah
lereng yang lebih rendah (Gambar 2.21).
Pengupasan dengan contour stripping akan menghasilkan jalur operasi yang
bergelombang, memanjang dan menerus mengelilingi seluruh sisi bukit.
b. Block-cut contour mining
Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok penambangan
yang bertujuan untuk mengurangi timbunan tanah buangan pada saat
pengupasan tanah penutup di sekitar lereng.
Pada tahap awal blok 1 digali sampai batas tebing (highwall) yang diijinkan
tingginya. Tanah penutup tersebut ditimbun sementara, batubaranya
kemudian diambil. Setelah itu lapisan blok 2 digali kira-kira setengahnya dan
ditimbun di blok 1. Sementara batubara blok 2 siap digali, maka lapisan tanah
penutup blok 3 digali dan berlanjut ke siklus penggalian blok 2 dan menimbun
tanah buangan pada blok awal.

Gambar 2.21. Conventional Contour Mining (Anon, 1979).

TAMBANG TERBUKA I-22


Pada saat blok 1 sudah ditimbun dan diratakan kembali, maka lapisan tanah
penutup blok 4 dipidahkan ke blok 2 setelah batubara pada blok 3 tersingkap
semua. Lapisan tanah penutup blok 5 dipindahkan ke blok 3, kemudian lapisan
tanah penutup blok 6 dipindahkan ke blok 4 dan seterusnya sampai selesai
(Gambar 2.22). Penggalian beruturan ini akan mengurangi jumlah lapisan
tanah penutup yang harus diangkut untuk menutup final pit.

Gambar 2.22. Block-Cut Contour Mining (Anon, 1979).

c. Haulback contour mining

Metode haulback ini (Gambar 2.23 dan 1.24) merupakan modifikasi dari
konsep block-cut, yang memerlukan suatu jenis angkutan overburden,
bukannya langsung menimbunnya. Jadi metode ini membutuhkan
perencanaan dan operasi yang teliti untuk bisa menangani batubara dan
overburden secara efektif.

TAMBANG TERBUKA I-23


Gambar 2.23. Teknik Haulback Truck dengan menggunakan Front-End
Loader
(Anon, 1979).

Gambar 2.24. Haulback dengan menggunakan kombinasi scraper dan truk


(Chioronis, 1987).

Ada tiga jenis perlatan yang sering digunakan, yaitu :


- Truk atau front-end loader
- Scrapers
- Kombinasi dari scrapers dan truk

d. Box-cut contour mining

Pada metode box-cut contour mining ini (Gambar 2.25) lapisan tanah
penutup yang sudah digali, ditimbun pada daerah yang sudah rata di

TAMBANG TERBUKA I-24


sepanjang garis singkapan hingga membentuk suatu tanggul-tanggul yang
rendah yang akan membantu menampung porsi terbesar dari tanah timbunan.

Gambar 2.25. Metode Box-Cut Contour Mining (Chioronis, 1987).

2) Mountaintop removal method

Metode mountaintop removal method ini (Gambar 2.26) dikenal dan


berkembang cepat, khususnya di Kentucky Timur (Amerika Serikat). Dengan
metode ini lapisan tanah penutup dapat terkupas seluruhnya, sehingga
memungkinkan perolehan batubara 100%.

3) Area mining method

Metode ini diterapkan untuk menambang endapan batubara yang dekat


permukaan pada daerah mendatar sampai agak landai. Penambangannya
dimulai dari singkapan batubara yang mempunyai lapisan dan tanah penutup
dangkal dilanjutkan ke yang lebih tebal sampai batas pit.

TAMBANG TERBUKA I-25


Gambar 2.26. Mountaintop Removal Method (Chioronis, 1987).

Terdapat tiga cara penambangan area mining method, yaitu :


a. Conventional area mining method

Pada cara ini, penggalian dimulai pada daerah penambangan awal sehingga
penggalian lapisan tanah penutup dan penimbunannya tidak terlalu
mengganggu lingkungan. Kemudian lapisan tanah penutup ini ditimbun di
belakang daerah yang sudah ditambang (lihat Gambar 2.27).

Gambar 2.27. Conventional Area Mining Method (Chioronis, 1987).

TAMBANG TERBUKA I-26


b. Area mining with stripping shovel

Cara ini digunakan untuk batubara yang terletak 10-15 m di bawah permukaan
tanah. Penambangan dimulai dengan membuat bukaan berbentuk segi empat.
Lapisan tanah penutup ditimbun sejajar dengan arah penggalian, pada daerah
yang sedang ditambang. Penggalian sejajar ini dilakukan sampai seluruh
endapan tergali (lihat Gambar 2.28).
c. Block area mining
Cara ini hampir sama dengan conventional area mining method, tetapi daerah
penambangan dibagi menjadi beberapa blok penambangan. Cara ini terbatas
untuk endapan batubara dengan tebal lapisan tanah penutup maksimum 12 m.
Blok penggalian awal dibuat dengan bulldozer. Tanah hasil penggalian
kemudian didorong pada daerah yang berdekatan dengan daerah penggalian
(Gambar 2.29).

Gambar 2.28. Area mining with stripping shovel (Chioronis, 1987).

TAMBANG TERBUKA I-27


Gambar 2.29. Block Area Mining (Chioronis, 1987).

4) Open pit Method

Metode ini digunakan untuk endapan batubara yang memiliki kemiringan (dip)
yang besar dan curam. Endapan batubara harus tebal bila lapisan tanah
penutupnya cukup tebal.
a. Lapisan miring
Cara ini dapat diterapkan pada lapisan batubara yang terdiri dari satu lapisan
(single seam) atau lebih (multiple seam). Pada cara ini lapisan tanah penutup
yang telah dapat ditimbun di kedua sisi pada masing- masing pengupasan
(Gambar 2.30).
b. Lapisan tebal
Pada cara ini penambangan dimulai dengan melakukan pengupasan tanah
penutup dan penimbunan dilakukan pada daerah yang sudah ditambang.
Sebelum dimulai, harus tersedia dahulu daerah singkapan yang cukup untuk
dijadikan daerah penimbunan pada operasi berikutnya (Gambar 2.31).
Pada cara ini, baik pada pengupasan tanah penutup maupun penggalian
batubaranya, digunakan sistem jenjang (benching system).

TAMBANG TERBUKA I-28


Gambar 2.30. Open pit method pada lapisan miring (Hartman, 1987).

Gambar 2.31. Open pit method pada lapisan tebal (Hartman, 1987).

TAMBANG TERBUKA I-29


BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Dari makalah ini penulis dapat menarik kesimpulan bahwa:
1. Prospeksi merupakan kegiatan penyelidikan, pencarian, atau penemuan
endapan-endapan mineral berharga. Atau dengan kata lain kegiatan ini bertujuan
untuk menemukan keberadaan atau indikasi adanya bahan galian yang akan dapat
atau memberikan harapan untuk diselidiki lebih lanjut.
2. Metode Penyelidikan Umum Atau Prospeksi
Penelusuran Tebing-Tebing Di Tepi Sungai Dan Lereng-Lereng Bukit,
Penelusuran Jejak Serpihan Mineral (Tracing Float),
Penyelidikan Dengan Sumur Uji (Test Pit),
Penyelidikan Dengan Parit Uji (Trench),
Metode Geofisika (Geophysical Prospecting),
Metode Geokimia (Geochemistry Prospecting).
3. Eksplorasi merupakan kegiatan yang dilakukan setelah prospeksi atau
setelah endapan suatu bahan galian ditemukan yang bertujuan untuk mendapatkan
kepastian tentang endapan bahan galian yang meliputi bentuk, ukuran, letak
kedudukan, kualitas (kadar) endapan bahan galian serta karakteristik fisik dari
endapan bahan galian tersebut.
4. Tahapan-tahapan Eksplorasi :
Survey Tinjau
Prospeksi
Eksplorasi Pendahuluan
Tahap Eksplorasi Detail
5. Merupakan tahapan akhir dari rentetan penyelidikan awal yang dilakukan
sebelumnya sebagai penentu apakah kegiatan penambangan endapan bahan galian
tersebut layak dilakukan atau tidak.
Adapun aspek-aspek yang menjadi kajian dalam studi kelayakan adalah:
Aspek kajian teknis
TAMBANG TERBUKA I-30
Aspek kajian nonteknis
Kajian Pasar
Kajian kelayakan ekonomis
Kajian kelayakan lingkungan, berbentuk AMDAL dan UKL-UPL.
6. Perencanaan adalah penentuan persyaratan dalan mencapai
sasaran,kegiatan serta urutan teknik pelaksanaan berbagai macam kegiatan untuk
mencapai suatu tujuan dan sasaran yang diinginkan.
7. Penambangan bahan galian dibagi atas tiga bagian yaitu tambang terbuka,
tambang bawah tanah dan tambang bawah air. Tambang terbuka dikelompokan atas
quarry strip mine, open cut, tambang alluvial, dan tambang semprot.
8. Bahan galian yang sudah selesai ditambang pada umumnya harus diolah
terlebih dahulu di tempat pengolahan. Hal ini disebabkan antar lain oleh
tercampurnya pengotor bersama bahan galian, perlu spesifikasi tertentu untuk
dipasarkan serta kalau tidak diolah maka harga jualnya relative lebih rendah jika
dibandingka dengan yang sudah diolah, dan bahan galian perlu diolah agar dapat
mengurangi volume dan ongkos angkut, mningkatkan nilai tambah bahan galian, dan
untuk mereduksi senyawa-senyawa kimia yang tidak dikehendaki pabrik peleburan.

TAMBANG TERBUKA I-31


DAFTAR PUSTAKA

Sulun, 2010. Makalah


Batubara.http://sulunshare.blogspot.com/2010/11/makalah-batu-
bara.html. Di akses pada tanggal 02 April 2015.
Tri, Gerry. 2014. Tahapan Kegiatan Penambangan.
http://gerrytri.blogspot.com/2014/10/tahapan-kegiatan-penambangan-
pada.html. Di akses pada tanggal 02 April 2015.
Dzakiemine, 2013. Proses Penambangan Batubara.
https://dzakiemine.wordpress.com/2013/11/19/proses-penambangan-
batubara-metode-open-pit/. . Di akses pada tanggal 02 April 2015.
Zozon, 2014. Metode Penambangan Batubara.
https://zozongeologeous.wordpress.com/2014/08/13/metode-
penambangan-batubara/. Di akses pada tanggal 02 April 2015.
Hastirullah, 2014. Makalah Reklamasi Lahan Bekas Tambang.
http://psdg.bgl.esdm.go.id/buletin_pdf_file/Bul%20Vol%203%20no.%201
%20thn%202008/3.%20Makalah%20Reklamasi%20Lahan%20Bekas%20T
ambang.pdf. Di akses pada tanggal 02 April 2015.
Real, 2010. Rincian Kegiatan Penyelidikan Umum.
http://www.realminers.com/2010/12/rincian-kegiatan-penyelidikan-
umum.html. Di akses pada tanggal 02 April 2015.
Abdullah, Badawi. 2014. Perencanaan Tambang Batubara.
http://mineritysriwijaya.blogspot.com/2014/03/perencanaan-tambang-
batubara.html. Di akses pada tanggal 02 April 2015.
Rizky, 2011. Proses Penambangan Batubara.
http://rizkimartarozi.blogspot.com/2011/02/proses-penambangan-
batubara.html. Di akses pada tanggal 02 April 2015.

TAMBANG TERBUKA I-32