Anda di halaman 1dari 19

“ DEEP VENA TROMBOSIS “

(DVT)

Definisi :
Suatu kondisi dimana terbentuk bekuan darah dalam vena sekunder akibat
inflamasi / trauma dinding vena atau karena obstruksi vena sebagian, yang
mengakibatkan penyumbatan parsial atau total sehingga aliran darah
terganggu (Doenges, 2000)

Etiologi :

Pada dasarnya penyebab utama DVT belum jelas, namun ada 3 faktor yang
dianggap penting dalam pembentukan bekuan darah, hal ini dihubungkan
dengan :

 statis aliran darah

 abnormalitas dinding pembuluh darah

 gangguan mekanisme pembekuan

Statis vena terjadi bila aliran darah melambat, seperti pada gagal
jantung dan syock ; ketika vena berdilatasi, sebagai akibat terapi obat, dan
bila kontraksi otot skeletal berkurang, seperti pada istirahat lama, paralysis
ekstremitas atau anestesia. Tirah baring terbukti memperlambat aliran darah
tungkai sebesar 50%.

Kerusakan lapisan intima pembuluh darah menciptakan tempat


pembentukan bekuan darah. Trauma langsung pada pembuluh darah, seperti
pada fraktur atau dislokasi, penyakit vena dan iritasi bahan kimia terhadap
vena, baik akibat obat atau larutan intra vena, semuanya dapat merusak
vena.

Kenaikan koagubilitas terjadi paling sering pada pasien dengan


penghentian obat ani koagulan secara mendadak. Kontrasepsi oral dan
sejumlah besar diskrasia dapat menyebabkan hiperkoagulabilitas.

Patofisiologi

DVT adalah peradangan pada dinding vena dan biasanya disertai


pembentukan bekuan darah. Ketika pertama kali terjadi bekuan pada vena
akibat statis atau hiperkoagulabilitas, tanpa disertai peradangan maka
proses ini dinamakan flebotrombosis. Trombosis vena dapat terjadi pada
semua vena, namun yang paling sering terjadi adalah pada vena ekstremitas
. Gangguan ini dapat menyerang baik vena superficial maupun vena dalam
ungkai. Pada vena superficial, vena safena adalah yang paling sering
terkena. Pada vena dalam tungkai, yang paling sering terkena adalah vena
iliofemoral, popliteal dan betis.

Trombus vena tersusun atas agregat trombosit yang menempel pada dinding
vena , disepanjang bangunan tambahan seperti ekor yang mengandung
fibrin, sel darah putih dan sel darah merah. “Ekor “ dapat tumbuh membesar
atau memanjang sesuai arah aliran darah akibat terbentuknya lapisan
bekuan darah. Trombosis vena yang terus tumbuh ini sangat berbahaya
karena sebagian bekuan dapat terlepas dan mengakibatkan oklusi emboli
pada pembuluh darah paru. Fragmentasi thrombus dapat terjadi secara
spontan karena bekuan secara alamiah bisa larut, atau dapat terjadi
sehubungan dengan peningkatan tekanan vena, seperti saat berdiri tiba-tiba
atau melakukan aktifitas otot setelah lama istirahat.
PATHWAYS :

Statis darah Cedera dinding pembuluh Gangguan pembekuan


darah darah

Trombosis Vena

Vena tetap oklusi Rekanalisasi Vena Vena mengalami obstruksi Trombi lepas

Katup rusak Emboli paru

Insufisiensi Vena kronis Tekanan vena distal 

Oedema Statis Cairan


Tekanan vena distal 

Pe sirkulasi Varises


arteri Nadi perifer  Gangren Vena

Ulkus Vena Pucat


Nyeri Kurang
pengetahuan
Inflamasi Ggn perfusi jaringan
Manifestasi Klinis

Vena dalam : obstruksi vena dalam tungkai menyebakan oedema dan


pembengkakan ekstremitas karena aliran darah tersumbat. Tungkai yang
terkena biasanya terasa lebih hangat dan vena superfisialnya lebih menojol.
Nyeri tekan biasanya terjadi kemudian adalah sebagai akibat dari inflamasi
dinding vena dan dapat dideteksi dengan palpasi lembut pada tungkai.
Tanda homan (nyeri pada betis ketika kaki didorsoflesikan secara mendadak)
tidak spesifik untuk trombosis vena dalam karena bisa ditimbulkan oleh
berbagai kondisi nyeri pada betis. Pada beberapa kasus emboli paru
merupakan tanda pertama trombosis vena dalam.

Vena superficial : trombosis vena superficial mengakibatkan nyeri atau


nyeri tekan, kemerahan dan hangat pada daerah yang terkena. Resiko
terjadinya fragmentasi thrombus menjadi emboli pada vena superficial
sangat jarang karena thrombus dapat larut secara spontan. Jadi kondisi ini
dapat ditangani di rumah dengan tirah baring, peninggian tungkai, analgesik
dan obat anti radang.

Evaluasi diagnostik

 Teknik non infasif :

- Ultrasonografi Doppler :

Dilakukan dengan cara meletakkan probe Doppler diatas vena yang


tersumbat.

- Pletismografi Impedansi

Digunakan untuk mengukur perbedaan volume darah dalam vena.


Manset tekanan darah dipasang pada paha pasien dan dikembungkan
secukupnya (sekitar 50 – 60 mmHg) sampai aliran arteri berhenti.
Kemudian gunakan eletroda betis untuk mengukur tahanan elektris
yang terjadi akibat perubahan volume darah dalam vena. Apabila
terdapat trombosis vena dalam, peningkatan volume vena yang
normalnya terjadi akibat terperangkapnya darah dibawah ikatan
manset akan lebih rendah dari yang diharapkan. Hasil false-positif
dapat terjadi akibat dari berbagai factor yang menyebabkan
vasokontriksi, peninggian tekanan vena, penurunan curah jantung atau
kompresi eksternal pada vena. False-negatif dapat terjadi akibat
adanya trombosis lama, menimbulkan sirkulasi kolateral yang adekuat
atau dari flebitis superficial.

- Pencitraan vena ganda

Digunakan untuk mendapatkan informasi anatomis selain untuk


mengkaji parameter fisiologis.

 Teknik Infasif

Teknik infasif berdasar pada injeksi media kontras ke system vena yang
kemudian berikatan dengan elemen structural thrombus.

Penatalaksanaan

Tujuan penanganan medis DVT adalah mencegah perkembangan dan


pecahnya thrombus beserta risikonya yaitu embolisme paru dan mencegah
tromboemboli kambuhan.

Terapi antikoagulasi dapat mencapai kedua tujuan tersebut. Heparin


yang diberikan selama 10-12 hari dengan infus intermitten intravena atau
infus berkelanjutan dapat mencegah berkembangnya bekuan darah dan
tumbuhnya bekuan baru. Dosis pengobatan diatur dengan memantau waktu
tromboplastin partial (PTT).

Empat sampai 7 hari sebelum terapi heparin intravena berakhir, pasien


mulai diberikan antikoagulan oral. Pasien mendapat antikoagulan oral
selama 3 bulan atau lebih untuk pencegahan jangka panjang.
Tidak seperti heparin, pada 50% pasien, terapi trombolitik,
menyebabkan bekuan mengalami dekompensasi da larut. Terapi trombolitik
diberikan dalam 3 hari pertama setelah oklusi akut, dengan pemberian
streptokinase, mokinase atau activator plasminogen jenis jaringan. Kelebihan
terapi litik adalah tetap utuhnya katup vena dan mengurangi insidens
sindrompasca flebotik dan insufisiensi vena kronis. Namun, terapi trombolitik
mengakibatkan insidens perdarahan sekitar tiga kali lipat disbanding
heparin.

PTT, waktu protrombin, hemoglobin, hematokrit, hitung trombosit dan


tingkat fibrinogen pasien harus sering dipantau. Diperlukan observasi yang
ketat untuk mendeteksi adanya perdarahan. Apabila terjadi perdarahan, dan
tidak dapat dihentikan, maka bahan trombolitik harus dihentikan.

Penataksanaan Bedah. Pembedahan trombosis vena dalam (DVT)


diperlukan bila : ada kontraindikasi terapi antikoagulan atau trombolitik, ada
bahaya emboli paru yang jelas dan aliran darah vena sangat terganggu yang
dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada ekstremitas. Trombektomi
(pengangkatan trombosis) merupakan penanganan pilihan bila diperlukan
pembedahan. Filter vena kava harus dipasang pada saat dilakukan
trombektomi, untuk menangkap emboli besar dan mencegah emboli paru.

Penatalaksanaan Keperawatan. Tirah baring, peninggian ekstremitas


yang terkena, stoking elastik dan analgesik untuk mengurangi nyeri adalah
tambahan terapi DVT. Biasanya diperlukan tirah baring 5 – 7 hari setelah
terjadi DVT. Waktu ini kurang lebih sama dengan waktu yang diperlukan
thrombus untuk melekat pada dinding vena, sehingga menghindari
terjadinya emboli. Ketika pasien mulai berjalan, harus dipakai stoking elastik.
Berjalan-jalan akan lebih baik daripada berdiri atau duduk lama-lama.
Latihan ditempat tidur, seperti dorsofleksi kaki melawan papan kaki, juga
dianjurkan.
Kompres hangat dan lembab pada ekstremitas yang terkena dapat
mengurangi ketidaknyamanan sehubungan dengan DVT. Analgesik ringan
untuk mengontrol nyeri, sesuai resep akan menambah rasa nyaman.

Proses Keperawatan

 Pengkajian

- Aktifitas / Istirahat

Gejala : Tindakan yang memerlukan duduk atau berdiri lama

Imobilitas lama (contoh ; trauma orotpedik, tirah baring yang


lama, paralysis, kondisi kecacatan)

Nyeri karena aktifitas / berdiri lama

Lemah / kelemahan pada kaki yang sakit

Tanda : Kelemahan umum atau ekstremitas

- Sirkulasi

Gejala : Riwayat trombosis vena sebelumnya, adanya varises

Adanya factor pencetus lain , contoh : hipertensi (karena


kehamilan), DM, penyakit katup jantung

Tanda : Tachicardi, penurunan nadi perifer pada ekstremitas yang


sakit

Varises dan atau pengerasan, gelembung / ikatan vena


(thrombus)

Warna kulit / suhu pada ekstremitas yang sakit ; pucat, dingin,


oedema, kemerahan, hangat sepanjang vena

Tanda human positif

- Makanan / Cairan
Tanda : Turgor kulit buruk, membran mukosa kering (dehidrasi,
pencetus untuk hiperkoagulasi)

Kegemukan (pencetus untuk statis dan tahanan vena pelvis)

Oedema pada kaki yang sakit (tergantung lokasi)

- Nyeri / Kenyamanan

Gejala : Berdenut, nyeri tekan, makin nyeri bila berdiri atau


bergerak

Tanda: Melindungi ekstremitas kaki yang sakiy

- Keamanan

Gejala : Riwayat cedera langsung / tidak langsung pada


ekstremitas atau vena (contoh : fraktur, bedah ortopedik,
kelahiran dengan tekanan kepala bayi lama pada vena pelvic,
terapi intra vena)

Adanya keganasan (khususnya pancreas, paru, system GI)

Tanda: Demam, menggigil

- Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : Penggunaan kontrasepsi / estrogen oral, adanya terapi


antikoagulan (pencetus hiperkoagulasi)

Kambuh atau kurang teratasinya episode tromboflebitik


sebelumnya

 Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan aliran darah / statis


vena (obstruksi vena sebagian / penuh ), ditandai dengan : oedema
jaringan, penurunan nadi perifer, pengisian kapiler, pucat, eritema

Hasil yang diharapkan :


- Menunjukkan perbaikan perfusi yang dibuktikan oleh adanya nadi
perifer / sama, warna kulit dan suhu normal, tidak ada odema.

- Peningkatan perilaku / tindakan yang meningkatkan perfusi jaringa

- Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktifitas

Intervensi Keperawatan :

- Observasi ekstremitas, warna kulit, dan perubahan suhu juga


oedema

- Kaji ekstremitas, palpasi tegangan jaringan local, regangan kulit

- Kaji tanda human

- Tingkatkan tirah baring selama fase akut

- Tinggikan kaki bila ditempat tidur atau duduk, secara periodic


tinggikan kaki dan telapak kaki diatas tinggi jantung

- Lakukan latihan aktif dan pasif sementara di tempat tidur. Bantu


melakukan ambulasi secara bertahap.

- Peringatkan pasien untuk menghindari menyilang kaki atau


hiperfleksi lutut (posisi duduk dengan kaki menggantung atau
berbaring dengan posisi menyilang)

- Anjurkan pasien untuk menghindari pijatan / urut pada ekstremitas


yang sakit

- Dorong latihan nafas dalam

- Tingkatkan pemasukan cairan sampai sedikitnya 2000 ml/hari


dalam toleransi jantung

- Kolaborasi : pemberian kompres hangat/basah atau panas pada


ekstremitas yang sakit ; dan antikoagulan
- Pantau pemeriksaan laboratorium : masa protrombin (PT), masa
tromboplastin partial (PTT), masa tromboplastin teraktifasi partial
(APTT),; darah lengkap

- Berikan dukungan kaus kaki elastik setelah fase akut, hati-hati


untuk menghindari efek tornikuet

- Siapkan intervensi bedah bila diindikasikan

2. Nyeri b.d penurunan sirkulasi arteri dan oksigenasi jaringan dengan


produksi / akumulasi asam laktat pada jaringan atau inflamasi, ditandai
dengan ; pasien mengatakan nyeri, hati-hati pada kaki yang sakit,
gelisah dan perilaku distraksi.

Hasil yang diharapkan :

Nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan tindakan rileks, mampu tidur /


istirahat dan meningkatkan aktifitas

Intervensi Keperawatan :

- Kaji derajat nyeri, palpasi kaki dengan hati-hati

- Pertahankan tirah baring selama fase akut

- Tinggikan ektremitas yang sakit

- Berikan ayunan kaki

- Dorong pasien untuk sering mengubah posisi

- Pantau tanda vital : catat peningkatan suhu

- Kolaborasi : analgesik, antipiretik, pemberian kompres panas pada


ekstremitas

3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, program pengobatan b.d kurang


terpajan, kesalan interpretasi, tidak mengenal sumber informasi,
kurang mengingat , ditandai dengan : minta informasi, pernyataan
kesalahan konsep, tidak tepat dalam mengikuti instruksi, terjadinya
komplikasi yang dapat dicegah.

Hasil yang diharapkan :

- Menyatakan pemahaman proses penyakit, programpengobatan dan


pembaasan

- Berpartisipasi dalam proses belajar

- Mengidentifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medis

- Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alsan tindakan

Intervensi Keperawatan :

- Kaji ulang patofisiologi kondisi dan tanda/gejala, kemungkinan


komplikasi

- Jelaskan tujuan pembatasan aktifitas dan kebutuhan keseimbangan


aktifitas / tidur

- Adakan latihan yang tepat

- Selesaikan masalah factor pencetus yang mungkin ada, contoh :


tindakan yang memerlukan berdiri /duduk lama, kegemukan,
kontrasepsi oral, imobilisasi, dll

- Identifikasi pencegahan keamanan, contoh : penggunaan sikat gigi,


pencukur jenggot, dll

- Kaji ulang kemungkinan interaksi obat dan tekankan perlunya


membaca label kandungan obat yang mungkin obat tersebut dijual
bebas

- Identifikasi efek obat antikoagulan

- Tekankan pentingnya pemeriksaan lab.

- Dorong menggunakan kartu / gelang identifikasi

- Anjurkan perawatan kulit ekstremitas bawah


- Laporkan adanya lesi

DAFTAR PUSTAKA

 Brunner & Suddarth (1997), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol 2, EGC, Jakarta
 Marilyn E. Doenges, (1993), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta

 Sarwono, dr, ( 1997), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3, Jilid I, FKUI, Jakarta

ASUHAN KEPERAWATAN DVT PADA Tn. A DI RUANG C 3 RUMAH SAKIT DR.


KARIADI SEMARANG

A. BIODATA
1. Identitas Pasien
Nama : Tn. A
Umur : 26 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status : Belum Menikah
Alamat : Wonorejo RT 01 / IV Kaliwungu - Kendal
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. S
Umur : 47 tahun
Pekerjaan : Petani
Hub. dg pasien : Ayah
3. Catatan Masuk
Tanggal Masuk : 9 Juni 2004
Jam : 14. 15 WIB
Cara : JPS
Dx. Medis : DVT
Register : 739908
Tnggl Pengkajian : 14 Juni 2004
B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan Utama : Kaki kiri bengkak
2. Riwayat Kesehatan Sekarang :
 1 bulan kaki kiri bengkak didaerah paha, lama-lama turun ke punggung kaki. Bengkak terus menerus dan kaki
sulit buat berjalan. Pasien berobat ke Puskesmas, diberi obat tetapi tidak sembuh. Kemudian dipijit tapi makin lama
bertambagh bengkak. Kemudian pasien periksa lagi ke puskesmas dan dirujuk ke Rumah Sakit Kendal. Dari Kendal
pasien dirujuk ke RSDK Semarang.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu :
 1 tahun yang lalu, kaki pasien bengkak hilang timbul. Biasanya untuk mengatasi pasien minum jamu
4. Riwayat Kesehatan Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti pasien, tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit
menular / penyakit keturunan
C. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
Pasien bekerja sebagai buruh di tambak ikan milik tetangga, pasien tinggal bersama ayah. Kedua orang tuanya
sudah bercerai sejak 2 tahun yang lalu. Pasien belum menikah. Kesan ekonomi kurang
D. PENGKAJIAN FISIK & POLA FUNGSI
1. Kardio Respiratori
a. Tanda-Tanda Vital
- Suhu : 37 º C - Nadi : 88 X / menit
- TD : 140 / 90 mmHg - Pernafasan : 20 X / menit
b. Respirasi : Dada simetris, tidak terdapat wheezing, tidak terdapat tarikan intercosta.
c. Sirkulasi : Nyeri dada (-), oedema pada tungkai ꗬ Á‷Љ13ჴ¿1313က1313Ѐ13㫿13
2. 橢橢 ᙕᙕᙕᙕ15151515151515䀀簷15簷15咦151515
3. 16161616161616ƫ161616ᄂ16161616ᄂ16161616ᄂ1616161616161616l161616161616Ͳ16Ͳ16161
6Ͳ161616 ‫ ܢ‬161616‫ ܢ‬161616‫ܢ‬16ᄉ1616161616ܶ161616⺬161616⺬161616⺬16816⻤16,16⼐16
ɬ16ܶ161616췈16̐16ㆈ161616ㆈ1616㆘161616㆘161616㆘161616䲏1616䲏161616䲏161616
샛1616생161616생161616생161616생161616생161616생16$16탘16Ƞ16틸16t16섁16ಁಁ1616
16161616161616‫ܢ‬161616䲏1616161616161616161616䖡16‫ۮ‬16䲏161616䲏161616䲏161616섁
1616S tidak dimakan, rasanya mual dan ingin muntah, minum sedikit , minum  1-2 gelas sehari, pasien suka
minum air dingin (es) bila minum air dingin, sehari bisa  2 – 3 liter.
4. Eliminasi : pasien tidak bisa BAB, dan BAK
5. Integritas kulit : Kulit lembab, tidak terdap at ikterik, turgor baik
6. Melakukan mobilisasi / Skeletal : keadaan tulang : kontinyuitas, tangan yang dominan : kanan, bahu
simetris, pasien dalam ADL dengan bantuan maksimal
7. Istirahat & Tidur pasien, tidur  3 – 4 jam sehari, bila istirahat / tidur nafas terasa sesak.
8. Kebersihan Diri : selama sakit mandi dengan diseka pagi dan sore, gosok gigi 2 x sehari
9. Sensorik : Pasien mengalami tidak mengalami gangguan sensorik : penglihatan, pendengaran, maupun
penciuman
10. Lingkungan / Sosial : pasien tidak mempunyai kebiasaan merokok maupun minum alkohol.
11. Ekonomi : pasien tinggal bersama isteri dan kedua anaknya , isteri bekerja wiraswasta di rumah, sumber
air minum : sumur,
12. HARAPAN YANG INGIN DIPEROLEH DARI PERAWAT : Pasien ingin segera sembuh, sehingga dapat
berkumpul dengan keluarga dirumah
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG / Laboratorium : tanggal 7 Juni 2004
- Hematologi :
WBC : 9,78 NEU ; 7,41
CYM : 1,35 Mono : 850
Eos : 0,90 Baso : 0,72
RBC ; 4,803 HGB : 13,6
HCT : 42,3 MCV : 87,5 fl
MCHC : 32,2 g/dl RDW : 25 %
- Kimia Klinik
Glukosa : 144 mg/dl BUN : 106 mg/dl
Creatinin : 2.47 mg/dl CA : 2.27 mg/dl
F. THERAPI
- Infus Martos 10 – 12 tetes / menit
- Injeksi Furosemid 1 X 1 amp
- Captopril 1 X 12,5 mg
- Spironolaksan 1X 25 mg
- Digoxin 1 X 1 tab
- Dulcolax (malam) 1 X 2 tab
- Aspilet 1 X 80 gr
- Diit 1900 Kal

ANALISA DATA
Initial Klien ; Tn. Y Register : 7399413
Umur : 50 tahun Ruang : A5
No. Data Fokus Masalah TTD
1. DS : pasien mengeluh sesak nafas, sesak terutama Gangguan pertukaran gas b.d
pada malam hari waktu istirahat kegagalan difusi pada alveoli
DO : RR = 28X/mnt, ronchi basah halus (+), gelisah

2. DS : pasien mengatakan tidak nafsu makan, perut Gangguan nutrisi : kurang dari
terasa mual dan ingin muntah kebutuhan tubuh b.d stimulasi pusat
DO : makanan yang disediakan dari RS tidak dimakan muntah karena kongesti vaskuler
pada saluran pencernaan.
3. DS : pasien mengatakan tidak bisa BAK Gangguan keseimbangan cairan :
kelebihan volume cairan b.d
DO : blast penuh (-), oedema (-), ascites (+)
menurunnya perfusi ginjal
4. DS : Pasien mengatakan bila untuk beraktifitas semakin Gangguan aktifitas sehari-hari b.d
sesak, tubuh terasa lemah, lelah (+) ketidakseimbangan antar suplai
oksigen ke miokard dan kebutuhan
DO : Pasien terlihat terengah-engah, KU : lemah
5. DS : pasien mengatakan saat ini adalah kali ke – 30 Resiko serangan ulang b.d kurang
pasien dirawat di RS dengan masalah yang sama pengetahuan tentang penyebab
DO : Pada saat ditanya pasien tidak mengetahui sakitnya
penyebab penyakit pasien kambuh lagi

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Initial Klien ; Tn. Y Register : 7399413
Umur : 50 tahun Ruang : A5
No. DX. Keperawatan Tujuan Intervensi TT
D
1 Gangguan pertukaran Setelah dilakukan tindakan - Berikan posisi fowler
gas b.d kegagalan keperawatan selama 6 X 24
- Observasi frekuensi &
difusi pada alveoli jam sesak berkurang, dengan
kedalaman pernafasan
kriteria hasil : pasien tidak
sesak, RR 20 x/mnt, ronchi (-) - Auskultasi paru untuk
mengetahui bunyi nafas
- Kolaborasi pemberian O2
- Observasi TTV
-
2. Gangguan nutrisi : Setelah dilakukan tindakan - Anjurkan makan sedikit tapi
kurang dari keperawatan selama 6 X 24 sering
kebutuhan tubuh b.d jam kebutuhan nutrisi terpenuhi
- Berikan diit sesuai advis
stimulasi pusat dg criteria hasil : nafsu makan
muntah karena meningkat, makan habis 1 - Berikan penjelasan tentang
kongesti vaskuler porsi, mual & muntah (-) pentingnya nutrisi untuk
pada saluran kesembuhan
pencernaan
-
3. Gangguan Setelah dilakukan tindakan - Ukur masukan / haluaran,
keseimbangan keperawatan selama 6 X 24 catat pengeluaran, sifat
cairan : kelebihan jam kebutuhan cairan konsentrasi, hitung
volume cairan b.d seimbang dg criteria hasil : keseimbangan cairan
menurunnya perfusi ascites (-), pasien dapat BAK,
- Observasi adanya oedema
ginjal BB ideal
- Timbang BB
- Batasi cairan
-
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Initial Klien ; Tn. Y Register : 7399413
Umur : 50 tahun Ruang : A5

No. DX. Keperawatan Tujuan Intervensi TT


D
4 Gangguan aktifitas Setelah dilakukan tindakan - Bantu pasien dalam
sehari-hari b.d keperawatan selama 6 X 24 memenuhi kebutuhan
ketidakseimbangan jam sesak berkurang, dengan
- Libatkan keluarga dalam
antar suplai oksigen kriteria hasil : pasien dapat
pemenuhan kebutujan klien
ke miokard dan memenuhi kebutuhannya
kebutuhan sendiri - Anjurkan untuk membatasi
aktifitas
- Pertahankan tirah baring
- Monitor TTV setelah
melakukan aktifitas
-
5. Resiko serangan Setelah dilakukan tindakan - Berikan pendidikan kesehatan
ulang b.d kurang keperawatan selama 2 kali
- Motivasi pasien untuk
pengetahuan tentang pertemuan pasien dapat
mematuhi diit dan minum obat
penyebab sakitnya mengenal penyakitnya dan
serangan ulang CHF dapat - Motivasi pasien untuk bisa
dihindarkan menjaga kesehatannya sendiri
-
IMPLEMENttTASI
Initial Klien ; Tn. Y Register : 7399413
Umur : 50 tahun Ruang : A5

No. DP Hari/Tg Implementasi Evaluasi TTD


l
1. Senin, - Memberikan - S : Sesak (+_
posisi fowler
9 Juni - O byektif :
- mengobservasi
2004 * TTV : S = 36 º C, Nadi = 84
frekuensi & x/menit, TD = 130/90 mmHg, RR
kedalaman = 20 x/menit.
pernafasan
 O2 : 3
- Mendengarkan
lt/mnt
paru untuk
mengetahui bunyi  Ronch
nafas basah (+)
- Kolaborasi A : masalah belum teratasi
pemberian O2 P : Lanjutkan intervensi
- Mengobservasi
TTV
2. Senin, - Menga njurkan S : Pasien mengatakan tidak nafsu
makan sedikit tapi makan, perut mual
9 Juni
sering O : Pasien hanya makan 2 sendok
2004 - Memberikan diit A : Masalah belum teratasi
sesuai advis
(1900 K) P : Lanjutkan intervensi
- Memberikan
penjelasan
tentang
pentingnya nutrisi
untuk
kesembuhan