Anda di halaman 1dari 85
PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1
PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1
PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI
PERENCANAAN SISTEM
DISTRIBUSI

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

1

VISI DISTRIBUSI : Diakui sebagai pengelola distribusi tenaga listrik yang efisien dengan ke andal an

VISI DISTRIBUSI :

VISI DISTRIBUSI : Diakui sebagai pengelola distribusi tenaga listrik yang efisien dengan ke andal an dan

Diakui sebagai pengelola distribusi tenaga listrik yang efisien dengan keandalan dan kualitas produk yang memenuhi tuntutan pelayanan kelas dunia.

MISI DISTRIBUSI :

1. Mengelola Distribusi Tenaga Listrik yang berorientasi pada

Kepuasan Pelanggan , Anggota Perusahaan dan Pemegang Saham.

2. Mendistribusikan Tenaga Listrik sebagai media untuk Meningkatan Kualitas Kehidupan Masyarakat dan menjadi Pendorong Kegiatan Ekonomi.

3. Mengelola Distribusi Listrik yang Aman dan Bermawasan Lingkungan.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

2

Konsep Dasar Perencanaan Distribusi (1)
Konsep Dasar Perencanaan Distribusi (1)
Konsep Dasar Perencanaan Distribusi (1)

P erencanaan

Sistem

Distribusi

merupakan

bagian

dari

Rencana

Investasi

Sistem

Ketenagalistrikan

secara

keseluruhan,

yang

terdiri

dari

Sistem

Pembangkit,

Sistem

Transmisi dan Gardu Induk dan Sistem Distribusi.

 

Lingkup

dari

Perencanaan

Sistem

Distribusi

adalah

Rancangan

5

sampai

10

tahun

kedepan Pengembangan Sistem Distribusi yang terdiri atas:

Gardu Induk TT/ TM (buah, MVA)

Jaringan Subtransmisi untuk pelanggan besar (sirkit, kms)

Jaringan Tegangan Menengah (JTM) (buah, kms)

Gardu Distribusi (GD) (buah, MVA)

Jaringan Tegangan Rendah (JTR) (jurusan, kms)

Sambungan Langganan (SL) serta (buah)

Peralatan lainnya (DCC, Distribution Automation System, Capacitor, dll).

Hasil akhir dari proses perencanaan sistem distribusi adalah perkiraan kebutuhan fisik

serta bia ya investasi yang dibutuhkan. Prakiraan jangka panjang biaya investasi

merupakan salah satu komponen penting yang diperlukan dalam analisa proyeksi

finansial, analisa biaya produksi, serta studi tarif. Selain itu perencanaan jangka

pendek sistem distribusi diperlukan sebagai dasar perkiraan Rencana Kebutuhan

Anggaran Perusahaan (RKAP).

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

3

Konsep Dasar Perencanaan Distribusi (2) hal penting yang harus dipenuhi dalam Perencanaan dan Desain Sistem
Konsep Dasar Perencanaan Distribusi (2)
Konsep Dasar Perencanaan Distribusi (2)

hal

penting

yang

harus

dipenuhi

dalam

Perencanaan

dan

Desain

Sistem

Beberapa

Distribusi:

Kapasitas yang mencukupi untuk mendistribusikan Beban

Level dan Kualitas Tegangan yang memuaskan

Pelayanan yang andal

Keselamatan (Safety)

Diterima dari segi Estetika

Perencanaan Pengembangan Sistem Distribusi haruslah mengikuti prinsip berikut:

Menyediakan Sarana Pendistribusian Tenaga Listrik yang mencukupi, andal dengan

kualitas pe layanan tinggi dan efisien (susut energi rendah).

Dengan selalu mempertimbangkan berbagai alternatif dan memilih yang optimal, yaitu :

least cost (investment + operation) dan semua standard operasi dipenuhi

Secara ekonomis layak. Program investasi dieva luasi berdasarkan analisa ekonomis

( Benefit to Cost Analysis atau Financial Internal Rate of Return ).

Dilihat dari kebutuhannya, maka lingkup perencanaan pengembangan sistem distribusi

dapat dikelompokkan dalam beberapa basket perencanaan yaitu:

Perluasan Sistem untuk mengakomodir Pertumbuhan Demand (Growth ).

Program

peningkatan keandalan ( reliability )

Program Penurunan Losses Distribusi

Program Rehabilitasi Jaringan Tua

Program Peningkatan Kualitas pasokan listrik pada pelanggan ( Power Quality )

Program Pen ingkatan Sarana Pelayanan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

4

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 5

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

5

Pengembangan Sistem Distribusi Perencanaan Jangka panjang (5-10 tahun) Lebih banyak berorientasi pada perencanaan GI TT/
Pengembangan Sistem Distribusi
Pengembangan Sistem Distribusi
Pengembangan Sistem Distribusi Perencanaan Jangka panjang (5-10 tahun) Lebih banyak berorientasi pada perencanaan GI TT/

Perencanaan Jangka panjang (5-10 tahun)

Lebih banyak berorientasi pada perencanaan GI TT/ TM (S ubstation oriented)

a. Penyusunan arahan (guideline) bagi perencanaan jangka pendek

b. Penyusunan strategi perluasan sistem distribusi :

Pemilihan tingkat tegangan sistem distribusi

Pemilihan lokasi/ unit size trafo Gardu Induk

c. Pemilihan konfigurasi sistem dist ribusi yang akan dipakai

Memperkirakan anggaran jangka panjang

Koordinasi dengan perencanaan transmisi untuk analisa perencanaan Gardu Induk

Tegangan Tinggi / Tegangan Menengah(TM)

Perencanaan Jangka pendek/menengah (1-5 tahun)

Berorientasikan pada pe ngembangan penyulang TM (MV Feeder oriented ), dengan

sasaran:

Membuat rencana perluasan jardis TM untuk antisipasi pertumbuhan beban

Memperbaiki susut tegangan dan susut daya

Menghilangkan beban lebih di jaringan

Memperbaiki faktor daya ( power factor)/ men urunkan susut jaringan.

Meningkatkan mutu pelayanan

Rehabilitasi jaringan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

6

Pengembangan Sistem Distribusi Analisa teknis pada feeder Tegangan Menengah (penyulang), meliputi :  Load Flow
Pengembangan Sistem Distribusi
Pengembangan Sistem Distribusi

Analisa teknis pada feeder Tegangan Menengah (penyulang), meliputi :

Load Flow (aliran daya)

Optimasi penempatan capacitor

Load Flow (aliran daya)  Optimasi penempatan capacitor  Short circuit (hubung singkat)  Optimasi

Short circuit (hubung singkat)

Optimasi switching

Protection coordination.

Contingency analysis

Antisipasi pembangkit disisi distribusi

7
7

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Tahapan

Perencanaan

Sistem

Distribusi

Antisipasi pembangkit disisi distribusi 7 Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal Tahapan Perencanaan Sistem Distribusi
Pengembangan Sistem Distribusi Pengembangan Sistem Distribusi Jangka Panjang Perencanaan Detail meliputi berbaga i

Pengembangan Sistem Distribusi

Pengembangan Sistem Distribusi Jangka Panjang

Perencanaan

Detail

meliputi

berbaga i

analisis

(simulasi)

terhadap

Detail meliputi berbaga i analisis (simulasi) terhadap model rencana pengembangan jaringan yang dibuat sedtail

model

rencana

pengembangan jaringan yang dibuat sedtail mungkin, yang datanya biasanya hanya dapat

dipersiapkan untuk 1 sampai dengan 3 tahun kedepan.

a. Analisa Aliran Daya ( Load Flow Study )

Mengetahui susut tegangan pada feed er TM/TR

Memprakirakan pembebanan feeder.

Menghitung rugi- rugi (susut) daya dan energi pada feeder.

Menentukan kompensasi daya reaktif yang diperlukan guna memperbaiki faktor daya

( power factor) serta mengurangi susut daya dan energi pada feeder.

Analisa

aliran

daya

merupakan

alat

bantu

yang

sangat

berguna

dalam

proses

perencanaan

sistem

distribusi,

dimana

didalamnya

banyak

dilakukan

analisa

untuk

pengambilan keputusan menentukan alternatif dengan biaya termurah ( Least Cost ), yaitu

antara lain:

Pemilihan

level

tegangan

pasokan

suatu

dengan feeder distribusi TM)

pusat

beban

Pemilihan ukuran penampang konduktor

(dengan

transmisi

TT

atau

Penentuan kapasitas, lokasi dan waktu dibutuhkannya Gardu Induk TT/ TM baru

Analisa kebutuhan Voltage Regulator dan Kapasito r pada jaringan distribusi Tegangan

Menengah.

b. Analisa Hubung Singkat

Dilakukan

untuk

mengetahui besarnya

hubung singkat pada sistem.

daya

dan

arus

yang

terjadi pada

saat terjadi

Dengan diketahuinya daya dan arus hubung singkat, maka setting rele proteksi yang

benar dapat dilakukan.

Besarnya daya hubung singkat dipakai sebagai dasar untuk pemilihan ukuran Circuit

Breaker

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

8

Pengembangan Sistem Distribusi Pengembangan Sistem Distribusi Jangka Panjang Perbaikan Mutu & Keandalan Sistem

Pengembangan Sistem Distribusi

Pengembangan Sistem Distribusi Jangka Panjang

Perbaikan Mutu & Keandalan Sistem Distribusi

Panjang Perbaikan Mutu & Keandalan Sistem Distribusi Mutu dan keandalan sistem distribusi ditentukan pada

Mutu dan keandalan sistem distribusi ditentukan pada perencanaan awal sistem distribusi yang dikehendaki dalam merencanakan struktur

jaringan sistem distribusi yaitu konfigurasi radial, duoble radial.

Pemilihan tersebut tergantung pada tingkat prioritas beban dan keinginan level keandalan yang dikehendaki.

Tingkat keandalan meru pakan faktor yang penting dalam suatu sistem distribusi tenaga

listrik. Adanya pertumbuhan beban listrik yang meningkat dengan pesat, menuntut

penyedia jasa ketenagalistrikan sebagai supplier tenaga listrik untuk dapat

memasok energi listrik secara kontinu . Semakin tinggi tingkat kontinuitas maka

semakin baik pula keandalan suatu sistem distribusi. Adapun indeks - indeks yang

digunakan untuk mengetahui tingkat keandalan suatu sistem distribusi adalah

SAIFI (System Average Interruption Frequency Index), SAIDI (System Average

Interruption Duration Index), CAIDI (Customer Average Interruption Duration Index).

Untuk menjaga kontinuitas tersebut,

diimplementasikan peralatan -peralatan

tambahan berupa sectionalizer atau SSO (saklar seksi otomatis) dengan switching

time 0.03 hours dan sectionalizer bekerja sempurna. Hal ini bertujuan untuk

melokalisir gangguan -gangguan yang terjadi pada suatu sistem distribusi sehingga

hanya lokasi yang terkena gangguan saja yang padam. Hal ini dimaksudkan agar

sistem distribusi yang t idak mengalami gangguan tidak ikut padam sehingga

kontinuitas penyaluran energi listrik bagi konsumen tetap dapat dilaksanakan

dengan baik

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

9

Pengembangan Sistem Distribusi Pengembangan Sistem Distribusi Jangka Panjang SCADA sistem (Supervisory control and data

Pengembangan Sistem Distribusi

Pengembangan Sistem Distribusi Pengembangan Sistem Distribusi Jangka Panjang SCADA sistem (Supervisory control and data

Pengembangan Sistem Distribusi Jangka Panjang

SCADA sistem (Supervisory control and data acquisition) merupakan sistem peralatan pada jaringan distribusi yang berfungsi mengawasi, mengendalikan dan melakukan manuver peralatan jaringan jarak jauh secara real time. Dengan adanya SCADA

penyampaian dan pemrosesan data dari jaringan sistem distribusi akan lebih cepat

diketahui oleh operator. Informasi pengukuran dan status indikasi dari sistem tenaga listrik

dikumpulkan pada pusat kontrol (Distribution Control Centre/DCC).

Tujuan Scada sebagai sistem yang memonitor dan mengendalikan sistem distribusi tenaga

listrik diharapkan dapat mencapai beberapa tujuan :

Mempercepat proses pemulihan bagi konsumen yang tidak mengalami gangguan.

Meminimalisir energi listrik yang padam akibat gangguan dan pemadaman

Memantau performa jaringan untuk meyusun perbaikan atau pengembangan jaringan

distribusi

Mengusahakan optimalisasi pembebanan jaringan distribusi.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

10

Pengembangan Sistem Distribusi Diagram komunikasi scada sistem Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1 1

Pengembangan Sistem Distribusi

Diagram komunikasi scada sistem

Pengembangan Sistem Distribusi Diagram komunikasi scada sistem Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1 1
Pengembangan Sistem Distribusi Diagram komunikasi scada sistem Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1 1

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

11

Pengembangan Sistem Distribusi Mekanisme switching scada sistem Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1 2

Pengembangan Sistem Distribusi

Mekanisme switching scada sistem

Pengembangan Sistem Distribusi Mekanisme switching scada sistem Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1 2
Pengembangan Sistem Distribusi Mekanisme switching scada sistem Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal 1 2

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

12

JARINGAN DISTRIBUSIA. JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER B. JARINGAN DISTRIBUSI SEKUNDER SKTM SUTM SKTM GH GD TR TR

JARINGAN DISTRIBUSI A. JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER B. JARINGAN DISTRIBUSI SEKUNDER SKTM SUTM SKTM GH GD TR

A. JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER

B. JARINGAN DISTRIBUSI SEKUNDER

JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER B. JARINGAN DISTRIBUSI SEKUNDER SKTM SUTM SKTM GH GD TR TR Pelanggan TM
JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER B. JARINGAN DISTRIBUSI SEKUNDER SKTM SUTM SKTM GH GD TR TR Pelanggan TM
JARINGAN DISTRIBUSI PRIMER B. JARINGAN DISTRIBUSI SEKUNDER SKTM SUTM SKTM GH GD TR TR Pelanggan TM
SKTM SUTM SKTM GH GD TR
SKTM
SUTM
SKTM
GH
GD
TR
TR
TR

Pelanggan TM

Jaringan Distribusi primer

Sambungan

Rumah

Jaringan Distribusi

sekunder

Pelanggan TR

PERMASALAHAN KELISTRIKAN DI SISTEM DISTRIBUSI YANG PERLU DIKETAHUI OLEH PERENCANA 1. Pasokan tenaga listrik/Gardu Induk

PERMASALAHAN KELISTRIKAN DI SISTEM DISTRIBUSI

YANG PERLU DIKETAHUI OLEH PERENCANA

1. Pasokan tenaga listrik/Gardu Induk

2. Jaringan distribusi primer

3. Transformator distribusi

4. Jaringan distribusi sekunder

5. Pencurian listrik

PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK JAWA DAN SEBAGIAN LUAR JAWA 1 BUAH TRAFO 150 /
PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK JAWA DAN SEBAGIAN LUAR JAWA 1 BUAH TRAFO 150 /

PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK

JAWA DAN SEBAGIAN LUAR JAWA

1 BUAH TRAFO 150 / 20 KV BESAR 20kV PENYULANG 1 150kV PENYULANG 2 TRAFO
1 BUAH TRAFO
150 / 20 KV BESAR
20kV
PENYULANG 1
150kV
PENYULANG 2
TRAFO
ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI
SUMBER
DI SISTEM
150kV YANG
TERUS
TENAGA
60 MVA
PENYULANG n
MEMBESAR

SELAIN BISA MEMBUAT RELAI O.C PENYULANG GAGAL BEKERJA YANG MEM-, BUAT PEMADAMAN LUAS, GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DI PENYULANG 1 AKAN MEMBERI DAMPAK KEDIP TEGANGANDI PENYULANG LAIN YANG SEKIAN BANYAKNYA TERSAMBUNG DI BUS 20 KV YANG SAMA

KALAU TRAFO DIPERBESAR LAGI BREAKING CAPACITY PMT HARUS JUGA DIPERBESAR MAHAL

DAMPAK TRAFO TENAGA BESAR TERHADAP KINERJA PROTEKSI DAN KEDIP TEGANGAN PELAYANAN PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU

DAMPAK TRAFO TENAGA BESAR TERHADAP KINERJA

PROTEKSI DAN KEDIP TEGANGAN PELAYANAN

BESAR TERHADAP KINERJA PROTEKSI DAN KEDIP TEGANGAN PELAYANAN PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK LUAR JAWA 20kV

PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK

LUAR JAWA

20kV
20kV

PENYULANG 1

DISTRIBUSI DI GARDU INDUK LUAR JAWA 20kV PENYULANG 1 6,3 KV ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI PENYULANG
DISTRIBUSI DI GARDU INDUK LUAR JAWA 20kV PENYULANG 1 6,3 KV ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI PENYULANG

6,3 KV

DISTRIBUSI DI GARDU INDUK LUAR JAWA 20kV PENYULANG 1 6,3 KV ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI PENYULANG
DISTRIBUSI DI GARDU INDUK LUAR JAWA 20kV PENYULANG 1 6,3 KV ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI PENYULANG

ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI

LUAR JAWA 20kV PENYULANG 1 6,3 KV ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI PENYULANG 2 TRAFO TRAFO UNIT

PENYULANG 2

PENYULANG 1 6,3 KV ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI PENYULANG 2 TRAFO TRAFO UNIT SUMBER PEMBANGKIT PLTD
PENYULANG 1 6,3 KV ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI PENYULANG 2 TRAFO TRAFO UNIT SUMBER PEMBANGKIT PLTD

TRAFO TRAFO UNIT

SUMBER

PEMBANGKIT

PLTD

PENYULANG n

BANYAK PENYULANG YANG BISA DIPASOK DARI TRAFO TENAGA BESAR

PENYULANG UMUM DAN PELANGGAN BESAR BISA DILAYANI SEKALIGUS

PELANGGAN BESAR SERING MENGELUH ADANYA TEGANGAN KEDIP AKIBAT GANGGUAN DI JARINGAN ?

PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK KERUGIAN OPERASI DISTRIBUSI 20 KV DAN TURUNNYA TINGKAT MUTU PELAYANAN
PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK KERUGIAN OPERASI DISTRIBUSI 20 KV DAN TURUNNYA TINGKAT MUTU PELAYANAN

PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK

KERUGIAN OPERASI DISTRIBUSI 20 KV DAN TURUNNYA TINGKAT MUTU PELAYANAN : (Kedip)

1. FREKWENSI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DI JARINGAN 20 KV CUKUP TINGGI

2. SETIAP KALI PENYULANG 20 KV MENGALAMI

GANGGUAN HUBUNG SINGKAT, TEGANGAN BUS

TURUN SAMPAI TINGGAL BEBERAPA % SAJA

MENGALAMI KEDIP TEGANGAN

3. KEDIP TEGANGAN DIRASAKAN OLEH SELURUH PENYULANG YANG TERSAMBUNG DI BUS 20 KV YANG SAMA

4. PELANGGAN BESAR / INDUSTRI YANG TIDAK TAHAN TERHADAP TEGANGAN KEDIP MENGELUH WALAU DALAM TDL TELAH DISEBUTKAN BAHWA KEDIP DI 20 KV DIJAMIN PALING LAMBAT 1 DETIK

LALU HARUS BAGAIMANA ! ?

DAMPAK TRAFO TENAGA BESAR TERHADAP KINERJA PROTEKSI DAN KEDIP TEGANGAN PELAYANAN PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU

DAMPAK TRAFO TENAGA BESAR TERHADAP KINERJA

PROTEKSI DAN KEDIP TEGANGAN PELAYANAN

BESAR TERHADAP KINERJA PROTEKSI DAN KEDIP TEGANGAN PELAYANAN PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK KEMUNGKINAN PERBAIKAN

PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK

KEMUNGKINAN PERBAIKAN KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI 20 KV DAN PENINGKATAN MUTU PELAYANAN :

1. FREKWENSI GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DI JARINGAN 20 KV DITURUNKAN PEMELIHARAAN, TAMBAH JARINGAN

2. TURUNKAN ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT,

DENGAN MEMISAHKAN PASOKAN BUS 20KV ME-

LALUI BEBERAPA TRAFO TENAGA BERKAPASITAS KECIL

3. PELANGGAN BESAR / INDUSTRI YANG TIDAK TAHAN TEGANGAN KEDIP DIPASOK DARI BUS YANG

TERPISAH DARI BUS YANG MEMASOK PELANGGAN

TAHAN KEDIP

PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK PENYULANG 20 KV PLN (JAWA) DIPASOK DARI : 2 BUAH
PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK PENYULANG 20 KV PLN (JAWA) DIPASOK DARI : 2 BUAH

PERMASALAHAN DISTRIBUSI DI GARDU INDUK

PENYULANG 20 KV PLN (JAWA) DIPASOK DARI :

2 BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL

BUS 1

20kV

BUS 1 20kV

PENYULANG 1 - 1

BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO
BUAH TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO

150kV

TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO TENAGA
TRAFO 150 / 20 KV KECIL BUS 1 20kV PENYULANG 1 - 1 150kV TRAFO TENAGA

TRAFO

TENAGA

@ 30 MVA

PENYULANG n - 1

ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI

SUMBER DI SISTEM 150kV YANG TERUS MEMBESAR

BUS 2 20kV

BUS 2

20kV

SUMBER DI SISTEM 150kV YANG TERUS MEMBESAR BUS 2 20kV PENYULANG 1-2 PENYULANG n- 2 DENGAN
SUMBER DI SISTEM 150kV YANG TERUS MEMBESAR BUS 2 20kV PENYULANG 1-2 PENYULANG n- 2 DENGAN

PENYULANG 1-2

150kV YANG TERUS MEMBESAR BUS 2 20kV PENYULANG 1-2 PENYULANG n- 2 DENGAN JUMLAH PENYULANG YANG
150kV YANG TERUS MEMBESAR BUS 2 20kV PENYULANG 1-2 PENYULANG n- 2 DENGAN JUMLAH PENYULANG YANG
150kV YANG TERUS MEMBESAR BUS 2 20kV PENYULANG 1-2 PENYULANG n- 2 DENGAN JUMLAH PENYULANG YANG

PENYULANG n- 2

DENGAN JUMLAH PENYULANG YANG ADA DI SUATU G.I, GANGGUAN PADA PENYULANG 1-1 :

1. ARUS GANGGUAN KECIL CT TIDAK JENUH.

2. KEDIP TEGANGAN TIDAK TERLALU DIRASAKAN OLEH PENYULANG YANG DIPASOK TRAFO LAIN.

21

CARA LAIN TURUNKAN LEVEL HUBUNG SINGKAT DI SISTEM DISTRIBUSI 20 KV CARA 1 CARA 2
CARA LAIN TURUNKAN LEVEL HUBUNG SINGKAT DI SISTEM DISTRIBUSI 20 KV CARA 1 CARA 2

CARA LAIN TURUNKAN LEVEL HUBUNG SINGKAT DI SISTEM DISTRIBUSI 20 KV

CARA 1 CARA 2 20kV PENYULANG 1 6,3kV 150kV 66 kV PENYULANG 2 TRAFO UNIT
CARA 1
CARA 2
20kV
PENYULANG 1
6,3kV
150kV
66 kV
PENYULANG 2
TRAFO UNIT
TRAFO
ALAT PENGUKURAN / PROTEKSI
SUMBER
DARI PLTD
SUMBER
DARI SISTEM
150kV YANG
TERUS
MEMBESAR
TENAGA
INTER
BUS TRAFO
100~300 MVA
30 MVA
PENYULANG n
PENYULANG KONSUMEN BESAR 66 KV
DENGAN TRAFO
INTER BUS
PENYULANG TRANSFER ANTAR AREA DENGAN 66 KV

1. TRAFO INTER BUS 150 KV KE 66 KV MENJADI PEMBATAS ARUS GANGGUAN DI

PENYULANG 20 KV KOORDINASI OCR PENYULANG INCOMING SELEKTIF

2. KONSUMEN BESAR YANG DIPASOK MELALUI 66 KV, PEMASOK BISA MEMBERI JAMINAN KEDIP LEBIH CEPAT DIBANDINGKAN MELALUI PENYULANG 20 KV

3. TRANSFER ANTAR AREA MELALUI 66-70 KV AKAN BISA MEMBERI BATASAN TANGGUNG JAWAB PERHITUNGAN LOSSES
3. TRANSFER ANTAR AREA MELALUI 66-70 KV AKAN BISA MEMBERI BATASAN TANGGUNG JAWAB PERHITUNGAN LOSSES

3. TRANSFER ANTAR AREA MELALUI 66-70 KV AKAN BISA MEMBERI BATASAN TANGGUNG JAWAB PERHITUNGAN LOSSES YANG JELAS DIBANDINGKAN TRANSFER MELALUI PENYULANG 20 KV

4. PASOKAN KE SUATU AREA KOTA BISA DENGAN JARINGAN LOOP 66 KV, JARINGAN LOOP INI DISUNTIK DAYA LISTRIK DARI SISTEM 150 KV MELALUI INTERBUS TRAFO 150 / 66 KV DENGAN DAYA ANTARA 100 ~ 300 MVA SESUAI KEBUTUHAN BEBAN AREA KOTA TERSEBUT

66 KV 66 KV 20 KV 20 KV 20 KV TRAFO 20 KV 20 KV
66 KV
66 KV
20 KV
20 KV
20 KV
TRAFO
20 KV
20 KV
TENAGA
TRAFO
TENAGA
66 KV

150 KV

AREA KOTA TERSEBUT 66 KV 66 KV 20 KV 20 KV 20 KV TRAFO 20 KV

IBT

AREA KOTA TERSEBUT 66 KV 66 KV 20 KV 20 KV 20 KV TRAFO 20 KV
AREA KOTA TERSEBUT 66 KV 66 KV 20 KV 20 KV 20 KV TRAFO 20 KV

IBT

PERMASALAHAN DI JARINGAN TM 20 kV • Buruknya tegangan dan kualitas pelayanan di sisi pelanggan

PERMASALAHAN DI JARINGAN TM 20 kV

Buruknya tegangan dan kualitas pelayanan di sisi pelanggan

Tingginya susut energi di jaringan distribusi

Rendahnya utilisasi jaringan distribusi

distribusi • Rendahnya utilisasi jaringan distribusi PERMASALAHAN DI TRANSFORMATOR DISTRIBUSI • Over Load •

PERMASALAHAN DI TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

Over Load

Susut energi di trafo

PERMASALAHAN DI JARINGAN TR

Beban tidak seimbang

jaringan netral ada arus (losses)

PERMASALAHAN PENCURIAN LISTRIK

Dengan beban harmonik

UNTUK MENGANTISIPASI PERMASALAHAN DISTRIBUSI DIPERLUKAN PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI  Sistem Distribusi merupakan

UNTUK MENGANTISIPASI PERMASALAHAN DISTRIBUSI DIPERLUKAN PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI

Sistem Distribusi merupakan Titik Transaksi dalam jual

tenaga listrik antara Pelanggan dengan Pemasok listrik

Merupakan Pemasukan penerimaan energi listrik dari pelanggan ke pemasok tenaga listrik

Merupakan ‘Jendela Etalase’ bagi pelanggan untuk menilai

baik buruknya citra Pemasok dalam melayani pelanggan

dibidang kelistrikan.

Tersedianya Sarana Distribusi yang cukup, andal , efisien dan kontinue

Keterbatasan Sumber Pendanaan.

Perencanaan yang baik merupakan keharusan

PEDOMAN PERHITUNGAN SUSUT TEKNIK PADA TRAFO Besaran maksimal dari drop tegangan maupun susut dari trafo

PEDOMAN PERHITUNGAN SUSUT TEKNIK PADA TRAFO

PEDOMAN PERHITUNGAN SUSUT TEKNIK PADA TRAFO Besaran maksimal dari drop tegangan maupun susut dari trafo distribusi

Besaran maksimal dari drop tegangan maupun susut dari trafo distribusi perlu ditentukan , sehingga dalam pengoperasiannya akan didapat hasil kinerja yang optimal.

DROP TEGANGAN MAKSIMUM TRAFO DISTRIBUSI Drop tegangan maksimum trafo distribusi disisi sekunder trafo saat

beban maksimum adalah 3 % ( SPLN 72 : 1987).

KORELASI BEBAN TERHADAP SUSUT TRAFO DISTRIBUSI

LOSSES TRAFO = ( i + c. (Pr) 2 .LLF)

Dimana :

i

= Rugi Besi Trafo ( kW)

c

= Rugi Tembaga ( kW)

LLF = Load Loss factor .0,3 LF+0,7(LF)^2

Pr

Catatan = Rugi Besi dan tembaga diambil dari SPLN 50:1997 Losses maksimum 1,5 % ( pada temperatur 75 0 C )

= Pembebanan Trafo rata-rata (%).

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

24

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal 2 5

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

25

PEDOMAN SUSUT TEKNIK PADA JARINGAN DISTRIBUSI KORELASI DROP TEGANGAN DAN SUSUT UNTUK MENDAPATKAN DROP TEG
PEDOMAN SUSUT TEKNIK PADA JARINGAN DISTRIBUSI KORELASI DROP TEGANGAN DAN SUSUT UNTUK MENDAPATKAN DROP TEG

PEDOMAN SUSUT TEKNIK PADA JARINGAN DISTRIBUSI

KORELASI DROP TEGANGAN DAN SUSUT UNTUK MENDAPATKAN DROP TEG DAN SUSUT YANG DIKEHENDAKI PERLU MEMASUKKAN

PARAMETER-PARAMETER ANTARA LAIN :

- Ukuran (Luas penampang)/jenis Penghantar

- Beban Nominal Penghantar

- Panjang Jaringan

- Cos Phi

SPLN 72 : 1987 DAPAT DIDESAIN SEBUAH JARINGAN TM DENGAN

KRITERIA DROP TEGANGAN SBB :

- Drop tegangan JARINGAN SPINDEL max 2 %

- Drop tegangan JARINGAN OPEN LOOP DAN RADIAL max 5 %

- Susut Teknis JARINGAN SPINDEL max 1 %

- Susut Teknis JARINGAN OPEN LOOP DAN RADIAL max 2,3 %

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

26

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal 2 7
Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal 2 7
Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal 2 7

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

27

FORMULA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIS SISTEM 3 FASA DAN 3 KAWAT BEBAN DI UJUNG DAN SEIMBANG
FORMULA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIS SISTEM 3 FASA DAN 3 KAWAT BEBAN DI UJUNG DAN SEIMBANG

FORMULA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIS SISTEM 3 FASA DAN 3 KAWAT

BEBAN DI UJUNG DAN SEIMBANG :

ESusut_teknis = 3*(I)^2 * R * L * LLF

( Watt )

BEBAN DI TENGAH DAN UJUNG DAN SEIMBANG :

ESusut_teknis = 3*(I)^2 * R * L * LLF * LDF1

BEBAN MERATA

DAN SEIMBANG :

ESusut_teknis = 3*(I)^2 * R * L * LLF * LDF2

( Watt )

( Watt )

FORMULA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIS SISTEM 3 FASA DAN 3 KAWAT Dimana :

I

=

Arus beban yang mengalir pada jaringan

R

= Resistansi Jaringan (Ohm/km)

L

=

Panjang Jaringan (km)

LLF

= Loss Load Factor

LDF1

= Load Density faktor (0,625)

LDF2

= Load density faktor (0,333)

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

28

METODA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIK SPLN 72 : 1987 DAPAT DIDESAIN SEBUAH JARINGAN TEGANGAN RENDAH DENGAN
METODA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIK SPLN 72 : 1987 DAPAT DIDESAIN SEBUAH JARINGAN TEGANGAN RENDAH DENGAN

METODA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIK SPLN 72 : 1987 DAPAT DIDESAIN SEBUAH

JARINGAN TEGANGAN RENDAH DENGAN KRITERIA DROP TEGANGAN SBB :

- Drop Tegangan Rendah Maksimum 4 %

- Susut Teknis maksimum 2,5%

- Jenis Penghantar yang digunakan TIC 3x70 + 50 mm2

FORMULA PERHITUNGAN DROP TEGANGAN SISTEM 3 FASA DAN 4 KAWAT :

BEBAN DI UJUNG DAN SEIMBANG :

% Drop Voltage = (P*L*(R*Cos Q + X*Sin Q)*100)/(VLL) ^2

BEBAN DI TENGAH DAN UJUNG SERTA SEIMBANG :

% Drop Voltage = (P*L*(R*Cos Q + X*Sin Q)*0,75*100)/(VLL) ^2

BEBAN MERATA

DAN SEIMBANG :

% Drop Voltage = (P*L*(R*Cos Q + X*Sin Q)*0,50*100)/(VLL) ^2

FORMULA PERHITUNGAN DROP TEGANGAN SISTEM 3 FASA DAN 4 KAWAT :

% Drop Voltage = Jatuh Tegangan (%) Dimana :

P

=

Daya Nominal yang tersalur (VA)

L

=

Panjang Trunc Line JTM (kms)

R

=

Resistance Jaringan (Ohm/km)

X

=

Reactance Jaringan (Ohm/km)

VLL = Tegangan Phasa to Phasa (400V) Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

29

FORMULA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIS BEBAN DI UJUNG DAN SEIMBANG : ESusut_teknis = 3*(I)^2 * R

FORMULA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIS

BEBAN DI UJUNG DAN SEIMBANG :

ESusut_teknis = 3*(I)^2 * R * L * LLF

SISTEM 3 FASA DAN 4 KAWAT

( Watt )

BEBAN DI TENGAH DAN UJUNG DAN SEIMBANG :

ESusut_teknis = 3*(I)^2 * R * L * LLF * LDF1

BEBAN MERATA

DAN SEIMBANG :

ESusut_teknis = 3*(I)^2 * R * L * LLF * LDF2

( Watt )

( Watt )

= 3*(I)^2 * R * L * LLF * LDF2 ( Watt ) ( Watt )

FORMULA PERHITUNGAN SUSUT TEKNIS SISTEM 3 FASA DAN 4 KAWAT Dimana :

I

=

Arus beban yang mengalir pada jaringan (A)

R

= Resistansi Jaringan (Ohm/km)

L

=

Panjang Jaringan (kms)

LLF

= Loss Load Factor

LDF1

= Load Density faktor (0,625)

LDF2

= Load density faktor (0,333)

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

30

JUMLAH SAMBUNGAN RUMAH (SR ) SERI/DERET DIBATASI UNTUK MENDAPATKAN DROP TEGANGAN MAKSIMUM 1 % (SPLN
JUMLAH SAMBUNGAN RUMAH (SR ) SERI/DERET DIBATASI UNTUK MENDAPATKAN DROP TEGANGAN MAKSIMUM 1 % (SPLN

JUMLAH SAMBUNGAN RUMAH (SR ) SERI/DERET DIBATASI UNTUK MENDAPATKAN DROP

TEGANGAN MAKSIMUM 1 % (SPLN 72 : 1987) TEGANGAN PELAYANAN TIDAK BOLEH KURANG

DARI 208 VOLT (SESUAI SPLN NO. 1 : 1995 )

FORMULA PERHITUNGAN SUSUT 1 SR DERET ADALAH :

S Watt

= 2 * ( I ) ^2 * RL * LLF

S kWh

=

2 * ( I ) ^2 * RL * LLF * T * 10-3

FORMULA PERHITUNGAN SUSUT 5 SR DERET ADALAH :

S Watt

=

11 * ( I ) ^2 * RL * LLF

S kWh

=

11 * ( I ) ^2 * RL * LLF * T * 10-3

Dimana :

I = Arus beban rata-rata yang mengalir pada waktu beban puncak RL = Tahanan penghantar dengan panjang rata-rata 35 m Penampang disesuaikan dengan beban

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

31

TABEL PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150mm2, BEBAN DI UJUNG Simple,Simple, Inspiring,Inspiring,

TABEL PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150mm2, BEBAN DI UJUNG

BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150mm2, BEBAN DI UJUNG Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing,
BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150mm2, BEBAN DI UJUNG Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing,

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

32

TABEL PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150mm2, BEBAN DI UJUNG Simple,Simple, Inspiring,Inspiring,

TABEL PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150mm2, BEBAN DI UJUNG

BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150mm2, BEBAN DI UJUNG Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing,
BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150mm2, BEBAN DI UJUNG Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing,

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

33

TABEL PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150 mm2 BEBAN MERATA LAMPIRAN 9b

TABEL PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU

A3C 150 mm2 BEBAN MERATA

VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU A3C 150 mm2 BEBAN MERATA LAMPIRAN 9b TABEL PANJANG JARINGAN
LAMPIRAN 9b

LAMPIRAN

9b

TABEL PANJANG JARINGAN VS BEBAN PENYULANG

UNTUK BEBERAPA KONDISI DROP TEGANGAN YANG DIHARAPKAN

PENGHANTAR A3C150 MM2

KONDISI BEBAN 3 PHASA MERATA DAN SEIMBANG

BEBAN PENYULANG TEGANGAN PANJANG JTM ( KMS) L-L DROP TEGANGAN YANG DIHARAPKAN ( % )
BEBAN PENYULANG
TEGANGAN
PANJANG JTM ( KMS)
L-L
DROP TEGANGAN YANG DIHARAPKAN ( % )
( MVA )
(A)
( KV)
2
3,0
3,5
4,0
4,5
5,0
( % ) ( MVA ) (A) ( KV) 2 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0 1,00
( % ) ( MVA ) (A) ( KV) 2 3,0 3,5 4,0 4,5 5,0 1,00

1,00

29

20

42,60

63,90

74,55

85,21

95,86

106,51

2,00

58

20

21,30

31,95

37,28

42,60

47,93

53,25

3,00

87

20

14,20

21,30

24,85

28,40

31,95

35,50

4,00

115

20

10,65

15,98

18,64

21,30

23,96

26,63

5,00

144

20

8,52

12,78

14,91

17,04

19,17

21,30

6,00

173

20

7,10

10,65

12,43

14,20

15,98

17,75

7,00

202

20

6,09

9,13

10,65

12,17

13,69

15,22

8,00

231

20

5,33

7,99

9,32

10,65

11,98

13,31

14,65

425

20

2,91

4,36

5,09

5,82

6,55

7,27

Catatan :

KHA A3C 150mm2 adalah 425 Ampere

Catatan : KHA A3C 150mm2 adalah 425 Ampere
Catatan : KHA A3C 150mm2 adalah 425 Ampere

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

34

PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG.TERTENTU TIC 3x70 + 50 mm2, BEBAN DI UJUNG TABEL

PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG.TERTENTU

TIC 3x70 + 50 mm2, BEBAN DI UJUNG

UNTUK DROP TEG.TERTENTU TIC 3x70 + 50 mm2, BEBAN DI UJUNG TABEL PANJANG JARINGAN VS BEBAN

TABEL PANJANG JARINGAN VS BEBAN PENYULANG

UNTUK BEBERAPA KONDISI DROP TEGANGAN YANG DIHARAPKAN

PENGHANTAR TIC 3 x 70 + 50 MM2

KONDISI BEBAN 3 PHASA DI UJUNG DAN SEIMBANG

BEBAN PENYULANG

TEGANGAN

PANJANG JTR (MS)

 

L-L

 

DROP TEGANGAN YANG DIHARAPKAN ( % )

(K VA )

(A)

( V)

2

3,0

3,5

4,0

5,0

6,0

25,00

36

400

298

447

522

596

746

895

50,00

72

400

149

224

261

298

373

447

75,00

108

400

99

149

174

199

249

298

100,00

144

400

75

112

130

149

186

224

125,00

180

400

60

89

104

119

149

179

130,25

188

400

57

86

100

114

143

172

130,25 188 400 57 86 100 114 143 172 Catatan : KHA TIC 3 X 70

Catatan :

KHA TIC 3 X 70 + 50 mm2 adalah 188 Ampere

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

35

PANJANG VS BEBAN UNTUK LOSSES TERTENTU TIC 3x150 mm2, BEBAN DI UJUNG LAMPIRAN 18 a

PANJANG VS BEBAN UNTUK LOSSES TERTENTU

TIC 3x150 mm2, BEBAN DI UJUNG

VS BEBAN UNTUK LOSSES TERTENTU TIC 3x150 mm2, BEBAN DI UJUNG LAMPIRAN 18 a TABEL PANJANG
LAMPIRAN 18 a

LAMPIRAN

18 a

TABEL PANJANG JARINGAN VS BEBAN PENYULANG

UNTUK BEBERAPA KONDISI SUSUT TEKNIS YANG DIHARAPKAN

PENGHANTAR TIC 3x 70 + 50 MM2

KONDISI BEBAN 3 PHASA DI UJUNG DAN SEIMBANG

BEBAN PENYULANG

TEGANGAN

PANJANG JTR ( MS)

 

L-L

 

LOSSES YANG DIHARAPKAN ( % )

 

( KVA )

(A)

( V)

2,0

3,0

3,5

4,0

4,5

5,0

25

36

400

246

368

430

491

553

614

50

72

400

123

184

215

246

276

307

75

108

400

82

123

143

164

184

205

100

144

400

61

92

107

123

138

153

130

188

400

47

71

82

94

106

118

100 144 400 61 92 107 123 138 153 130 188 400 47 71 82 94

Catatan :

KHA TIC 3 X 70 + 50 mm2 adalah 188 Ampere

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

36

TABEL PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU TIC 3x70 + 50 mm2, BEBAN MERATA
TABEL PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU TIC 3x70 + 50 mm2, BEBAN MERATA

TABEL PANJANG VS BEBAN UNTUK DROP TEG TERTENTU

TIC 3x70 + 50 mm2, BEBAN MERATA

LAMPIRAN

17a

TABEL PANJANG JARINGAN VS BEBAN PENYULANG

UNTUK BEBERAPA KONDISI DROP TEGANGAN YANG DIHARAPKAN

PENGHANTAR TIC 3 x70 + 50 MM2

KONDISI BEBAN 3 PHASA MERATA DAN SEIMBANG

BEBAN PENGHANTAR

TEGANGAN

PANJANG JTR (MS)

 

L-L

 

DROP TEGANGAN YANG DIHARAPKAN ( % )

(K VA )

(A)

( V)

2

3,0

3,5

4,0

5,0

25

36

400

596

895

1044

1.193

1491

50

72

400

298

447

522

596

746

75

108

400

199

298

348

398

497

100

144

400

149

224

261

298

373

125

180

400

119

179

209

239

298

130

188

400

57

86

100

114

143

298 130 188 400 57 86 100 114 143 Catatan : KHA TIC 3 X 70

Catatan :

KHA TIC 3 X 70 + 50 mm2 adalah 188 Ampere

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

37

PANJANG VS BEBAN UNTU K LOSSES TERTENTU TIC 3x70 +50 MM2, BEBAN MERATA LAMPIRAN 19
PANJANG VS BEBAN UNTU K LOSSES TERTENTU TIC 3x70 +50 MM2, BEBAN MERATA LAMPIRAN 19

PANJANG VS BEBAN UNTU K LOSSES TERTENTU

TIC 3x70 +50 MM2, BEBAN MERATA

LAMPIRAN

19 a

TABEL PANJANG JARINGAN VS BEBAN PENYULANG

UNTUK BEBERAPA KONDISI SUSUT TEKNIS YANG DIHARAPKAN

PENGHANTAR TIC 3 X 70 + 50 MM2

KONDISI BEBAN 3 PHASA MERATA DAN SEIMBANG

BEBAN PENYULANG

TEGANGAN

PANJANG JTR ( MS)

 

L-L

 

LOSSES YANG DIHARAPKAN ( % )

 

( KVA )

(A)

( V)

2,0

3,0

3,5

4,0

4,5

5,0

25

36

400

738

1106

1291

1475

1659

1844

50

72

400

369

553

645

738

830

922

75

108

400

246

369

430

492

553

615

100

144

400

184

277

323

369

415

461

130

188

400

142

212

248

283

319

354

Catatan :

KHA TIC 3 X 70 + 50 mm2 adalah 188 Ampere

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

38

Contoh : 60 MVA I2 Diketahui : Pelanggan A=2 MVA, tegangan 20 kV , jarak

Contoh :

60 MVA

Contoh : 60 MVA I2 Diketahui : Pelanggan A=2 MVA, tegangan 20 kV , jarak dari

I2Contoh : 60 MVA Diketahui : Pelanggan A=2 MVA, tegangan 20 kV , jarak dari GI

Diketahui :

Pelanggan A=2 MVA, tegangan 20 kV , jarak dari GI = 5 km , menggunakan kabel XLPE 3x150 mm² Pelanggan B=3 MVA, tegangan 20 kV , jarak dari A = 5 km , menggunakan kabel XLPE 3x150 mm² Ditanyakan jatuh tegangan dan losses (24 jam per hari dalam 1 bulan) di titik A dan B ? Z xlpe (150 mm²) = 0.206 + j 0.106 dan load factor (LF) = 0.6

Jawaban :

I1 = 2000 kVA / (√3*20 kV) = 57.74 Amp IA = I1 + I2 = 57.74 + 86.6 = 144.34 Amp

- Perhitungan losses = 3* (((144.34)²*0.206 *5*24*30 + (86.6)²*0.206*5*24*30))*LLF/1000

I2 = 3000 kVA / (√3*20 kV) = 86.6 Amp IB = I2 = 86.6 Amp

= 3 * 21012.9 kWh*0.432 = 27232.7 kWh

- Jatuh Tegangan dengan asumsi cos θ = 0.85 dan sin θ = 0.65 ΔVᴀ = √3 * (144.34*0.206*5*0.85 + 144.34*0.106*5*0.605) = 305 Volt teg di A = 20 kV 305 Volt = 19.695 Volt ΔVᴃ = 19.695 - 3 * (86.6*0.206*5*0.85 + 86.6*0.106*5*0.605) Volt = 19.512 Volt

Simple,Simple, Inspiring,Inspiring, Performing,Performing, PhenomenalPhenomenal

39

BAHAN PERENCANAAN 1. Kepadatan penduduk: Pusat statistik 2. Pemakaian lahan kota : Dinas tata kota

BAHAN PERENCANAAN

BAHAN PERENCANAAN 1. Kepadatan penduduk: Pusat statistik 2. Pemakaian lahan kota : Dinas tata kota Gedung

1. Kepadatan penduduk: Pusat statistik

2. Pemakaian lahan kota : Dinas tata kota

Gedung untuk kantor / toko : 20 - 40 Watt / m2

Perumahan

: 10

- 20

Watt / m2

Hotel

: 10

- 30

Watt / m2

Sekolah

: 15

- 30

Watt / m2

Rumah sakit

: 10

- 30 Watt / m2

3. Kebutuhan penyediaan Tenaga listrik

Pusat Listrik

Penyaluran: Transmisi, Gardu induk, jaringan TM & TR

Beban

4. Perencanaan:

- jangka panjang

- jangka menengah

- jangka pendek

5. Data perkembangan beban pada tahun sebelumnya

PENDEKATAN PERENCANAAN Keterkaitan yang sangat erat antara Kebutuhan Fisik JTM, JTR dan Trafo Distribusi dengan
PENDEKATAN PERENCANAAN
Keterkaitan yang sangat erat antara Kebutuhan Fisik JTM, JTR
dan Trafo Distribusi dengan Beban Puncak
 Jaringan Tegangan Menengah dipasok dari Gardu Induk atau PLTD sebagai fungsi panjang jaringan yang
 Jaringan Tegangan Menengah dipasok dari Gardu Induk atau
PLTD sebagai fungsi panjang jaringan yang diperhitungkan
sebagai Susut Energi , Tegangan yang diijinkan, dan maksimal
pembebanan
 Trafo Distribusi diambil dari jaringan tegangan menengah yang diperhitungkan pada Beban Puncak dan Prosentase
 Trafo Distribusi diambil dari jaringan tegangan menengah yang
diperhitungkan pada Beban Puncak dan Prosentase Pembebanan
yang diijinkan

Jaringan Tegangan Rendah berhubungan erat dengan Kapasitas Trafo

Tegangan Rendah berhubungan erat dengan Kapasitas Trafo Distribusi , Jumlah Pelanggan yang dilayani dan Susut Energi

Distribusi , Jumlah Pelanggan yang dilayani dan Susut Energi , Tegangan yang diijinkan dan maksimal pembebanan

Trafo Distribusi , Jumlah Pelanggan yang dilayani dan Susut Energi , Tegangan yang diijinkan dan maksimal
Trafo Distribusi , Jumlah Pelanggan yang dilayani dan Susut Energi , Tegangan yang diijinkan dan maksimal
PERMASALAHAN DALAM OPERASI & PERENCANAAN JARINGAN DISTRIBUSI 1. Di Jawa-Bali • Kerapatan bebannya tinggi •
PERMASALAHAN DALAM OPERASI & PERENCANAAN JARINGAN DISTRIBUSI 1. Di Jawa-Bali • Kerapatan bebannya tinggi •
PERMASALAHAN DALAM OPERASI & PERENCANAAN JARINGAN DISTRIBUSI 1. Di Jawa-Bali • Kerapatan bebannya tinggi •

PERMASALAHAN DALAM OPERASI & PERENCANAAN JARINGAN DISTRIBUSI

DALAM OPERASI & PERENCANAAN JARINGAN DISTRIBUSI 1. Di Jawa-Bali • Kerapatan bebannya tinggi • Gangguan
1. Di Jawa-Bali • Kerapatan bebannya tinggi • Gangguan jaringan yang sering terjadi akibat beban
1. Di Jawa-Bali
• Kerapatan bebannya tinggi
• Gangguan jaringan yang sering terjadi
akibat beban lebih.
• Banyak pelanggan industri dan bisnis dengan
daya > 1 MVA
• Perluasan jaringan sulit perijinannya
• Program lisdes semakin jauh dari GI
• Beberapa lokasi ( sisi selatan P Jawa ) terjadi
drop tegangan ( < 90% )
PERMASALAHAN DALAM OPERASI & PERENCANAAN JARINGAN DISTRIBUSI 2. Di Luar Jawa-Bali  Area pelayanannya sangat
PERMASALAHAN DALAM OPERASI & PERENCANAAN
JARINGAN DISTRIBUSI
2. Di Luar Jawa-Bali
 Area pelayanannya sangat luas
 Seringkali dengan kepadatan penduduk yang sangat
rendah
 Sering dijumpai penyulang distribusi tegangan menengah
yang sangat panjang
 Dari segi Teknis dan Ekonomis tidak layak untuk
dibangun
 Namun terpaksa dibangun karena alasan sebagai berikut :
• Belum tersedianya fasilitas Transmisi Tegangan
Tinggi di suatu daerah
• Interkoneksi PLTD tersebar ke sistem yang lebih
ekonomis
• Program listrik desa
Permasalahan yang umum dihadapi pada sistem kelistrikan di Luar Jawa SUTM SUTM SUTM SUTM CABANG/RANTING
Permasalahan yang umum dihadapi pada sistem kelistrikan di Luar Jawa SUTM SUTM SUTM SUTM CABANG/RANTING

Permasalahan yang umum dihadapi pada sistem kelistrikan di Luar Jawa

SUTM

SUTM

SUTM

SUTM

CABANG/RANTING

Batas Kota / Desa

Gardu Induk TT/ TMkelistrikan di Luar Jawa SUTM SUTM SUTM SUTM CABANG/RANTING Batas Kota / Desa Gardu Hubung TM

Gardu Hubung TMdi Luar Jawa SUTM SUTM SUTM SUTM CABANG/RANTING Batas Kota / Desa Gardu Induk TT/ TM

Transmisi TT penyulang TM
Transmisi TT
penyulang TM
FORMULASI PERHITUNGAN KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Peningkatan Mutu & Keandalan (Quality & Reliability) &
FORMULASI PERHITUNGAN KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI
FORMULASI PERHITUNGAN KEBUTUHAN
FISIK DISTRIBUSI

Peningkatan Mutu & Keandalan (Quality & Reliability) &

Penurunan susut energi

Pemasangan AVR (perbaikan tegangan di sisi pelanggan --> voltage support, menghilangkan ‘voltage sag’)

Pemasangan Capacitor (perbaikan tegangan di sisi pelanggan)

Otomatisasi Jaringan Distribusi (penurunan waktu gangguan)

Pemberatan penghantar

Catatan :

Perlu di ‘back-up’ dengan analisa yang detil (kapasitas dan lokasi penempatan), disertai analisa ekonomis (‘Benefit to Cost’ atau ‘Least Cost’ Analysis)

FORMULASI PERHITUNGAN KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Rehabilitasi Dapat diperkirakan berdasarkan prosentase dari jumlah Aset
FORMULASI PERHITUNGAN KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Rehabilitasi Dapat diperkirakan berdasarkan prosentase dari jumlah Aset

FORMULASI PERHITUNGAN KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI

FORMULASI PERHITUNGAN KEBUTUHAN FISIK DISTRIBUSI Rehabilitasi Dapat diperkirakan berdasarkan prosentase dari jumlah Aset

Rehabilitasi Dapat diperkirakan berdasarkan prosentase dari jumlah Aset Distribusi yang beroperasi.

Catatan :

Perlu di ‘back-up’ dengan database lengkap usia

peralatan, kondisi peralatan yang beroperasi, serta masa pakai (life time) dari masing-masing

peralatan.

ALIRAN DAYA Analisa aliran daya pada jaringan Distribusi Tegangan Menengah (TM) seringkali dilakukan dalam tahap

ALIRAN DAYA

ALIRAN DAYA Analisa aliran daya pada jaringan Distribusi Tegangan Menengah (TM) seringkali dilakukan dalam tahap

Analisa aliran daya pada jaringan Distribusi Tegangan Menengah (TM) seringkali dilakukan dalam tahap perencanaan sistem distribusi. Adapun kegunaannya antara lain untuk :

Mengetahui drop tegangan dan tegangan pada penyulang TM

Memprakirakan pembebanan penyulang

Menghitung rugi-rugi (susut) daya dan energi pada

penyulang

Menentukan kompensasi daya reaktif yang diperlukan guna memperbaiki faktor daya (power factor) serta

mengurangi susut daya dan energi pada penyulang

Perhitungan aliran daya merupakan alat bantu yang sangat berguna dalam proses perencanaan sistem distribusi, dimana

Perhitungan aliran daya merupakan alat bantu yang sangat berguna dalam proses perencanaan sistem distribusi, dimana didalamnya banyak dilakukan analisa untuk pengambilan keputusan menentukan alternatif dengan

biaya termurah, antara lain :

Pemilihan level tegangan pasokan suatu pusat beban (dengan transmisi TT atau dengan penyulang distribusi TM)

Pemilihan ukuran penampang konduktor

Penentuan kapasitas, lokasi dan waktu dibutuhkannya Gardu Induk TT/ TM baru

Analisa kebutuhan Voltage Regulator dan Kapasitor pada

jaringan distribusi TM

FAKTOR YANG DIPERLUKAN DALAM PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI Faktor demand: perbandingan antara demand maksimum (beban

FAKTOR YANG DIPERLUKAN DALAM PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI

FAKTOR YANG DIPERLUKAN DALAM PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI Faktor demand: perbandingan antara demand maksimum (beban

Faktor demand: perbandingan antara demand maksimum (beban puncak) Terhadap daya tersambung

Digunakan untuk menentukan kapasitas (juga biaya) dari peralatan

Tenaga listrik untuk melayani beban, karena pengaruh terhadap investasi

Misal:

Peralatan rumah tangga daya tersambung:

Lampu pijar 3 x 60 W

= 180 W

3 x 40 W

= 120 W

4 x 100 W= 400 W

Jumlah daya tersambung = 800 W

Demand maksimum

= 500 W Demand maksimum

Faktor demand =

Total daya tersambung

=

Faktor demand untuk jenis bangunan:

Perumahan sederhana Perumahan besar Kantor

: 50 75% : 40 65% : 60 80%

500

800

Toko sedang

: 40 60%

Toko serba ada Industri sedang

: 70 90% : 35 65%

X 100 % = 62,5%

Faktor beban: perbandingan antara beban rata-rata terhadap beban puncaknya dalam periode tertentu, beban puncak atau
Faktor beban: perbandingan antara beban rata-rata terhadap beban puncaknya dalam periode tertentu, beban puncak atau

Faktor beban: perbandingan antara beban rata-rata terhadap beban puncaknya dalam periode tertentu, beban puncak atau rata-rata dapat dinyatakan kW, kVA, amp

Gunanya dapat mengetahui/perkiraan pemakaian beban kondisi beban

Puncak dan beban dasar.

Faktor beban =

Beban rata 2 periode tertentu

X 100 %

Beban puncak periode tertentu

Misal:

Demand maksimum 100 kW, faktor beban 10% Berarti Pusat listrik harus menyediakan daya 100 kW, meskipun dipakai Rata-rata 10 kW atau 10 %-energi setahun = 10% x 8760 = 876 jam Jadi energi yang dipakai = 876 jam x 100 kW = 87.600 kWh/tahun

PERKIRAAN BEBAN 1. Mengumpulkan data-data analistik atau data historis 2. Analisa data statistik sebagai bahan

PERKIRAAN BEBAN

PERKIRAAN BEBAN 1. Mengumpulkan data-data analistik atau data historis 2. Analisa data statistik sebagai bahan

1.

Mengumpulkan data-data analistik atau data historis

2.

Analisa data statistik sebagai bahan asusmsi atau sasaran

yang digunakan dalam perhitungan (teknis, ekonomis, iklim yang berpengaruh beban y.a.d)

3.

Meng extrapolasi pengaruh faktor-faktor tersebut untuk

masa y.a.d dan menentukan derajat kepastiannya

4.

Membuat perhitungan prakiraan dengan beberapa alternatif

5.

Mengadakan cek atau tes perbandingan dengan memilih yang paling memungkinkan

6.

Mengadakan tinjauan kembali dan perbaikannya secara

periodik (misal triwulan, tahunan) dengan membandingkan

angka 2 realisasi

Evaluasi Hasil Perencanaan Sistem Distribusi • Peningkatan Kinerja Jaringan (Saidi, Saifi, Susut) Setelah Program

Evaluasi Hasil Perencanaan

Evaluasi Hasil Perencanaan Sistem Distribusi • Peningkatan Kinerja Jaringan (Saidi, Saifi, Susut) Setelah Program

Sistem Distribusi

Peningkatan Kinerja Jaringan (Saidi, Saifi, Susut) Setelah Program Dilaksanakan

• Perencanaan Yang Berkesinambungan

• Usulan Memenuhi Persyaratan Teknis Dan Beberapa Alternatif Yang Least Cost

• Analisa Pengembangan Jaringan Menggunakan Metoda Prosedure Best Practise

• Pemilihan Etap Karena Sudah Banyak Digunakan Oleh

PLN

Pendekatan Dalam Perencanaan Distribusi Dalam perencanaan jangka panjang, dimana tingkat ketelitian (akurasi) yang tinggi

Pendekatan Dalam Perencanaan Distribusi

Pendekatan Dalam Perencanaan Distribusi Dalam perencanaan jangka panjang, dimana tingkat ketelitian (akurasi) yang tinggi

Dalam perencanaan jangka panjang, dimana tingkat ketelitian (akurasi) yang tinggi sulit

diperoleh, seringkali dipergunakan pendekatan secara macro, yaitu perencanaan yang

didasarkan

atas

korelasi

variable seperti berikut;

antara

kebutuhan

fisik

sistem

distribusi

dengan

beberapa

1. Korelasi antara fasiltas terpasang dengan Energy Sales ke Pelanggan D istribusi, yaitu :

Panjang JTM dengan Energy Sales TM + TR (kms/ 100 MWh)

Panjang JTR dengan Energy Sales TR (kms/ 100 MWh)

Kapasitas Trafo Distribusi dengan Energy Sales TR (kVA/100 MWh)

2. Korelasi antara Beban Puncak di Sistem Distribusi dengan panjang Ja ringan Tegangan

Menengah, yaitu :

Beban Puncak di Busbar TM dengan Panjang JTM (MW/ kms)

Beban Puncak

rata - rata penyulang TM (MW/ Penyulang)

3.

Kapasitas terpasang trafo distribusi dengan daya tersambung pelanggan TR (kVA trafo dist / kVA tersambung pelanggan TR)

4.

Jumlah pelanggan TR dengan panjang JTR (pelanggan TR / kms JTR )

5.

Jumlah pelanggan per gardu distribusi ( pelanggan TR / gardu )

6.

Unit size rata rata trafo distribusi ( kVA/ unit )

7.

Panjang rata rata penyulang TM ( kms / penyulang )

Kinerja Pengelolaan Aset Kinerja melalui parameter: operasi dan pemeliharaan sistem distribusi diukur a. Keandalan

Kinerja Pengelolaan Aset

Kinerja Pengelolaan Aset Kinerja melalui parameter: operasi dan pemeliharaan sistem distribusi diukur a. Keandalan

Kinerja

melalui parameter:

operasi

dan

pemeliharaan

sistem

distribusi

diukur

a.

Keandalan SAIDI.SAIFi

b.

Gangguan penyulang /100 kms JTM

c.

Gangguan Trafo per aset

d.

Tegangan ujung JTM dan JTR

e.

Kecepatan penormalan operasi jaringan distribusi

f.

Efisiensi (susut) jaringan distribusi

g.

Keselamatan Kerja

Kinerja teknis sistem distribusi dapat menggunakan Indikator Distribusi

Kebijakan Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Kebijakan Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Kebijakan Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL Penggunaan tegangan 66 kV (70 kV) sebagai saluran distribusi ke
Kebijakan Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL Penggunaan tegangan 66 kV (70 kV) sebagai saluran distribusi ke

Penggunaan tegangan 66 kV (70 kV) sebagai saluran distribusi ke pelanggan besar perlu dikaji dan implementasinya akan ditentukan oleh manajemen unit melalui analisis yang mendalam, pertimbangan keekonomian jangka panjang dan pencapaian tingkat mutu pelayanan yang lebih baik dngan tetap memenuhi aturan grid (grid code), aturan distribusi (distribution code) & SPLN yang berlaku.

Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL

Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL

Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL

Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL

Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Kriteria Pengembangan Sistem Distribusi Pada RUPTL
Pengembangan Sistem Distribusi SMART GRID Smart grid adalah jaringan listrik yang menggunakan teknologi digital dan

Pengembangan Sistem Distribusi

SMART GRID

Pengembangan Sistem Distribusi SMART GRID Smart grid adalah jaringan listrik yang menggunakan teknologi digital dan

Smart grid adalah jaringan listrik yang menggunakan teknologi digital dan teknologi maju

lainnya untukmemonitor dan mengelola penyaluran (transmisi)tenaga listrikdari sumber-

sumber pembangkitan tenaga listrikke pusat-pusat beban untuk memenuhi perubahan /

fluktuasi kebutuhan listrik dari pelanggan (end user). Smart grid mengkoordinasikan

kebutuhan dan kemampuan seluruhpembangkit listrik, operator jaringan, pelanggan dan

stakeholder tenaga listrik lainnya untuk dapat mengoperasikan semua bagian dari sistem

ketenagalistrikan denganefisien, mengoptimalkan biaya dan mengatasi kendala dampak

lingkungan sek aligus memaksimalkan keandalan suplai tenaga listrik serta, ketahanan dan

stabilitassistem tenaga listrik

Didalam usaha untuk mengimplementasikan teknologi Smart Grid di PT PLN (Persero)

diperlukan pemahaman atas smart grid dan pendekatan tentang teknologi smart

grid pada kegiatan operasi perusahaan. Pendekatan ini diperlukan agar secara

kebijakan dan

langkah operasional, pemikiran tentang smart grid ini akan selalu dipertimbangkan dan dilaksanakan. Untuk itu, langkah-langkah pendekatan smart grid untuk implementasi didalam program dan kegiatan dapat dilakukan sebagai berikut :

UKURAN DARI SMART GRID Aspek-aspek apa saja pada jaringan yang membuatnya Smart Grid ? Berikut
UKURAN DARI SMART GRID Aspek-aspek apa saja pada jaringan yang membuatnya Smart Grid ? Berikut

UKURAN DARI SMART GRID

Aspek-aspek apa saja pada jaringan yang membuatnya Smart Grid ? Berikut adalah ukurannya :

1. Transaksi

Transaksi yang dinamis diantara pemakai jaringan dimana produsen dan pelanggan dapat memberi reaksi kepada tanda-tanda penetapan harga yang teratas dalam efisiensi dan keandalan yang lebih tinggi.

2. Kebijakan dan Peraturan

Paket kebijakan dan peraturan yang menciptakan nilai tambah menuju smart grid

3. Teknologi

Tegnologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi dalam sistem

jaringan ketenagalistrikan (electric power networks)

4. Pengintegrasian energi yang dapat diperbaharui sisi distribusi pada

sistem jaringan distribusi

Memberikan prioritas untuk pengurangan emisi karbon

5. Intelligent End-Use Devices/Appliances

Pengunaan peralatan pintar yang lebih hemat energi manual atau

otomatis

80

( KUNCI PENGGERAK BAGI PLN UNTUK MERINTIS SMART GRID ) Adalah motivasi PLN untuk memulai

( KUNCI PENGGERAK BAGI PLN UNTUK MERINTIS SMART GRID ) Adalah motivasi PLN untuk memulai sebuah smart grid

GRID ) Adalah motivasi PLN untuk memulai sebuah smart grid 1. Meningkatkan Keandalan dan stabilitas mutu

1.

Meningkatkan Keandalan dan stabilitas mutu dari Grid / Jaringan

Mencegah blackout pada sistem transmisi dan meminimalisasi gangguan pada distribusi.

Mengestimasi kondisi asset jaringan real time dan untuk pemenuhannya.

Membolehkan end-users dynamic participation

2.

Meningkatkan Efisiensi Energi

Meminimalisasi Losses Teknis dan Non Teknis

Memaksimalkan kemampuan menhantarkan energi dari jaringan/grid

Mengintegrasikan informasi sisi permintaan dengan smart metering

Membolehkan end-users dynamic participation

3.

Pengurangan emisi karbon

Membolehkan renewable grid connection

Mengintegrasikan distributed generation and eco-buildings

DRAFT ROAD MAP SMART GRID di PLN sebagian besar masih dalam study yang lebih lanjut,

DRAFT ROAD MAP SMART GRID di PLN

sebagian

besar masih dalam study

ROAD MAP SMART GRID di PLN sebagian besar masih dalam study yang lebih lanjut, beberapa sampai

yang lebih lanjut, beberapa sampai dengan saat ini dalam tahap

implementasi dalam program pilot project

GENERATION
GENERATION

Renewable Energy Integration : Large Scale and Distributed Generation

Advanced USC

IGCC

TRANSMISSION
TRANSMISSION

SMR

HTLS, HVDC, FACTS, PMU Substation Automation

DISTRIBUTION
DISTRIBUTION

Pre-paid Meter, AMR, AMI, AM/FM (GIS Mapping)

Distribution SCADA

Distribution Automation System

Demand Side Management Smart Meter

ISOLATED PV Plants Hybrid System PV – SYSTEMS Hybrid System Fuel Cell Diesel – PV
ISOLATED
PV Plants
Hybrid System PV –
SYSTEMS
Hybrid System
Fuel Cell
Diesel – PV
Biomass
2030
Now
2020
PILOT PROJECT PLN SMART GRID DAN PROGRAM YANG SEDANG BERJALAN  Beberapa pilot project is
PILOT PROJECT PLN SMART GRID DAN PROGRAM YANG SEDANG BERJALAN  Beberapa pilot project is

PILOT PROJECT PLN SMART GRID DAN PROGRAM YANG SEDANG BERJALAN

Beberapa pilot project is sedang berlangsung :

1. Smart Community di Surya Cipta Karawang Industrial Estate : pilot project PLN, MEMR dan NEDO.

2. Automated Demand Response Program di Jakarta : pilot project antara PLN, Honeywell and USTDA.

3. Trial of Smart Meter in Jakarta : Instalasi dari smart meter pada Perumahan Bank Mandiri.

4. Smart Grid Pilot Project di Karimun Jawa : inisiasi dari PLN Dis Jateng

5. Instalasi PMU pada sistem jaringan Jawa Bali 500 kV oleh P3B JB dan sistem jaringan

Sumatera 150 kV oleh P3B . PMU (Phasor Measurement Unit) merupakan peralatan

pengukuran fasor tegangan dan arus secara real-time

6. Pilot project di Batam Island

7. Smart micro grid di Pulau Sumba kerjasama BPPT, PLN & MEMR

And some programs have become PLN winning projects : EAM for

Generation and Distribution, Centralised Billing, GIS Mapping, Online Asset Assesment and Monitoring, Pre-paid Meter, 1000 island PV Plants, SEHEN.

EAM for Distribution sedang diaplikasikan di PLN Distribusi Bali

83

Rencana Smart Grid di KI Surya Cipta Karawang SMART GRID Teknologi smart grid yang akan

Rencana Smart Grid di KI Surya Cipta Karawang

SMART GRID

Rencana Smart Grid di KI Surya Cipta Karawang SMART GRID Teknologi smart grid yang akan dikembangkan

Teknologi smart grid yang akan dikembangkan dan diimplementasikan adalah :

1. High quality power supply system HQPS,

2. Distribution automation system (DAS),

3. Voltage stabilization system (LVR),

4. Demand side management system (DSM),

5. Factory energy management system (FEMS),

6. Energy management system (EMS),

Information and communication technology platform (ICT).

management system (EMS), Information and communication technology platform (ICT). Gambar. NEDO Smart Community Project

Gambar. NEDO Smart Community Project

TERIMAKASIH
TERIMAKASIH
TERIMAKASIH
TERIMAKASIH