Anda di halaman 1dari 8

ASPEK KELEMBAGAAN DALAM PENGEMBANGAN

AKUNTANSI

Dibuat Oleh : 1. Apriani (1521030)

2. Maychella Omar (1521034)

UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS

PALEMBANG

2018
ASPEK KELEMBAGAAN DALAM PENGEMBANGAN AKUNTANSI

Proses pembentukan standar akuntansi atau sering disebut dengan


standard setting process merupakan proses yang cukup pelik oleh karena
melibatkan aspek politik, bisnis, sosial budaya. Aspek politik cukup domianan
karena tarikan beberapa kepentingan baik pihak pemerintah, swasta maupun
profesi akuntan itu sendiri.

Dilihat dari aspek bisnis, standar akuntansi akan berkembang seiring dengan
perkembangan dunia bisnis. Munculnya transaksi-transaksi baru yang semakin
komplek menuntut adanya standar akuntansi yang mengatur transaksi tersebut.
Oleh karena standar akuntansi akan diterapkan pada suatu komunitas tertentu
maka aspek sosial budaya juga akan mewarnai penyusunan standar tersebut.

Bab ini mencoba untuk menjelaskan proses pembentukan standar akuntansi di


Amerika Serikat dan Indonesia, serta bagaimana aspek politik, bisnis dan sosial
budaya ikut mewarnai proses pembentukan standar. Perlunya melihat sejarah
pembentukan standar di Amerika karena profesi akuntansi di USA sudah cukup
lama sehingga memudahkan bagi kita untuk melihat pengaruh berbagai aspek
diatas terhadap penyusunan standar akuntansi. Disamping itu dengan mengetahui
sejarah penyusunan standar di Amerika akan memudahkan memahami proses
penyusunan standar akuntansi di Indonesia. Hal ini disebabkan proses penyusunan
standar akuntansi di Indonesia pada prinsipnya hanya mengadopsi standar
akuntansi Amerika dan standar akuntansi Internasional.

1. PENYUSUNAN STANDAR AKUNTANSI DI AMERIKA

Pengembangan standar akuntansi di Amerika dapat dibagi ke dalam


tiga tahap yaitu tahap awal pembentukan (1930-1936), periode setelah
perang dunia (1946-1959), dan periode modern (1959 sampai sekarang).
Periode sebelum tahun 1930 akuntansi di Amerika boleh dikatakan tidak
diatur. Praktek dan prosedur akuntansi yang digunakan oleh dunia usaha
umumnya dianggap rahasia. Satu perusahaan dengan perusahaan lainnya
tidak saling mengetahui prosedur akuntansi yang digunakan. Sebagai
akibatnya terjadi ketidak seragaman dalam praktek akuntansi antar
perusahaan bahkan antar perusahaan dalam industri yang sama.

2. PERIODE PEMBENTUKAN (1930-1946)


Usaha pertama pengembangan standar akuntansi dimulai dengan
adanya persetujuan antara American Institude of Certified Public
Accountant (AICPA) dan New York Stock Exchange (NYSE) untuk
mengembangkan prinsip-prinsip akuntansi yang harus diikuti oleh
perusahaan yang terdaftar di New York Stock Exchange. Apa yang menjadi
keprihatinan NYSE adalah banyaknya perusahaan yang terdaftar di bursa
menggunakan berbagai praktek akuntansi yang berbeda. Pada awalnya
AICPA berpendapat bahwa penyelesaian terbaik masalah ini adalah
melalui dua pendekatan yaitu: (1) memberikan pendidikan kepada pemakai
laporan akuntansi yang berkaitan dengan keterbatasan laporan keuangan.
(2) perbaikan pelaporan keuangan agar lebih informatif bagi pemakai.
Hasil kerjasama ini adalah format draft “five board accounting principles”
yang disiapkan oleh komite AICPA dan disetujui oleh komite NYSE.
Dokumen ini merupakan usaha formal untuk mengembangkan “generally
accepted accounting principles”.
3. KOMITE PROSEDUR AKUNTANSI (1936-1946)
Pada tahun 1933 AICPA membentuk komite khusus pengembangan
prinsip akuntansi. Namun demikian tidak banyak yang bisa dikerjakan
oleh komite ini dan kemudian diganti dengan Committee on Accounting
Procedures (CAP) pada tahun 1936. Pada awalnya CAP ingin
mengembangkan prinsip-prinsip akuntansi yang komperhensif sebagai
petunjuk umum pemecahan masalah praktek khusus. Untuk menyusun
prinsip seperti ini diperlukan waktu sekitar 5 tahun dan SEC atau
Bapepamnya Amerika menginginkan waktu yang lebih cepat. Akhirnya
CAP memutuskan untuk mengadopsi pemecahan masalah khusus dan
memberikan rekomendasi pemakaian metode akuntansi tertentu.
CAP mulai tahun 1939 menerbitkan prinsip akuntansi yang memiliki
dukungan otoritas. Selama periode dua tahun 1938-1939 telah diterbitkan
12 Accounting Research Bulletin (ARBs). Pada awalnya SEC merasa puas
dengan usaha yang dilakukan oleh profesi akuntansi untuk menyusun
prinsip akuntansi. Namun demikian tidak semua konstituen merasa senang
dengan pengembangan prinsip akuntansi selama periode tersebut. Anggota
American Accounting association (AAA) lebih menyukai pendekatan
deduktif di dalam merumuskan standar akuntansi sebagai lawan
pendekatan yang dilakukan oleh CAP yang menggunakan pendekatan
induktif. Pada masa 1939-1946 ternyata tidak menghasilkan prinsip
akuntansi yang komperhensif. Namun demikian ada dua kontribusi penting
yang dihasilkan. Pertama, keseragaman praktek akuntansi secara
signifikan telah mengalami perbaikan. Kedua, kebijakan akuntansi yang
dibuat di Amerika dibuat hanya untuk sektor swasta.
4. PERIODE SETELAH PERANG (1946-1959)
Pada masa setelah perang CAP cukup sibuk sehingga secara total ada
18 ARB yang diterbitkan dari tahun 1946 sampai 1953. Walaupun komite
cukup berhasil menghilangkan praktek-praktek akuntansi yang banyak
menjadi pertanyaan pada tahun 1930an, tetapi strategi ini menimbulkan
banyak masalah baru pada akhit tahun 1940an dan awal tahun 1950an.
CAP gagal menyusun rekomendasi positif yang berkaitan dengan prinsip
akuntansi secara umum. Sebagai akibatnya terjadi supply berlebihan dari
standar akuntansi. Banyak praktek akuntansi alternatif terus bermunculan
oleh karena tidak ada teori akuntansi yang dapat digunakan sebagai dasar
pijakan. Situasi ini mengakibatkan timbulnya konflik antara CAP dan SEC.
5. PERIODE BERAKHIRNYA COMMITTEE ON ACCOUNTING
PROCEDURE (CAP)
Periode dari tahun 1957-1959 merupakan periode transisi
pengembangan standar akuntansi di Amerika. Kritik terhadap CAP makin
meningkat khususnya kritik yang mengecam CAP. Financial executive
dan para praktisi akuntansi pada perusahaan kecil mengeluh bahwa
mereka tidak pernah diminta pendapat mereka terhadap usulan ARBs.
Banyak orang merasa bahwa CAP bekerja terlalu lambat dan selalu
menolak terhadap isu-isu kontroversial. Dalam pertemuan tahunan AICPA
tahun 1957 dibentuk Special Committee on Research Program. Laporan
dari komite ini menjadi cikal bakal didirikannya Accounting Principles
Board (APB) dan Accounting Research Division. Laporan itu menekankan
perlunya riset untuk mengembangkan standar akuntansi.
6. PERIODE MODERN (1959-2002)
Dengan dibentuknya APB dan Accounting Research Division pada
tahun 1959, mulailah pengembangan standar akuntansi dilakukan melalui
riset terlebih dahulu. Divisi riset adalah lembaga otonom memiliki seorang
direktur yang mempunyai otoritas untuk mempublikasikan hasil temuan
staf riset yang berkaitan dengan pengembangan prinsip akuntansi. Untuk
menetapkan topik riset, direktur divisi akan berkonsultasi terlebih dahulu
dengan APB. Jika keduanya tidak ada persetujuan, maka APB berhak
menentukan topik apa yang harus dilakukan riset oleh divisi. Hasil dari
proyek penelitian ini dipublikasikan dalam bentuk Accounting Research
Studies (ARS).
Awal keberadaan APB dipenuhi dengan rasa keraguan dan kegagalan.
Hasil studi riset tidak diterima oleh profesi khususnya kontroversi
berkaitan dengan masalah investment tax credit. Ada dua alternatif
perlakuan terhadap investment tax credit saat itu yaitu : (1) pengakuan tax
benefit pada saat diterima, yang didesain dengan flow-through method, dan
(2) mengakui tax benefit selama umur aktiva yang disebut dengan deferred
method. APB tidak merekomendasikan untuk melakukan penelitian
berkaitan dengan hal ini, tetapi langsung menerbitkan APB Opinion No 2
yang mengakui deferred method.
Opini ini menimbulkan pertentangan dari tiga kantor akuntan besar
yang memerintahkan kliennya untuk tidak perlu mengikuti pendapat APB.
Lebih jauh lagi SEC pada bulan Januari 1963 menerbitkan ASR 96 yang
memperbolehkan kedua metode pengakuan investment tax credit kepada
perusahaan yang go publik. Jelas bahwa kantor akuntan besar dan SEC
menantang langsung otoritas APB. Sebagai akibatnya APB menerbitkan
Opini No 4 yang memperbolehkan kedua metode tersebut. Kritik-kritik
lebih lanjut muncul terhadap APB dari tahun 1965 sampai 1967 berkaitan
dengan kontroversi opini APB.
A. Laporan Komite Wheat dan Trueblood
Oleh karena kritik terhadap APB bermunculan terus, maka dalam
bulan April 1971 AICPA membentuk dua grup study yaitu “ The
Study Group on Establishment Of Accounting Principles” yang
dipimpin oleh Francis M Wheat mantan komisi SEC dan pengkritik
terdepan profesi akuntansi. Grup lainnya adalah “The Study Group on
the Objectives of Financial Statement” yang dipimpin oleh Robert M
Trueblood.
Laporan Komite Wheat selesai dalam bulan Maret 1972 yang
menghendaki adanya perubahan signifikan pengembangan standar
akuntansi. Rekomendasi komite ini antara lain:
 Pembentukan Financial Accounting Foundation. Lembaga ini
memiliki 9 trustee dengan tugas utama mengangkat anggota
Financial Accounting Standard Board (FASB) dan mencari
dana untuk menjalankan operasinya.
 Pembentukan FASB. Dewan ini memiliki 7 orang anggota full
time dan menetapkan standar pealporan keuangan.
 Pembentukan Financial Accounting Standard Advisory
Council dengan jumlah anggota 20 orang dan berkonsultasi
dengan FASB untuk menetapkan prioritas dan task force dari
reaksi terhadap usulan standar.

Rekomendasi ini diterima oleh AICPA pada bulan Juni 1972 dan
FASB resmi berdiri 1 Juli 1973.

B. Mekanisme Operasional FASB


Prosedur penyusunan standar dimulai dengan melakukan
identifikasi masalah. Kemudian dibentuk task force untuk
mengeksplorasi segala aspek dari masalah tadi. Hasil kajian ini berupa
discussion memorandum yang mengidentifikasi semua isu dan
kemungkinan penyelesaiannya. Discussion memorandum ini
disebarkan ke pihak-pihak yang berkepentingan. FASB kemudian
melaksanakan public hearing dimana semua pihak yang
berkepentingan memberikan pandangannya kepada dewan. Setelah
public hearing, diterbitkan exposure draft dari standar dan dimintakan
pendapat secara tertulis kepada semua pihak yang berkepentingan.
Setelah mempertimbangkan komentar tertulis atas exposure draft
diterbitkan exposure draft baru (jika diperlukan perubahan yang
signifikan) atau final vote diambil oleh dewan FASB. Diperlukan
pendapat mayoritas dari anggota FASB (yaitu 4 dari 7 anggota
menyetujui) agar dapat diterbitkan standar akuntansi final.
7. PERIODE SETELAH SKANDAL AKUNTANSI (2002-SEKARANG)
A. Aturan Dalam Sarbanes-Oxley Act 2002
Dalam lingkup praktik akuntansi di Amerika, skandal akuntansi
yang dimulai kasusnya Enron tahun 2001 diikuti WorldCom tahun
2002 dan perusahaan lainnya merupakan fenomena menarik yang
menampar akuntan. Kasus WorldCom merupakan kasus kebangkrutan
terbesar dan terheboh dalam sejarah akuntansi dimans manajemen
WorldCom secara sengaja memalsukan data laba perusahaan. Artuh
Anderson, auditor WorldCom gagal mengungkap pengalihan dana
sebesar US$3.85 milyar untuk menaikkan pendapatan. Kasus Enron
juga menunjukkan pola serupa yaitu praktik manajemen laba, dimana
Enron melaporkan laba yang tinggi dan menggunakan transaksi yang
sangat kompleks dan direkayasa untuk mencapai tujuan mereka.
Kasus tersebut mendorong pemerintah Amerika melakukan
reformasi praktik corporate governance dan praktik pelaporan
keuangan. Sarbanas-Oxley Public Company Accounting Reform and
Investor Protection Act (SOX) disetujui dan disyahkan oleh US
Congress pada tahun 2002. Tujuan utama SOX adalah untuk
melindungi kepentingan investor dengan cara memperbaiki akurasi
dan reliabilitas disclosure sesuai dengan persyaratan perundangan
yang berlaku.
Dengan tujuan meningkatkan kepercayaan investor, SOX
mewajibkan CEO, dan CFO perusahaan yang terdaftar di pasar modal,
secara hukum bertanggung jawab terhadap kebenaran laporan
keuangan yang mereka tanda tangani. Salah satu implikasi Sox
terhadap profesi akuntansi adalah bahwa auditor perusahaan yang
terdaftar di pasar modal wajib mengeluarkan tiga opini: (1) opini
tentang kewajaran penyajian laporan keuangan, (2) penelitian
manajemen atas internal control dalam pelapoan keuangan, (3) opini
tentang penilaian auditor atas keefektivan internal control dalam
pelaporan keuangan.
B. The Public Company Accountability Oversight Board
Atas dasar ketentuan yang terdapat dalam SOX, di Amerika
dibentuk Public Company Accountability Oversight Board (PCAOB).
PCAOB ini merupakan organisasi nirlaba swasta terdiri dari lima
anggota yang bersertifikat akuntan publik (certified public
accountant). Misi utama PCAOB adalah untuk melindungi
kepentingan investor dan kepentingan publik dengan cara mengawasi
auditor perusahaan publik dalam menyajikan laporan audit yang
independen, jujur, dan informatif. SOX memberi wewenang kepada
PCAOB untuk membuat aturan tentang pendaftaran (perizinan) dan
pelaporan kantor akuntan publik, standar audit dan standar profesional
lainnya, serta inspeksi dan investigasi atas kegiatan kantor akuntan
publik.