Anda di halaman 1dari 52

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rambut merupakan mahkota bagi manusia terutama di kalangan wanita dan

tumbuh dari lapisan dermis melalui saluran folikel keluar dari kulit. Bagian yang

keluar dari kulit dinamakan batang rambut atau penempatan sel-sel tanduk berada

di atas permukaan kulit, apabila kulit dan rambut tidak dirawat dengan baik maka

akan muncul kelainan dan penyakit. Penyakit yang biasanya muncul pada kulit

kepala yaitu ketombe. Kelainan yang terjadi pada rambut salah satunya yaitu

muncul uban (Saptorini, 2016).

Uban terjadi pada rambut mengalami perubahan warna menjadi putih dan

muncul karena berkurangnya kandungan melanin pada rambut, biasanya pada usia

40 tahun ke atas akan tetapi dapat pula muncul pada usia muda karena adanya

faktor genetis. Orang yang mempunyai rambut uban biasanya menjadi kurang

percaya diri, mereka menutupinya dengan mewarnai rambut, menggelapkan uban

menggunakan pewarna rambut (Kurnia, 2016).

Sediaan pewarna rambut digunakan dalam tata rias untuk mewarnai rambut,

baik untuk mengembalikan warna asli atau mengubah warna asli dengan yang

baru. Keinginan untuk mewarnai memang sudah berkembang sejak dahulu,

bahkan ramuan yang dijadikan zat warna pada waktu itu diperoleh dari zat alam,

pada umumnya berasal dari tumbuhan dengan tujuan untuk memperbaiki

penampilan (Nazlinawaty, 2012).

Sejak zaman dahulu masayarakat Indonesia sudah banyak menggunakan

atau memanfaatkan tanaman sebagai alternatif pengobatan untuk berbagai macam

1
2

penyakit, baik itu penyakit luar maupun penyakit dalam (Lekram, 2015). Salah

satu tanaman yang berkembang di Indonesia adalah daun alpukat (Persea

americana Mill.). Tanaman alpukat merupakan salah satu tanaman yang memiliki

manfaat sebagai obat tradisional seperti sariawan, kencing batu, darah tinggi, kulit

muka kering, sakit gigi berlubang, peradangan, kencing manis (Suparni, 2014).

Alpukat (Persea americana Mill.) yang berkembang di Indonesia

kebanyakan berasal dari Amerika Tengah dan sedikit dari Guatemala. Tanaman ini

masuk ke Indonesia sekitar abad ke-18, dan lebih sesuai untuk ditanam didaerah

subtropis dengan ketinggian daerah diatas 2.000 m dpl. Ukuran tanaman ini

bervariasi dari yang sedang hingga besar (9-20 m). Alpukat bukan merupakan

tanaman musiman, sebelum berbunga daun alpukat muda berwarna kemerahan

dan berbulu, serta menjadi halus, kasap (leathery), dan berwarna hijau gelap

ketika dewasa (Sunarjono, 2008).

Tanaman alpukat mempunyai senyawa klinis, antara lain pada organ

daunnya. Hasil uji ekstrak etanol daun alpukat menunjukkan hasil positif pada uji

tanin. Yang berarti daun alpukat positif mengandung tanin. Tanin merupakan

senyawa fenolik kompleks yang tersebar luas dalam tanaman. Selain itu daun

alpukat memiliki senyawa flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa metabolir

skunder yang paling banyak ditemukan di dalam tanaman (Erlinda, 2017).

Daun alpukat memiliki kandungan kimia yang dapat dijadikan sebagai zat

pemberi warna. Daun alpukat juga memiliki berbagai manfaat baik dalam bidang

kesehatan maupun kecantikan. Daun alpukat mudah didapatkan di daerah

Sekarang, namun pemanfaatannya masih kurang. Masyarakat hanya menjadikan

daun alpukat sebagai limbah yang tidak terpakai. Hal ini disebabkan karena
3

masyarakat sekarang kurang memahami bahwa daun alpukat memiliki banyak

manfaat dalam bidang kesehatan maupun kecantikan (Saptorini, 2016).

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin memanfaatkan dan

memberikan informasi pada masyarakat bahwa daun alpukat memiliki banyak

manfaat, salah satunya yaitu pewarna rambut, tidak lagi dijadikan sebagai limbah.

Dengan dilakukannya penelitian ini dapat diterapkan oleh masyarakat dan

menjadi inspirasi untuk melanjutkan penelitian selanjutnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.) dapat

diformulasikan kedalam sediaan pewarna rambut?

2. Apakah ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.) dapat mengubah

warna rambut beruban?

3. Berapakah konsentrasi ekstrak daun alpukat yang menghasilkan warna

terbaik?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bahwa ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.)

dapat di dijadikan sebagai sediaan pewarna rambut.

2. Untuk mengetahui perubahan warna rambut uban yang dihasilkan dari

ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.)

3. Untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun alpukat (Persea americana

Mill.) yang menghasilkan warna terbaik.


4

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

1. Menambah pengetahuan tentang pemanfaatan ekstrak daun alpukat

yang digunakan sebagai pewarna rambut alami.

2. Dapat mengetahui pengaruh kandungan daun alpukat yang dapat

dijadikan sebagai sediaan pewarna rambut.

1.4.2 Bagi Institusi

1. Menjadi referensi untuk dikembangkan mahasiswa dalam penelitian

lebih lanjut.

1.4.3 Bagi Masyarakat

1. Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan

daun alpukat yang dapat dijadikan sebagai pewarna rambut.

2. Dengan dilakukannya penelitian ini dapat diterapkan oleh masyarakat

bahwa daun alpukat memiliki banyak manfaat, salah satunya yaitu

pewarna rambut, tidak lagi dijadikan sebagai limbah.


5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tanaman Alpukat (Persea americana Mill.)


2.1.1 Morfologi tanaman alpukat (Persea americana Mill.)
Tanaman alpukat berasal dari Amerika Tengah, tumbuh liar di hutan-

hutan, banyak juga ditanam dikebun dan dipekarangan yang lapisan tanahnya

gembur dan subur serta tidak tergenang air. Pada daerah tropis dan subtropis

pohon kecil, tinggi 3-10 m, berakar tunggang, batang berkayu, bulat, warnanya

cokelat kotor, banyak bercabang. Ranting berambut halus, daun tunggal,

bertangkai yang panjangnya 1,5-5 cm, kotor, letaknya berdesakan diujung ranting,

bentuknya jorong sampai bundar telur memanjang (Satya, 2013).

Daun muda warnanya kemerahan dan berambut rapat. Daun tua warnanya

hijau dan gundul. Bunganya bunga majemuk, berkelamin dua, tersusun dalam

malai yang keluar dekat ujung ranting (Satya, 2013).

Gambar 2.1 Tanaman alpukat (Persea americana Mill.)

5
6

2.1.2 Klasifikasi tanaman alpukat (Persea americana Mill.)

Menurut Erlinda, (2017). Tanaman alpukat (Persea americana Mill.)

diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Sub divisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledoneae

Sub kelas : Magnolidae

ordo : Laurales

Family : Lauraceae

Genus : Persea

Spesies : Persea americana Mill.

2.1.3 Nama daerah tanaman alpukat (Persea americana Mill.)

Menurut Satya (2013), berikut adalah nama populer alpukat di berbagai

daerah antara lain :

Sunda : Apuket, alpukat, jambu wolanda

jawa : apokat, avokat, plokat

sumatera : apokat, alpokad, advokat

2.1.4 Kandungan tanaman alpukat (Persea americana Mill.)

Sejumlah zat fitokimia terkandung didalam alpukat. Zat-zat itu antara lain

saponin, flavonoid, alkaloid, lutein, tanin, asam pantotenat, asam oleat, lesitin,

niasin, vitamin (A, B1, B2, C, E, K, biotin) mineral (fosfor, zat besi, lemak tidak

jenuh tunggal yang menguntungkan bagi kesehatan diantaranya menurunkan


7

kadar LDL (Low Dencity Lipoprotein), kolesterol total, dan trigliserida, serta

menstabilkan kadar gula darah (Budiana, 2013).

Kandungan serat asam lemak tak jenuh tunggal memiliki aktivitas

antiradang dan antioksidan yang bersama-sama dengan vitamin C, E, dan

glutation dapat melindungi pembuluh darah arteri dari kerusakan akibat timbunan

LDL. Kandungan lemak tak jenuh juga baik untuk penderita diabetes mellitus

(Budiana, 2013).

Kandungan senyawa aktif yang terdapat di daun alpukat (Persea Americano

miller) adalah saponin, alkaloid fan flavonoid serta polifenol, querstin dan gula

alkali persiit. Flavonoid merupakan kelompok flavonol turunan senyawa benzena

dapat digunakan sebagai senyawa dasar zat warna alam (Mursito, 2007).

2.1.5 Manfaat tanaman alpukat (Persea americana Mill.)

Tanaman alpukat merupakan salah satu tanaman yang memiliki manfaat

sebagai obat tradisional seperti sariawan, kencing batu, darah tinggi, kulit muka

kering, sakit gigi berlubang, peradangan, kencing manis (Suparni, 2014). Dapat

melindungi tubuh dari penyakit yang berhubungan dengan kolesterol, tekanan

darah dan jantung, pencernaan dan peredaran darah, mengatasi tumit kering dan

pecah-pecah, mengatasi mata lelah, batu ginjal, sakit punggung, menghaluskan

kulit, dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh (Satya, 2013).

Bagian tanaman alpukat yang banyak dimanfaatkan adalah buahnya

sebagai makanan segar dan sebagai bahan dasar kosmetik. Bagian lain yang dapat

dimanfaatkan adalah daunnya yang muda sebagai obat tradisional. daun alpukat

merupakan salah satu sumber antioksidan. Daun alpukat mengandung beberapa

komponen bioaktif seperti senyawa-senyawa fenolik. Hasil penelitian


8

menunjukkan bahwa daun alpukat dapat membantu dalam mencegah atau

memperlambat kemajuan berbagai stress oksidatif, ekstrak daun alpukat dapat

digunakan sebagai antibakteri antihipertensi, obat hiperlipidemia dan antidiabetes

Selain itu, ekstrak daun alpukat dapat menghambat pertumbuhan sel kanker leher

rahim (Widarta, 2016).

2.2 Tanin

Tanin merupakan senyawa polifenol yang membentuk komplek protein dan

sering ditemukan pada tanaman. Hasil uji ekstrak etanol daun alpukat

menunjukkan hasil positif pada uji tanin yang berarti daun alpukat positif

mengandung tanin (Erlinda, 2017).

Zat warna alam telah direkomendasikan sebagai zat pewarna yang ramah

lingkungan maupun kesehatan karena kandungan komponen alaminya

mempunyai nilai beban pencemaran yang relative rendah, mudah terdegradasi

secara biologis dan tidak beracun. Potensi sumber zat warna alami ditentukan

oleh intensitas warna yang ada dalam tanaman tersebut (Fauziah, dkk, 2016).

Pigmen zat warna alami klorofil, antosianin, tanin, karotenoid dan flavonoid

dapat memiliki kemampuan sebagai zat warna alami tekstil. Klorofil,

menghasilkan warna hijau. Antosianin, menghasilkan warna merah, oranye, ungu,

biru, kuning. Karoten, menghasilkan warna jingga sampai merah . Flavonoid,

menghasilkan warna merah atau jingga. Dan tanin sebagai zat pewarna akan

menimbulkan warna cokelat atau kecokelatan ((Fauziah, dkk, 2016).

Tanin merupakan senyawa polifenol dengan bobot molekul yang tinggi yang

dapat membentuk kompleks yang dapat balik (reversible) maupun tak dapat balik
9

(Irreversible), dengan protein (paling banyak), polisakarida (Selulosa,

hemiselulosa, pectin, dll), alkaloid, asam nukleat, mineral dan lain-lain (Kumoro,

2015).

Tanin dapat menurunkan kualitas protein dengan menurunkan daya cerna .

Tanin juga dapat merusak saluran pencernaan karena efek racun pada tanin dapat

terserap oleh usus dan mempengaruhi penyerapan mineral besi dan karsinogenik.

(Kumoro, 2015).

Tanaman alternatif untuk sumber zat warna adalah tanaman alpukat (Persea

americana Mill). Tanaman alpukat merupakan tanaman yang cukup banyak

ditemukan di Indonesia. Bagian tumbuhan alpukat yang dapat digunakan zat

warna yaitu bagian daun, kulit batang pohon, biji dan kulit buah alpukat (Fauziah,

dkk, 2016).

2.3 Deskripsi Rambut

Rambut adalah sesuatu yang tumbuh dari akar rambut yang ada dalam

lapisan dermis dan melalui saluran folikel rambut ke luar dari kulit. Bagian

rambut yang ke luar dari kulit dinamakan batang rambut. Batang rambut

merupakan penempatan sel-sel tanduk yang berada di atas permukaan kulit dan

terdapat di masing-masing bagian tubuh yang berbeda dalam panjang, tebal, dan

warnanya. Batang rambut ini tidak mempunyai saraf perasa sehingga tidak terasa

sakit bila dipangkas (Nazlinawaty, 2012).

Rambut sehat mempunyai struktur elastis, tidak mudah patah atau terlepas

dari akarnya, berkilap, dengan kontur rata mulai dari akar sampai keujung rambut.
10

Rambut dapat sedikit menyerap air bahan kiimia dari luar.Komposisi rambut

terdiri atas zat karbon ±50%, hydrogen 6%, nitrogen 17%, sulfur 5%, dan oksigen

20%. Rambut mudah dibentuk dengan mempengaruhi gugus disulfide, misalnya

dengan pemanasan atau bahann kimia (Wasitaatmadja, 1997).

Rambut mempunyai fungsi biologis yang bermanfaat. Rambut kepala

melindungi kulit kepala dari panas dan penguapan yang berlebihan. Fungsi

rambut lainnya adalah menyebarkan produk kelenjar keringat sehingga

membasahi dan menjaga kelembapan kulit (Sari, 2012).

2.3.1 Struktur Rambut

Menurut Patrick (1979), rambut dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian

yang muncul di permukaan kulit (batang rambut) dan di bagian yang tenggelam di

bawah atau di dalam kulit (akar rambut). Akar rambut terdapat dalam folikel yang

berada di gelembung rambut. Penyusun folikel berupa sel-sel bundar dan lemak.

Bagian bawah folikel disebut papila yang merupakan jaringan hidup yang kaya

akan pembuluh darah dan syaraf.

Menurut Patrick, (1979). Susunan rambut terdiri dari tiga lapisan dengan

fungsi masing-masing, yaitu lapisan kutikula, korteks dan medula.

a. Kutikula

Kutikula merupakan lapisan yang mendasari fisis rambut dan merupakan

lapisan paling luar yang terdiri dari atas sel-sel keratin tipis yang saling bertautan.

Kutikula berfungsi sebagai pelindung rambut dari kekeringan dan pemasukan

benda asing dari luar


11

b. Korteks

korteks merupakan lapisan yang merupakan rambut sejati dan banyak

mengandung serabut-serabut polipeptida yang berdekatan dan banyak

mengandung pigmen rambut dan rongga udara. Struktur korteks inilah yang

sebenarnya menentukan jenis rambut apakah lurus, ikal atau keriting.

c. Medula

Medula merupakan lapisan rambut yang yang terdalam dan terdiri dari 3-4

lapisan sel kubus, medula hanya dapat dilihat dari rambut terminal, sedang pada

rambut velus tidak terlihat.

2.3.2 Pertumbuhan Rambut

Rambut tumbuh melalui semacam siklus pertumbuhan akktif-transisi-

istirahat. Pada setiap pertumbuhan rambut yang aktif, terdapat fase transisi yang

singkat kemudian diikuti fase istirahat dan sesudah itu terjadi pertumbuhan aktif

kembali, lama rambut berbeda tergantung usia individu dan lokasi akar rambut.

Masalah ambut: Rambut rontok, ketombe, atau bulu-bulu yang tumbuh di tempat

yang tidak diinginkan kadang menjadi masalah berat bagi wanita (Indrawati,

2012).

Rambut juga berfungsi sebagai pelindung tubuh, seperti yang tampak pada

daerah telinga, mata dan hidung. Disini rambut sebagai pencegah debu, serangga /

kuman dan zat-zat yang lain agar tidak masuk kedalam organ-organ tubuh

tersebut, sedangkan bulu mata juga berfungsi sebagai pelindung terhadap sinar

matahari dan air / keringat yang masuk kedalam mata. Rambut juga sebagai

pembungkus dan penghangat tubuh (Patrick, 1979).


12

2.4 Pewarna / cat rambut (Hair Color)

Sediaan pewarna rambut adalah kosmetika yang digunakan dalam tata rias

rambut untuk mewarnai rambut, baik untuk mengembalikan warna rambut asli

atau mengubah warna rambut asli menjadi warna baru. Keinginan untuk

mewarnai rambut memang sudah berkembang sejak dahulu. Bahkan ramuan yang

dijadikan zat warna pada waktu itu diperoleh dari sumber alam, pada umumnya

berasal dari tumbuhan dengan tujuan untuk memperbaiki penampilan

(Nazliniwaty, 2012).

Warna rambut manusia bermacam-macam ada hitam, merah, cokelat,

keemasan (pirang) bergantung pada jenis pigmen yang terdapat didalam korteks

rambut. Bila sudah mencapai usia lanjut, rambut berubah menjadi putih, yang

kurang disukai keberadaannya (Wasitaatmadja, 2003).

Warna rambut ditentukan oleh bahan warna yang dinamakan pigmen,

terdapat dilapisan tengah kulit dalam rambut, semakin tua umur seseorang maka

warna pigmen pun semakin gelap, pada umumnya pigmen warnanya tetap, hanya

pada usia tua berangsur-angsur berwarna abu-abu / putih yang dikenal dengan

uban. Hal ini dapat diubah dengan mengecat rambut (Bhratara,1996).

Menurut Faramakope Kosmetik Indsonesia (1985), berdasarkan daya lekat

zat warna, pewarnaan rambut dibagi menjadi 3 golongan :

a. Pewarnaan rambut temporer

Pewarnaan rambut temporer adalah pewarnaan rambut yang akan

menambah cerah dan warna pada rambut serta tidak menunjukkan efek yang

kekal atas warna rambut. Sifat pewarnaannya pada rambut sebentar dan mudah

dihilangkan dengan keramas menggunakan shampo.


13

b. Pewarnaan rambut semi permanen

Pewarnaan rambut semi permanen adalah pewarnaan rambut yang

memiliki daya lekat tidak terlalu lama, daya lekatnya ada yang 4-6 minggu, ada

juga yang 6-8 minggu, pewarnaan rambut masih dapat tahan terhadap keramas

shampoo, tetapi jika berulang dikeramas, zat warnanya juga akan luntur.

c. Pewarnaan rambut permanen

Pewarnaan rambut permanen adalah pewarnaan rambut yang memiliki

daya lekat jauh lebih lama dan tetap akan melekat pada rambut hingga

1. Pertumbuhan rambut sselanjutnya dan rambut yang kena cat di potong.

2. Dilunturkan dengan proses pemucatan rambut.

3. Dilunturkan dengan penghilang cat.

2.5 Perawatan Rambut

Rambut butuh asupan nutrisi yang cukup agar tetap sehat. Selain itu,

terdapat beberapa hal yang harus dilakukan agar rambut indah, yaitu :

 Jaga kelancaran peredaran darah

 Jauh Rambut dari Stres

 Hidup seimbang dan relaks

 Hindari stress karena dapat meningkatkan kerontokan rambut .

Kecepatan proses pewarnaan dapat dilakukan dengan segera, yaitu langsung

mencapai warna akhir. Sebagian besar cat rambut menggunakan proses ini. Proses

bertahap (gradual, restorer) secara sedikit demi sedikit mengubah warna rambut.

Hair restore adalah perapi rambut (hair dressing) yang secara gradual, beberapa
14

minggu sedikit mengubah warna rambut, misalnya dari rambut kecokelatan

menjadi lebih gelap (cokelat hitam) lalu menjadi hitam (Indrawati, 2012).

2.6 Definisi Ekstraksi

Menurut Marjoni (2016), ekstraksi adalah suatu proses penyarian zat aktif

dari bagian tanaman obat yang bertujuan untuk menarik komponen kimia yang

terdapat dalam bagian tanaman obat tersebut atau pemisahan dari campurannya

dengan menggunakan pelarut tertentu. Ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai

metode dan cara yang sesuai dengan sifat dan tujuan ekstraksi itu sendiri sampel

yang akan diekstraksi dapat berbentuk sampel segar karena penetrasi pelarut akan

berlangsung lebih cepat.

Ada beberapa istilah yang banyak digunakan dalam ekstraksi antara lain

ekstraktan (pelarut yang digunakan untuk ekstraksi), rafinat (larutan senyawa atau

bahan yang akan diekstraksi), dan linarut (senyawa atau zat yang diinginkan

terlarut dalam rafinat) (Hanani, 2015).

Pemilihan teknik ekstraksi tergantung pada bagian tanaman yang akan

diektraksi dan bahan aktif yang di inginkan. Oleh karena itu, sebelum ekstraksi

dilakukan perlu diperhatikan keseluruhan tujuan melakukan ekstraksi. Teknik

ekstraksi yang ideal adalah teknik ekstraksi yang mengekstraksi bahan aktif yang

diinginkan sebanyak mungkin, cepat, mudah dilakukan, murah, ramah lingkungan

dan hasil yang diperoleh selalu konsisten jika dilakukan berulang (Nahar, 2012).

2.6.1 Metode ekstraksi

Menurut Gelies (2015). Beberapa metode dalam melakukan ekstraksi,

yaitu:
15

a. Ekstraksi secara dingin

1. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan

pelarut tertentu pada temperature kamar dan terlindung dari cahaya.

2. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai

sempurna, dilakukan pada temperature ruangan.

b. Ekstraksi secara panas

1. Refluks

Refluks merupakan ekstraksi dengan pelarut pada temperature titik didih

selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas dan relatif konstan

dengan adanya pendingin balik.

2. Soxhletasi

Soxhletasi merupakan ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu

baru, dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu

dengan jumlah pelarut relative konstan dengan adanya pendingin balik.

3. Digesti

Digesti merupakan maserasi kinetic (dengan penngadukan kontinyu) pada

temperature yang lebih tinggi dari temperature ruangan (kamar), yaitu

secara umum dilakukan pada temperature 40-500C.

4. Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperature penangas air

mendidih, temperature 96-980C selama waktu tertentu (15-20 menit).


16

5. Dekokta

Proses penyarian secara dekokta hampir sama dengan infusa,

perbedaannya hanya terletak pada lamanya waktu pemanasan. Waktu

pemanasan pada dekokta lebih lama disbanding metode infusa, yaitu 30

menit dihitung setelah suhu mencapai 900C.

2.7 Pengertian Ekstrak

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, Ekstrak adalah sediaan pekat yang

diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau hewani

menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian hampir semua pelarut diuapkan,

serbuk yang tersisa diperlakukan sehingga memenuhi baku yang telah ditetapkan.

2.7.1 Pembagian ekstrak

Menurut Marjoni (2016), pembagian ekstrak terdiri dari :

1) Ekstrak cair adalah ekstrak hasil penyarian bahan alam dan masih

mengandung pelarut.

2) Ekstrak kental adalah ekstrak yang telah mengalami proses penguapan dan

sudah tidak mengandung cairan pelarut lagi.

3) Ekstrak kering adalah ekstrak yang telah mengalami proses penguapan dan

tidak lagi mengandung pelarut dan berbentuk padat (kering) (Marjoni, 201
17

2.8 Kerangka Konsep

Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter

Serbuk simplisia Uji Skrining Fitokimia


daun alpukat
(Persea americana Mill.) - Uji Flavonoid,
alkaloid, glikosida,
tanin. Saponin, steroid
Ekstrak etanol daun atau triterpenoid
alpukat
Pengamatan secara visual
Pewarnaan
Ekstrak daun alpukat (terhadap masing-masing
Rambut uban
dengan konsentrasi Formula untuk tiap kali
5%, 15%, dan 25% perendaman)

Pengujian hasil pewarna


rambut :

- Uji organoleptis
- Stabilitas terhadap
warna pencucian
- Stabilitas warna
terhadap sinar matahari

2.9 Hipotesis Penelitian

1. Ekstrak etanol daun alpukat dapat dijadikan sebagai sediaan pewarna

rambut.

2. Ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill.) dapat

mengubah

warna rambut.
18

3. Peningkatan konsentrasi dapat mempengaruhi hasil warna, semakin tinggi

konsentrasi maka semakin baik warna yang dihasilkan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian eksperimental dengan

variasi konsentrasi penelitian tentang sediaan pewarna rambut dari ekstrak daun

alpukat (Persea americana Mill.).

3.2 Lokasi Penelitian dan Waktu penelitian

3.2.1 Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Kualitatif Farmasi dan

Laboratorium Teknologi Sediaan Farmasi di Institut Kesehatan Deli Husada

Delitua.

3.2.2 Waktu penelitian

Penelitian ini akan di laksanakan pada April 2018.

3.3 Alat dan Bahan

3.3.1 Alat

Batang pengaduk, beaker glass, cawan penguap, corong, gelas ukur, kertas

saring, lumpang & stamper, rotary evaporator, spatula, waterbath.

3.3.2 Bahan
19

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquadest, daun

alpukat, etanol 80%, pirogalol, rambut uban, tembaga II sulfat, xanthan gum.

3.4 Populasi Dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah penggunaan rambut uban pada masing-

18
masing sediaan ekstrak. Dan sampel penelitian ini adalah daun alpukat (Persea

americana Mill.) menjadi ekstrak kental dan diformulasikan kedalam sediaan

pewarna rambut.

3.5 Prosedur Kerja

3.5.1 Metode pengambilan dan pengeringan daun

Pengumpulan sampel (tumbuhan) dilakukan secara purposif, yaitu tanpa

membandingkan dengan daerah lain. Daun yang digunakan adalah daun alpukat

(Persea americana Mill.) diperoleh dari Gg. Koramil Kecamatan Delitua,

Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

Daun alpukat yang diperoleh dicuci bersih dengan air mengalir, dipotong

menjadi bagian yang lebih kecil, di masukkan dan dikeringkan ke dalam lemari

pengering pada suhu 40°- 50°C.

3.5.2 Uji skrining fitokimia

Skrining fitokimia dilakukan untuk menganalisis kandungan bioaktif yang

berguna untuk pengobatan. Adapun uji skrining fitokimia dari serbuk daun

alpukat, yaitu :

1. Pemeriksaan alkaloida
20

Serbuk simplisia ditimbang 0,5 g kemudian ditambahakan 1 ml HCL 2 N

dan 9 ml aquadest, dipanaskan diatas penangas air selama dua menit,

dinginkan dan saring. Filtrat yang didapat digunakan untuk pengujian

berikut : diambil 3 tetes filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi mayer

menghasilkan endapan putih / kuning. Lalu diambil 3 tetes filtrat, lalu

ditambahkan 2 tetes pereaksi bouchardat menghasilkan endapan coklat

hitam, selanjutnya diambil 3 tetes filtrat, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi

dragendorf menghasilkan endapan merah bata. Apabila terdapat endapan

putih atau salah satu dari pengujian di atas, maka simplisia dinyatakan

positif mengandung alkaloida (Marjoni, 2016).

2. Pemeriksaan flavanoida

Sebanyak 10 g serbuk simplisia ditambahkan dengan 100 ml air panas.

Campuran kemudian dididihkan selama lebih kurang 5 menit, kemudian

disaring ketika panas. Sebanyak 5 ml filtrat yang diperoleh, ditambahakan

0.1 g serbuk Mg, 1 ml HCL pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok, dan

dibiarkan memisah. Flavanoida positif jika terjadi warna merah, kuning,

jingga pada lapisan amil alkohol (Marjoni, 2016).

3. Pemeriksaan tanin

Sebanyak 0,5 g sampel diekstrak menggunakan 10 ml aquadest. Hasil

ekstraksi disaring kemudian filtrat yang diperoleh diencerkan dengan

aquadest sampai tidak berwarna. Hasil pengenceran ini diambil sebanyak 2

ml, kemudian ditambahkan dengan 1-2 tetes besi (III) klorida. Terjadi warna

biru atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Marjoni, 2016).


21

4. Pemeriksaan glikosida

Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 3 g kemudian disari dengan 30 ml

campuran 7 bagian volume etanol 95 % dan 3 bagian volume air suling

(7:3), direfluks selama 10 menit didinginkan dan disaring. Pada 20 ml filtrat

ditambahkan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 N, dikocok, didiamkan selama 5

menit lalu disaring. Filtrat disari sebanyak sebanyak 3 kali, tiap kali dengan

20 ml campuran 3 bagian volume kloroform P ditambahkan natrium sulfat

anhidrat P secukupnya disaring, dan diuapkan pada temperatur tidak lebih

dari 500C. Dilarutkan sisanya dengan 2 ml metanol kemudian diambil 0,1

ml larutan percobaan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, diuapkan diatas

penangas air. Pada sisa ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes pereaksi molish,

ditambahkan hati-hati 2 ml asam sulfat terbentuk cincin warna ungu pada

batas kedua cairan menunjukkan adanya ikatan gula (Marjoni, 2016).

5. Pemeriksaan saponin

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia dimasukkan kedalam tabung reaksi dan

ditambahkan 10 ml aquadest panas, didinginkan kemudian dikocok kuat-

kuat selama tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm buih yang

diperoleh. Pada penambahan asam klorida 2 N, apabila buih tidak hilang

menunjukkan adanya saponin (Marjoni, 2016).

6. Pemeriksaan steroida / triterpenoida

Sebanyak 1 g sampel di maserasi dengan 20 ml n-heksan selama 2 jam, lalu

disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan 2

tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat. Timbul warna ungu
22

atau merah kemudian berubah menjadi hijau biru menunjukkan adanya

steroida / triterpenoida (Marjoni, 2016).

3.5.3 Ekstraksi

Ekstraksi simplisia daun alpukat dilakukan dengan metode maserasi

dengan cara menimbang 500 gr simplisia kering daun alpukat, dimasukkan ke

dalam bejana kemudian ditambahkan pelarut etanol 80 %. Simplisia direndam

selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sesekali diaduk, lalu disaring. Residu

di tambahkan etanol 80% direndam selama 2 hari terlindung dari cahaya sambil

sesekali diaduk, hasil ekstrak cair disaring dengan menggunakan kertas saring

serta ditampung dalam sebuah wadah kaca. Setelah semua ekstrak cair yang

didapat kemudian diuapkan dengan menggunakan alat rotary evaporator pada

suhu 400C dan diperoleh ekstrak kental.

3.5.4 Pembuatan formula

Formula yang dipilih berdasarkan formula standard yang terdapat pada

Formularium Kosmetika Indonesia (1985) seperti pada Tabel 3.1. Dalam

penelitian ini, sediaan yang akan dibuat adalah sediaan pewarna rambut dengan

tujuan untuk memberikan warna coklat gelap atau kehitaman. Selanjutnya

dilakukan lagi orientasi terhadap rambut uban dengan penambahan xanthan gum

1% pada Tabel 3.2.

Tabel 3.1. Formula standart


Komposisi Coklat muda Coklat tua Hitam
Serbuk inai 30 83 73
Pirogalol 5 10 15
Tembaga (II) sulfat 5 7 12

Tabel 3.2. Formula pewarna rambut yang dibuat


Formula (%)
Komposisi A B C
23

Ekstrak daun alpukat 5 15 25


Pirogalol 1 1 1
Tembaga (II) Sulfat 1 1 1
Xanthan gum 1 1 1
Air ad (ml) 100 ml 100 ml 100 ml
Keterangan:
Formula A : konsentrasi ekstrak daun alpukat 5% + pirogalol 1% + tembaga
(II) sulfat 1% + xanthan gum 1%
Formula B : konsentrasi ekstrak daun alpukat 15% + pirogalol 1% + tembaga
(II) sulfat 1% + xanthan gum 1%
Formula C : konsentrasi ekstrak daun alpukat 25% + pirogalol 1% + tembaga
(II) sulfat 1% + xanthan gum 1%
Prosedur kerja

Beaker glass di kalibrasi 100 ml, setelah dikalibrasi, ekstrak daun alpukat

dimasukkan ke dalam lumpang, ditambahkan pirogalol, tembaga (II) sulfat dan

xanthan gum sesuai dengan formula yang digunakan, digerus. Ditambahkan

aquadest 50 ml kedalam lumpang. Lalu digerus sampai homogen. Dipindahkan

massa kedalam beaker glass yang telah dikalibrasi, kemudian dicukupkan dengan

aquadest sampai batas kalibrasi.

Empat ikat rambut uban masing-masing dicuci dengan shampo.

Dimasukkan kedalam campuran bahan pewarna rambut , dilakukan perendaman

selama 1-4 jam, diambil setiap jamnya kemudian dicuci, dikeringkan, dan

dipisahkan serta diamati warna yang terbentuk sesuai dengan waktu perendaman.

3.5.5 Pengamatan secara visual

Pengamatan ini dilakukan terhadap masing-masing formula untuk tiap kali

perendaman. Dari hasil percobaan yang dilakukan, ditentukan waktu perendaman

yang optimal, yaitu dengan membandingkan hasil pewarnaan setelah 1 sampai 4

jam perendaman. Kemudian masing-masing formula diamati hasil akhir

pewarnaannya.

3.5.6 Stabilitas terhadap warna pencucian


24

pencucian dilakukan sebanyak 8 kali selama 15 hari menggunakan

shampo, amati masing-masing warna, ketahanan warna dapat melekat dirambut

dengan beberapa kali pencucian.

3.5.7 Stabilitas warna terhadap sinar matahari

Warna ditentukan kestabilannya dengan memaparkan rambut selama 5 jam

dibawah sinar matahari, bertujuan untuk mengetahui stabilitas warna yang

dihasilkan terhadap pengaruh paparan sinar matahari

3.5.8 Uji organoleptis

Uji organoleptis dimaksudkan untuk melihat tampilan fisik sediaan yang

meliputi bentuk, warna dan aroma sediaan pewarna dengan berbagai konsentrasi

ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.).


25

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Hasil Pengambilan Daun dan Pengeringan Daun

Hasil pengambilan daun adalah daun alpukat yang segar dan dipetik

langsung dari pohonnnya dengan berat sebanyak 10 kg yang sudah dipisahkan

dari batang dan ranting. Daun segar tersebut dikeringkan dan diperoleh berat

sampel kering sebanyak 1 kg dan daun kering diblender menjadi serbuk simplisia

dengan berat 1 kg.

4.1.2 Pembuatan Ekstrak

Ekstrak kental yang diperoleh sebanyak 62,3533 gr

4.1.3 Skrining Fitokimia

Menurut sentat (2015) sudah dilakukan uji skrining fitokimia pada daun

alpukat dan menunjukkan adanya golongan senyawa saponin, steroid, tanin,

alkaloid, flavanoid. Dalam penelitian ini dilakukan uji skrining fitokimia pada

serbuk simplisia daun alpukat dengan menunjukkan adanya golongan senyawa

pada tabel dibawah ini :


26

Tabel 4.1 Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia Daun Alpukat


(Persea americana Mill.)
Metabolit sekunder Hasil pengujian
Alkaloid +
Saponin +
Tanin +
Flavonoid +
Steroid / Triterpenoid +
Glikosida -

Keterangan : (+) ada


(−) tidak ada
4.1.4 Evaluasi Fisik Sediaan Pewarna Rambut

a. Uji organoleptik

Uji organoleptik meliputi bau,25warna, dan bentuk yang dihasilkan dengan

pengamatan visual.

Tabel 4.2 Hasil uji organoleptik


Formula Organoleptis
Bentuk Aroma Warna
F1 Semi Padat Tidak berbau Hitam
F2 Semi Padat Tidak berbau Hitam
F3 Semi Padat Tidak berbau Hitam

Keterangan:
Formula 1 = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 5%
Formula 2 = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 15%
Formula 3 = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 25%

Berdasarkan hasil yang diperoleh, penambahan konsentrasi ekstrak daun

alpukat dan warna yang dihasilkan tergantung dari konsentrasi ekstrak yang

digunakan. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak, maka semakin baik warna yang

dihasilkan.

4.1.5 Uji stabilitas warna yang dihasilkan

a. Pengamatan Secara Visual

Hasil perendaman rambut uban dari masing-masing formula yang dibuat

memberikan perubahan warna pada rambut uban seperti pada Tabel 4.3.
27

Tabel 4.3 Hasil Pewarnaan Pada Lama Perendaman (Jam)


Formula Hasil pewarnaan pada lama perendaman (Jam)
I II III IV
A Coklat muda Coklat muda Coklat Coklat
B Coklat muda Coklat Coklat Coklat tua
C Coklat Coklat tua Coklat tua Hitam
Keterangan:
Formula A = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 5%
Formula B = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 15%
Formula C = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 25%
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak daun

alpukat, pewarnaan menjadi lebih gelap sampai pada konsentrasi 25%. Hal ini

disebabkan karena semakin tinggi jumlah ekstrak daun alpukat akan memberikan

warna yang lebih dominan dibandingkan formula dengan konsentrasi ekstrak

lebih rendah.

Pencampuran ekstrak daun alpukat, pirogalol, dan tembaga (II) sulfat dan

xanthan gum dapat memperbaiki daya lekat warna pada rambut. Zat warna dapat

menempel lebih kuat pada rambut.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap percobaan yang telah dilakukan,

diketahui bahwa lamanya waktu perendaman mempengaruhi hasil pewarnaan

rambut uban seperti terlihat pada Gambar 4.1.

Perendaman rambut uban dalam sediaan pewarna rambut dilakukan

selama 1-4 jam. Penentuan waktu perendaman ini berdasarkan hasil yang

diperoleh bahwa pewarnaan rambut uban terjadi secara bertahap hingga mencapai

pewarnaan maksimal pada perendaman selama 4 jam yang dapat mengubah

rambut uban (putih) menjadi warna cokelat atu kehitaman.

Hasil pengamatan secara visual terhadap perendaman rambut uban

diperoleh formula yang menghasilkan perubahan warna paling jelas yang


28

mengarah kepada warna kehitaman, yaitu formula C yang terdiri dari ekstrak daun

alpukat 25%, pirogalol 1%, tembaga (II) sulfat 1%, dan xanthan gum 1%.

Gambar 4.1 Hasil Pewarnaan Pada Lama Perendaman (Jam)

A1 A2 A3 A4

Lama perendaman selama 1 jam (A1), 2 jam (A2), 3 jam (A3), 4 jam (A4)

B1 B2 B3 B4

Lama perendaman selama 1 jam (B1), 2 jam (B2), 3 jam (B3), 4 jam (B4)

C1 C2 C3 C4
29

Lama perendaman selama 1 jam (C1), 2 jam (C2), 3 jam (C3), 4 jam (C4)

b. Uji stabilitas warna terhadap pencucian

Uji stabilitas warna terhadap pencucian bertujuan untuk mengetahui pengaruh

perbedaan lama pencucian terhadap warna. Syarat pencucian pewarna rambut

dengan menggunakan sampo dilakukan minimal 7 kali pencucian.

Tabel 4.4 Uji stabilitas warna terhadap pencucian


Pencucian Perubahan Warna
F1 F2 F3
1 Tetap Tetap Tetap
3 Tetap Tetap Tetap
5 Tetap Tetap Tetap
7 Tetap Tetap Tetap
9 Tetap Tetap Tetap
11 Memudar Memuda Tetap
r
13 Tetap Memuda Memuda
r r
15 Memudar Tetap Tetap

Keterangan :
Formula 1 = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 5%
Formula 2 = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 15%
Formula 3 = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 25%

Berdasarkan uji stabilitas warna terhadap pencucian diperoleh hasil bahwa

ketiga formula memiliki warna yang tetap sampai dengan 9 kali pencucian

dengan shampoo, setelah melebihi 9 kali pencucian maka rambut berlahan – lahan

akan memudar tetapi dalam penelitian ini warna yang memudar hanya tipis tidak

telalu jelas perubahannya.


30

c. Uji stabilitas warna terhadap sinar matahari

Uji stabilitas warna terhadap sinar matahari bertujuan untuk mengetahui

stabilitas warna yang dihasilkan terhadap pengaruh paparan sinar matahari.

Tabel 4.5 Uji stabilitas warna terhadap sinar matahari


Lama Penjemuran Formula (warna)
F1 F2 F3
0 (jam) Coklat Coklat tua Hitam
5 (jam) Coklat tua Coklat tua Hitam

Keterangan :
Formula 1 = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 5%
Formula 2 = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 15%
Formula 3 = Konsentrasi ekstrak daun alpukat 25%

Gambar 4.2 Uji stabilitas warna terhadap sinar matahari (Jam)

sebelum Sesudah

F1 (Kosentrasi ekstrak 5%)

sebelum sesudah

F2 (Kosentrasi ekstrak 15%)


31

sebelum Sesudah
F3 (Kosentrasi ekstrak 25%)
Dari gambar 4.2 terlihat bahwa sesudah rambut terkena sinar matahari

langsung warnanya sedikit berubah, hal ini disebabkan sifat dari pirogalol yang

apabila terkena cahaya ataupun udara akan teroksidasi sehingga warna rambut

lebih gelap dari sebelumnya.

4.2 Pembahasan

Daun alpukat memiliki kandungan kimia yang dapat dijadikan sebagai zat

pemberi warna. Kandungan zat aktif yang terdapat di daun alpukat (Persea

americano miller) adalah saponin, flavonoid, alkaloid serta polifenol. Daun

alpukat juga mengandung tanin.

Tanin merupakan senyawa fenolik kompleks yang digunakan sebagai

pewarna alami. Diketahui bahwa daun alpukat mengandung senyawa tanin, Tanin

yang ada di dalam daun alpukat berkisar antara 15,81 – 22,07%, tanin akan

menimbulkan warna coklat atau kecoklatan (Mursito, 2007).

Didalam ekstrak daun alpukat mengandung zat aktif yang dapat digunakan

sebagai pewarna, Hasil uji skrining fitokimia yang dilakukan, daun alpukat positif

mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, steroid triterpenoid dan tanin.


32

Daun alpukat dapat diformulasikan kedalam sediaan pewarna rambut

dengan kosentrasi 5%, 15%, dan 25%. Pada kosentrasi 5% warna rambut

menghasilkan warna coklat pada waktu 4 jam, sedangkan kosentrasi 15%

menghasilkan warna coklat tua pada waktu 4 jam. Dari beberapa kelompok

ekstrak daun alpukat, pada kosentrasi 25% merupakan kelompok yang

menghasilkan warna terbaik yaitu warna hitam, semakin tinggi kosentrasi maka

semakin baik warna yang dihasilkan.

Hasil pengamatan secara visual terhadap perendaman rambut uban

diperoleh formula yang menghasilkan perubahan warna paling jelas mengarah

pada formula 3 yang terdiri dari ekstrak daun alpukat 25%, pirogalol 1%, tembaga

(II) sulfat 1%, dan xanthan gum 1%.

Dari beberapa tabel diatas menunjukkan terjadinya perubahan warna setelah

beberapa hari pengamatan. Pada uji stabilitas warna terhadap pencucian terlihat

bahwa ketiga formula memiliki warna yang tetap sampai 9 kali pencucian, setelah

melebihi 9 kali pencucian maka rambut berlahan – lahan akan memudar tetapi

dalam penelitian ini warna yang memudar hanya tipis tidak telalu jelas

perubahannya (dapat dilihat pada tabel 4.4).

Pada uji stabilitas warna terhadap paparan sinar matahari terlihat bahwa

sesudah rambut terkena sinar matahari langsung warnanya sedikit berubah, hal ini

disebabkan sifat dari pirogalol yang apabila terkena cahaya ataupun udara akan

teroksidasi sehingga warna rambut lebih gelap dari sebelumnya (dapat dilihat

pada tabel 4.5).

Berdasarkan uraian diatas ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.)

dapat dijadikan sebagai sumber zat pewarna alami, warna yang paling dominan
33

pada sediaan adalah warna coklat karena mengandung pigmen alam. Beberapa

pigmen alami yang banyak terdapat di sekitar kita antara lain: klorofil, karotenoid,

tanin dan antosianin. Potensi sumber zat warna alami ditentukan oleh intensitas

warna yang ada dalam tanaman tersebut.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.) dapat diformulasikan

sebagai sediaan pewarna rambut yang dihasilkan warna coklat sampai

kehitaman pada rambut.

2. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa perubahan warna

paling jelas yang mengarah pada formula 3 yang terdiri dari ekstrak daun

alpukat 25%, pirogalol 1%, tembaga (II) sulfat 1%, dan xanthan gum 1%

yaitu kehitaman. Semakin tinggi kosentrasi maka semakin jelas warna

yang dihasilkan.

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk terus meningkatkan nilai guna

dari ekstrak daun alpukat, seperti dalam bidang kosmetik lainnya dengan

membuat bentuk sediaan lain.


34

DAFTAR PUSTAKA

33 Cetakan kedua. Jakarta. PT Bhratara


Bhratara. (1996). Memangkas Rambut.
Media. Hal. 5

Budiana, N.S. (2013). Buah Ajaib Tumpas Penyakit. Jakarta. Penebar Swadaya.
Hal. 35-36

Departemen Kesehatan, (2010). Farmakope Indonesia, Edisi ke 4. Jakarta


Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan. Hal. 7

Departemen Kesehatan, (1985). Formularium Kosmetik Indonesia Republik


Indonesia. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Hal. 208

Erlinda, Dwi, (2017). Efek Diuretik Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea
americana Mill.) Terhadap Histologi Lambung Tikus Putih Jantan (Ratus
norvegius) Strain Wistar. Skripsi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Jember.

Gelies, Diah Dwi Ayu, (2015) Uji efek hiperurisemia ekstrak etanol daun sukun
(Artocarpus alritis Park.). Medan. Skripsi Program Studi Farmasi,
Universitas Muslim Nusantara Alwasliyah.

Hanani, Endang, (2015). Analisis Fitokimia. Jakarta. EGC. Hal. 10-14

Ibunda Suparni, Ari Wulandari (2014). Herbal Nisantara 1001 Ramuan


Tradisional Asli Indonesia. Hal. 12-13.

Kumoro Andri Cahyo, (2015). Teknologi ekstraksi senyawa bahan aktif dari
tanaman obat. Cetakan Pertama. Yogyakarta. Plantaxia Hal 7-8.

Marzoni, Mhd. Riza (2016). Dasar-Dasar Fitokimia. Cetakan pertama. Jakarta


Timur. CV. Trans Info Media. Hal. 15-28
35

Nadiya Ayu Fauziah., Chairul Saleh dan Erwin, (2016). Ekstraksi uji stabilitas zat
warna dari kulit buah alpukat (Persea Americana Mill.) Dengan metode
spektroskopi UV-Vis. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Mulawarman

Nasution M. Khairil., Nazliniwaty, (2012). Penggunaan Ekstrak Kering Kayu


Merbau (Intsia Bakeri Prain.) Dalam Sediaan Pewarna Rambut Journal of
Pharmaceutics and Pharmacology, Vol. 1 (2): 119 -124

Patrick, Fitz, (1979). Mengenal Biologi Kulit dan Rambut. Hal. 14

Saptorini Etty Kurnia, (2016). Pemanfaatan Limbah Daun Rambutan Sebagai


Penghitam Rambut Beruban. Skripsi Program Studi Pendidikan Tata
Kecantikan. Universitas Negeri Semarang.

Sari, Wening, dkk (2012). Panduan Lengkap Kesehatan Wanita. Penebar Plus.

Sarker , S. D. and Nahar, L., 2012, An Introduction to Natural Product Isolation.


In: Satyajit D. Sarker and Lutfun Nahar (eds.), Natural Product Isolation,
Methods in Moleculer Biology, vol. 864, DOI 10.1007/978-1-61779-624-
1_4, Springer Science+Business Media, LLC 2012, pp, 1-25

Satya, Bayu DS, (2013). Koleksi Tumbuhan Berkhasiat. Cetakan 1. Yogyakarta.


Andi Publisher. Hal. 11-12

Sunarjono, H. Hendro, (2008). berkebun 21 Jenis Tanaman Buah. Cet. 6. Jakarta:


Penebar swadaya. Hal. 31-32

Triswanto Sentat, (2015). Uji aktivitas ekstrak etanol daun alpukat (persea
americana Mill.) Terhadap penyembuhan luka bakar pada punggung mencit
putih jantan (mus musculus). Akademi Farmasi Samarinda

Wasitaatmadja, Sjarif M. (1997), Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta. FK UI.


Hal. 126
36

Lampiran 1. Tanaman dan simplisia Daun Alpukat

Gambar 1. Tanaman daun alpukat

Gambar 2. Simplisia daun alpukat


37

Gambar 3. Serbuk simplisia daun


alpukat

Lampiran 2. Ekstraksi

Gambar 4. Ekstraksi (maserasi)


38

Gambar 5. Penyaringan Gambar 6. Hasil Penyaringan (Maserat)

Lampiran 3. Bagan Prosedur kerja


Prosedur pembuatan ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.).

Simplisia daun alpukat

Dimasukkan kedalam wadah

Ditambahkan etanol 80% sampai serbuk


terendam

Dibiarkan selama 5 hari terlindung dari


cahaya,

Disaring

Maserat Ampas
masdMase Ampas
Ditambahkan etanol 80%

Dibiarkan selama 5 hari terlindung


dari cahaya dan sesekali diaduk

Disaring

Maserat
Ampas
39

Diuapkan dengan rotary


evavoratory

Ekstrak kental daun alpukat

Lampiran 4. Penguapan

Gambar 7. Penguapan dengan rotary evaporator

Gambar 8. Waterbath (untuk mendapatkan ekstrak yang lebih kental)


40

Gambar 9. Hasil Ekstrak kental Gambar 10. Penimbangan ekstrak


Lampiran 5. Skrining fitokimia

Gambar 11. Skrining Fitokimia


Gambar 12. Positif Saponin
Alkaloid dengan Pereaksi meyer,
Dragendrof, Bouchardat

Gambar 13. Positif tanin Gambar 14. Positif Flavonoid


41

Gambar 15. Positif Steroid / triterpenoid Gambar 16. Negatif Glikosida

Lampiran 6. Flowsheet skrining fitokimia

1. Pemeriksaan Alkaloid

0,5 gr serbuk simplisia


Ditambahkan 1 ml HCL 2N
Ditambahkan 9 ml aquadest
Dipanaskan selama 2 menit
Didinginkan
disaring

Filtrat

Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3

diambil 3 tetes diambil 3 tetes diambil 3 tetes


filtrat. filtrat. filtrat.
Ditambahkan 2 Ditambahkan 2 Ditambahkan 2
tetes pereaksi tetes pereaksi tetes pereaksi
dragendorf. bouchardat. dragendorf.
42

Menghasilkan Menghasilkan Menghasilkan


endapan putih endapan cokelat endapan merah
atau kuning hitam bata

2. Pengujian Flavonoid

10 gr serbuk simplisia
ditambahkan 100 ml air
panas
dididihkan ± 5 menit
disaring

Residu Filtrat
diambil 5 ml filtrat
ditambahkan 0,1 gr serbuk
mg
ditambahkan 1 ml HCL (p)
ditambahkan 2 ml amil
alkohol
dikocok
dibiarkan memisah

Menghasilkan warna
merah, kuning, jingga pada
lapisan amil alkohol
43

3. Pengujian Tanin

0,5 gr serbuk simplisia


diekstrak dengan 10 ml
aquadest
disaring

Residu Filtrat
diencerkan dengan aquadest
sampai tidak berwarna
diambil 2 ml hasil
pengenceran
Ditambahkan 1-2 tetes besi
(III) klorida

Menghasilkan warna biru


atau hijau kehitaman
44

4. Pengujian Glikosida

3 gr serbuk simplisia
disari dengan 30 ml etanol 95%
(7:3)
direfluks ± 10 menit
didinginkan
disaring

Residu Filtrat
diambil 20 ml filtrat
ditambahkan 25 ml timbale (II)
asetat 0,4 N.
dikocok
didiamkan ± 5 menit
disaring

Disari sebanyak 3 kali


ditambahkan natrium sulfat
anhidrat secukupnya
Filtrat disaring
diuapkan pada temperature ±
500C
45

Sisa

dilarutkan dengan 2 ml metanol


diambil 0,1 larutan percobaan
dimasukkan ke dalam tabung
reaksi
diuapkan diatas penangas air

Sisa

ditambahkan 2 ml air
ditambahkan 2 tetes pereaksi
molish
ditambahkan hati-hati 2 ml asa,
sulfat
diuapkan diatas penangas air

Menghasilkan cincin
berwarna ungu pada batas
cairan
46

5. Pengujian Saponin

0,5 serbuk simplisia


dimasukkan kedalam tabung
reaksi
ditambahkan 10 m aquadest
panas
didinginkan
dikocok kuat ± 10 menit

Diperoleh buih
setinggi 1-10 cm

Ditambahkan asam klorida 2 N

Buih tidak hilang


positif tanin
47

6. Pengujian Steroid / triterpenoid

1 gr serbuk simplisia
dimaserasi dengan 20 ml n-heksan
selama 2 jam
disaring

Residu Filtrat

diuapkan dalam cawan penguap

Sisa

ditambahkan 2 tetes asam asetat


anhidrat
ditambahkan 1 tetes asam sulfat
pekat

Menghasilkan warna ungu atau


merah kemudian berubah
menjadi hijau biru
48

Lampiran 7. Bahan Formulasi sediaan Pewarna rambut

Gambar 17. Pirogalol

Gambar 18. Tembaga (II) Sulfat


49

Gambar 19. Xanthan gum

Lampiran 8. Formulasi Sediaan

Gambar 20. Formulasi sediaan pewarna rambut dengan


kosentrasi 5%, 15% dan 25%

Gambar 21. Hasil sediaan pewarna rambut


50

Gambar 22. Perendaman rambut


unban

Lampiran 9. Pengujian ketahanan warna rambut terhadap pencucian

sebelum sesudah Sebelum Sesudah


F1 (Kosentrasi 5%) F1 (Kosentrasi 5%)

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah


F1 (Kosentrasi 5%) F2 (Kosentrasi 15%)

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah

F2 (Kosentrasi 15%) F2 (Kosentrasi 15%)


51

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah


F3 (Kosentrasi 25%) F3 (Kosentrasi 25%)

Sebelum Sesudah

F3 (Kosentrasi 25%)
52

Lampiran 10. Ketahanan warna terhadap Sinar Matahari

sebelum Sesudah
F1 (Kosentrasi ekstrak 5%)

sebelum sesudah
F2 (Kosentrasi ekstrak 15%)

sebelum Sesudah

F3 (Kosentrasi ekstrak 25%)