Anda di halaman 1dari 13

PENGEMBANGAN MEDIA BELAJAR “POKEMON”

UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA


PADA PEMBELAJARAN KIMIA KONSEP IKATAN
KIMIA SISWA KELAS X SMAN 1 LINGSAR
KABUPATEN LOMBOK BARAT

OLEH

NURHALIDAH

JURUSAN MAGISTER PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2010/2011
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI…………………………………………i

JUDUL PROYEK….....................................................................................1

LATAR BELAKANG MASALAH……………………………………….1

RUMUSAN MASALAH…………………………………………………..4

HASIL YANG DIHARAPKAN…………………………………………..4

KERANGKA KONSEPTUAL……………………………………………4

METODE PENGEMBANGAN…………………………………………...7

JADWAL KEGIATAN……………………………………………………11
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Visi Pendidikan Nasional adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai

pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga

negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu

dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sejalan dengan Visi

itu, Depdiknas berhasrat untuk pada tahun 2025 menghasilkan insan indonesia

cerdas dan kompetitif yaitu Insan Kamil/Insan Paripurna. Selanjutnya dalam

pembukaan UUD 1945, ditegaskan bahwa salah satu tujuan nasional adalah

mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berkaitan dengan itu, pemerintah pusat (Depdiknas) saat ini sedang

melakukan berbagai pembenahan dalam standarisasi, termasuk pembenahan

kurikulum, sistem pengujian, dan akreditasi. Pemerintah juga sedang melakukan

upaya reorientasi dan revitalisasi terhadap lembaga dan organisasi yang ada,

seperti forum-forum profesi MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dan

MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), serta menggalakkan program-

program kompetensi keilmuan bagi guru dan peserta didik. Hal ini ditempuh

untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi peningkatan mutu pendidikan.

Guru merupakan ujung tombak bagi peningkatan mutu pendidikan. Dalam

proses pembelajaran, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan

memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai

tanggungjawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk
membantu proses perkembangan siswa. Sebagai salah satu komponen dalam

kegiatan belajar mengajar (KBM), guru memiliki posisi yang menentukan

keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang,

mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran. Gagne (1974) dalam Degeng (1989)

mengatakan bahwa guru bertugas mengalihkan seperangkat pengetahuan yang

terorganisasikan sehingga pengetahuan itu menjadi bagian dari sistem

pengetahuan siswa. Sejalan dengan itu pula, Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) menegaskan bahwa kedudukan guru dalam kegiatan belajar

mengajar sangat strategis dan menentukan. Strategis karena guru akan

menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Menentukan karena

gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada

siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi guru dalam upaya memperluas dan

memperdalam materi ialah rancangan pembelajaran yang efektif, efisien, menarik,

dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi dapat dilakukan dan dicapai oleh

setiap guru

Pelajaran kimia sebagai salah satu bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam

(IPA) merupakan gabungan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan

dan konsep yang terorganisir tentang alam sekitar yang diperoleh melalui

serangkaian proses ilmiah. Proses tersebut meliputi pendidikan, penyuluhan dan

pengujian gagasan-gagasan.

Hasil pengamatan di sekolah, pelajaran kimia merupakan salah satu

pelajaran yang dianggap sulit karena dalam ilmu kimia mengandung banyak
simbol yang bersifat abstrak, salah satunya pada pokok bahasan ikatan kimia.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, guru harus mempunyai strategi yang jitu agar

pembelajaran kimia dapat menyenangkan sehingga simbol-simbol yang abstrak

bukan lagi menjadi alasan untuk mengatakan bahwa kimia adalah pelajaran yang

sulit.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa tertarik untuk mengembangan

suatu model pembelajaran kimia yang menyenangkan dan mampu menggali

potensi peserta didik agar dapat menemukan sendiri konsep-konsep yang

berkaitan bahasan yang dipelajari. Penelitian tersebut berjudul Pengembangan

model “Pokemon” untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran

kimia pokok bahasan ikatan kimia siswa kelas X SMAN 1 Lingsar kabupaten

Lombok barat
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

Sejauhmana efektivitas penggunaan model permainan “pokemon” terhadap hasil

belajar peserta didik dalam pembelajaran kimia pokok bahasan ikatan kimia siswa

SMAN 1 Lingsar Kabupaten Lombok Barat.

1.3 Hasil yang Diharapkan

Dengan menerapkan permainan pokemon dalam pembelajaran, peserta

didik diharapkan lebih aktif dan mampu menemukan sendiri berbagai konsep

yang berkaitan dengan pokok bahasan ikatan kimia sehingga berimplikasi positif

pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui sejauhmana efektivitas penggunaan model permainan

“pokemon” terhadap hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran kimia pokok

bahasan ikatan kimia siswa SMAN 1 Lingsar Kabupaten Lombok Barat.

Kerangka Konseptual

Proses pembelajaran meliputi kegiatan yang dilakukan oleh guru mulai

dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut

yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu

pengajaran. Unsur asasi dari belajar adalah selalu melibatkan adanya perubahan
dalam diri orang yang belajar. Agar berkualitas sebagai belajar, perubahan itu

harus dilahirkan oleh pengalaman, oleh interaksi antar sesama peserta didik atau

antara peserta didik dengan guru maupun dengan lingkungan.

Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang

tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru, dengan

kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan

suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Menurut Gagne, Briggs, &

Wager (dalam Prawiradilaga, 2007) desain pembelajaran membantu proses belajar

seseorang, dimana proses belajar itu sendiri memiliki tahapan segera dan jangka

panjang. Mereka percaya proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi

belajar, internal maupun eksternal.

Ilmu kimia merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

yang berisi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan zat baik komposisi,

srtuktur dan sifat, trasformasi, dinamika maupun energitika zat yang melibatkan

ketrampilan dan penalaran, sehingga sebagian besar ilmu kimia bersifat abstrak.

Karena hal tersebut, diperlukan metode atau cara yang spesifik agar peserta didik

lebih memahami konsep-konsep dalam ilmu kimia. Pokok Bahasan ikatan kimia

(ikatan ion) adalah pokok bahasan yang menjadi dasar/prasyarat untuk pokok-

pokok bahasan selanjutnya. Tanpa mengetahui proses terbentuknya ikatan kimia

dan nama-nama senyawa kimia maka suatu hal yang mustahil bagi peserta didik

untuk dapat mengerti atau menuliskan reaksi kimia yang merupakan pondasi

penting dari ilmu kimia di tingkatan Sekolah Menengah atas (SMA).


Berdasarkan pertimbangan di atas, maka akan dicoba suatu model

pembelajaran yang diharapkan mampu merangsang kemampuan kognitif, maupun

psikomotor sehingga peserta didik lebih aktif mencoba dan menemukan konsep-

konsep yang berhubungan dengan hal tersebut. Sebagaimana telah diungkapkan

oleh para ahli pendidikan, bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika

menggunakan banyak indera. Artinya peserta didik tidak hanya mendengarkan

penjelasan dari guru tetapi ikut aktif mencoba.

Pokemon adalah nama binatang dalam permainan anak-anak. Pokemon

biasanya mempunyai aliran listrik disekujur tubuhnya, sehingga bila didekatkan

dengan pokemon lain akan terjadi sengatan listrik. Hal ini sejalan dengan proses

terbantuknya ikatan kimia yaitu ikatan ion. Ikatan ion terjadi karma adanya beda

keelektronegatifan yang besar antara 2 atom, akibatnya atom cenderung

bermuatan positif atau bermuatan negatif. Karena adanya beda muatan tersebut

maka terjadi saling tarik menarik dan terjadi ikatan, sehinggan terbentuk senyawa

kimia.

Metode Pengembangan

Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan pengembangan

(research and development) Borg dan Gall yang terdiri dari sepuluh langkah,

yaitu:

(1) Penelitian dan pengumpulan data (research and information collecting), (2)

Perencanaan (planning), (3) Pengembangan draf produk (develop preliminary

form of product), (4) Pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran


dan instrumen evaluasi, (5) Uji coba lapangan awal (preliminary field testing), (6)

Merevisi hasil uji coba (main product revision), (7) Uji coba lapangan (main field

testing), (8) Penyempurnaan produk hasil uji lapangan (operasional product

revision), (9) Penyempurnaan produk akhir (final product revision).

Penyempurnaan didasarkan masukan dari uji pelaksanaan lapangan, dan (10)

Diseminasi dan implementasi (dissemination and implementation).

Dari sepuluh langkah pengembangan di atas, prosedur penelitian yang digunakan

sebagai berikut:

1 Melakukan pengumpulan data atau informasi dari berbagai sumber

termasuk kajian pustaka, penyebaran angket dan observasi lapangan,

2 Mengembangkan draf atau produk awal, yaitu mengembangkan

Metode pengembangan dibagi dalam tiga tahap yaitu

• Tahap persiapan

• Tahap pelaksanaan

• Tahap evaluasi

Tahap persiapan

Tahap ini merupakan tahap awal yang dilakukan sebelum melakukan

eksperimen. Adapun persiapan yang dilakukan antara lain:

 Menyediakan segala administrasi yang berhubungan dengan eksperimen

yang akan dilakukan. Seperti menyediakan rencana pelaksanaan

pembelajaran.

 Menyediakan alat dan bahan yang dibutuhkan seperti Lembar kerja siswa

(LKS).
 Adapun media adalah berupa potongan karton yang digambar atau

dibentuk sedemikian rupa (seperti pokemon) serta diberi warna-warna

yang mencolok agar dapat menarik perhatian peserta didik. Setiap

potongan karton diberi nama dan lambing dari setiap atom. Pokemon

positif (potongan karton yang menggambarkan ion yang bermuatan

positif) diberi lubang sesuai dengan besar muatannya. Jika bermuatan +1

(positif satu) maka mempunyai satu lubang dan seterusnya. Sebaliknya

untuk pokemon negatif (potongan karton yang mewakili ion yang

bermuatan negatif) diberi kaki atau tangan sesuai dengan besar muatan

ionnya.

Tahap pelaksanaan

Tahap ini diawali dengan penyampaian kompetensi dasar (KD) serta tujuan

yang ingin dicapai dalam pembelajara secara singkat. Kemudian

menyampaikan sekilas tentang materi yang akan dipelajari. Selanjutnya

membagi peserta didik dalam beberapa kelompok, setiap kelompok

beranggotakan 3 atau 4 orang.

Dengan menggunakan media yang telah disediakan pada tahap sebelumnya,

peserta didik didorong untuk melakukan sendiri/merakit sendiri berbagai jenis

senyawa kimia dengan menggunakan pokemon yang ada.

Contoh:

Ikatan antara logam natrium dengan gas klor. Diharapkan peserta didik

mengambil pokemon Na+ dan pokemon Cl-. Kemudian kaki atau tangan dari
pokemon negative akan mengisi lubang pada pokemon positif sehingga terjadi

ikatan kimia antara Na dengan Cl membentuk senyawa NaCl

Demikian juga ikatan antara logam kalsium dengan gas flor. Pokemon Ca

memiliki 2 lubang karena bermuatan +2, sedangkan pokemon F hanya

memiliki satu tangan sehingga untuk dapat berikatan (dengan menutupi semua

lubang yang ada dibutuhkan 2 pokemon F untuk berikatan dengan pokemon

Ca. senyawa kimia yang terbentuk adalah CaF2, bukan CaF.

Selanjutnya peserta didik diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi

kelompoknya, sementara kelompok lain menanggapi.

Tahap evaluasi

Tahap ini merupakan tahap akhir, yaitu tahap refleksi untuk mengetahui

keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan.

3 Uji ahli dengan mengujicobakan model pembelajaran

kepada 2 ahli pembelajaran

4 Merevisi produk awal sesuai dengan hasil validasi dan

saran atau tanggapan dari hasil uji ahli. Revisi ini digunakan untuk perbaikan

terhadap produk awal.

5 Uji lapangan dengan mengujicobakan hasil

pengembangan produk awal yang telah direvisi kepada siswa kelas yang lain

6 Penyempurnaan produk akhir sehingga dihasilkan produk

pengembangan berupa model pembelajaran kimia pada pokok bahasan iktan

kimia (ikatan ion)


Jadwal Kegiatan

Adapun rencana kegiatan di jadwalkan sebagai berikut:

No. Kegiatan Bulan


September Oktober

1. Pengumpulan data v
2. Pengembangan draft Libur V V
hari raya
awal
3. Uji ahli v
4. Revisi produk awal v v
5. Uji lapangan hasil v v
pengembangan produk
awal
6. Penyempurnaan produk v v
akhir