Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGAMATAN MORFOLOGI SERANGGA


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Entomologi
Yang Dibimbing Oleh
Sofia Ery Rahayu, S.Pd., M.Si

Disusun oleh:
Offering GHL/Kelompok 4
Dewi Amalina F ( 160342606211)
Dwi Anggraini Putri ( 160342606251 )
Kharin Furaida Dwi Hafsari ( 160342606293 )
Maulidya Nur Aisyah Putri ( 160342606259 )
Vivi Ary Lindya Putri ( 160342606301 )

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
SEPTEMBER 2018
A. JUDUL
Pengamatan Morfologi Serangga
B. WAKTU
Pada hari Jum’at, 8 September 2018 di ruang 109, Gedung Biologi Universitas Negeri
Malang.
C. TUJUAN
1. Mahasiswa mengetahui morfologi luar serangga
2. Mahasiswa mengetahui bentuk dan struktur serangga
D. DASAR TEORI

Insekta atau serangga merupakan spesies hewan yang jumlahnya paling dominan di antara
spesies hewan lainnya dalam Filum Arthropoda (Rahadian dkk., 2009). Secara morfologi tubuh
serangga dewasa dapat dibedakan menjadi tiga bagian utama, sementara bentuk pradewasa
biasanya menyerupai moyangnya, hewan lunak beruas mirip cacing. Ketiga bagian tubuh
serangga dewasa adalah kepala (caput), dada (thorax), dan perut (abdomen). Caput merupakan
sebuah konstruksi yang padat dan keras dan terdapat beberapa suture yang menurut teori
evolusi caput tersebut terdiri dari empat ruas yang mengalami penyatuan. Torak terdiri dari tiga
ruas yang jelas terlihat, sedangkan abdomen terdiri dari 9 ruas. Caput merupakan kepala
serangga yang berfungsi sebagai tempat melekatnya antena, mata majemuk, mata oseli, dan
alat mulut. Berdasarkan posisinya kepala serangga dibagi menjadi tiga bagian yaitu
hypognathous, prognathous, dan ephistognathous. Hypognathous apabila alat mulutnya
menghadap ke bawah, contoh serangganya adalah belalang Acrididae prognathous apabila alat
mulutnya menghadap ke depan, contoh serangganya adalah kumbang Carabidae dan
ephistognathous apabila alat mulutnya menghadap ke belakang, contoh serangga adalah semua
serangga ordo Hemiptera (Koneri et al. 2010; Listiani 2008; Mason et al. 1993; Syarifah et al.
2012).
Sesungguhnya tubuh serangga terdiri tidak kurang 20 ruas. Enam ruas terkonsolidasi
membentuk kepala, tiga ruas membentuk toraks dan 11 ruas membentuk abdomen. Tidak
seperti halnya vertebrata, serangga tidak memiliki kerangka dalam, oleh karena itu tubuh
serangga ditopang oleh pengerasan dinding tubuh yang berfungsi sebagai kerangka luar
(eksoskleton). Proses pengerasan dinding tubuh tersebut dinamakan sklerotisasi. Dinding tubuh
atau kulit serangga disebut integument. Integument terdiri atas satu lapis epidermis (yang dapat
menghasilkan lapisan luar yang keras), selput (membran) dasar dan kutikula (Lawrance et al.
1994; Mastrigt 2005). Serangga mampu menggigit dan mengunyah makanannya. Tipe mulut
penghisap memiliki bagian-bagian dengan bentuk seperti probosis yang memanjang atau paruh
dan melalui alat itu makanan cair dihisap. Tipe mulut penggigit dilengkapi dengan rahang atas
dan bahwa yang sangat kuat, contohnya mulut belalang dan jangkrik. Tipe mulut penusuk-
penghisap mempunyai rahang yang panjang dan runcing . Contohnya nyamuk. Tipe mulut
penghisap dilengkapi dengan alat seperti belalai panjang yang dapat digulung, contohnya mulut
kupu kupu. Tipe mulut penjilat dilengkapi dengan alat untuk menjilat. Contohnya mulut lebah
madu dan lalat (Jumar, 2000).

E. ALAT DAN BAHAN


Alat :
Mikroskop stereo
Mikroskop cahaya
Loupe
Jarum pentul

Bahan :
Kloroform
Kapas
Belalang
Kupu-kupu
Stereoform

F. PROSEDUR KERJA

Ditangkap serangga (belalang,kupu-kupu), kemudian masukkan dalam toples dan diberi


kapas yang telah ditetesi kloroform secukupnya.

Diretangkan serangga tersebut di atas papan perentang serangga atau steroform.


Dilakukan pengamatan terhadap:
a. Kepala dengan bagian-bagiannya, antena, mulut, mata, thorax dan bagian-bagiannya.
b. Perlekatan kaki pada torax, fungsi kaki pada bagian thorax
c. Perlekatan sayap, bentuk sayap, warna sayap
d. Abdomen dengan bagian-bagiannya
e. Ekstremitas
f. Fungsi setiap kaki depan, belakang, dan sebagainya
g. Sayap (jumlah sayap, kondisi sayap yang meliputi bentuk, venasi, ketebalan, warna serta
keistimewaan). Kemudian digambar pada laporan sementara.

G. DATA PENGAMATAN
H. ANALISIS DATA
I. PEMBAHASAN

Kupu-kupu merupakan serangga yang termasuk dalam bangsa Lepidoptera, artinya


serangga yang hampir seluruh permukaan tubuhnya tertutupi oleh lembaran-lembaran sisik
yang memberi corak dan warna sayap kupu-kupu (Scoble, 1995). Lepidoptera dibagi menjadi
tiga subordo, yaitu Rhopalocera (kupu-kupu), Grypocera (skipper) dan Heterocera (ngengat)
(Roepke 1932). Seiring dengan berkembangnya taksonomi Lepidoptera, Grypocera
dimasukkan dalam subordo Rhopalocera, sehingga Lepidoptera hanya terbagi menjadi dua
subordo, yaitu Heterocera (ngengat) dan Rhopalocera (kupu-kupu dan skipper) (Borror 1992,
Scobel 1995, Gillott 2005).
Struktur tubuh kupu-kupu terbagi menjadi 3 bagian yaitu kepala (caput), dada (thoraks),
dan perut (abdomen) dengan 3 pasang kaki dan 2 pasang sayap di bagian torak. Alat kelamin
Lepidoptera terdapat pada bagian ujung ruas abdomennya. Tubuh Lepidoptera dilapisi oleh
eksoskeleton atau rangka luar berupa lapisan kitin dan tersusun dalam segmen-segmen seragam
yang dipisahkan oleh membran fleksibel. Ketiga bagian tubuh Lepidoptera memiliki struktur
yang berbeda-beda dengan fungsinya masing-masing (Morrell, 1960),yaitu:
A. Kepala bulat kecil dengan alat makan berbentuk belalai disebut probosis dan terdapat alat
sensorik berupa sepasang antena yang biasanya menebal di bagian ujungnya. Mata Lepidoptera
adalah mata majemuk berbentuk belahan bola pada bagian atas kepala.
B. Thoraks merupakan bagian tubuh dimana kaki dan sayap tersusun atas tiga segmen yang
masing-masing terdapat sepasang kaki untuk berjalan dan berpegangan. Dua pasang sayap
kupu-kupu terletak di meso thoraks dan pada meta thoraks. Pada beberapa jenis kupu-kupu
seperti Papilionidae dan Nymphalidae memiliki embelan seperi ekor (tornus).
C. Abdomen Lepidoptera merupakan bagian tubuh paling lunak dibanding kepala dan dada.
Abdomen memiliki sepuluh segmen, namun hanya tujuh atau delapan yang mudah terlihat.
Segmen ujung dari abdomen merupakan alat kelamin kupu-kupu. Pada jantan alat kelaminnya
terdiri dari sepasang capit dan pada betina segmen terakhir abdomen berupa ovipositor yang
fungsinya untuk melakukan telur.
Menurut Sihombing (2002), kupu-kupu biasanya hidup pada habitat terestrial tetapi
komposisi dari jenis yang ada bervariasi menurut kondisi habitatnya.kupu-kupu dapat hidup
pada kisaran suhu antara 18ºC - 10ºC dengan kelembaban udara kurang dari 85% dan intensitas
cahaya yang cukup agar dapat mengepakkan sayapnya untuk terbang mencari makan dan
beraktivitas. Jika kondisi alam yang tidak sesuai dengan habitatnya, populasi kupu-kupu dapat
menurun, maka kupu-kupu dapat dikategorikan sebagai salah satu indikator lingkungan untuk
perubahan kondisi lingkungan yang sedang terjadi. Lepidoptera tersebar dari dataran rendah
sampai ketinggian 750 mdpl bahkan ada yang dapat hidup sampai pada ketinggian 2.000 mdpl.
Kelangsungan hidup kupu-kupu mulai dari fase telur hingga imago, dipengaruhi oleh
berbagai faktor, baik faktor hayati (biotik) maupun faktor fisik (abiotik). Faktor-faktor tersebut
antara lain :

1. Tumbuhan inang dan penghasil naktar (pakan)

2. Organisme lain

3. Iklim

A. Suhu

B. Kelembaban

C. Intensitas cahaya

4. Kerusakan alami

5. Kerusakan oleh manusia

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang
tinggi termasuk jenis faunanya termasuk serangga. Salah satu jenis serangga adalah Orthoptera
yang meliputi belalang, jangkrik dan kecoa. merupakan hewan yang dominan pada daerah
tropis, terdapat dimana-mana baik di darat maupun dalam air. Dominasi orthoptera tersebut
disebabkan karena orthoptera mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya. Selain
itu serangga memiliki waktu generasi yang singkat dan banyak serangga yang berukuran kecil
(Hidayat et al., 2004). Menurut Tan dan Khamaruddin (2014) belalang dari famili Acrididae
termasuk belalang yang hidup kosmopolit dan banyak ditemukan di Asia dan termasuk
Indonesia.
Atractomorpha sp kadang-kadang dikenal sebagai belalang tembakau, kepala dari
famili belalang ini jelas berbentuk kerucut. Untuk genus ini, tubuh ramping, hijau atau coklat
dengan merah muda umumnya berasayap dan warna ungu pada sayap belakang. Sejumlah
spesies telah tercatat di Asia Tenggara dan sangat mirip satu sama lain yang menjadikan proses
identifikasi menjadi sulit. Atractomorpha sp memiliki organ timpana pada ruas-ruas abdomen
pertama yang berfungsi sebagai membran pendengaran. Hal ini sesuai dengan yang telah
dijelaskan oleh (Lightfoot, 1989). Selain itu atractomorpha sp juga memiliki sayap yang
melebihi bagian abdomen, sayap ini ketika terbang dapat mengahsilkan suara. Tipe sayap yang
dimiliki Atractomorpha adalah membranous.
Kelimpahan jenis serangga sangat ditentukan oleh aktivitas reproduksinya yang
didukung oleh lingkungan yang cocok dan tercukupinya kebutuhan sumber makanannya.
Kelimpahan dan aktifitas reproduksi serangga di daerah tropik sangat dipengaruhi oleh musim
(Erawati dan Kahono, 2010).

KESIMPULAN

1. Serangga dibagi menjadi 2 yaiyu pterygota (serangga bersayap) dan apterygota


(serangga tidak bersayap). Serangga dibagi menjadi beberapa ordo, antara lain: Ordo
Orthoptera (bangsa belalang), Ordo Hemiptera (bangsa kepik), Ordo Homoptera
(wereng, dan kutu), Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat), Ordo Diptera (bangsa
lalat, nyamuk), Ordo Hymenoptera (bangsa tawon, tabuhan, semut), dan Ordo Odonata
(bangsa Capung)
2. Secara umum bagian tubuh serangga berbagi menjadi 3 (tiga), yaitu kepala (head),
dada (thorax), dan perut (abdomen).
3. Ciri-ciri umum serrangga adalah memiliki 2 pasang sayap, 3 pasang kaki di bagian
dada (thorax), dan memiliki antenna di kepala (head).
DISKUSI

1. Jelaskan variasi bentuk kaki, sayap, tipe mulut, serta alat-alat yang lain sehubungan
dengan cara hidupnya, dari serangga yang diamati!
2. Deskripsikan ciri-ciri khusus yang dimiliki serangga yang diamati!

Jawab:

1. Kupu-Kupu
Bentuk kaki pendek yang berada di depan, dan 2 pasang kaki yang lebih panjang di
belakangnya. Tipe kaki Pollen-carrying. Memiliki 2 pasang sayap. Tipe mulut penghisap yang
berbentuk menggulung, fungsinya adalah untuk mengambil sari bunga (nectar). Tipe antenna
filliform sebagai alat sensor yang terdapat di kepala serangga dewasa digunakan untuk
mencium dan keseimbangan. Alat mulut siphoning yaitu pipa untuk memindahkan cairan.
Mata kompon kupu-kupu terdiri dari banyak lensa hexagonal (mata majemuk). Palp labial
membantu kupu-kupu untuk menentukan apakah sesuatu itu merupakan makanan atau bukan.

Belalang

Bentuk kaki belakang dari belalang memiliki femora kaki belakang yang besar untuk
menampung otot-otot yang digunakan untuk melompat, dan kaki depannya digunakan untuk
berjalan, tipe kaki saltatorial. Tipe mulut pengunyah. Tipe sayap pada belalang tergmina atau
elytra terdapat 2 pasang, sayap depan berupa perkamen, diduga sebagai pelindung sayap belakang
dan disebut tegmina. Tipe antena filiform. Mempunyai mata ocelli di daerah kepala bagian atas
serta di tepi sebelah dalam mata majemuk.

2. Ciri khusus kupu-kupu antara lain :


1. Mata hanya dapat melihat warna merah, hijau dan kuning saja
2. Tipe mulut penghisap yang berbentuk menggulung.
3. Ketika tidak digunakan, probosis ini akan digulung melingkar seperti selang air
4. Kaki, terutama sepasang yang ditengah, dilengkapi dengan sensor penciuman yang
membuat kupu-kupu dapat "merasakan" kandungan kimia pada tempatnya hinggap.
Ciri khusus belalang antara lain :
1. Terdiri dari buku-buku
2. Adanya antena khusus yang berukuran sedang hingga pendek
3. Memiliki sayap dengan tekstur lembut yang dapat digunakan untuk terbang dan
menghasilkan suara pada saat terbang
4. Memiliki femur belakang

DAFTAR RUJUKAN

Borror DJ, CA Triplehorn & NF Jhonson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga.


Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Erawati dan Kahono. 2010. Kelimpahan Serangga (Orthoptera). Jurnal penelitian Volume 5
Januari 2010
Erawati dan Kahono. 2010. Kelimpahan Serangga (Orthoptera). Jurnal penelitian Volume 5
Januari 2010
Gillott C. 2005. Entomology Third Edition. On line at http://www.springeronline. com
[accessed 10 September 2018].

Hidayat P & Sosromarsono S. 2003. Pengantar Entomologi. Bogor: IPB Press.


Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta : Rineka Cipta.

Koneri, R., Solihin, D.D., Buchori, D., dan Tarumingkeng, R. 2010. Keanekaragaman
Kumbang Lucanid (Coleoptera: Lucanidae) pada Berbagai Ketinggian Tempat di Hutan
Konsensi Unocal Gunung Salak, Jawa Barat. Jurnal Matematika dan Sains . Vol. 15,
No. 2.
Lawrence, J.F., and Britton, E.B. 994. Australian Beetles. Australia : Melbourne University
Press.
Lightfoot, C. David. 1989. Invertebrates of the H. J. Andrew Eksperimental Forest, Western
Cascades, Oregon III, The Orthoptera (Grasshoper and Cricket). New Mexico: Orgeon
State University.
Listiani, L. 2008. Pengaruh Pola Perkawinan Poliandri Kumbang Ulat Tepung (Tenebrio
molitor L.) Terhadap Jumlah Larva dan Jumlah Kumbang Anaknya. Bogor : Skripsi
Institut Pertanian Bogor.
Mason,Bill and Huber T, Jhon. 1993. Hymenoptera of The World : an Identification to Famili.
Canada : Canada Commuication Group Publishing.
Mastrigt, H.V. 2005. Buku Panduan Lapangan Kupu-kupu untuk Wilayah Membramo sampai
Pegunungan Cyclops. Jayapura : Conservation International.
Morel. 2004. Measuring Biological Diversity. United Kingdom: Blackwell Publishing.

Rahadian dkk., 2009. Keanekaragaman Arthropoda Di Gudang Beras. Jurnal HPT Vol. 03
No.02.

Rahmawaty, Devia. 2012. Keanekaragaman dan Kelimpahan Ordo Orthoptera. Jurnal


Penelitian, Desember 2012
Roepke. 1932. De Vlinders van Java. Batavia: E.Dunlop & Co.

Scoble MJ. 1995. The Lepidoptera: Form, Function and Adversity. New York: Oxford
University Press.

Sihombing DTH. 2002. Satwa Harapan I: Pengantar Ilmu dan Teknologi Budidaya. Bogor:
Pustaka Wirausaha Muda.

Syarifah, N.N., 2012, Keanekaragaman dan Kelimpahan Ordo coleopteran di Kawasan


Gunung Manglayang Bagian Barat Kabupaten Bandung. Bandung : Skripsi
Universitas Pendidikan.
Tan, Miang Kai dan Khamaruddin, Khoirul Nizam. 2014. Orthoptera of Fraser’s Hill
Penisular Malaysia. Jurnal Penelitian. Singapore: Univesity of Singapore.