Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL

ANALISIS PENGARUH LIKUIDITAS SAHAM, ROA (RETURN ON


ASSETS), DAN ROE (RETURN ON EQUITY) TERHADAP RETURN
SAHAM (Studi Pada Perusahaan Indeks LQ-45 Periode 2014-2016)

Pratiwi Bestariati 1513010028


Nadya Adistya Susanto 1513010036
Eleonora Delonix Regia 1513010037
Nabillah Farras Luthfi 1513010038
Kelompok 5/ Kelas A

PROGRAM STUDI EKONOMI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UPN “VETERAN” JAWA TIMUR

TAHUN 2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
1.4.2 Manfaat Praktis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.2 Penelitian Terdahulu
2.3 Kerangka Penelitian
2.4 Hipotesis

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian


3.2 Metode Pengumpulan Data
3.3 Analisis Data

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Investasi adalah salah satu cara bagi perusahaan untuk mendapatkan sumber
pendanaan lebih. Investor dapat melakukan investasi pada banyak pilihan instrumen investasi
sesuai dengan kemampuan menganalisa dan preferensi keberanian mengambil risiko. Akan
tetapi investor harus selalu memaksimalkan return yang dikombinasikan dengan risiko tertentu
atas setiap keputusan investasinya.
Keputusan investasi pada dasarnya menyangkut masalah pengelolaan dana dalam
suatu periode waktu tertentu, dimana investor berharap memperoleh pendapatan (return) atas
dana yang diinvestasikan selama periode tersebut. Sebelum mengambil keputusan investasi,
investor perlu melakukan analisa cermat terkait hasil maksimal yang diharapkan dengan risiko
seminimal mungkin.
Likuiditas saham dapat dijadikan pertimbangan keputusan dalam melakukan
investasi untuk memperoleh tingkat pengembalian yang optimal. Menurut Koetin (1994),
likuiditas saham merupakan kemudahan saham yang dimiliki seseorang untuk diubah kembali
menjadi uang tunai melalui mekanisme pasar. Untuk menarik pembeli dan penjual untuk
berpartisipasi, pasar modal harus bersifat likuid dan efisien, sedangkan menurut Jogianto
(2003), suatu pasar modal dikatakan likuid jika penjual dapat menjual dan membeli surat-surat
berharga mencerminkan nilai dari perusahaan secara akurat.
Saham yang likuid tidak hanya menguntungkan bagi investor saja tetapi juga bagi
emiten, dengan tingkat likuiditas yang tinggi setidaknya mendongkrak reputasi emiten dimata
publik. Investor percaya terhadap kinerja emiten, performance, dan pertumbuhan kedepan.
Oleh karena itu likuiditas saham penting untuk diperhatikan emiten, karena likuiditas saham
menunjukkan baik buruknya kinerja perusahaan.
Laporan keuangan perlu dianalisis untuk mengevaluasi kinerja yang dicapai
manajemen perusahaan di masa yang lalu, dan juga untuk bahan pertimbangan dalam
menyusun rencana perusahaan ke depan (Sudana, 2011:20). Laporan keuangan menunjukkan
informasi mengenai keadaan suatu perusahaan yang bisa dijadikan sumber informasi bagi
pengambilan keputusan.
Salah satu analisis laporan yang paling umum dilakukan yaitu analisis rasio
keuangan. Jenis rasio yang umum digunakan adalah rasio leverage, rasio likuiditas, rasio
aktivitas, rasio pasar, dan rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas terdiri dari enam rasio yaitu:
gross profit margin (GPM), net profit margin (NPM), operating return on assets (OPROA),
return on asset (ROA) atau sering disebut return on investment (ROI), return on equity (ROE),
dan operating ratio (OPR).
Rasio profitabilitas yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memperoleh keuntungan dari penggunaan modalnya (Martono dan Harjito, 2003:53). Rasio
ini biasanya yang sering diperhatikan oleh perusahaan dan investor. Perusahaan menganggap
rasio profitabilitas yang tinggi merupakan keberhasilan perusahaan dalam mempertahankan
kelangsungan usahanya.
Rasio profitabilitas yang penting untuk dianalisis adalah ROA (Return on Asset)
dan ROE (Return on Equity). Perhitungan ROA dan ROE dapat menunjukkan kondisi
keuangan secara keseluruhan karena mencakup komponen dari laporan neraca dan laporan
laba-rugi, sedangkan rasio profitabilitas yang lain hanya mencakup komponen dari laporan
laba-rugi saja.
ROA adalah mengukur pengembalian atas total aset setelah bunga dan pajak
(Brigham and Houston, 2010:148). ROA dapat dijadikan sebagai indikator efisiensi
perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk memperoleh laba. Semakin tinggi ROA, maka
semakin baik kondisi perusahaan.
ROE merupakan pengukuran dari penghasilan (income) yang bagi pemilik
perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang
sudah mereka investasikan di dalam perusahaan (Syamsuddin, 2009:64). Tingkat ROE yang
tinggi menunjukkan bahwa perusahaan menghasilkan laba bersih yang tinggi. Apabila laba
bersihnya tinggi, maka kinerja manajemen dianggap semakin baik pula. Hal tersebut dapat
diartikan bahwa perusahaan dapat mengelola sumber dana yang dimiliknya dengan baik.
Indeks saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indeks LQ-45 yaitu
saham yang memiliki likuiditas tinggi sehingga mudah untuk diperdagangkan yang berisi 45
saham dari perusahaan yang menempati urutan tertinggi mewakili sektornya di Bursa Efek
Indonesia. Dikatakan likuid karena pergerakan harga saham dipengaruhi oleh banyaknya
transaksi jual beli saham di Bursa Efek Indonesia. Artinya saham tersebut banyak diminati
investor. Saham yang banyak diminati juga tergolong memiliki nilai profitabilitas yang baik
karena salah satu indikator investor memilih saham adalah berdasarkan profit yang akan
didapat.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti pengaruh
yang ditimbulkan terhadap return saham, yang kemudian dituangkan dalam sebuah penelitian
yang berjudul : “Analisis Pengaruh Likuiditas Saham dan ROA (Return On Assets), ROE
(Return On Equity) terhadap Return Saham pada Perusahaan Indeks LQ-45 Tahun 2014-2016”

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah untuk
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Apakah likuiditas saham berpengaruh terhadap return saham perusahaan indeks
LQ-45?
2) Apakah return on assets (roa) berpengaruh terhadap return saham perusahaan
indeks LQ-45?
3) Apakah return on equity (roe) berpengaruh terhadap return saham perusahaan
indeks LQ-45?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Menguji pengaruh likuiditas terhadap return saham perusahaan indeks LQ-45.
2) Menguji pengaruh return on assets (roa) terhadap return perusahaan indeks LQ-
45.
3) Menguji pengaruh return on equity (roe) terhadap return perusahaan indeks LQ-
45.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
1. Memberikan masukan sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya,
khususnya yang berhubungan dengan return saham.
2. Memberikan masukan penulis tentang pentingnya pemahaman mengenai
pengaruh likuiditas saham, return on assets (roa), dan return on equity (roe) terhadap
return saham.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Menambah pengetahuan (wawasan) bagi peneliti sehubungan dengan
likuiditas saham, return on assets (roa), return on equity (roe) dan return
saham.

2. Memberi tambahan bahan pertimbangan bagi investor dalam membuat


keputusan investasi. Sebab, likuiditas saham dan rasio profitabilitas khususnya
return on assets (roa) dan return on equity (roe) dapat dijadikan dasar
pengambilan keputusan untuk meminimalkan resiko kerugian investasi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Likuiditas Saham

Likuiditas (liquidity) mengacu pada ketersediaan sumber daya perusahaan untuk


memenuhi kebutuhan kas jangka pendek (Wild et al, 2005: 185). Likuiditas merupakan
kemampuan perusahaan untuk mengubah aktiva menjadi kas atau kemampuan untuk
memperoleh kas dengan mudah dan cepat (Ross et al, 2007: 24). Jadi suatu saham
dikatakan likuid bila saham tersebut mudah untuk ditukarkan atau dijadikan uang
Likuiditas saham adalah ukuran jumlah transaksi suatu saham di pasar modal dalam suatu
periode tertentu. Semakin tinggi frekuensi transaksi saham tersebut, maka semakin tinggi
pula likuiditas saham. Hal tersebut menunjukkan bahwa saham tersebut semakin diminati
investor. Likuiditas saham memiliki arti yang penting baik bagi investor, maupun bagi
emiten. Bagi investor akan menguntungkan jika saham tersebut likuid karena lebih mudah
ditransaksikan sehingga terdapat peluang untuk mendapatkan capital gain. Bagi emiten
sendiri likuiditas saham juga akan menguntungkan, karena apabila perusahaan menerbitkan
saham baru akan cepat terserap pasar, selain itu juga memungkinkan perusahaan terhindar
dari ancaman delisting (dikeluarkan) dari pasar modal. Bahkan di Bursa Efek Indonesia
telah dibuat peringkat untuk 45 buah perusahaan yang memiliki likuiditas saham tertinggi
yang dikenal dengan peringkat LQ45.

Return On Assets (ROA)

Menurut Mardiyanto (2009: 196) ROA adalah rasio digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang berasal dari aktivitas investasi.

Menurut Dendawijaya (2003: 120) rasio ini digunakan untuk mengukur


kemampuan manajemen dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan.
Semakin besar ROA, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan
tersebut dan semakin baik pula posisi perusahaan tersebut dari segi penggunaan asset.
Menurut Lestari dan Sugiharto (2007: 196) ROA adalah rasio yang digunakan
untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan aktiva. Dengan kata
lain, semakin tinggi rasio ini maka semakin baik produktivitas asset dalam memperoleh
keuntungan bersih. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada
investor. Peningkatan daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut makin
diminati investor, karena tingkat pengembalian akan semakin besar. Hal ini juga akan
berdampak bahwa harga saham dari perusahaan tersebut di Pasar Modal juga akan semakin
meningkat sehingga ROA akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan serta return
saham.

Menurut Lestari dan Sugiharto (2007: 196) angka ROA dapat dikatakan baik
apabila >2%.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Return on Assets (ROA) = Laba Bersih x 100%

Total Aktiva

Return On Equity (ROE)

Menurut Mardiyanto (2009: 196) ROE adalah rasio yang digunakan untuk
mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi para pemegang saham.
ROE dianggap sebagai representasi dari kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan.

Menurut Riyadi (2006: 155) Return On Equity (ROE) adalah perbandingan antara
laba bersih dengan modal (modal inti) perusahaan. Rasio ini menunjukkan tingkat
persentase yang dapat dihasilkan. ROE sangat penting bagi para pemegang saham dan
calon investor, karena ROE yang tinggi berarti para pemegang saham akan memperoleh
dividen yang tinggi pula dan kenaikan ROE akan menyebabkan kenaikan saham.
Fred dan Copeland (1999: 233) berpendapat bahwa ”Rasio laba bersih setelah pajak
terhadap modal sendiri digunakan untuk mengukur tingkat hasil pengembalian dari
investasi para pemegang saham”.

Fred dan Brigham (2001: 101) berpendapat bahwa ”Return On Equity (ROE) is the
ratio of net income to common equity: measures the ratio of return on common
stockholders investment”.

Menurut Tambunan (2007: 179) ROE digunakan untuk mengukur rate of return
(tingkat imbalan hasil) ekuitas. Para analis sekuritas dan pemegang saham umumnya sangat
memperhatikan rasio ini, semakin tinggi ROE yang dihasilkan perusahaan, akan semakin
tinggi harga sahamnya.

Menurut Harahap (2007: 156) ROE digunakan untuk mengukur besarnya


pengembalian terhadap investasi para pemegang saham. Angka tersebut menunjukkan
seberapa baik manajemen memanfaatkan investasi para pemegang saham. ROE diukur
dalam satuan persen. Tingkat ROE memiliki hubungan yang positif dengan harga saham,
sehingga semakin besar ROE semakin besar pula harga pasar, karena besarnya ROE
memberikan indikasi bahwa pengembalian yang akan diterima investor akan tinggi
sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham tersebut, dan hal itu menyebabkan
harga pasar saham cendrung naik.

Menurut Lestari dan Sugiharto (2007: 196) ROE adalah rasio yang digunakan untuk
mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari pengelolaan modal yang diinvestasikan
oleh pemilik perusahaan. ROE diukur dengan perbandingan antara laba bersih dengan total
modal. Angka ROE yang semakin tinggi memberikan indikasi bagi para pemegang saham
bahwa tingkat pengembalian investasi makin tinggi. Menurut Lestari dan Sugiharto (2007:
196) angka ROE dapat dikatakan baik apabila > 12%.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Return on Equity (ROE) = Laba Setelah Pajak x 100 %

Total Modal
Return Saham

Return (kembalian) adalah tingkat keuntungan yang dinikmati oleh pemodal


atas suatu investasi yang dilakukan (Ang, 1997). Husnan (1994) juga menyatakan bahwa
return saham merupakan hasil yang diperoleh dari suatu investasi. Investasi harus
henar-benar menyadari bahwa di samping akan memperoleh keuntungan tidak menutup
kemungkinan mereka akan mengalami kerugian. Keuntungan atau kerugian tersebut
sangat dipengaruhi oleh kemampuan investor menganalisis keadaan harga saham
rnerupakan penilaian sesaat yang dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk diantaranya
kondisi (performance) dari perusahaan, kendala-kendala eksteral, kekuatan penawaran
dan permintaan saham di pasar, serta kemampuan investor dalam menganalisis investasi
saham. Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi
yang belum terjadi tetapi yang diharapkan dimasa mendatang. Return realisasi
merupakan return yang telah terjadi, dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi
penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return
historis ini berguna sebagi dasar penentuan return ekspektasi dan risiko di masa
mendatang (Ang, 1997). Konsep riskdan return mempunyai peranan yang sangat besar
dimana perilaku investor seringkali didasarkan pada konsep ini. Husnan (1998) dalam
Martono (2009) mengungkapkan teori keuangan yang membahas tentang analisis
investasi yang memiliki risiko tinggi, para investor mensyaratkan tingkat returnyang
semakin tinggi pula. Return ekspektasi merupakan return yang belum terjadi tetapi
yang diharapkan di masa mendatang. Sebagai individu yang rasional, investor akan
mempertimbangkan return yang diharapkan akan diterima (expected return) dan besaran
risiko yang harus ditanggung sebagai konsekuensi logis dari keputusan yang telah
diambil.

Indeks LQ45

Index LQ45 dibuat dan diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia. Indeks ini terdiri
dari 45 saham dengan likuiditas (liquid) tinggi yang diseleksi melalui beberapa kriteria
pemilihan. Selain penilaian atas likuiditas, seleksi atas saham-saham tersebut juga
mempertimbangkan kapitalisasi pasar. Untuk dapat masuk dalam pemilihan LQ45, suatu
saham harus memenuhi kriteria tertentu dan melewati seleksi utama. Menurut Harianto dan
Sudomo (1998: 101) kriteria pemilihan saham untuk indeks LQ45 yaitu sebagai berikut:

a) Masuk dalam peringkat 60 terbesar dari total transaksi saham di pasar regular (rata-
rata nilai transaksi selama 12 bulan terakhir).

b) Penentuan peringkat berdasar kapitalisasi pasar (rata-rata kapitalisasi pasar selama


12 bulan).

c) Telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) minimum 3 bulan.

d) Keadaan keuangan perusahaan dan prospek pertumbuhannya, frekuensi dan jumlah


hari perdagangan transaksi pasar reguler.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dilakukan oleh Cokorda Istri Indah Puspitadewi dan Henny
Rahyuda (2016) dengan judul “Pengaruh DER, ROA, PER dan EVA Terhadap Return
Saham pada Perusahaan Food and Beverage di BEI”. Tujuan penelitian tersebut yakni
untuk mengetahui signifikansi pengaruh Debt to Equity Ratio, Return On Assets, Price
Earning Ratio dan Economic Value Added terhadap return sahampada perusahaan sektor
Food and Beverage di Bursa Efek Indonesia periode 2011 hingga 2014. Berdasarkan hasil
pengujian secara parsial (Uji t) pada taraf nyata (α) = 5% dapat diketahui bahwa variabel
Return On Assets dan Price Earning Ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap
return saham, sementara variabel lainnya memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap
return saham.

Penelitian juga dilakukan oleh Aida Noviyanti (2017) dengan judul “Analisis
Pengaruh Likuiditas, Solvabilitas, dan Profitabilitas Terhadap Return Saham Perusahaan
Manufaktur”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh rasio keuangan yang
dilihat dari Current Ratio (CR), Debt Equity Ratio (DER), Return On Asset (ROA), dan
Earning Per Share (EPS) terhadap return saham pada perusahaan manufaktur sector food
and baverage yang terdapat di BEI periode 2011- 2015. Penelitian ini menggunakan
analisis regresi berganda dengan Sampel yang digunakan dalam penelitian ini ada 6
perusahaan dengan jumlah 30 observasi perusahaan food and beverage yang go publik di
Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai dengan 2015. Penelitian ini dilakukan di Pojok
Bursa Efek Indonesia Kampus STIESIA. Alat analisis yang digunakan adalah program
SPSS versi 21.0. Hasil yang didapat berdasarkan uji goodness of fit menunjukkan bahwa
model regresi layak digunakan untuk memprediksi current ratio, debt to equity ratio, return
on assets,dan earning per share terhadap return saham pada perusahaan food and beverage.
Dengan uji koefisien determinasi (R2 ) mempunyai kontribusi cukup besar, sedangkan
untuk koefisien korelasi berganda (R) mempunyai hubungan keeratan yang erat. Untuk
pengujian hipotesis secara parsial dihasilkan bahwa variable current ratio, debt to equity
ratio, return on assets, dan earning per share berpengaruh positif dan signifikan terhadap
return saham.

2.3 Kerangka penelitian

Model kerangka penelitian:

Likuiditas Saham

Return on Assets (ROA) Return Saham

Return on Equity (ROE)

Variabel yang dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Dependent variable (Y) yaitu variabel yang dapat dijelaskan atau dipengaruhi oleh
variabel X (likuiditas, ROA, dan ROE). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah harga
saham pada perusahaan LQ45 yang diteliti.
2. Independent variable (X) yaitu variabel-variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi
variabel Y (return saham) perusahaan LQ45 yang diteliti. Variabel bebas tersebut terdiri
dari X1 = Likuiditas Saham, X2 = Return On Assets (ROA) dan X3 = Return On Equity
(ROE).

2.4 Hipotesis

Berdasarkan model kerangka penelitian di atas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1 : Likuiditas saham mempunyai pengaruh positif terhadap return saham

H2 : Return On Assets (ROA) mempunyai pengaruh positif terhadap return saham

H3 : Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh positif terhadap return saham


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang terdaftar pada perusahaan indeks
LQ-45 pada tahun 2014-2016. Penentuan sampel perusahaan dilakukan dengan metode
simple random sampling, Simple Random Sampling adalah pengambilan anggota sampel
dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam
populasi itu (Sugiyono, 2012: 93). Pengambilan peruahaan sampel diambil secara acak
dikarenakan tanpa melihat strata atau apapun.

3.2.Metode Pengumpulan Data


Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersifat
kuantitatif berupa data rasio keuangan perusahaan selama tiga tahun yaitu dari tahun 2014
– 2016 yang terdaftar pada perusahaan indeks LQ-45. Populasi dalam penelitian ini adalah
semua perusahaan LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2014-2016.
Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Menurut
Widyani (dalam Novitasari 2013), metode purposive sampling adalah pemilihan sampel
atas dasar kesesuaian karakteristik sampel dengan kriteria pemilihan sampel yang telah
ditentukan. Kriteria-kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Perusahaan yang sudah listing pada awal periode pengamatan (2014) dan tidak
delisting hingga akhir periode pengamatan (2016).
2. Perusahaan harus tergabung dalam indeks LQ-45 selama 5 (lima) tahun berturut-
turut (konstan) mulai periode 2014-2016.
3. Perusahaan telah menerbitkan laporan keuangan yang mencantumkan nilai
variabel-variabel yang akan teliti yaitu likuiditas saham, ROA, dan ROE, tahun
buku pelaporan keuangan adalah 31 Desember.
3.3.Analisis Data
Uji Regresi Berganda
Metode analisis yang digunakan adalah Model Regresi Berganda. Metode analisis
ini dipilih karena dalam penelitian ini variabel yang digunakan lebih dari satu variabel.
Analisis regresi linier berganda ini digunakan untuk menguji pengaruh Likuiditas saham,
ROA (Return on Assets), dan Return on Equity (ROE) terhadap return saham. Model
umum analisis regresi yang digunakan adalah:
𝑌 = 𝑎 + 𝑏1 𝑥1 + 𝑏2 𝑥2 + 𝑏3 𝑥3 + 𝑒
Keterangan :
Y = Return saham
𝑥1 = Likuiditas Saham
𝑥2 = ROA
𝑥3 = ROE
𝑏1 𝑏2 𝑏3 = Koefisien regresi
𝑒 = Faktor error

3.4.Kerangka Pemikiran

Likuiditas
saham (𝑥1 ) H1

Return on H2 Return Saham


Assets (𝑥2 )
H3
Return on
Equity (𝑥3 )
Berdasarkan landasan teori dan hasil pembahasan penelitian terdahulu. Maka
dibuat kerangka pemikiran seperti diatas. Pada kerangka pemikirandiatas, peneliti
menggunakan Likuiditas saham (X1), return on assets (X2) dan return on equity (X3)
sebagai variabel independen, serta menggunakan return saham (Y) sebagai variable
dependen. Alasan memilih likuiditas saham, return on assests, dan return on equity sebagai
variabel independen karena variabel tersebut sering digunakan dalam penelitian terdahulu
dan memiliki pengaruh terhadap return saham.
DAFTAR PUSTAKA

Amanah, Raghilia, Dwi Atmanto dan Devi Farah Azizah. 2014. “Pengaruh Rasio Likuiditas dan
Rasio Profitabilitas terhadap Harga Saham (Studi pada Perusahaan Indeks LQ45 Periode
2008-2012)”, Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 12 No. 1 Juli 2014.

Dendawijaya, Lukman. 2003. Manajemen Perbankan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Fred, Weston, J. dan Eugene Brigham. 2001. Dasar – Dasar Manajemen Keuangan. Edisi 9.
Jakarta: Erlangga.

Fred, Weston, J. dan Thomas E. Copeland. 1999. Manajemen Keuangan. Edisi 8. Jakarta: Bina
Rupa Aksara.

Harahap, Sofyan Syafri. 2007. Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grasindo
Persada.

Harianto, Farid dan Siswanto Sudomo. 1998. Perangkat dan Teknik Analisis Investasi di Pasar
Modal Indonesia. Jakarta: PT. Bursa Efek Jakarta.

Husnan, Suad, 1994, Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek).
Buku 1. BPFE, Yogyakarta.

Ginting, Suriani, dan Erward. 2013. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return Saham
pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”, Jurnal Wira Ekonomi
Mikroskil, Volume 3, Nomor 01, April 2013.

Lestari, Maharani Ika dan Toto Sugiharto. 2007. Kinerja Bank Devisa Dan Bank Non Devisa dan
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra,
Arsitek & Sipil). 21-22 Agustus, Vol.2. Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma.

Mardiyanto, Handoyo. 2009. Intisari Manajemen Keuangan. Jakarta: PT Grasindo.

Martono, Nugroho Cahyo, 2009, Pengaruh Faktor Fundamental Perusahaan dan Nilai
Tukar terhadap Return Saham pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI (Kasus pada
Perusahaan Manufaktur Periode Tahun 2003 – 2007). Tesis, Program Pasca Sarjana
Magister Manajemen Universitas Diponegoro, Semarang. (tidak dipublikasikan).
Noviyanti, Aida. 2017. “Analisis Pengaruh Likuiditas, Solvabilitas, dan Profitabilitas terhadap
Return Saham Perusahaan Manufaktur”, Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen, Volume 6,
Nomor 9, September 2017.

Riyadi, Selamet. 2006. Banking Assets And Liability Management. Edisi 3. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Tambunan, Andy. 2007. Menilai Harga Wajar Saham. Cetakan Kedua. Jakarta: PT Grasindo.

www.idx.co.id/

http://satrio.blog.kontan.co.id/2011/07/12/perlunya-kriteria-likuiditas-dalam-penetapan-saham-
syariah-sebuah-tinjauan-awam/

https://mahdifinanceblog.wordpress.com/2016/02/13/likuiditas-aset-dan-likuiditas-saham/