Anda di halaman 1dari 9

Nama : Widya Prawita

No : 14
NIM : 1707612014

SATYAM
1. Jelaskan mekanisme yang digunakan Raju untuk memanipulasi laba selama
bertahun-tahun.
Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan nilai
keuntungan perusahaan. Setelah dilakukan selama beberapa tahun, selisih antara
keuntungan yang sebenarnya dan yang dilaporkan dalam laporan keuangan semakin lama
semakin besar. Begitu kompleksnya situasi yang dihadapi Ramalinga Raju karena fraud
yang dilakukannya, ia mengatakan dalam suratnya.
Surat disampaikan pada tanggal 7 Januari 2009, Ramalinga Raju menyampaikan
surat ke Board of Directors dari Satyam yang mengatakan bahwa sekitar 1,04 milyar dolar
saldo kas & bank Satyam adalah palsu. Dalam suratnya yang dikirimkan ke jajaran direksi
Satyam, Ramalinga Raju juga mengakui bahwa dia memalsukan nilai pendapatan bunga
diterima di muka (accrued interest), mencatat kewajiban lebih rendah dari yang seharusnya
(understated liability) dan menggelembungkan nilai piutang (overstated debtors).

Neraca dan Laporan Laba Rugi Satyam per 30 September 2008 (Rs. dalam crore)

Aktual Dilaporkan Selisih


Saldo Kas dan Bank 321 5.361 5.040
Bunga diakru atas deposito bank Nil 376 376
Liabilitas disajikan lebih rendah 1.230 None 1.230
Piutang disajikan lebih tinggi 2.161 2.651 490
Total
Pendapatan 2.112 2.700 588
Laba Operasi 61 649 588

Keterangan: 1 crore = 10.000.000


Berikut adalah tindakan yang dilakukan Raju dalam menciptakan selisih dari nilai aktual
dan nilai yang dilaporkan:
1) Raju menciptakan berbagai rekening Koran untuk melakukan penipuan.
2) Raju memanipulasi akun bank untuk menambah nilai kas di neraca.
3) Raju memanipulasi laporan laba rugi dengan mencatat pendapatan bunga dari akun
bank palsu tersebut.
4) Raju juga mengungkapkan bahwa ia membuat 6.000 akun gaji palsu selama
beberapa tahun dan menggelapkan uang tersebut setelah disetor perusahaan.
5) Raju dibantu dengan Kepala internal audit global perusahaan bekerja sama dalam
membuat identitas pelanggan palsu dan membuat tagihan palsu untuk pelanggan
palsu tersebut dengan maksud untuk meningkatkan total pendapatan perusahaan.
6) Raju juga memalsukan persetujuan board untuk mendapatkan pinjaman atas nama
peusahaan.
7) Adanya indikasi bahwa kas yang diperoleh perusahaan melalui pendaftaran saham
perusahaan melalui American Depository Recipts di Amerika Serikat tidak pernah
tercatat di dalam neraca.

2. Menurut Anda, apa permasalahan dari pekerjaan audit yang dilakukan PwC di
Satyam?
Kerangka kerja corporate governance harus memastikan bahwa keterbukaan
informasi yang tepat waktu dan akurat dilakukan atas semua hal yang material berkaitan
dengan perusahaan, termasuk di dalamnya keadaan keuangan, kinerja, kepemilikan dan
tata kelola perusahaan. Selain itu informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai dengan
standar akuntansi yang berkualitas tinggi dan keterbukaan keuangan dan non-keuangan.
Audit tahunan harus dilakukan oleh auditor yang independen, kompeten dan
memenuhi kualifikasi, dalam rangka menyediakan jaminan/kepastian eksternal dan
objektif kepada pengurus dan pemegang saham bahwa laporan keuangan perusahaan
menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan kinerja
perusahaan. Dalam kasus fraud Satyam, pihak yang berwenang dalam hal melakukan audit
tersebut adalah Price Waterhouse Coopers India (PWC). Dalam pelaksanaannya PwC
selaku auditor eksternal tidak dapat mendeteksi penipun yang terjadi pada Satyam.
Terdapatnya gap antara laporan keuangan aktual dan laporan keuangan yang
dipublikasikan seharusnya tidak terjadi apabila auditor dan direktur independen
menjalankan tugas dengan fungsinya. Tidak logis juga apabila PwC yang telah mengaudit
laporan keuangan Satyam selama 10 tahun tidak dapat menemukan kecurangan
dibandingkan dengan Merrill Lynch yang dapat menemukan indikasi penipuan yang
merupakan due diligence dalam waktu 10 hari. PwC dalam melaksanakan auditnya telah
melakukan beberapa kesalahan teknis yang melanggar beberapa Standar Audit,
diantaranya:
1) Pihak PwC tidak cermat dalam melakukan investigasi audit adalah deposito tanpa
bunga sebesar $1,04 milyar. Padahal secara logika, tidak mungkin perusahaan
menginvestasikan uangnya di dalam sekuritas yang tidak akan memberikan
keuntungan. Dengan uang yang sedemikian besar, akan lebih masuk akan sebuah
perusahaan menginvestasikan uangnya pada aset yang lain, aset tetap misalnya.
2) Tidak melakukan mekanisme pengujian yang independen
3) Tidak mengkomunikasikan hasil observasi terkait kelemahan pengendalian
internal dan eksposur risiko
a. Melanggar SA 265 tentang Pengomunikasian Defisiensi dalam
Pengendalian Internal kepada Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata
Kelola dan Manajemen paragraf 9 yang menyatakan bahwa Auditor harus
mengomunikasikan secara tertulis tentang defisiensi signifikan dalam
pengendalian internal yang diidentifikasi selama audit kepada pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola secara tepat waktu.
4) Mengabaikan fakta bahwa kapasitas internal audit tidak memadai
5) Tidak melakukan pengujian terhadap invoice
6) Tidak melakukan verifikasi yang memadai terhadap akun piutang serta akun saldo
kas dan bank
7) Hanya mengandalkan asersi manajemen
a. Melanggar SA 500 tentang Bukti Audit terkait kriteria Bukti Audit yang
Cukup dan Tepat, dimana seharusnya auditor menggunakan bukti audit
yang berasal dari sumber yang berbeda atau yang memiliki sifat yang
berbeda.
Selain itu, issue lain yang dapat mengganggu audit yang dilaksanakan oleh PwC
adalah terkait fee audit. Penyebab dari tidak diterapkannya prinsip skeptisisme profesional
oleh PwC besar kemungkinannya dikarenakan audit fee yang dibayar oleh Satyam ke PwC
jauh lebih tinggi dari audit fee perusahaan sejenis. Seperti TCS, Infosys, Wipro ke auditor
mereka. Audit fee yang tidak wajar ini dapat mengganggu independensi auditor dalam
melaksanakan audit. pemberian audit fee yang terlalu tinggi menciptakan tendensi bagi
auditor untuk memberikan opini clean sehingga mengabaikan fakta yang ada. Hal ini
sangat mungkin terjadi ketika KAP mulai menggantungkan pendapatannya dengan audit
fee yang diberikan dari suatu klien. Hal ini dibuktikan dari adanya beberapa fakta yang
diabaikan oleh PwC yang seharusnya membutuhkan tindak lanjut atau tindakan yang
sepantasnya, seperti mengabaikan fakta-fakta terkait keckupan auditor internal dan
mengabaikan akun-akun yang signifikan. Oleh karena itu, PwC telah melanggar Kode Etik
Seksi 120 tentang Objektivitas. Berikut adalah perbandingan audit fee yang dibayar Satyam
dengan pesaingnya.

3. Lakukan analisis pelaksanaan prinsip Pengungkapan dan Transaparansi di Satyam.


Prinsip pengungkapan dan transaparansi menyatakan bahwa perusahaan harus
mengungkapkan semua informasi material mengenai perusahaan secara akurat dan tepat
waktu. Beberapa informasi material tersebut antara lain kondisi keuangan, struktur
kepemilikan, transaksi pihak berelasi dan tata kelola perusahaan. Laporan keuangan harus
diaudit oleh auditor eksternal yang independen dan kompeten, serta media komunikasi
harus memberikan akses informasi yang relevan sama, tepat waktu dan efisien dari sisi
biaya untuk semua pemangku kepentingan.
a. Pihak Satyam
Pada kasus yang terjadi, diketahui bahwa penyusunan laporan keuangan yang
dilakukan oleh Satyam penuh dengan manipulasi sehingga tidak mencerminkan
kondisi perusahaan yang sebenarnya, diantaranya seperti:
- Raju selaku chairman dan kepala internal audit melakukan manipulasi
rekening koran bank untuk menambah nila kas di neraca.
- Mereka juga melakukan manipulasi atas laporan laba rugi perusahaan.
- Raju juga memanipulasi akun gaji dan menggelapkan uang tersebut.
- Kepala internal audit membuat identitas pelanggan palsu dan tagihan palsu
untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.
- Dia juga memalsukan persetujuan board untuk mendapatkan pinjaman atas
nama perusahaan.
- Ada juga indikasi bahwa kas hasil pendaftaran saham di Amerika Serikat
tidak dicatat di neraca perusahaan.
Dari hal-hal yang dilakukan Raju dapat disimpulkan bahwa Satyam telah
melanggar prinsip pengungkapan dan transparansi informasi khususnya terkait
berbagai hal yang seharusnya disampaikan kepada para pengguna informasi
tersebut sehingga tidak menyesatkan dalam pengambilan keputusan mereka.
b. Pihak Auditor Eksternal (PwC)
Sebagai pihak perantara, auditor eksternal harus dilakukan oleh auditor
yang independen, kompeten dan berkualitas sesuai dengan standar kualitas audit
yang tinggi untuk memberikan jaminan yang bersifat objektif dan independen
kepada dewan komisaris dan shareholder bahwa laporan keuangan telah dengan
wajar menyajikan posisi keuangan dan kinerja perusahaan dalam segala hal yang
material. Masalah akan timbul jika pihak perantara memiliki konflik kepentingan
yang dapat mempengaruhi pertimbangan mereka, misal jika auditor eksternal
memeliki kepentingan material di perusahaan atau perusahaan pesaing.
Kekhawatiran tersebut menunjukkan perlunya pengungkapan dan transparansi oleh
pihak perantara.
Pada poin ini terdapat ketidaksesuaian yang dilakukan oleh auditor
eksternal Satyam yakni PwC yang telah menjadi partner semenjak 2000 sampai
dengan 2009. Selama melakukan audit, PwC mengaku tidak menemukan adanya
kejanggalan dalam laporan keuangan yang dibuat oleh Satyam. Terlalu lamanya
PwC menjadi auditor Satyam kemungkinan menjadi penyebab PwC tidak dapat
melakukan audit dengan independen, kompeten dan berkualitas. Hal ini semakin
terbukti ketika Kantor Akuntan Publik Merrill Lynch sudah dapat menemukan
adanya penipuan di Satyam, ketika melakukan due deligence, hanya dalam waktu
10 hari.
Hasil Investigasi oleh Serious Fraud Investigation Office (SFIO menyataan
bahwa mereka tidak menggunakan mekanisme pengujian yang independen, namun
menggunakan alat investigasi Satyam. PwC juga tidak melaporkan ke pemegang
saham adanya kelemahan pengendalian dalam Sistem informasi dan eksposur
risiko dari penipuan, walaupun PwC sudah mengobservasi adanya kelemahan
pengendalian tersebut. Hal ini tentunya harus diketahui oleh pemegang saham
Satyam sehingga pemegang saham dapat memperoleh informasi sebagai
pertimbangan untuk pengambilan keputusan mereka.
Auditor tersebut diketahui “mengabaikan” fakta-fakta yang seharusnya
menjadi perhatian mereka dalam melakukan pemeriksaan terhadap Satyam.
Beberapa hal yang dimaksud seperti tetap memberikan sertifikasi atas perusahaan
walaupun PwC mengetahui cakupan sumber daya internal audit Satyam tidak
memadai untuk ukuran bisnis perusahaan, PwC bahkan tidak melakukan pengujian
1% terhadap seluruh invoice dan juga tidak melakukan verifikasi yang memadai
atas piutang. PwC juga tidak melakukan tugasnya dengan baik dalam
memverifikasi saldo kas dan bank.
Dalam kasus ini dapat dikatakan bahwa PwC sebagai auditor eksternal tidak
melakukan pemeriksaan sebagaimana mestinya atau dapat dikatakan bahwa ada
indikasi bahwa independensi PwC dalam bekerja dipengaruhi oleh hal-hal lain. Hal
ini juga diperkuat dengan audit fee yang mereka terima dari Satyam jauh lebih
tinggi jika dibandingkan dengan perusahan sejenis.
4. Lakukan analisis pelaksanaan prinsip Tanggungjawab Dewan di Satyam, termasuk
di dalamnya komposisi dewan, pelaksanaan tugas dewan, peran komite audit peran
direktur keuangan, unit internal audit, dan akuntan internal terhadap penipuan yang
dilakukan Satyam.
Dalam prinsip The Organisation for Economic Co-operation and Development
(OECD) keenam yang mengatur tentang tanggung jawab dewan menyatakan bahwa jumlah
minimal dewan independen adalah 50% dari jumlah total dewan. Dari deskripsi kasus
diketahui bahwa:
1. Komposisi dewan terdiri dari 6 orang non executive; 4 orang adalah akademisi. Satu
orang adalah mantan seskab pemerintah India, satu orang adalah CEO dari perusahaan
teknologi. Dua dari Independent Directors Satyam adalah Board dari 8 perusahaan lain.
2. Undang-undang di India mensyaratkan sepertiga dari board of directors (BOD) adalah
Independent Directors, namun Perusahaan memiliki diskresi untuk memilih mereka.
Buruknya adalah dewan komisaris independen dipilih oleh orang yang paling
berpengaruh diperusahaan (Kunal,2011).
3. Meskipun Satyam membedakan posisi CEO dan kepala dewan, dua posisi tersebut
diduduki oleh bersaudara dimana Chairman Satyam dijabat oleh Ramalinga Raju,
sedangkan CEO Satyam dijabat oleh B. Rama Raju. Pada pelaksanaannya hal tersebut
menjadi tidak berarti karena Chairman dan CEO mereka merupakan saudara yang
memiliki afiliasi yang kuat.
4. Tujuh dari sembilan BOD menyetujui keputusan perusahaan untuk mengakuisisi
Maytas. Dua BOD yang tidak ikut pemilihan adalah Raju bersaudara karena sesuai
peraturan mereka memiliki benturan kepentingan. Seharusnya Independent Directors
yang lain curiga atas aksi korporasi ini, bukan malah menyetujuinya.
5. Komite dewan yang ada di Satyam ternyata tidak seperti pada umumnya. Komite Audit
tidak memiliki ahli keuangan dan bahkan komite nominating dan corporate governance
tidak ada sama sekali di Satyam. Satyam memiliki dewan yang tidak dimiliki oleh
perusahaan lain yaitu Investor Grievance Commitee.
Pada pelaksanaan tugasnya, dewan tidak memberikan pengawasan yang objektif
dan memadai. Pada saat proses pembelian saham Maytas Infrastructures dan Maytas
Properties, Dewan tidak mengungkapkan kejanggalan pada laporan keuangan yang
menyajikan nilai kas yang begitu besar dan tidak mempertanyakan motif yang mendasari
untuk melakukan transaksi tersebut. Persetujuan dewan seolah-olah hanya dilakukan
sebagai formalitas kepada para pemegang saham yang memberikan kepercayaan mereka
untuk mengawasi jalannya perusahaan. Kondisi tersebut tidak terbantu dengan tidak
adanya anggota komite audit yang memiliki pengetahuan keuangan di Satyam, meskipun
hal tersebut merupakan kewajiban yang ditetapkan dalam peraturan pasar modal di
Amerika Serikat.
Manipulasi laporan keuangan yang terjadi pada Satyam tidak mungkin dilakukan
seorang diri. Manipulasi yang dilakukan selama bertahun-tahun tanpa diketahui pasti
melibatkan beberapa fungsi dan disetujui oleh para pemimpin fungsi tersebut. Direktur
keuangan satyam, Srinivas Talluri, dan Kepala Auditor Internal, Srinivas Dlamani juga
berperan dalam konspirasi tersebut. Proses manipulasi laporan keuangan tidak akan dapat
dilakukan apabila Direktur Keuangan yang mengetahui secara detil transaksi keuangan
perusahaan tidak menyetujui rencana tersebut. Sama halnya dengan Kepala Audit Internal
yang dapat dengan mudah mengetahui adanya manipulasi laporan keuangan, tetapi tidak
mengungkapkannya dalam laporan hasil audit.
Anggota dewan komisaris seharusnya memenuhi syarat kemampuan dan integritas
sehingga pelaksanaan fungsi pengawasan dan pemberian nasihat untuk kepentingan
perusahaan dapat dilaksanakan dengan baik. Anggota dewan komisaris dilarang
memanfaatkan perusahaan untuk kepentingan pribadi, keluarga, kelompok usahanya
dan/atau pihak lain. Anggota dewan komisaris harus memahami dan mematuhi anggaran
dasar dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugasnya.
Dalam kasus satyam syarat formal anggota dewan telah dipenuhi, namun secara
praktis fungsi pengawasan untuk kepentingan perusahaan tidak dilaksanakan dengan baik.
Terbukti selama bertahun-tahun manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh
manajemen satyam tidak terdeteksi, baik oleh dewan komisaris yang bertanggung jawab
atas fungsi pengawasan perusahaan. Dapat diperkirakan penyebabnya antara lain tidak
adanya anggota komite audit yang memiliki kemampuan di bidang keuangan, sehingga
anggota dewan komisaris tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan informasi yang
akurat dan relevan maka hasil dari pengawasan yang dilakukannya pun tidak dapat
memenuhi harapan para pemegang saham maupun pemangku kepentingan lainnya.
Prinsip VI.F OECD CG Principles menyatakan bahwa dalam rangka untuk
memenuhi tanggung jawab dewan, anggota dewan komisaris harus memiliki akses ke
informasi yang akurat, relevan dan tepat waktu. Anggota dewan memerlukan informasi
yang relevan secara tepat waktu untuk mendukung pengambilan keputusan mereka. Peran
direktur keuangan, unit internal audit, dan akuntan internal terhadap penipuan yang
dilakukan satyam mendapatkan porsi yang cukup signifikan. Direktur keuangan, unit
internal audit dan akuntan internal tidak melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga
penipuan yang dilakukan satyam memberikan dampak yang sangat besar bagi kerugian
pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Direktur keuangan beserta akuntan
internal satyam seharusnya bertanggung jawab atas keuangan yang dikelola manajemen,
namun mereka menyalahgunakan wewenang untuk menghasilkan laporan keuangan yang
dimanipulasi serta melanggar peraturan perundang-undangan untuk keuntungan bagi
kepentingan pribadi dan kelompoknya. Bahkan internal audit yang seharusnya dapat
menjaga akuntabilitas perusahaan juga tidak bertanggung jawab sesuai harapan
stakeholders dan menjadi penyebab atas kasus penipuan yang dilakukan oleh satyam.
Terbukti seperti yang diketahui bahwa kepala internal audit global telah membantu
perusahaan dalam membuat identitas pelanggan palsu dan membuat tagihan palsu untuk
pelanggan palsu tersebut untuk meningkatkan total pendapatan perusahaan.
Selain pihak internal tersebut, pihak eksternal pun dinilai ikut terlibat dalam kasus
Satyam. Pihak luar yang terlibat dalam hal ini adalah Kantor Akuntan Publik
PricewaterhouseCoopers (PwC). PwC hanya mengandalkan catatan yang dibuat oleh
perusahaan. serta mengabaikan fakta-fakta yang ada dan tidak melakukan pengujian 1%
dari seluruh invoice. Selain itu PwC juga tidak melakukan verifikasi yang memadai atas
piutang, dan tidak melakukan tugasnya dengan baik dalam memverifikasi saldo kas dan
bank. Dan diketahui lebih lanjut PwC melakukan outsourcing fungsi audit ke KAP lain
(Lovelock and Lewis). Kinerja auditor eksternal yang cukup buruk ini mendorong samakin
lamanya waktu yang dibutuhkan untuk blew the whistle atas kasus penipuan yang terjadi
di Satyam. Jika ekternal auditor menjalankan tugasnya dengan independen, kompeten, dan
berintegritas maka penipuan di Satyam tidak akan terjadi dan jika saja terjadi, akan
langsung teridentifikasi dan tidak bertahan lama.