Anda di halaman 1dari 7

DASAR-DASAR

PENDIDIKAN
IPA

NAMA: SOFIA SETIA

NIM: 1701050030

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN


FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN


ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

2018
1. Analisis Permasalahan Pembelajaran IPA Pendekatan Tematik Terpadu di sekolah
Dasar dalam penerapan kurikulum 2013

a. Pengertian Pendekatan Terpadu


Beberapa pengertian dari pendekatan terpadu yang dikemukakan oleh beberapa orang
pakar pendekatan pembelajaran terpadu diantaranya:
 Menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991), pendekatan pembelajaran terpadu
(integrated learning) menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih
terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik
pusatnya (center core / center of interest).
 Menurut Prabowo (2000 : 2), pendekatan pembelajaran terpadu adalah suatu proses
pendekatan dengan melibatkan/mengkaitkan berbagai bidang studi.
Pendekatan terpadu merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsur atau
lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran. Unsur pembelajaran yang dipadukan dapat berupa
konsep dengan konsep lain dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain (dalam
lingkup Sain) atau dapat juga berupa penggabungan suatu konsep dengan konsep lain dari
mata pelajaran lain (di luar Sain).
Ciri-ciri pendekatan pembelajaran terpadu yaitu berpusat pada anak (student
centered). proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung, pemisahan
antar bidang studi tidak terlihat jelas.
Kelebihan (Depdikbud, 1996):
1) Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.
2) Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
3) Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar akan dapat
bertahan lebih lama.
4) Keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.
5) Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering
ditemui dalam lingkungan anak.
6) Menumbuhkembangkan keterampilan sosial anak seperti kerja sama, toleransi,
kemunikasi, dan respek terhadap gagasan orang lain.
Kekurangan:
a) Pendekatan terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi
juga pada proses.
b) Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi pada dampak instruksional
dari proses pembelajaran, tetapi juga pada proses dampak pengiring dari proses
pembelajaran tersebut.
c) Penerapan pendekatan pembelajaran terpadu banyak menimbulkan masalah dan tugas
guru menjadi semakin membengkak.
d) penyesuaian pola penerapan dan hasil pembelajaran terpadu dikaitkan dengan
kurikulum yang sedang berlaku.

b. Analisis Masalah Pendekatan Terpadu Dalam Penerapan Kurikulum 2013


Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 67 Tahun 2013 mengenai
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SD/MI menegaskan bahwa Kurikulum 2013 untuk
Sekolah Dasar didesain dengan menggunakan pembelajaran tematik terpadu. Sebelum
diterapkannya Kurikulum 2013, penetapan pendekatan pembelajaran tematik di Sekolah
Dasar telah disebutkan pula oleh pemerintah melalui Badan Standar Nasional Pendidikan
(BNSP) tahun 2006.Berdasarkan kondisi tersebut maka diketahui bahwa pembelajaran
tematik bukanlah suatu hal yang baru dalam sejarah kependidikan di Indoneasia. Adapun hal
yang menjadi perbedaan dalam penerapan pembelajaran tematik di Kurikulum 2013 adalah
implementasi pembelajaran tematik terpadu tidak hanya diterapakan di kelas awal Sekolah
Dasar (kelas I-III) saja, tapi diterapkan mulai dari kelas I sampai kelas VI.
Banyak negara yang menerapkan sistem pembelajaran berbasis tematik terpadu
sampai SD kelas VI seperti Finlandia, England, Jerman, Scotland, Perancis dan negara-
negara maju lainnya. Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran urgensi penerapan
pembelajaran tematik terpadu di Sekolah Dasar yang dimaksudkan dalam Kurikulum 2013.
Selain itu, banyak sekolah alternatif yang menunjukan hasil menggembirakan karena
menerapkan sistem pembelajaran integratif berbasis tema.
Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pembelajaran tematik di banyak daerah
selama ini dinilai masih belum efektif. Telah banyak penelitian yang mengungkap
permasalahan mengenai ketidakefektifan pembelajaran tematik ini. Salah satu hasil
menyebutkan bahwa “implementasi pembelajaran tematik pada Sekolah Dasar dalam
kategori tidak efektif” (Amelia, 2012; Sadri, 2012 ). Selain itu, penelitian Sulastri (2012: i)
mengenai analisis kesenjangan pelaksanaan standar proses pembelajaran temaik di Sekolah
Dasar menunjukan bahwa “pelaksanaan standar proses pada pembelajaran tematik kelas
permulaan SD belum mencapai standar yang dipersyaratkan”.
Hal yang menjadi permasalahan dalam persiapan pembelajaran tematik antara lain :
 Guru mengalami kesulitan dalam menjabarkan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar ke dalam indikator terutama dalam hal menentukan kata kerja
operasional yang tepat;
 Guru kesulitan dalam mengembangkan tema dan contoh tema tidak selalu sesuai
dengan kondisi lingkungan belajar siswa;
 Guru kesulitan tentang bagaimana cara melakukan pemetaan bagi Kompetensi
Dasar yang lintas semester dan Kompetensi Dasar yang tidak sesuai dengan tema;
 Beberapa contoh silabus pembelajaran tematik yang ada sangat beragam
pendekatannya sehingga menimbulkan masalah dan keraguan untuk
menggunakan;
 Guru kesulitan dalam merumuskan keterpaduan berbagai mata pelajaran pada
langkah pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Selanjutnya Pujiastuti menyatakan permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran
tematik antara lain :
1) Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan guru dalam mengajarkan lagu anak-
anak sesuai tema;
2) Bahan ajar yang tersedia masih menggunakan pendekatan mata pelajaran sehingga
menyulitkan guru memadukan materi sesuai tema;
3) Bahan ajar tematik masih bersifat nasional sehingga beberapa materi kurang
sesuai dengan kondisi lingkungan belajar siswa;
4) Model team teaching sesuai untuk kondisi sekolah yang menerapkan sistem guru
bidang studi. Namun model ini memerlukan koordinasi dan komitmen yang tinggi
pada masing-masing guru;
5) Sekolah yang kekurangan jumlah guru menerapkan model pembelajaran kelas
rangkap, sehingga kesulitan menerapkan pembelajaran tematik di kelas awal;
6) Untuk guru kelas dapat menggunakan model webbed yakni pembelajaran yang
menggunakan suatu tema sebagai dasar pembelajaran dalam berbagai disiplin
mata pelajaran;
7) Lingkungan sekolah di wilayah kabupaten masih standar dan sarana teknologi
sangat kurang karena sarana pendukungnya yang tidak memenuhi syarat;
8) Jadwal yang menggunakan mata pelajaran menyulitkan guru dalam memadukan
berbagai mata pelajaran secara luwes; Penggunaan jadwal tema lebih luwes dalam
penyampaian pembelajaran tematik, namun memerlukan perencanaan yang
matang dalam hal bobot penyajian antar mata pelajaran.
Sedangkan permasalahan penilaian pembelajaran tematik antara lain :
 Guru kesulitan dalam melakukan penilaian bagi siswa kelas 1 yang belum lancar
membaca dan menulis;
 Penilaian lisan, unjuk kerja, tingkah laku, produk maupun portofolio sudah dilakukan
namun jarang didokumentasikan;
 Guru masih kesulitan membuat instrumen penilaian unjuk kerja, produk dan Tingkah
laku, sehingga cenderung lebih suka menggunakan penilaian ter tulis;
 Guru masih kesulitan menentukan Kriteria ketuntasan Minimal;
 Guru juga menemui kesulitan dalam cara menilai pembelajaran tematik karena rapor
siswa menggunakan mata pelajaran.
Hal ini pun di pertegas dalam draft kurikulum 2013 yang menyebutkan “permasalahan dalam
pembelajaran tematik yaitu tidak ada kompetensi inti yang mengikat semua mata pelajaran
dan warna mata pelajaran sangat kental bahkan berjalan sendiri-sediri dan saling
mengabaikan”. Menimbang urgensi penerapan pembelajaran tematik terpadu tersebut, maka
perlu diadakan perbaikan-perbaikan dalam implementasi tematik terpadu di Sekolah Dasar.

2. Solusi
Untuk mengatasi permsalahan yang terjadi, diperlukan upaya untuk memperbaiki kualitas
pembelajaran agar dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa sehingg hasil belajar siswa
dapat memuaskan. Penyajian model pembelajaran kuantum teaching merupakan model
pembelajaran yang ideal, karena menekankan kerjasama antara siswa dan guru untuk
mencapai tujuan bersama. Kuantum teaching adalah sebuah strategi pembelajaran sebagai
pendekatan dalam pembelajaran sains yang menekankan pembelajaran menggunakan
kerangka konsep TANDUR yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan.
Penyajian kuantum teaching mengikuti langkah prosedur yang disingkat TANDUR (Bobby
DePorter, 1999: 10):
 Tumbukan, artinya seorang guru dalam mengajar harus dapat menimbulkan minat
siswa untuk mengikutipelajaran dengan berbagai macam, sehingga dengan minat yang
ada pembelajaran akan berjalan lancar.
 Alami, artinya seorang guru dalam mengajar harus mampu menciptakan pengalaman
umum yang dapat dimengerti oleh siswanya.
 Namai, maksudnya seorang guru dalam mengajar menggunakan kata-kata yang
mudah dimengerti, strategi yang mudah dilakukan dalam penyampaian dengan
multimetode dan multimedia.
 Demonstrasikan, artinya guru dalam mengajar memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menunjukan bahwa mereka tahu, artinya guru dalam mengajar menggunakan
alat peraga untuk mendemonstrasikan materi yang diajarkan sehingga siswa dengan
mudah mengingat isi pesan yang disampaikan.
 Ulangi, maksudnya guru dalam mengajar dapat menunjukan cara yang mudah untuk
mengulang materi yang telah dipelajari, misalnya dengan memberikan tugas
rangkuman.
 Rayakan, maksudnya adalah seorang guru dalam mengajar dapat memberikan
pengakuan atas usaha siswa untuk menyelesaiakan tugas dan perolehan keterampilan
serta ilmu pengetahuan.
Selain adanya penerapan model pembelajaran kuantum teacing tersebut ada pula
pendekatan ilmiah atau pendekatan sains yang mampu mengurangi beban guru dalam
mengurangi masalah yang di akibatkan adanya penerapan pembelajaran tematik terpadu.
Adanya pergantian kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau pendekatan scientific pada
pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatian para pendidik
akhir-akhir ini. Produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang
mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain. Penerapan
pendekatan scientific menjadi tantangan guru melalui pengembangan aktivitas siswa yaitu
mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan Disadari bahwa guru-guru
perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis,
sistematis, dan ilmiah. Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru
melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Skenario untuk
memacu keterampilan guru menerapkan strategi ini di Indonesia telah melalui sejarah yang
panjang, namun hingga saat ini harapan baik ini belum terwujudkan juga.
Pembelajaran IPA masih menekankan pada konsep-konsep yang terdapat di dalam
buku, dan juga belum memanfaatkan pendekatan lingkungan dalam pembelajaran secara
maksimal. Mengajak siswa berinteraksi langsung dengan lingkungan jarang dilakukan.
Pembelajaran IPA sebagian masih mempertahankan urutan-urutan dalam buku tanpa
memperdulikan kesesuaian dengan lingkungan belajar siswa. Hal ini membuat pembelajaran
tidak efektif, karena siswa kurang merespon terhadap pelajaran yang disampaikan. Maka
pengajaran semacam ini cenderung menyebabkan kebosanan kepada siswa. Para siswa telah
memiliki kemampuan awal yang telah diterima di kelas sebelumnya. Pembelajaran saintifik
tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namum proses pembelajaran
dipandang sangat penting. Oleh karena itu pembelajaran saintifik menekankan pada
keterampilan proses. Model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan proses sains
adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses sains ke dalam
sistem penyajian materi secara terpadu. Model ini menekankan pada proses pencarian
pengetahuan dari pada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar
yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang
fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar. Dalam model ini
peserta didik diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan berkenaan dengan materi
pelajaran melalui berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan
(scientist) dalam melakukan penyelidikan ilmiah, dengan demikian peserta didik diarahkan
untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang
diperlukan untuk kehidupannya. Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan
keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan
sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang diperlukan.
Pendekatan scientific dalam pembelajaran IPA dapat diterapkan melalui keterampilan
proses. Keterampilan proses sains merupakan seperangkat keterampilan yang digunakan para
ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah. Keterampilan proses perlu dikembangkan
melalui pengalaman-pengalaman langsung sebagai pengalaman pembelajaran (Rustaman
:2005).

Raferensi Sumber:
 Insani, Metry Dian. Studi Identifikasi Masalah dalam Pembelajaran IPA di SD se-kota
Malang. (online)
http://jurnal.edu/2018/05/26/PGMI Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin
Sambas.
 Faisal, Fahmi. Analisis Permasalahan Pembelajaran Tematik Terpadu di SD. (online)
http://jurnal.edukasi-kompaiana/2018/05/26/permasalahan pembelajaran.