Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Antimikroba adalah obat yang digunakan untuk memberantas infeksi mikroba pada
manusia.Sedang antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme
(khususnya dihasilkan oleh fungi) atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau
menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain (Munaf, 1994).

Secara garis besar antimikroba dibagi menjadi dua jenis yaitu yang membunuh
kuman (bakterisid) dan yang hanya menghambat pertumbuhan kuman (bakteriostatik).
Antibiotik yang termasuk golongan bakterisid antara lainpenisilin, sefalosporin,
aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol, rifampisin, isoniazid danlain-lain. Sedangkan
antibiotic yang memiliki sifat bakteriostatik, dimana penggunaanya tergantung status
imunologi pasien, antara lain sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin,
trimetropim, linkomisin, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dan lain-lain
(Laurence&Bennet,1987).
Antibiotika, yang pertama kali ditemukan oleh Paul Ehlrich pada 1910, sampai
saat ini masih menjadi obat andalan dalam penanganan kasus-kasus penyakit infeksi.
Pemakaiannya selama 5 dekade terakhir mengalami peningkatan yang luar biasa, hal ini tidak
hanya terjadi di Indonesia tetapi juga menjadi masalah di negara maju seperti Amerika
Serikat.The Center for Disease Control and Prevention in USA menyebutkan terdapat 50 juta
peresepan antibiotik yang tidak diperlukan (unnescecery prescribing) dari 150 juta peresepan
setiap tahun (Akalin,2002). Menurut Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih,
sekitar 92 persen masyarakat di Indonesia tidak menggunakan antibiotika secara tepat. Ketika
digunakan secara tepat, antibiotik memberikan manfaat yang tidak perlu diragukan
lagi.Namun bila dipakai atau diresepkan secara tidak tepat (irrational prescribing) dapat
menimbulkan kerugian yang luas dari segi kesehatan, ekonomi bahkan untuk generasi
mendatang.

1.2 Tujuan

1. Untuk mengetahui defenisi obat antimikroba,

2. Unyuk mengetahui resistensi obat antimikroba

3. Untuk mengetahui mekanisme kerja obat antimikroba

4. Untuk mengetahui jenis – jenis obat antimikroba

5. untuk mengetahui efek samping obat antimikroba


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Antimikroba ialah obat pembasmi mikroba ,khususnya mikroba yang merugikan
manusia .yang dimaksudkan dengan mikroba terbatas pada jasad renik yang tidak termasuk
kelompok parasite.
Antibiotic adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba,terutama fungi, yang dapat
menghambat atau dapat membasmi mikroba lain. Banyak antibiotic dewasa ini dibuat secara
semisintetik atau sintetik penuh . namun dalam praktek sehari-hari antibiotic sintetik yang
tidak diturunkan dari produk mikroba (misalnya sulfoniazid dan kuinolon)juga sering
digolongkan sebagai antibiotic.
Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia ,ditentukan
harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin. Artinya , obat tersebut haruslah
bersifat sangat toksik untuk mikroba ,tetapi relative tidak toksik untuk hospes.
2.2 Aktivitas dan Spektrum
Berdasarkan sifat toksisitas selektif , ada antimikroba yang bersifat menghambat
pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik , da nada yang bersifat
membunuh mikroba dikenal sebagai aktivitas bakterisida. .kadar minimal yang diperlukan
untuk menghambat pertumbhan mikroba atau membunuhnya, masing-masing dikenal sebagai
kadar hambat minimum(KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM).
Sifat antimikroba dapat berbeda satu dengan lainya. Umpamanya,penisilin G bersifat
aktif terhadap bakteri Gram positif ,sedangkan gram negative pada umumnya tidak peka
(resisten) terhadap penisilin G , streptomisin memiliki sifat yang sebaliknya. Tetrasiklin aktif
terhadap bebrapa bakteri gram positif maupun bkateri gram negatif
2.3 Mekanisme Kerja
Berdasrkan mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi dalam lima kelompok:
1.yang meganggu metabolism sel mikroba
Antimikroba yang termasuk kelompok ini ialah sulfonamide, trimethoprim, asam p-
aminosalisilat (PAS) dan sulfon . mikroba membutuhkan asam folst untuk kelangsungan
hidupnya. Kuman pathogen harus mensintesis sendiri asam folat dari asam amino benzoate
(PABA) untuk kebutuhan hidupnya. Apabila sulfonamide atau sulfon menang bersaing
dengan PABA untuk diikut sertakan dalam pembentukan asam folat, maka terbentuk analog
asam folat yang nonfungsional . akibatnya kehidupan mikroba akan tergangggu
PAS merupakan analog PABA dan bekerja dengan menghambat sintesis asam folat
pada M.tuberculosis ,sulfonamid tidak efektif terhadap M.tuberculosis dan sebaliknya PAS
tidak efektif terhadap bakteri yang sensitive terhadap sulfonamide . perbedaan ini mungkin
disebabkan perbedaan enzim untuk sintesis asam folat yang bersifat sangat khusus bagi
masing-masing jenis mikroba.
2. yang menghambat sintesis dinding sel mikroba
Antibiotic ini adalah antibiotic yang merusak lapisan peptidoglikan yang menyusun dinding
sel bakteri gram positif maupun gram negative, contohnya penisilin, sefalosporin, basitrasin,
vankomisin dan sikloserin.
3. yang mengganggu permeabilitas membran sel mikroba
Obat yang termasuk kelompok ini ialah polimiksin, golongan polien serta berbagai
antimikroba kemoterapeutik ,
4. yang menghambat sintesis protein sel mikroba
Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah aminoglikosid, makrolid,
linkomisin,tetrasiklin,dan kloramfenikol. Sintesis protein berlangsung diribosom , dengan
bantuan mRNAdan tRNA. Pada bakteri , ribosom terdiri atas dua sub unit ,yang berdasarkan
konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50s untuk berfungsi pada sintesis
protein.
Streptomisin berikatan dengan komponen ribosom 30s dan menyebabkan kode pada
mRNA salah dibaca oleh tRNA pada waktu sintesis protein, akibatnya akan terbentuk protein
yang abnormal dan nonfungsional bagi sel mikroba. Antibiotic aminoglikosid lainya yaitu
gentamisin, kanamisin, dan neomisin memiliki mekanisme sama namun potensinya berbeda.
Eritromisin berikatan dengan ribosom 50s dan menghambat translokasi komplek
tRNA-peptida dari lokasi asam amino kelokasi peptide .akibatnya, rantai polipeptida tidak
dapat diperpanjang karena lokasi asam amino tidak dapat menerima kompleks tRNA-asam
amino yang baru.
Linkomisin juga berikatan dengan ribosom 50s dan menghambat sintesis protein.
Tetrasiklin berikatan dengan ribosom 30s dan menghalangi masuknya kompleks tRNA-asam
amino pada lokasi asam amino. Kloramfenikol berikatan dengan ribosom 50s dan
menghambat pengikatan asam amino baru pada rantai polipeptida oleh enzim peptidil
transperase.

5. yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel miroba


Rimfampin merupakan turunan rifamisin, rifampin menghambat sintesis mRNA
dengan cara mengikat subunit β-RNA polymerase bakteri sehingga menghambat transkripsi
mRNA. Antibiotic ini melawan mycobacteri pada TBC dan lepra.

2.4 Resistensi
Resistensi didefinisikan sebagai tidak terhambatnya pertumbuhan bakteri dengan
pemberian antibiotik secara sistemik dengan dosis normal yang seharusnya atau kadar
hambat minimalnya. Sedangkan multiple drugs resistance didefinisikan sebagai resistensi
terhadap dua atau lebih obat maupun klasifikasi obat. Sedangkan cross resistance adalah
resistensi suatu obat yang diikuti dengan obat lain yang belum pernah dipaparkan
(Tripathi,2003). Resistensi terjadi ketika bakteri berubah dalam satu atau lain hal yang
menyebabkan turun atau hilangnya efektivitas obat, senyawa kimia atau bahan lainnya yang
digunakan untuk mencegah atau mengobati infeksi.
Secara garis besar kuman dapat menjadi resisten terhadap suatu antimikroba melalui 3
mekanisme:
1. Obat tidak dapat mencapai tempat kerjanya didalam sel mikroba .
Pada kuman gram negative , molekul antimikroba yang kecil dan polar dapat menembus
dinding luar dan masuk kedalam sel melalui lubang-lubang kecil yang disebut porin. Bila
porin menghilang arau mengalami mutasi maka masuknya antimikroba ini akan terhambat.
Mekanisme ini ialah kuman mengurangi mekanisme transport aktif yang memasukkan
antimikroba ke dalam sel (misalnya gentamisin ).mekanisme lain lagi adalah mikroba
mengaktifkan pompa efluks untuk membuang keluar antimikroba yang ada dalam sel
(misalnya pada tetrasiklin).
2. Inaktivasi obat
Mekanisme ini sering mengakibatkan terjadinya resistensi terhadap
golongan aminoglikosida dan β-laktam karena mikroba mampu membuat enzim yang rusak
kedua golongan antimikroba tersebut.
3. Mikroba mengubah tempat ikatan (binding site)antimikrob
Mekanisme ini terlihat pada S.aureus yang resistensi terhadap metilsilin (MRSA).kuman ini
mengubah penicillin binding proteinnya (PBP) sehingga avinitasnya menurun terhadap
metisilin dan antibiotic beta lactam yang lain.
4. Mikroba mengembangkan perubahan jalur metabolik yang langsung dihambat oleh obat.
Misalnya beberapa bakteri yang resisten terhadap sulfonamid tidak membutuhkan PABA
ekstraseluler, tetapi seperti sel mamalia dapat menggunakan asam folat yang telah dibentuk.

5. Mikroba mengembangkan perubahan enzim yang tetap dapat melakukan fungsi


metabolismenya tetapi lebih sedikit dipengaruhi oleh obat dari pada enzim pada kuman yang
rentan. Misalnya beberapa bakteri yang rentan terhadap sulfonamid, dihidropteroat
sintetase,mempunyai afinitas yang jauh lebih tinggi terhadap sulfonamid dari pada PABA
(Jawetz, 1997).

2.5 Efek Samping


Efek samping penggunaan antimikroba dapat dikelompokan menurut reaksi alergi,
reaksi idiosinkrasi ,reaksi toksik, serta perubahan biologic dan metabolic pada hospes.
Reaksi Alergi
Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua antibiotic dengan melibatkan system
imun hospes.orang yang pernah mengalami reaksi alergi , umpamanya oleh penicillin ,tidak
selalu mengalami reaksi itu kembali ketika diberikan obat yang sama .sebalinya orang tanpa
riwayat alergi dapat mengalami reaksi alergi pada penggunaan ulang penicillin .
Reaksi alergi pada kulit akibat penggunaan penicillin dapat menghilang
sendiri,walaupun terapinya diteruskan. Peristiwa ini mungkin berdasarkan desensitisasi.
Tetapi pada kejadian reaksi alergi yang lebih berat daripada eksantem kulit , tidak bijaksana
untuk menuruskan terapi, sebab makin berat sifat reaksi pertama makin besar kemungkinan
timbulnya reaksi yang lebih berat pada pemberian ulang, berupa anafilaksi, dermatitis
eksfoliativa, angioedema, dan lain-lain.
Reaksi Indiosinkrasi
Gejala ini merupakan reaksi abnormal yang diturunkan secara genetic terhadap pemberian
antimikroba tertentu .sebagai contoh 10% pria berkulit hitam akan mengalami anemia
hemolitik berat bila mendapatkan primakuin. Ini disebabkan mereka kekurangan enzim
G₆PD.
Reksi Toksik
Antimikroba pada umumnya bersifat toksik-selektif , tetapi sifat ini relative. Efek
toksik pada hospes ditimbulkan oleh semua jenis antimikroba.yang mungkin dapat dianggap
tidak tokisik samapi kini ialah golongan penisilin .
Golongan aminoglikosida pada umumnya bersifat toksik terutama terhadap N.VIII.
golongan tetrasiklin cukup terkenal dalam mengganggu pertumbuhan jaringan tulang ,
termasuk gigi , akibat deposisi komplek tetrasiklin kalsium-ortoposfat .dalam dosis besar
obat ini bersifat hepatotoksik, terutama pada pasien pielonefritis dan pada wanita hamil.
Perubahan Biologik dan Metabolik
Pengunaan AM, terutama yang berspektrum luas dapat mengganggu keseimbangan
ekologik mikroflora normal sehingga jenis mikroba yang meningkat jumlah populasinya dan
dapat menjadi pathogen.
Penggunaan AM ,terutama yang berspeuktrum luas ,dapat menganggu keseimbangan
ekologik mikroflora sehingga jenis mikroba yang meningkat jumlah populasinya dapat
menjadi pathogen .gangguan keseimbangan ekologik mikroflora normal tubuh dapat terjadi
disaluran cerna, napas dan kelamin,dan pada kulit.
Pada pasien yang lemah ,superinfeksi patogensial dapat sangat berbahaya, sebab
kebanyakan mikroba penyebab superinfeksi biasanya ialah kuman gram-negatif dan
stafilokokus yang multiresisten terhadap obat ,candida serta fungus sejati.

Tabe 1.pilihan antimikroba berdasarkan educate guess.


Jenis infeksi Penyebab tersering Pilihan antimikroba
1. Saluran nafas

- Faringitis -virus
-S.pyogenes -Penisilin V ,eritromisin, penisilin G
-C diptheriae -penisilin G,eritromisin

- Pneumonia bacterial -S.pneumoniae -penisilin G prokain,penisilin V,


sefalosporin,eritromisin

- Tuberculosis paru -M.tuberculosis -isoniazid,rifampisin,pirazinamid,


etambutol

2. Infeksi saluran cerna

- Gingivitis dan -infeksi campuran kuman -penisilin G ,prokain,penisilin V


abses gigi aerob+anaerob

- Candidiasis oral -C.albicand -nistatin


3. Kardiovaskular

- Endocarditis -streptokokus
-stafilokokus -penisilin G,gentamisin
-kuman gram negative -sefotaksim,gentamisin

4. Kulit,otot ,tulang

- Impertigo, -S.pyogenes -kloksasilin,eritromisin


furunkiel,delulitis -S.aureus

-S.aureus -kloksasilin
- Osteomielitis akut

5. Susunan saraf pusat


-S.pneumonia, stafilokokus -ampisilin ,kloramfenikol (sebagai terapi
- Meningitis bacterial awal)
anak/dewasa

-berbagai kuman enteric -sefalosporin generasi III


- Meningitis pada neonates gram negative

- Abses otak -streptokokus -penisilin G, kloramfenikol ,metroniazid


,S.aureus,enterobcteriaceae,

2.6 Obat Anti Mycobakteria


Obat untuk Mengobati infeksi mikobakterium
Dalam 100 tahun terakhir, kemajuan dalam kesehatan telah menyebabkan penurunan
drastis penyakit TBC di Eropa tengah. Infeksi Mycobacterium tuberculosis dapat didiagnosis
sebelumnya dan dalam kebanyakan kasus disembuhkan dengan terapi jangka panjang yang
sistematis (6-12 bulan) dengan kemoterapi yang efektif. Di seluruh dunia, namun,
tuberculosis tetap salah satu yang paling mengancam penyakit. Di negara berkembang,
jangka panjang terapi kombinasi hampir tidak realisasi. keberhasilan terapi adalah digagalkan
oleh kurangnya memadai (medis) infrastruktur dan sumber daya keuangan, dan insufisiensi
kepatuhan pasien; sebagai hasilnya, jutaan orang mati per tahun dari infeksi tuberkulosis.
Pengobatan insufisiensi memadai memerlukan tambahan Konsekuensi buruk: semakin
banyak strain mikobakteri mengembangkan resistensi dan harus segera diobati. pasien yang
menderita dari defisiensi imun dipengaruhi oleh infeksi dengan M. tuberculosis.
2.7 obat antitubercular
Obat pilihan yangsering digunaka;isoniazid, rifampin, dan ethambutol , streptomisin
dan pirazinamid. Kurang ditoleransi, agen secondline termasuk p-aminosalisilat asam,
cycloserine, kanamisin, amikasin, kapreomisin, dan etionamid.
Isoniazid merupakan bakterisida terhadap pertumbuhan M. tuberculosis. mekanisme
kerjanya masih belum jelas. Dalam bakteri itu diubah menjadi asam isonikotinat, yang
merupakan membran kedap air dan karenanya cenderung menumpuk diintraseluler. Isoniazid
cepat diserap setelah pemberian oral.
obat ini dapat menyebabkan beberapa efek samping termasuk kerusakan hati,
hipersensitivitas dengan gejala seperti flu.

2.8 Mekanisme Resistensi Antituberkulosis


Resistensi obat anti tuberculosis (OAT) disebabkan oleh mutasi khromosomal
terhadap masingmasing OAT. Contoh mutasi yang membuat resisten terhadap INH dan
rifampicin adalah 3 x 10-8 dan 2 x10- mutasi per bakteri per generasi. Penderita dengan
jumlah kuman mutan dan jumlah kuman yang banyak mempunyai risiko besar untuk
terjadinya reistensi terhadap OAT. Resistensi multipel setara dengan hasil perkalian mutasi
masing-masing obat. Derajat mutasi untuk INH dan rifampisin adalah 6 x 10 mutasi per
bakteri per generasi. Dalam cavitas paru, jumlah kuman yang melebihi 10, kemungkinan
kecil menimbulkan resistensi multipel.Dengan paket pengobatan multipel , misalnya INH dan
rifampisin, dapat dicegah terjadinya resistensi obat. Pengaruh terhadap derajat mutasi dalam
kasus klinik terletak pada proporsi kuman yang resisten dan perkembangbiakan kuman yang
resisten.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Antimikroba (AM) ialah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang


merugikan manusia. Dalam pembicaraan di sini, yang dimaksud dengan mikroba terbatas
pada jasad renik yang tidak termasuk kelompok parasit.

Antibiotika yang ideal sebagai obat harus memenuhi syarat-syarat berikut:

 Mempunyai kemampuan untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme


yang luas (broad spectrum antibiotic)

 Tidak menimbulkan terjadinya resistensi dari mikroorganisme pathogen

 Tidak menimbulkan pengaruh samping (side effect) yang buruk pada host, seperti reaksi
alergi, kerusakan syaraf, iritasi lambung, dan sebagainya

 Tidak mengganggu keseimbangan flora yang normal dari host seperti flora usus atau flora
kulit.

3.2 Saran

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama bagi para
mahasiswa dalam proses belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA
Syarif Amir. 2007. Farmakologi dan terapi.Edisi 5. Departemen farmakologi dan terapeutik fakultas
kedokteran universitas Indonesia. FKUI:Jakarta
Pratiwi Sylvia T. 2008. Mikrobiologi farmasi. Penerbit :erlangga
Rahayu.Utami Eka .2011. Jurnal antibiotika ,resistensi dan rasionalitas terapi. Fakultas saintek
universitas islam negri maulana malik Ibrahim : malang
Boekitwetan paul.1999. Resistensi Multipel Obat AntiTuberkulosis. Jurnal Kedokteran trisakti, Vol (18)
: 42