Anda di halaman 1dari 41

PEDOMANPELAYANANIGD

RS PKU MUHAMMADIYAH
KUTOWINANGUN
2018

1
PERATURAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT UMUM PKU MUHAMMADIYAH
KUTOWINANGUN
Nomor : ……………………

TENTANG PEDOMAN PELAYANAN IGD


RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH KUTOWINAGUN

DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH KUTOWINANGUN


Menimbang a. bahwa dalam upaya keselamatan Pasien dan Memperlancar kegiatan
pelayanan di RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun semua unit
kerja perlu Pedoman Pengorganisasian dan Pelayanan yang jelas dan
terarah.
b. bahwa perlu ditetapkan Pedoman Pelayanan di IGD melalui Keputusan
Mengingat Direktur Utama Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Kutowinangun
Surat Keputusan PP Muhammadiyah nomor : 233/KEP/I.O/D/2013 tanggal 9
Shafar 1435 I 12 Desember 2013 tentang Penetapan Direktur Utama dan
Wakil Direktur Bidang Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Kutowinangun Masa Jabatan 2013 - 2017
Memperhatikan:
1. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang-UndangRI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Undang-UndangRI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1438/MenKes/Per!lX/2010
tentang Standar Pelayanan Kedokteran
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1165.A/MenKes/SK/X/2004
tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit

MEMUTUSKAN
Menetapkan
KEPUTUSAN DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT PKU
MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA TENTANG PEDOMAN
PELAYANAN DI IGD RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIY AH
Pertama KUTOWINNGUN
Pedoman Pelayanan IGD dimaksud diktum pertama sebagaimana terlampir
Kedua dalam lampiran keputusan ini
Pedoman digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pelayanan di IGD RS
Ketiga PKU Muhammadiyah Kutowinangun
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di
Pada tanggal Kutowinangun
1 November 2015
BABI
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan oleh suatu organisasi untuk
memelihara clan meningkatkan kesehatan, mencegah clan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan individu, keluarga, kelompok, clan masyarakat
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan
setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk,
serta yang penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik clan standar pelayanan profesi yang
telah ditetapkan.
Pelayanan gawat darurat merupakan pelayanan yang dapat memberikan tindakan yang
cepat clan tepat pada seorang atau kelompok orang agar dapat meminimalkan angka kematian
clan mencegah terjadinya kecacatan yang tidak perlu. Upaya peningkatan gawat darurat
ditujukan untuk menunjang pelayanan dasar, sehingga dapat menanggulangi pasien gawat
darurat baik dalam keadaan sehari-hari maupun dalam keadaaan bencana.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penderita gawat darurat, maka diperlukan
peningkatan pelayanan gawat darurat baik yang diselenggarakan ditempat kejadian, selama
perjalanan ke rumah sakit, maupaun di rumah sakit.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka di Instalasi Gawat Darurat perlu dibuat standar
pelayanan yang merupakan pedoman bagi semua pihak dalam tata cara pelaksanaan pelayanan
yang diberikan ke pasien pada umumnya clan pasien IGD RS PKU Muhammadiyah
Kutowinangun.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka, dalam melakukan pelayanan gawat darurat
di IGD RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta harus berdasarkan standar pelayanan Gawat
Darurat, Sehingga diperlukan Pedoman Pelayanan IGD di RS PKU Muhammadiyah
Kutowinangun.

3
B. Tujuan

1. Membantu staf untuk memahami akan kegawatdaruratan di RS PKU Muhammadiyah


Kutowinangun.
2. Membantu memberikan layanan kesehatan yang terbaik untuk pasien di IGD RS PKU
Muhammadiyah Kutowinangun. .
3. Menyediakan pelayanan yang terpusat kepada pasien, memastikan keselamatan dan kepuasan
pasien di RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun.
4. Membantu petugas rumahsakit mengetahui langkah/tindakan apa yang sebaiknya dilakukan
jika ada pasien gawat darurat di RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun.
5. Membantu petugas rumahsakit untuk memahami hak dan kewajiban sebagai petugas kesehatan
di IGD RS PKUMuhammadiyah Kutowinangun.
6. Membantu petugas rumah sakit untuk memahami hak dan kewajiban pasien dan keluarga di
IGD RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pelayanan Instalasi Gawat Darurat meliputi :


1. Pasien dengan kasus True Emergency
Yaitu pasien yang tiba - tiba berada dalam keadaan gawat darurat atau akan menjadi
gawat clan terancam nyawanya atau anggota badannya ( akan menjadi cacat) bila
tidak mendapat pertolonngan secepatnya
2. Pasien dengan kasus False Emergency
Yaitu pasien dengan :
a. Keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat
b. Keadaan gawat tetapi tidak mengancam nyawa clan anggota badannya
c. Keadaan tidak gawat clan tidak darurat

D. Batasan Operasional

1. Instalasi Gawat Darurat


Adalah unit pelayanan di rumah sakit yang memberikan pelayanan pertama
pada pasien dengan ancaman kematian clan kecacatan secara terpadu dengan
melibatkan berbagai multidisiplin.
2. Triage
Adalah pengelompokan korban yang berdasarkan atas berat ringannya trauma I
penyakit serta kecepatan penanganan I pemindahannya.

4
3. Prioritas
Adalah penentuan mana yang harus didahulukan mengenai penanganan clan
pemindahan yang mengacu tingkat ancaman jiwa yang timbul.
4. Survey Primer
Adalah deteksi cepat clankoreksi segera terhadap kondisi yang mengancam jiwa.
5. Survey Sekunder
Adalah melengkapi survei pnmer dengan mencari perubahan ~ perubahan
anatomi yang akan berkembang menjadi semakin parah clan memperberat perubahan
fungsi vital yang ada berakhir dengan mengancamjiwa bila tidak segera diatasi.
6. Pasien Gawat darurat
Pasien yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat clan
terancam nyawanya atau anggota badannya ( akan menjadi cacat) bila tidak mendapat
pertolongan secepatnya.
7. Pasien Gawat Tidak Darurat
Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat
misalnya kanker stadium lanjut
8. Pasien Darurat Tidak Gawat
Pasien akibat musibah yang datang tiba ~ tiba tetapi tidak mengancam nyawa
clan anggota badannya, misalnya luka sayat dangkal.
9. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat
Misalnya pasien dengan ulcus tropium, TBC kulit, clan sebagainya
10. Kecelakaan (Accident )
Suatu kejadian dimana terjadi interaksi berbagai faktor yang datangnya
mendadak, tidak dikehendaki sehingga menimbulkan cedera fisik, mental clan sosial.
Kecelakaan clan cedera dapat diklasifikasikan menurut :
a. Tempat kejadian:
• Kecelakaan lalu lintas
• Kecelakaan di lingkungan rumah tangga
• Kecelakaan di lingkungan pekerjaan
• Kecelakaan di sekolah

5
• Kecelakaan di tempat - tempat umum lain seperti halnya tempat rekreasi,

perbelanjaan, di area olah raga, clan lain - lain.

b. Mekanisme kejadian
Tertumbuk, jatuh, terpotong, tercekik oleh benda asing, tersengat, terbakar baik

karena efek kimia, fisik maupun listrik atau radiasi.

c. Waktu kejadian

• Waktu perjalanan (travelling I transport time)

• Waktu bekerja, waktu sekolah, waktu bermain clan lain - lain.

11. Cidera

Masalah kesehatan yang didapat I dialami sebagai akibat kecelakaan.

12. Bencana
Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam clanatau manusia
yang mengakibatkan korban clan penderitaan manusia, kerugian harta benda,
kerusakan lingkungan, kerusakan sarana clan prasarana umum serta menimbulkan
gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat clan pembangunan nasional yang
memerlukan pertolongan clan bantuan.
Kematian dapat terjadi bila seseorang mengalami kerusakan atau kegagalan dari salah
satu system I organ di bawah ini, yaitu:
a. Susunan saraf pusat
b. Pernafasan

c. Kardiovaskuler
d. Hati
e. Ginjal
f Pancreas
Kegagalan ( kerusakan) System I organ tersebut dapat disebabkan oleh :
a. Trauma I cedera
b. Infeksi

6
c. Keracunan ( poisoning )
d. Degerenerasi (failure)
e. Asfiksi
f. Kehilangan cairan clan elektrolit dalam jumlah besar ( excessive loss of water and
electrolit )
g. Dan lain-lain.

Kegagalan sistim susunan saraf pusat, kardiovaskuler, pernafasan clan hipoglikemia


dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat ( 4 - 6 ), sedangkan kegagalan
sistim/organ yang lain dapat menyebabkankematian dalam waktu yang lama.
Dengan demikian keberhasilan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD)
dalam mencegah kematian clan cacat ditentukan oleh :
a. Kecepatan menemukan penderita gawat darurat
b. Kecepatan meminta pertolongan
c. Kecepatan clankualitas pertolongan yang diberikan
1) Ditempat kejadian
2) Dalam perjalanan ke rumah sakit
3) Pertolongan selanjutnya secara mantap di rumah sakit

E. Landasan Hukum
1. Undang - undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
2. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 436 I Menkes I SK I VI I 1993 tentang
berlakunya Standar Pelayanan di Rumah Sakit
3. Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 0701 I Y ANMED I RSKS I GDE I VII I
1991 Tentang Pedoman Pelayanan Gawat Darurat
4. Undang - undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
5. Undang - undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen

7
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi SDM

Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM IGD adalah:

Nomor Nam a Jabatan Kualifikasi Keterangan


Formal
1 Supervisor IGD S Kep Ns I SKM Bersertifikat
/Setingkat BLS/B TCLS/PPGD
2 Koordinator Shift IGD SI Kep Ns/ D III Bers ertifikat
Keperawatan BLS/B TCLS/PPGD
3 Ka Instalasi Gawat Darurat Sp EM/Dokter Bersertifikat ACLS/ATLS
Umum
4 Perawat Pelaksana IGD S Kep Ns/D III Bers ertifikat
Keperawatan BLS/B TCLS/PPGD
5 Dokter IGD DokterUmum Bersertifikat ACLS/ ATLS

6 TPK SMU PPGD Awam

B. Distribusi Ketenagaan

Pola pengaturan ketenagaan Instalasi Gawat Darurat yaitu:


a. Untuk Dinas Pagi :
yang bertugas sejumlah 6 ( enam) orang dengan standar minimal bersertifikat
PPGD/BLS

8
Kategori:
1 orang Supervisor
5 orang Pelaksana

b. Untuk Dinas Sore :


yang bertugas sejumlah 6 ( enam) orang dengan standar minimal bersertifikat
PPGD/BLS

Kategori:
1 orang Koordinator Shift
5 orang Pelaksana

c. Untuk Dinas Malam:


yang bertugas sejumlah 5 ( lima) orang dengan standar minimal bersertifikat
PPGD/BLS

Kategori:
1 orang Koordinator Shift
4 orang Pelaksana

C. Pengatur
an Jaga

I. Pengaturan Jaga Perawat IGD

• Pengaturan jadwal dinas perawat IGD dibuat clan di pertanggung jawabkan oleh
Supervisor IGD clan disetujui oleh Kepala Instalasi IGD.
• Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan clan direalisasikan ke perawat
pelaksana IGD setiap satu bulan .

9
• U ntuk tenaga perawat yang memiliki keperluan penting pada hari tertentu, maka

perawat tersebut dapat mengajukan permintaan dinas pada buku permintaan.

Permintaan akan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga yang ada (apa bila tenaga

cukup clan berimbang serta tidak mengganggu pelayanan, maka permintaan

disetujui).

• Setiap tugas jaga I shift harus ada perawat koordinator shift ( ko Shift) dengan

syarat pendidikan minimal D III Keperawatan clan masa kerja minimal 2 tahun,
serta memiliki sertifikat tentang kegawat daruratan.
• Jadwal dinas terbagi atas dinas pagi, dinas sore, dinas malam, lepas malam, libur
clan cuti.
• Apabila ada tenaga perawat jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai jadwal yang telah ditetapkan ( terencana ), maka perawat yang
bersangkutan harus memberitahu Supervisor IGD : 2 jam sebelum dinas pagi, 4
jam sebelum dinas sore atau dinas malam. Sebelum memberitahu Supervisor
IGD, diharapkan perawat yang bersangkutan sudah mencari perawat pengganti,
Apabila perawat yang bersangkutan tidak mendapatkan perawat pengganti, maka
Supervisor IGD akan mencari tenaga perawat pengganti yaitu perawat yang hari
itu libur atau perawat IGD yang tinggal di asrama (perawat on call).
• Apabila ada tenaga perawat tiba - tiba tidak dapat jaga sesuai jadwal yang telah
ditetapkan ( tidak terencana ), maka Supervisor IGD akan mencari perawat
pengganti yang hari itu libur atau perawat IGD yang tinggal di asrama (perawat
on call). Apabila perawat pengganti tidak didapatkan, maka perawat yang dinas
pada shift sebelumnya wajib untuk menggantikan.(Prosedur pengaturan jadwal
dinas perawat IGD sesuai SOP terlampir).

II. Pengaturan Jaga Dokter IGD

• Pengaturan jadwal dokter jaga IGD menjadi tanggung jawab Koordinator dokter
umum clan disetujui oleh Ka Instalasi Gawat Darurat .
• Jadwal dokter jaga IGD dibuat untukjangka waktu 1 bulan serta sudah diedarkan
ke unit terkait clan dokter jaga yang bersangkutan 1 minggu sebelum jaga di
mulai.

10
• Apabila dokter jaga IGD karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga sesuai

dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :


o Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus menginformasikan ke

koordinator dokter jaga paling lambat 3 hari sebelum tanggal jaga, serta
dokter tersebut wajib menunjuk dokter jaga pengganti.

o Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus

menginformasikan ke koordinator dokter jaga clan di harapkan dokter tersebut

sudah menunjuk dokter jaga pengganti, apabila dokter jaga pengganti tidak

didapatkan, maka koordinator dokter jaga wajib untuk mencarikan dokter

jaga pengganti, yaitu digantikan oleh dokter jaga yang pada saat itu libur atau

dirangkap oleh dokter jaga ruangan. Apabila dokter jaga pengganti tidak di

dapatkan maka dokter jaga shift sebelumnya wajib untuk menggantikan.(

Prosedur pengaturanjadwal jaga dokter IGD sesuai SOP terlampir).

o Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus

menginformasikan ke koordinator dokter jaga clan di harapkan dokter tersebut

sudah menunjuk dokter jaga pengganti, apabila dokter jaga pengganti tidak

didapatkan, maka koordinator dokter jaga wajib untuk mencarikan dokter

jaga pengganti, yaitu digantikan oleh dokter jaga yang pada saat itu libur atau

dirangkap oleh dokter jaga ruangan. Apabila dokter jaga pengganti tidak di

dapatkan maka dokter jaga shift sebelumnya wajib untuk menggantikan.(

Prosedur pengaturanjadwal jaga dokter IGD sesuai SOP terlampir).

III. Pengaturan Jadwal Dokter Konsulen

• Pengaturan jadwal jaga dokter konsulen menjadi tanggung jawab Manager


Pelayanan.
• Jadwal jaga dokter konsulen dibuat untuk jangka waktu 3 bulan serta sudah
diedarkan ke unit terkait clan dokter konsulen yang bersangkutan 1 minggu
sebelum jaga di mulai.
• Apabila dokter konsulen j aga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga sesuai
dengan jadwal yang telah di tetapkan maka :

11
o Untuk yang terencana, dokter yang bersangkutan harus menginformasikan ke

Manager Pelayanan atau ke petugas sekretariat paling lambat 3 hari sebelum

tanggal jaga, serta dokter tersebut wajib menunjuk dokter jaga konsulen

pengganti.

o Untuk yang tidak terencana, dokter yang bersangkutan harus


menginformasikan ke Manager Pelayanan atau ke petugas sekretariat clan di
harapkan dokter tersebut sudah menunjuk dokter jaga konsulen pengganti,

apabila dokter jaga pengganti tidak didapatkan, maka Manager Pelayanan


wajib untuk mencarikan dokter jaga konsulen pengganti.( Prosedur

pengaturan jadwal jaga dokter konsulen sesuai SOP terlampir).

12
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruangan

B. Standar Fasilitas

I. Fasilitas & Sarana

IGD RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun berlokasi di lantai I gedung utama


yang terdiri dari ruangan Triase, ruang resusitasi, ruang tindakan bedah, ruangan tindakan
non bedah clan ruangan observasi.
Ruangan resusitasi terdiri dari 1 ( satu) tempat tidur, ruangan tindakan bedah terdiri
dari 2 (dua) tempat tidur, ruangan tindakan non bedah terdiri dari 1 ( satu ) tempat tidur,
ruangan observasi terdiri dari 4 ( empat) tempat tidur

II. Peralatan
Peralatan yang tersedia di IGD mengacu kepada buku pedoman pelayanan Gawat
Darurat Departermen Kesehatan RI untuk penunjang kegiatan pelayanan terhadap pasien
Gawat darurat.
Alat yang harus tersedia adalah bersifat life saving untuk kasus kegawatan jantung
seperti monitor clan defribrilator

a. Alat - alat untuk ruang resusitasi :


1. Mesin suction ( 1 set)
2. Oxigen lengkap dengan flowmeter ( 1 set )
3. Laringoskope anak & dewasa ( 1 set)
4. Spuit semua ukuran ( masing- masing 10 buah)
5. Oropharingeal air way ( sesuai kebutuhan)

13
6. Infos set I transfosi set ( 5 I 5 buah )
7. Brandcard fungsional cliatur posisi trenclelenberg, ada gantungan infos &
penghalang ( 1 buah)
8. Gunting besar (1 buah )
9. Defribrilator ( 1 buah )
10. Monitor EKG ( 1 buah)
11. Trolly Emergency yang berisi alat - alat untuk melakukan resusitasi ( 1 buah )
12. Papan resusitasi ( 1 buah)
13. Ambu bag ( 1 buah)
14. Stetoskop ( 1 buah)
15. Tensi meter ( 1 buah)
16. Thermometer ( 1 buah)
17. Tiang Infos ( 1 buah)

b. Alat - alat untuk ruang tindakan bedah


1. Biclai segala ukuran untuk tungkai, lengan, leher, tulang punggung (1 set)
2. Verban segala ukuran:
4 x 5 em ( 5 buah )
- 4 xlO em ( 5 buah )
3. Vena seksi set ( 1 set)
4. Extraksi kuku set ( 2 set )
5. Hecting set ( 5 set)
6. Benang - benang I jarum segalajenis clan ukuran:
- Cat gut 2/0 clan 3/0 ( 1 buah )
- Silk Black 2/0 ( 1 buah ), 3/0 ( 1 buah )
- J arum ( 1 set )
7. Lampu sorot ( 1 buah)
8. Kassa ( 1 tromel )
9. Cirkumsisi set ( 1 set )
10. Ganti verban set ( 3 set)

14
11. Stomach tube I NGT
- Nomer 12 ( 3 buah)
- Nomer 16 ( 3 buah)
- Nomer 18 (2buah)
12. Spekulum hidung ( 2 buah)
13. Spuit sesuai kebutuhan
- 5 cc ( 5 buah )
- 2. 5 cc ( 5 buah)
14. Infos set ( 1 buah)
15. Dower Catheter segala ukuran
- Nomer 16 ( 2 buah)
- Nomer 18 ( 2 buah )
16. Emergency lamp ( 1 buah )
17. Stetoskop ( 1 buah)
18. Tensimeter ( 1 buah)
19. Thermometer ( 1 buah)
20. Elastis verban sesuai kebutuhan
- 6 inchi ( 1 buah )
- 4 inchi ( 2 buah )
- 3 inchi ( 1 buah )
21. Tiang infos ( 2 buah )

c. Alat- alat untuk ruang tindakan non bedah:


1. Stomach tube I NGT
- Nomer 16 ( 2 buah)
- Nomer 18 ( 2 buah)
- Nomer 12 ( 3 buah)
2. Urine bag ( 3 buah)
3. Otoscope ( 1 buah)
4. Nebulizer ( 1 buah)

15
5. Mesin EKG ( 1 buah)
6. Infus set ( 1 buah )
7. IV catheter semua nomer ( 1 set)
8. Spuit sesuai kebutuhan :
- 1 cc ( 5 buah )
- 2. 5 cc ( 5 buah )
- 5 cc ( 5 buah )
- 10 cc ( 5 buah)
- 20 cc ( 3 buah )
- 50 cc ( 3 buah )
9. Tensimeter ( 1 buah)
10. Stetoskop ( 1 buah)
11. Thermometer ( 1 buah )
12. Tiang infos ( 1 buah )

d. Alat- alat untuk ruang observasi


1. Tensi meter (1 buah)
2. Oxygen lengkap dengan flow meter ( 1 buah )
3. Termometer ( 1 buah )
4. Stetoskop ( 1 buah)
5. Standar infos ( 1 buah)
6. Infos set ( 1 set)
7. IV catheter segala ukuran ( 1 set)
8. Spuit sesuai kebutuhan
- 1 cc ( 5 buah )
- 2. 5 cc ( 5 buah )
- 5 cc ( 5 buah )
- 10 cc ( 5 buah )
- 20 cc ( 3 buah )
- 50 cc ( 3 buah)

16
e. Alat - alat dalam trolly emergency
I. Obat Life saving ( terlampir pada standar obat IGD RS PKU Muh
Kutowinangun
II. Obat penunjang ( terlampir pada standar obat IGD RS PKU Muh
Kutowinangun
III. Alat - alat kesehatan
1. Ambu bag I Air viva untuk dewasa & anak ( 1 buah I 1 buah)
2. Oropharingeal airway
- Nomer 3 ( 2 buah )
- Nomer 4 ( 2 buah )
3. Laringoscope dewasa & anak ( 1 set)
4. Magyl forcep
5. Face mask ( 1 buah)
6. Urine bag non steril ( 5 buah )
7. Spuit semua ukuran
8. Infus set ( 1 set)
9. Endotracheal tube ( dewasa & anak )
- Namer 2.5 ( 1 buah)
- Namer 3 (1 buah)
- Namer 4 (1 buah)
- Namer 7 (1 buah)
- Namer 7.5 ( 1 buah)
- Nomer 8 ( 1 buah )
10. Slang oksigen sesuai kebutuhan
11. Stomach tube /NGT
- Namer 16 ( 2 buah)
- Namer 18 ( 2 buah)
- Namer 12 ( 3 buah)

12. IV catheter sesuai kebutuhan


- Namer 18 Cath I Terumo ( 2 I 2 buah)
17
- Namer 20 Cath I Terumo ( 2 I 16 buah)

- Namer 22 Cathy I terumo ( 2 I 11 buah)


13. Suction catheter segala ukuran
- Namer 10 ( 3 buah)
- Namer 12 ( 2 buah)
14. Neck collar Ukuran SIM ( 2 I 1)

f. Ambulance
Untuk menunJang pelayanan terhadap pas1en RS PKU
Muhammadiyah Kutowinangun saat ini memiliki 2 ( dua ) unit ambulance yang
kegiatannya berada dalam koordinasi IGD clan bagian umum.

Fasilitas & Sarana untuk


Ambulance
A. Perlengkapan
Ambulance
1. Ac
2. Sirine
3. Lampu rotater
4. Sabuk pengaman
5. Sumber listrik I stop kontak
6. Lemari untuk alat medis
7. Lampu ruangan
8. Wastafel

B. Alat & Obat


1. Tabung Oksigen ( 1 buah )
2. Mesin suction ( 1 buah)
3. Monitor EKG 1 buah )
4. Stretcher ( 1 buah )
5. Scope ( 2 buah )
6. Fiala ginjal ( 5 buah )
7. Tas Emergency yang berisi :

18
Obat ~ obat untuk life saving
Cairan infos: RL, NaCL 0,9 % ( 5 I 10 kolf)
Senter ( 2 buah )
Stetoskop ( 3 buah )
Tensimeter ( 1 buah)
Piala ginjal ( 5 buah )
Oropharingeal air way
Gunting verban ( 2 buah )
Tongue Spatel ( 1 buah)
Reflex hummer ( 2 buah )
Infos set ( 1 buah )
N chateter ( Nomer 20, 18 : 2: 2)
Spuit semua ukuran ( masing- masing 2 buah)

Standar Obat IGD RS PKU Muh Kutowinangun

I. OBAT LIVE SAVING


a. Injeksi

No NamaObat Satuan Jumlah Jenis Obat

1. Adona AC 10 ml Ampul 6 Haemostatic


2. Alupent Ampul 2 Anti asthmatic dan COPD
preparations
3. Aminophilin Ampul 14 Anti asmatic dan COPD
preparations
4 Atropin sulfat Ampul 125 Anti spasmodics
5. Buscopan Ampul 14 Anti spasmodics
6 Catapres Ampul 3 Other Anti hypertensives
7 Cedation Ampul 5 Anti emetics
8 Cortidex Ampul 6 Corticosteroid Hormones
9 Diazepam Ampul 5 Minor Transquillizer

19
10 Dicynone Ampul 5 Haemostatics
11 Dormicum Asmpul Hypnotics dan sedatives

12 Ephinephrin Ampul 2 Asnastetic lokal & general

13 Lasik Ampul 16 Diuretics


14 Lidocain Ampul 94 Anastetic lokal
15 Metro clopramide Ampul 5 Anti emetik
16 Nicholin 250 mg Ampul 2 N europrotector
17 Nicholin 100 mg Ampul 2 Neoroprotector
18 N aotropil 1 gr Ampul 5 N europrotector
19 Novalgin Ampul 5 Analgetik
20 Orodexon Ampul 4 Anti inflamasi
21 Phenobarbital Ampul 2 Sedatif
22 Pethidine Ampul 2 Sedatif
23 Pulmicortn N aspv Ampul 8 Bronco dilator
24 Ranitidine Ampul 5 Antacida
25 Remopain Ampul 5 Analgetik
26 Renatoc Ampul 2 Antacida
27 Toradol 50 mg Ampul 1 Analgetik
28 Panadol Ampul 5 Analgetik
29 Transamin Ampul 7 Haemostatics
30 Valium Ampul 14 Sedatif
31 Vitk Ampul 2 Anti perdarahan
32 Tramal 100 mg Ampul 1 Analgetik
33 ATS 1500 u Ampul 10 Anti tetanus
34 Vaksin Engerik B-In-1 Tube 3 Vaksinasi hepatitis
35 Vaccin Engerik o,5 ml Tube 2 Vaksinasi hepatitis
36 Kallium clorida Flacon 6 Elektrolit
37 Meylon 25 ml Flacon 9
38 Meylon 100 ml Flacon 1

20
b. Tablet

No NamaObat Satuan Jumlah Jenis Obat

1. Adalat 5 mg Tablet 10 Anti hypertensi/


Betabloker
2. Adalat 10 mg Tablet 10 Anti hypertensi I
Betabloker
3. Cedocard 5 mg Tablet 8 Anti anginal
4. Nitro bat Tablet 10 Nitrogliserida

c. Cairan Infus

No NamaObat Satuan Jumlah Jenis Obat

1. Asering Kolf 4

2. Dextrose 5 % 25 0 ml Kolf 2
3. Dextrose 5 % 500 ml Kolf 8
4 Dextrose 10 % 5 OOml Kolf 5
5. Dextrose In Saline 0,225 Kolf 2
6. Dextrose 0,5 Darrow Kolf 3
7. Kaen 3 B Kolf 1
8. Kaen 3 A Kolf 1
9. Larutan 2 A Kolf 7

10. Manitol 250 cc Kolf 2


11. Nacl 0,9 % 250 ml Kolf 1
12. Nacl 0,9 % 500 ml Kolh 5
13. Nacl 3 % Kolf 1

20
20
14. Ringer Dextrose Kolf 6

15 Ringer Lactat Kolf 13

16. Ringer Solution Kolf 2


17. Dex 40 % 25 ml Flalon 6

d. Suppositoria
No NamaObat Satuan Jumlah Jenis Obat

1. Amicain Supp Supp 2 Anti emetik


2. Primperan sup Child Supp 3 Anti emetik
3. Primperan Sup Adult Supp 1 Anti emetik
4. Paracetamol Sup Supp 1 Anti piretik,
Analgetik
5. Propyretic 160 mg Supp 1 Anti piretik,
Analgetik
6. Proris Sup Supp 6 Anti piretik ,
Analgetik
7. Stesolid 5 mg rect Tube 5 Sedatif
8. Stesolid 10 mg rect Tube 7 Sedatif

2. OBATPENUNJANG
a. Injeksi
No NamaObat Satuan Jumlah Jenis Obat

1. Cedantron Ampul 5 Antiemetik


2. Calsium gluconas Ampul 3 Vitamin (elektrolit)
3. Zantadin Ampul 5 Antasida
4. Lanoxin Ampul 2 Cardiac drugs

21
21
5. Neurobion 5000 Ampul 5 Vitamin

6. Papaverin Ampul 12 Anti spasmudics

7. Sotatik Ampul 8 Anti emetik


8 Cortison Asetat Flacon 4 Anti inflamasi
9. Kanamycin 1 gr Flacon 10 Antibiotik
10. Procain Penicillin Flacon 2 Antibiotik

b. Obat tablet
No NamaObat Satuan Jumlah Jenis Obat

1. Aspilet Tablet 7 Anti coagulans, anti


trombotics
2. Inderal Tablet 5 Beta -Blockers
3. Inopamil Tablet 5
4. Is orbid Tablet 2 Cardiac drugs
5. Merislon Tablet 2 Anti vertigo
6. Propanolol Tablet 3 Beta Blockers
7. Strocain Tablet 5 Antacid&
Antiulcerant
8. Norit Tablet 15
9. Ponstan Tablet 2 Analgetic& Antipiretic

22
22
BAB IV
TATALAKSANAPELAYANAN

A. TATA LAKSANA PENDAFTARAN PASIEN

I. Petugas Penanggung Jawab

Perawat IGD

Petugas Admission

II. Perangkat Kerja

- Status Medis

III. Tata Laksana Pendaftaran Pasien IGD

1. Pendaftaran pasien yang datang ke IGD dilakukan oleh pasien I keluarga dibagian

admission.

2. Bila keluarga tidak ada petugas IGD bekerja sama dengan security/care giver

untuk mencari identitas pasien

3. Sebagai bukti pasien sudah mendaftar di bagian admission akan memberikan status

untuk diisi oleh dokter IGD yang bertugas.

4. Bila pasien dalam keadaan gawat darurat, maka akan langsung diberikan

pertolongan di IGD, sementara keluarga I penanggung jawab melakukan

pendaftaran di bagian admission

23
23
B. TATA LAKSANA SISTIM KOMUNIKASI IGD

I. Petugas Penanggung Jawab

Petugas Operator

Dokter I perawat IGD

II. Perangkat Kerja

Pesawat telpon

Hand phone

III. Tata Laksana Sistim Komunikasi IGD

1. Antara IGD dengan unit lain dalam RS PKU Muhammadiyah

Kutowinangun adalah dengan nomor extension masing-masing unit

2. Antara IGD dengan dokter konsulen I rumah sakit lain I yang terkait dengan

pelayanan diluar rumah sakit adalah menggunakan pesawat telephone langsung

dari IGD dengan menggunakan kode PIN yang dimiliki oleh dokter jaga atau

melalui bagian operator.

3. Antara IGD dengan petugas ambulan yang berada dilapangan menggunakan

pesawat telephone dan handphone .

4. Dari luar RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun dapat langsung melalui


operato

24
24
C. TATA LAKSANAPELAYANAN TRIASE

I. Petugas Penanggung Jawab

Perawat triase

II. PerangkatKerja

• Stetoscope

• Tensimeter

• Termometer

• Oximetri

• Status medis

III. Tata Laksana Pelayanan Triase IGD

1. Pasien I keluarga pasien mendaftar ke bagian admission.

2. Perawat triase melakukan pemeriksaan pada pasien clan menentukan prioritas

penanganan.

3. Prioritas pertama ( I, tertinggi, emergency ) yaitu mengancam jiwa I mengancam

fungsi vital, pasien ditempatkan diruang resusitasi

4. Prioritas kedua ( II, medium, urgent ) yaitu potensial mengancam jiwa I fungsi vital,

bila tidak segera ditangani dalam waktu singkat. Penanganan clan pemindahan

bersifat terakhir. Pasien ditempatkan di ruang tindakan bedah I non bedah

5. Prioritas ketiga ( III, rendah, non emergency ) yaitu memerlukan pelayanan biasa,

tidak perlu segera. Penanganan clan pemindahan bersifat terakhir. Pasien

ditempatkan diruang non bedah

25
25
D. TATA LAKSANA PENGISIAN INFORMED CONSENT

I. Petugas Penangung Jawab

Dokter jaga

IGD II. Perangkat

Kerja

Formulir Persetujuan Tindakan

III. Tata Laksana Informed Consent

1. Dokter IGD yang sedang bertugas menjelaskan tujuan dari pengisian

informed consent pada pasien I keluarga pasien disaksikan oleh perawat

2. pasien menyetujui, informed consent diisi dengan lengkap disaksikan


oleh

peraw
at.

3. Setelah diisi dimasukkan dalam status medik pasien

E. TATA LAKSANA TRANSPORTASI PASIEN

I. Petugas Penanggung Jawab

Perawat

IGD Supir

Ambulan

II. Perangkat Kerja

Ambulan

Alat Tulis

III. Tata Laksana Transportasi Pasien IGD

30
1. Bagi pasien yang memerlukan penggunaan ambulan RS PKU

Muhammadiyah Kutowinangun sebagai transportasi, maka perawat unit

terkait menghubungi IGD. Perawat IGD menuliskan data-data I penggunaan

ambulan (nama pasien ruang rawat inap, waktu penggunaan & tujuan

penggunaan

3. Perawat IGD menghubungi bagian I supir ambulan untuk

menyiapkan kendaraan

4. Perawat IGD menyiapkan alat medis sesuai dengan kondisi pasien.

F. TATA LAKSANA PELAYANAN FALSE EMERGENCY

I. Petugas Penanggung Jawab

Petugas admission

Perawat triase

Dokter jaga IGD

II. Perangkat Kerja

Stetoscope

Termometer

Oximetri

Tensi meter

Alat Tulis

III. Tata Laksana Pelayanan False Emergency

1. Pasien I keluarga pasien mendaftar dibagian admission .

2. Dilakukan triase untuk penempatan pasien diruang non bedah

3. Pasien dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter jaga IGD

31
4. Dokter jaga menjelaskan kondisi pasien pada keluarga I penanggung jawab

5. Bila perlu dirawat I observasi pasien dianjurkan kebagian admission.

6. Bila tidak perlu dirawat pasien diberikan resep clan bisa langsung pulang

7. Pasien dianjurkan untuk kontrol kembali sesuai dengan saran dokter

G. TATA LAKSANA PELAYANAN VISUM ET REPERTUM

I. Petugas Penanggung

Jawab Petugas

Rekam Medis

Perawat triase

Dokter jaga IGD

II. Perangkat Kerja

Formulir Visum Et Repertum IGD

III. Tata Laksana PelayananVisum Et Repertum

1. Petugas IGD (perawat triase) menerima surat permintaan visum et repertum

dari pihak kepolisian.

2. Surat permintaan visum et repertum diserahkan kebagian rekam medik

3. Petugas rekam medik menyerahkan status medis pasien kepada dokter jaga

yang menangani pasien terkait.

4. Setelah visum et repertum diselesaikan oleh rekam medik maka lembar yang

asli diberikan pada pihak kepolisian

32
H. TATA LAKSANAPELAYANAN DEATH ON ARRIVAL (DOA)

I. Petugas Penanggung Jawab

Perawat triase

Dokter jaga IGD

Petugas Satpam

II. Perangkat Kerja

Senter

Stetoscope

EKG

Surat Kematian

III. Tata Laksana Death On Arrival IG D (DOA)

1. Pasien dilakukan triase clan pemeriksaan oleh perawat triase clan dokter jaga IGD

2. Bila dokter sudah menyatakan meninggal, maka dilakukan perawatan jenazah

3. Dokter jaga IGD membuat surat keterangan meninggal

4. Jenazah dipindahkan I diserah terimakan di ruangan jenazah dengan bagian


umum I keamanan

33
I. TATA LAKSANA SISTIM INFORMASI PELAYANAN PRA RUMAH SAKIT

I. Petugas Penanggung Jawab

Perawat IGD

II. Perangkat Kerja

Ambulan

Hand phone

III. Tata Laksana Sistim Informasi Pelayanan Pra Rumah Sakit

1. Perawat yang mendampingi pasien memberikan informasi mengenai kondisi pasien

yang akan dibawa, kepada perawat IGD RS PKU Muhammadiyah . Kutowinangun

2. Isi informasi mencakup :

Keadaan umum ( kesadaran clan tanda ~ tanda vital)

Peralatan yang diperlukan di IGD ( suction, monitor, defibrillator)

Kemungkinan untuk dirawat di unit intensive care

Perawat IGD melaporkan pada dokter jaga IGD & PJ Shift serta menyiapkan

hal-hal yang diperlukan sesuai dengan laporan yang diterima dari petugas

ambulan.

34
I. TATA LAKSANA SISTIM
RUJUKAN

I. Petugas Penanggung

Jawab

DokterIGD

PerawatIGD

II. Perangkat Kerja

Ambulan

Formulir persetujuan tindakan

Formulir rujukan

III. Tata Laksana Sistim Rujukan IGD

1. Alih Rawat

Perawat IGD menghubungi rumah sakit yang akan dirujuk

Dokter jaga IGD memberikan informasi pada dokter jaga rumah sakit

rujukan mengenai keadaan umum pasein

Bila tempat telah tersedia di rumah sakit rujukan, perawat IGD


menghubungi

RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun I ambulan 118 sesuai kondisi pasien

2. Pemeriksaan Diagnostik

Pasien I keluarga pasien dijelaskan oleh dokter jaga mengenai

tujuan pemeriksaan diagnostik, bila setuju maka keluarga pasien harus

mengisi informed consent

Perawat IGD menghubungi rumah sakit


rujukan

Perawat IGD menghubungi petugas ambulan RS PKU


Muhammadiyah Kutowinangun.

3. Spesimen

Pasien I keluarga pasien dijelaskan mengenai tujuan pemeriksaan specimen

Bila keluarga setuju maka harus mengisi inform consent


Dokter jaga mengisi formulir pemeriksan, dan diserahkan

kepetugas laboratorium

Petugas laboratorium melakukan rujukan ke laboratorium yang dituju

34
BABV
LOGISTIK

35
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian

Keselamatan Pasien (Patient Safety)

Adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih
aman. Sistem tersebut meliputi :
• Asesmen resiko
• Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien
• Pelaporan dan analisis insiden
• Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
• Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko

Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh :


• Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
• Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil

B. Tujuan
• Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
• Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
• Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan (KID) di rumah sakit
• Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
Kejadian Tidak Diharapkan (KID)

36
STANDAR KESELAMATAN PASIEN
1. Hak pasi en
2. Mendidik pasien clan keluarga
3. Keselamatan pasien clan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda-metocla peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi clan
program peningkatan keselamatan pasien
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinan clalam meningkatkan keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN ( KTD) AD


VERSE EVENT:
Aclalah suatu kejaclian yang ticlak cliharapkan, yang mengakibatkan cedera pasien akibat
melaksanakan suatu tinclakan atau ticlak mengambil tinclakan yang seharusnya cliambil, clan
bukan karena penyakit clasarnya atau konclisi pasien. Ceclera clapat cliakibatkan oleh
kesalahan medis atau bukan kesalahan medis karena ticlak clapat dicegah

KTD yang tidak dapat dicegah


Unpreventable Adverse Event:
Suatu KTD yang terjacli akibat komplikasi yang ticlak clapat dicegah clengan pengetahuan
mutakhir

KEJADIAN NYARIS CEDERA ( KNC)


Near Miss:
Aclalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tinclakan ( commission ) atau ticlak
mengambil tinclakan yang seharusnya cliambil (omission ), yang clapat menceclerai pasien,
tetapi cedera serius ticlak terjacli :
• Karena " keberuntungan"
• Karena" pencegahan"
• Karena" peringanan "

37
KESALAHAN MEDIS

Medical Errors:
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien

KEJADIAN SENTINEL
Sentinel Event:
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang senus; biasanya
dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima, seperti :
operasi pada bagian tubuh yang salah.

Pemilihan kata "sentinel" terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi ( seperti, amputasi
pada kaki yang salah ) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini mengungkapkan
adanya masalah yang serius pada kebijakan clan prosedur yang berlaku.

C. TATA LAKSANA
a. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada pasien
b. Melaporkan pada dokter jaga IGD
c. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
d. Mengobservasi keadaan umum pasien
e. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir " Pelaporan Insiden
Keselamatan"

38
38
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

I. Pendahuluan
HIV I AIDS telah menjadi ancaman global. Ancaman penyebaran HIV menjadi
lebih tinggi karena pengidap HIV tidak menampakkan gejal. Setiap hari ribuan anak
berusia kurang dari 15 tahun dan 14.000 penduduk berusia 15 - 49 tahun terinfeksi HIV.
Dari keseluruhan kasus baru 25% terjadi di Negara - negara berkembang yang belum
mampu menyelenggarakan kegiatan penanggulangan yang memadai.
Angka pengidap HIV di Indonesia terus meningkat, dengan peningkatan kasus
yang sangat bermakna. Ledakan kasus HIV I AIDS terjadi akibat masuknya kasus secara
langsung ke masyarakat melalui penduduk rrugran, sementara potensi penularan
dimasyarakat cukup tinggi (misalnya melalui perilaku seks bebas tanpa pelingdung,
pelayanan kesehatan yang belum aman karena belum ditetapkannya kewaspadaan umum
dengan baik, penggunaan bersama peralatan menembus kulit: tato, tindik, dll).
Penyakit Hepatitis B dan C, yang keduanya potensial untuk menular melalui
tindakan pada pelayanan kesehatan. Sebagai ilustrasi dikemukakan bahwa menurut data
PMI angka kesakitan hepatitis B di Indonesia pada pendonor sebesar 2,08% pada tahun
1998 dan angka kesakitan hepatitis C dimasyarakat menurut perkiraan WHO adalah
2,10%. Kedua penyakit ini sering tidak dapat dikenali secara klinis karena tidak
memberikan gejala.
Dengan munculnya penyebaran penyakit tersebut diatas memperkuat keinginan
untuk mengembangkan dan menjalankan prosedur yang bisa melindungi semua pihak
dari penyebaran infeksi. Upaya pencegahan penyebaran infeksi dikenal melalui "
Kewaspadaan Umum " atau "Universal Precaution" yaitu dimulai sejak dikenalnya
infeksi nosokomial yang terus menjadi ancaman bagi "Petugas Kesehatan".
Tenaga kesehatan sebagai ujung tombak yang melayani dan melakukan kontak
langsung dengan pasien dalam waktu 24 jam secara terus menerus tentunya mempunyai
resiko terpajan infeksi, oleh sebab itu tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan
keselamatan darinya dari resiko tertular penyakit agar dapat bekerja maksimal.

39
II. Tujuan
a. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas clan kewajibannya dapat
melinclungi diri sencliri,pasien clanmasyarakat dari penyebaran infeksi.

b. Petugas kesehatan didalam menjalankan tugas clan kewajibannya mempunyai


resiko tinggi terinfeksi penyakit menular clilingkungan tempat kerjanya, untuk
menghinclarkan paparan tersebut, setiap petugas harus menerapkan prinsip
"Universal Precaution".

III. Tindakan yang beresiko terpajan


a. Cuci tangan yang kurang benar.
b. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
c. Penutupan kembali jarum suntik secara ticlak aman.
cl. Pembuangan peralatan tajam secara ticlak aman.
e. Tehnik clekontaminasi clan sterilisasi peralatan kurang tepat.
f. Praktek kebersihan ruangan yang belum memaclai.

IV. Prinsip Keselamatan Kerja


Prinsip utama proseclur Universal Precaution clalam kaitan keselamatan kerja
aclalah menjaga higiene sanitasi incliviclu, higiene sanitasi ruangan clan sterilisasi
peralatan. Ketiga prinsip tesebut clijabarkan menjacli 5 (lima) kegiatan pokok yaitu :
a. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
b. Pemakaian alat pelinclung cliantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah
kontak clengan clarah serta cairan infeksi yang lain.
c. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
cl. Pengelolaanjarum clan alat tajam untuk mencegah perlukaan
e. Pengelolaan limbah clan sanitasi ruangan.

40
40
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Indikator mutu yang digunakan di RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun dalam


memberikan pelayanan adalah angka keterlambatan penanganan kegawat daruratan dengan
varibel jumlah penderita yang dilayani > 5 menit berbanding dengan jumlah penderita gawat
darurat hari yang sama

Dalam pelaksanaan indikator mutu menggunakan kurva harian dalam format tersendiri
clan dievaluasi serta dilaporkan setiap bulan pada panitia mutu clan direktur pelayanan

41
41
BAB IX

PENUTUP

Dengan telah dibuatnya Pedoman Pelayanan Instalasi Gawat Darurat ini,

maka dapat digunakan sebagai pedoman bagi seluruh pagawai RS PKU

Muhammadiyah Kutowinangun dalam meningkatkan mutu pelayanan di Instalasi

Gawat Darurat maupun di RS PKU Muhammadiyah Kutowinangun pada umumnya.

Dengan mutu pelayanan rumah sakit yang senantiasa meningkat, maka RS

PKU Muhammadiyah Kutowinangun akan selalu ada di hati umat clan akan menjadi

rujukan bagi vasilitas kesehatan yang lain.

Diharapkan pada seluruh pegawai RS PKU Muhammadiyah


Kutowinangun untuk memahami clan melaksanakan Pedoman Pelayanan Instalasi
Gawat Darurat.

42
42