Anda di halaman 1dari 28

Laporan Kasus

DEMAM TIFOID

Disusun oleh:
dr. Archi Cherrya Oktiandini

Pembimbing :
dr. Haydar

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA


ANGKATAN II PERIODE JUNI 2018- JUNI 2019
RSUD DR. ADJIDARMO LEBAK
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini dengan judul
“Demam Tifoid”.
Penulisan laporan kasus ini adalah salah satu syarat untuk menyelesaikan
Program Internship Dokter Indonesia di RSUD Dr.Adjidarmo Lebak.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Haydar
dan seluruh dokter maupun perawat dan staf di RSUD Dr.Adjidarmo atas
bimbingannya.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan kasus ini masih jauh dari
kesempurnaan, baik isi maupun susunan bahasanya, untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai koreksi dalam penulisan
laporan kasus selanjutnya. Semoga makalah laporan kasus ini bermanfaat, akhir
kata penulis mengucapkan terima kasih.

Lebak, 14 September 2018

Penulis

2
LAPORAN KASUS

Nama Lengkap : Nn.IL


Tanggal Lahir : 18 November 2001 Umur : 16 Thn Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kp.Kukulu Pabuaran 001/002
Rangkasbitung
Pekerjaan : pelajar Status: Belum menikah
Pendidikan : Tamat SMP Jenis Suku : Sunda Agama : Islam

ANAMNESIS
√ Autoanamnese & Aloanamnese 10 September 2018
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
A.Keluhan Utama : Demam sejak 7 hari SMRS

B.Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke IGD dengan keluhan demam sejak 7 hari SMRS. Demam
dirasakan sore ke malam hari. Demam awalnya tidak terlalu dirasa tinggi namun
semakin lama semakin panas pada hari-hari berikutnya namun tidak diukur
suhunya dengan termometer.

Pasien juga mengeluh mual (+), nyeri ulu hati (+), pusing (+), lemas (+), muntah
(+) 1 kali. Nafsu makan berkurang. Buang air kecil normal. Pasien belum buang
air besar selama 2 hari terakhir. Batuk dan pilek disangkal. Perdarahan seperti
gusi berdarah, mimisan, BAB berdarah atau kehitaman, dan bercak kemerahan di
kaki dan tangan disangkal. Nyeri otot dan sendi disangkal. Pasien mengaku bahwa
dia memang jarang makan buah dan sayur. Sebelum mengalami keluhan ini
pasien juga bercerita bahwa dia sempat makan di pinggir jalan, tapi biasanya tidak
apa-apa. Sebelumnya sudah berobat ke klinik namun tidak ada perubahan.

3
C. Riwayat Penyakit Dahulu
1. Riwayat Alergi obat (-)
2. Riwayat HT (-)
3. Riwayat DM (-)

D. Riwayat Penyakit Dalam Keluarga (-)

E. Riwayat Kebiasaan
Riwayat merokok, minum alkohol dan konsumsi obat-obatan terlarang
disangkal

F. Riwayat Pengobatan
Sebelumnya sudah berobat ke klinik namun lupa nama obatnya dan tidak
ada perubahan

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Status gizi : BB 45 Kg, TB 160 cm. IMT= 17,6 kg/m2 (underweight)

Tanda Vital
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80x/menit
Laju Nafas : 20x/menit
Suhu : 38oC

Status Generalis

Kepala
Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut.
Mata : Sclera ikterik (-), konjungtiva anemis (-), pupil bulat
isokor, RCL +/+, RCTL +/+
Hidung : Pernapasan cuping hidung (-), Epistaksis (-), secret (-)
Telinga : Gangguan pendengaran (-),Perdarahan dari liang telinga(-)

4
Mulut : Bibir tampak normal, tidak ada sianosis dan tidak ada
deviasi. Lidah kotor dengan tepi hiperemis / coated tongue.
Gigi geligi normal dan tidak ada karies.

Leher
Tekanan vena jugularis (JVP) :5+2
Kelenjar Tiroid : Tidak teraba pembesaran
Kelenjar Limfe : Tidak teraba pembesaran
Kelenjar Getah Bening Submandibula, Leher, Supraklavikula, Ketiak dan Paha
tidak ada pembesaran.

Thorax
Paru-Paru

Inspeksi : Supel, turgor baik, dinding abdomen simetris, tidak terlihat


penonjolan massa ataupun adanya luka. Tidak tampak rose-spots.

Palpasi : Tidak teraba adanya masa ataupun benjolan, tidak terdapat


nyeri tekan dan nyeri lepas, fremitus vokal dan taktil simetris kanan dan kiri.
Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru kiri-kanan, depan-belakang.
Auskultasi :Vesikuler +/+ (paru-paru depan-belakang), Ronkhi -/-,
Wheezing -/-,
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tak teraba.
Perkusi : Batas jantung kanan ICS V linea midclavicula dextra
Batas jantung kiri ICS VI line midclavicula sinistra

Batas pinggang jantung ICS III linea parasternal sinistra

Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni regular, Gallop (-), Murmur (-)

5
Abdomen
Inspeksi : Datar, tidak membuncit dan tidak ada luka
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Terdengar suara timpani di seluruh kuadran abdomen,
Shifting dullness (-), ketok CVA (-)
Palpasi : Terdapat nyeri tekan di epigastrium, Pembesaran hepar,
lien, ginjal, kandung kemih tidak teraba,Undulasi (-)

Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2”, edema -/-. Tidak tampak rose-
spots.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal 10 September 2018


PEMERIKSAAN HASIL NILAI
RUJUKAN
Leukosit 10.210 4.500-12.500/µL
Eritrosit 4.68 3,8-5.20 10jt/µL
Hemoglobin 13,90 11,70-15,50
gr/dL
Hematokrit 39,4 35-47%
MCV 84,2 80.0-100.0 fL
MCH 29,7 26.0-34.0 pg
MCHC 35,3 32.0-36.0 g/dl
Trombosit 243.000 154.000-
386.000/ µL
Hitung Jenis Leukosit:
- Basofil 0 0 -1 %
- Eosinofil 1 2 -4 %
- Batang 0 3 -5 %
- Segmen 81 50-70 %
- Limfosit 11 25 -40 %
- Monosit 7 2-8%
KIMIA DARAH
- Glukosa Sewaktu 95 70-140 mg/dL

6
WIDAL
- S Typhi O 1/320 ≤1/160
- Paratyphi AO 1/160 ≤1/160
- Paratyphi BO 1/320 ≤1/160
- Paratyphi CO 1/640 ≤1/160
- S. Typhi H 1/320 ≤1/320
- Paratyphi AH 1/80 ≤1/320
- Paratyphi BH 1/320 ≤1/320
- Paratyphi CH 1/160 ≤1/320
ELEKTROLIT
- Natrium 139 135-147 mEg/L
- Kalium 3,7 3.5-5.0 mEg/L
- Chlorida 104 95-105 mEg/L

DIAGNOSIS KERJA
Demam Tifoid

DIAGNOSIS BANDING
Demam Dengue

PENATALAKSANAAN
- IVFD Nacl 0,9% 500cc/8 jam
- Ceftriaxone 1x3gr
- Omeprazole 1x40mg
- Sohobion 1x1
- Paracetamol 3x500mg
- Ondancentron 3x4mg
- Ulsafat syrup 3xII cth

PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanactionam : dubia ad bonam
-

7
FOLLOW UP

Tanggal S O A P
Terapi Diagnostik
11/09/18 Demam + Compos Mentis Demam  IVFD Nacl 0,9% -
TD : 110/70
Tifoid 500cc/8 jam
mmHg
Nadi : 80 x/m  Ceftriaxone
RR : 20 x/m
T : 380C 1x3gr
 Omeprazole
1x40mg
 Sohobion 1x1
 Paracetamol
3x500mg
 Ondancentron
3x4mg
 Ulsafat syrup
3xII cth

Tanggal S O A P
Terapi Diagnostik
12/09/18 Nyeri Compos Demam  IVFD Nacl 0,9% -
mentis
kepala + Tifoid 500cc/8 jam
TD:100/60
Demam + mmHg  Ceftriaxone 1x3gr
HR : 80 x/m
RR : 20 x/m  Omeprazole 1x40mg
Temp: 37,5 oC  Sohobion 1x1
 Paracetamol
3x500mg
 Ondancentron
3x4mg
 Ulsafat syrup 3xII

8
cth
 Paracetamol drip
(jika suhu ≥ 38,5)

Tanggal S O A P
Terapi Diagnostik
13/09/18 Demam – Sens: Compos Demam  IVFD Nacl 0,9% -
mentis
Nyeri Tifoid 500cc/8 jam
TD:110/70
kepala mmHg  Ceftriaxone
HR : 80 x/m
berkurang 1x3gr
RR : 20 x/m
Temp : 36,4  Omeprazole
oC
1x40mg
 Sohobion 1x1
 Paracetamol
3x500mg
 Ondancentron
3x4mg
 Ulsafat syrup
3xII cth
 Paracetamol drip
(jika suhu ≥ 38,5)

RESUME MEDIS

Pasien Nn. IL usia 16 tahun, datang dengan keluhan demam sejak 7 hari
SMRS. Demam dirasakan sore ke malam hari. Pasien juga mengeluh mual (+),
nyeri ulu hati (+), pusing (+), lemas (+), muntah (+) 1 kali. Nafsu makan
berkurang. Buang air kecil normal. Pasien belum buang air besar selama 2 hari
terakhir. Batuk dan pilek disangkal. Perdarahan seperti gusi berdarah, mimisan,
BAB berdarah atau kehitaman, dan bercak kemerahan di kaki dan tangan
disangkal. Nyeri otot dan sendi disangkal. Pasien mengaku bahwa dia memang
9
jarang makan buah dan sayur. Sebelum mengalami keluhan ini pasien juga
bercerita bahwa dia sempat makan di pinggir jalan, tapi biasanya tidak apa-apa.
Sebelumnya sudah berobat ke klinik namun tidak ada perubahan.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu meningkat 38 dan tampak lidah kotor
atau coated tongue. Pada pemeriksaan lab darah didapatkan beberapa titer widal
yang meningkat melebihi nilai normal. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang maka pasien di diagnosis Demam Tifoid.

10
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu penyakit infeksi sistemik akut yang banyak dijumpai di
berbagai belahan dunia saat ini adalah demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri
gram negatif Salmonella typhi. Di Indonesia demam tifoid lebih dikenal oleh
masyarakat dengan istilah penyakit tifus. Dalam 4 dekade terakhir demam tifoid
menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Diperkirakan insidensi
penyakit ini mencapai 13-17 juta kasus di seluruh dunia dengan angka mortalitas
mencapai 600 ribu jiwa per tahun. Daerah endemik demam tifoid tersebar di
berbagai benua mulai dari Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga
Oceania. Sebagian besar kasus (80%) ditemukan di negara berkembang seperti
Bangladesh, Laos, Nepal, Pakistan, India, Vietnam, dan Indonesia. Indonesia
merupakan wilayah endemik demam tifoid dengan mayoritas angka insidensi
terjadi pada kelompok umur 3-19 tahun (91% kasus). 1, 2, 3

Munculnya daerah endemik demam tifoid dipengaruhi oleh berbagai


faktor seperti laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, peningkatan urbanisasi,
rendahnya kualitas pelayanan kesehatan, kurangnya suplai air, buruknya sanitasi,
dan tingkat resistensi antibiotik yang sensitif untuk bakteri Salmonella typhi
seperti kloramfenikol, ampisilin, trimetoprim, dan siprofloksasin. 1

11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Demam tifoid adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi yang masuk ke dalam tubuh
manusia. Demam tifoid merupakan penyakit yang mudah menular dan
menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah. 4
Demam tifoid (tifus abdominalis, enteric fever) adalah penyakit infeksi
akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari
7 hari, gangguan pada saluran cerna, dan gangguan kesadaran. 5

B. Epidemiologi
Pada beberapa dekade terakhir demam tifoid jarang terjadi di negara
industri. Namun, tetap menjadi masalah kesehatan serius di sebagian wilayah
dunia seperti Uni Soviet, India, Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Afrika.
Menurut WHO, diperkirakan terjadi 16 juta kasus per tahun dan 600 ribu
berakhir kematian. Sekitar 70% dari seluruh kasus kematian itu menimpa
penderita demam tifoid di Asia. 6
Pada tahun 2000 insidensi demam tifoid di Amerika Latin sebesar 53
per 100 ribu penduduk dan di Asia Tenggara sebesar 110 per 100 ribu
penduduk. Di Indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun.
Etiologi utama di Indonesia adalah Salmonella subspesies enterika serovar
typhi dan paratyphi A. CDC Indonesia melaporkan insidensi demam tifoid
mencapai 358-810 per 100 ribu populasi pada tahun 2007 dengan 64%
ditemukan pada usia 3-19 tahun dan angka mortalitas antara 3,1-10,4% pada
pasien rawat inap. 6, 7
Demam tifoid dapat menginfeksi semua orang dan tidak ada perbedaan
nyata antara insidensi pada laki-laki maupun perempuan. Insidensi penderita

12
demam tifoid dengan usia 12-30 tahun sekitar 70-80%, usia 31-40 tahun
sekitar 10-20%, dan usia > 40 tahun sekitar 5-10%. 7

C. Etiologi
Demam tifoid disebabkan bakteri Salmonella typhi dan Salmonella
paratyphi dari genus Salmonella. Kuman ini berbentuk batang, gram negatif,
tidak membentuk spora, motil, berkapsul, dan mempunyai flagela (rambut
getar). Kuman ini tumbuh dalam suasana aerob dan fakultatif anaerob pada
suhu 15-41o C (suhu pertumbuhan optimal 37o C) serta pH pertumbuhan 6-8.
Kuman ini bertahan hidup beberapa minggu di alam bebas seperti di air, es,
sampah, dan debu serta hidup subur pada medium yang mengandung garam
empedu. Kuman ini mati dengan pemanasan (suhu 60o C) selama 15-20 menit,
pasteurisasi, pendidihan, dan khlorinisasi. 8
Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen yaitu:
1. Antigen O (antigen somatik) terletak pada lapisan luar kuman. Bagian ini
mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau endotoksin. Antigen ini
tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid.
2. Antigen H (antigen flagela) terletak pada flagela, fimbria, atau fili dari
kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan
terhadap formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.
3. Antigen Vi terletak pada kapsul (envelope) kuman yang dapat melindungi
kuman terhadap fagositosis.
Antigen tersebut di dalam tubuh penderita akan menimbulkan pembentukan 3
macam antibodi yang lazim disebut aglutinin. 7, 9

D. Patogenesis
Penularan demam tifoid adalah secara feko-oral dan banyak terdapat di
masyarakat dengan higien dan sanitasi yang kurang baik. Bakteri Salmonella
typhi dan Salmonella paratyphi masuk ke tubuh manusia melalui makanan
atau minuman yang tercemar dan dapat juga melalui kontak langsung dengan
jari penderita yang terkontaminasi feses, urin, sekret saluran napas, atau pus.

13
Selain itu, transmisi juga dapat terjadi secara transplasental dari ibu hamil ke
janin. Sebagian kuman dihancurkan oleh asam lambung dan sebagian lagi
masuk ke usus halus dan berkembang biak. 4, 7
Di usus diproduksi IgA sekretorik sebagai imunitas humoral lokal
yang berfungsi untuk mencegah melekatnya kuman pada mukosa usus.
Sedangkan untuk imunitas humoral sistemik diproduksi IgM dan IgG untuk
memudahkan fagositosis kuman oleh makrofag. Imunitas seluler sendiri
berfungsi untuk membunuh kuman intraseluler. 10
Jika respon imunitas humoral mukosa IgA usus kurang baik, kuman
akan menembus sel-sel epitel terutama sel M dan lamina propia. Di lamina
propia kuman berkembang biak dan difagosit oleh makrofag. Kuman dapat
hidup dan berkembang biak di dalam makrofag. Selanjutnya dibawa ke plaque
peyeri ileum distal dan ke kelenjar limfe mesenterika. Melalui duktus
torasikus, kuman yang terdapat di dalam makrofag masuk ke sirkulasi darah
(mengakibatkan bakterimia ke-1 yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh
organ retikuloendotelial tubuh terutama hepar, lien, dan sumsum tulang. Di
organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan berkembang biak di
luar sel atau ruang sinusoid kemudian masuk ke sirkulasi darah lagi yang
mengakibatkan bakterimia ke-2 dengan disertai tanda dan gejala klinis. 4, 7
Namun, sebagian lagi masuk ke kandung empedu dan berkembang
biak kemudian disekresikan secara intermiten bersama cairan empedu ke
lumen usus, sebagian keluar bersama feses, dan sebagian lagi menembus usus
kembali dan difagosit oleh makrofag yang sudah teraktivasi dan hiperaktif
sehingga melepaskan sitokin reaksi inflamasi sistemik. Oleh karena itu timbul
demam, sakit kepala, sakit perut, mialgia, malaise, instabilitas vaskuler,
gangguan koagulasi, dan gangguan kesadaran. Setelah sampai di plaque
peyeri, makrofag hiperaktif sehingga timbul reaksi hiperplasia jaringan dan
perdarahan saluran cerna (erosi vaskuler di sekitar plaque peyeri). Jika kuman
terus menembus lapisan usus hingga lapisan otot dan serosa usus, dapat
mengakibatkan perforasi. 4

14
Kuman juga mengeluarkan endotoksin yang dapat menempel di
reseptor sel endotel kapiler sehingga dapat timbul komplikasi seperti
gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskular, pernapasan, dan lain-lain. Kuman
dapat menetap atau bersembunyi pada 1 tempat dalam tubuh penderita. Hal ini
mengakibatkan terjadinya relaps atau karier. 4

PATHWAY
bakteri Salmonella typhi atau Salmonella
paratyphi masuk ke saluran cerna

sebagian dimusnahkan asam lambung sebagian masuk usus halus

peningkatan asam lambung di ileum terminalis membentuk


limfoid plaque peyeri

mual, muntah

sebagian hidup sebagian menembus


intake kurang dan menetap lamina propria

gangguan nutrisi perdarahan masuk aliran limfe

perforasi masuk ke kelenjar


limfe mesenterikus

PERITONITIS menembus aliran darah

nyeri tekan masuk hepar dan lien

hepatomegali, splenomegali

infeksi Salmonella typhi,


paratypi, dan endotoksin

dilepasnya zat pirogen


oleh leukosit

DEMAM TIFOID

15
E. Manifestasi Klinis
Masa inkubasi demam tifoid sekitar 10-14 hari, rata-rata 2 minggu.
Spektrum klinis demam tifoid tidak khas dari asimtomatik atau ringan seperti
panas disertai diare sampai dengan klinis yang berat seperti panas tinggi, gejala
septik, ensefalopati, atau timbul komplikasi gastrointestinal berupa perdarahan
dan perforasi usus. Hal ini mempersulit penegakkan diagnosis jika hanya
berdasarkan gambaran klinisnya. 1, 3
Demam merupakan gejala klinis terpenting yang timbul pada semua
penderita demam tifoid. Demam dapat muncul tiba-tiba, dalam 1-2 hari menjadi
parah dengan gejala yang menyerupai septikemia karena Streptococcus atau
Pneumococcus daripada Salmonella typhi. Menggigil tidak biasa didapatkan pada
demam tifoid tetapi pada malaria. Namun, demam tifoid dan malaria dapat timbul
bersamaan pada 1 penderita. Sakit kepala hebat yang menyertai demam tinggi
dapat menyerupai gejala meningitis. Nyeri perut kadang tidak dapat dibedakan
dengan apendiksitis. Pada tahap lanjut dapat muncul gejala peritonitis akibat
perforasi usus. 4
o
Minggu ke-1 penderita mengalami demam (suhu berkisar 39-40 C),
nyeri kepala, epistaksis, batuk, anoreksia, mual, muntah, konstipasi, diare,
nyeri perut, nyeri otot, dan malaise. Minggu ke-2 pasien mengalami demam,
lidah khas berwarna putih (lidah kotor), bradikardia relatif, hepatomegali,
splenomegali, meteorismus, dan bahkan gangguan kesadaran (delirium, stupor,
koma, atau psikosis). 4, 10
Demam pada demam tifoid umumnya berangsur-angsur naik selama
minggu ke-1, terutama sore dan malam hari (febris remiten). Pada minggu
ke-2 dan ke-3 demam terus-menerus tinggi (febris kontinyu) kemudian turun
secara lisis. Demam tidak hilang dengan antipiretik, tidak menggigil, tidak
berkeringat, dan kadang disertai epistaksis. Gangguan gastrointestinal meliputi
bibir kering dan pecah-pecah disertai lidah kotor, berselaput putih, dan tepi
hiperemis. Perut agak kembung dan mungkin nyeri tekan. Lien membesar,
lunak, dan nyeri tekan. Pada awal penyakit umumnya terjadi diare kemudian
menjadi obstipasi. 4, 10
16
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium untuk demam tifoid meliputi pemeriksaan
hematologi, urinalisis, kimia klinis, imunoserologi, mikrobiologi, dan biologi
molekuler. Pemeriksaan ini untuk membantu menegakkan diagnosis,
menentukan prognosis, serta memantau perjalanan penyakit, hasil pengobatan,
dan timbulnya komplikasi.
1. Hematologi
a. Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun jika terjadi komplikasi
perdarahan atau perforasi usus.
b. Hitung leukosit rendah (leukopenia) tetapi dapat normal atau tinggi.
c. Hitung jenis neutrofil rendah (neutropenia) dengan limfositosis relatif.
d. Laju endap darah (LED) meningkat.
e. Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia). 13
2. Urinalisis
a. Protein bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam).
b. Leukosit dan eritrosit normal tetapi meningkat jika terjadi komplikasi. 7
3. Kimia klinis
Enzim hati (SGOT dan SGPT) sering meningkat dengan gambaran radang
sampai hepatitis akut. 7
4. Imunoserologi
a. Widal
Widal digunakan untuk mendeteksi antibodi di dalam darah
terhadap antigen bakteri Salmonella typhi atau paratyphi (reagen).
Pada uji ini hasil positif jika terjadi reaksi aglutinasi antara antigen
dengan antibodi yang disebut aglutinin. Oleh karena itu, antibodi jenis
ini dikenal sebagai febrile agglutinin. Hasil uji ini dipengaruhi oleh
banyak faktor sehingga dapat memberikan hasil positif palsu atau
negatif palsu. Hasil positif palsu dapat disebabkan pernah vaksinasi,
reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp), reaksi
anamnestik (pernah sakit), dan adanya faktor reumatoid (RF). Hasil
negatif palsu dapat disebabkan sudah mendapatkan terapi antibiotik,

17
waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit, keadaan umum
buruk, dan adanya penyakit imun lain. 3, 13
Aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam
tifoid. Makin tinggi titer, makin besar kemungkinan menderita demam
tifoid. Pembentukan aglutinin mulai terjadi pada akhir minggu ke-1
demam kemudian meningkat secara cepat dan mencapai puncak pada
minggu ke-4 serta tetap tinggi selama beberapa minggu. Pada fase akut
mula-mula timbul aglutinin O dan diikuti aglutinin H. Orang yang
sembuh, aglutinin O masih dijumpai setelah 4-6 bulan sedangkan
aglutinin H menetap lebih lama 9-12 bulan. 3, 13
Jika titer O sekali periksa ≥ 1/200 atau terjadi kenaikan titer 4
kali, diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan. Aglutinin H dikaitkan
dengan pasca imunisasi atau infeksi masa lampau sedangkan Vi untuk
deteksi pembawa kuman (karier). 13
b. Elisa Salmonella typhi atau paratyphi lgG dan lgM
Uji ini lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji widal untuk
mendiagnosis demam tifoid. lgM positif menandakan infeksi akut
sedangkan lgG positif menandakan pernah kontak, terinfeksi, reinfeksi,
atau di daerah endemik. 7
5. Mikrobiologi (kultur)
Gall culture atau biakan empedu merupakan gold standard untuk demam
tifoid. Jika hasil positif, diagnosis pasti untuk demam tifoid. Jika hasil negatif,
belum tentu bukan demam tifoid karena hasil biakan negatif palsu dapat
disebabkan jumlah darah terlalu sedikit (< dari 2 ml), darah tidak segera
dimasukkan ke media gall (darah membeku dalam spuit sehingga kuman
terperangkap dalam bekuan), saat pengambilan darah masih dalam minggu ke-1
sakit, sudah mendapatkan terapi antibiotik, dan sudah vaksinasi. Kekurangan uji ini
adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui karena perlu waktu untuk
pertumbuhan kuman (positif antara 2-7 hari, jika belum ada ditunggu 7 hari lagi).
Spesimen yang digunakan pada awal sakit adalah darah kemudian untuk stadium
lanjut atau carrier digunakan urin dan feses. 1, 3, 10

18
6. Biologi molekular
PCR (polymerase chain reaction) mulai banyak digunakan. Cara ini
dilakukan dengan perbanyakan DNA kuman kemudian diindentifikasi dengan
DNA probe yang spesifik. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang terdapat
dalam jumlah sedikit (sensitivitas) dan spesifisitas tinggi. Spesimen yang digunakan
dapat berupa darah, urin, cairan tubuh lain, dan jaringan biopsi. 6

G. Diagnosis
Diagnosis demam tifoid ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti dilakukan dengan cara menguji
sampel feses atau darah untuk mendeteksi adanya bakteri Salmonella sp
dengan membiakkan pada 14 hari awal setelah terinfeksi. 7
Selain itu, tes widal (aglutinin O dan H) mulai positif pada hari ke-10
dan titer akan meningkat sampai berakhirnya penyakit. Pengulangan tes widal
selang 2 hari jika peningkatan aglutinin progresif (di atas 1/200) menunjukkan
diagnosis positif dari infeksi aktif demam tifoid. Biakan feses dilakukan pada
minggu ke-2 dan ke-3 serta biakan urin pada minggu ke-3 dan ke-4 dapat
mendukung diagnosis dengan ditemukannya bakteri Salmonella. 3, 13
Gambaran darah juga membantu menentukan diagnosis. Jika terdapat
leukopenia polimorfonuklear (PMN) dengan limfositosis relatif pada hari ke-
10 dari demam, arah demam tifoid menjadi jelas. Jika terjadi leukositosis
PMN, berarti terdapat infeksi sekunder kuman di dalam lesi usus. Peningkatan
cepat dari leukositosis PMN waspada akan terjadinya perforasi usus. Tidak
mudah mendiagnosis karena gejala yang timbul tidak khas. Ada penderita
yang setelah terpapar kuman hanya mengalami demam kemudian sembuh
tanpa diberi obat. Hal itu dapat terjadi karena tidak semua penderita yang
secara tidak sengaja menelan kuman langsung sakit, tergantung dari
banyaknya kuman dan imunitas seseorang. Jika kuman hanya sedikit yang
masuk saluran cerna, dapat langsung dimatikan oleh sistem imun. 7

19
H. Diagnosis Banding
Pada stadium dini demam tifoid, beberapa penyakit secara klinis dapat
menjadi diagnosis banding seperti influenza, demam dengue, bronkitis,
bronkopneumonia, dan gastroenteritis. Beberapa penyakit yang disebabkan
oleh mikroorganisme intraseluler seperti tuberkulosis, infeksi jamur sistemik,
dan malaria juga perlu dipikirkan. 2, 7, 13

I. Tatalaksana
Tatalaksana umum, asuhan keperawatan, dan asupan gizi merupakan
aspek penting dalam pengobatan demam tifoid selain pemberian antibiotik.
Tatalaksana demam tifoid meliputi:
1. Tirah baring
Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat tidur seperti
makan, minum, mandi, buang air kecil, maupun buang air besar dapat
mempercepat penyembuhan. Kebersihan tempat tidur, pakaian, dan
perlengkapan yang dipakai juga perlu dijaga. 5
Pasien demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi,
observasi, dan pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai
minimal 7 hari bebas demam atau ± 14 hari. Tirah baring bertujuan untuk
mencegah terjadinya komplikasi perdarahan atau perforasi usus.
Mobilisasi pasien dilakukan bertahap sesuai dengan pulihnya kekuatan
pasien. 5
Pasien dengan kesadaran menurun, posisi tubuh harus diubah pada
waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan
dekubitus. Defekasi dan buang air kecil harus diperhatikan karena kadang
terjadi obstipasi dan retensi urin. 5
2. Managemen nutrisi
Penderita demam tifoid selama menjalani perawatan dianjurkan
mengikuti petunjuk diet berikut:
a. Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin, dan protein.
b. Tidak mengandung banyak serat.

20
c. Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
d. Makanan lunak diberikan selama istirahat.
Makanan rendah serat bertujuan untuk membatasi volume feses dan tidak
merangsang saluran cerna. Pemberian bubur ditujukan untuk menghindari
terjadinya komplikasi perdarahan atau perforasi usus. 11
3. Managemen medis
Pengobatan simtomatik diberikan untuk menekan gejala seperti demam,
diare, obstipasi, mual, muntah, dan meteorismus. Jika obstipasi > 3 hari, perlu
dibantu dengan parafin atau lavase dengan glistering. Obat laksansia atau enema
tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan perdarahan maupun perforasi
usus.11
Pengobatan suportif diberikan untuk memperbaiki keadaan penderita
seperti pemberian cairan dan elektrolit jika terjadi gangguan keseimbangan
cairan. Penggunaan kortikosteroid hanya diindikasikan pada toksik tifoid (disertai
gangguan kesadaran dengan atau tanpa kelainan neurologis dan hasil pemeriksaan
CSF dalam batas normal) atau demam tifoid yang mengalami syok septik.
Regimen yang digunakan adalah deksametason dengan dosis 3 x 5 mg. Pada anak
digunakan deksametason intravena dengan dosis 3 mg/kg BB dalam 30 menit
sebagai dosis awal dilanjutkan dengan 1 mg/kg BB tiap 6 jam hingga 48 jam.3,11,12
Antibiotik diberikan untuk mencegah terjadinya penyebaran kuman.
Antibiotik yang dapat digunakan dalam demam tifoid yaitu:
a. Kloramfenikol.
Dosis orang dewasa 4 x 500 mg per hari oral atau intravena
sampai 7 hari bebas demam. Suntik intramuskuler tidak dianjurkan
karena dapat terjadi hidrolisis ester dan tempat suntikan terasa nyeri.
Tingginya angka kekambuhan (10-25%), masa penyakit memanjang,
karier kronis, depresi sumsum tulang (anemia aplastik), dan angka
mortalitas yang tinggi merupakan perhatian yang perlu terhadap
kloramfenikol. Kekambuhan dapat diobati dengan obat yang sama.
Penurunan demam terjadi pada hari ke-5. 11, 12
b. Tiamfenikol

21
Dosis dan efektivitas tiamfenikol pada demam tifoid hampir
sama dengan kloramfenikol tetapi komplikasi hematologi seperti
anemia aplastik lebih rendah dibandingkan kloramfenikol. Dosis
tiamfenikol 4 x 500 mg. Demam menurun pada hari ke-6. 11, 12
c. Ampisilin dan kotrimoksazol
Efektivitas obat ini hampir sama dengan kloramfenikol. Dosis
orang dewasa 2 x 2 tablet (1 tablet mengandung sulfametoksazol 400
mg dan trimetoprin 80 mg) diberikan selama 2 minggu. Diberikan
karena meningkatnya angka mortalitas akibat resistensi kloramfenikol.
Munculnya strain Salmonella typhi MDR menjadikan ampisilin dan
kotrimoksazol resisten. 11, 12
d. Kuinolon
Kuinolon mempunyai aktivitas tinggi terhadap Salmonella in
vitro serta mencapai konsentrasi tinggi di usus dan lumen empedu.
Siprofloksasin mempunyai efektivitas tinggi terhadap strain Salmonella
typhi MDR dan tidak menyebabkan karier. Kuinolon yang dapat
digunakan untuk demam tifoid meliputi:
1) Norfloksasin dosis 2 x 400 mg per hari selama 14 hari.
2) Siprofloksasin dosis 2 x 500 mg per hari selama 6 hari.
3) Ofloksasin dosis 2 x 400 mg per hari selama 7 hari.
4) Pefloksasin dosis 400 mg per hari selama 7 hari.
5) Fleroksasin dosis 400 mg per hari selama 7 hari.
Demam umumnya lisis pada hari ke-3 atau ke-4. Penurunan demam
sedikit lambat pada penggunaan norfloksasin. 11, 12

e. Sefalosporin generasi III


Sefotaksim, seftriakson, dan sefoperazon digunakan selama 3
hari dan memberi efek terapi sama dengan obat yang diberikan 10-14
hari. Respon baik juga dilaporkan dengan pemberian seftriakson dosis
3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc selama 30 menit per infus 1 x
diberikan 3-5 hari. 11, 12

22
f. Antibiotik lainnya
Beberapa studi melaporkan keberhasilan pengobatan demam
tifoid dengan aztreonam (monobaktam). Antibiotik ini lebih efektif
daripada kloramfenikol. Azitromisin (makrolid) diberikan dengan
dosis 1 x 1 gram per hari selama 5 hari. Aztreonam dan azitromisin
dapat digunakan anak-anak, ibu hamil, dan menyusui. 11, 12
g. Kombinasi antibiotik
Kombinasi 2 antibiotik atau lebih diindikasikan hanya pada
keadaan tertentu seperti toksik tifoid, peritonitis, perforasi, dan syok
septik di mana pernah terbukti ditemukan 2 macam organisme dalam
kultur darah selain bakteri Salmonella typhi. Kepekaan kuman
terhadap antibiotik yaitu:
1) Ampisilin, amoksisilin, sulfametoksazol, dan trimetoprin
mempunyai kepekaan 95,12%.
2) Sisanya seperti kloramfenikol mempunyai kepekaan 100%. 11,12

Tabel 1. Obat dan Dosis Antibiotik untuk Demam Tifoid

23
Tabel 2. Rekomendasi DOC Pengobatan Antibiotik untuk Demam Tifoid

sensitif  fluorokuinolon (ofloksasin, siprofloksasin) 5-7 hari


Demam
tifoid tanpa MDR  fluorokuinolon 5-7 hari atau sefiksim 7-14 hari

komplikasi resisten kuinolon  azitromisin 7 hari atau seftriakson 10-14 hari

sensitif  fluorokuinolon (ofloksasin) 10-14 hari


demam tifoid
dengan MDR  fluorokuinolon (ofloksasin) 10-14 hari

komplikasi resisten kuinolon  azitromisin 7 hari atau seftriakson 10-14 hari

J. Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul akibat demam tifoid yaitu:
1. Intestinal
a. Perdarahan usus
Pada plaque peyeri yang terinfeksi (ileum terminalis) dapat
terbentuk tukak. Jika tukak menembus lumen usus dan mengenai
pembuluh darah, terjadi perdarahan. Jika tukak menembus dinding
usus, terjadi perforasi. Perdarahan juga dapat terjadi karena gangguan
koagulasi darah (DIC). Sekitar 25% penderita mengalami perdarahan
minor yang tidak membutuhkan transfusi darah. Namun, perdarahan
hebat dapat terjadi hingga penderita mengalami syok. Jika transfusi

24
dapat mengimbangi perdarahan yang terjadi, biasanya perdarahan ini
merupakan suatu proses self limiting yang tidak perlu bedah. 1, 3, 10
b. Perforasi usus
Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya
timbul pada minggu ke-3 tetapi dapat juga terjadi pada minggu ke-1.
Penderita demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut hebat
terutama di kuadran kanan bawah yang menyebar ke seluruh perut dan
disertai tanda ileus. Peristaltik melemah pada 50% penderita dan pekak
hepar kadang tidak ditemukan karena adanya udara bebas di abdomen.
Tanda perforasi lain adalah nadi cepat, tekanan darah turun, dan
bahkan syok. 1, 3, 10

Leukositosis dengan pergeseran ke kiri dapat menyokong


adanya perforasi. Jika pada foto polos abdomen 3 posisi ditemukan
udara pada rongga peritoneum, hal ini merupakan nilai yang cukup
menentukan terdapatnya perforasi usus pada demam tifoid. 1, 3, 10

c. Ileus paralitik
d. Pankreatitis
2. Ekstraintestinal
a. Kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi perifer, miokarditis, trombosis,
dan tromboflebitis.
b. Darah: anemia hemolitik, trombositopenia, dan DIC.
c. Paru: pneumonia, empiema, dan pleuritis.
d. Hepatobilier: hepatitis dan kolesistitis.
e. Ginjal: glomerulonefritis dan pielonefritis.
f. Neuropsikiatrik atau toksik tifoid. 1, 3, 10

25
K. Prognosis
Prognosis demam tifoid tergantung dari usia, keadaan umum, status
imunitas, jumlah dan virulensi kuman, serta cepat dan tepatnya pengobatan.
Prognosis buruk jika terdapat gejala klinis yang berat seperti hiperpireksia
atau febris kontinyu, kesadaran menurun, malnutrisi, dehidrasi, asidosis,
peritonitis, bronkopneumonia, dan komplikasi lain. Di negara maju dengan
terapi antibiotik yang adekuat angka mortalitas < 1%. Di negara berkembang
angka mortalitas > 10%, biasanya disebabkan keterlambatan diagnosis dan
pengobatan. Angka mortalitas pada anak-anak 2,6% dan pada orang dewasa
7,4% dengan rata-rata 5,7%. 6, 7
Relaps dapat timbul beberapa kali. Individu yang mengeluarkan
bakteri Salmonella typhi ≥ 3 bulan setelah infeksi umumnya manjadi karier
kronis. Risiko menjadi karier pada anak-anak rendah dan meningkat sesuai
usia. Karier kronis terjadi pada 1-5% dari seluruh pasien demam tifoid.
Insidensi penyakit traktus biliaris lebih tinggi pada karier kronis dibandingkan
dengan populasi umum. Walaupun karier urin kronis juga dapat terjadi, hal ini
jarang dan dijumpai terutama pada individu dengan skistosomiasis. 7, 13

26
BAB III
KESIMPULAN

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang


disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan paratyphi. Kuman bersama
makanan atau minuman masuk ke tubuh melalui saluran cerna. Walaupun gejala
demam tifoid bervariasi, secara garis besar gejala yang muncul adalah demam > 7
hari, gangguan saluran cerna, dan gangguan kesadaran. Pemeriksaan laboratorium
untuk menegakkan diagnosis demam tifoid meliputi biakan kuman dari spesimen
penderita (darah, sumsum tulang, urin, feses, cairan duodenum, dan rose spot), uji
serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen Salmonella typhi dan
menentukan adanya antigen spesifik dari kuman, serta pemeriksaan dengan
melacak DNA kuman. Antibiotik kloramfenikol yang digunakan sebagai obat
pilihan pada kasus demam tifoid sekarang mulai resisten. Pencegahan dapat
dilakukan dengan cara menjaga higien pribadi, imunisasi, dan vaksinasi aktif
sehingga dapat menekan angka insidensi demam tifoid.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Cammie, F.L. & Samuel, I.M. 2005. Salmonellosis: Principles of Internal


Medicine: Harrison 16th Ed. 897-900.
2. Brusch, J.L. 2010. Typhoid Fever. www.emedicine.medscape.com.
3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2008. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri
Tropis 2nd Ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
4. Djoko Widodo. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV.
Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.
5. Mansjoer, A. 2000. Demam Tifoid: Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:
FK UI.
6. Lentnek, A.L. 2007. Typhoid Fever: Division of Infection Disease.
www.medline.com.
7. Chin, J. 2006. Pemberantasan Penyakit Menular Edisi 17. Jakarta:
Infomedika.
8. Jawetz, Melnick, & Adelbergh’s. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta:
Salemba Medika.
9. Soedarmo, P., dkk. 2010. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi II.
Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI.
10. Chambers, H.F. 2006. Infectious Disease: Bacterial and Chlamydial.
Current Medical Diagnosis and Treatment 45th Ed. 1425-6.
11. Alan, R.T. 2003. Diagnosis dan Tatalaksana Demam Tifoid: Pediatrics
Update. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
12. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2006. Standar
Pelayanan Medik. Jakarta: PB PABDI.
13. Rampengan, T. H. 2007. Penyakit Infeksi Tropis pada Anak Edisi II.
Jakarta: EGC.

28

Anda mungkin juga menyukai

  • Gfyuii
    Gfyuii
    Dokumen1 halaman
    Gfyuii
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • GHGJGJH
    GHGJGJH
    Dokumen10 halaman
    GHGJGJH
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • HJGKJKJKLKL
    HJGKJKJKLKL
    Dokumen2 halaman
    HJGKJKJKLKL
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • BHHHJH
    BHHHJH
    Dokumen2 halaman
    BHHHJH
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • Yugjgjhg
    Yugjgjhg
    Dokumen41 halaman
    Yugjgjhg
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • Ftjygjuioo
    Ftjygjuioo
    Dokumen34 halaman
    Ftjygjuioo
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • Cgfhkjok
    Cgfhkjok
    Dokumen6 halaman
    Cgfhkjok
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • DSGDFHGDHF
    DSGDFHGDHF
    Dokumen3 halaman
    DSGDFHGDHF
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • Hjhjuh
    Hjhjuh
    Dokumen34 halaman
    Hjhjuh
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • Efusi Pleura (RADIOLOGI AL)
    Efusi Pleura (RADIOLOGI AL)
    Dokumen33 halaman
    Efusi Pleura (RADIOLOGI AL)
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • Jsdjdjdkjds
    Jsdjdjdkjds
    Dokumen59 halaman
    Jsdjdjdkjds
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • Makalah Konjungtivitis Bakteri
    Makalah Konjungtivitis Bakteri
    Dokumen15 halaman
    Makalah Konjungtivitis Bakteri
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • Laporan Penyuluhan Puskesmas Menteng Dalam
    Laporan Penyuluhan Puskesmas Menteng Dalam
    Dokumen4 halaman
    Laporan Penyuluhan Puskesmas Menteng Dalam
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • Kelopak Besar
    Kelopak Besar
    Dokumen1 halaman
    Kelopak Besar
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat
  • SJS Cover
    SJS Cover
    Dokumen2 halaman
    SJS Cover
    yasmindp
    Belum ada peringkat
  • Protap Rabies
    Protap Rabies
    Dokumen2 halaman
    Protap Rabies
    Wiwid Hidayah
    Belum ada peringkat
  • Template Arielle Flower
    Template Arielle Flower
    Dokumen2 halaman
    Template Arielle Flower
    Archi Cherrya
    Belum ada peringkat