Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Mikrobiologi

Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari


mikroorganisme. Objek kajian dari mikrobiologi biasanya adalah semua makhluk
hidup yang perlu dilihat dengan mikroskop, khususnya bakteri, fungi, alga
mikroskopik, protozoa, dan Archaea. Virus sering juga dimasukkan, walaupun
sebenarnya tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai makhluk hidup.

Mikrobiologi mempelajari pengetahuan mengenai jasad hidup yang ber-


ukuran mikroskopis. Dalam bahasa Yunani, mikrobiologi dibagi menjadi tiga kata
yaitu micros artinya kecil, bios artinya hidup, logos artinya ilmu. Jasad hidup yang
berukuran mikroskopis itu disebut mikroorganisme, mikroba, protista, atau jasad
renik. Sehingga mikrobiologi dapat diartikan sebagai ilmu atau pelajaran yang
mempelajari organisme hidup yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop.

Mikrobiologi dimulai sejak ditemukannya mikroskop dan menjadi bidang


yang sangat penting dalam biologi setelah Louis Pasteur dapat menjelaskan proses
fermentasi anggur (wine) dan membuat vaksin rabies. Perkembangan biologi yang
pesat terjadi pada abad ke-19 terutama dialami pada bidang ini dan memberikan
landasan bagi terbukanya bidang penting lain, yaitu biokimia.
Penerapan mikrobiologi pada masa kini masuk berbagai bidang dan tidak
dapat dipisahkan dari cabang lain karena diperlukan juga dalam bidang farmasi,
kedokteran, pertanian, ilmu gizi, teknik kimia, bahkan hingga astrobiologi dan
arkeologi.
Yang termasuk dalam cabang ilmu mikrobiologi adalah sebagai berikut.
1. Bakteriologi : pengetahuan mengenai bakteri.
2. Virologi : pengetahuan mengenai virus.
3. Mikologi : pengetahuan mengenai jamur.
4. Parasitologi : pengetahuan mengenai parasit.
5. Serologi : pengetahuan mengenai serum.
6. Imunologi : pengetahuan mengenai kekebalan tubuh.

4
Sedangkan berkaitan dengan cakupan bahasannya, mikrobiologi dibagi
dalam :

1. Mikrobiologi umum
Mempelajari sifat-sifat mikroba pada umumnya.
2. Mikrobiologi kedokteran
Mempelajari mikroba-mikroba yang ada hubungannya dengan penyakit-
penyakit pada manusia.
3. Mikrobiologi pertanian
Mempelajari mikroba-mikroba yang ada hubungannya dengan penyakit
pada tanaman, hewan dan kesuburan tanah.
4. Mikrobiologi Industri
Mempelajari mikroba-mikroba yang ada hubungannya dengan pembuatan,
pengawetan bahan makanan dan susu.
2.2 Sejarah Mikrobiologi

Jasad hidup yang termasuk dalam mikroba sangat beranekaragam, antara


lain bakteri, protozoa, microalgae, jamur lender, fungi, bahkan virus. Mikroba
merupakan bentuk kehidupan yang tersebar paling luas dan terdapat paling
banyak di bumi. Mikroba terdapat pada permukaan tubuh manusia, dalam mulut,
hidung, organ tubuh makhluk hidup, sampai di lingkungan sekitar. Mikroba
terdapat paling banyak dan berkembang sangat baik pada tempat-tempat yang
mengandung nutrisi, kelembaban, dan suhu yang sesuai untuk pertumbuhan dan
reproduksinya. Mikroba dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang telah
melanda peradaban manusia. Namun, mikroba juga mempunyai peranan penting
pada lingkungan kehidupan manusia. Perkembangan tentang mikroba tidak lepas
dari kemajuan IPTEK manusia.
Mikrobiologi dapat dibagi menjadi beberapa disiplin ilmu. Pengelompok-
kan ini dapat berdasarkan tipe mikroba (pendekatan taksonomi) dan berdasarkan
aktivitas mikroba (pendekatan fungsional). Pendekatan taksonomi, antara lain :
bakteriologi yang mempelajari tentang bakteri, mikologi yang mempelajari
tentang jamur, fikologi yang mempelajari ganggang, protozoogi yang mempelajari
protozoa dan virologi yang mempelajari tentang virus. Pendekatan fungsional,
antara lain : mikrobiologi industri mempelajari tentang aktivitas mikroba yang
bermanfaat bagi manusia, mikrobiologi kedokteran mempelajari tentang ke-
sehatan dan penyakit, mikrobiologi pertanian mempelajari peranan mikroba pada

5
tanah, tanaman dan hewan. Mikrobiologi pangan mempelajari peranan mikroba
dalam produksi, pengawetan, dan perusakan bahan pangan. Terakhir ekologi
mikroba mempelajari tentang mikroba di lingkungan alamiahnya.
A. Sejarah Mikrobiologi berdasarkan penemunya
1. Era Robert Hooke dan Antoni van Leeuwenhoek

Robert Hooke (1635-1703) adalah seorang matematikawan, sejarawan


alam, dan ahli mikroskopi yang berasal dari Inggris. Dalam bukunya yang
terkenal, Micrographia (1665), Hooke mengilustrasikan struktur badan buah
dari suatu jenis kapang. Ini adalah deskripsi pertama tentang mikroorganisme
yang dipublikasikan.

Wajah Antoni van Leewenhoek diabadikan


dalam prangko di Belanda pada tahun 1937

Orang pertama yang melihat bakteri adalah Antoni van Leeuwenhoek


(1632-1723), seorang pembuat mikroskop amatir berkebangsaan Belanda.
Pada tahun 1684, van Leeuwenhoek menggunakan mikroskop yang sangat
kecil hasil karyanya sendiri untuk mengamati berbagai mikroorganisme
dalam bahan alam. Mikroskop yang digunakan Leeuwenhoek kala itu berupa
kaca pembesar tunggal berbentuk bikonveks dengan spesimen yang diletak-
kan di antara sudut apertura kecil pada penahan logam. Alat itu dipegang
dekat dengan mata dan objek yang ada di sisi lain lensa disesuaikan untuk
mendapatkan fokus. Dengan alat itulah, Leewenhoek mendapatkan kontras
yang sesuai antara bakteri yang mengambang dengan latar belakang sehingga
dapat dilihat dan dibedakan dengan jelas. Beliau menemukan bakteri pada
tahun 1676 saat mempelajari infusi lada dan air (pepper-water infusion). Van

6
Leeuwenhoek melaporkan temuannya itu lewat surat pada Royal Society of
London, yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris pada tahun 1684. Ilustrasi
van Leewenhoek tentang mikroorganisme temuannya dikenal dengan nama
"wee animalcules".

2. Era Pasteur

Skema percobaan Pasteur

Bertahun-tahun setelahnya, banyak observasi lain yang menegaskan


hasil pengamatan van Leeuwenhoek. Namun peningkatan tentang pemaham-
an sifat dan keuntungan mikroorganisme berjalan sangat lambat sampai 150
tahun berikutnya. Baru di abad ke 19, yaitu setelah produksi mikroskop
meningkat pesat, barulah keingintahuan manusia akan mikroorganisme mulai
berkembang lagi. Louis Pasteur dikenal luas karena berhasil menumbangkan
teori Generatio Spontanea, organisme hidup terjadi begitu saja. Percobaan
Pasteur menggunakan kaldu yang disterilkan dan labu leher angsa membukti-
kan tentang adanya mikroorganisme.

3. Era Robert Koch

Sejak abad ke-16, telah diketahui bahwa ada suatu agen penyebab
penyakit yang dapat menularkan penyakit. Setelah penemuannya, dipercaya
bahwa mikroorganisme adalah agen yang dimaksud. Namun, belum pernah
ada bukti. Robert Koch (1842-1910), seorang dokter berkebangsaan Jerman

7
adalah orang pertama yang menemukan konsep hubungan antara penyakit
menular dan mikroorganisme dengan menyertakan bukti eksperimental.
Konsep yang ditemukan oleh Koch dikenal sebagai Postulat Koch dan kini
menjadi standar emas penentuan penyakit menular.

» Ilustrasi dari mikroskop yang digunakan oleh Robert Hooke pada tahun
1664. Lensa objektif dipasang di ujung tuas pengatur (G), dengan fokus pada
spesimen menggunakan lensa tunggal (1)
4. Era Mikrobiologi Umum

Mikrobiologi umum merujuk pada aspek mikrobiologi non medis.


Dua raksasa yang dikenal pada era ini adalah Beijerinck dan Winogradsky.
Keduanya memulai aspek mikrobiologi lingkungan.

a. Martinus Beijerinck dan Teknik Kultur Pengkayaan

Martinus Beijerinck (1851-1931) adalah profesor berkebang-


saan Belanda yang berkontribusi besar terhadap teknik kultur peng-
kayaan. Pada teknik ini, mikroorganisme diisolasi dari alam dan
ditumbuhkan di laboratorium dengan memanipulasi nutrisi dan kon-
disi inkubasinya. Dengan menggunakan teknik ini, Beijerinck berhasil
mengisolasi kultur murni berbagai mikroorganisme air dan tanah un-
tuk pertama kalinya.

b. Sergei Winogradsky dan Konsep Kemolitotrofi

8
Pekerjaan Sergei Winogradsky (1856-1953), asal Rusia, mirip
dengan yang dilakukan Beijerinck. Namun, beliau mendalami bakteri
yang terlibat dalam siklus nitrogen dan siklus sulfur. Konsep
kemolitotrofi yang dicetuskannya berkaitan dengan adanya hubungan
antara oksidasi senyawa anorganik dengan konservasi energi. Dengan
menggunakan teknik pengkayaan, Winogradsky berhasil mengisioalsi
bakteri pengikat nitrogen, Clostridium pasteurianum yang bersifat
anaerob, dan sebagai cikal bakal konsep fiksasi nitrogen.

5. Mikrobiologi Modern

Seorang pekerja di laboratorium sedang mengamati


pertumbuhan bakteri pada cawan petri

Memasuki abad ke-20, mulai berkembang dua cabang mikrobiologi


yang masih saling berhubungan, yaitu : mikrobiologi dasar (basic) dan mikro-
biologi teraplikasi (applied). Mikrobiologi dasar mengacu pada penemuan-
penemuan baru di bidang ini. Sedangkan mikrobiologi teraplikasi mengacu
pada aspek pemecahan masalah yang berhubungan dengan bidang ini. Sejak
ditemukannya konsep tentang DNA maka bidang mikrobiologi pun mema-
suki era molekuler. Keberhasilan sekuensing DNA berhasil mengungkap hu-
bungan filogenetik (evolusi) di antara berbagai jenis bakteri.

9
B. Ilmuan yang Berjasa dalam Mikrobiologi
No Nama Tahun Sumbangan
Antonie Van 1677 Penemuan mikroba dan mikroskop
1
Leeuwenhook sederhana
Lazzarro 1767 Eksperimen pertama menentang
2
Spallanzani Generatio Spontanea
1837 Ragi berperan dalam permentasi
3 Theodor Schwann
alkohol
1853 Fungsi penyebab karat pada
4 Anton de Bary
tanaman
1857 Tiap jenis permentasi mempunyai
organisme yang spesifik
1861 Teori Generatio Spontanea tumbang
5 Louis Pasteur
1864 Teknik Pasteurisasi
1880 Vaksin untuk kolera ayam, anthrax
dan rabies
6 Joseph Lister 1867 Antiseptik untuk pembedahan
1876 Bacillus antracis, penyebab anthrax
dan membentuk spora.
7 Robert Koch
1881 Biakan murni, teknik pewarnaan
mikroba, serta postulat Kock
1877 Endospora pada bakteri yang tahan
8 Ferdinand Cohn
panas
9 Elie metchnikoff 1884 Imunnitas seluler
Hans Christian 1884
10 Pewarnaan Gram untuk bakteri.
Gram
1887 Cawan petri untuk menumbuhkan
11 Richard J. Petri
bakteri
12 Dmitri Iwanosky 1892 Tobacco Mozaic Virus
Martinus 1898
13 Tobacco Mozaic Virus (TMV)
Beijerinck
1890-an Bakteri penyebab penyakit pada
14 Erwin F. Smith
tanaman
15 Emil von Behring 1890-an Antitoksin dipteri
16 Paul Ehrlick 1890-an Imunitas humoral

2.3 Definisi Parasitologi

10
Parasitologi mempelajari tentang parasit, inangnya, dan hubungan diantara
keduanya. Sebagai salah satu bidang studi biologi, cakupan parasitologi tidak
ditentukan oleh organisme atau lingkungan terkait, tetapi dengan cara hidupnya.
Dengan begitu bidang ini bersintesis dengan bidang lain, dan menggunakan teknik
seperti biologi sel, bio-informatika, biokimia, biologi molekuler, imunologi, gene-
tika, evolusi dan ekologi.

2.4 Sejarah Parasitologi

A. Sejarah Ilmu Parasit

Cacing dan serangga telah dikenal oleh nenek moyang kita semenjak
mereka hidup nomaden. Cacing parasit yang dikenal sebagai penyebab penyakit
telah dikenal oleh nenek moyang kita jauh sebelum mereka mengenal bakteri dan
protozoa.

Diduga orang pertama yang mengembangkan ilmu parasit adalah Redi


(1626-1698), seorang ahli ilmu alam berkebangsaan Itali. Ia menemukan larva di
dalam daging yang membusuk, dan yang kemudian menjadi lalat. Tahun 1752
Swammerdam dari Jerman membuktikan bahwa kutu tumbuh dari telur. Akan
tetapi, karena masih kuatnya pengaruh ajaran gereja dan dogma-dogma lain yang
hidup dalam masyarakat pada waktu itu, kedua penemu itu tidak berani
mengemukakan pendapatnya.
Dengan ditemukannya alat pembesaran oleh Kenaen hoek (1632-1723),
dari Belanda berbagai jenis hewan parasit bersel satu (protozoa) ditemukan. Mulai
saat itu teori abnogenesis mulai ditinggalkan. Mehlis pada tahun 1831 mengamati
menetasnya larva dari telur cacing daun (trematude). Semenjak itu siklus hidup
berbagai parasit dapat ditetapkan. Kuchen Meister pada tahun 1852 membuktikan
bahwa Cystecercus sellulose merupakan stadium peralihan (intermediet) cacing
pita pada manusia yang disebabkan karena penderita memakan daging babi yang
mengandung cacing stadium peralihan tersebut.
Namun, pembuktian Kuchen Meister tersebut disangkal oleh Von Siebold
yang berpendapat bahwa cysticercus itu merupakan cacing pita yang mengalami

11
degenerasi “Hidropis”. Degenerasi itu terdapat pada inang meister dan merupakan
hal yang benar.
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam (IPA) membuktikan bahwa
pengetahuan teori yang tidak berdasarkan observasi itu tidak benar. Seperti yang
telah dikemukakan di atas. Pada zaman dahulu para ahli biologi telah mengenal
suatu teori “Abiogenesis”.
Menurut teori ini organisme hidup itu berasal dari benda mati dan itu
terjadi karena kehendak dan kekuasaan Tuhan. Ajaran agama juga menyebutkan
bahwa manusia pertama juga diciptakan oleh Tuhan dari tanah (benda mati).
Secara populer paling tidak dalam hal-hal tertentu, teori “Abrogenesis” itu masih
dianut dan dipercayai kebalikan dari teori “Abiogenesis”. Abrogenesis adalah
teori biogenesis yang menganggap bahwa kehidupan ini berasal dari pra
kehidupan. Karenanya menurut teori biogenesis ini organisme hidup itu berasal
dari bentuk-bentuk hidup sebelumnya.

12
BAB IV
PENUTUP

3.1. Simpulan

Adapun simpulan yang dapat diambil dari paparan di atas, yaitu :

1) Dalam bahasa Yunani, mikrobiologi dibagi menjadi tiga kata yaitu micros
artinya kecil, bios artinya hidup, logos artinya ilmu. Mikrobiologi adalah
sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari mikroorganisme/
makhluk hidup kecil.
2) Berdasarkan penemunya, sejarah mikrobiologi dibagi menjadi lima, yaitu :
era Robert Hooke dan Antoni van Leeuwenhoek, era Pasteur, era Robert
Koch, era mikrobiologi umum, dan era mikrobiologi modern.
3) Parasitologi mempelajari tentang parasit, inangnya, dan hubungan diantara
keduanya.

4) Diduga orang pertama yang mengembangkan ilmu parasit adalah Redi


(1626-1698), seorang ahli ilmu alam berkebangsaan Itali. Ia menemukan
larva di dalam daging yang membusuk, dan yang kemudian menjadi lalat.
Tahun 1752 Swammerdam dari Jerman membuktikan bahwa kutu tumbuh
dari telur. Dengan ditemukannya alat pembesaran oleh Kenaen hoek
(1632-1723), dari Belanda berbagai jenis hewan parasit bersel satu
(protozoa) ditemukan. Mulai saat itu teori abnogenesis mulai ditinggalkan.
Mehlis pada tahun 1831 mengamati menetasnya larva dari telur cacing
daun (trematude). Semenjak itu siklus hidup berbagai parasit dapat
ditetapkan. Kuchen Meister pada tahun 1852 membuktikan bahwa
Cystecercus sellulose merupakan stadium peralihan (intermediet) cacing
pita pada manusia yang disebabkan karena penderita memakan daging
babi yang mengandung cacing stadium peralihan tersebut.
3.2. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan sehubungan dengan paparan di atas


adalah sebagai berikut.

13
1. Kepada pihak calon perawat atau perawat diharapkan untuk meningkatkan
pengetahuan mereka mengenai definisi dan sejarah dari mikrobilogi dan
parasitologi sehingga mampu memberikan penjelasan ketika ditanyai oleh
pasien ataupun dalam melakukan sosialisasi mengenai materi tersebut.
2. Mahasiswa diharapkan untuk tidak melupakan paparan mengenai definisi
dan sejarah dari mikrobilogi dan parasitologi mengingat materi tersebut
masih tetap digunakan dalam lintas pendidikan di keperawatan.
3. Perlu diadakannya sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai definisi
dan sejarah dari mikrobilogi dan parasitologi agar masyarakat tahu dan
tidak buta tentang materi tersebut.

14