Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG TRANSENDEN

Oleh:
Kelompok 1
1. Andreanto 2443015138
2. Lina Kusuma Dewanti 2443017011
3. Ramadhanti Pratiwi 2443017106
4. Yayan Sunyana 2443017126
5. Andriani Trisusanty 2443017144
6. Agnes Sole 24430170149

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA
2018

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Daftar Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bab 1.Pendahuluan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1.1 Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .4
1.2 Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .5
1.3 Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . 5
1.4 Manfaat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .5
Bab 2. Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2.1 Manusia mempunyai pengelaman religius . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
2.2 Manusia mempunyai suara hati . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ..11
2.3 Manusia mempunyai kehendak bebas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13
2.4 Manusia mampu berpikir . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 14
Bab 3.Penutup . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . .
3.1 Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .23
Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ...26

2
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan hanya bagi Allah yang Maha Pengasi lagi
Maha Penyayang. Berkat limpahan karunia nikmatNya kami dapat
menyelesaikan makalah yang bertajuk “Manusia Sebagai Makhluk Transenden”
dengan lancar. Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas Mata
Pelajaran Pendidikan Agama.

Dalam proses penyusunannya tak lepas dari bantuan, arahan dan masukan dari
berbagai pihak,secara langsung maupun tidak langsung.Untuk itu kami ucapkan
banyak terima kasih atas segala partisipasinya dalam menyelesaikan makalah ini.

Meski demikian, penulis menyadari masih banyak sekali kekurangan dan


kekeliruan di dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tanda baca, tata bahasa
maupun isi. Sehingga penulis secara terbuka menerima segala kritik dan saran
positif dari pembaca.

Demikian apa yang dapat kami sampaikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
untuk semua pihak, penyusun dan khususnya untuk pembaca pada umumnya.

Surabaya, Agustus 2018

Penyusun

3
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Selain sebagai pribadi dan subyek, manusia juga dipahami sebagai
makhluk transenden. Paling tidak, ada dua hal yang hendak dinyatakan
oleh sebutan bahwa manusia adalah makhluk transenden. Pertama
manusia sebagai hakiki adalah mahluk terbuka dan karena itu, mustahil
untuk didefenisikan atau dibatasi.
Kedua keterbukaan dan keterarahan itu bukan didasarkan atau
tertuju pada sesuatau yag hampa atau kosong. Dia terbuka dan tertuju
kepada ada secara keseluruhan. Dalam pengelaman-pengelamannnya
sehari-hari di dunia menjadi nyata bahwa dia terbuka secara mutlak dan
bahwa dia juga tidaklah ditentukan secara mutlak oleh dunia dimana ia
hidup. Pengelaman-pengelamannya menjadi mungkin dan dapat terjadi
justru karena dia terbuka terhadap horison yang tak terhingga.
Transendensi merupakan fondasi yang menunjang dan menolong semua
pengelamannya.
“Tallon merumuskan bahwa: transendensi merupakan tanda
pengenal atau petunjuk dasar dari manusia sebagai ‘Roh’ sebagai
demikian manusia menerima transdensinya sebagai yang sudah ada dan
melekat pada hakekatnya. Artinya, transendensi itu merupakan dimensi
konstitutif dari manusia;suatau yang asli yang harus diandailan adanya
supaya manusia dan aktivitasnya menjadi real atau nyata. Transendensi
tak pernah berakhir atau terbatas karena karena tiap batas atau akhir
berarti permulaan lagi. Manusia sebagai mahluk transenden sejauh
semua pengetahuan dan semua aktivitas sadarnya berakar dan
didasarkan pada vorgriff, pra-paham akan ada secara keseluruhan.
Transenden yang berarti “melampaui ,diluar segala kesanggupan
manusia,luarbiasa” pada umunya dalam arti dalam arti melampaui alam
ciptaan atau tidak terbatas. ”Tuhan adalah realitas transenden, karena
Tuhan itu mutlak dan yang mutlak merupakan realitas transenden.

4
Manusia kita bisa mengalami transnden karena dalam diri manusia
menyatakan sesuatau, memilih sesuatu, merasakan suatu makna dan
mendengar suara hati kita nyata mengacu pada sesuatu yang melampui
segala realitas dunia pengelaman kita yang tidak terbatas.

1.2 Rumusan Masalah


Bahan ini merumuskan beberapa pokok bahasan yaitu:
a) Manusia mempunyai pengelaman religius
b) Manusia mempunyai suara hati
c) Manusia mempunyai kehendak bebas
d) Manusia mampu berpikir

1.3 Tujuan
 Meningkatkan pengetahauan mahasiswa tentang bagaimana
manusia bisa sampai pada pengenalan akan adanya yang
transenden itu.
 Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang apakah manusia,
dengan segala kemanusiaannya, memang mampu untuk mengenal
yang transenden.

1.4 Manfaat
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang manusia sebagai
makhluk transenden

5
BAB 2. ISI

Kepercayaan dan iman merupakan persoalan menyangkut hubungan


manusia dengan yang adi kodrati, yang gaib, suatu kenyataan transenden. Adalah
suatu keistimewaan bahwa manusia memiliki suatu kepekaan dan keterbukaan
kepada kenyataan yang bersifat ilahi, suatu kenyataan yang mengatasi dunia dan
dirinya sendiri. Kepekaan atau perasaan religius inilah yang memungkinkan
manusia mampu mengakui bahkan mengimani dan menyerahkan diri kepada Dia,
yang oleh orang beragama menyebutnya sebagai Tuhan atau Allah, atau nama lain
yang kurang lebih searti dengan itu.
Namun, berhubung Tuhan atau Allah itu merupakan kenyataan yang
bersifat gaib, suatu kenyataan yang mengatasi jangkauan daya tangkap indera
manusia, maka akhirnya manusia memiliki gambaran dan pemahaman yang
beraneka ragam tentang Dia. Gambaran yang tidak selalu sama tentang Tuhan
patilah berkaitan erat dengan keterbataan kemampuan dan perbedaan daya
tangkap manusia untuk mengenal-Nya. Perbedaan gambaran dan pemahaman
tersebut pastilah berkaitan dengan adanya perbedaan berbagai latar belakang
manusia, seperti perbedaan zaman, budaya, adat-istiadat, pendidikan, geografi,
bahasa, dan segala macam perbedaan lainnya.
Transendensi merupakan pengalaman, kesadaran, dan penghargaan
terhadap dimensi transendental terhadap kehidupan di atas diri seseorang.
Keterbukaan manusia pada rasio akan membawanya pada kesadaran akan
keberadaan manusiawinya. Dengan menyadari keberadaan dan hakikatnya
manusia juga akan menyadari ada sesuatu yang melampaui dirinya, yaitu sesuatu
yang transenden, lepas dari persoalan apa dan siapa yang transenden itu.
Adanya yang transenden telah sejak awal ditegaskan oleh para filsuf
Yunani, antara lain Plato dengan dunia idenya, Aristoteles dengan aktus purusnya,
atau dengan logika sederhana saja manusia bisa mengerti bahwa transenden itu
ada. Manusia, adanya terbatas. Dengan menyadari keterbatasan ini manusia tahu
bahwa ada ‘Ada’ yang tidak terbatas, yang sempurna bahkan membatasinya.
Seperti yang terbatas mengandaikan yang tak terbatas.

6
Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa “transendensi adalah sebuah
kualitas kehidupan manusia. Pengertian ini sangat berkaitan dengan kebebasan
yang dimiliki oleh manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa transendensi
merupakan penelaahan yang lebih mendalam tentang konsep kebebasan itu
sendiri. Bila kebebasan adalah keterbukaan awal dari kemanusiaan maka
transendensi adalah sebuah proses kreatif yang melanjutkan dan
memperkembangkan kebesaran itu sendiri”. Dengan gagasan ini sangat jelas
bagaimana transendensi ini berakar pada keberadaan manusia sebagai pribadi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menjadi penuh hanya dengan
keterarahannya kepada yang transenden. Seperti halnya ditegaskan oleh
Driyarkara. Pada hakekatnya manusia terbuka pada yang transenden (sekali lagi
lepas dari apa dan siapa yang transenden itu). Manusia adalah makhluk religius.
Maka secara filsafati sebenarnya tidak ada manusia yang atheis murni. Sejarah
telah mencatat sejumlah pemikir yang berkecimpung dalam regiositas manusia,
baik dari sudut tahap perkembangan manusia, psikologi-antropologi agama,
maupun yang membedakan regiositas dengan agama. Filsafat Pancasila di
Indonesia kiranya tidak mengklaim religiositas dalam agama-agama, maka dalam
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 ayat 1 dikatakan bahwa negara berdasar
atas ketuhanan yang maha esa. Hal ini sangat sesuai dengan kodrat manusia yang
didasari dengan kebebasan individu.
Karl Rahner (1904-1984), seorang ahli filsafat dan theologi kebangsaan
Jerman, dalam bukunya Spirit in the World membahas bahwa manusia dapat
mengetahui lebih banyak dari apa yang dialaminya dengan inderanya. Dalam
pandangan Rahner kemampuan rasio manusia mampu membawa manusia untuk
mengenal segala sesuatu yang tidak nampak oleh indera bahkan melalui rasio
yang sama manusia sampai pada pengetahuan bahwa Allah itu ada dan
mengatakan diriNya kepada manusia melalui cara-cara yang mengagumkan.
Pengetahuan dan pengenalan akan Allah merupakan suatu keharusan karena
hanya dengan demikian manusia menemukan arti dan tujuan hidupnya.
Diskursus filsafat tentang rasio telah berlangsung berabad-abad lamanya,
ditafsirkan seumur dengan perkembangan peradaban manusia. Adam dan Hawa

7
(Eva) saat menanggapi (mematuhi) perintah Tuhan, juga membangun rasio, ketika
ia menjadi satu-satunya lakon bagi terlaksananya instruksi sang Pencipta. Artinya,
terjadi interaksi antara apa yang diyakininya dengan dimensi logika. Perintah
Tuhan tidak dipahami sebagai realitas yang tampil (dalam ayat-ayatnya) apa
adanya tanpa harus diinterpretasi. Bagi Adam, realitas (perintah Tuhan) mestinya
diinterpretasi (sejarah mencatat Adam terpengaruh oleh istrinya-Hawa, dan Hawa
mempengaruhi iblis). Sebagai roh, Adam menghindari proses alienasi, sebab apa
yang diyakininya, Tuhan tidak pernah memperangkap ciptaan-Nya dalam
keterasingan. Saya ciptakan manusia untuk menjadi khalifah. Setelah Tuhan
menciptakan Adam sebagai manusia pertama (katakan demikian) sebagai roh
objektif, Adam selanjutnya bertugas mengubah diri menjadi rohsubjektif, itu
sebabnya, ia membutuhkan rasio guna membangun interpretasi terhadap siapakah
dirinya, di balik eksistensi dia sebagai roh objektif. Roh yang diciptakan.

2.1 Pengalaman religius (Romano Guardini)


Romano Guardini melukiskan pengalaman religius sehubungan denganalam
semesta dan dengan peristiwa dalam hidup manusia. Berikut uraiannya:
a. Pengalaman religius berkenaan dengan alam semesta
Pengalaman religius adalah pengalaman yang bersifat kudus, suci, sakral,
misterius, kekal, sempurna. Yang ilahi itu dialami di dalam dan melalui
pengalaman tentang dunia yang kita kenal dan yang biasa ini. Yang ilahi
dapat kita alami melalui duniawi, tetapi sifatnya tidak duniawi. Hal itu
terbukti dari sikap hormat dan sembah sujud kita terhadapNya. Sifat ini
berlainan secara kualitatif dengan sikap hormat kita terhadap hal-hal
duniawi. Immanuel Kant berpendapat bahwa salah satu pengungkapan jiwa
manusia dibidang irasional adalah sensus religious, keinsyafan beragama.
Berkat keinsyafan ini manusia dapat mengalami hal-hal duniawi sebagai
tanda dari hal-hal ilahi.
b. Pengalaman religius berkenaan dengan peristiwa dan kejadian dalam
kehidupan manusia

8
Peristiwa seperti keberhasilan dan kegagalan, sakit dan sembuh, kecelakaan
dan selamat, kelahiran dan kematian, penjajahan dan pembebasan, perang
dan perdamaian merupakan peristiwa biasa dan dapat tidak dipahami
sebagai pengalaman religius. Namun, peristiwa-peristiwa bisa dimengerti
sebagai pengalaman religius: dialami sebagai anugerah atau peringatan,
ganjaran atau hukum yang datang dari suatu kuasa atau daya kekuatan yang
lebih tinggi daripada segala daya kekuatan duniawi. Peristiwa itu punya arti
besar bagi kehidupan yang bersangkutan dan di sana ditemukan sebuah
makna; kejadian itu dialami sebagai campur tangan dari atas.

Untuk beberapa orang hal ini dirasakan dalam pengalaman-pangalaman


akan alam: gejolak yang kuat dari samudra yang berbadai atau keindahan
yang kesepian dari puncak gunung atau kecemerlangan murni dari matahari
terbenam yang mengagumkan.
Yang lain menemukan transendensi melalaui doa atau malalui latihan
meditasi; namun yang lain lagi melalui penggunaan obat-obatan yang
memberi pengalaman-pengalaman “mistik”.
Yang transenden juga dapat ditemukan dalam waktu-waktu kesedihan yang
mendalam atau kegagalan. Seseorang mungkin menghadapi trauma
kehidupan: perceraian, kehilangan, pengangguran, sakit parah atau merasa
bahwa hidupnya telah menjadi tanpa arti. Kemudian, pada titik tertentu di
tengah-tengah semua perubahan dan ketidakpastian, dia mengalami yang
sempurna, yang tidak berubah, suatu rasa istimewa menegnai keadaanya
yang sangat baik. Dia menyadari bahwa hal ini ada di atas dan terpisah dari
keadaannya sendiri.
Pengalaman seperti ini diartikan dalam macam-macam cara. Seorang yang
religius mungkin melihatnya sebagai inisiatif Allah dalam memberikan
pertolongan.
Bagi mereka kejadian-kejadian merupakan bukti bahwa pandangan
materialis akan dunia bukanlah penjelasan memadai bagaimana hal-hal itu
sebenarnya. Mereka yakin ada dunia rohani di luar, yang dalam cara tertentu

9
bersentuhan dengan dunia dimana manusia hidup. Degan kata lain
pandangan dunia mereka mencakup dunia roh.
Pandangan dunia anda akan menentukan cara anda memahami kenyataan.
Istilah “pandangan-dunia” telah dirumuskan sebagai “suatu kumpulan
pengandaian yang kita pertahankan (secara sadar atau bawah sadar)
mengenai bahan dasar dunia kita”. Sangat sedikit orang yang menyadari
bahwa mereka mempertahankan pandangan dunia khusus. Mereka
mengandaikan bahwa cara mereka melihat hidup merupakan cara yang juga
dipegang semua orang. Pengandaian mereka adalah bahwa apa yang mereka
lihat adalah kenyataan. Sejumlah besar pemikir religius berpendapat bahwa
pandangan-dunia barat mempunyai titik buta yang menyebabkan kita tidak
dapat mengerti hal-hal yang berhubungan dengan roh, medium, hantu, dan
sejenisnya.
Tentu saja orang-orang Kristen akrab dengan hal-hal yang terjadi yang tidak
dapat dijelaskan secara alami.
 PANDANGAN KRISTEN MENGENAI DOA mencakup kepercayaan
bahwa orang dapat berbicara dengan Allah dan ia dapat berbicara dengan
mereka tanpa menggunakan medium.
 DALAM DEVOSI KATOLIK ROMA, doa kepada Allah mencakup
perantara para kudus. Beberapa orang Katolik memberi kesaksian mengenai
waktu persepsi sensori khusus ketika mereka dapat melihat atau merasa para
kudus yang telah lama meninggal.
 DI DALAM KITAB SUCI terdapat contoh-contoh jenis khusus. Para nabi
Perjanjian Lama mempunyai kemampuan cenayang untuk “melihat” apa
yang terjadi di tempat lain, dan mempunyai penglihatan. Bahkan sekarang
di beberapa bagian Gereja hal-hal ini masih dipercaya dan dipraktekkan.

Sikap terhadap “yang transenden” akhirnya adalah penghayatan dan berbagi


pengalaman dari mereka yang memiliki pengalaman mistik atasnya. Salah
satu pengalaman religius yang paling fundamental adalah pertanyaan soal:
dari mana aku berasal dan kemana hidupku menuju. Jawaban seperti ini

10
juga penting untuk menjelaskan mengapa di dunia ini ada ketidakadilan
sementara kita harus tetap hidup baik.
2.2 Hati nurani (John Henry Newman)
Hati nurani adalah instansi dalam diri kita yang memerintahkan
untuk melakukan perbuatan baik. Hati nurani merupakan kesadaran moral
akan baik buruk dan kewajiban untuk melakukan yang baik. Suara hati
memiliki peran ganda. Peran pertama adalah kesadaran moral (moral
sense) dan peran kedua adalah sebagai kesadaran akan kewajiban (sense of
duty). Kesadaran moral membedakan antara baik dan jahat. Kesadaran
akan baik buruk berperan sebagai guru moral. Sementara itu kesadaran
akan kewajiban menyuruh kita melakukan yang baik dan menolak yang
jahat. Kita merasa wajib melaksanakan apa yang telah kita akui sebagai
baik, dan menghindari apa yang kita sadari sebagai jahat. Kita merasa
bahwa harus tunduk kepada perintah suara hati, selalu dan dimana-mana.
Dalam situasi rumit, sebagai sense of moral suara hati tidak selalu
berhasil menyatakan mana yang baik mana yang tidak. Fungsinya sebagai
guru moral suara hati tidak selalu dapat menjalankan fungsinya dengan
jelas. Timbul juga kesalahan. Hati nurani bisa salah. Tetapi sebagai sense
of duty selalu jelas, sekurang-kurangnya dalam arti bahwa hati nurani
sebagai kepekaan akan kewajiban tidak membiarkan dirinya disingkirkan.
Perbuatan baik diganjar rasa damai dan tenang (good conscience).
Perbuatan jahat diganjar dengan kerisauan hati. Di sini hati nurani
memperingatkan, menuduh, dan mencemaskan seseorang. Kita merasa
malu, sesal, kehilangan, damai hati, terutama takut untuk bertanggung
jawab. Itulah gejala-gejala mental yang merupakan ciri khas bad
conscience. Jelas bahwa suara hati sangat berpengaruh pada afeksi dan
emosi kita. Afeksi dan emosi lebih dipengaruhi oleh suara hati daripada
oleh perasaan mental lainnya.
Di satu titik suara hati menimbulkan semua emosi yang sengsara,
di lain pihak hati nuranipun meliputi kita juga dengan suatu rasa damai
yang mendalam, suatu rasa aman dan tentram. Mengapa orang jahat

11
melarikan diri, bila seorangpun tidak mengejarnya? Kalau begitu mengapa
ia melarikan diri? Dari mana ketakutannya? Siapakah yang melihatnya
dalam kesunyian, dalam kegelapan, dalam lubuk hatinya yang
tersembunyi? Jika penyebab emosi-emosi itu tidak termasuk dunia yang
kelihatan ini maka objek yang kepadanya pengamatannya tertuju, harus
bersifat abdikodrati dan ilahi, yaitu Allah. Maka Allah itu ada dan dapat
dialami dalam dan melalui hati nurani.
Immanuel Kant memandang kesadaran moral sebagai salah satu
petunjuk paling kuat tentang adanya Allah. Guardini menyebutkan hati
nurani sebagai suatu pengalaman yang dapat dihayati secara religius.
Artinya kewajiban moral untuk berbuat baik itu dapat dihayati bukan
melulu tuntutan manusiawi etis semata-mata, tetapi dialami sebagai suara
diri pribadi, ilahi, yang kepadanya ia merasa bertanggung jawab. Dengan
demikian hati nurani dapat dihayati sebagai tempat pertemuan manusia
dengan Tuhan.
Suara hati bersifat adipersonal. Dalam hati nurani seolah-olah ada
cahaya dari luar yang menerangi hati dan budi kita. Suara hati mempunyai
aspek transenden yaitu melebihi diri kita. Karena aspek adipersonal itulah
maka orang-orang beragama kerap kali menyatakan bahwa suara hati
adalah suara Tuhan.
Ada beberapa bentuk komunikasi yang biasanya digunakan oleh
hati nurani yaitu berbicara dengan diri atau dialog batin, melalui perasaan,
melalui ide yang menginspirasi, melalui pergeseran pandangan,serta secara
kebetulan. Berbicara dengan diri atau dialog batin merupakan salah satu
cara hati nurani berkomunikasi, misalnya saat hening kita sering
mendengar suara hati dengan jelas. Melalui perasaan misalnya saat kita
akan melakukan sesuatu, sering kali ada perasaan tertentu yang
memberikan sinyal apakah kita bisa terus atau berhenti, jika kita cukup
tanggap kita akan merasakan bahwa perasaan ini memberikan sinyal yang
cukup keras dari suara hati nurani.

12
2.3 Dinamika kehendak (Maurice Blndel)
Manusia adalah makhluk berakal budi dan berkehendak bebas.
Manusia adalah makhluk yang punya kemampuan untuk memaui dan
menghendaki. Untuk mencapai apa yang dimau atau dikehendaki itu
manusia melakukan tindakan manusiawi memiliki tujuan atau terarah ada
tujua tertentu. Dengan tindakannya manusia mau mencapai sesuatu.
Apa yang mendorong manusia untuk melakukan semua kegiatan
yang mengisi hidupnya? Yang mendorong manusia adalah apa yang
menarik. Yang menarik manusia adalah tujuan akhir hidupnya? Apa tujuan
akhir tindakan-tindakannya? Tujuannya adalah kebahagiaan. Seluruh
kegiatan manusia diarahkan utuk mendapatkan kebahagiaan. Jadi, kegiatan
manusia merupakan perwujudan, keinginan dan kebahagiaan itu dengan
melakukan tindakan-tindakan tertentu yang diduga dan diyakininya dapat
semakin mendekatkannya pada kebahagiaan.
Ternyata manusia dalam hidupnya bergerak maju dari tujuan yang
satu ke tujuan yang lain. Itu berarti bahwa kepuasan yang diperolehnya
bila suatu tujuan sudah diapai olehnya belum memuaskan manusia adalah
makhluk yang selalu tidak puas. Keinginannya tidak terpuaskan oleh
tujuan – tujuan imanen yang telah dicapainya melalui tindakan-tindakan
yang dilakukannya.
Hal – hal didunia ini tidak dapat memberikan kebahagiaan sejati
kepada manusia. Manusia mencari yang Adikodrati yang dapat
memberikan kebahagiaan sejati. Dengan daya kemampuan insaninya
sendiri, manusia tidak mampu mencapainya. “Dari diriku sendiri aku tidak
mampu mencapai tujuan kegiatanku”. Menagapa? Sebab yang Yang
Adikodrati itu di luar jangkauan makhluk yang terikat pada ruang dan
waktu. Sadar akan hal ini manusia mengalami krisis. Di satu pihak ia
memerlukan Yang Adikodrati, di lain pihak ia tidak dapat mencapainya.
Tuhan menyatakan diri dan menawarkan diri, bahkan mendatangi
manusia dalam sejarah. Terhadap tawaran ini, manusia menanggapi
dengan bebas. Manusia boleh mengatakan ya atau tidak. Tuhan tidak

13
memaksa. Oleh karena itu kita menghadapi pilihan bebas. Mau menerima
apa yang dianugrahkan tuhan itu atau justru menolaknya?
Menerimanya berarti juga harus mau menanggung segala
kewajiban sebagai konsekuensi. Dengan demikian kita akan menemukan
tujuan akhir segala kegiatan didunia ini, yaitu kebahagiaan/Allah sendiri,
yang ditawarkan justru ditolak. Manusia kehilangan tujuannya, dengan
demikian, kehidupan manusia pada dasarnya gagal. Resiko itu tidak boleh
diambil. Siapa yang mau gagal total? Bagaimana
mempertanggungjawabkan resiko sebesar itu? Bukankah manusia wajib
menghindari kegagalan total? Baik dalam hal penerimaan maupun dalam
hal penolakan, manusia dipertemukan dengan yang transenden, yakni
Allah. Allah menjadi kenyataan bagi manusia.

2.4 Manusia Mampu Berpikir


Dalam literatur filsafat, manusia disebut sebagai animale rationale,
binatang berpikir. Oleh akal budilah terutama kelihatankeunggulan
manusia di antara makhluk-makhluk yang memiliki banyak kesamaan
dengannya , yakni golongan binatang yang menyerupai manusia, Akal
budi dapat dikatakan sebagai suatu manifestasi sifat Tuhan yang dimiliki
oleh manusia. Tuhan memiliki pengetahuan akan yang baik dan yang
buruk secara sempurna, serta Tuhan hanya memilih yang baik saja.
Dengan akal budinya manusia juga mampu mengetahui dan membedakan
mana yang baik dan mana yang buruk, walau tidak sempurna Allah
mengetahuinya. Dengan pengetahuan seperti itu diharapkan manusia juga
hanya memilih yang baik saja dalam hidupnya, Kemampuan berpikir
manusia sebaiknya digunakan untuk bisa menilai mana yang baik dan
mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.
Dengan kemampuan akal budinya juga, manusia mampu mengenal
sesuatu yang sifatnya transenden, yakni Tuhan sendiri, bahkan juga
mampu mempercayainya,

14
Para filsuf yang memiliki ide transenden tentang Tuhan dimulai
dari Plato, Philo Judaeus yang mengatakan bahwa Allah yang transenden
memiliki sifat bertolak belakang dengan Allah yang imanen seperti
diyakini oleh Stoikisme dan Panteisme. Immanuel Kant juga pernah
memakai istilah ini untuk menggambarkan adanya unsur a priori yang
memberikan inspirasi gagasan kepada manusia untuk berpikir tentang
dunia yang supratemporal. Dalam arti inilah Kant menggunakan istilah
"estetika transendetal" dan "logika transendetal.”
Menurut Rudolf Otto, sewaktu mengalami yang transenden,
manusia mengalami dua perasaan yang bertentangan. Di satu sisi manusia
merasa sangat tertarik karena pesona fascinosum, namun di sisi lain ia
merasakan gemetar dan ketakutan karena yang transenden itu tremendum,
yaitu memiliki daya pemaksaan dan menakutkan. Sewaktu mengalami
yang transenden itu, manusia akan lupa siapa dirinya terhanyut pada yang
transenden dan menikmati perjumpaan dengannya.
Istilah Tuhan yang transenden artinya Tuhan melampaui dunia ini,
hal ini berseberangan dengan keyakinan tentang Tuhan yang berada dalam
realitas dunia ini yang disebuh imanen. Namun, beberapa pemikir
kemudian mengkombinasikan pemikiran Tuhan yang transenden sekaligus
imanen, Tuhan ada di dunia ini sekaligus melampaui dunia ini.
Frans Magnis Suseno menguraikan relasi Tuhan yang transenden
itu dengan dunia. Yang pertama, hubungannya memang bersifat
transenden, artinya eksistensinya tidak bergantung pada dunia karena ia
tak terbatas dan tak terhingga. Namun, yang ilahi dan transenden itu
sekaligus juga imanen, artinya ia meresapi apa pun yang ada, tak ada
tempat di dunia ini di mana yang ilahi tidak hadir di situ. Hal ini berarti,
yang ilahi dibedakan dari dunia bukan seperti dua benda, atau dua objek,
dibedakan satu dari yang lain. Dunia yang terbatas ini memang bergantung
pada ilahi yang tak terbatas sehingga Allah menjadi penunjang adanya
dunia. Dalam bahasa sederhana: Tuhan itu, sebagai yang transenden, di
mana-mana tidak ada, dan sekaligus yang imanen, di mana-mana ada.

15
 Penggunaan dalam bidang Matematika
Istilah transenden juga digunakan dalam bidang matematika merujuk
pada bilangan yang tak terhingga. Misalnya bilangan "π" yang biasanya
dibulatkan menjadi 3,14 sesungguhnya memiliki pecahan yang tak dapat
didefinisikan.Sebuah bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan
sembarang persamaan polinomial dengan koefisien-koefisien bilangan
bulat disebut bilangan transenden, artinya tak terhitung atau tak terhingga.
Akal budi dapat dikatakan sebagai suatu manifestasi sifat Tuhan
yang dimiliki oleh manusia tuhan memiliki pengetahuan akan yang baik
dan yang buruk secara sempurna, serta Tuhan hanya memilih yang baik
saja. Dengan akal budinya manusia juga mampu mengetahui dan
membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, walau tidak sempurna
Allah mengetahuinya. Dengan pengetahuan seperti itu diharapkan manusia
juga hanya memilih yang baik saja dalam hidupnya. Kemampuan berpikir
manusia sebaiknya digunakan untuk bisa menilai mana yang baik dan
mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.
Dengan kemampuan akal budi yang dimilikinya, manusia mampu
memajukan dirinya, memajukan budaya dan peradabannya, serta mampu
membuat sejarah. Dengan akal budinya juga manusia mampu belajar,
termasuk belajar dari pengalaman, yang membuatnya semakin tahu banyak
hal. Kemajuan berpikir sebagai hasil belajar dan meneliti terutama nampak
dengan semakin mempunyai manusia menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi. Lebih dari pada itu, dengan kemampuan akal budinya juga,
manusia mampu mengenal sesuatu yang sifatnya transenden, yakni Tuhan
sendiri, bahkan juga mampu mempercayainya.
Dalam praktek hidup beriman kita, kemampuan pikiran untuk
mengerti apa yang kita imani dapat membantu kita untuk mencari dan
menemukan relevansi tepat iman kita dalam situasi-situasi nyata di mana
kita hidup dan sedang berjuang.
Transendensi spiritual merefleksikan kemampuan individu berdiri
tegak dalam rasa terhadap waktu dan tempat dan memandang hidup dari

16
pandangan lebih jamak, perspektif yang berbeda. Hal ini merefleksikan
sebuah realisasi bahwa ada makna lebih dalam dan tujuan hidup yang
termasuk dalam sebuah hubungan lebih abadi atau lama, hubungan dengan
yang di atas.
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seorang
komunikator kepada komunikan melalui sebuah media yang menghasilkan
efek. Dari definisi sederhana ini kemudian timbul pertanyaan bagaimana
menjalin komunikasi dengan Allah yang secara kasat mata tidak dapat
dilihat hanya bisa diyakini dan dirasakan keberadaannya. Bagaimana
menghadirkan sosok komunikator atau komunikan dalam proses
komunikasi ini, media seperti apa yang digunakan, dan bagaimana melihat
efek yang dihasilkan dalam proses komunikasi tersebut. Hal inilah yang
ingin diungkap dalam komunikasi transendental.
Komunikasi yang melibatkan manusia dengan Tuhannya itulah
yang sering disebut komunikasi transendental. Manusia merupakan
makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri, ia membutuhkan orang
lain untuk mempertahankan eksistensinya. Manusia harus membangun
hubungan horisontal yakni dengan manusia lainnya dan vertikal dengan
Tuhannya. Hubungan itu akan membawa seorang individu menjadi
manusia paripurna.
Hubungan dialektis antara dimensi vertikal dan horizontal dapat
dijelaskan pula dengan melihat tiga perspektif transendental yaitu
penerimaan, respons dan reaksi. Tiga istilah ini merujuk pada sisi
kemanusiaan dari pernyataan Ilahi yaitu bahwa manusia melakukan reaksi
atas komunikasi dengan dirinya yang telah menerima pesan Tuhan. Jadi
dalam perspektif penerimaan manusia dicari Tuhan. Dalam perspektif
respons manusia mencari Tuhan, misalnya dalam bentuk doa. Doa dapat
dipahami sebagai dialog intrapersonal dengan diri sendiri, di mana misteri
diri secara intuitif dialami sebagai tanda komitmen kepada Tuhan. Aspek
vertikal dari komunikasi yang menunjukkan bahwa individu pada akhirnya
terhubung dengan pencipta sebagai sumber dari adanya dan bahwa

17
hubungan itu merupakan dasar dari diri sebagai individu. Berhubungan
dengan Allah atau Tuhan merupakan kebutuhan dasar yang menjadikan
seorang individu merasa ada dan berarti.
Dimensi transendental yakni meyakini secara lebih dalam dari apa
yang dilihat dan dirasakan. Hal ini mungkin atau mungkin juga tidak
terkait kepercayaan kepada Tuhan, serta meyakini bahwa keinginan diri
sendiri ditentukan melalui hubungan harmonis dengan dimensi ini.
Agama mempunyai dimensi yang transenden yaitu bahwa dalam
agama terdapat pemujaan yang terkait dengan komunitas manusia tertentu,
menjelmakan hubungan praktis manusia dengan yang dalam bentuk hal-
hal yang suci di dunia sebagai penentu batas dari yang profan atau
ketidaksucian dengan yang sakral.
Upaya-upaya manusia untuk menafsirkan “yang transenden”
barangkali tidak dengan sendirinya menegaskan adanya “yang transenden”
sebagai substansi rahasia yang menjadi fondasi kenyataan entah itu subek
cogito, roh absolut, tabula rasa, atau pun ego transendental, tetapi jelas
bahwa munculnya penafsiran semacam ini menunjukkan bahwa manusia
memiliki kapasitas transendental. Dengan kata lain, adanya penafsiran ini
menunjukkan bahwa manusia mampu melampaui (transcend) apa yang
hadir sebagai fakta.
Pemahaman manusia adalah sejenis kapasitas transendental. Ketika
seorang penulis menulis sebuah karya dengan penanya, dia memahami apa
itu pena, buku, meja tempat dia menulis, dan pemahaman atas dirinya
sebagai seorang penulis. Aspek transendentalnya terletak pada kenyataan
bahwa pena, buku, atau pun meja yang hadir dalam indera-indera
sensorisnya sebagai kumpulan sensasi berupa warna, bentuk, kepadatan,
bau, atau pun keluasan itu tidak hadir dalam kesadarannya sebagai sensasi-
sensasi inderawi yang berserakan (chaotic), melainkan “melampaui”-nya
(transcend), yaitu sebagai “sesuatu” yang utuh, tertentu, dan dapat
digunakan.

18
Jika kita mengartikan transendensi sebagai “kemampuan untuk
melampaui”, kita juga akan menemukan bahwa transendensi memiliki
dimensi keterarahan. Merujuk kembali pada contoh di atas, mungkinnya
sang penulis memahami pena yang digunakannya sebagai sesuatu yang
utuh, tertentu dan dapat digunakan, adalah karena pemahaman dia bukan
hanya terarah pada sensasi- sensasi inderawi yang hadir dalam pikirannya,
tetapi juga terarah pada “yang bukan sensasi-sensasi inderawi” atau, lebih
tepatnya, pada yang “bukan-entitas” (non-entity). Dengan kata lain,
kapasitas yang mengarahkan pikirannya pada non- entitas memungkinkan
dia memahami sensasi-sensasi inderawi yang hadir kepadanya sebagai
“entitas” yang tertentu. Di sini, kita karenanya dapat mendefinisikan
fenomena transendensi lebih spesifik, yaitu sebagai keterarahan pada yang
bukan-entitas (non-entity), yang karena bukan-entitas, ia tidak dapat
didefinisikan.
Titik singgung pemikiran Immanuel Kant dan Martin Heidegger
dapat ditemukan dalam gagasan transendensi. Sebagaimana telah
disinggung, kata transendensi merujuk pada kemampuan manusia
“melampaui” (transcend) kenyataan faktual atau apa yang kita sebut
sebagai “kesan-kesan” inderawi (impressions). Baik Kant atau pun
Heidegger berusaha mengungkapkan gejala transendensi dengan
pendekatannya masing-masing. Kant mengemukakan gagasan
transendensinya dalam perspektif hubungan representatif subjek-objek;
objek dikenali oleh subjek ketika objek dalam wujudnya berupa kesan-
kesan (impressions) dihadirkan pada subjek untuk dideterminasi. Aspek
determinasi dalam proses representasi ini menurut Kant berciri
transendental, karena di dalamnya terdapat prinsip-prinsip normatif atau
keniscayaan (necessity) yang tidak memiliki sumbernya pada pengalaman
akan kesan-kesan, melainkan “melampaui”-nya (transcend). Heidegger
sementara itu membangun gagasan transendensinya dalam perspektif
pemahaman-Ada. Dia melakukan analisisnya dalam dua cara: analisis
eksistensial dan destruksi sejarah ontologi. Yang pertama berusaha

19
memeriksa fenomena ketersingkapan Ada (pemahaman Ada). Yang kedua
(destruksi) adalah sejenis pembacaan yang menelisik impuls-impuls
implisit dalam sebuah teks filosofis. Dengan pembacaan ini, Heidegger
memperlihatkan ketakterhindaran gagasan pemahaman Ada dalam teks
yang didestruksi dan, karenanya, analisis eksistensial menjadi sesuatu
yang tak terhindarkan juga.
“Kritik Rasio Murni” oleh Kant disebut juga filsafat transendental
di mana “transendental” berarti “tidak membicarakan objek” melainkan
“cara”. Dalam “Kritik Rasio Murni”, Kant tidak membicarakan “objek-
objek” pengetahuan (mis, organ-organ tubuh, struktur materi, gerak benda,
sifat-sifat cahaya, dan sebagainya) melainkan “cara” bagaimana objek-
objek tersebut “diketahui” oleh subjek. Menurut Kant, cara subjek
mengetahui objek adalah dengan merepresentasikannya. Representasi
terjadi melalui intuisi dan rasio dan pengetahuan adalah representasi
“sintetis” keduanya. Representasi intuisi adalah representasi data-data
pengalaman kepada subjek secara langsung (immediate representation)—
subjek berhubungan langsung dengan objek-objek pengalaman—
sementara representasi rasio adalah representasi determinatif atas data-data
yang dihadirkan intuisi untuk membentuk konsep-konsep—karenanya
disebut representasi tak langsung (mediate representation). Sintesis,
sementara itu, berarti momen diterapkannya konsep-konsep rasio pada
objek-objek yang diintuisi.
Filsafat transendental Kant sebagai penyelidikan terhadap “cara”
subjek mengetahui objek (modus pengetahuan subjek), dengan demikian,
menemukan arah penyelidikannya pada kemungkinan sintesis a priori.
Pemikiran Kant tentang sintesis a priori ini merupakan gagasan yang bisa
dikatakan cukup baru pada masanya karena dalam pemahaman tradisional,
sintesis selalu berarti a posteriori (setelah pengalaman atau hasil dari
pengalaman); bahwa semua konsep yang diterapkan pada pengalaman
(sintesis) adalah berasal dari pengalaman. Apa yang memungkinkan saya
memahami konsep batu, misalnya, dan menerapkan konsep tersebut dalam

20
pengalaman adalah karena saya sebelumnya telah terlatih atau terbiasa
mengalami (melihat dan merasakan) berbagai jenis batu. Semua konsep itu
berasal dari pengalaman, dan karenanya, tidak ada sintesis yang
mendahului pengalaman. Dalam pandangan ini, rasio ditempatkan sebagai
penerima data-data pengalaman (impressions) dan hanya berperan
merefleksikan data-data tersebut menjadi ide-ide atau konsep-konsep—
termasuk konsep kausalitas juga lebih merupakan refleksi rasio atas
pengalaman; bukan sesuatu yang “secara niscaya” terjadi dalam
pengalaman.
Transendensi bagi Kant adalah momen terbentuknya sintesis murni
(sintesis a priori), dan rasio murni adalah faktor esensial dalam proses
tersebut yang berfungsi menyuplai konsep-konsep murni sebagai aturan
determinasi pikiran.
Being and Time adalah karya utama Heidegger yang menandai
puncak karir pemikirannya. Di dalamnya Heidegger mengemukakan
analisis transendensinya dengan bertolak dari fenomena pemahaman atas
Ada (pemahaman ontologis), yang dia bedakan dari pemahaman atas
pengada (pemahaman ontis)—Heidegger menegaskan perbedaan antara
Ada dan pengada yang selanjutnya dia sebut “perbedaan ontologis”
(ontologische differenz). Jika saya memahami bahwa benda yang saya
pegang ini adalah palu maka itu berarti saya memahami palu tersebut
secara ontis sekaligus ontologis. Pemahaman ontis atas palu adalah
pemahaman terhadap ciri-ciri fisik atau material pada palu tersebut: warna,
bobot, bentuk, kehalusan atau ukuran. Sementara pemahaman ontologis
atas palu berarti saya memahami modus Ada (mode of Being) palu
tersebut; memahami Ada-nya. Modus-Ada palu yang saya pahami ini,
dalam perspektif Heidegger, didefinisikan berdasarkan keberfungsian palu
dalam suatu konteks referensial; yakni dalam hubungannya dengan
gergaji, kayu, paku yang semua itu memiliki referensi terakhir, yaitu,
pembuatan rumah saya dan pemenuhan diri saya sebagai si pembuat
rumah. Totalitas referensial inilah yang menjadikan palu Ada sebagai palu;

21
hanya dalamkonteks referensial, sebuah palu dapat meng-Ada (to-be)
sebagai palu. Tanpa totalitas tersebut palu tidak dapat dipahami sebagai
palu melainkan sebagai entitas homogen (tak terbedakan) yang sekadar
memiliki bentuk, warna, atau ukuran sebagaimana entitas-entitas lain.
Contoh yang serupa dapat dibuat, misalnya: kapur, penghapus, papan tulis,
dan seorang guru yang sedang menerangkan pelajaran.
Gagasan terpenting dari Heidegger tentang fenomena pemahaman
Ada adalah adanya entitas yang memahami Ada, yaitu, manusia.
Pemahaman Ada oleh manusia menunjukkan bahwa Ada itu tersingkap
pada manusia, atau, manusia tersingkap pada Ada. Terkadang Heidegger
mengilustrasikan ketersingkapan Ada ini sebagai peristiwa penyinaran
(lichtung) di mana Ada menyinari manusia dan dengan sinar itu manusia
menyinari entitas-entitas lain. Dalam ketersingkapan Ada inilah manusia
dapat memahami Ada-dirinya dan Ada-nya entitas-entitas lain.Dalam
Being and Time, Heidegger menyebut pemahaman Ada sebagai
transendensi atau eksistensi yang keduanya memiliki arti sama atau
setidaknya berdekatan, yaitu, “melampaui”. Pemahaman Ada atau
ketersingkapan Ada adalah momen transendensi karena dalam pemahaman
Ada, Dasein seolah seolah-olah “melampaui” dimensi ontis dari pengada-
pengada untuk memahami Ada-nya. Sebagaimana sudah dikatakan, Ada
selalu berarti Ada-nya sesuatu (Being of beings) atau cara Ada sesuatu
(way of Being of beings) sehingga kenyataan kita (Dasein) memahami Ada
berarti dia pada saat yang sama memahami cara Ada entitas-entitas,
termasuk cara Ada dirinya sebagai entitas yang memahami Ada.

22
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manusia Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup
misterius.manusia mampu berpikir dan berefleksi tentang eksistensi diri
dan dunianya.pemahaman kita akhirnya sampai pada suatu keyakinan
bahwa sekurang-kurangnya terdapat empat petunjuk atau potensiyang
ada dalam diri manusia yang bisa membawa manusia mencapai
pengenalan akan Allah yaitu:
 akal budi manusia bisa sampai pada pengenalan akan
Allah.manusia dapat mengakui bahwa Allah itu ada.
 Pengalaman Religius Berkenaan dengan Peristiwa dan Kejadian
dalam Kehidupan Manusia Peristiwa seperti keberhasilan dan
kegagalan, sakit dan sembuh, kecelakaan dan selamat, kelahiran
dan kematian, penjajahan dan pembebasan, perang, dan
perdamaian merupakan peristiwa biasa dan dapat tidak dipahami
sebagai pengalaman religius.
 Hati Nurani (John Henry Newman) Adalah instansi dalam diri
kita yang memerintahkan untuk melakukan perbuatan baik.
Perbuatan baik diganjar rasa damai dan tenang (good
sconscience). Perbuatan jahat diganjar dengan kerisauan batin.
 Dinamika Kehendak (Maurice Blondel) Manusia adalah
makhluk berakal budi dan berkehendak bebas. Manusia adalah
makhluk yang punya kemampuan untuk memaui dan
menghendaki. Untuk mencapai apa yang dimaui atau yang di
kehendaki itu, manusia melakukan tindakan.

Manusia memiliki kehendak untuk mencapai tujuan hidupnya yang


adalah kebahagiaan,dimana kebahagian sejati itu adalah Allah sendiri.pada
hakekatnya setiap manusia mencari Allah,karena hanya Allah sja yang
mampu memberi kebahagiaan sejati seaba Allah itulah kebahagiaan

23
sejati.itu terjadi karena Allah/yang Transenden itu menawarkan diri atau
menyatakan diri kepada manusia.Dengan memahami keberadaan manusia
secara tepat,kehidpuan beragama yang salah satunya bertujuan
membangun manusia menjadi religius dan humanis,akan
tercapai.Transenden (Inggris: transcendent; Latin: transcendere)
merupakan cara berpikir tentang hal-hal yang melampaui apa yang terlihat,
yang dapat ditemukan di alam semesta. Contohnya, pemikiran yang
mempelajari sifat Tuhan yang dianggap begitu jauh, berjarak dan mustahil
dipahami manusia.
Etimologis Transenden terdiri dari dua kata: kata "trans" yang
berarti seberang, melampaui, atas, dan kata "scandere" yang berarti
memanjat. Istilah ini bersama-sama dengan bentuk-bentuk lain seperti
"transendental", "transendensi", dan "transendentalisme", digunakan
dengan sejumlah cara, dan dengan sejumlah penafsiran tersendiri dalam
sejarah filsafat. Beberapa pengertian dari transenden adalah: lebih unggul,
agung, melampaui, superlatif, melampaui pengalaman manusia,
berhubungan dengan apa yang selamanya melampaui pemahaman
terhadap pangalaman biasa dan penjelasan ilmiah.
Para filsuf yang memiliki ide transenden tentang Tuhan dimulai
dari Pythagoras, Plato, Philo Judaeus yang mengatakan bahwa Allah yang
transenden memiliki sifat bertolak belakang dengan Allah yang imanen
seperti diyakini oleh Stoikisme dan Panteisme. Immanuel Kant juga
pernah memakai istilah ini untuk menggambarkan adanya unsur a priori
yang memberikan inspirasi gagasan kepada manusia untuk berpikir
tentang dunia yang supratemporal.Dalam arti inilah Kant menggunakan
istilah "estetika transendetal" dan "logika transendetal."
Menurut Rudolf Otto, sewaktu mengalami yang transenden,
manusia mengalami dua perasaan yang bertentangan. Di satu sisi manusia
merasa sangat tertarik karena pesona fascinosum, namun di sisi lain ia
merasakan gemetar dan ketakutan karena yang transenden itu tremendum,
yaitu memiliki daya pemaksaan dan menakutkan. Sewaktu mengalami

24
yang transenden itu, manusia akan lupa siapa dirinya terhanyut pada yang
transenden dan menikmati perjumpaan dengannya. Istilah Tuhan yang
transenden artinya Tuhan melampaui dunia ini, hal ini berseberangan
dengan keyakinan tentang Tuhan yang berada dalam realitas dunia ini
yang disebutimanen.Namun, beberapa pemikir kemudian
mengkombinasikan pemikiran Tuhan yang transenden sekaligus imanen,
Tuhan ada di dunia ini sekaligus melampaui dunia ini.
Frans Magnis Suseno menguraikan relasi Tuhan yang transenden
itu dengan dunia. Yang pertama, hubungannya memang bersifat
transenden, artinya eksistensinya tidak bergantung pada dunia karena ia
tak terbatas dan tak terhingga. Namun, yang ilahi dan transenden itu
sekaligus juga imanen, artinya ia meresapi apa pun yang ada, tak ada
tempat di dunia ini di mana yang ilahi tidak hadir di situ. Hal ini berarti,
yang ilahi dibedakan dari dunia bukan seperti dua benda, atau dua objek,
dibedakan satu dari yang lain. Dunia yang terbatas ini memang
bergantung pada ilahi yang tak terbatas sehingga Allah menjadi
penunjang adanya dunia. Dalam bahasa sederhana: Tuhan itu, sebagai
yang transenden, dimana-mana tidak ada, dan sekaligus yang imanen, di
mana-mana ada.

25
Daftar Pustaka

 Nugrohadi,G.Edwi;Adisetyanto,A.Suyono;Yuniarto,Antonius;Harijono,H.
A.Budi; Subagya, A. Untung; A.W. Susmono. 2013. Menjadi Pribadi
Religius dan Humanis Edisi Kedua Cetakan Pertama .Yogyakarta: Graha
Ilmu.
 J. Elwood, douglas. 2006 .Teologi Kristen Asia Cetakan ke-5 .Jakarta:
BPK Gunung Mulia.
 Antonius Atosokhi Gea, Noor Rachmat, dan Antonina Panca Yuni
Wulandari. 2005 . Relasi dengan Tuhan Cetakan Ketiga. Jakarta: PT. Elex
Media Komputindo

26