Anda di halaman 1dari 3

Serangga dapat sukses hidup di Bumi karena didukung dengan memiliki ukuran

tubuhnya yang relatif kecil, panjangnya berkisar antara 0,25-330 mm dan bentang sayapnya
0,5-300 mm. Ukuran serangga yang kecil memungkinkan serangga hidup ditempat-tempat
yang tidak dapat ditempati oleh hewan-hewan yang lebih besar. Kemampuan serangga yang
tinggi dalam berkembangbiak dan menghasilkan keturunan yang banyak. Serangga telah
hidup di bumi kira-kira 350 juta tahun. Selama kurun ini serangga telah mengalami
perubahan evolusi dan menyesuaikan kehidupan pada hampir setiap tipe habitat. Serangga
memiliki bagian dalamnya diluar karena rangka mereka ada di luar, atau berkonstruksi
terbalik karena urat syaraf mereka membentang sepanjang bagian bawah tubuh, dan
jantungnya terletak diatas saluran pencernaan. Serangga bernafas melalui sejumlah lubang
kecil di dalam dinding tubuh, semuanya di belakang kepala dan udara masuk ke lubang-
lubang yang tersebar keseluruh tubuh dan secara langsung ke jaringan-jaringan melalui
buluh-buluh bercabang-cabang kecil yang banyak. Serangga membau dengan menggunakan
antena, beberapa serangga merasa dengan tungkai mereka, dan beberapa mendengar dengan
organ-organ yang khusus pada perut, tungkai-tungkai bagian depan atau antenna.
Evolusi merupakan serangkaian proses perubahan yang terjadi pada makhluk hidup
yang berlangsung dalam beberapa tahapan tertentu dalam waktu yang cukup lama, sebingga
menghasilkan sebuah bentuk kehidupan. Kemungkinan tidak ada bentuk akhir dari sebuah
kehidupan, karena pada dasarnya proses tersebut masih terus berjalan. Perubahan-perubahan
yang terjadi tersebut dititikberatkan pada perubahan dati sifat-sifat yang terwariskan dari satu
generasi ke generasi-generasi berikutnya yang disebabkan oleh kombinasi dari tiga faktor
utama, yaitu variasi, reproduksi dan seleksi (Arbi, 2012).
Entomologi adalah ilmu tentang serangga. Dalam mempelajari keberadaan dan peran serangga di
bumi sebagai organisme interaktif, para entomologist mengacu kepada 6 (enam) seminal konsep
dalam biologi. Konsep yang diacu ini diawali dengan konsep klasifikasi yang dikembangkan
oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1758, kemudian diikuti dengan spesiasi, genetika, ekologi, zoogeografi, dan
biologi molekuler. Keenam konsep ini mendasari perkembangan cara berpikir, pemahaman, penelitian,
tindakan, serta apa yang akan terjadi padamasa yang akan datang agar manusia dapat tetap hidup
bersamaserangga di bumi (Metcalf, 1991). Secara berurutan seminal konsep yang dimaksud adalah
sebagai berikut:
Carolus Linnaeus (1758 ) – System Naturae. Sistem dua nama, atau binomial yang dikembangkan
oleh Linnaeus dasar dari semua system klasifikasi yang ada. System ini secara nyata mampu
menempatkan serangga sebagai organisme yang paling beragam di bumi.
Charles Darwin (1859) – Asal Usul Spesies. Teori Darwin ini dapatmenjelaskan diversifikasi
serangga, bagaimana serangga melakukanpemilihan inang, serta salah satu yang terpenting adalah teori yang
mendasari kemampuan serangga beradaptasi untuk tetap survive terhadap berbagai tekanan faktor
lingkungan
Gregor Mendel (1866) – Genetika. Ini merupakan dasar ilmu genetika modern. Ilmu genetika
(modern) ini mampu memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap kelemahan Teori Darwin yang tidak
mampu menjelaskan mekanisme terjadinya seleksi alami, bagaimana variasi yang ada dapat diturunkan ke
generasi selanjutnya.
Stephen Forbes (1880) – Ekologi. Interaksi antarorganisme, rantai makanan, teori ini terbukti amat
berguna bagi pengembangan konsep Pengelolaan Hama Terpadu, terutama setelah cara pemberantasan hama
dengan menggunakan insektisida banyak mengalami kegagalan.
Alfred Wegener (1912) – Lempeng Tektonik. Pemahaman tentang evolusi serangga dan terutama
distribusinya di berbagai belahan dunia (zoogeografi) makin dapat dipahami setelah teori ini dapat
menjelaskan pemisahan lempeng benua dalam kisaran 200 juta tahun terakhir. Teori ini penting sekali dalam
memahami distribusi tanaman dan tumbuhan, dalam arti pembentukan daratan dan lautan, pembentukan
pegunungan, termasuk gunung api, yang semuanya memberikan isolasi geografis yang mencegah terjadinya
pertukaran materi genetik diantara populasi dan membuat terjadinya spesies baru.
James Watson dan Francis Crick (1953) – DNA. Pemahaman tentang struktur DNA merupakan cikal
bakal pemahaman baru tentang biologi. Pengetahuan ini semakin menambah pengetahuan bagaimana
serangga memiliki daya adaptasi tinggi terhadap tekanan lingkungan yang diwariskan dari generasi ke
generasi melalui materi genetic DNA.
Terjadinya proses evolusi ditunjukkan dengan berbagai bukti antara lain dari
perbandingan anatomi, perbandingan embriologi, perbandingan fisiologi, petunjuk secara
biokimia (Fitz et al., 2007), petunjuk adanya domestikasi, petunjuk dari alat tubuh yang
tersisa, serta petunjuk paleontologi. Berbagai bukti tersebut, menghasiIkan bentuk akhir dari
makhluk hidup yang berbeda-beda baik dari asesoris tubuh yang dimiliki, fungsi masing-
masing asesoris tubuh tersebut, maupun sifat-sifat dari makhuk hidup yang bersangkutan
(Yockey, 2005). Bukti evolusi pada serangga dapat berupa fosil yang dapat diartikan sisa-sisa
atau bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau mineral yang tertutup oleh sedimen. Fosil
terbentuk dari proses penghancuran peninggalan organisme yang pemah hid up. Hal ini
sering terjadi ketika tumbuhan atau hewan yang terkubur dalam kondisi lingkungan yang
bebas oksigen (Yochelson & Webers, 2006).
Arbi, U. Y. 2012. Sejarah Bukti Evolusi Pada Gatropoda. Oceana Vol. XXXVII(2): 41-51
Fitz, D., H. Reinnerand and B.M. Rode. 2007. Chemical evolution toward the origin oflife.
Pure Appl. Chern.Vol. 79(12) :2101-2117.
Metcalf, R. 1991. Intoduction to the Symposium “Entomology Serving Society: Emerging Technology
and Challenges” : In: S. B. Vinson and R. Metcalf (eds.) Entomological Society of
America, Lanham,Maryland, USA.
Yochelson, E. L and U. F. Webers. 2006. A restudy of the Late Cambrian molluscan fauna of
Berkey (1898) from Taylors Falls, Minnesota. Minnesota Geological Survey Report
of Investigations 64: 60p.
Yockey, H. P. 2005. Information Theory, Evolution and the Origin of Life. Cambridge
University Press., New York.