Anda di halaman 1dari 19

A.

Judul Penelitian
”Penggunaan Model Siklus Belajar untuk meningkatkan pemahaman
konsep dan keterampilan proses siswa pada bahasan elektrolisis di kelas
XII IPA 4 SMA Negeri 16 Bandung”

B. Mata Pelajaran dan Bidang Kajian


Kimia, bahasan elektrolisis kelas XII IPA

C. Pendahuluan
Selama ini, setelah selesai satu proses belajar mengajar berlangsung, yang
ditindaklanjuti dengan evaluasinya dan diperoleh nilai siswa di bawah SKBM
(Standar Ketuntasan Belajar Minimal). Sebagai contoh di SMA Negeri 16
Bandung, dari 4 kelas 3 IPA yang penulis ajar, rata-rata kelas untuk ulangan
harian topik khususnya elektrolisis terendah 52,91 dan tertinggi 55,80 (data
terlampir). Sebagian besar siswa lebih dari 50 % memiliki nilai di bawah
SKBM (rata-rata 61 % nilai topik elektrolisis siswa di bawah SKBM), padahal
metoda yang dilakukan guru sedemikian rupa agar memotivasi siswa, yaitu
dengan metode eksperimen. Pada keadaan seperti ini guru sering menyalahkan
siswa yang lambat pemahaman, kurang perhatian dan lain sebagainya. Padahal
kita belum menganalisis permasalahan sebenarnya dengan sabar, jujur dan
terbuka atas kekurangan terhadap proses tadi hingga hasil evaluasinya
rendah.

Permasalahan di atas mungkin tidak hanya terjadi pada penulis seorang


bahkan menjadi permasalahan semua pengajar selama ini, hingga kita
memperoleh kenyataan pendidikan di Indonesia masih rendah mutunya.
Padahal sumber daya baik guru maupun siswanya sudah bagus bahkan
cenderung berkualitas tinggi (hasil penyeleksian ketat). Permasalahan tadi
selama ini mengendap, tidak kita sentuh sehingga bertumpuk menjadi
permasalahan besar “Rendahnya mutu pendidikan Nasional”.

1
Penulis sebagai seorang pengajar kimia, selama ini setelah selesai
melaksanakan proses belajar mengajar kimia, khususnya topik elektrolisis
memperoleh kenyataan masih banyak siswa yang tidak dapat menjelaskan
proses elektrolisis yang terjadi di katode dan anode serta hasil yang diperoleh
dari masing-masing ruang. Padahal sebagai seorang profesional, guru
mempunyai peran sebagai peneliti, dituntut selalu mengetahui kekuatan-
kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam pekerjaannya
sehari-hari (SP, Sukartini, 2006: 4). Hal ini dipertegas oleh Tita Lestari (2006 ;
2-3), yang menyatakan bahwa fokus permasalahan pada proses pembelajaran,
seperti berkenaan dengan penampilan guru itu sendiri, siswa, suasana kelas,
motivasi, komunikasi, penalaran, aktivitas, kemampuan pemecahan masalah,
aplikasi konsep, lingkungan, fasilitas, media, materi, evaluasi ataupun
metodologi.

Dengan kenyataan tersebut di atas, maka perlu rasanya penulis sebagai


seorang guru untuk sesegera mungkin mencari pemecahan masalah dalam
menuntaskan permasalahan masih rendahnya pemahaman siswa pada konsep
elektrolisis melalui penelitian tindakan kelas (PTK).

D. Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah


Perumusan Masalah
Dengan merujuk pada latar belakang di atas, maka rmasalah yang akan diteliti
dapat dirumuskan sebagai berikut. “Apakah model pembelajaran siklus belajar
dapat meningkatkan permahaman konsep dan keterampilan proses siswa pada
topik elektrolisis di Kelas XII IPA SMA Negeri 16 Bandung”.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, pertanyaan penelitian yang dapat
diajukan adalah :
1. Apakah model pembelajaran Siklus Belajar dapat meningkatkan
pemahaman konsep siswa pada topik elektrolisis ?
2. Keterampilan-keterampilan proses IPA apakah yang dapat dipelajari/
dikembangkan melalui model pembelajaran Siklus Belajar ?

2
3. Apakah ada kendala-kendala dalam menggunakan model pembelajaran
Siklus Belajar pada topik elektrolisis ?

Pemecahan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah siswa, permasalahan dalam topik elektrolisis
diantaranya adalah rendahnya penguasaan konsep dan penerapannya, serta
siswa kurang terampil dalam mengumpulkan data hasil percobaan. Penulis
akan mencoba menggunakan model pembelajaran Siklus Belajar dengan
metode ekperimen dan tanya jawab. Penggunaan model siklus belajar
diduga dapat meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan proses
siswa, karena dalam model pembelajaran tersebut siswa dikondisikan melalui
3 fase yaitu :
a. Fase eksplorasi, pada fase ini siswa dengan berbekal pengetahuan yang
telah dimilikinya menggali informasi / mengobservasi, memahami
fenomena alam baik melalui pengamatan (percobaan) maupun buku
bacaan serta mengkomunikasikannya kepada orang lain.
b. Fase pengenalan konsep, guru mengontrol langsung pengembangan
konsep yang dilakukan siswa dan membantu dalam mengidentifikasi
konsep serta menghubungkan antar konsep yang telah mereka dapat. Guru
berperan sebagai tutor dan pembimbing yang menjawab dan memberikan
arah pada ketika dalam keraguan tentang informasi yang mereka dapat.
c. Fase aplikasi konsep, siswa melakukan kegiatan menerapkan konsep
elektrolisis dalam konteks kehidupan sehari-hari atau disiplin ilmu lain
dan selajutnya menerapkan konsep tersebut dalam situasi baru, siswa
diberi pertanyaan untuk mengkondisikan agar siswa mampu menerapkan
hasil belajarnya dalam masalah kehidupan sehari-hari yang mungkin
ditemui mereka.
Untuk mengetahui keberhasilan penelitian ini, indikator-indikator yang akan
diukur adalah :
a. Meningkatnya penguasaan konsep elektrolisis siswa, cara mengukurnya
dengan pre tes dan post tes.

3
b. Siswa mampu menyimpulkan hasil percobaan, cara mengukurnya melalui
penilaian proses dan produk (hasil). Pada penilaian proses, siswa
diobservasi apakah dapat mengidentifikasi variabel, mencatat pengamatan,
menginterpretasikan data percobaan. Pada penilaian produk, laporan siswa
dinilai sesuai kriteria yang ditentukan.
c. Keterlaksanaan PBM, dinilai dengan indikator tuntasnya fase-fase
pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran siklus belajar.

E. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan tujuan ;
1. Mengetahui pemahaman konsep siswa dengan menggunakan model
pembelajaran Siklus Belajar.
2. Mengetahui jenis-jenis keterampilan proses.
3. Mengetahui kendala-kendala keterlaksanaan pembelajaran kimia pada
topik elektrolisis dengan model Siklus Belajar.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah ;
1. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan menulis dalam melakukan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
2. Menciptakan sistem pembelajaran yang lebih menarik bagi guru.
3. Meningkatkan profesionalisme guru.
4. Memberikan informasi pada rekan-rekan guru kimia dalam menggunakan
model pembelajaran Siklus Belajar pada topik elektrolisis.

G. Kajian Pustaka
Konstrustivisme
Menurut pandangan konstruktivisme pengetahuan yang dimiliki oleh setiap
individu adalah hasil konstruksi secara aktif dari individu itu sendiri. Individu
tidak sekedar mengimitasi dan membentuk bayangan dari apa yang diamati
atau diajarkan guru, tetapi secara aktif individu itu menyeleksi, menyaring,

4
memberi arti dan menguji kebenaran atas informasi yang diterimanya
(Indrawati, 2000 : 34).
Pengetahuan yang dikonstruksi individu merupakan hasil interpretasi yang
bersangkutan terhadap peristiwa atau informasi yang diterimanya. Para
pendukung kontruktivisme berpendapat bahwa pengertian yang dibangun
setiap individu siswa*) dapat berbeda dari apa yang diajarkan guru (Bodner,
(1987) dalam Indrawati, 2000 : 34). Lain halnya dengan Paul Suparno (1997 :
6) mengemukakan bahwa menurut konstruktivis, belajar itu merupakan proses
aktif pembelajar mengkonstruksi arti (teks, dialog, pengalaman fisis, dan lain-
lain). Belajar juga merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan
pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah
dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan (Indrawati, 2000 :
34).
Oleh karena itu pada proses belajar konstruktivisme memiliki ciri :
1. Belajar berarti membentuk makna.
2. Konstruksi artinya adalah proses yang terus menerus.
3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta melainkan lebih dari itu,
yaitu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian baru.
4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam
keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi
ketidakseimbangan adalah situasi yang baik untuk memacu belajar.
5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman pembelajar dengan dunia fisik
lingkungannya.
6. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si
pembelajar (konsep, tujuan, motivasi) yang mempengaruhi interaksi
dengan bahan yang pelajari (Paul Suparno, 1997 : 61) dalam Indrawati,
2000 : 34-35)
Dengan memahami pandangan konstruktivisme, maka karakteristik iklim
pembelajaran yang sesuai adalah :

5
 Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif, melainkan individu
yang memiliki tujuan serta dapat merespon situasi pembelajaran
berdasarkan konsepsi awal yang dimilikinya.
 Guru hendaknya melibatkan proses aktif dalam pembelajaran yang
memungkinkan siswa mengkonstruksi pengetahuannya.
 Pengetahuan bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan melalui
seleksi secara personal dan sosial.
Iklim pembelajaran di atas menuntut para guru untuk :
a. Mengetahui dan mempertimbangkan pengetahuan awal siswa
(apersepsi),
b. Melibatkan siswa dalam kegiatan aktif (student centere),
c. Memperhatikan interaksi sosial dengan melibatkan siswa dalam
diskusi kelas maupun kelompok.

Model Siklus Belajar


Salah satu model yang berdasarkan pandangan konstruktivisme adalah Model
Siklus Belajar (Model Learning Cycle). Model pembelajaran ini
dikembangkan oleh Karplus dalam proyek Science Curriculum Improvement
Study.
Model Siklus Belajar (Model Learning Cycle) memiliki tiga (3) fase sebagai
sintak pembelajarannya, yaitu sebagai berikut :

EKPLORASI

PENGENALAN KONSEP

APLIKASI KONSEP

6
1. Fase eksplorasi, pada fase ini siswa dengan berbekal pengetahuan yang telah
dimilikinya menggali informasi / mengobservasi, memahami fenomena alam
baik melalui pengamatan (percobaan) maupun buku bacaan serta
mengkomunikasikannya kepada orang lain.
2. Fase pengenalan konsep, guru mengontrol langsung pengembangan konsep
yang dilakukan siswa dan membantu dalam mengidentifikasi konsep serta
menghubungkan antar konsep yang telah mereka dapat. Guru berperan sebagai
tutor dan pembimbing yang menjawab dan memberikan arah pada ketika dalam
keraguan tentang informasi yang mereka dapat.
3. Fase aplikasi konsep, siswa melakukan kegiatan menerapkan konsep
elektrolisis dalam konteks kehidupan sehari-hari atau disiplin ilmu lain dan
selajutnya menerapkan konsep tersebut dalam situasi baru, siswa diberi
pertanyaan untuk mengkondisikan agar siswa mampu menerapkan hasil
belajarnya dalam masalah kehidupan sehari-hari yang mungkin ditemui mereka.

Keterampilan Proses
Dalam buku Pedoman Proses Belajar-mengajar sebagai salah satu bagian dari
petunjuk Kurikulum yang disempurnakan (1986) dinyatakan bahwa
keterampilan proses meliputi keterampilan intelektual, sosial dan fisik.
Kemampuan ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari sikap ingin
tahu pada setiap anak (manusia).
Dengan menggunakan keterampilan proses akhirnya akan terjadi interaksi
antara konsep/prinsip/teori yang telah ditemukan atau dikembangkan dengan
pengembangan keterampilan itu sendiri. Di sekolah keterampilan proses
umumnya digunakan untuk menguji konsep yang telah ada atau verifikasi
saja. Dengan adanya interaksi tersebut akan timbul sikap dan nilai yang
diperlukan dalam penemuan ilmu pengetahuan. Nilai itu meliputi : teliti,
kreatif, tekun, tenggang rasa, bertanggung jawab, kritis, objektif, rajin, jujur,
terbuka dan berdisiplin.

7
H, James Funk (1979) membagi keterampilan proses ini dalam dua tingkatan
yaitu keterampilan proses tingkat dasar (Basic Science Process Skill) dan
keterampilan proses terpadu (Intregrated Science Process Skill).
Keterampilan proses tingkat dasar meliputi ; keterampilan observasi,
klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, dan ”inference”. Sedangkan
keterampilan proses terpadu meliputi : menentukan variabel, menyusun tabel
data, menyusun grafik, memberi hubungan variabel, memproses data,
menganalisis penyelidikan, menyusun hipotesis, menentukan variabel secara
operasional, merencanakan penyelidikan, dan melakukan eksprimen.
Keterampilan proses tingkat dasar ini diperuntukkan kepada siswa tingkat
dasar. Sedangkan keterampilan proses terpadu ditujukan kepada siswa dengan
tingkat lebih tinggi yang dapat digunakan untuk merencanakan dan
mengontrol penyelidikan ilmiah, yang biasa digunakan para ilmuwan.

Media Pembelajaran
Agar penyampaian materi pelajaran dapat diterima dengan baik serta menarik
bagi peserta pendidikkan dan pelatihan, maka penyampaian pelajaran tidak
cukup hanya dengan memanfaatkan pendengaran saja, yaitu penyampaian
metode ceramah saja ataupun ataupun kalimat-kalimat verbal saja. Tetapi
sebaiknya juga memanfaatkan alat peragayang bisa dinikmati oleh indera
penglihata. (Piran Wiroatmodjo, 2002 : 1)

Lebih lajut dalam bukunya Piran Wiroatmodjo, menjelaskan berdasarkan


penyelidikan bahwa daya serap masing-masing indera manusia itu berbeda-
beda, seperti digambarkan di bawah ini :

8
Gambar 2.1

Dari diagram di atas jelas peran masing-masing indera manusia (peserta didik)
yang akan membantu mereka dalam belajar. Dimana kemampuan terbesar dalam
penerimaan pesan adalah melalui media penglihatan, dari hal tersebut dapat kita
simpulkan jika penyampaian materi pelajaran lebih banyak menggunakan
penglihatan akan diperoleh hasil paling tinggi dan seandainya dapat
menggabungkan indera penglihatan dengan pendengaran maka hasil terbaik dapat
kita capai dengan lebih maksimal.
Banyak batasan yang diberikan orang berkenaan dengan media diantaranya :
a. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen
dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.
b. Briggs (1970), berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat
menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
c. National Education Association/NEA berpendapat bahwa media adalah
bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta
peralatannya (media hendaknya dapat dimanipulasi, dilihat, didengar dan
dibaca).
d. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education
and Communication Technology/AECT) di Amerika membatasi yang
dimaksud dengan media yaitu segala bentuk dan saluran yang digunakan
orang untuk menyalurkan pesan/informasi.
Masih banyak lagi pendapat para ilmuwan lain mengenai media ini, tetapi
semua bermuara pada informasi/pesan yang disampaikan kepada

9
seseorang/peserta didik. Dan sejalan dengan perkembangannya media ini, telah
mencapai pada alat berbentuk Audio Visual dengan nama Audio Visual Aids
(AVA).

Materi Elektrolisis Kelas XII IPA Semesnter 1


Arus listrik dapat bersumber dari sel volta (hasil reaksi redoks), misalnya
baterai atau aki. Namum arus listrik juga dapat menyebabkan berlangsungnya
suatu reaksi redoks. Ilmuwan Inggris, Michael Faraday, mengalirkan arus listrik
(baterai atau aki dari sel volta) ke dalam larutan elektrolit ternyata dalam larutan
tersebut terjadi reaksi kimia. Rangkaian alat yang menunjukkan terjadinya reaksi
kimia akibat dialirkannya arus listrik tersebut dinamakan sel elektrolisis.
Untuk dapat menuliskan reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada suatu sel
elektrolisis, perlu memahami ketentuan-ketentuan reaksi elektrolisis.
Terdapat tiga (3) kelompok sel elektrolisis, yaitu sel dengan elektrolit larutan dan
elektroda tidak reaktif, sel dengan elektrolit larutan dan elektrode reaktif serta sel
dengan elektrolit lelehan dan elektrode tidak reaktif.
a. Sel dengan elektrolit larutan dan elektrode tidak reaktif
Dalam sel ini tidak terdapat pengaruh dari elektrode, tetapi karena dalam
larutan terdapat air, harus tetap diperhatikan kemungkinan pelarut (air)
mengalami reaksi redoks.
Reaksi pada katode
Pada katode berkumpul kation-kation logam yang mungkin mengalami
reaksi reduksi sehingga berlaku ketentuan untuk kation.
1) Sebagian besar kation logam transisi memiliki potensial reduksi lebih
positif dari H2O (Cu2+, Hg2+, Ag+, Pt3+ dan Au3+) dan langsung
direduksi menghasilkan endapan logam transisi di katode.
( Katode Cu2+(aq) + 2e-  Cu(s) )
2) Sedangkan golongan utama umumnya memiliki potensial reduksi lebih
negatif dari H2O sehingga tidak mengalami reduksi, dan yang
direduksi adalah H2O menghasilkan gas H2 dan anion OH- sehingga
suasana di katode bersifat basa.

10
( Katode 2 H2O + 2 e-  H2(g) + 2 OH-(aq) ).
Reaksi pada anode
Pada anode, terjadi reaksi oksidasi anion. Anion merupakan sisa asam
yang terbagi menjadi 2 jenis, yaitu ;
1). anion yang tidak mengandung oksigen seperti F-, Cl-, Br-, dan I-, anion
jenis ini akan langsung dioksidasi hingga menghasilkan F 2, Cl2, Br2
dan I2 karena memiliki nilai potensial reduksi lebih negatif atau
potensial oksidasi lebih positif.
( Anode 2 F-(aq)  F2(g) + 2e- )
2). anion yang mengandung oksigen seperti ; SO42-, NO3-, CO32- dll, anion
jenis ini cenderung lebih sukar dioksidasi dibandingkan dengan H2O
karena memiliki potensial reduksi lebih besar dari H2O atau potensial
oksidasi lebih negatif sehingga yang dioksidasi adalah H2O
menghasilkan gas O2 dan kation H+
( Anode 2 H2O(l)  ½ O2(g) + 2 H+(aq) )
b. Sel dengan elektrolit larutan dan elektrode reaktif
Elektrode yang bereaksi (elektrode reaktif) adalah elektrode yang turut
bereaksi dan hanya terjadi pada anode (reaksi oksidasi).
Contoh jenis-jenis elektrode reaktif adalah Cu, Ni, Zn, Ag, Fe dan Pb.
Rekasi pada katode
Ketentuan kation logam yang direduksi pada katode sama dengan
keterangan di atas, yaitu golongan transisi secara umum direduksi
langsung menjadi endapan logam transisi, sedangkan golongan utama
tidak direduksi dan sebagai gantinya H2O yang direduksi menghasilkan
gas H2 dan anion OH- sehingga suasana di katoda menjadi basa (dapat
diukur dengan kertas lakmus/ indikator universal).
Reaksi pada anode
Pada sel ini, anode langsung dioksidasi menjadi larutannya. Anionnya
tidak perlu diperhatikan karena tidak akan mengalami reaksi.
Contoh :
Tuliskan persamaan reaksi elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektrode Ag

11
CuSO4 (aq)  Cu2+ (aq) + SO42- (aq)
Katode Cu2+ (aq) + 2e-  Cu (s) x1
Anode Ag (s)  Ag+ (aq) + e x2
Katode Cu2+ (aq) + 2e-  Cu (s)
Anode 2 Ag (s)  2 Ag+ (aq)+ 2e
CuSO4 (aq) + 2 Ag (s)  Cu(s) + 2Ag(s) + SO42-(aq)
Katode Anode
c. Sel dengan elektrolit lelehan
Umumnya sel dengan elektrolit lelehan menggunakan elektrode yang tidak
reaktif yaitu platina (Pt) dan karbon (C).
Sel dengan elektrolit berbentuk lelehan tidak mengandung pelarut (air),
hanya terdapat kation dan anion. Kation langsung direduksi dan anion
langsung dioksidasi. Hal ini berlaku pada kation logam golongan utama
dan logam golongan transisi. Begitu pula dengan anion, berlaku untuk
anion yang tidak mengandung oksigen dan anion yang mengandung
oksigen.
Contoh : Tuliskan reaksi elektrolisis lelehan garam KCl dan cairan garam
CuO
KCl (l)  K+ + Cl- x2 CuO  Cu2+ + O2- x2
Katode K+ + e-  K x2 Katode Cu2++2e- Cu x2
Anode 2 Cl-  Cl2 + 2e- x1 Anode 2 O2-  O2 + 4e- x1

2K++2e-  K x2 2 Cu2++4e- 2 Cu
2 Cl-  Cl2 + 2e- x1 2 O2-  O2 + 4e-

2 KCl  2 K(s)+ Cl2(g) 2 CuO  2Cu(s) + O2(g)

H. Prosedur Penelitian
1. Tempat Penelitian : Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 16
Bandung Kelas XII IPA 4 pada bulan September
2006 s.d. Desember 2006.
2. Subjek Penelitian : Siswa-siswi SMA Negeri 16 Bandung Kelas XII
IPA 4.
3. Variabel/Fokus Penelitian

12
 Pemahaman konsep dan keterampilan proses siswa dalam bahasan
elektrolisis hingga mampu mengaplikasikan pada elektrolisis larutan
lainnya (variabel terikat).
 Model Siklus Belajar sebagai model mengajar yang ditawarkan agar
pemahaman konsep dan keterampilan proses siswa hasilnya bagus
hingga setiap siswa mampu mengaplikasikan hasil belajarnya dengan
masalah baru (variabel bebas).
4. Rencana Tindakan :

Siklus 1
Refleksi Awal / Perencanaan Tindakan I
Permasalahan

Pengamatan/Evaluasi I
Refleksi I

Siklus 2
Permasalahan
Permasalahan baru
baru Perencanaan Tindakan II
Perencanaan Tindakan
Hasil
Hasil Refleksi
Refleksi II

Pengamatan/Evaluasi II

Refleksi II

Bila permasalahan belum Lanjutkan ke Siklus


terselesaikan Hasil Berikutnya
Refleksi II

Setiap siklus terdiri dari 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3)


pengamatan, dan 4) refleksi serta perencanaan kembali. Yang diuraikan dalam
siklus hanya bagian yang dimodifikasi melalui action research, bukan seluruh
proses pembelajaran (Tita Lestari, 2006 : 19). Jumlah siklus yang dilakukan dapat

13
satu putaran, dua putaran dan seterusnya.... sampai permasalahan yang dihadapi
dapat diatasi dan dengan hasil yang lebih efektif (Ahmad Yani, 2006 : 6)
Urutan masing-masing siklus dalam penelitian meliputi langkah-langkah
dengan uraian sebagai berikut :

Refleksi Awal
Peneliti mengawali kegiatan dengan penemuan masalah sebagai hasil kajian teori
maupun pengamatan data perolehan nilai siswa terdahulu pada topik tertentu
(peneliti memilih topik elektrolisis). Temuan itu berupa rendahnya pemahaman
konsep dan keterampilan proses siswa setelah selesai mengikuti pelajaran topik
elektrolisis.

Perencanaan Tindakan I
Temuan ini mendorong untuk menyusun suatu rencana pembelajaran pada
tindakan I, dengan melakukan persiapan model pembelajaran yang akan
digunakan (Model Siklus Belajar), persiapan instrumen bagi siswa (LKS dan
Obsevasi Sikap), instrumen bagi guru observer, persiapan bahan mengajar (alat
bahan percobaan), buku bacaan/paket, RPP dan Silabus.
Setelah semua persiapan lengkap dipersiapkan pula skenario tindakan yang akan
dilakukan seperti alur rencana dan tindakan di atas. Termasuk pemberitahuan
kepada siswa rencana kegiatan pertemuan tersebut.

Pelaksanaan Tindakan I
Kegiatan pembelajaran dimulai dengan ;
Membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota 4-5
orang.
Apersepsi, menggunakan waktu kurang lebih lima belas menit dilakukan tanya
jawab dengan siswa mengacu pada prasarat pengetahuan, meliputi konsep
mengionisasikan larutan (konsep elektrolit), reaksi reduksi dan reaksi oksidasi,
kutub positif dan kutub negatif sumber arus (elektrode), dilakukan dengan metoda
tanya jawab.

14
Kegiatan fase eksplorasi dengan berbekal bagan reaksi elektrolisis siswa
melakukan percobaan dari mulai merangkai alat, mengamati, mencatat data
percobaan.
Kegiatan fase pemahaman konsep terbimbing dengan menjawab pertanyaan-
pertanyaan dalam LKS tentang zat hasil yang ditemukan di ruang katode dan
anode serta reaksi yang terjadinya.
Pada fase aplikasi konsep siswa dapat menghubungkan dengan membuat
kesimpulan zat yang dihasilkan di ruang katode dan anode dengan reaksi yang
terjadinya. Penguatan fase aplikasi konsep ini dibantu dengan tanya jawab
bersama guru dan seluruh siswa.
Kegiatan percobaan dari mulai merangkai alat hingga membersihkan kembali alat
pasca percobaan memerlukan waktu 60 menit.
Kegiatan tanya jawab dan post tes dilakukan menggunakan waktu 15 menit.
Seluruh kegiatan guru dan siswa diobservasi bebas oleh guru observer.

Pengamatan / Evaluasi I
Hasil lembar observasi pbm dan data observasi siswa dari guru pengajar (guru
yang diobservasi/penulis), dibawa untuk dilakukan evaluasi dan pengamatan
bersama pendamping/pembimbing. Selajutnya dijadikan bahan sebagai refleksi I
dan bahan merancang tindakan II, pengamatan/evaluasi II. Kegiatan penelitian ini
akan dianggap berhasil jika dari hasil belajar siswa diperoleh gambaran dengan
kualifikasi sebagai berikut ;

Indikator keberhasilan
Ukuran keberhasilan dari kegiatan belajar ini adalah sebagai berikut :
a. Sekurang-kurangnya 75 % siswa dapat menjelaskan reaksi elektrolisis dan
hasil reaksi di katode dan anode dari suatu larutan (tuntas belajar).
b. Sekurang-kurangnya 75 % siswa tertarik/termotivasi dengan model siklus
belajar pada topik elektrolisis ini hingga memiliki nilai pos tes >= 75 dan
memiliki keterampilan berpraktik dengan nilai >= 75, juga sikap kerja rata-
rata B..

15
c. Sekurang-kurangnya 75 % siswa terampil melakukan percobaan dan membuat
kesimpulan dari hasil pengamatannya serta menghubungkan antara data
percobaan dengan konsep elektrolisis.

I. Jadwal Penelitian

RENCANA KEGIATAN SEP OKTOBER NOPEMBER DESEMBER JAN


No.
Minggu Ke 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1
1 Penyerahan proposal
2 Tindakan I dan Refleksi
3 Tindakan II dan Refleksi
4 Tindakan III dan Refleksi
5 Penyusunan Laporan
6 Seminar
7 Penyempurnaan Laporan
8 Penyerahan Laporan
9 Penulisan Artikel
10 Penyerahan Artikel

J. Biaya Penelitian

No. Jenis Pengeluaran Volume Prakiraan Biaya


Persiapan
Pembelian Buku Refferensi 3 bh Rp. 200,000.00
Penggandaan LKS 480 lb Rp. 48,000.00
Penggandaan Soal 160 lb Rp. 16,000.00
1 Pembuatan Proposal 1 bk Rp. 50,000.00
Penggandaan Proposal 3 eks Rp. 60,000.00
Pembelian Materai 2 lb Rp. 12,000.00
Tranportasi - Rp. 200,000.00
Sub Jumlah 1 - Rp. 586,000.00
No. Jenis Pengeluaran Volume Prakiraan Biaya

16
Pelaksanaan
Pembelian Film (Foto) 1 rol Rp. 40,000.00

Pembelian Film (Handycam) 1 rol Rp. 50,000.00

Pembelian Baterai (aki) 10 kl Rp. 120,000.00

Pembelian Kabel 10 m Rp. 30,000.00

Pembelian Tabung U 10 bh Rp. 100,000.00


2
Pembelian Capit Buaya 10 ps Rp. 20,000.00

Pembelian Kertas Indikator 10 set Rp. 50,000.00

Pembelian Karton Manila 12 lb Rp. 12,000.00

Pembelian Spidol Warna 3 bh Rp. 22,000.00

Biaya Personalia 1 tim Rp. 600,000.00

Sub Jumlah 2 - Rp. 1,044,000.00

Pelaporan
Pembuatan Laporan 1 bk Rp. 100,000.00

Penggandaan Laporan 5 eks Rp. 100,000.00


3
Biaya Seminar 1x Rp. 100,000.00

Biaya Pembuatan Jurnal 1x Rp. 70,000.00

Sub Jumlah 3 - Rp. 370,000.00


4 Jumlah Total Anggaran Rp. 2,000,000.00

Daftar Pustaka

Ahmad Yani, 2006, Karya Tulis Ilmiah dan Penelitian Tindakan Kelas, Bandung
: Kemitraan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan Depdiknas Dengan Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan
Indonesia.
Asep Zaenal Rahmat, 2004, Higher Order Thinking Skill (HOTS), Sosialisasi
Hasil Pelatihan SEAMO-RECSAM, Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan
Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
Ayi Olim, 2006, Inovasi Pembelajaran, Makalah pada seminar Peningkatan
Kemampuan Tenaga Pendidik dalam Melakukan Penelitian Tindakan Kelas,
Bandung : Kerjasama Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan Tenaga

17
Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian
Universitas Pendidikan Indonesia
Dikmenum, 2004, Pedoman Pendayagunaan Peralatan Laboratorium Kimia,
Jakarta : Sekolah Menengah Umum, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Ernavita, 2003, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian, Mata
Pelajaran Kimia, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen
Dikdasmen – Dikmenum.
Fransisa Sudargo, 2006, Pedoman Penyusunan Proposal, Bandung : Kerjasama
Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan Tenaga Kependidikan Departemen
Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan
Indonesia.
Indrawati, 2000, Keterampilan Proses Sains, Tinjauan Kritis dari Teori ke
Praktis, Bandung : Pusat Pengembangan Penataran Guru IPA Direktorat
Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Indrawati, 2003, Model Model Pembelajaran IPA, Bandung : Pusat
Pengembangan Penataran Guru IPA Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Marulloh, 2004, CONSTRUCTIVISM, Sosialisasi Hasil Pelatihan SEAMO-
RECSAM, Jakarta :Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Nana Sutresna dan Didin Solehudin, 2004, KIMIA untuk SMA Kelas XII
Semester 1, Bandung : Grafindo Media Pratama
Nana Sutresna, 2004, Pintar KIMIA untuk Kelas III SMU Semester 1, Jakarta :
Edisi ketiga, Ganeca Exact
Oxtoby W, David dkk, 2001, KIMIA MODERN, Jakarta, Edisi Keempat, Jilid
1,Erlangga
Petruci, H, Ralph, 1999, Kimia Dasar (Prinsip dan Terapan Modern), Jakarta :
Edisi Keempat, Jilid 3 , Erlangga Maha Meru

18
SP, Sukartini, 2006, Guru Sebagai Propesi, Bandung, Kemitraan Direktorat
Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas
Dengan Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia.
Tia Damayanti, 2006, Model Pembelajaran Inkuiri yang didukung oleh
Penggunaan Multi Media Komputer pada Materi Larutan Penyangga SMA
Kelas XI Semester Genap, Bandung : Program Pasca Sarjana Universitas
Pendidikan Indonesia
Tim Pengembang, 2003, Pedoman Umum Pengembangan Penilaian, Jakarta :
Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikdasmen – Dikmenum.
Tita Lestari, 2006, Etika Penelitian dan Pemecahan Masalah pada Penelitian
Tindakan Kelas, Bandung : Kerjasama Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan
Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga
Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia
Wawang Hoetawarman, 2004, COOPERATIVE LEARNING (TGT), Sosialisasi
Hasil Pelatihan SEAMO-RECSAM, Jakarta :Direktorat Jendral Pendidikan
Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional

M. Lampiran
1. Sibus Kimia Kelas XII IPA, Semester 1 Bahasan Elektrolisis
2. RPP Kimia Kelas XII IPA, Semester 1 Bahasan Elektrolisis
3. Intrumen LKS Percobaan Elektrolisis
4. Instrumen Penilaian kognitif, Psikomotor dan Apektif
5. Instrumen Observasi Guru dan Siswa
6. Instrumen pretes dan postes
7. Data hasil ulangan blok elektrolisis Kelas 3 IPA Th. 2005/2006
8. Surat izin / Rekomendasi Kepala Sekolah
9. Curiculum Vitae Peneliti / Personalia Peneliti

19