Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Pada awalnya hanya ada dua sistem perekonomian yang digunakan oleh bangsa-
bangsa di dunia. Kedua sistem perekonomian tersebut ialah sistem perekonomian pasar dan
sistem perekonomian komando. Sistem perekonomian pasar disebut juga sistem
perekonomian kapitalis. Pada masa kerajaan di Indonesia perekonomian diserahkan
sepenuhnya kepada kaum swasta atas dasar permintaan dan penawaran. Pada prinsipnya
sistem kerajaan tidak pernah mengatur perekonomiannya. Sendi-sendi perekonimian pada
jaman itu banyak ditulis oleh para ahli ekonomi, namun yang paling dikenal dan dianggap
sebagai Bapak Ekonomi adalah Adam Smith dalam bukunya An Inquiry into the Nature
and Causes of Wealth of Nations yang terbit pertama kali pada tahun 1776. Dalam sistem
ekonomi pasar tidak ada campur tangan pemerintah semua pemecahan ekonomi diserahkan
pada mekanisme pasar.
Munculnya seruan persatuan para kaum buruh memunculkan sistem perekonomiam
komando atau yang lebih dikenal sebagai sistem perekonomian sosialis. Sistem
perekonomian komando ini banyak dianut oleh oleh negara-negara komunis seperti Uni
Soviet dan Tiongkok. Pada sistem ekonomi komado, semua kegiatan ekonomi merupakan
masalah perencanaan negara. Negara mempunyai peranan sentral dalam perekonomian.
Pada tahun 1929-1930 dimana harga-harga mengalami penurunan terjadi pemecatan buruh
secara massal menyebabkan runtuhnya sistem ekonomi komando tersebut. Pada tahun 1939
J.M.Keynes merilis sebuah buku yang berjudul General Theory of Employment, Interest
and Money yang memunculkan aliran baru yang lebih mementingkan peranan negara dan
dianggap sebagai aliran untuk mengatasi keadan perekonomian pada saat itu. Aliran
tersebut disebut Keynesian Economics.
Pada dewasa ini tidak ada satu negara pun di dunia ini yang sepenuhnya kapitalis
maupun komunis. Semua negara di dunia mengakui arti penting negara dalam
perekonomian. Sistem ekonomi pasar yang mengakui peran penting negara biasanya
disebut sebagai sistem ekonomi kesejahteraan dan negaranya disebut welfare states. Pada
dasarnya campur tangan negara dibutuhkan dalam sector-sektor yang tidak dapat
dikembangkan oleh pihak swasta. Peran negara dibatasi pada pengaturan perekonomian
melalui sistem perpajakan, devisa, fiscal, moneter dan pengeluaran pemerintah.
Dari latar belakang tentang sistem ekonomi tersebut kita lihat bagaimana penerapan
sistem perekonomian tersebut di Indonesia.

1
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang akan kami bahas
dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perapan sistem perekonomian dualisme di Indonesia ?
2. Bagaimana perapan sistem perekonomian sosialisme di Indonesia ?
3. Bagaimana perapan sistem perekonomian Panacasila di Indonesia ?
4. Bagaimana perapan sistem perekonomian kerakyatan di Indonesia ?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Menjelaskan bagaimana penerapan sistem perekonomian dualisme di Indonesia.
2. Menjelaskan bagaimana penerapan sistem perekonomian sosialisme di
Indonesia.
3. Menjelaskan bagaimana penerapan sistem perekonomian Pancasila di
Indonesia.
4. Menjelaskan bagaimana penerapan sistem perekonomian kerakyatan di
Indonesia.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan makalah ini secara umum baik bagi penulis dan pembaca adalah
untuk memahami lebih lanjut mengenai penerapan sistem perekonomian yang pernah
diterapkan oleh bangsa Indonesia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Ekonomi Dualisme


Konsep sistem ekonomi dualisme Indonesia sampai saat ini masih ditunjukkan
dengan adanya ciri-ciri yang bersifat teknologis maupun ekonomis, sosial dan kultural.
Masalah dualisme telah dibahas secara mendalam oleh ahli ekonomi Indonesia dan ahli
ekonomi asing J. Boeke, pada tahun 1953 memberikan definisinya mengenai masyarakat
dualistis, sebagai berikut :
“Masyarakat yang mempunyai gaya sosial yang berbeda, yang masing-masing
hidup berdampingan. Dalam proses evolusi sejarah normal yang berlaku bagi masyarakat
homogen, kedua gaya sosial tersebut mewakili tahap perkembangan sosial yang berbeda,
dipisahkan oleh satu gaya sosial lain yang mewakili suatu tahap transisi, misalnya
masyarakat sebelum kapitalisme dan masyarakat kapitalisme maju yang dipisahkan oleh
masyarakat kapitalisme awal. …. Di dalam masyarakat dualistis …. satu dari kedua sistem
sosial yang selalu berdampingan itu dan selalu lebih maju, berasal dari luar masyarakat
tersebut dan mengalami perkembangan di lingkungan yang baru tanpa menggeser atau
berasimilasi dengan sistem sosial asli. Akhirnya tidak akan timbul satu ciri umum yang
berlaku bagi masyarakat tersebut secara keseluruhan”.
Selanjutnya Boeke mengatakan bahwa sifat pra kapitalis dalam masyarakat
dualistis membedakan sikap penduduk asli dan masyarakat barat terhadap rangsangan
ekonomis. Bahwa sikap dasar penduduk asli dikatakan oleh Boeke bahwa dipengaruhi oleh
kebutuhan manusia itu terbatas sehingga penduduk asli tidak memiliki keinginan untuk
mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan tidak akan ada sikap baru terhadap
kesempatan ekonomi. Menurut bebrapa penulis hal tersebut didasarkan pada warisan
budaya dari kepercayaan mistik yang anti rasional serta spiritual masyarakat timur. Penulis
Indonesia beranggapan berbeda bahwa masyarakat asli Indonesia memiliki sikap yang
sama terhadap rangsangan harga dan rangsangan ekonomi lainnya.
Intinya ekonomi dualisme hanya menganggap dunia terbagi ke dalam dua
kelompok besar, yakni negara-negara kaya dan miskin dan di negara-negara berkembang
terdapat segelintir penduduk yang kaya diantara banyaknya penduduk yang miskin.
Dualisme menggambarkan adanya kesenjangan yang kian lama terus melebar antara
negara-negara kaya dan miskin dan antara orang-orang kaya serta miskin dalam berbagai
tingkatan dalam suatu negara.

2.1.1 Ciri-ciri Sistem Ekonomi Dualisme


Pada dasarnya terdapat empat elemen kunci dalam sistem ekonomi dualism, yaitu :

3
1. Terdiri dari elemen “superior” dan “inferior” yang hadir secara bersamaan
dalam waktu dan tempat yang sama. Contoh dari pemikiran A. Lewis tentang
penerapan konsep dualisme, yakni adaanya koeksistensi antara metode-metode
produksi modern di kota dan metode-metode tradisional di pedesaan.
2. Koeksistensi tersebut merupakan hal yang bersifat permanen sehingga elemen
yang superior memiliki kekuatan untuk mempertahankan superioritasnya,
sedangkan elemen yang inferior tidaklah mudah untuk meningkatkan posisinya.
Dalam kalimat lain, koeksistensi internasional antara kaya dan miskin bukanlah
hanya merupakan sesuatu fenomena sejarah yang akan membaik dengan
sendirinya bila saatnya sudah tiba.
3. Kadar superioritas serta inferioritas dari masing-masing elemen menunjukan
tanda-tanda cenderung meningkat. Contoh kesenjangan produktivitas para
pekerja di negara maju dan berkembang semakin lama semakin melebar.
4. Hubungan yang saling terkait antara elemen superior dengan inferior tersebut
yang terbentuk sehingga keberadaan superior sangat sedikit dan tidak
membawa manfaat untuk meningkatkan kedudukan inferior. Maka elemen-
elemen superior cenderung mengeksploitasi, memanfaatkan, memanipulasi
elemen-elemen inferior.

2.1.2 Jenis-Jenis Dualisme


1. Dualisme sosial
Tahun 1910, seorang ekonom Belanda, J.H Boeke menyatakan bahwa
pemikiran ekonomi Barat tidak dapat diterapkan dalam memahami
permasalahan perekonomian negara-negara jajahan (tropis) tanpa suatu
“modifikasi” teori. Jika ada pembagian secara tajam, mendalam dan luas yang
membedakan masyarakat menjadi dua kelompok, maka banyak masalah sosial
dan ekonomi yang polanya sangat berbeda dengan teori ekonomi Barat,
sehingga pada akhirnya teori tersebut akan kehilangan hubungannya dengan
realitas dan bahkan kehilangan nilainya. Boeke menganggap bahwa prokondisi
dari dualismenya adalah hidup berdampingannya dua sistem sosial yang
berinteraksi hanya secara marginal melalui hubungan yang sangat terbatas
antara pasar produk dan pasar tenaga kerja.
2. Dualisme Ekologis
MenurutGeertz, dualisme ditandai oleh perbedaan-perbedaan dalam sistem
ekologis. Setiap sistem ekologis tersebut menggambarkan pola-pola sosial dan
ekonomi tertentu yang menyatu di dalamnya dan membentuk suatu
keseimbangan internal.
3. Dualisme Teknologi
Dualisme teknologi adalah suatu keadaan di mana di dalam suatu kegiatan
ekonomi tertentu digunakan teknik produksi dan organisasi produksi yang
modern yang sangat berbeda dengan kegiatan ekonomi lainnya dan pada

4
akhirnya akan mengakibatkan timbulnya perbedaan tingkat produktifitas yang
sangat besar, dalam hal ini teknologi modern sangat berperan penting.
4. Dualisme Finansial
Dalam analisis Myint (1967) beliau mengemukakan mengenai dualisme
finansial. Hal ini pun merujuk pada pengertian bahwa pasar uang dalam negara
jajahan dibedakan menjadi dua kelompok yaitu pasar uang yang terorganisir
dengan baik (organized money market) dan pasar uang yang tidak terorganisir
(unorganized money market). Pasar uang yang terorganisir dengan baik terdiri
dari bank-bank komersial dan lembaga-lembaga keuangan non-bank. Lembaga
ini terdapat di pusat-pusat bisnis dan kota-kota besar, serta memiliki tujuan
untuk menyediakan pinjaman kepada perusahaan yang bergerak dalam bidang
perkebunan tanaman ekspor dan pertambangan. Namun setelah NSB mencapai
kemerdekaan, pemerintah mengadakan usaha yang sifatnya mendorong
lembaga-lembaga keuangan modern untuk memberikan pinjaman kepada sektor
ekonomi lainnya, terutama sektor industri dan pertanian rakyat.
5. Dualisme Regional
Dualisme Regional adalah ketidakseimbangan tingkat pembangunan antar
berbagai daerah dalam negara. Dualisme regional ini memusatkan perhatiannya
pada masalah kesenjangan yang terjadi pada kesejahteraan antar daerah.
Misalnya, di NSB ada beberapa daerah yang berkembang sangat pesat sehingga
keadaan ekonomi dan sosialnya sudah hampir menyamai negara maju,
sedangkan daerah lainnya mengalami perkembangan yang sebaliknya atau
bahkan mengalami kemunduran.

2.2 Sistem Ekonomi Sosialis Ala Indonesia


Istilah sistem ekonomi sosialis ala Indonesia muncul ada periode akhir dari
kepemimpinan Presiden Soekarno, yakni sekitar tahun 1960. Perekonomian pada periode
itu sangat mirip dengan sistem perekonomian negara sosialis, yang antara lain sebagai
berikut :
1. Pemerintah Indonesia telah menyusun Pembangunan Semesta Berencana
Delapan Tahun 1960-1968.
2. Perusahaan – perusahaan besar dimiliki oleh negara. Hal ini disebabkan oleh
nasionalisasi perusahaan – perusahaan swasta Belanda sekitar tahun 1957. Oleh
karena nasionalisasi tersebut, perekonomian Indonesia baik dalam maupun luar
negerinya dilaksanakan dan dikuasai oleh perusahaan milik negara dan
koperasi.
3. Sistem Perbankan ; semula adalah bank-bank swasta milik Belanda, yang telah
dinasionalisasi menjadi milik pemerintah, kemudian diubah menjadi sistem
perbankan Rusia.
4. Sistem Devisa yang dipakai waktu itu adalah sistem devisa yang sangat umum
dipakai oleh negara – negara sosialis yakni Exchange Control. Pada sistem ini

5
tidak diperkenankan mata uang asing (devisa) beredar di masyarakat. Semua
devisa milik negara.

Nilai tukar Rupiah selalu mengalami penurunan, yang akibatnya dibandingkan


dengan nilai tukar devisa (dolar) karena kurs devisa yang tetap, rupiah dinilai terlalu tinggi.
Untuk mengatasi hal itu pemerintah perlu mengadakan penyesuaian nilai mata uangnya
dengan melaksanakan kebijakan devaluasi. Guna mendorong ekspor, disamping
melaksanakan kebijakan devaluasi, Pemerintah Indonesia pada waktu itu meluncurkan
program perangsang ekspor melalui kebijaksanaan bahwa kepada setiap dolar hasil ekspor,
para eksportir diperkenankan memakainya. Kebijaksanaan perangsang tersebut dikenal
sebagai alokasi devisa otomatis (ADO) eksportir.
Rangsangan ekspor tidak hanya diberikan kepada eksportir, melainkan juga kepada
daerah penghasil ekspor. Perangsang ini disebut ADO daerah. ADO Daerah ini diberikan
kepada daerah penghasil barang/jasa ekspor yang diperhitungkan melalui kota pelabuhan
darimana ekspor tersebut dilaksanakan.
Sistem perekonomian Indonesia disebut sistem ekonomi sosialis ala Indonesia
karena, sistem perekonomian pasar memberikan hasil munculnya kaum proletar, kaum
marhaen, kaum miskin, dan sudah dengan sendirinya sistem ekonomi sosialis sangat
memperhatikan nasib kaum proletar, kaum marhaen tersebut. Namun dalam perekonomian
Indonesia pada saat itu, pemerintah belum melaksanakan pasal 34 UUD 1945 yang
mengatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Akibatnya
bahwa masih terdapat banyak orang yang tergolong dibawah garis kemiskinan. Alasan lain
adalah bahwa di Indonesia, pendukung perekonomiannya (investor, produsen, konsumen)
adalah rakyat Indonesia yang mempunyai falsafah hidup berketuhanan, sedangkan hal ini
tidak umum di negara Eropa Timur, Rusia ataupun RRC.

2.3 Sistem Ekonomi Pancasila


Sistem ekonomi Pancasila adalah salah satu tata ekonomi yang dijiwai oleh
ideologi Pancasila, yang di dalamnya terkandung makna demokrasi ekonomi yaitu
kegiatan ekonomi yang dilakukan berdasarkan usaha bersama berasaskan kekeluargaan
dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan
pemerintah.
Sistem Ekonomi Pancasila (SEP) merupakan sistem ekonomi yang digali dan
dibangun dari nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat Indonesia. Beberapa prinsip dasar
yang ada dalam SEP tersebut antara lain berkaitan dengan prinsip kemanusiaan,
nasionalisme ekonomi, demokrasi ekonomi yang diwujudkan dalam ekonomi kerakyatan,
dan keadilan.
Istilah sistem ekonomi Pancasila ini muncul pada periode penggal kedua dari masa
pemerintahan orde baru yakni setelah pelita III (1974-1977). Dimana ada sekelompok
pakar yang mengatakan sistem ekonomi kita adalah Pancasila. Kubu dari kelompok ini
pada dasarnya ada di Universitas Gajah Mada dan Institut Pertanian Bogor. Pelopornya ada

6
beberapa diantaranya adalah Profesor Mubyarto. Sistem perekonomian Indonesia pada saat
itu ditandai oleh, antara lain:
1. Perencanaan ekonomi, Indonesia pada saat itu masih berada dalam
perencanaan pembangunan ekonomi lima tahunan dengan prioritas utama
pada perkembangan sector pertanian menuju swa sembada beras/pangan.
2. Peranan perusahaan asing, Dengan undang-undang UUPMA pada tahun
1967 modal asing yang bersifat investasi langsung maupun portofolio
makin merambah ke semua sector dan wilayah Indonesia.
3. Peranan perusahaan domestic, Perusahaan dalam negeri mendapat
keuntungan dari undang-undang UUPMDN. Dengan fasilitas tersebut
muncul konglomerasi usaha dari hulu sampai hilir, dari sector pertanian
hingga ritel dikuasai oleh perusahaan besar.
4. Peranan IGGI dan IMF serta hutang luar negeri, Sejak awal dari kekuasaan
orde baru, pemerintah telah mendirikan IGGI yang berfungsi untuk
memberikan nasihat dalam APBN.
5. Sistem Devisa, Segera setelah orde baru naik tindakan pertama yang
dilakukannya adalah liberalisasi perdagangan luar negeri yang dalam hal ini
termasuk sistem devisa.
Dilihat dari kelima tanda tersebut dapat kita katakan bahwa perekonimian
Indonesia pada saat itu lebih mendekati perekonomian pasar atau sitem kapitalis
dibandingkan dengan perekonomian sosialis. Namun ada perbedaan perilaku antara
Indonesia dengan negara – negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis. Perbedaan itu
ialah karena pelaku ekonomi Indonesia mempunyai perilaku yang didasarkan atas filsafah
negara Pancasila dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama untuk menuju
kesejahteraan social pada sila yang ke lima. Tuntunan hidup Pancasila ini mengakibatkan
pelaku ekonomi tidak semata mata mementingkan keuntungan maksimum, namun juga
mempertimbangkan keadilan social. Inilah alasan mengapa para ahli mengklaim bahwa
sistem perekonomian Indonesia adalah sistem ekonomi Pancasila disamping alasan umum
bahwa perekonomian Indonesia telah diatur dalam pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

2.3.1 Ciri-ciri Dari Sistem Pancasila


Ciri-ciri sistem ekonomi Pancasila menurut Prof. Mubyanto ada 5 yaitu:
1. Adanya peran dominan koperasi dalam kehidupan ekonomi.
Semua bentuk badan usaha dalam ekonomi Pancasila haris didasarkan
pada asas kekeluargaan dan prinsip harmoni dan bukannya tas asas kepentingan
pribadi dan prinsip konflik kepentingan.
2. Diterapkannya rangsangan-rangsangan yang bersifat ekonomis maupun moral
untuk menggerakkan roda perekonomian.
Hal ini bersumber pada pandangan bahwa manusia bukan hanya
economic man melainkan juga social and religious man dan sifat manusia yang
terakhir ini bisa dikembangkan setaraf dengan sifat yang pertama sebagai
sumber kegiatan duniawi. Motif-motif seperti solidaritas, kecintaan terhadap

7
sesame manusia dan keadilan dan kebenaran, kepercayaan kepada faktor-faktor
non duniawi, keagamaan serta social lainnya bisa pula penggerak yang sama
kuatnya bagi aktivitas ekonomi. Keseimbangan yang lebih serasi antara higher
motives dan lower motives inilah yang merupakan cita-cita ekonomi Pancasila.
3. Adanya kecendrungan dan kehendak sosial yang kuat kearah egalitarianism
atau pemerataan sosial.
Dalam hal ini cita-cita ekonomi pancasila menunjukkan kesamaan
dengan doktrin dasar hampir semua agama besar yang ada maupun dengan cita-
cita yang terkandung dalam sistem ekonomi sosialis sekuler.
4. Diberikannya prioritas utama pada terciptanya suatu perekonomian nasional
yang tangguh.
Ekonomi Pancasila menyadari bahwa unsur nasionalisme ekonomi
merupakan kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Konsep perekonomian
nasional menuntut bahwa integrasi berbagai bagian perekonomian nasional
adalah sasaran primer, sedangkan integrasi perekonomian nasional ke dalam
ekonomi internasional adalah sekunder.
5. Pengandalan pada sistem desentralisasi dalam pelaksanaan kegiatan–kegiatan
ekonomi, diimbangi dengan perencanaan yang kuat sebagai pemberi arah bagi
perkembangan ekonomi.
Ekonomi pancasila mencoba untuk mengambil manfaat yang sebesar-
besarnya dari sentralisasi dan otonomisme dengan cara mengambil jalan tengah
diantara kedua mekanisme pelaksanaan pengelolaan ekonomi tersebut.

2.4 Sistem Ekonomi Rakyat


Ekonomi rakyat adalah suatu kegiatan ekonomi atau usaha yang dilakukan oleh
rakyat kebanyakan yang mengelola sumber daya ekonomi dengan secara swadaya,
Pengertian ekonomi kerakyatan merujuk pada Pasal 33 UUD 1945, dapat dipahami sebagai
suatu sistem perekonomian yang ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam
bidang ekonomi. Jadi, intinya terletak pada tujuan kedaulatan rakyat. Ekonomi rakyat
seperti ini biasanya banyak diidentikkan dengan keberadaan Usaha Kecil dan Menegah
(UKM). Keberadaan atau aktivitas UKM ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar
dari masyarakat dalam suatu negara.
Pada tahun 1997, demonstrasi yang menuntut turunnya Suharto dari pemerintahan
dan menuntut adanya reformasi. Reformasi yang diminta, antara lain:
1. Reformasi dibidang politik: adanya kebebasan bersuara dan berpolitik (kebebasan
demokrasi)
2. Reformasi dibidang ekonomi: adanya perhatian lebih kepada usaha kecil dan
menengah (usaha rakyat)
Reformasi dibidang ekonomi dikatakan bahwa dibawah presiden Suharto,
pemerintah terlalu memihak kepada perusahaan besar saja, hal ini terbukti bahwa usaha
kecil dan menengah terbukti tahan banting. Kredit diarahkan kepada perusahaan besar saja.

8
Dominasi asing dalam perekonomian (Bank Dunia, IMF, dll) dianggap sebagai sesuatu
yang berlebihan dan rakyat menginginkan agar perekonomian lebih bersifat berdiri diatas
kaki sendiri. Oleh karena itu, hutang kepada IMF dan Bank Dunia dibayar lunas. Namun
ironisnya, hutang luar negeri berkurang ternyata hutang dalam negeri meningkat dengan
tajam. Berikut merupakan kebijakan pemerintah selama dalam system perekonomian
Kerakyatan:
1. Peranan IGGI dikurangi
2. Investasi dengan UUPMA dan invertasi dalam negeri dengan UUPMDN
3. Sistem devisa didasarkan atas system pasar (permintaan dan penawaran)
dengan cadangan devisa yang besar untuk menjaga stabilitas kurs mata uang.
4. Memaksimumkan produksi perusahaan kecil (keluarga).

2.4.1 Ciri – Ciri Sistem Ekonomi Kerakyatan


Sistem ekonomi kerakyatan menuntut agar masyarakatnya dapat turut berperan
aktif dalam kegiatan ekonomi negara. Sementara itu, pemerintah dituntut agar mampu
menciptakan iklim yang sehat bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha. Sistem
Ekonomi Kerakyatan sendiri memiliki ciri-ciri tersendiri, seperti berikut :
1. Bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan menerapkan prinsip
persaingan sehat
2. Memperhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai keadilan, kepentingan sosial serta
kualitas hidup
3. Mampu mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan
4. Menjamin kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat dalam berusaha dan
bekerja
5. Adanya perlindungan terhadap hak konsumen dan perlakuan yang adil bagi
seluruh rakyat.
Adapun peran negara secara umum tersebut, sebagai berikut:
1. Mengembangkan koperasi,
2. Mengembangkan BUMN,
3. Memastikan pemanfaatan bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung di
dalamnya bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,
4. Memenuhi hak setiap warga negara untuk memperoleh pekerjaan dan
penghidupan yang layak,
5. Memelihara fakir miskin dan juga anak terlantar.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Perekonomian Indonesia pernah merubah empat kali sistem perekonomian. Pada
akhir masa pemerintahan Soekarno aktivitas ekonomi Indonesia dikuasai oleh negara dan
koperasi sehingga sistem perekonomian mendekati sistem sosialis yang bersifat agak
berbeda dengan sistem sosialis pada umumnya sehingga disebut sebagai sistem
perekonomian sosialis ala Indonesia. Pada masa pemerintahan Soeharto sistem ekonomi
Indonesia merupakan sistem komando dimanasawasta memegang peranan penting dalam
perusahaan namun memakai sistem lima tahunan.pada akhit masa pemerintahan Soeharto
muncul istilah ekonomi Pancasila dimana sistem pereknomian ini dijiwai oleh Pancasila.
Namun pada akhirnya sistem ekonomi Pancasila diganti akibat adanya reformasi menjadi
sistem ekonomi kerakyatan. Setiap sistem perekonomian yang diterapkan diindonesia
memiliki dampak yang baik positif maupun negative bagi perekonomian dan rakyat
Indonesia.

3.2 Kritik dan Saran


Penulis menyadari bahwa tugas makalah ini masih jauh dari kata sempurna, baik itu
dari penulisan maupun sumber-sumber yang digunakan. Untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran terhadap tugas makalah ini sehingga dapat dikembangkan dan
disempurnakan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Nehen, Ketut. 2012. Perekonomian Indonesia. Denpasar: Udayana University Press

Saroh, Alkaut. 2015. Sistem Ekonomi Pancasila. Diakses pada tanggal 03 September 2018
dari http://alkautsaroh.blog.upi.edu/2015/09/28/sistem-ekonomi-pancasila/

Enjel. 2017. Dualisme Ekonomi. Diakses pada tanggal 01 September 2018 dari
http://sesienjel.blogspot.com/2017/06/dualisme-ekonomi.html.

11

Anda mungkin juga menyukai