Anda di halaman 1dari 10

MICROWAVE DIATHERMY (MWD)

Pengertian MWD
Suatu aplikasi terapeutik dengan menggunakan gelombang mikro dlm bentuk radiasi
elektromagnetik yg akan dikonversi dalam bentuk dengan frekuansi 2456 MHz dan 915 MHz
dengan panjang gelombang 12,25 arus yang dipakai adalah arus rumah 50 HZ, penentrasi
hanya 3 cm, salah satu modalitas fisioterapi yang bermanfaat untuk mengurangi nyeri, MWD
cocok untuk jaringan superfical dan struktur artikuler yang dekat dengan permukaaan kulit.
Salah satu tujuan utama dari terapi MWD adalah untuk memanaskan jaringan otot sehingga
akan memberi efek relaksasi pada otot dan meningkatkan aliran darah intramuskuler.
Tujuan
1. Membantu meningkatkan sirkulasi limpatik dan sirkulasi darah lokal.
2. Membantu relaksasi otot dan meningkatkan elastisitas jaringan ikat yang letak
kedalamannya kurang lebih 3 cm.
3. Membantu meningkatkan proses perbaikan jaringan secara fisiologis.
4. Membantu mengurangi rasa nyeri pada otot dan sendi.

Indikasi MWD
Selektif pemanasan otot (jaringan kolagen), spasme otot (efektif untuk sendi Inter Phalangeal,
Metacarpal Phalangeal dan pergelangan tangan, Rheumathoid Arthritis dan Osteoarthrosis),
kelainan saraf perifer (neuralgia neuritis)

Kontraindikasi MWD
Adanya logam, gangguan pembuluh darah, pakaian yang menyerap keringat, jaringan yang
banyak cairan, gangguan sensibilitas, neuropathi (timbul gangguan sensibilitas dan diabetes
melitus), infeksi akut, transqualizer (alat pada pasien dengan gangguan kesadaran), sesudah
rontgen (konsentrasi EM berkelebihan), kehamilan, saat menstruasi.

Efek fisiologis yang ditimbulkan dari pemberian MWD


Terjadinya perubahan panas ; yang sifatnya lokal jaringan yang meningkatkan metabolisme
jaringan lokal, meningkatkan vasomotion sehingga timbul homeostatik lokal yang akhirnya
menimbulkan vasodilatasi. Perubahan panas secara general yang menaikkan temperatur pada
daerah lokal.

Teknik aplikasi MWD:


• Persiapan alat, tes alat, pre pemanasan 5-10 menit, jarak <10cm dari kulit • persiapan pasien
: bebaskan dari pakaian dan logam, posisikan pasien senyaman mungkin, tes sensibilitas,
jarak 5-10 cm, durasi 20-30 menit. alat 2456MHz, frekuensi terapi 3-5 x/minggu, intensitas
50-100 watt (toleransi pasien), dosis intensitas ditentukan oleh aktualitas patologi (aktualitas
rendah : thermal, aktualitas sedang : subthermal, aktualitas tinggi : a thermal)

Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS)

Pengertian TENS
> Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS) merupakan suatu cara penggunaan
energi listrik guna merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit dan terbukti efektif
untuk merangsang berbagai tipe nyeri
> Pada TENS mempunyai bentuk pulsa : Monophasic mempunyai bentuk gelombang
rectanguler, trianguler dan gelombang separuh sinus searah; biphasic bentuk pulsa
rectanguler biphasic simetris dan sinusoidal biphasic simetris; pola polyphasic ada rangkaian
gelombang sinus dan bentuk interferensi atau campuran.
> Pulsa monophasic selalu mengakibatkan pengumpulan muatan listrik pulsa dalam jaringan
sehingga akan terjadi reaksi elektrokimia dalam jaringan yang ditandai dengan rasa panas dan
nyeri apabila penggunaan intensitas dan durasi terlalu tinggi.

Tujuan pemberian TENS


Memeilhara fisiologis otot dan mencegah atrofi otot, re-edukasi fungsi otot, modulasi nyeri
tingkat sensorik, spinal dan supraspinal, menambah Range Of Motion (ROM)/mengulur
tendon, memperlancar peredaran darah dan memperlancar resorbsi oedema

Frekuensi Pulsa
• Frekuensi pulsa dapat berkisar 1 – 200 pulsa detik.
• Frekuensi pulsa tinggi > 100 pulsa/detik menimbulkan respon kontraksi tetanik dan
sensibilitas getaran sehingga otot cepat lelah
• Arus listrik frekuensi rendah cenderung bersifat iritatif terhadap jaringan kulit sehingga
dirasakan nyeri apabila intensitas tinggi. Arus listrik frekuensi menengah bersifat lebih
konduktif untuk stimulasi elektris karena tidak menimbulkan tahanan kulit atau tidak bersifat
iritatif dan mempunyai penetrasi yang lebih dalam.

Penempatan Elektroda
• Di sekitar lokasi nyeri : Cara ini paling mudah dan paling sering digunakan, sebab metode
ini dapat langsung diterapkan pada daerah nyeri tanpa memperhatikan karakter dan letak
yang paling optimal dalam hubungannya dengan jaringan penyebab nyeri
• Dermatome :Penempatan pada area dermatome yang terlibat, Penempatan pada lokasi
spesifik dalam area dermatome, Penempatan pada dua tempat yaitu di anterior dan di
posterior dari suatu area dermatome tertentu
• Area trigger point dan motor point

Indikasi TENS
Kondisi LMNL(Lower Motor Neuron Lesion) baru yang masih disertai keluhan nyeri,
kondisi sehabis trauma/operasi urat saraf yang konduktifitasnya belum membaik, kondisi
LMNL kronik yg sdh terjadi partial/total dan enervated muscle, kondisi pasca operasi tendon
transverse, kondisi keluhan nyeri pada otot, sebagai irritation/awal dari suatu latihan, kondisi
peradangan sendi (Osteoarthrosis, Rheumathoid Arthritis dan Tennis elbow), kondisi
pembengkakan setempat yang belum 10 hari

Kontra Indikasi TENS


Sehabis operasi tendon transverse sebelum 3 minggu, adanya ruptur tendon/otot sebelum
terjadi penyambungan, kondisi peradangan akut/penderita dlm keadaan panas

Prosedur TENS
• Tingkat analgesia-sensoris : frekuensi 50-150 Hz, durasi pulsa <200 (60-100) mikrodetik •
Tingkat analgesia untuk rasa nyeri : frekuensi 150 Hz, durasi pulsa >150 mikrodetik
• Persipan pasien (kulit harus bersih dan bebas dari lemak, lotion, krim dll), periksa sensasi
kulit, lepaskan semua metal di area terapi, jangan menstimulasi pada area dekat/langsung di
atas fraktur yg baru/non-union, diatas jaringan parut baru, kulit baru.

TRAKSI

Pengertian
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan
atau gangguan pada tulang dan otot.
Tujuan
Tujuan dari traksi adalah untuk menangani dislokasim atau spasme otot dalam usaha untuk
memperbaiki deformitas dan mmpercepat penyembuhan. Ada dua tipe utama dari traksi :
traksi skeletal dan traksi kulit, dimana didalamnya terdapat sejumlah penanganan.
Prinsip Traksi adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagian tubuh, tungkai, pelvis
atau tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan pada arah yang berlawanan
yang disebut dengan countertraksi. Tahanan dalam traksi didasari pada hokum ketiga
(Footner, 1992 and Dave, 1995). Traksi dapat dicapai melalui tangan sebagai traksi manual,
penggunaan talim splint, dan berat sebagaimana pada traksi kulit serta melalui pin, wire, dan
tongs yang dimasukkan kedalam tulang sebagai traksi skeletal (Taylor, 1987 and Osmond,
1999).
Traksi dapat dilakukan melalui kulit atau tulang. Kulit hanya mampu menanggung beban
traksi sekitar 5 kg pada dewasa. Jika dibutuhkan lebih dari ini maka diperlukan traksi melalui
tulang. Traksi tulang sebaiknya dihindari pada anak-anak karena growth plate dapat dengan
mudah rusak akibat pin tulang.
Indikasi traksi kulit diantaranya adalah untuk anak-anak yang memerlukan reduksi tertutup,
traksi sementara sebelum operasi, traksi yang memerlukan beban 5 kg. Akibat traksi kulit
yang kelebihan beban di antaranya adalah nekrosis kulit, obstruksi vaskuler, oedem distal,
serta peroneal nerve palsy pada traksi tungkai.
Indikasi traksi kulit diantaranya adalah untuk anak-anak yang memerlukan reduksi tertutup,
traksi sementara sebelum operasi, traksi yang memerlukan beban 5 kg. Akibat traksi kulit
yang kelebihan beban di antaranya adalah nekrosis kulit, obstruksi vaskuler, oedem distal,
serta peroneal nerve palsy pada traksi tungkai.
Kontra indikasi dari pemberian traksi lumbal menurut Dellito (1990) dikutip oleh Cameron
(1999) adalah : (1) kondisi trauma akut atau inflamasi (2) hipermobilitas atau instabilitas (3)
hipertensi yang tidak terkontrol (4) fraktur (5) osteoporosis (6) spondilosis (7) selama proses
terapi keluhan nyeri bertambah sehingga dalam pengaplikasian traksi lumbal terapis harus
selalu melakukan monitoring.
Traksi tulang dilakukan pada dewasa yang memerlukan beban > 5 kg, terdapat kerusakan
kulit, atau untuk penggunaan jangka waktu lama. Kontratraksi diperlukan untuk melawan
gaya traksi, yaitu misalnya dengan memposisikan tungkai lebih tinggi pada traksi yang
dilakukan di tungkai.
Teknik dalam aplikasi traksi ada dua cara yaitu statik dan intermiten. Dalam penelitian
ini prosedur penggunaan tehnik aplikasi traksi lumbal adalah sebagai berikut :
a. Penentuan alat
Menggunakan traksi elektrik dengan perangkat semi computer digital.
b. Posisi pasien
Posisi yang umum adalah tidur terlantang dalam sedikit paha fleksi 85 derajat dan
eksorotasi 10-15 derajat serta lutut dalam keadaan fleksi 85-90 derajat (Thamrin, 1991 dikutp
oleh Hartini, 2007)
c. Alat pengikat
Menggunakan alat pengikat punggung berupa sabuk (pelvic belt) yang diikatkan di atas
krista iliaka dan dihubungkan ke mesin traksi serta fiksasi pada tubuh bagian atas untuk
menghindari bagian atas untuk tertariknya tubuh ke bawah akibat tarikan lumbal.
Sekian penjelasan dari alat-alat terapi fisioterapi. Sebenarnya, masih ada banyak lagi aat-alat
yang sering dipergunakan oleh fisioterapis seperti infrared, tapi cukup sekian dulu ya untuk
selebihnya akan ditambah jika ada kesempatan lain (alasan pemalas :v)
Infra Red (IR)

1. Pengertian Infra Red

Pancaran gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 7.700 – 4 juta Amstrong.


Berdasarkan panjang gelombang maka infra red dapat diklasifikan menjadi :

a. Gelombang panjang (non – penetrating)

Panjang gelombang di atas 12.000 A sampai dengan 150.000 A, daya penetrasi sinar ini
hanya sampai kepada lapisan superficial epidermis, yaitu sekitar 0,5 mm.

b. Gelombang Pendek

Panjang gelombang antara 7.700 – 12.000 A. daya penetrasi lebih dalam dari yang
gelombang panjang, yaitu sampai sub cutan kira – kira dapat mempengaruhi secara langsung
terhadap pembuluh darah kapiler, pembuluh darah lymphe, ujung – ujung saraf dan struktur
lain dibawah kulit.

Pengaruh fisiologis sinar infra merah jika diabsorpsi oleh kulit akan meningkatkan
temperatur suhu tubuh dan pengaruh lainnya antara lain :

2. Meningkatkan proses metabolisme

Seperti yang telah dikemukakan oleh hokum Vant’t Hoff bahwa suatu reaksi kimia akan
dapat dipercepat dengan adanya panas atau kenaikan temperatur akibat pemanasan. Proses
metabolism terjadi pada lapisan superfiscial kulit akan meningkat sehingga pemberian
oksigen da nutrisi kepada jaringan lebih diperbaiki,begitu juga pengeluaran sisa – sisa
pembakaran.

3. Vasodilatasi pembuluh darah

Dilatasi pembuluh darah kapiler dan arteriolae akan terjadi segera setelah penyinaran,
sehingga kulit akan segera tampak kemerah –merhan tetapi tidak merata, berkelompok –
kelompok atau seperti bergaris – garis. Reaksi kemerah – merahan pada kulit disebut juga
erythema yaitu disebabkan oleh adanya energy panas yang diterima ujung –ujung saraf
sensoris yang kemudian mempengaruhi mekanisme pengaturan panas (heat regulating
mechanism).

4. Pigmentasi

Penyinaran yang berulang – ulang dengan sinar infra red akan menimbulkan pigmentasi pada
tempat ysng disinari. Hal tersebut terjadi karena adanya perusakan pada sebagian sel – sel
darah merah ditempat tersebut.

5. Pengaruh terhadap urat saraf sensorik

Mild heating (pemanasan yang ringan) mempunyai pengaruh sedative terhadap ujung – ujung
saraf sensoris, sedangkan pemanasan yang berat akan menimbulkan iritasi. Hal ini
disebabkan oleh pengaruh pengaruh ultra violet yang terkandung didalamnya.

6. Pengaruh terhadap jaringan otot

Kenaikan temperatur disamping membantu proses rileksasi juga akan meningkatkan


kemampuan otot untuk berkontraksi. Spasme akibat penumpukan asam laktat dan sisa
metabolism juga dapat dihilangkan dengan pemanasan.

7. Destruksi jaringan

Hal ini bias terjadi apabila penyinaran yang diberikan cukup tinggi dan berlangsung dalam
waktu yang cukup lama atau diluar toleransi penderita.

8. Menaikkan temperatur tubuh

Penyinaran yang luas dalam waktu yang relative lama dapat meningkatkan temperatur tubuh.
Hal ini terjadi oleh karena penyinaran akan mempengaruhi darah dan jaringan yag ada di
superficial kulit, panas ini kemudian akan diteruskan ke seluruh tubuh denga cara konveksi
dan konduksi.

9. Mengaktifkan kerja kelenjar keringat

Pengaruh rangsangan panas yang dibawa ujung saraf sensoris dapat mengakifkan kerja
kelenjar keringat sehingga terjadi pengeluaran keringat pada daerah yang diberi penyinaran.

Efek teraupetik yang diperoleh dari infra red, antara lain :

a. Relief of pain ( mengurangi rasa sakit)

Ada beberaps pendapat mengenai mekanisme pengurangan rasa nyeri, yaitu :

1) ikut terbuang sehingga rasa nyeri berkurang.


2) Rasa nyeri bisa juga karena adanya pembengkakan, sehingga dengan pengaruh pemberian
mild heating, maka terjadi pengurangan nyeri disebabkan oleh adanya efek sedative pada
superficial sensory nerve ending.

3) Apabila diberi stronger heating, maka akan terjadi counter irritation yang menimbulkan
penguranga nyeri

4) Rasa nyeri ditimbulkan oleh karena adanya akumulasi sisa – sisa hasil metabolism yang
disebut zat “p” yang menumpuk dalam jaringan. Dengan adanya sinar infra red akan
memperlancar sirkulasi darah, maka pengurangan odema (bengkak) akan berkurangan seiring
dengan pengurangan nyeri.

b. Muscle relaxation (relaksasi otot)

Relaksasi akan lebih mudah dicapai bila jaringan otot dalam keadaan hangat dan rasa nyeri
tidak ada. Oleh karena itu, suhu tubuh yang meningkatkan akan menghilangkan spasme dan
membuat rileksasi otot.

c. Meningkatkan supply darah

Adanya kenaikan temperatur akan menimbulkan vasodilatasi sehingga terjadi peningkatan


supply darah ke jaringan setempat yang bermanfaat untuk penyembuhan luka dan
pencegahan infeksi pada jaringan superficial.

d. Menghilangkan sisa – sisa metabolism

Penyinaran di daerah yang luas akan mengaktifkan glandula gudoifera (kelanjar keringat) di
seluruh tubuh, maka akan terjadi peningkatan pembuangan sisa metabolism melalui keringat.

10. Indikasi dari sinar infra red

Antara lain :

a. Kondisi setelah peradangan sub – akut, seperti sprain, muscle strain, contusion

b. Arthritis seperti : Rheumatoid arthritis, osteoarthritis, mialgia, neuritis

c. Gangguan sirkulasi daran, seperti : tromboplebitis, Raynold’s disease

d. Penyakit kulit, seperti : folliculitis, wound

e. Persiapan exercise dan massage

11. Kontra Indikasi sinar infra red

Sebagai berikut :

a. Daerah insufisiensi darah

b. Gangguan sensibilitas
c. Adanya kecenderungan terjadi perdarahan

SWD (Shortwave Diarthermy)

SWD adalah terapi panas penetrasi dalam dengan menggunakan


gelombang elektromagnetik frekuensi 27,12 MHz, panjang gelombang 11
m.Tujuan pemberian SWD untuk mempelancar peredaran darah,mengurangi
rasa sakit, mengurangi spasme otot, membantu meningkatkan kelenturan
jaringan lunak,mempercepat penyembuhan radang.

Indikasi SWD adalah kondisi peradangan dan kondisi sehabis


trauma(trauma pada musculoskeletal), adanya keluhan nyeri pada sistem
musculoskleletal(kondisi ketegangan, pemendekan, perlengketan otot
jaringan lunak), persiapan suatu latihan/senam (untuk gangguan pada sistem
peredaran darah).
Kontar indikasi dari SWD yaitu keganasan,kehamilan,kecenderungan
terjadinya pendarahan,gangguan sensabilitas,adanya logam di dalam
tubuh,lokasi yang terserang pembuluh darah arteri.
Teknik aplikasi SWD yaitu Pre pemanasan alat 5-10 menit,jarak antara
elektroda dengan pasien 5-10 cm/sejengkal,durasi 15-30 menit,intensitas
sesuai dengan aktualitas patologi,posisikan pasien senyaman
mungkin,terbebas dari pakaian dan logam,tes sensabilitas,pasang
elektroda,pasien tidak boleh bergerak,intensitas dipertahankan sesuai
toleransi pasien.
Ultrasound (US)

Ultrasound (US) adalah terapi dengan menggunakan suara tinggi dengan


frekuensi 1 atau 3 MHz(>20.000 Hz).Tujuan pemberian US untuk mengurangi
ketegangan otot,mengurangi rasa nyeri.
Indikasi US yaitu kondisi peradangan dan traumatik sub akut dan
kronik,adanya jaringan perut (scar tissue) pada kulit,kondisi
ketegangan,pemendekan dan perlengketan jaringan lunak (otot,
tendon,ligament).Kondisi inflamasi kronik : oedema,gangguan sirkulasi
darah,contoh kasus yang termasuk indikasi ultrasound : rheumatoid
arthrosis,osteoarhrosis genu,ernia nucleus pulposus,low back pain,spasme
cervical,tennis elbow,frozen shoulder.
Kontra Indikasi US yaitu jaringan yang lembut (mata,ovarium,testis,otak)
jaringan yang baru sembuh,jaringan/granulasi baru,kehamilan,pada daerah yang
sirkulasi darahnya tidak adekuat,tanda-tanda keganasan,infeksi bakteri spesifik.
ESWT ( Extracarporeal Shockwafe Therapy )

adalah solusi non-invasif baru untuk nyeri muskuloskeletal. Terapi shockwave


extracorporeal sering digunakan dalam fisioterapi, ortopedi dan kedokteran olahraga.
Aplikasi nya sebagian besar terkait dengan pengobatan gangguan otot dan tendon kronis,
nyeri punggung dan leher. Kebanyakan indikasi umum termasuk: nyeri bahu,
epicondylitis, nyeri punggung, nyeri tendon Achilles, tendonitis patella dan triger poin.