Anda di halaman 1dari 21

TRI OKE MAHENDRA, S.

Pd - TUGAS AKHIR M3 KB3

Selesaikan bahasan ini jembatan sederhana dari beton pada bagian atas jembatan
mengkaji tentang komponen jembatan mulai dari sandaran, lantai kendaraan , trotoar
sampai dengan balok memanjang utama. Pada gambar dibawah ini contoh bentuk soal
jembatan dari beton konvensional sebagai bahan pemahaman dalam merancang dan
mengitung

Gambar Potongan Memanjang

Gambar Potongan Melintang

1. Spesifikasi Komponen Jembatan


Spesifikasi struktur jembatan menjelaskan tentang ukuran disetiap bagian
konstruksi yang akan dipergunakan sebagai acuan dalam analisis komponen jembatan.
Kondisi Jembatan (lihat gambar)
 Panjang bersih gelagar : 9,555 m
 Panjang bentang : 10,555 m
 Jumlah bentang : 1 buah
 Panjang jembatan total : 9,555m
 Lebar jembatan : 6,000 m
 Lebar perkerasan : 3,500 m
Lebar Trotoar : 2x0,75 m
 Tipe jembatan : Beton bertulang dengan gelagar balok T
 Jumlah gelagar balok : 2 buah
 Ruang bebas roda :2x0,50 m

1) Spesifikasi Pembebanan
Spesifikasi pembebanan pada bagian konsruksi jembatan menjelaskan
karakterisik beban yang akan dipergunakan untuk menghitung komponen struktur.
Ukuran BM mengambarkan klas dari pembebanan untuk jembatan sesuai peruntukan
klas jembatan
a. Beban hidup : PPJJR No.12/1970 (direncanakan dipakai nilai Beban Muatan 70%)
 Beban roda T = 70% x 10 t = 7 t
 Beban garis P = 70% x 12 t = 8,40 t
 Beban merata q = 70% x 2.20 t/m2 = 1,54 t/m2 (L<30m)
20 20
b. Beban kejut, k = 1 + =1+ = 1,336
50  L 50  9,555

2). Spesifikasi mutu Beton dan Baja Tulangan


Kemampuan kekuatan bahan ditentukan dari mutu material yang akan dipakai
dalam kontruksi bahan material terpakai
a. Beton :
 Kuat tekan K 250, fc’ = 25 Mpa
 Kuat tarik ijin, fc' = 5.5 - 10 Mpa

 Modulus Elastisitas, Ec = 4700 x 25 = 26,019 Mpa


b. Baja Tulangan :
Bahan baja tulangan yang dipakai memiliki kemampuan kuat leleh dan elastisitas
bahan
 Kuat leleh A 41 , fy = 300 Mpa
 Modulus Elastisitas, Es = 2 x 105 Mpa

2. Sandaran Trotoar/ Relling Jembatan


1). Sandaran trotoar
Beban H = P dapat distilah kan beban horizontal,akibat kendaraan menghamtam
relling jembatan diambil sebesar = 100 kg/m, pada sumber VOSB dijelakan bahwa
beban horizontal diperkenankan dalam satuan 100 kg/m .jika dipakai besi lingkaran o
75 mm tebal 5 mm ( d1 = 75 mmmm,d2=70 mm), maka kekuatan reliing jembatan
bagian bawah dan top relling.
Tumpuan tiang relling dari dari bahan beton menyatu dengan bagian kontruksi
sayap trotoar, diasumsi adalah jepit- bebas maka tinggi kritis tiang reling dipakai L =
1 m, panjang kritis lk tiang relingg= 2* L.= 2 * 1 = 2 m, jarak antara tiang sandaran
reliing 2 m, maka hasil statika yang diperoleh dari gaya P horisontal bekerja pada
tengah bentang sebesar M tiang= 1/8x320 kg x 22 = 160 kgm, maka kekuatan tegangan
pada baja reling = Tegangan = Mu/Ws = 160x100 /( 1/32x(7,5-7, 0) = 340 kg/em2 <
tegangan baja bulat GIP, kesimpulan material dapat dipakai

2) Tiang Sandaran reling dari beton Uk 15/25


Beban pada tiang sandaran reling terjadi akibat berat sendiri dan beban
horizontal (q) berat konstruksi tiang ukuran 15/25 . q = b*h*L*bjc = 0,15 * 0,25 * 1*
2400 = 15 kg,
Beban horisontal tumbukan 100 kg/m. maka statika
Momen lentur, Mu = (1/2. X1,2.Qx2.L) + (2*L*1,6(2 x P )
= (½.15x2*1)+ (2 *1*2*100) =200 kgm = 2000 Nm
Gaya geser, V = (15 *1)+ (2. 1 x 100) = 215 kg = 2150 N
Dipakai besi kolom o 10 mm. beugel 0 8 mm

Gambar 4. 3 Dimensi Tiang Reling Trotoar

Persamaan momen nominal


Mn = .b.d 2 .k
Mu = Mn
SNI 2002 perancangan beton dimana Nilai k dari pengaruh Momen kerja
Mu 2000  10 3
k= = = 0,925
bd 2 0.8  150  130 2
nilai ρ (ro) dari kebutuhan penulangan beton

0.85 fc'  2k  0.85  20  2  0.9246 


ρperlu = 1  1  = 1  1  
fy   
0.85 fc'  200  0.85  20 

= 0,00476
Control ρ (ro) minimum
1,4 1, 4
ρmin = = = 0,007
fy 200
jika ρperlu 0,00476 < ρmin ρ = ρmin = 0,007
Luas penulangan besi lentur As = ρ b d = 0,007 x 160 x 130 = 145,60 mm2
Dipakai tulangan 2 (2  10) (As = 157 mm2), karena kolom kotak maka dipasang
kan tulangan pada sisi sisi sejumlah 4 buah 010 mm, ditambahkan beugel O 8 mm

Kontrol kapasitas momen kolom


Dianggap baja tulangan telah mencapai leleh pada saat beton mulai retak
(  c = 0,003), fs = fy

NT = ND
As f y 157  200
a= = = 11,55 mm
0.85 . f c '.b 0.85  20 150
a 11,55
c= = = 13,588 mm
1 0,85

d c  130  13,588 


fs = 600   = 600   = 5143,741 Mpa > fy
 c   13,588 
kemampuan baja lebih besar dari kuat leleh
 a  11,55 
Mn = As f y  d   = 157  200   130   = 3900665 Nmm
 2  2 
= 3900,665 Nm
Mn
= 1,625 perbandingan momen melebihi dari 1 maka konstruksi aman
Mu

untuk dipakai, jika nilai perbandingan Mn/Mu <1 penampang diperbesar.

Perencanaan tulangan geser pada tiang sandaran :


Vu = 2000 N
1 1 
Vc = fc '.bd =  20   160  130 = 15503,405 N
3 3 
1 1
Vc = . 0,6 x 15503,405 = 4651,0215 N > Vu ( tidak perlu sengkang)
2 2
Walaupun secara teoritis tidak perlu sengkang /beugel tetapi untuk kestabilan
struktur dan peraturan mensyaratkan dipasang jarak tulangan minimum sengkang
1 1
(spasi penampang). Jarak Sengkang = d = 130 = 65 mm
2 2
Atau jarak sengkang maksimum yang diijinkan
Smaksimum = 600 mm
digunakan spasi = 65 mm, dengan luas tulangan minimum sengkang:

1 1 
f c '.b.s  20   160  65
=  
3
Av min = 3 = 77 mm2
fy 200

Dari hasil tulangan diatas, lihat table penulangan dipakai tulangan 2  8 mm (Av
= 100,531 mm2), maka jika dipakai 100,531 jarak sengkang: diperoleh
Av . f y 100 ,531  200
S= = = 84,298 mm2 >65 mm(jarak dipakai)< 600 mm
1 1 
f c '.b  20   160
3 3 
Maka pada tiang sandaran trotoar di dipakai tulangan sengkang  8-60 mm untuk
geser , dan utama tarik 2x 2  10 untuk lentur.

3. Plat Trotoar
Pada konstruksi plat trotoar berupa bentuk kantilevel dimana plat menjorok keluar
balok tepi dengan asumsi plat terjepit pada satu sisinya dan bebas pada sisi berhadapan.
Untuk menentukan beban pada kekuatan plat trotoar diperlukan tatika dengan mencari
monen didasarkan dari luas bagian (Ac) dikalikan jarak X terhadap posisi letak tumpuan.
Sedangkan pada memperoleh gaya geser diperlukan dengan menjumlahkan beban dari
masing masing bagian konstruksi. Perhitungan dapat dilihat pada bagian dibawah ini
Gambar 4. 4 Bagian Penampang Trotoar Dan Perapet

Pada kondisi ini maka setiap bagian komponen kantilevel dapat diperhitungkan
sebagai beban mati yang akan merubah posisi kentilever untuk melentur kebawah.
Lebih mudahnya dalam menghitung maka bagian komponen dilakukan perhitungan
Momen dapat disederhanakan dalam bentuk table dibawah ini
a). Momen lentur (Bending Moment)

Tabel 4. 1 Penghitungan Momen Lentur Dengan Factor Bebean Mati 1,2 Hidup 1,6

 (berat W
No Volume (m3) jenis) (berat) Lengan Momen
(kg/m3) (kg) (m) (kgm)
1 Tiang sandar atas 0,16 x 0,16 x 0,50 = 0,008 2400 19,20 0,835 16,420
(0,16x0.16 x0,50 –(0,5x0,10x 0,16)/2 = 0,009
2 bag tiang sandar bagian miring 2400 9,24 0,830 7,960
1.0 x 0,05 x 0,55 = 0,003 2100 6,00 0,55 4,800
3 Bag miring trot 0,10 x (0,15 x 0,50)/2 = 0,004 2400 9,00 0,725 6,530
4 1,00 x 0,825 x 0,20 = 0,165 beton trotoar atas 2400 396,00 0,413 163,500
5 1,00 x (0,825 x 0,10)/2 = 0,041 btn trotobawah 2400 99,00 0,275 27,230
6 Air hujan = 1 x 0,65 x 0,05 =0.0325 1000 32,50 0,325 19,560
P 1,0 x 100,00 100,00 1,200 1200,00
T 1,299 x 7,00 (wheel load) 9093,0 0,275 2500,56
Total momen lentur, M 3036,54
10276,6 30365,40
9 = Nm
b). Gaya geser (Shear Force)
Gaya yang diperlukan untuk menentukan kemampuan pangkal kantilevel yang
menyatu pada balok
Berat tiang sandaran = 1+2+3+4+railling = 67,440 kg
Slab kantilever dan perkerasan = 5+6+7 = 591,250 kg
Beban roda = 9093,000 kg
Beban genangan air hujan = 68,500 kg
Total gaya lintang, V = 10276.69 kg = 1027669 N

c). Kebutuhan baja tulangan pada kantilevel


Mu = 30370,000 Nm sudah fktor beban Vu = 1027669 N
hf = 300 mm d = 300 – 40 = 260 mm
kemampuan gaya kerja terhadap penampang, dihitung perpias panjang kantilevel =
1000mm
Mu 30370  10 3
k= = = 0,5616 Mpa
bd 2 0.8  1000  260 2

0.85 fc'  2k  0.85  20  2  0.5616 



ρperlu = 1  1  = 1  1 
fy  0.85 fc'  200  0.85  20 

= 0,003
ρperlu = 0,003 < ρmin ρ = ρmin = 0,007
kebutuhan besi tulangan pada kantilevel
As = ρbd = 0,007 x 1000 x 260 = 1820 mm2
Dipakai tulangan n = As/ A  16 = 1820/ 200,96 mm2 = 9,6 = 10  16 (As = 2009,6
mm2), dengan jarak antar tulangan
200 ,962
Sperlu = 1000 = 110,474 em2
1820
Dipakai tulangan utama arah tarik 10  16-110 mm, pada bagian beton tekan karena
tinggi pangkal 300 mm > 120 mm, maka diperlukan tulangan extra tekan diambil 20%
dari kebutuhan luas tulangan tarik. As= 20%x 1820 = 364 mm2 diperlukan 4  12 As
= 452,16 mm2 > 364 mm2n
Kontrol terhadap geser beton pada pangkal kantilevel:
V 10276
c = = = 0,431 Mpa < 0,45 fc’
7 bh 7  1000  260
8 8
4. Plat Lantai Jembatan
Kemungkinan posisi roda pada kantilever trotoar

Gambar 4. 5 Posisi Roda Pada Plat Kantilevel


Perhitungan plat lantai jembatan diasumsikan bahwa posisi plat menumpu pada
keempat sisi, satu lajur menumpu pada balok gelegar memanjang berhadapan, dan
pada sisi lainya menumpu pada balok pembagi diapragma

Gambar 4. 6 Potongan Melintang Balok Dan Plat Lantai Posisi Roda Kendaraan

1). Momen lentur akibat beban hidup


Dari sumber kajian tabel dari SKSNI . Gideon,dipeoleh koefisien momen dapat
diperoleh dari plat 4 sisi atau 2 sisi , dan besaran momen kerja :
fxm = 0,1500
fym = 0,0933
Kemampuan Beban T pada Plat lantai dilakukan dengan menghitung beban
kontak dan penyebaran, maka dapat disederhanakan ;
Bidang kontak roda pada plat dapat dicapai
dengan
Beban roda, T = 7000 kg
Bidang kontak = 84 x 54 cm
Penyebaran beban roda,
7000  1,336
T=
0,84  0,54
= 20617,284 kg/cm2
= 0,20709 Mpa
lx = 1,65; ly = 
tx/lx = 0,84/1,65 = 0,509
ty/lx = 0,54/1,65 = 0,327
Gambar 4. 7 Posisi Beban roda pada
plat –deck slab jembatan

Besaran momen diperoleh ( Gideon)


Mxm = fxm x T x tx x ty = 0,1500 x 20617,284 x 0,84 x 0,54 = 1402,8 kgm
= 14028 Nm
Mym = fym x T x tx x ty = 0,0933 x 20617,284 x 0,84 x 0,54 = 872,6 kgm
= 8726 Nm

1) Momen lentur akibat beban mati (q) diatas plat lantai


Berat slab/dck t plat x Bj = 0,20 x 2400 = 480 kg/m2
Berat perkerasan t asplal x BJ = 0,07 x 2200 = 154 kg/m2
Berat air hujan 5 em x Bj = 0,05 x 1000 = 50 kg/m2
Total qDL = 684 kg/m2
Momen dapat diperoleh sebesar, dengan menasumsikan bahwa plat berada pada
kedua tumpuan, maka dari statika I, 2 PBI 71, SKSNI. Soemono, Shrccril. Chu
kia Wang
1 1
 qDL  lx =  684  1,65 2 = 187 kgm = 1870 Nm
2
Mxm =
10 10

Sedangkan pada arah memanjang dapat diambil sebesar


1 1
Mym =  Mxm =  187 (kgm) = 63 kgm = 630 Nm
3 3

2). Momen total yang dihitung dari pengaruh beban hidup(T) dan beban mati (q)
Mx = 14028 + 1870 = 15898 Nm
My = 8726 + 630 = 9356 Nm

3). Perhitungan baja tulangan


Arah melintang (lx)
Mux = 15898 Nm
hf slab = 200 mm
dx = 200 – 40 = 160 mm
Mu 15898  10 3
k= = = 0,7763 Mpa
bd 2 0.8  1000  160 2

0.85 fc'  2k  0.85  20  2  0.7763 


ρperlu = 1  1   = 1  1  
fy  0.85 fc'  200  0.85  20 

= 0,00397
ρmin = 1,4/ fy = 1,4/ 140 = 0,1

ρperlu < ρmin ρ = ρmin = 0,007


As = ρxbxd = 0,007 x 1000 x 260 = 1820 mm2
Dipakai tulangan  16 (As = 201,062 mm2), dengan jarak antar tulangan p.k.p.
Dipakai n tulangan = 1820 / 201,62 = 9 + 1 = 10 maka dipakai 10 O 16 mm
dalam ukuran b = 1000 mm
1820
Sperlu = x  9bh,  1000 / 9  110,474 mm
201,062
Dipakai tulangan 9  16-100 mm,
Arah melintang (ly)
Muy = 9356 Nm
hf = 200 mm
dy = 200 – 40 - 16 = 144 mm
Mu 9356  10 3
k= = = 0,564 Mpa
bd 2 0.8  1000  144 2

0.85 fc'  2k  0.85  20  2  0.564 


ρperlu = 1  1   = 1  1  
fy  0.85 fc'  200  0.85  20 

= 0,00287
ρperlu < ρmin ρ = ρmin = 0,007
As = ρbd = 0,007 x 1000 x 144 = 1008 mm2
Dipakai tulangan  16 (As = 201,062 mm2), dengan jarak antar tulangan p.k.p.
201,062
Sperlu =  1000 = 199,46 mm
1008
Maka dipakai tulangan pada plat lantai jembatan 5  16-200 mm, dengan tulangan
bagi dipasangkan pada arah sumbu x dan sumbu y 20% dari luas tulangan utama

5. Analisa Balok Memanjang/Balok Utama

Gambar 4. 8 Posisi balok memanjang menumpu pada kedua bentangnya


Asumsi gelegar balok utama menumpu pada abutmen/ landasan jembatan dengan
tumpuan sendi- rol. Semua pembebanan yang akan ditopang oleh balok utama
dianalisis
1). Beban mati (q)
0,1  0,16  1,00  2400
Tiang relling = x 1m = 38,4 kg/m

Railing jemb = 3 x g (3,65) x 1 m = 10,960 kg/m


Perkerasan = 0,04 x 2200 x 2,031 = 312,774 kg/m
Air hujan = 0,05 x 1000 x 2,031 = 101,550 kg/m
Pelat lantai = 0,20 x 2400 x 2,031 = 974,880 kg/m Gelagar =
0,95 x 0,45 x 2400 x 1,00 = 1026,000 kg/m
qDL = 2363,500 kg/m
Blk (diafragma), qb =(0,30 x 0,60 x 2400 x 82,5 ) 8.5 = 101,00 kg/m
Total qDL = 2464,5 kg/m

2). Momen lentur akibat beban mati ( lihat soemono, Heinzfrick), dilakukan persegmen
setiap 1 meter atau 2 meter, pada kasus ini persegmen 2.00 m
1 x  x 
MqDL Mx = q DL L2  1  
2 L  L 
Momen pada potongan 1, x = 2,00 m (M1.DL)

1  2,0  2,00 
MqDL =  2464 ,500  9,555 2  1   = 16154,80 kgm
2  9,555  9,555 
1
MTb =  356 ,400  2,0 = 357,00 kgm
2
M1.DL = 16511,80 kgm
= 165118,00 Nm

Momen pada potongan 2, x = 4,000 m (M2.DL)

1  4,0  4,0 
MqDL =  2464 ,500  9,555 2  1   = 22451,60 kgm
2  9,555  9,555 
1
MTb =  356 ,400  4,00 = 713,00 kgm
2
M2.DL = 23164,60 kgm
= 231646,00 Nm
Momen pada potongan 3, x = 4,2775 m (M3.DL)

1  4,2775  4,2775 
MqDL =  2464 ,500  9,555 2  1   = 22546,50 kgm
2  9,555  9,555 
1
MTb =  356 ,400  4,2775 = 1069,00 kgm
2
M3.DL = 23615,50 kgm
= 236155,00 Nm

3). Beban Jalur (D)


Koefisien kejut = 1,336, b = 2m luas beban yangditerima balok
8400
Beban garis, P = 1,336   2,00 = 8288,25 kg
2,75
1540
Beban terbagi merata, q =  2,0 = 1137,36 kg/m
2,75

Gambar 4. 9 Penampang Melintang Jembatan Beton Typy Balok T

4). Momen lentur akibat beban hidup, diambil dalam statika Statical Chu kia wang
x  x 
Mx(P) = P.L 1  
 L  L 
1 2  x  x 
Mx(q) = q.L  1  
2  L  L 
Momen pada potongan 1, x = 2,0 m (M1.LL)
 2,0  2,0 
Mx(P) = 8288,25  9,555  1   = 12701,23 kgm
 9,555  9,555 

1  2,0  2,0 
Mx(q) =  1137 ,36  9,555 2  1   = 7455,40 kgm
2  9,555  9,555 
M1.LL = 20156,63 kgm
= 201566,30 Nm

Momen pada potongan 2, x = 4,0 m (M2.LL)


 4,0  4,0 
Mx(P) = 8288,25  9,555  1   = 17651,89 kgm
 9,555  9,555 

1  4,0  4,0 
Mx(q) =  1137 ,36  9,555 2  1   = 10363,54 kgm
2  9,555  9,555 
M1.LL = 28015,43 kgm
= 280154,30 Nm

Momen pada potongan 3, x = 4,2775 m (M3.LL)


 4,2775  4,2775 
Mx(P) = 8288,25  9,555  1   = 17726,49 kgm
 9,555  9,555 

1  4,2775  4,2775 
Mx(q) =  1137 ,36 ,555 2  1   = 10405,14 kgm
2  8,555  8,555 

M1.LL = 28131,63 kgm


= 281316,30 Nm

5). Momen pada tumpuan


1 1
Ms = Mmax =  517471,30 = 172490,43 Nm
3 3

6). Gaya geser (shearing force)


1
Beban mati terbagi merata =  2464 ,5  8,555 = 10541,90 kg
2
Balok melintang = 2,45  356 ,40 = 891,00 kg
1
Beban hidup garis P=  8288 ,25 = 4144,13 kg
2
1
Beban hidup terbagi merata, q = 1137 ,36  8,555 = 4865,07 kg
2
V = 20442,10 kg
V = 204421,00 N

Kombinasi dari hasil momen desain pada tiap bagian panjang balok
1) Perhitungan baja tulangan pada balok
Pada posisi tumpuan balok :
Msupport = 172490,43 Nm
V = 204607,00 N
b = 450 mm
h = 1150 mm
d = 1150 – 60 = 1090 mm

Pembebanan M.1 M.2 M.3


Beban mati, DL 165118,00 231646,00 236155,00
Beban hidup, LL 201566,30 280154,30 281316,30
Total 366684,30 511800,30 517471,30
Mu 172490,43  10 3
k= = = 0,403 Mpa
bd 2 0.8  450  1090 2

0.85 fc'  2k  0.85  20  2  0,403 



ρperlu = 1  1  = 1  1 
fy  0.85 fc'  200  0.85  20 

= 0,00204
1,4 1, 4
ρmin = = = 0,007
fy 200
ρperlu < ρmin ρ = ρmin = 0,007
As = ρbd = 0,007 x 450 x 1090 = 3433,50 mm2
Dipakai baja tulangan 1  30 (As = 706,5 mm2)
tarik pada bagian tarik diperlukan tulangan sejumlah 5  30 (As = 3534,292 mm2)
Kemampuan antara baja dan luasan beton menghasikan nilai NT = ND, maka luasan
blok beton diperoleh
As f y 3534 ,292  200
a= = = 92,4 mm
0.85 . f c '.b 0.85  20  450
a 92,4
c= = = 108,71 mm
1 0,85
fs =5416,248 Mpa > fy
 a  92,40 
Mn = As f y  d   = 3534 ,292  200   1090  
 2  2 
= 737818868,60 Nmm = 737818,8686 Nm
Mn
= 1,424> 1
Mu

Dengan nilai beton dan baja bekerja seimbang


Rancangan Geser pada tumpuan balok:
Vu = 204421,00 N
1 1 
Vc = fc '.bd =  20   450  1090 = 3468358,761 N
3 3 
1 1
Vc = . 0,6 x 3468358,761 = 1040507,628 N > Vu ( dari hasil teoritis tidak perlu
2 2
sengkang)
Walaupun secara teoritis tidak perlu sengkang tetapi untuk kestabilan struktur dan
peraturan mensyaratkan dipasang tulangan minimum sengkang dengan jarak (spasi
maksimum).
1 1
Smaksimum = d =  450 = 225 mm
2 2
atau
Smaksimum = 600 mm
Maka jarak sengkang digunakan spasi = 225 mm, dengan luas tulangan minimum :Av

1 1 
f c '.b.s  20   450  225
=  
3 3
min = = 754,673 mm2
fy 200

Dipakai tulangan sengkang  12 mm (Av = 226,195 mm2), maka jarak sengkang :


Av . f y 2  226 ,195  200
S= = = 134,876 mm
1 1 
f c '.b  20   450
3 3 
Maka pada balok di bagian tumpuan dipakai tulangan  12-150 mm untuk geser dan
5  30 untuk lentur

6. Varian analisis Posisi Balok Lapangan


Balok ini akan meletur pada bagian tengah, dimulai dari tepi tumpuan, karena lentur
mengakibatkan bagian atas akan tertekan, maka dipakai balok jenis T
Dilakukan analisis pada tiap segmen berapa butuhnya tulangan terpakai.
Pada potongan M1. Digunakan bentuk balok T dengan posisi tarik dibagian bawah
dan bagian atas tekan
Besar momen bekerja
M1 = 366684,30 Nm

Pada balok T dipertimbangkan Lebar efektif balok (b), dipilih yang terkecil diantara :
1 1
b =  L =  9555 = 2388,75 mm
4 4
b = bw + 16 hf = 450 + 16 200 = 3650 mm
b = jarak p.k.p = 2000 mm
Kontrol penampang balok-T :
Dianggap seluruh flens menerima desakan sepenuhnya atau oleh pengaruh tekanan dari
blok tegangan beton.
 
 = 0,85  20  2000  200 1060 
hf 200 
Mnf = 0,85 f c ' bh f  d  
 2   2 

= 6528 x 103 Nm
Karena nilai Mnf > Mf, maka balok berperilaku sebagai balok persegi-T,
M u1 366684,3  10 3
k= = = 0,907 Mpa
bd 2 0.8  450  1060 2
0.85 fc'  2k  0.85  20  2  0,907 

ρperlu = 1  1  = 1  1 
fy  0.85 fc'  200  0.85  20 

= 0,00466
1,4 1, 4
ρmin = = = 0,007
fy 200
ρperlu < ρmin ρ = 0,007
As = ρbd = 0,007 x 450 x 1060 = 3339 mm2
Dipakai baja tulangan 5  30 (As = 3534,292 mm2)
NT = N D
As f y 3534 ,292  200
a= = = 92,4 mm
0.85 . f c '.b 0.85  20  450
a 92,4
c= = = 108,71 mm
1 0,85

d c  1060  108 ,71 


fs = 600   = 600   = 5250,43 Mpa > fy
 c   108 ,71 
 a  92,4 
Mn = As f y  d   = 3534 ,292  200   1060  
 2  2 
= 716,613 x 106 Nmm = 716,613 x 103 Nm
Mn
= 1,95
Mu

Maka penampang dapat dipakai

Cek tulangan :

  0,510 d  
As max = 0,0319hf b  bw   1
  h 
  f 
  0,510  1060 
= 0,0319  200 2000  450   1
  200 
= 17649,313 mm2
As min = ρmin bd = 0,007 x 450 x 1060 = 3339,000 mm2
Dengan demikian penampang balok memenuhi syarat daktailitas.
7. Varian Analisis Pada Titik M3.Tengah Bentang
Momen kerja dibandingkan momen kondisi pada balok T
M3 = 517471,30 Nm < Mnf = 6528 x 103 Nm
Maka pada potongan 3 perilaku balok sebagai balok – T persegi.`
M u2 517471,3  10 3
k= = = 1,279 Mpa
bd 2 0.8  450  1060 2

0.85 fc'  2k  0.85  20  2  1,279 



ρperlu = 1  1  = 1  1 
fy  0.85 fc'  200  0.85  20 

= 0,00666
1,4 1, 4
ρmin = = = 0,007
fy 200
ρperlu < ρmin ρ = 0,007
As = ρbd = 0,007 x 450 x 1060 = 3339 mm2

Dipakai baja tulangan tarik sebanyak 5  30 (As = 3534,292 mm2)


Control keseimbangan
NT = ND
As f y 3534 ,292  200
a= = = 92,4 mm
0.85 . f c '.b 0.85  20  450
a 92,4
c= = = 108,71 mm
1 0,85

d c  1060  108 ,71 


fs = 600   = 600   = 5250,43 Mpa > fy
 c   108 ,71 
 a  92,4 
Mn = As f y  d   = 3534 ,292  200   1060  
 2  2 
= 716,613 x 106 Nmm = 716,613 x 103 Nm
Mn
= 1,38 > 1
Mu

Maka penulangan sejumlah 5 O 30 mm dapat dipasangkan dengan memperhatika


posisi terhadap jarak bersih antar tulangan agar material kerikil dapat mengisi rongga
antara tulangan terpakai
Jika pemasangan tulangan disusun 2 lapis, maka mendapatkan posisi jarak
daktual = 1150 – 40 – 25 x 2 = 1060 mm
Setelah menghasilkan analisis pada komponen konstruksi jembatan maka buatlah
gambar kerja dengan mengatur posisi penulangan di masing masing komponen
konstruksi

Gambar 4. 10 Penampang Jembatan Sederhana