Anda di halaman 1dari 13

TUGAS KELOMPOK

HUKUM HAK ASASI MANUSIA LANJUT

SECURITY OUTSOURCING (KASUS IMAGINER)

OLEH:

NAMA KELOMPOK :

1. IDA AYU WIJAWATI MANUABA (1516051150)


2. PUTU LATISA MAYANG PRABASWARI (1516051155)
3. I GEDE GUMIAR EKA REDANA (1516051197)
4. IDA BAGUS ADITNYA DANA (1516051212)
5. I GUSTI NGURAH ADI PRABAWA (1516051216)
6. I GUSTI BAGUS CHRISTIAN ALEVANTO (1516051220)
7. KETUT ADI RIANTARA (1516051224)
8. DANI IHKAM (1516051218)
9. ANAK AGUNG GEDE SURYA NANDA (1516051215)
10. ANAK AGUNG KETUT YOGA PUTRA (1516051208)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2018
Tutorial 5 : Perdagangan dan Investasi

Problem Task (1)

Security Outsourcing (Kasus Imaginer)

Sejak pemerintah indonesia meratifikasi Undang-Undang Nomor 7


Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Estabilishing World Trade
Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) dan
kemudian mengundangan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan yang juga menjadi dasar acuan praktek Outsourcing di
Indonesia, perusahaan-perusahaan besar di Indonesia mulai menerapkan
Outsourcing untuk merekrut tenaga kerja, termasuk di Bali.

Salah satu contoh kasus (imajiner) dialami oleh tenaga kerja Satuan
Penamanan (Satpam) di Bank ABC yang beroprasional di Denpasar yang pada
awalnya merupakan (diangkat sebagai) karyawan tetap. Namun, sejak awal
tahun 2013 direksi Bank ABC beralih menggunakan Satpam dari Perusahaan
International Private Guard Company (IPGC) Australia yang bergerak di bidang
penyediaan tenaga professional security, melalui perjanjian outsourcing. Bank
tersebut kemudian menggunakan tenaga Satpam profesional, dengan alasan
selain lebih aman juga dari segi biayan jauh lebih efisien, karena pihak Bank
tidak perlu lagi memberi pelatihan (training) kepada para satpam. Perushaan
IPGC menyiapkan satpam siap pakai yang sangat profesional dengan sistem
pengamanan yang canggih, yang mana kebanyakan dari satpam tersebut
berasal dari luar Bali.

Setelah Bank ABC memutuskan beralih menggunakan Satpam


Outsourcing, lebih dari 100 orang satpam tetap yang bekerja di sepuluh
Cabang Bank ABC yang beroprasional di Bali menjadi kehilangan pekerjaanya
melalui proses PHK. Situasi ini ternyata tidak menjadi perhatian bagi pihak
pemerintah lokal di Bali.
Ketika memperingati hari Buruh sedunia tanggal 1 Mei 2013, pihak
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mewaikili para Satpam yang
kehilangan pekerjaanya, mengecam pemerintah atas pelanggaran HAM yang
terjadi terkait PHK, yang secara tidak langsung melibatkan 100 buruh (Satpam
Bank ABC) kehilangan pekerjaan, dan bahkan ratusan anak-anak mereka juga
tidak dapat melanjutkan sekolah karena orang tuanya tidak mampu
membayar keperluan sekolah. Pihak LSM juga menuntut agar Indonesia
keluar dari keanggotaan WTO dengan argumen bahwa keberadaan outsourcing
diadopsi dari standar-standar WTO dan ternyata tidak cocok diterapkan di
negara berkembang

A. Dari problem task tersebut dapat kita temukan kata-kata sulit/


Definisi istilah pada bacaan diatas:
a. Security adalah proses menjaga resiko yang dirasakan, agar
berada pada tingkatan yang dapat diterima.
b. Outsourcing adalah tindakan mengalihkan beberapa aktivitas
perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain
(outside provider), dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak
kerjasama.
c. Meretifikasi adalah suatu tindakan negara dalam memberikan
persetujuan untuk mengikatkan diri ke dalam suatu perjanjian.
d. World Trade Organization (WTO) (Organisasi Perdagangan Dunia)
merupakan satu-satunya organisasi internasional yang mengatur
perdagangan internasional.
e. Imajiner merupakan hanya terdapat dalam angan-angan (bukan yang
sebenarnya) atau dengan kata lain adalah imajinasi.
f. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah pengakhiran hubungan
kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya
hak dan kewajiban antara pekerja dan perusahaan/majikan. Hal ini
dapat terjadi karena pengunduran diri, pemberhentian oleh
perusahaan atau habis kontrak.
g. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) adalah sebuah organisasi yang
didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara
sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum
tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya.

B. Brainstorming

Acuan-acuan yang terdapat pada problem task:

1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang


Ketenagakerjaan yang juga menjadi dasar acuan praktek
Outsourcing di Indonesia, perusahaan-perusahaan besar di
Indonesia mulai menerapkan Outsourcing untuk merekrut
tenaga kerja, termasuk di Bali.
2. sejak awal tahun 2013 direksi Bank ABC beralih menggunakan
Satpam dari Perusahaan International Private Guard Company
(IPGC) Australia yang bergerak di bidang penyediaan tenaga
professional security, melalui perjanjian outsourcing.
3. Perushaan IPGC menyiapkan satpam siap pakai yang sangat
profesional dengan sistem pengamanan yang canggih, yang
mana kebanyakan dari satpam tersebut berasal dari luar Bali.
4. Bank ABC memutuskan beralih menggunakan Satpam
Outsourcing, lebih dari 100 orang satpam tetap yang bekerja di
sepuluh Cabang Bank ABC yang beroprasional di Bali menjadi
kehilangan pekerjaanya melalui proses PHK.
5. pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mewaikili para
Satpam yang kehilangan pekerjaanya, mengecam pemerintah
atas pelanggaran HAM yang terjadi terkait PHK, yang secara
tidak langsung melibatkan 100 buruh (Satpam Bank ABC)
kehilangan pekerjaan, dan bahkan ratusan anak-anak mereka
juga tidak dapat melanjutkan sekolah karena orang tuanya
tidak mampu membayar keperluan sekolah.

C. Tujuan Pembelajaran (Learning Goal) :

1. Apakah pemecatan melalui proses PHK merupakan suatu pelanggaran


Hak Asasi Manusia ?

2. Bagaimanakan upaya pemerintah terhadap pemenuhan Hak Asasi


Manusia terhadap para Pekerja atau buruh ?

D. Menjawab Learning Goal :

1. Apakah pemecatan melalui proses PHK merupakan suatu pelanggaran


Hak Asasi Manusia ?

Dalam kasus diatas Pemutusan Hubungan Kerja, dapat dikatakan


sebagai pelanggaran HAM karena ketika awal tahun 2013 direksi Bank
ABC beralih ke perusahan asing yang bergerak dibidang penyediaan
tenaga professional security, melalui adanya program perjanjian
outsourcing. sedangkan karyawan yang sudah terlebih dahulu berkerja
di tempat tersebut kemudian di berlakukan pemutusan hubungan kerja
(PHK). Hal ini diperkuat karena tidak adanya jaminan yang di penuhi
oleh Bank ABC, sesuai dengan task di atas.
Akan tetapi belum tentu semua PHK itu merupakan sebuah
pelanggaran HAM. Dalam dunia bisnis, perusahaan sering kali
melakukan PHK kepada karyawan. Hal ini diakibatkan karena performa
kerja karyawan atau kondisi bisnis perusahaan yang tidak stabil
mengakibatkan PHK itu terjadi. Menurut Undang-Undang No 13 Tahun
2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 156 ayat (1) yang berbunyi: Dalam
hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan
membayar uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan
uang penggantian hak yang seharusnya diterima. Perusahaan yang
melakukan pemutusan hubungan kerja harus membayarkan uang
pesangon seperti yang terdapat di dalam Undang Undang
Ketenagakerjaan pasal 156 ayat 2, dengan aturan sebagai berikut:
a. Masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun, 1 (satu) bulan upah;
b. Masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih tetapi kurang dari 2 (dua)
tahun, 2 (dua) bulan upah;
c. Masa kerja 2 (dua) tahun atau lebih tetapi kurang dari 3 (tiga)
tahun, 3 (tiga) bulan upah;
d. Masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 4 (empat)
tahun, 4 (empat) bulan upah;
e. Masa kerja 4 (empat) tahun atau lebih tetapi kurang dari 5 (lima)
tahun, 5 (lima) bulan upah;
f. Masa kerja 5 (lima) tahun atau lebih, tetapi kurang dari 6 (enam)
tahun, 6 (enam) bulan upah;
g. Masa kerja 6 (enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 7 (tujuh)
tahun, 7 (tujuh) bulan upah.
h. Masa kerja 7 (tujuh) tahun atau lebih tetapi kurang dari 8
(delapan) tahun, 8 (delapan) bulan upah;
i. Masa kerja 8 (delapan) tahun atau lebih, 9 (sembilan) bulan upah.

Perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja harus


membayarkan uang penghargaan masa kerja seperti yang terdapat di
dalam UU Ketenagakerjaan pasal 156 ayat (3), dengan aturan sebagai
berikut:

a. masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 (enam)
tahun, 2 (dua) bulan upah;
b. masa kerja 6 (enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 9
(sembilan) tahun, 3 (tiga) bulan upah;
c. masa kerja 9 (sembilan) tahun atau lebih tetapi kurang dari 12
(dua belas) tahun, 4 (empat) bulan upah;
d. masa kerja 12 (dua belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 15
(lima belas) tahun, 5 (lima) bulan upah;
e. masa kerja 15 (lima belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 18
(delapan belas) tahun, 6 (enam) bulan upah;
f. masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari
21 (dua puluh satu) tahun, 7 (tujuh) bulan upah;
g. masa kerja 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih tetapi kurang
dari 24 (dua puluh empat) tahun, 8 (delapan) bulan upah;
h. masa kerja 24 (dua puluh empat) tahun atau lebih, 10 (sepuluh )
bulan upah.

Selain kedua hak tersebut, menurut UU Ketenagakerjaan pasal 156 ayat


(3) terdapat juga uang pengganti hak yang seharusnya diterima, seperti:

a) cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur;


b) biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya
ke tempat di mana pekerja/buruh diterima bekerja;
c) penggantian perumahan serta pengobatan dan perawatan
ditetapkan 15% (lima belas perseratus) dari uang pesangon
dan/atau uang penghargaan masa kerja bagi yang memenuhi
syarat;
d) hal-hal lain yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan
perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

Sedangkan karyawan tidak berhak mendapatkan uang pesangon


jika terjadi hal-hal seperti, Pengusaha dapat melakukan pemutusan
hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena memasuki usia
pensiun dan apabila pengusaha telah mengikutkan pekerja/buruh pada
program pensiun yang iurannya dibayar penuh oleh pengusaha. (Pasal
167 ayat 1 UU Ketenagakerjaan). Perusahaan harus bayar 1 kali uang
pesangon, 1 kali uang penghargaan masa kerja dan uang pengganti hak,
jika:
a) PHK, karena pekerja atau karyawan yang melakukan pelanggaran
ketentuan dalam perjanjian kerja bersama atau peraturan
perusahaan dan sudah mendapat 3 kali peringatan berturut-turut
(Pasal 161 UU Ketenagakerjaan).
b) Terjadi perubahan status, penggabungan, peleburan, atau
perubahan kepemilikan perusahaan dan pekerja/buruh tidak
bersedia melanjutkan hubungan kerja. (Pasal 163 UU
Ketenagakerjaan).
c) perusahaan tutup yang disebabkan perusahaan mengalami
kerugian secara terus menerus selama 2 (dua) tahun dan telah di
audit oleh akuntan publik (Pasal 164 UU Ketenagakerjaan ayat 1).
d) perusahaan tutup yang disebabkan keadaan memaksa (force
majeur) (Pasal 164 UU Ketenagakerjaan ayat 1).
e) Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja
terhadap pekerja/ buruh karena perusahaan pailit (Pasal 165 UU
Ketenagakerjaan ayat 1).
2. Bagaimanakan upaya pemerintah terhadap pemenuhan Hak Asasi
Manusia terhadap para Pekerja atau buruh ?
Tenaga kerja merupakan modal utama serta pelaksanaan dari
pembangunan masyarakat pancasila. Tujuan terpenting dari
pembangunan masyarakat tersebut adalah kesejahteraan rakyat
termasuk tenaga kerja. Tenaga kerja sebagai pelaksana pembangunan
harus di jamin haknya, diatur kewajibannya dan dikembangkan daya
gunanya. Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER-
04/MEN/1994 pengertian tenaga kerja adalah setiap orang yang bekerja
pada perusahaan yang belum wajib mengikuti program jaminan social
tenaga kerja karena adanya pentahapan kepesertaan.
Bentuk perlindungan tenaga kerja di Indonesia yang wajib di
laksanakan oleh setiap pengusaha atau perusahaan yang
mempekerjakan orang untuk bekerja pada perusahaan tersebut harus
sangat diperhatikan, yaitu mengenai pemeliharaan dan peningkatan
kesejahteraan di maksud diselenggarakan dalam bentuk jaminan social
tenaga kerja yang bersifat umum untuk dilaksanakan atau bersifat
dasar, dengan bersaskan usaha bersama, kekeluargaan dan kegotong
royongan sebagai mana yang tercantum dalam jiwa dan semangat
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Jaminan pemeliharaan kesehatan merupakan jaminan sebagai
upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang
memerlukan pemeriksaan, pengobatan, dan/atau perawatan termasuk
kehamilan dan persalinan. Pemeliharaan kesehatan dimaksudkan untuk
meningkatkan produktivitas tenaga kerja sehingga dapat melaksanakan
tugas sebaik-baiknya dan merupakan upaya kesehatan dibidang
penyembuhan. Oleh karena itu upaya penyembuhan memerlukan dana
yang tidak sedikit dan memberatkan jika dibebankan kepada
perorangan, maka sudah selayaknya diupayakan penanggulangan
kemampuan masyarakat melalui program jaminan social tenaga kerja.
Para pekerja dalam pembangunan nasional semakin meningkat, dengan
resiko dan tanggung jawab serta tantangan yang dihadapinya. Oleh
karena itu kepada mereka dirasakan perlu untuk diberikan
perlindungan, pemeliharaan, dan peningkatan kesejahteraannya
sehingga menimbulkan rasa aman dalam bekerja.
I. Adapun syarat-syarat keselamatan kerja antara lain :
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
4. Memberikan kesempatan atau jalan penyelamatan diri waktu
kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya
5. Memberikan pertolongan pada kecelakaan
6. Memberi alat-alat perlindungan diri pada pekerja
7. Memperoleh penerangan yang cukp dan sesuai
8. Menyelanggarakan suhu dan lembab udara yang baik
9. Memeliharaan kebersihan, kesehatan dan ketertiban
II. Jenis Perlindungan Kerja
Secara teoritis dikenal ada tiga jenis perlindungan kerja yaitu sebagai
berikut : Zaeni Asyhadie, Hukum Kerja (Hukum Ketenagakerjaan
Bidang Hubungan Kerja), Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2007, hal
78
1. Perlindungan sosial, yaitu suatu perlindungan yang berkaitan
dengan usaha kemasyarakatan, yang tujuannya untuk
memungkinkan pekerja/buruh mengenyam dan
mengembangkan kehidupannya sebagaimana manusia pada
umumnya, dan khususnya sebagai anggota masyarakat dan
anggota keluarga. Perlindungan sosial disebut juga dengan
kesehatan kerja.
2. Perlindungan teknis, yaitu jenis perlindungan yang berkaitan
dengan usaha-usaha untuk
3. menjaga agar pekerja/buruh terhindar dari bahaya kecelakaan
yang ditimbulkan oleh alat-alat kerja atau bahan yang
dikerjakan. Perlindungan ini lebih sering disebut sebagai
keselamatan kerja.
4. Perlindungan ekonomis, yaitu suatu jenis perlindungan yang
berkaitan dengan usaha-usaha untuk memberikan kepada
pekerja/buruh suatu penghasilan yang cukup guna memnuhi
keperluan sehari-hari baginya dan keluarganya, termasuk
dalam hal pekerja/buruh tidak mampu bekerja karena sesuatu
diluar kehendaknya. Perlindungan jenis ini biasanya disebut
dengan jaminan sosial.

III. Jenis – Jenis Jaminan Sosial tenaga kerja

1. Jaminan Kecelakaan Kerja


Kecelakaan Kerja maupun penyakit akibat kerja maerupakan
resiko yang dihadapi oleh tenaga kerja yang melakukan
pekerjaan. Untuk menanggulangi hilangnya sebagian atau
seluruh penghasilannya yang diakibatkan oleh kematian atau
cacat karena kecelakaan kerja baik fisik maupun mental, maka
perlu adanya jaminan kecelakaan kerja.
2. Jaminan Kematian
Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan
kerja akan mengakibatkan terputusnya penghasilan, dan
sangat berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi bagi
keluarga yang ditinggalkan. Oleh karena itu, diperlukan
jaminan kematian dalam upaya meringankan beban keluarga
baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan
berupa uang.
3. Jaminan hari Tua
Hari tua dapat mengkibatkan terputusnya upah karena tidak
lagi mapu bekerja. Akibat terputusnya upah tersebut dapat
menimbulkan kerisauan bagi tenaga kerja dan mempengaruhi
ketenaga kerjaan sewaktu masih bekerja, teruma bagi mereka
yang penghasilannya rendah. Jaminan hari tua memberikan
kepastian penerimaan yang dibayarkan sekaligus dan atau
berkala pada saat tenaga kerja mencapai usia 55 ( lima puluh
lima ) tahun atau memnuhi persyaratan tersebut.
4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Pemeliharaan kesehatan dimaksudkan unutk meningkatkan
produktivitas tenaga kerja sehingga dapat melaksankan rugas
sebaik-baiknya dan merupakan upaya kesehatan dibidang
penyembuhan ( kuratif ).
E. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan diatas dapat di simpulkan bawah PHK yang
terjadi pada study task tersebut dapat diakatkan pelanggaran HAM
dikarenakan pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh pihak
Bank ABC tidak memiliki alasan yang sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, dalam hal ini PHK yang dilakukan oleh pihak Bank ABC dapat
menyebabkan hilangnya kesejahteraan para buruh /security Bank ABC.
Akan tetapi belum tentu semua PHK merupakan sebuah pelanggaran
HAM. Dalam dunia bisnis, perusahaan sering kali melakukan PHK
kepada karyawan. Hal ini diakibatkan karena performa kerja karyawan
atau kondisi bisnis perusahaan yang tidak stabil mengakibatkan PHK
itu terjadi. Kententuan menganai pemutusan hubungan kerja tersebut
dapat dilihat pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan
Bentuk perlindungan tenaga kerja di Indonesia yang wajib di
laksanakan oleh setiap pengusaha atau perusahaan yang
mempekerjakan orang untuk bekerja pada perusahaan tersebut harus
sangat diperhatikan, yaitu mengenai pemeliharaan dan peningkatan
kesejahteraan di maksud diselenggarakan dalam bentuk jaminan social
tenaga kerja yang bersifat umum. Adapun jenis-jenis jaminan sosial
tenaga kerja yakni:
 Jaminan kecelakaan kerja
 Jaminan kematian
 Jaminan hari tua
 Jaminan pemeliharaan kesehatan

F. Saran
Menilik contoh kasus di atas dapat dilihat bagaimana penegakan
peraturan mengenai ketenagakerjaan di Indonesia di rasa belum
maksimal, sehingga masih banyak terjadi kasus-kasus pelanggaran Hak
Asasi Manusia yang menimpa para buruh (security Bank ABC). Selain
memperhatikan penegakan peraturan ketenagakerjaan pemerintah juga
sebaiknya juga memperhatikan upaya untuk menjamin kesejahteraan
para pekerja/buruh yang selama ini belum dirasakan maksimal oleh
seluruh pekerja/buruh di Indonesia