Anda di halaman 1dari 17

ETIKA DALAM BISNIS

Oleh :
I Made Surya Widhi Wibawa (1707531085)
I Made Risky Prasetya (1707531087)
Made Satryawan Jelantik (1707531093)
I Made Andika Wicaksana (1707531116)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat kesehatan
yang beliau limpahkan dan usaha yang telah kami lakukan, makalah ini dapat diselesaikan.
Semoga makalah ini bukan hanya sekedar berguna bagi mahasiswa lainnya melainkan juga
berguna bagi masyarakat, khususnya bagi pelaku pendidikan. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan saran dan kritik pembaca sehingga penulis dapat menghasilkan makalah yang lebih
baik pada kesempatan berikutnya.

Denpasar, 10 September 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................. ii


DAFTAR ISI............................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang .......................................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................................................... 2
1.3. Tujuan ....................................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 3
2.1. Relativitas Moral dalam Bisnis ................................................................................................. 3
2.2. Tanggung Jawab Moral dan Sosial Bisnis................................................................................. 4
2.3. Kode Etik Berbagai Profesi ....................................................................................................... 6
2.4. Kendala-kendala Pelaksanaan Etika Bisnis ............................................................................... 8
2.5. Antara Keuntungan dan Etika ................................................................................................... 9
2.6. Pro dan Kontra Etika dalam Bisnis ......................................................................................... 10
2.7. Alasan Meningkatnya Perhatian Dunia Usaha Terhadap Etika Bisnis .................................... 11
BAB III PENUTUP ................................................................................................................................... 12
3.1. Kesimpulan.............................................................................................................................. 12
3.2. Saran ........................................................................................................................................ 13
Daftar Pustaka .......................................................................................................................................... 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Moralitas berarti aspek baik atau buruk, terpuji atau tercela, dan karenanya
diperbolehkan atau tidak, dari perilaku manusia. Moralitas selalu berkaitan dengan apa yang
dilakukan manusia, dan kegiatan ekonomis merupakan suatu bidang perilaku manusia yang
penting. Selama perusahaan memiliki produk yang berkualitas dan berguna untuk masyarakat
disamping itu dikelola dengan manajemen yang tepat dibidang produksi, finansial,
sumberdaya manusia dan lain-lain tetapi tidak mempunyai etika, maka kekurangan ini cepat
atau lambat akan menjadi batu sandungan bagi perusahaan tersebut. Bisnis merupakan suatu
unsur mutlak perlu dalam masyarakat modern. Tetapi kalau merupakan fenomena sosial yang
begitu hakiki, bisnis tidak dapat dilepaskan dari aturan-aturan main yang selalu harus diterima
dalam pergaulan sosial, termasuk juga aturan-aturan moral. Dengan kata lain, mengapa bisnis
tidak bebas untuk berlaku etis atau tidak? Tentu saja secara faktual, telah berulang kali terjadi
hal-hal yang tidak etis dalam kegiatan bisnis, dan hal ini tidak perlu disangkal, tetapi juga
tidak perlu menjadi fokus perhatian kita. Pertanyaannya bukan tentang kenyataan faktual,
melainkan tentang normativitas : seharusnya bagaimana dan apa yang menjadi dasar untuk
keharusan itu.
Banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kegiatan berbisnis. Sebagai
kegiatan sosial, bisnis dengan banyak cara terjalin dengan kompleksitas masyarakat
modern. Dalam kegiatan berbisnis, mengejar keuntungan adalah hal yang wajar, asalkan
dalam mencapai keuntungan tersebut tidak merugikan banyak pihak. Jadi, dalam mencapai
tujuan dalam kegiatan berbisnis ada batasnya. Kepentingan dan hak-hak orang lain perlu
diperhatikan. Perilaku etis dalam kegiatan berbisnis adalah sesuatu yang penting demi
kelangsungan hidup bisnis itu sendiri. Bisnis yang tidak etis akan merugikan bisnis itu sendiri
terutama jika dilihat dari perspektif jangka panjang. Bisnis yang baik bukan saja bisnis yang
menguntungkan, tetapi bisnis yang baik adalah selain bisnis tersebut menguntungkan juga
bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik, juga dalam konteks bisnis, merupakan
perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral. Bisnis juga terikat dengan hukum. Dalam
praktek hukum, banyak masalah timbul dalam hubungan dengan bisnis, baik pada taraf

1
nasional maupun taraf internasional. Walaupun terdapat hubungan erat antara norma hukum
dan norma etika, namun dua macam hal itu tidak sama. Ketinggalan hukum, dibandingkan
dengan etika, tidak terbatas pada masalah-masalah baru, misalnya, disebabkan perkembangan
teknologi.
Tanpa disadari, kasus pelanggaran etika bisnis merupakan hal yang biasa dan wajar pada
masa kini. Secara tidak sadar, kita sebenarnya menyaksikan banyak pelanggaran etika bisnis
dalam kegiatan berbisnis di Indonesia. Banyak hal yang berhubungan dengan pelanggaran
etika bisnis yang sering dilakukan oleh para pebisnis yang tidak bertanggung jawab di
Indonesia. Berbagai hal tersebut merupakan bentuk dari persaingan yang tidak sehat oleh para
pebisnis yang ingin menguasai pasar. Selain untuk menguasai pasar, terdapat faktor lain yang
juga mempengaruhi para pebisnis untuk melakukan pelanggaran etika bisnis, antara lain untuk
memperluas pangsa pasar, serta mendapatkan banyak keuntungan. Ketiga faktor tersebut
merupakan alasan yang umum untuk para pebisnis melakukan pelanggaran etika dengan
berbagai cara.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana relativitas moral dalam bisnis ?
2. Bagaimana tanggung jawab moral & sosial bisnis ?
3. Apa saja kode etik berbagai profesi ?
4. Apa saja kendala – kendala pelaksanaan etika bisnis ?
5. Apa hubungan antara keuntungan dan etika ?
6. Apa saja pro dan kontra etika dalam bisnis ?
7. Apa saja alasan meningkatnya perhatian dunia bisnis terhadap etika ?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui relativitas moral dalam bisnis.
2. Untuk memahami tanggung jawab moral & sosial bisnis.
3. Untuk mengetahui kode etik berbagai profesi.
4. Untuk memahami kendala – kendala pelaksanaan etika bisnis.
5. Untuk mengetahui hubungan antara keuntungan dan etika.
6. Untuk mengetahui pro dan kontra etika dalam bisnis.
7. Untuk memahami alasan meningkatnya perhatian dunia bisnis terhadap etika.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Relativitas Moral dalam Bisnis


Tiga pandangan umum yang dianut :
1. Norma etis yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Hal ini berarti
perusahaan harus mengikuti norma dan aturan moral yang berlaku di negara tempat
perusahaan melakukan bisnis.
2. Norma negara sendirilah yang paling benar dan tepat. Pandangan ini mewakili kubu
moralisme universal, bahwa pada dasarnya norma dan nilai moral berlaku universal
(prinsip yang dianut di negara sendiri juga berlaku di negara lain)
3. Tidak ada norma moral yang perlu diikuti sama sekali. Pandangan ini sama sekali tidak
benar.
Pendekatan stakeholder adalah suatu pendekatan dengan cara mengamati unsur-unsur
dalam bisnis yang saling terkait dan kemudian menjelaskan secara analitis bagaimana unsur-
unsur tersebut akan dipengaruhi dan juga mempengaruhi keputusan dan tindakan bisnis.
Pendekatan stakeholder digunakan dalam dunia bisnis untuk memperlihatkan siapa saja yang
mempunyai kepentingan atau terlibat dalam bisnis itu.
Menurut De George, ada tiga pandangan umum yang dianut. Pandangan pertama adalah
norma etis berbeda antara 1 tempat dengan tempat lainnya. Artinya perusahaan harus
mengikuti norma dan aturan moral yang berlaku di negara tempat perusahaan tersebut
beroperasi. Yang menjadi persoalan adalah anggapan bahwa tidak ada nilai dan norma moral
yang bersifat universal yang berlaku di semua negara dan masyarakat, bahwa nilai dan norma
moral yang berlaku di suatu negara berbeda dengan yang berlaku di negara lain. Oleh karena
itu, menurut pandangan ini norma dan nilai moral bersifat relatif. Ini tidak benar, karena
bagaimanapun mencuri, merampas, dan menipu dimanapun juga akan dikecam dan dianggap
tidak etis.
Pandangan kedua adalah bahwa nilai dan norma moral sendiri paling benar dalam arti
tertentu mewakili kubu moralisme universal, yaitu bahwa pada dasarnya norma dan nilai
moral berlaku universal, dan karena itu apa yang dianggap benar di negara sendiri harus
diberlakukan juga di negara lain (karena anggapan bahwa di negara lain prinsip itu pun pasti

3
berlaku dengan sendirinya). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa moralitas
menyangkut baik buruknya perilaku manusia sebagai manusia, oleh karena itu sejauh manusia
adalah manusia, dimanapun dia berada prinsip, nilai, dan norma moral itu akan tetap berlaku.
Pandangan ketiga adalah immoralis naif. Pandangan ini menyebutkan bahwa tidak ada
norma moral yang perlu diikuti sama sekali.

2.2. Tanggung Jawab Moral dan Sosial Bisnis


Tanggung Jawab Moral Bisnis
Apakah bisnis mempunyai tanggung jawab moral? Terdapat berbagai pandangan mengenai
tanggung jawab moral bisnis. Kaum neo-klasik dan modern, mulai dari Adam Smith, Thomas
Hoobes, John Locke, Milton Fiedman, Theodore Levitt, dan John Kenneth Galbraith berpendapat
bahwa bisnis adalah korporasi impersonal yang bertujuan untuk memperoleh laba. Sebagai
institusi impersonal atau pribadi, bisnis tidak mempunyai nurani, sehingga tidak bertanggung
jawab secara moral (Weiss,1994:88). Dengan kata lain, menurut pandangan ini bisnis adalah
institusi yang tidak berkaitan dengan moralitas yang bertujuan meningkatkan pemenuhan
kepentingsan pihak-pihak yang terlibat, dan melalui “tangan ajaib” atau kekuatan pasar,
kesejahteraan masyarakat pun akan meningkat. Ini berarti pamndangan mereka tergolong
utilitarianisme karena bisnis memberikan yang terbaik untuk sebagian besar anggota masyarakat.
Pandangan lain melihat bisnis, sebagai korporasi social ekonomi pihak berkepentingan
(corporation as social and economic stakeholder). Korporasi (dalam arti perusahaan dan
pimpinannya) mempunyai kewajiban utama kepada pemilik dan pemegang saham, karena mereka
telah memberikan mandat ekonomi kepada korporasi. Disamping itu, korporasi juga harus tetap
peduli dan responsif terhadap tuntutan hukum, social, politik, dan lingkungan pihak
berkepentingan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar. Dengan demikian, korporasi
bertanggung jawab secara social dan moral kepada konstituennya, artinya memelihara hubungan
yang bertanggung jawab dengan pihak berkepentingsn serta peduli dan responsive terhadap
tuntutan tuntutannya berdasarkan standar etika mengenai kejujuran dan keadilan. Pandangan ini
didasarka atas konsep kontrak social, yang semula dikemukakan oleh Jean Jacques Rousseau
(1712-1778) tentang perjanjian bersama anggota masyarakat untuk membentuk pemerintahan
yang kuat guna melindungi dan membela kepentingan mereka.

4
Setiap pihak yang mengikat diri terhadap manajemen mutu sesungguhnya menyetujui
adanya tanggung jawab moral. Menurut Pratley (1997:134-135) minimal ada tiga tanggung jawab
utama korporasi, yaitu :
1. Menghasilkan barang-barang, kepuasan konsumen, dan keamanan pemakaian.
2. Peduli terhadap lingkungan baik dilihat dari sudut masukan maupun keluaran,
pembuahan limbah yang aman, serta mengurangi penyusutan sumber daya.
3. Memenuhi standar minimal kondisi kerja dan system pengupahan serta jaminan social.
Dimensi tanggung jawab moral terhadap produk bias juga dilihat menurut teori kontrak,
teori perhatian semestinya (due-care) dan teori biaya social (Pratley, 1997:139).
Tanggung Jawab Sosial Bisnis
Tanggung jawab social bisnis (Corporate Social Responsibility atau disingkat CSR) adalah
memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mencapai laba dengan cara-cara yang sesuai dengan
peraturan dalam persaingan bebas tanpa penipuan dan kecurangan. Menaati peraturan permainan,
dan kesopanan, serta tidak melakukan kecurangan dan tipu muslihat sebenarnya sudah
mengandung arti bahwa bisnis sampai batas tertentu mempunyai tanggung jawab moral.
Pemerintahlah yang bertugas mengawasi perilaku moral bisnis, dan tidak mempersyaratkan
tanggung jawab social bisnis yang lebih besar.
Implementasi CSR diperusahaan pada umumnya dipengaruhi oleh factor-faktor sebagai
berikut:
1. Komitmen pimpinan.
Perusahaan yang pimpinannya tidak tanggap dengan masalah-masalah social dan
lingkungannya, kecil kemungkinan akan mempedulikan aktivitas social.
2. Ukuran dan kematangan perusahaan
Perusahaan besar dan mapan lebih mempunyai potensi memberikan kontribusi ketimbang
perusahaan kecil dan belum mapan. Namun, bukan berarti perusahaan menengah, kecil dan
belum mapan tersebut tidak dapat menerapkan CSR.
3. Regulasi dan system perpajakan yang diatur pemerintah
Semakin overlapnya regulasi dan penataan pajak akan membuat semakin kecil ketertarikan
perusahaan untuk memberikan donasi dan sumbangan social kepada masyarakat.
Sebaliknya, semakin kondusif regulasi atau semakin besar insentif pajak yang diberikan,

5
akan lebih berpotensi memberi semangat kepada perusahaan untuk berkontribusi kepada
masyarakat.

2.3. Kode Etik Berbagai Profesi


A. Pengertian Kode etik profesi
Kode etik berbagai prfesi sudah dikenal ada sejak lama. Sumpah Hipcrates (abad
ke-5 SM) dapat dipandang sebagai kode etik profesi tertua dalam bidang kedkteran yang
masih digunakan hingga saat ini. Dalam zaman moderen sekarang ini terdapat banyak
profesi yang telah mempunyai kode etik. Salah satu fenomena terbaru adalah mencuatnya
kode etik khusus untuk perusahaan tahun 1970-an akibat terjadinya skandal korupsi di
kalangan pebisnis.
Kode etik dapat dipahami sebagai kumpulan asas, norma, atau nilai moral yang
diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di
masyarakat maupun di tempat kerja. Sedangkan menurut UU No. 8 Pokok-pokok
Kepegawaian, kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam
melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kode etik perusahaan atau oleh Patrict Murphy disebut ethic statement dibedakan
dalam tiga macam (Baerterns, 2000:381) :
1. Value Statement (Pernyataan Nilai)
Pernyataan nilai dibuat singkat saja dan melukiskan apa yang dilihat oleh perusahaan
sebagai misinya dan mengandung nilai – nilai yang dijunjung tinggi perusahaan.
Banyak pertanyaan nialai yang menegaskan bahwa perusahaan ingin beroprasi secara
etis dan menggaris bawahi pentingnya integritas, kerja tim, kreadibilitas, da
keterbukaan dalam komunikasi.
2. Corporate Credo (Kredo Perusahaan)
Kredo perusahaan biasanya merumuskan tanggungjawab perusahaan terhadap para
stakeholder. Dibandingkan dengan pernyataan nilai, kredo perusahaan biasanya lebih
panjang dan meliputi beberapa alenia.
3. Cade Of Conduct/Cade Of Ethical Conduct (Kode Etik)
Kode etik (dalam artian sempit) menyangkut kebijakan etis perusahaan berhubungan
dengan kesulitan yang bisa timbul seperti konflik kepentingan, hunungan dengan

6
pesaing dan pemasok, sumbangan kepada pihak lain, dan sebagainya. Kode etik
umurnya lebih panjang dari kredo perusahaan dan bisa sampai 50-an halaman.
B. Alasan Perlunya Kode Etik Profesi
Scwhartz (dalam Ludigdo, 2007) menyebutkan kode etik sebagai dokumen formal
yang tertulis dan membedakan yang terdiri dari standar moral untuk membantu
mengarahkan perilaku karyawan dan organisasi. Kode etik profesi dapat menjadi
penyeimbang segi-segi negative dari suatu profesi, sehingga kode etik ibarat kompas yang
menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral
profesi itu dimata masyarakat. Selanjutnya ada beberapa alasan mengapa kode etik perlu
untuk dibuat. Beberapa alasan tersebut adalah:
1. Kode etik merupakan suatu cara untuk memperbaiki iklim organisasional sehingga
individu-individu dapat berperilaku secara etis.
2. Kontrol etis diperlukan karena sistem legal dan pasar tidak cukup mampu
mengarahkan perilaku organisasi untuk mempertimbangkan dampak moral dalam
setiap keputusan bisnisnya.
3. Perusahan memerlukan kode etik untuk menentukan status bisnis sebagai sebuah
profesi, dimana kode etik merupakan salah satu penandanya.
4. Kode etik dapat juga dipandang sebagai upaya menginstitusionalisasikan moral dan
nilai-nilai pendiri perusahaan, sehingga kode etik tersebut menjadi bagian dari budaya
perusahaan dan membantu sosialisasi individu baru dalam memasuki budaya tersebut.
5. Kode etik merupakan sebuah pesan. Sebuah profesi yang keberadannya sangat
tergantung pada kepercayaan masyarakat. Sebagai sebuah profesi yang kinerjanya
diukur dari profesionalismenya. Seorang profesional harus memiliki keterampilan,
pengetahuan, dan karakter. Penguasaan keterampilan dan pengetahuan tidaklah cukup
baginya untuk menjadi profesional. Karakter diri yang dicirikan oleh ada dan tegaknya
etika profesi merupakan hal penting yang harus dikuasainya pula.
C. Fungsi dan Tujuan Kode Etik Profesi
Dua sasaran pokok kode etik profesi, yaitu: Pertama, melindungi masyarakat dari
kemungkinan dirugikan oleh kelalaian kaum professional. Kode etik menjamin bahwa
masyarakat yang telah mempercayakan diri kepada seorang professional itu tidak akan
dirugikan olehnya. Kedua, kode etik bertujuan melindungi keluhuran profesi dari perilaku-

7
perilaku bobrok orang tertentu yang mengaku diri sebagai profesional. Dengan kode etik
ini setiap orang yang memiliki profesi dapat dipantau sejauh mana ia masih professional di
bidangnya, bukan hanya keahliannya tetapi juga komitmen moralnya.
Berdasarkan dua sasaran pokok kode etik profesi, maka fungsi dari kode etik
profesi dapat dijelaskan dalam beberapa hal, sebagai berikut:
1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang
digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.
3. Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika
dalam keanggotaan profesi. Etika profesi sangatlah dibutuhkan dlam berbagai bidang.
Jadi secara garis besar fungsi kode etika profesi sebagai alat untuk mencapai standar
etis yang tinggi dalam bisnis. Atau secara prinsip sebagai petunjuk atau pengingat
untuk berprilaku secara terhormat dalam situasi-situasi tertentu.
Sedangkan tujuan yang hendak dicapai dari keberadaan kode etik profesi dapat
dijelaskan dalam beberapa hal, yaitu:
1. Untuk menunjang tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan pelayanan di atas kepentingan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin kuat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
2.4. Kendala-kendala Pelaksanaan Etika Bisnis
Pelaksanaan prinsip-prinsip etika bisnis di Indonesia masih berhadapan dengan beberapa
masalah dan kendala. Keraf(1993:81-83) menyebut beberapa kendala tersebut yaitu:
1. Standar moral para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah. Banyak di antara pelaku
bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan menghalalkan segala cara untuk
memperoleh keuntungan dengan mengabaikan etika bisnis, seperti memalsukan campuran,
timbangan, ukuran, menjual barang yang kadaluwarsa, dan memanipulasi laporan
keuangan.

8
2. Banyak perusahaan yang mengalami konflik kepentingan. Konflik kepentingan ini muncul
karena adanya ketidaksesuaian antara nilai pribadi yang dianutnya atau antara peraturan
yang berlaku dengan tujuan yang hendak dicapainya, atau konflik antara nilai pribadi yang
dianutnya dengan praktik bisnis yang dilakukan oleh sebagian besar perusahaan lainnya,
atau antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Orang-orang yang
kurang teguh standar moralnya bisa jadi akan gagal karena mereka mengejar tujuan dengan
mengabaikan peraturan.
3. Situasi politik dan ekonomi yang belum stabil. Hal ini diperkeruh oleh banyaknya
sandiwara politik yang dimainkan oleh para elit politik, yang di satu sisi membingungkan
masyarakat luas dan di sisi lainnya memberi kesempatan bagi pihak yang mencari
dukungan elit politik guna keberhasilan usaha bisnisnya. Situasi ekonomi yang buruk tidak
jarang menimbulkan spekulasi untuk memanfaatkan peluang guna memperoleh
keuntungan tanpa menghiraukan akibatnya.
4. Lemahnya penegakan hukum. Banyak orang yang sudah divonis bersalah di pengadilan
bisa bebas berkeliaran dan tetap memangku jabatannya di pemerintahan. Kondisi ini
mempersulit upaya untuk memotivasi pelaku bisnis menegakkan norma-norma etika.
5. Belum ada organisasi profesi bisnis dan manajemen untuk menegakkan kode etik bisnis
dan manajemen. Organisasi seperti KADIN beserta asosiasi perusahaan di bawahnya
belum secara khusus menangani penyusunan dan penegakkan kode etik bisnis dan
manajemen. Di Amerika Serikat terdapat sebuah badan independen yang berfungsi sebagai
badan register akreditasi perusahaan, yaitu American Society for Quality Control (ASQC).

2.5. Antara Keuntungan dan Etika


Sebagaimana dianut pandangan bisnis yang ideal bahwa keuntungan adalah hal yang
pokok bagi kelangsungan bisnis, walaupun bukan merupakan tujuan satu-satunya. Dari sudut
pandang etika, keuntungan bukanlah hal yang buruk. Secara moral, keuntungan merupakan
hal yang baik diterima karena:
a. Keuntungan memungkinkan suatu perusahaan bertahan dalam bisnisnya
b. Tanpa memperoleh keuntungan tidak ada pemilik modal yang bersedia menanamkan
modalnya

9
c. Keuntungan tidak hanya memungkinkan perusahaan bertahan , melainkan juga dapat
menghidupi pegawai-pegawai nya, bahkan pada tingkat paraf hidup yang lebih baik
Disamping itu, beberapa argument menunjukkan bahwa justru demi memperoleh
keuntungan, etika sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis dewasa ini :
a. Dalam bisnis modern dewasa ini hanya orang professional yang akan menang dan berhasil
dalam bisnis yang penuh persaingan ketat. Kinerja yang menjadi prasyarat keberhasilan
bsnis menyangkut komitmen moral, integritas moral,disiplin, loyalitas, kesatuan visi
moral, pelayanan, sikap mengutamakan mutu, dan sebagainya yang lama kelamaan akan
berkembang menjadi sebuah etos bisnis dalam sebuah perusahaan
b. Dalam persaingan bisnis yang ketat para pelaku bisnis modern sangat sadar bahwa
konsumen adalah benar-benar raja. Oleh karen aitu hal yang paling cocok untuk bisa
untung dan bertahan dalam pasar penuh persaingan adalah sejauh mana suatu perusahaan
bisa merebut dan mempertahankan kepercayaan konsumen.
c. Dalam sistem pasar terbuka dengan peran pemeritah yang bersifat netral, para pembisnis
sebisa mungkin menghindari campur tangan pemerintah , yang baginya akan merugikan
kelagsungan bisnisnya
d. Perusahaan-perusahaan modern mulai menyadari bahwa pegawai semakin dianggap
sebagai subjek utama dari bisnis yang sangat menentukan berhasil tidaknya,bertahan
tidaknya suatu perusahaan.

2.6. Pro dan Kontra Etika dalam Bisnis


Bisnis adalah bisnis. Bisnis jangan dicampuradukkan dengan etika. Para pelaku bisnis
adalah orang-orang yang bermoral, tetapi moralitas tersebut hanya berlaku dalam dunia
pribadi mereka, begitu mereka terjun dalam dunia bisnis mereka akan masuk dalam
permainan yang mempunyai kode etik tersendiri. Jika suatu permainan judi mempunyai
aturan yang sah yang diterima, maka aturan itu juga diterima secara etis. Jika suatu praktik
bisnis berlaku begitu umum di mana-mana, lama-lama praktik itu dianggap semacam norma
dan banyak orang yang akan merasa harus menyesuaikan diri dengan norma itu. Dengan
demikian, norma bisnis berbeda dari norma moral masyarakat pada umumnya, sehingga
pertimbangan moral tidak tepat diberlakukan untuk bisnis dimana “sikap rakus adalah
baik”(Ketut Rindjin, 2004:65).

10
Belakangan pandangan diatas mendapat kritik yang tajam, terutama dari tokoh etika
Amerika Serikat, Richard T.de George. Ia mengemukakan alasan alasan tentang keniscayaan
etika bisnis sebagai berikut.
 Pertama, bisnis tidak dapat disamakan dengan permainan judi. Dalam bisnis memang
dituntut keberanian mengambil risiko dan spekulasi, namun yang dipertaruhkan bukan
hanya uang, melainkan juga dimensi kemanusiaan seperti nama baik pengusaha, nasib
karyawan, termasuk nasib-nasib orang lain pada umumnya.
 Kedua, bisnis adalah bagian yang sangat penting dari masyarakat dan menyangkut
kepentingan semua orang. Oleh karena itu, praktik bisnis mensyaratkan etika, disamping
hukum positif sebagai acuan standar dlaam pengambilan keputusan dan kegiatan bisnis.
 Ketiga, dilihat dari sudut pandang bisnis itu sendiri, praktik bisnis yang berhasil adalah
memperhatikan norma-norma moral masyarakat, sehingga ia memperoleh kepercayaan
dari masyarakat atas produk atau jasa yang dibuatnya.

2.7. Alasan Meningkatnya Perhatian Dunia Usaha Terhadap Etika Bisnis


Perubahan nilai-nilai masyarakat dan tuntutan terhadap dunia bisnis mengakibatkan adanya
kebutuhan yang makin meningkat terhadap standar etika sebagai bagian dari kebijakan bisnis.
Dalam buku Sutrisna,dewi (2010:91), Leoard Brooks menyebutkan 6 (enam alasan mengapa
dunia bisnis makin meningkatkan perhatian terhadap etika bisnis (Rindjin,2004:91), yaitu:
a.Krisis publik tentang kepercayaan terhadap krentabilitas dan kontribusi perusahaan kepada
masyarakat
b. Kepedulian terhadap kualitas kehidupan kerja, dengan meningkatnya nilai-nilai masyarakat
pada mutu kehidupan kerja atau quality of work life (QWL)
c. Hukuman terhada tindakan yang tidak etis
d. Kekuatan kelompok pemerhati khusus seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)
e.Peran media dan publisitas , seperti media masa yang sangat berpengaruh dlam membentuk
opini publik
f. Mengubah format organisasi dan etika perusahaan

11
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dalam relativitas moral dalam etika bisnis terdapat tiga pandangan umum yang
dianut :
1. Norma etis yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Hal ini berarti
perusahaan harus mengikuti norma dan aturan moral yang berlaku di negara tempat
perusahaan melakukan bisnis.
2. Norma negara sendirilah yang paling benar dan tepat. Pandangan ini mewakili kubu
moralisme universal, bahwa pada dasarnya norma dan nilai moral berlaku universal
(prinsip yang dianut di negara sendiri juga berlaku di negara lain)
3. Tidak ada norma moral yang perlu diikuti sama sekali. Pandangan ini sama sekali tidak
benar.
Tanggung jawab social bisnis (Corporate Social Responsibility atau disingkat CSR)
adalah memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mencapai laba dengan cara-cara yang
sesuai dengan peraturan dalam persaingan bebas tanpa penipuan dan kecurangan.
Kode etik dapat dipahami sebagai kumpulan asas, norma, atau nilai moral yang
diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di
masyarakat maupun di tempat kerja. Sebagaimana dianut pandangan bisnis yang ideal
bahwa keuntungan adalah hal yang pokok bagi kelangsungan bisnis, walaupun bukan
merupakan tujuan satu-satunya. Dari sudut pandang etika, keuntungan bukanlahhal yang
buruk. Dalam penerapan etika bisnis, tentunya banyak terdapat kendala, yaitu salah satunya
standar moral para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah, Banyak di antara pelaku
bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan menghalalkan segala cara untuk
memperoleh keuntungan dengan mengabaikan etika bisnis, seperti memalsukan campuran,
timbangan, ukuran, menjual barang yang kadaluwarsa, dan memanipulasi laporan
keuangan.

12
3.2. Saran
Dalam penulisan ini penulis memberikan saran yaitu dalam bisnis harus
memutuskan apa yang benar dan yang salah. Seoeang pebisnis harus memiliki tanggung
jawab yang benar kepada pelanggan, karyawan, investor, dan masyarakat. Dan pemerintah
harus membentuk badan pengawas untuk mengawasi dan memberikan hukuman kepada
perusahaan yang melakukan pelanggaran dalam etika bisnis.

13
Daftar Pustaka

Dewi,Sutrisna.2010. Buku Etika Bisnis; Konsep Dasar, Implementasi, dan Kasus.


Denpasar: Udayana University Press
(http://rumah-akuntansi.blogspot.co.id/2014/09/makalah-etika-bisnis-tujuan-etika-bisnis.html)
(https://www.academia.edu/9231164/KODE_ETIK_PROFESI)
(https://yusup-doank.blogspot.co.id/2011/05/kode-etik-profesi.html)

14