Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang

mandiri (instalasi di bawah direktur pelayanan), dengan staf khusus dan

perlengkapan khusus yang ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi

pasien-pasien yang menderita penyakit dan cedera yang mengancam nyawa atau

berpotensi mengancam nyawa dengan prognosis yang tidak tentu yang

memerlukan intervensi segera untuk pengelolaan fungsi sistem organ tubuh

secara terkoordinasi dan memerlukan pengawasan yang konstan secara kontinyu

juga dengan tindakan segera (Kemenkes RI, 2010).


Pasien Intensive Care Unit (ICU) umumnya berada dalam kondisi yang

mengancam jiwa, tidak menyadari tingkat keparahan kondisinya, atau mereka

tidak ingat bahwa mereka sedang dirawat di ICU (Aro et al, 2012). Pasien ICU

terpasang alat/mesin untuk tindakan resusitasi yang meliputi dukungan hidup

untuk fungsi-fungsi vital seperti Airway (fungsi jalan napas), Breathing (fungsi

pernapasan), Circulation (fungsi sirkulasi), Brain (fungsi otak) dan fungsi organ

lain yang dilanjutkan dengan diagnosis dan terapi definitif yang terkadang juga

alarm berbunyi sebagai tanda perubahan kondisi pasien. Pasien ICU juga terpisah

secara fisik dengan keluarga, kondisi ini lah yang tidak jarang dapat

menimbulkan kecemasan bagi keluarga pasien ditambah lagi dengan masalah

sosial ekonomi dan kurangnya pemberian sebuah informasi atau pendidikan

kesehatan dari tenaga kesehatan tentunya membuat kecemasan pada keluarga

meningkat (Rahmatiah, 2012).


Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang

berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan ini tidak

memiliki objek yang spesifik. Kecemasan dialami secara subyektif dan


1
2

dikomunikasikan secara personal. Kecemasan adalah respon emosional dan

merupakan penilaian intelektual terhadap suatu bahaya (Stuart, 2007).


Menurut Stuart (2007), orang yang mengalami kecemasan akan muncul

beberapa respon yang meliputi respon fisiologis seperti palpitasi, tekanan darah

meningkat, nafas cepat dan pendek, nafas dangkal, terengah-engah dan sering

berkemih. Respon perilaku seperti gelisah, tremor, ketegangan fisik, reaksi

terkejut, gugup, bicara cepat dan kurang kooordinasi. Respon kognitif seperti

perhatian terganggu, pelupa, salah dalam memberikan penilaian, hambatan

berfikir, tidak mampu berkonsentrasi, tidak mampu mengambil keputusan dan

kehilangan kontrol. Respon afektif seperti mudah terganggu, tidak sabar, gelisah,

tegang, ketakutan, waspada, gugup dan malu.


Pasien keluarga pasien yang dirawat di ruangan intensif tentunya

memiliki kecerdasan spiritual yang berbeda-beda. Kecerdasan spiritual (Spiritual

Quotient/SQ) adalah kecerdasan jiwa, ia adalah kecerdasan yang dapat membantu

manusia menyembuhkan dirinya secara utuh. Kecerdasan spiritual adalah

kecerdasan yang berada dibagian diri seseorang yang berhubungan dengan

kearifan di luar ego atau pikir sadar (Zohar & Marshall, 2007).
Kecerdasan spiritual membimbing dan mendidik hati seseorang untuk

menjadi benar dengan menggunakan metode pertama, jika seseorang

mendefinisikan manusia sebagai kaum beragama, tentu SQ mengambil metode

vertikal yaitu bagaimana SQ dapat mendidik hati seseorang untuk menjalin

hubungan dengan Tuhannya. Islam menegaskan dalam Al-Qur’an untuk

berdzikir, karena dzikir berhubungan positif dengan ketenangan jiwa dan

menjadikan hati seseorang dalam kedamaian dan penuh kesempurnaan secara

spiritual. Kedua hubungan secara horizontal, SQ, mendidik hati seseorang ke

dalam budi pekerti yang baik dan moral yang beradab (Sukidi, 2004).
3

Kecerdasan spiritual merupakan pengetahuan, sikap, pola fikir, dan juga

perilaku seseorang yang mengarah kepada kepatuhan seseorang untuk

menjalankan kehidupan secara hakiki terhadap Tuhannya, sehingga seseorang

akan memaknai kehidupan ini secara positif Alfiannur (2015). Begitu juga

dengan kondisi keluarga pasien yang dirawat di ruangan intensif. Penelitian yang

terkait dengan kecerdasan spiritual dilakukan oleh Kurniawati (2009), tentang

hubungan antara kecerdasan spiritual dengan kecemasan menghadapi masa

menopause pada wanita. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan hasil ada

hubungan yang signifikan antara tingkat kecerdasan spiritual dengan kecemasan

menghadapi masa menopause pada wanita.


Penelitian lainnya dilakukan oleh Alfiannur (2015), Hubungan antara

kecerdasan spiritual dengan tingkat kecemasan pasien gagal ginjal kronik yang

menjalani hemodialisa. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan hasil ada

hubungan antara kecerdasan spiritual dengan tingkat kecemasan pada pasien

gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Seseorang yang memiliki

kecerdasan spiritual yang tinggi mampu menghadapi kenyataan akan

permasalahan yang dialami dengan baik dan tetap berperan aktif dalam

menjalankan tanggung jawabnya di kehidupan ini. Penerimaan seseorang

terhadap permasalahan yang dialami dapat mengurangi kecemasan menghadapi

penyakitnya dalam tingkatan tertentu, tetapi sebaliknya jika seseorang tidak dapat

berfikir secara positif terhadap permasalahan yang dialami maka akan

menyebabkan kecemasan bertambah besar Alfiannur (2015).


Berdasarkan hasil wawancara tanggal 23 Oktober 2017 pada keluarga

pasien yang menjalani perawatan di ruang intensif RSUD Kabupaten Siak hasil

wawancara menunjukkan 6 keluarga pasien yang menjalani perawatan di ruang

intensif mengatakan cemas, gelisah, selalu memikirkan konsisi keluarga yang


4

dirawat di ruang intensif, tidak tenang, serta nadi meningkat. Dari tanda-tanda

tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami kecemasan. Peneliti juga

menanyakan tentang spiritualitasnya 2 dari 6 keluarga mengatakan terkadang

tidak melaksanakan ibadah, jarang mengikuti pertemuan agama, belum biasa

menerima kondisi yang dialaminya (keluarga dirawat di ruang intensif), serta

kondisi yang dialami saat ini membebaninya. Sedangkan 4 dari 6 keluarga

mengatakan memiliki nilai-nilai atau keyakinan yang positif dalam hidupnya

rajin melaksanakan ibadah, sabar dalam menghadapi cobaan, merasa tenang

setelah berdoa kepada Tuhan, yakin bahwa doa dan ibadah dapat mengobati

penyakit fisiknya, ada hikmah dibalik keadaan yang dialaminya.


Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk meneliti

“Hubungan antara kecerdasan spiritual dengan kecemasan keluarga pasien yang

menjalani perawatan di ruang intensif”.

B. Rumusan Masalah
Pada keluarga pasien yang menjalani perawatan di ruang intensif biasanya

akan merasa cemas yang disebabkan karena terpisah secara fisik dengan keluarga

yang dirawat, lingkungan ICU yang penuh dengan peralatan canggih, bunyi

alarm, dan banyaknya alat yang terpasang di tubuh pasien pasien yang dirawat di

ICU kecacatan pada pasien, takut akan kehilangan, masalah finansial.

Kecerdasan spiritual memiliki kaitan erat dengan psikologis seseorang termasuk

kecemasan yang dialami keluarga pasien yang menjalani perawatan di ruang

intensif. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual akan mampu menghadapi

pilihan dan kenyataan hidup yang baik ataupun buruk serta menghadapi

permasalahan yang ada tiba-tiba yang mengakibatkan kecemasan. Berdasarkan

fenomena di atas maka peneliti ingin melihat apakah terdapat Hubungan antara
5

kecerdasan spiritual dengan kecemasan keluarga pasien yang menjalani

perawatan di ruang intensif?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara

kecerdasan spiritual dengan kecemasan keluarga pasien yang menjalani

perawatan di ruang intensif.


2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik responden meliputi: jenis kelamin, usia, agama,

tingkat pendidikan.
b. Mengidentifikasi tingkat kecerdasan spiritual keluarga pasien yang

menjalani perawatan di ruang intensif.


c. Mengidentifikasi tingkat kecemasan keluarga pasien yang menjalani

perawatan di ruang intensif.


d. Mengidentifikasi hubungan tingkat kecerdasan spiritual dengan tingkat

kecemasan keluarga pasien yang menjalani perawatan di ruang intensif.


D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1. Bagi Responden
Bagi responden hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang

pentingnya mengembangkan kecerdasan spiritual sehingga kecemasan saat

anggota keluarga mengalami perawatan di ruang intensif berkurang.


2. Bagi RSUD Siak
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan dan informasi

bagi perawat pelaksana dalam pemberian asuhan keperawatan khususnya

kebutuhan spiritual untuk mengatasi kecemasan keluarga pasien yang

menjalani perawatan di ruang intensif.


3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi untuk melakukan

penelitian lebih lanjut terkait dengan hubungan antara kecerdasan spiritual

dengan tingkat kecemasan keluarga pasien yang menjalani perawatan di

ruang intensif.