Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Radiodiagnostik merupakan salah satu cabang dari radiologi yang bertujuan

untuk membantu pemeriksaan dalam bidang kesehatan, yaitu untuk menegakkan

diagnosa suatu penyakit melalui pembuatan gambar yang disebut dengan

radiograf. Pemeriksaan dengan memanfaatkan sinar-x mengalami perkembangan

yang sangat pesat sejak pertama kali ditemukan pada tanggal 8 November 1895

oleh Wilhelm Conrad Rontgen. Penemuan ini merupakan suatu revolusi dalam

dunia kedokteran karena dengan hasil penemuan ini dapat digunakan untuk

pemeriksaan bagian-bagian tubuh manusia yang sebelumnya tidak pernah

tercapai. (Rasad, 2005).

Seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, sekarang ini

dunia radiologi sudah mengalami banyak perkembangan. Adapun pemeriksaan

radiologi ada dua macam yaitu; 1) Pemeriksaan sederhana, Merupakan

pemeriksaan radiologi tanpa menggunakan media kontras dan 2) pemeriksaan

canggih, Merupakan pemeriksaan secara radiologi yang menggunakan media

kontras. Media kontras yang dipergunakan untuk keperluan radiografi adalah

suatu bahan yang sangat radiopaque atau radiolusent apabila beriteraksi dengan

sinar-x, sehingga dapat membedakan antara organ dan jaringan sekitarnya, salah

1
2

satu yang termasuk pemeriksaan canggih antara lain, pemeriksaan pada

cholangiografi post operatif.

Cholangiografi post operatif adalah merupakan istilah terapan radiologi terhadap

pemeriksaan sistem empedu yang dilakukan dengan cara meninggalkan pipa T (T-

Tube) dalam pembuluh empedu selama pengeringan postoperatif (T-Tube).

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menujukkan kemampuan patency pembuluh,

sphincter apulla hepatopangkreatik dan untuk mendeteksi batu-batu atau kondisi

patologi lainnya. (Balliger, 1995)

Kandung empedu bentuknya seperti kantung, organ berongga yang

panjangnya sekitar 10 cm, terletak dalam suatu fossa yang menegaskan batas

anatomi antara lobus hati kanan dan kiri. Bagian ekstrahepatik dari kandung

empedu ditutupi oleh peritoneum. Kandung empedu mempunyai fundus, korpus,

infundibulum, dan kolum. Fundus bentuknya bulat, ujung buntu dari kandung

empedu yang sedikit memanjang di atas tepi hati. (Schwartz, 2000)

Cholesistektomy adalah merupakan suatu tindakan pembedahan yang

dilakukan atas indikasi Batu empedu yang menimbulkan gejala dan batu empedu

yang tidak menimbulkan gejala, pada: 1) penderita diabetes mellitus, 2) kandung

empedu tidak terlihat pada kolesistografi oral, 3) diameter batu empedu lebih dari

2 sentimeter, 4) kalsifikasi kandung empedu (Chari & Shah, 2007).

RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh merupakan salah satu rumah sakit

yang melakukan pemeriksaan cholangiografi dengan menggunakan pesawat x-ray

konvesional, ini terdapat perbedaan dengan teori yang ada dengan teori menurut

buku Merril karangan dalam buku Ballinger (1995). Pada saat penulis
3

melaksanakan praktek di Instalasi Radiologi RSUD dr. Zainoel Abidin Banda

Aceh, penulis ikut melakukan pemeriksaan cholangiografi post operatif pada

pasien Cholesistektomy, sehari sebelum melakukan pemeriksaan pasien sudah

melakukan persiapan diruangan rawat. Salah satunya pasien diminta puasa

sebelum pemeriksaan, proyeksi yang digunakan anterior posterior dan lateral.

Sejauh ini dari kondisi praktis di lapangan menggangap hasil teknik pemeriksaan

radiografi tersebut cukup untuk melihat adanya kelainan anatomi dan fisiologi

pada traktus billiaris.

Berdasarkan dari uraian latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka

penulis tertarik untuk mengambil suatu penelitian dengan judul

“Penatalaksanaan Pemeriksaan Cholangiografi Post Operatif pada pasien

Cholesistektomy di Instalasi Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah

dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2017”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, yang menjadi masalah dalam

penelitian ini adalah :

1. Bagaimana teknik pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada

pasien Cholesistektomy menggunakan pesawat x-ray konvesional di Instalasi

Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda

Aceh ?

2. Bagaimana cara pelaksanaan pemasukan bahan media kontras pada

Pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien


4

Cholesistektomy menggunakan pesawat x-ray konvesional di Instalasi

Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda

Aceh ?

3. Bagaimana hasil gambaran pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-

Tube) pada pasien Cholesistektomy menggunakan pesawat x-ray

konvesional di Instalasi Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr.

Zainoel Abidin Banda Aceh?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan Penelitian didalam karya tulis ilmiah ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui teknik pemeriksaan Cholangiografi PostOperatif (T-

Tube) pada pasien Cholesistektomy menggunakan pesawat x-ray

konvesional di Instalasi Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr.

Zainoel Abidin Banda Aceh.

2. Untuk mengetahui cara pelaksanaan pemasukan bahan media kontras pada

Pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy menggunakan pesawat x-ray konvesional di Instalasi

Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda

Aceh ?

3. Untuk mengetahui hasil gambaran pemeriksaan cholangiografi postoperatif

(T-Tube) pada pasien Cholesistektomy menggunakan pesawat x-ray

konvesional di Instalasi Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr.

Zainoel Abidin Banda Aceh


5

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat Penelitian didalam karya tulis ilmiah ini sebagai berikut:

1. Bagi Pihak Rumah Sakit

Meningkatkan citra Rumah Sakit sebagai The Leading Hospital didalam

memberikan Quality Health Services.

2. Bagi Tenaga Kesehatan

a. Meningkatkan kualitas tenaga kesehatan dirumah sakit karena kemampuan

mereka di dalam menyiapkan dan memberikan layanan kesehatan akan

benar-benar diuji.
b. Meningkatkan kualitas layanan tenaga kesehatan rumah sakit dan tuntutan

untuk bisa memberikan layanan radiologi yang sifatnya Real Time.

3. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat digunakan untuk memperluas wawasan dan

menerapkan ilmu yang diperoleh selama pendidikan.

4. Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dan referensi bagi

institusi pendidikan dalam penelitian mengenai teknik pemeriksaan

cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien Cholesistektomy dan cara

pelaksanaan pemasukan bahan kontras sehingga dapat diaplikasikan oleh

mahasiswa yang melakukan penelitian.


6

1.5 Definisi Operasional

1. Cholangiografi post operatif adalah pemeriksaan secara radiografi untuk

memperlihatkan traktus billiaris sesudah operasi dengan menggunakan

bahan kontras yang dimasukkan melalui pipa T, dimana pipa T ditinggal

(diletakkan) pada ductus choledocus selama pengeringan postoperatif.

(Balliger, 1995)

2. Cholesistektomy adalah merupakan suatu tindakan pembedahan yang

dilakukan atas indikasi Batu empedu yang menimbulkan gejala dan batu

empedu yang tidak menimbulkan gejala, pada: 1) penderita diabetes

mellitus, 2) kandung empedu tidak terlihat pada kolesistografi oral, 3)

diameter batu empedu lebih dari 2 sentimeter, 4) kalsifikasi kandung

empedu. (Chari & Shah, 2007).


BAB II

KAJIAN TEORITIS

2.1 Anatomi Kandung Empedu

Kandung empedu bentuknya seperti kantong, organ berongga yang

panjangnya sekitar 10 cm, terletak dalam suatu fosa yang menegaskan batas

anatomi antara lobus hati kanan dan kiri. Bagian ekstrahepatik dari kandung

empedu ditutupi oleh peritoneum.

Gambar 2.1 Anatomi kandung empedu. (Schwartz, 2000)

Kandung empedu mempunyai fundus, korpus, infundibulum, dan kolum.

Fundus bentuknya bulat, ujung buntu dari kandung empedu yang sedikit

memanjang di atas tepi hati. Korpus merupakan bagian terbesar dari kandung

empedu. Kolum adalah bagian yang sempit dari kandung empedu yang terletak

7
8

antara korpus dan daerah duktus sistikus. Infundibulum, yang juga dikenal sebagai

kantong Hartman, adalah bulbus divertikulum kecil yang terletak pada permukaan

inferior dari kandung kemih, yang secara klinis bermakna karena proksimitasnya

terhadap duodenum dan karena batu dapat terimpaksi ke dalamnya. Duktus

sistikus menghubungkan kandung empedu ke duktud koledokus. Katup spiral dari

Heister terletak di dalam duktus sistikus; mereka terlibat dalam keluar masuknya

empedu dari kandung empedu.

Pasokan darah ke kandung empedu adalah melalui arteri kistika, secara

khas merupakan cabang dari arteri hepatika kanan, tetapi aal dari ateri kistika

bervariasi. Segitiga Calot dibentuk oleh arteri kistika, duktus koledokus, dan

duktus kistikus. Drainase vena dari kandung empedu bervariasi, biasanya kedalam

cabang kanan dari vena porta. Aliran limfe masuk secara langsung ke dalam hati

dan juga ke nodus-nodus di sepanjang permukaan vena porta. Saraf muncul dari

aksis seliak dan terletak di sepanjang arteri hepatika. Sensasi nyeri diperantarai

oleh serat viseral, simpatis. Ransangan motoris untuk kontraksi kandung empedu

dibawa melalui cabang vagus dan ganglion seliaka.

Duktus biliaris Traktus biliaris mempunyai asalnya sendiri di dalam

duktus biliaris intrahepatik kecil. Duktus hepatika kanan dan kiri keluar dari hati

dan bergabung dengan hilum untuk membentuk duktus hepatikus komunis,

umumnya anterior terhadapa bifurkasio vena porta dan proksimal dekat dengan

arteri hepatika kanan. Bagian ekstrahepatik dari duktus kiri cenderung lebih

panjang. Duktus hepatikus komunis membangun batas kiri dari segitiga Calot dan

berlanjut dengan duktus koledokus. Pembagian terjadi pada tingkat duktus kistikus.
9

Duktus koledokus panjangnya sekitar 8 cm dan terletak antara ligamentum

hepatoduodenalis, ke kanan dari arteri hepatika dan anterior terhadap vena porta.

Segmen distal dari duktus koledokus terletak di dalam substansi pankreas. Duktus

koledokus mengosongkan isinya ke dalam duodenum atau ampula Vateri,

orifisiumnya di kelilingi oleh muskulus dari sfingter Oddi. Secara khas, ada

saluran bersama dari duktus pankreatikus dan duktus koledokus distal.

2.2 Fisiologi Kandung Empedu

Absorpsi kandung empedu Fungsi primer dari kandung empedu adalah

memekatkan empedu dengan absorpsi air dan natrium. Kandung empedu mampu

memekatkan zat terlarut yang kedap, yang terkandung dalam empedu hepatik

sampai 5-10 kali dan mengurangi volumenya 80%-90%. Meskipun secara primer

merupakan suatu organ pengarbsorpsi, terjadi sekresi muskus selama keadaan

patologis seperti misalnya pembentukan batu empedu dan kadang-kadang dengan

obstruksi duktus kistikus.

Aktivitas motoris kandung empedu dan traktus biliaris Pendidikan

tradisional mengajarkan bahwa empedu disimpan dalam kandung empedu selama

periode interdigestif dan diantarkan ke duodenum setelah rangsangan makanan.

Informasi yang lebih baru menunjukkan bahwa aliran empedu terjadi dalam

bentuk yang kontinue, dengan pengosongan kandung empedu terjadi secara

konstan. Faktor-faktor yang bertanggung jawab untuk pengisian kandung empedu

dan pengosongannya adalah hormonal, neural, dan mekanikal. Memakan makanan

akan menimbulkan pelepasan hormon duodenum, yaitu kolesistokinin (CCK),


10

yang merupakan stimulus utama bagi pengosongan kandung empedu; lemak

merupakan stimulus yamg lebih kuat. Reseptor CCK telah dikenal terletak dalam

otot polos dari dinding kandung empedu. Pengosongan maksimum terjadi dalam

waktu 90-120 menit setelah konsumsi makanan. Motilin, sekretin, histamin, dan

prostaglandin semuanya terlihat mempunyai pengaruh yang berbeda pada proses

kontraksi. Faktor neural yang predominan dalam menagtur aktivitas motoris

kandung empedu adalah stimulasi kolinergik yang menimbulkan kontraksi

kandung empedu. Pengisisan kandung empedu terjadi saat tekanan dalam duktus

biliaris (berkaitan dengan aliran dan tekanan sfingter) lebih besar daripada

tekanan di dalam kandung empedu. Sejumlah peptida usus, telah terlibat sebagai

faktor endogen yang dapat mempengaruhi proses ini.

Aktivitas motoris traktus biliaris dan sfingter Oddi Aliran empedu ke

dalam duodenum tergantung pada koordinasi kontraksi kandung empedu dan

relaksasi sfingter Oddi. Makanan merangsang dilepaskannya CCK, sehingga

mengurangi fase aktivitas dari sfingter Oddi yang berkontraksi, menginduksi

relaksasi, oleh karena itu memungkinkan masuknya empedu ke dalam duodenum.

Pembentukan empedu, Empedu secara primer terdiri dari air, lemak

organik, dan elektrolit, yang normalnya disekresi oleh hepatosit. Komposisi

elektrolit dari empedu sebanding dengan cairan ekstraseluler. Kandungan protein

relatif rendah. Zat terlarut organik yang predominan adalah garam empedu,

kolesterol dan fosfolipid. Asam empedu primer, asam xenodeoksikolat dan asam

kolat, disintesis dalam hati dari kolesterol. Konjugasi dengan taurin atau glisis

terjadi di dalam hati. Kebanyakan kolesterol yang ditemukan dalam empedu


11

disintesis de novo dalam hati. Asam empedu merupakan pengatur endogen penting

untuk metabolisme kolesterol. Pemberian asam empedu menghambat sintesis

kolesterol hepatik tetapi meningkatkan absorpsi kolesterol. Lesitin merupakan

lenih dari 90% fosfolipid dalam empedu manusia.

Sirkulasi enterohepatik dari asam empedu Lebih dari 80% asam empedu

terkonjugasi secara aktif diabsorpsi dalam ileum terminalis. Akhirnya, kurang

lebih separuh dari semua asam empedu yang diabsorpsi dalam usus dibawa

kembali melalui sirkulasi porta ke hati. Sistem ini memungkinkan kumpulan

garam empedu yang relatif sedikit untuk bersikulasi ulang 6-12 kali perhari

dengan hanya sedikit yang hilang selama tiap perjalanan. Hanya sekitar 5% dari

asam empedu yang diekskresikan dalam feses.

2.3 Cholangiografi Post Operatif

Penundaan postoperatif dan pipa T cholangiografi merupakan istilah-

istilah terapan radiologi terhadap pemeriksaan sistem empedu yang dilakukan

dengan cara meninggalkan pipa T dalam pembuluh empedu selama pengeringan

post operatif. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menujukkan kemampuan patency

pembuluh, sphincter apulla hepatopangkreatik dan untuk mendeteksi batu-batu

atau kondisi patologi lainnya. (Balliger,1995)

2.4 Cholesistektomy

Cholesistektomy adalah merupakan suatu tindakan pembedahan yang

dilakukan atas indikasi Batu empedu yang menimbulkan gejala dan batu empedu
12

yang tidak menimbulkan gejala, pada: 1) penderita diabetes mellitus, 2) kandung

empedu tidak terlihat pada kolesistografi oral, 3) diameter batu empedu lebih dari

2 sentimeter, 4) kalsifikasi kandung empedu.

Dalam prosedur ini kandung empedu diangkat setelah arteri dan duktus

sistikus diligasi. Sebuah drain (Penrose) ditempatkan dalam kandung empedu dan

dibiarkan menjulur keluar lewat luka operasi untuk mengalirkan darah, cairan

serosanguinus dan getah empedu ke dalam kasa absorben. Operasi terbuka

kolesistektomi telah menjadi prosedur yang jarang dilakukan biasanya dilakukan

sebagai konversi dari kolesistektomi laparoskopi. Selain itu prosedur operasi

terbuka masih merupakan pilihan bagi kebanyakan pasien yang tidak mampu

secara finansial. (Chari & Shah, 2007).

2.5 Teknik Pemeriksaan Cholangiografi Post Operatif

2.5.1 Pengertian Pemeriksaan Cholangiografi Post Operatif

Cholangiografi post operatif adalah pemeriksaan secara radiografi untuk

memperlihatkan traktus billiaris sesudah operasi dengan menggunakan bahan

kontras yang dimasukkan melalui pipa T (T-Tube), dimana pipa T ditinggal

(diletakkan) pada ductus choledocus selama pengeringan post operatif. Dengan

tujuan untuk mengalirkan darah, cairan serosanguinus dan getah empedu ke dalam

kasa absorben, dibagian radiologi nantiknya akan digunakan sebagai tempat

diinjeksikannya media kontras, dibawah kontrol flouroskopi. (Ballinger, 1995)


13

2.5.2 Tujuan Pemeriksaan Pemeriksaan Cholangiografi Post Operatif

Menurut Ballinger, 1 995. tujuan pemeriksaan pemeriksaan

Cholangiografi Post Operatif yaitu:

a. Untuk menunjukkan ukuran dan patency dari ductus-ductus pada tractus

billiaris.

b. Untuk menilai status sphinter pada hepatopancreatic ampulla.

c. Untuk menampakkan batu residual atau yang tidak terdeteksi sebelumnya.

2.5.3 Persiapan Pemeriksaan Pemeriksaan Cholangiografi PostOperatif

a. Drainase tube diklem, untuk mencegah udara masuk ke duktus

(menampakkan cholesterol stone).

b. Pasien diminta puasa sebelum pemeriksaan.

c. Bila diperlukan, dapat dilakukan enema 1 jam sebelum pemeriksaan.

d. Premidikasi : tidak ada.

e. Contras media : water soluble dengan konsentrasi antara 25% hingga 30%

misalnya Hypaque 25 %.

f. Konsentrasi tinggi menyebabkan small stone tidak nampak.

g. Plain Foto: Pasien supine pada meja fluoroscopi, dengan posisi AP

(Anterior posterior) dengan bagian kanan abdomen difoto, batas bawah

SIAS.
14

2.5.4 Teknik Radiografi Pemeriksaan Cholangiografi Post Operatif

a. Selang dijepit oleh ateri forceps, selang didesinfektan menggunakan

antiseptik.

b. Kontras dimasukan lewat selang yang sudah terpasang, diperhatikan

agar no bubble masuk ke dalam selang.

c. Prosedur penyuntikan dipandu melalui fluoroscopi sampai ductus-ductus

terlihat jelas.

2.5.5 Proyeksi pemeriksaan Pemeriksaan Cholangiografi Post Operatif

Film : 24x30 cm (Ballinger, 1995)

1) RPO (AP oblique supine) : right upper quadrant abdomen berada di

pertengahan meja.

2) Lateral : menampakkan cabang dari duktus hepatikus dan mendeteksi

kelainan.

Gambaran 2.2 Cholangiography post operatif (T-Tube) (No Name)


BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian dalam penyusunan tugas akhir ini, peneliti melakukan

suatu penelitian dengan pendekatan secara kualitatif untuk mengetahui dan

mengamati segala hal yang menjadi ciri suatu hal. Menurut Sugiyono, (2012)

mengatakan bahwa:

“Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan

untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah

eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik

pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat

induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada

generalisasi”.

Penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan

sedalam - dalamnya melalui pengumpulan data sebanyak - banyaknya. Penelitian

ini tidak mengutamakan besarnya populasi. Jika data yang terkumpul sudah

mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari

sampling lainnya. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam

melaksanakan penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif.

Metode deskriptif Menurut Nazir (1988) metode deskriptif “merupakan

suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set

15
16

kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa

sekarang”. Metode penelitian deskriptif ini dilakukan untuk menggambarkan

proses atau peristiwa yang sedang berlaku pada saat ini di lapangan yang

dijadikan objek penelitian, kemudian data atau informasinnya di analisis sehingga

diperoleh suatu pemecahan masalah peneliti menggunakan metode deskriptif ini

dikarenakan suatu perhatian pada informan yang menarik dari segi bagaimana

para pelaku komunikasi baik komunikator maupun komunikan melakukan

interaksi.

Berdasarkan dalam uraian yang telah dipaparkan, peneliti menggunakan

metode kualitatif dalam penelitian ini, karena melihat tujuan dalam penelitian ini

adalah untuk mengetahui tata cara pelaksanaan teknik pemeriksaan dan hasil

gambaran cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien Cholesistektomy serta

cara pelaksanaan pemasukan bahan kontras pada pasien Cholesistektomy dengan

menggunakan pesawat x-ray konvesional di Instalasi Radiologi BLUD Rumah

Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh dan menarik kesimpulan

berdasarkan data yang ada, untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu

keadaan secara objektif.

3.2 Tempat dan Waktu

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Radiologi BLUD Rumah

Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

2. Waktu Penelitian
17

Penelitian ini dilaksanakan mulai dari tanggal 07 September s.d 31

Desember 2017.

3.3 Populasi dan Sampel

1. Populasi Penelitian

Populasi merupakan subjek penelitian yang telah memenuhi

kriteria yang ditetapkan (Setiadi, 2007). Dalam penelitian ini, yang

menjadi populasi adalah pihak-pihak yang terkait seperti dokter spesialis

radiologi dan radiografer yang bertugas dalam pemeriksaan

cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien Cholesistektomy

menggunakan pesawat x-ray konvesional di Instalasi Radiologi BLUD

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

2. Sampel Penelitian

Teknik pengambilan sampel ialah sebagian objek yang diteliti dan

dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2009). Pengambilan

sampel dalam penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling,

yaitu teknik penentuan dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011).

Dalam hal ini, pertimbangan tersebut diantarannya adalah karena selama

penelitian berlangsung tidak mungkin untuk mengubah sampel yang sudah

ada. Selain itu berdasarkan rekomendasi dari kepala ruangan radiologi, 1

(satu) dokter spesialis radiologi dan 2 (dua) radiografer yang bertugas

untuk menanggani kasus pemeriksaan yang diangkat dalam penelitian ini.

Dengan demikian, yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 1


18

(satu) orang dokter spesialis radiologi dan 2 (dua) radiografer yang

bertugas pada ruangan tindakan di Instalasi Radiologi BLUD Rumah Sakit

Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam

penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa

mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data

yang memenuhi standar data yang di tetapkan. Adapun teknik pengumpulan data

yang dilakukan, sebagai berikut:

3.4.1 Studi Lapangan (Observasi)


Adapun studi lapangan yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh

data yang valid dan faktual yang diharapkan berkenaan dengan penelitian yang

dilakukan mencakup beberapa cara yakni :

a. Observasi Non partisipan

Observasi yaitu menjelaskan, memberikan dan memperinci gejala

yang terjadi dalam pengamatan langsung yang dilakukan selama

mengadakan observasi yaitu dengan mengamati secara langsung

pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy menggunakan pesawat x-ray konvesional di Instalasi

Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda

Aceh mulai dari persiapan alat dan bahan sampai pemeriksaan

cholangiografi postoperatif (T-Tube) tersebut selesai dilakukan.


19

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang

spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan

kuisioner. Kalau wawancara dan kuisioner selalu berkomunikasi dengan

orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek

alam yang lain.

Sugiyono, (2012) menyatakan bahwa “through observation, the

researcher learn about behavior and the meaning attached to those

behavior”

Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, obsevasi dapat

dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan serta) dan

non participant observation, selanjutnya dari segi instrumentasi yang

digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur

dan tidak terstruktur. Peneliti menggunakan jenis observasi partisipant,

dimana peneliti melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan

pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy menggunakan pesawat x-ray konvesional di Instalasi

Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda

Aceh.

b. Wawancara
Dalam penelitian kuantitatif, wawancara merupakan teknik

pengumpulan data yang sering digunakan, ini dilakukan untuk mengetahui

hal-hal yang berhubungan dengan informan secara lebih mendalam baik

itu berupa pendapat, kesan, pengalaman, pikiran, dan sebagainya. Menurut


20

Satori dan komariah, (2011). “wawancara adalah suatu teknik

pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber

data langsung melalui percakapan atau tanya jawab”.


Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini merupakan

wawancara tidak terstruktur. Teknik wawancara ini digunakan karena

dapat dilakukan secara lebih personal yang memungkinkan informasi

didapat sebanyak-banyaknya dari informan tentang pemeriksaan

cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien Cholesistektomy

menggunakan pesawat x-ray konvesional. Wawancara dilakukan

umumnya pada saat luang dan memungkinkan, bentuk pertanyaan

wawancara adalah pertanyaan dalam kerangka fokus penelitian sehingga

memberikan keleluasaan terhadap informan untuk menjelaskan apa adanya

dan terperinci. Peneliti mencatat hasil wawancara sesuai dalam catatan

lapangan. Catatan lapangan merupakan catatan tertulis tentang apa yang

didengar, dilihat, dialami peneliti dalam rangka pengumpulan data dan

refleksi terhadap data penelitian di lapangan. (Satori dan komariah, 2011).

Dalam konteks penelitian ini peneliti membuat catatan lapangan yang

bersumber dari pihak-pihak yang terkait yaitu 1 (satu) dokter spesialis

radiologi dan 2 (dua) radiografer, terhadap teknik pemeriksaan dan hasil

gambaran radiografi cholangiografi post operatif (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy.

c. Dokumentasi
21

Menurut (Sugiyono, 2012). “Studi dokumentasi merupakan

pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam

penelitian kuantitatif, bahkan kredibilitas hasil penelitian kuantitatif ini

akan lebih tinggi jika melibatkan / menggunakan studi dokumentasi ini

dalam metode penelitian kuantitatif.


Dokumentasi yang dilakukan peneliti ketika saat melakukan

penelitian ini berupa pengambilan gambar alat yang digunakan pada

pemeriksaan cholangiografi post operatif (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy ketika saat melakukan observasi.

3.4.2 Studi Kepustakaan


Penelitian disini dalam melakukan penelitian tentu tidak terlepas dari

adanya pencarian data dengan menggunakan studi kepustakaan. Disini peneliti

menggunakan studi pustaka dengan mencari berbagai data sebagai pendukung dari

penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu dengan menggunakan :

a. Studi Literatur

Peneliti mencari data dengan mengadakan penelahaan terhadap

buku-buku literature, karya tulis yang bersifat ilmiah yang memiliki

hubungan dengan pengesahaan yang sedang diteliti.

 Referensi Buku

Adalah buku yang dapat memberikan keterangan topik perkataan,

tempat pariwisata, dan data statistika, pedoman, alamat, nama orang,

riwayat orang-orang terkenal. Pelayanan referensi adalah pelayanan dalam

menggunakan buku-buku referensi dan disebut “koleksi referensi”,

sedangkan ruang tempat penyimpangan disebut ruang referensi karena


22

sifat dapat memberikan petunjuk harus selalu tersedia diperpustakaan

sehingga dapat dipakai oleh setiap orang pada setiap saat.

 Karya Tulis Ilmiah Peneliti Terdahulu

Disini peneliti menggunakan studi pustaka dengan melihat hasil

karya ilmiah para peneliti terdahulu, yang mana pada dasarnya peneliti

mengutip beberapa pendapat yang dibutukan oleh peneliti sebagai hasil

pendukung penelitian. Tentunya dengan melihat hasil karya ilmiah yang

memiliki serta tinjauan yang sama.

b. Penelusuran Data Online

Internet sebagai salah satu hasil dari kemajuan dunia teknologi,

kini sudah berkembang menjadi pusat data dan informasi yang penting

dalam rangka mendukung proses kegiatan penelitian, khususnya dalam

bidang komunikasi. Dengan hal ini, upaya penelitian yang dilakukan pun

dapat menjadi baik karena tidak hanya berdasarkan pemikiran sendiri

selaku peneliti melainkan pemikiran-pemikiran dan pendapat dari para ahli

atau penulis lainnya. Sehingga bisa dibandingkan serta referensi yang

dapat memberikan arah kepada peneliti.


23

3.5 Teknik Analisa Data

Analisis data kualitatif menurut Bogdan & Biklen (1982) dalam buku

Metode Penelitian Kualitatif menyatakan. “Analisis data kualitatif adalah upaya

yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, memilah-milahnya menjadi

satuan yang dapat dipahami, mensestensikannya, mencari dan menemukan pola,

menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang

dapat diceritakan kepada orang lain”.

Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan

data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.

Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang

diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum

memuaskan, maka peneliti melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu,

diperoleh data yang dianggap kredibel. Data yang diperoleh dari lapangan di

lakukan analisis melalui tahap-tahap sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data (Data collection)

Data yang dikelompokkan selanjutnya disusun dalam bentuk

narasi-narasi, sehingga berbentuk rangkaian informasi yang bermakna

sesuai dengan masalah penelitian.

2. Reduksi Data (Data reduction)

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak untuk

itu maka perlu dicatat secara dan rinci. Seperti telah dikemukakan semakin
24

lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak,

komplek dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui

reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang

pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.

Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran

yang yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti dalam pengumpulan

data selanjutnya. (Sugiyono, 2012)

3. Penyajian Data (Data Display)

Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah

mendisplaykan data, dengan mendisplaykan data maka akan memudahkan

untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya

berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. (Sugiyono, 2012)

4. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing/verification)

Langkah ke tiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan

Huberman, (2005). adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan

berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada

tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi, apabila kesimpulan yang

dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan

konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka

kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.


25

Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin

dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi

mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan

rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan

akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan. (Sugiyono, 2012)

Dari tahap analisis data diatas setiap bagian-bagian yang ada di

dalamnya berkaitan satu sama lainnya, sehingga saling berhubungan antara

tahap yang satu dengan tahap yang lainnya. Analisis dilakukan secara

berlanjut dari pertama sampai akhir penelitian, untuk mengetahui Teknik

pemeriksaan dan hasil foto rontgen yang sesuai dengan proyeksi yang

digunakan dalam teknik pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube)

menggunakan pesawat x-ray konvesional di Instalasi Radiologi BLUD

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

3.6 Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan

antara konsep yang ingin diamati melalui penelitian yang dilakukan. Berdasarkan

tujuan tersebut, maka kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut :
26

Studi
Kasus

Persiapan
Pasien

Persiapan
pemeriksaan

Teknik pemeriksaan
cholangiografi post operatif
pada pasien Cholesistektomy
Processing Di
Kamar Gelap
Wawancara

Dokter Spesialis Radiografer


Radiologi

Evaluasi Hasil Gambaran


Radiografi
Gambar 3.1 Kerangka konsep penelitia
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Identitas Pasien

Nama : Ny. N

Umur : 69 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Busu Ribeun

Tanggal pemeriksaan : 26 September 2017

Jenis pemeriksaan : Cholangiografi PostOperatif ( T-Tube)

Diagnosis : Cholelitiasis post Cholesistektomy

Dokter yang membaca foto : dr. Iskandar Zakaria, Sp.Rad

4.1.2 Riwayat Penyakit Pasien

Berdasarkan hasil peneltian yang dilakukan penulis mendapatkan bahwa

pengatar pemeriksaan radiologi datang pada tanggal 25 September 2017 dari

ruangan raudhah III, karena pemeriksaan tindakan kemudian petugas di loket

Radiologi menjadwalkan pemeriksaan pada hari Selasa 26 September 2017 dan

menjelaskan persiapan yang harus di lakukan pasien sebelum di lakukan

pemeriksaan dan perlengkapan yang harus dibawa perawat ruangan ke Instalasi

Radiologi RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, untuk melakukan tindakan

pemeriksaan Cholangiografi Post Operatif (T-Tube) sebelumnya pasien memiliki

27
28

riwayat yaitu Cholelitiasis adalah batu empedu dan sudah dilakukan suatu

tindakan pembedahan (Cholesistektomy) dimana T-tube ditinggal (diletakkan)

pada choledocus.

4.1.3 Teknik Pemeriksaan Cholangiografi Post Operative

Dari hasil observasi yang telah dilakukan dan untuk melengkapi karya

tulis ini. Penulis melakukan penelitian Pada pemeriksaan cholangiografi di

Instalasi Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda

Aceh menggunakan pesawat sinar-X konvensional. Hasil pengamatan dilapangan

didapat adalah sebagai hasil berikut:

a. Persiapan Pasien

- Pasien diminta puasa minimal 12 jam sebelum dilakukan pemeriksaan

- Disarankan Pemeriksaan choalgiografi dilakukan minimal 7 hari setelah

operasi.

- Pasien di Skin test (Tes alergi).

Sebelum dilakukan pemeriksaan keluarga pasien di wajibkan mengisi

formulir persetujuan untuk dilakukan pemeriksaan.

1) Formulir persetujuan (Inform Consent)


Inform Consent sebagai wujud dari upaya rumah sakit menjunjung tinggi

aspek etik hukum, maka pasien atau keluarga di haruskan menandatangani

surat persetujuan sebagai inform consent yang menyebutkan bahwa pasien

tersebut secara tertulis menyetujui tindakan medis yang akan dilakukan, yaitu

pemeriksaan cholangiografi post operative (T-Tube). Ini dapat di gunakan

sebagai hukum legal yang seandainya terjadi hal yang tidak di inginkan,
29

petugas bagian radiologi RSUD dr. Zainoel Abidin, dapat terlepas dari jeratan

hukum, kecuali jika memang ada unsur kesengajaan.

b. Persiapan Alat dan Bahan

1) Pesawat X-ray yang disertai dengan bucky :

Merek : Philips

Model : DRX-1603B

No Seri : 2K306F

Kapasitas : 500mA

Buatan/Made In : Germany

2) Kaset dan film sesuai ukuran 24 x 30 cm


3) Marker ( R )
4) Spuit ukuran 50 cc
5) Sarung tangan
6) Bengkok
7) Pleste
8) Aquades 60 cc
9) Labeling
10) Handuk kecil 2 lembar
11) Processing Otomatis

c. Mempersiapkan Bahan Kontras Iopamiro


Bahan kontras yang digunakan pada pemeriksaan cholagiografi ini adalah

Iopamiro 370 sebanyak seabanyak ± 20 cc dan dicampur dengan air aquades

dengan perbandingan 1:1. Contras yang digunakan pada pemeriksaan

cholagiografi pada pasien post Cholesistektomy di Instalasi Radiologi BLUD

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh yang dimasukkan

melalui pipa T ± 20 cc.

d. Plain Foto ( Foto polos) Cholangiografi Post Operative


30

Plain foto ini bertujuan untuk melihat persiapan pasien sudah maksimal atau

belum, seandainya sudah maksimal maka pemeriksaan dapat dilanjutkan, tetapi

seandainya persiapan pasien kurang baik ditandai dengan masih banyaknya

gambaran fecese yang mengganggu radiografi, selain itu juga untuk menentukan

Faktor Eksposi sehingga tidak terjadi pengulangan Foto.

 Ukuran film : 24x30 cm

 Posisi pasien :

- Tempatkan pasien pada posisi supine diatas meja pemeriksaan.

 Posisi Objek :

- Atur tubuh pasien sehingga sisi kanan abdomen terpusat pada garis

tengah film dengan batas atas procesus xipoid dan batas bawah SIAS .

- Atur pundak pasien sejajar dengan bidang tranversal dan letakkan

kedua lengannya ditempat yang tidak dapat membuat bayangan pada

film.

 Central Ray : Vertikal Tegak Lurus film

 Central point :

- Arahkan sinar pusatkan 1/3 dextra dari procesus xypoid.

 FFD : 100 cm

 Kondisi Faktor Eksposi

- Kv : 77

- mAs : 12,5

e. Pemasukan Media Kontras


31

Setelah dilakukan Plain Foto kemudian media kontras di masukkan lewat

selang kateter atau pipa T (T-Tube). Teknik pemasukan media kontras sebagai

berikut :

 Isi spuit 50 cc dengan larutan media kontras sebanyak 1:1.atau 20 cc dan

20 cc aquades.
 Sambungkan spuit 50 cc dengan pipa T (T-Tube) yang ditinggal

(diletakkan) pada ductus choledocus.


 Pemasukan b a h a n kontras kedalam tractus bilaris melalui T-Tube di

lakukan sedikit demi sedikit dengan cara di suntikan.


 Setelah media kontras mengisi tractus bilaris ± 20 cc, aliran kontras

dihentikan untuk pengambilan radiograf dengan proyeksi AP dan

dilajutkan untuk pengambilan proyeksi lateral.

f. Proyeksi Pemeriksaan
1) Poyeksi AP (Anterior Posterior)

 Ukuran film : 24x30 cm

 Posisi pasien :

- Tempatkan pasien pada posisi supine diatas meja pemeriksaan

 Posisi Objek :

- Atur tubuh pasien sehingga sisi kanan abdomen terpusat pada garis

tengah film dengan batas atas procesus xipoid dan batas bawah

SIAS .

- Atur pundak pasien sejajar dengan bidang tranversal dan letakkan

kedua lengannya ditempat yang tidak dapat membuat bayangan


32

pada film.

 Central Ray : Vertikal Tegak Lurus film

 Central point :

- Arahkan sinar pusatkan 1/3 dextra dari procesus xypoid.

 FFD : 100 cm

 Kondisi Faktor Eksposi

- Kv : 77

- mAs : 12,5

2) Proyeksi Lateral

 Ukuran film : 24x30 cm

 Posisi pasien :

- Posisikan pasien true lateral pada posisi kanan.

 Posisi Objek :

- Atur tubuh pasien sehingga sisi kanan abdomen terpusat pada garis

tengah film dengan batas atas procesus xipoid dan batas bawah

SIAS .

- Lutut pasien ditekuk pada posisi yang nyaman.

- Siku ditekuk dan letakkan lengan dibawah kepala pasien.

 Central Ray : Vertikal Tegak Lurus film

 Central point :

- Arahkan sinar pusatkan 1/3 dextra dari procesus xypoid.

 FFD : 100 cm
33

 Kondisi Faktor Eksposi

- Kv : 85

- mAs : 16.0

4.1.4 Teknik Pemasukan Media Kontras Cholangiografi Post Operative

Dari hasil observasi dilapangan didapatkan untuk teknik pemasukan media

kontras cholangiografi postoperatif (T-Tube) adalah sebagai berikut :

 Isi spuit 50 cc dengan larutan media kontras sebanyak 20 cc dan 20 cc

aquades atau 1:1.


 Sambungkan spuit 50 cc dengan pipa T (T-Tube) yang ditinggal

(diletakkan) pada ductus choledocus.


 Pemasukkan bahan kontras kedalam tractus bilaris melalui T-Tube di

lakukan sedikit demi sedikit dengan cara di suntikan.


 Setelah media kontras mengisi tractus bilaris ± 20 cc, aliran kontras

dihentikan untuk pengambilan radiograf dengan proyeksi AP dan

dilajutkan untuk pengambilan proyeksi lateral.

4.1.5 Hasil Gambar Pemeriksaan Cholangiografi Post Operative

Dari hasil observasi dilapangan didapatkan untuk hasil gambaran

pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) adalah sebagai berikut:

1) Gambaran hasil pemeriksaan plain foto Cholangiografi PostOperative


34

Gambar 4.1 Hasil Plain foto cholangiografi (T-Tube)

Kriteria Gambaran :

- Tampak diafragma

- Tampak gambaran usus bersih dari fecese

- Tampak marker R dan marker penanda dipermukaan

2) Gambaran hasil pemeriksaan proyeksi Anterior Posterior. Dengan kontras

media Iopamiro 20 CC dan 20 CC Aquades yang di masukkan lewat pipa

T (T-Tube) pasien.

Gambar 4.2 Hasil proyeksi AP Cholangiografi (T-Tube)

Kriteria Gambaran :

- Tampak Kontras mengisi lumen CBD (Common biliaris ductus)

- Tampak marker R dan marker penanda dipermukaan


35

3) Gambaran hasil pemeriksaan proyeksi Lateral. Dengan kontras media

Iopamiro 20 CC dan aqudes 20 CC menjadi 40 CC.

Gambar 4.3 Hasil proyeksi lateral cholangiografi (T-Tube)

Kriteria Gambaran :

- Tampak media kontras mengisi tractus biliaris

- Tampak Kontras mengisi lumen CBD (Common biliaris ductus)

dan lumen CBD (Common biliaris ductus) melebar.

- Tampak marker R

4.2 Pembahasan

Dalam pembahasan ini penulis menguraikan masalah tentang bagaimana

penatalaksaan pemeriksaan cholangiografi postoperative (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy menggunakan pesawat x-ray konvesional di Instalasi Radiologi

BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Uraian

pembahasannya adalah sebagai berikut:

4.2.1 Pembahasan tentang teknik pemeriksaan cholangiografi postoperative


36

(T-Tube) pada pasien Cholesistektomy.

Pemeriksaan cholangiografi postoperative (T-Tube) adalah teknik

pemeriksaan secara radiologis terhadap pemeriksaan ductus-ductus pada tractus

biliaris yang dilakukan dengan cara meninggalkan pipa T (T-Tube) dalam

pembuluh empedu selama pengeringan postoperatif yang nantinya untuk

pemasukan bahan kontras radiografi.

Teknik pemeriksaan cholangiografi postoperative (T-Tube) yang digunakan

pada pasien Cholesistektomy yang terjadi dilapangan terdapat perbedaan dengan

teori yang ada. Pada pemeriksaan cholangiografi postoperative (T-Tube) di

Instalasi Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin

menggunakan alat pesawat x-ray konvesional, Proyeksi pemeriksaan

Anteroposterior dan Lateral untuk Penulis membandingkan pemeriksaan (T-Tube)

dengan teori menurut buku Merril karangan dalam buku Ballinger (1995) yaitu

menggunakan fluroscopy, proyeksi Anteroposterior, RPO, Lateral untuk

memperlihatkan anatomi dan kelainan pada tractus biliaris.

Berdasarkan hasil responden dengan 2 (dua) radiografer dan 1 (satu)

dokter spesialis radiologi tentang teknik pemeriksaan pemeriksaan cholangiografi

postoperative (T-Tube) digunakan proyeksi plain foto, Anteroposterior (AP) dan

lateral untuk memperlihatkan daerah sistem saluran empedu. Dengan

menggunakan teknik pemeriksaan di atas dapat lebih jelas untuk menampilkan

adanya indikasi kelainan pada tractus biliaris, dengan menggunakan Proyeksi

plain foto (foto polos) untuk melihat persiapan pasien dan untuk menentukan

faktor ekspose yang tepat, proyeksi Antero posterior post pemasukan bahan
37

contras dapat memperlihatkan ductus – ductus pada tractus biliaris yang telah

terisi bahan kontras. Proyeksi lateral untuk menampakkan cabang ductus

hepatikus bahan kontras pada tractus biliaris.

Pada pemeriksaan cholangiografi postoperative (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy hanya dibuat 3 foto yaitu Foto Polos A b d o m e n s i s i k a n a n

(Plain Foto), Proyeksi AP post kontras dan Lateral post kontras. Foto pertama

adalah foto polos yang tujuannya adalah untuk melihat persiapan pasien sudah

maksimal atau belum, selain itu juga untuk menentukan faktor eksposi sehingga

pada saat kontras telah dimasukkan faktor eksposi bisa optimal. Selain itu tujuan

lain dari foto polos ini adalah untuk menentukan posisi pasien dan objek yang

tepat.Setelah hasil foto polos (plain foto) cukup, dilanjutkan pemasukan bahan

kontras.

4.2.2 Pembahasan Teknik Pemasukkan Bahan Media Kontras pada

pemeriksaan cholangiografi postoperative (T-Tube)

Bahan kontras yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah Iopramiro 370

dicampur dengan air dengan perbandingan 1:1. Bahan kontras yang digunakan

pada pemeriksaan ini adalah ± 20 cc. Bahan kontras dimasukan melalui T-Tube

yang ditinggalkan, dengan kateter yang telah disambungkan dengan spuit 50 cc

yang berisi bahan kontras ± 20 cc untuk dimasukkan ke dalam pipa T (T-Tube).

Setelah bahan kontras dimasukkan kemudian dilakukan foto AP dan Lateral post

kontras. Untuk melihat bagian duktus – duktus pada traktuss biliaris diperlukan

minimal 2 proyeksi yaitu AP dan Lateral. Proyeksi AP dapat dilihat pada foto full
38

filling, menurut dokter radiolog dengan menggunakan tiga foto tersebut sudah

dapat memperlihatkan bagian yang diinginkan dengan jelas.

Pada pemeriksaan cholangiografi postoperative (T-Tube) di RSUD dr.

Zainoel Abidin Banda Aceh, tidak menggunakan fluoroscopy dengan tidak

menggunakan fluoroscopy ini tentu tidak dapat melihat pergerakan bahan

kontras secara real-time pada saat pemeriksaan cholangiografi postoperative (T-

Tube) pada pasien post Cholesistektomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Zainoel

Abidin Banda Aceh bertujuan untuk mengetahui anatomi dan fisiologis dari

tractus biliaris. Pemeriksaan ini dilakukan karena sebelumnya memiliki riwayat

telah melakukan operasi Cholesistektomy tidak terjadi masalah dan kendala pada

pipa T (T-Tube), bahan kontras dimasukan melalui pipa T, lalu dilihat dimana

berhentinya bahan kontras dengan proyeksi AP dan Lateral, dengan melihat jalur

jalannya media kontras dan mengetahui muara akhir dari jalanya media kontras,

maka dapat diketahui kelainan pada daerah tractus biliaris tersebut, dengan begitu

tindakan medis yang tepat dapat dilakukan kepada pasien, biasanya untuk melihat

apakah batu residual atau yang tidak terdeteksi sebelumnya, untuk melakukan

tindakan medis lainya yang tepat untuk pasien tersebut.

4.2.3 Pembahasan Hasil Gambaran teknik pemeriksaan cholangiografi

postoperative (T-Tube) pada pasien Cholesistektomy.

Hasil gambaran pemeriksaan radiografi cholangiografi postoperative (T-

Tube) pada pasien Cholesistektomy yaitu Kontras dimasukkan melalui T-Tube,

tampak mengisi lumen CBD, Pangkal ductus cysticus dan bilier tree, CBD
39

melebar, tetapi tidak tampak filling defek dan ekstravasasi bahan kontras, kontras

mengalir lancar ke lumen duodenum..

Berdasarkan hasil responden dengan 2 (dua) radiografer dan 1 (satu)

dokter spesialis radiologi tentang hasil gambaran radiografi pemeriksaan

cholangiografi postoperative (T-Tube) pada pasien Cholesistektomy sudah

memenuhi kualitas gambaran untuk menegakkan diagnosa akan tetapi keakuratan

kurang dikarenakan tidak menggunakan fluoroscopy dengan tidak

menggunakan fluoroscopy ini tentunya tidak dapat melihat pergerakan bahan

kontras secara real-time pada saat pemeriksaan cholangiografi postoperative (T-

Tube) pada pasien post Cholesistektomy di Instalasi Radiologi RSUD dr. Zainoel

Abidin Banda Aceh.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat

diambil suatu kesimpulan adalah sebagai berikut :

1. Teknik pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy di Instalasi Radiologi BLUD Rumah Sakit Umum Daerah

dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tidak menggunakan teknik pemeriksaan

proyeksi RPO dikarenakan Proyeksi AP (Anterior Posterior) dan Lateral

sudah cukup menegakkan diagnosa pada pemeriksaan tersebut.

2. Teknik pemasukan bahan kontras pada Pemeriksaan cholangiografi

postoperatif (T-Tube) pada pasien Cholesistektomy di Instalasi Radiologi

BLUD Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh sudah

sesuai dengan prosedur jalannya pemeriksaan.

3. Hasil gambaran Pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada

pasien Cholesistektomy dengan menggunakan pesawat x-ray Konvesional

sudah cukup untuk menegakkan suatu diagnosa pada tractus biliaris, tetapi

keakuratan diagnosa kurang dikarenakan tidak menggunakan fluoroscopy

dengan tidak menggunakan fluoroscopy ini tentu tidak dapat melihat

pergerakan bahan kontras secara real-time. Sehingga dapat kehilangan

momen-momen penting yang tentunya sangat membantu dalam

menegakkan diagnosa.

40
41

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat

diambil suatu saran adalah sebagai berikut :

1. Untuk Pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy, sebaiknya dilakukan dengan menggunakan flouroscopy

supaya dapat dengan jelas arah jalannya bahan kontras secara real-time

sehingga tidak kehilangan momen-momen penting yang tentunya sangat

membantu dalam menegakkan diagnosa.


2. Untuk Pemeriksaan cholangiografi postoperatif (T-Tube) pada pasien

Cholesistektomy, sebaiknya perlu pendampingan oleh dokter spesialis

radiologi.

Anda mungkin juga menyukai