Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ANALISIS INSTRUMENTAL

KELOMPOK 5
1. Ivan Pratama (1731410144)
2. Mei Susanti (1731410041)
3. Nadua Bella Wardani (1731410063)

KELAS : 1E

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2017
Titrasi Asam Basa Dengan Combitirator

17 April 2018

I. Tujuan
1. Mengoperasikan alat Combititrator untuk berbagai cara titrasi (asam-
basa, titrasi dengan titik akhir yang ditentukan)
II. Deskripsi Praktikum
Dosigraph
625

pH Meter Impulsomat
632 614

Multi Dosimat
645

Peralatan Combititrator tersusun atas peralatan pH Meter 632,


Impulsomat dan Dosigraph 625. Pusat susunan peralatan tersebut adalah
impulsomat yang menerima input berupa tegangan (mV) sekaligus mengatur
penambahan larutan penetrasi pada dosimat dari pH meter (alat pengukur
berupa elektroda kaca kombinasi) yang memberikan output ke dosigraph.
Impulsomat menyesuaikan kecepatan titrasi (penambahan penetrasi
dengan kecepatan kertas pada dosigraph). Dengan demikian volume larutan
penetrasi (ml) dapat dihitung dari panjang kertas grafik.
Sistem elektroda dapat menggantikan indikator warna yang
menentukan titik akhir titrasi. Perubahan pH yang terjadi dalam larutan
sampel selama titrasi berlangsung berdasarkan pada persamaan Henderson
Hasselbalch yang dibahas pada teori pH.
pH = pKa + log C asam
C garam
pH titrasi asam/basa ditentukan oleh perbandingan secara logaritma
dari konsentrasi garam/asam, karena pKa mempunyai nilai konstan. Selama
asam/basa masih banyak berlebih, logaritma perbandingan tersebut tidak
banyak berupa dengan perubahan konsentrasi. Bila antara garam dan asam
mendekati kesetimbangan, logaritma akan berubah banyak dengan
konsentrasi.
Impulsomat dapat digunakan untuk tiga titrasi yang berbeda, yaitu :
1. Titrasi pada titik akhir yang ditentukan (end point mode with delay)
Titik akhir titrasi (pH atau mV) ditentukan terlebih dahulu.
Kecepatan titrasi bisa diatur sedemikian rupa, sehingg titrasi mula-mula
berlangsung cepat, lalu diperlambat bila mendekati titik akhir titrasi.
Setelah titik tercapai, impulsomat memerintahkan multi dosimat untuk
menghentikan penambahan volume penetrasi. Letak titik akhir tergantung
pada suasana larutan seperti konsentrasi garam, kekentalan, kadar pelarut
organik dan sebagainya.
2. Merekam grafik titrasi (CRV mode)
Rekaman akan dimulai pada ph/potensial yang diatur terlebih
dahulu, kemudian akan berlangsung sesuai dengan jarak ph/potensial.
Dalam hal ini elektrode tidak perlu dikalibrasi. Span dan kompensasi dan
pada recorder diatur sedemikian rupa, sehingga grafik titrasi dapat
direkam. Hasil rekaman berupa grafik dan untuk menentukan titik akhir
titrasi dengan dua cara yaitu dua garis sejajar untuk kurva simeteris dan
dua lingkaran untuk kurva tida simetris.
3. Mempertahankan nilai yang diukur (Start mode : EP with t delay = ∞)
Impulsomat dapat juga digunakan sebagai alat pengatur untuk
mempertahankan nilai acuan (set point). Bentuk kurva memberi informasi
tentang tipe reaksi dan bisa diperoleh parameter yang berguna, missal
hidrolisa anhidrida, pemisahan senyawa secara enzimatis dan denaturasi
protein.
III. Daftar Alat
1. Impulsomat 614 1 buah 3. Dosigraph 625 1 buah
2. Gelas reaksi 1 buah 4. Pipet sekuran 10 ml 1 buah
5. pH meter 632 1 buah 9. Multidosimat 614 1 buah
6. Boulp pipet 1 buah 10. Magnetic stirrer 1
7. Elektroda kaca kombinasi 1 buah
buah 11. Gelas kimia 50 ml 3
8. Botol semprot 1 buah buah
IV. Daftar Bahan
1. NaOH 0,1 N 4. Buffer pH 4
2. HCl 0,1 N 5. Buffer pH
3. CH3COOH 0,1 N

V. Skema Kerja
1. Kalibrasi pH Meter 632

Menyalakan pH meter Menekan tombol pH Mencelupkan


dengan tombol on/off. elektroda ke dalam
(pada keadaan stand by) larutan dapar pH7

Menekan tombol
Menekan meas dan Mengatur Slope pada t/oC untuk
membaca pH skala 1,0 mengatur
temperatur

Menekan Ucomp untuk Menekan stand by, Mencelupkan


mengatur angka pada membilas elektroda elektroda ke
display dan mengeringkan larutan dapar pH4

Menekan tombol
stand by, membilas Menekan tombol
dengan air dan slope
mengeringkan
2. Titrasi NaOH – HCL dengan Titik akhir Tertentu

Memipet 5 ml HCL
Menghidupkan Mencelupkan
0,1 N, memasukkan
implusomat, dosigraph elektroda dan
dalam gelas kimia
dan multi dosimat menjalankan
dan menambahkan
pengaduk magnet
100 ml aquades

Mengatur Tombol Mencelupkan


Menekan tombol EP ujung buret ke
dynamic pada angka 9
dalam HCL

Menekan tombol pH Mengatur tombol Mengatur tombol


ke arah pH 14 course EP(tclock/m) pada tdelay/m pada posisi
posisi 1,5 10

Membaca volume Menekan tombol Memasukkan harga


NaOH yang start pada pH 7 pada
dibutuhkan implusomat implusomat

*Mengulangi dengan mengganti dynamic 7 dan 3, mengulangi dengan


menggunakan 10 ml larutan CH3COOH 0,1 N dengan pH Ep 8,8
VI. Hasil Percobaan
1. Gambar grafik dosigrahp
2. Tabel pengamatan NaOH 0,1 N dengan HCL dan CH3COOH

Tabel VI.2.a Hasil Titrasi Terhadap


HCl
HCL
Dinamik pH pH Vol.
Waktu N HCl
awal akhir NaOH
2 2,02 8,93 1’22” 5,6 0,056
3 2,01 9,38 1’46” 6,8 0,068
6 2,33 9,53 55” 3,6 0,036
7 2,04 9,36 1’26” 5,8 0,058
8 2,04 9,27 1’30” 5,8 0,058
9 2,05 9,08 1’28” 5,6 0,056

Reaksi yang terjadi:

HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l)

Tabel VI.2.b Hasil Titrasi Terhadap CH3COOH


CH3COOH

Dinamik pH pH Vol. N
Waktu
awal akhir NaOH CH3COOH

2 3,39 9,60 2’27” 10,9 0,109


3 3,38 9,67 2’42” 12 0,120
6 3,35 9,65 2’16” 9,6 0,096
7 3,38 9,66 2’24” 9,8 0,098
8 3,40 9,77 2’20” 9,8 0,098
9 3,34 9,64 3’11” 13 0,130

Reaksi yang terjadi:

CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(l)


3. Perhitungan atau Analisis data
a. Titrasi NaOH 0,1 N dengan HCL
Dynamic 2
V HCL x N HCL = V NaOH x N NaOH
10 ml x N HCL = 5,6 ml x 0,1 N
N HCL = 0,056 N
Dynamic 3
V HCL x N HCL = V NaOH x N NaOH
10 ml x N HCL = 6,8 ml x 0,1 N
N HCL = 0,068 N
Dynamic 6
V HCL x N HCL = V NaOH x N NaOH
10 ml x N HCL = 3,6 ml x 0,1 N
N HCL = 0,036 N
Dynamic 7
V HCL x N HCL = V NaOH x N NaOH
10 ml x N HCL = 5,8 ml x 0,1 N
N HCL = 0,058 N
Dynamic 8
V HCL x N HCL = V NaOH x N NaOH
10 ml x N HCL = 5,8 ml x 0,1 N
N HCL = 0,058 N
Dynamic 9
V HCL x N HCL = V NaOH x N NaOH
10 ml x N HCL = 5,6 ml x 0,1 N
N HCL = 0,056 N
b. Titrasi NaOH 0,1 N dengan CH3COOH
Dynamic 2
V CH3COOH x N CH3COOH = V NaOH x N NaOH
10 ml x N CH3COOH = 10,9 ml x 0,1 N
N CH3COOH = 0,109 N
Dynamic 3
V CH3COOH x N CH3COOH = V NaOH x N NaOH
10 ml x N CH3COOH = 12 ml x 0,1 N
N CH3COOH = 0,12 N
Dynamic 6
V CH3COOH x N CH3COOH = V NaOH x N NaOH
10 ml x N CH3COOH = 9,6 ml x 0,1 N
N CH3COOH = 0,096 N
Dynamic 7
V CH3COOH x N CH3COOH = V NaOH x N NaOH
10 ml x N CH3COOH = 9,8 ml x 0,1 N
N CH3COOH = 0,098 N
Dynamic 8
V CH3COOH x N CH3COOH = V NaOH x N NaOH
10 ml x N CH3COOH = 9,8 ml x 0,1 N
N CH3COOH = 0,098 N
Dynamic 9
V CH3COOH x N CH3COOH = V NaOH x N NaOH
10 ml x N CH3COOH = 13 ml x 0,1 N
N CH3COOH = 0,13 N

VII.Pembahasan
Oleh Nadua Bella Wardani

Pada percobaan kali ini yaitu melakukan titrasi combititrator. Titrasi ini
dilakukan dengan menggunakan alat implusomat, dosigraph (menggambar grafik)
dan pH meter (mengukur pH) yang merupakan rangkaian alat titrasi elektronik.
Alat tersebut lebih akurat dibandingkan titrasi menggunakan buret, hal ini karena
serangkaian alat ini bekerja secara otomatis hanya dengan mengatur beberapa
tombol.

Sebelum titrasi dilakukan kalibrasi pH meter 632 menggunakan larutan


buffer dengan pH 4 dan pH 7. Kalibrasi pH meter bertujuan untuk
menghubungkan nilai pH pada instrument dengan larutan yang sudah diketahui
tingkat pH kebenarannya dengan kata lain untuk memastikan akurasi dari alat
ukur tersebut sehingga instrument yang digunakan dapat menghasilkan
pengukuran yang akurat.

Bahan yang digunakan yaitu HCl (asam kuat) dan CH3COOH (asam
lemah) sebagai titrat serta NaOH dengan konsentrasi 0,1 N sebagai titran. Saat
HCl maupun CH3COOH dititrasi dengan NaOH dilakukan menguunakan 6 varian
dinamik yaitu dinamik 2, 3, 6, 7, 8 dan 9 dengan tujuan untuk membandingkan
volume yang dihasilkan serta kecepatan mencapai titik equivalen,

Reaksi-reaksi yang terjadi pada titrasi :

HCl(aq) + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l)

CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(l)

Berdasarkan percobaan pH awal larutan HCl pada dinamik 2 yaitu 2,02


kemudian mencapai titik equivalen dengan pH akhir 8,93 dalam waktu 1 menit 22
detik dan total volume 5,6 ml sehingga didapatkan konsentrasi larutan HCl 0,056
N. Pada percobaan pH awal larutan HCl dinamik 3 yaitu 2,01 kemudian mencapai
titik equivalen dengan pH akhir 9,38 dalam waktu 1 menit 46 detik dan total
volume 6,8 ml sehingga didapatkan konsentrasi larutan HCl 0,068 N. Pada
percobaan pH awal larutan HCl dinamik 6 yaitu 2,33 kemudian mencapai titik
equivalen dengan pH akhir 9,53 dalam waktu 55 detik dan total volume 3,6 ml
sehingga didapatkan konsentrasi larutan HCl 0,036 N. Pada percobaan pH awal
larutan HCl dinamik 7 yaitu 2,04 kemudian mencapai titik equivalen dengan pH
akhir 9,36 dalam waktu 1 menit 26 detik dan total volume 5,8 ml sehingga
didapatkan konsentrasi larutan HCl 0,058 N. Pada percobaan pH awal larutan
HCl dinamik 8 yaitu 2,04 kemudian mencapai titik equivalen dengan pH akhir
9,27 dalam waktu 1 menit 30 detik dan total volume 5,8 ml sehingga didapatkan
konsentrasi larutan HCl 0,058 N. Pada percobaan pH awal larutan HCl dinamik 9
yaitu 2,05 kemudian mencapai titik equivalen dengan pH akhir 9,08 dalam waktu
1 menit 28 detik dan total volume 5,6 ml sehingga didapatkan konsentrasi larutan
HCl 0,056 N.

Kemudian pada percobaan pH awal larutan CH3COOH pada dinamik 2


yaitu 3,39 kemudian mencapai titik equivalen dengan pH akhir 9,60 dalam waktu
2 menit 27 detik dan total volume 10,9 ml sehingga didapatkan konsentrasi
larutan HCl 0,109 N. Pada percobaan pH awal larutan CH3COOH pada dinamik 3
yaitu 3,38 kemudian mencapai titik equivalen dengan pH akhir 9,67 dalam waktu
2 menit 42 detik dan total volume 12 ml sehingga didapatkan konsentrasi larutan
HCl 0,12 N. Pada percobaan pH awal larutan CH3COOH pada dinamik 6 yaitu
3,35 kemudian mencapai titik equivalen dengan pH akhir 9,65 dalam waktu 2
menit 16 detik dan total volume 9,6 ml sehingga didapatkan konsentrasi larutan
HCl 0,096 N. Pada percobaan pH awal larutan CH3COOH pada dinamik 7 yaitu
3,38 kemudian mencapai titik equivalen dengan pH akhir 9,66 dalam waktu 2
menit 24 detik dan total volume 9,8 ml sehingga didapatkan konsentrasi larutan
HCl 0,098 N. Pada percobaan pH awal larutan CH3COOH pada dinamik 8 yaitu
3,40 kemudian mencapai titik equivalen dengan pH akhir 9,77 dalam waktu 2
menit 20 detik dan total volume 9,8 ml sehingga didapatkan konsentrasi larutan
HCl 0,098 N. Pada percobaan pH awal larutan CH3COOH pada dinamik 9 yaitu
3,34 kemudian mencapai titik equivalen dengan pH akhir 9,64 dalam waktu 3
menit 11 detik dan total volume 13 ml didapatkan konsentrasi larutan HCl 0,13 N.

Secara teori, pengaturan dynamic yang berbeda bisa dilihat bahwa


semakin besar dynamic ( kecepatan tetesan semakin cepat ) volume yang di
butuhkan akan semakin kecil . Hal ini terjadi karena proses reaksi antara titran dan
titrat kurang sempurna, dan cepatnya penambahan titran mengakibatkan kenaikan
pH yang cepat sehingga cepat mencapai titik ekivalen yang menyebabkan di
dapatkanya volume yang kecil, sebaliknya semakin kecil dynamic ( kecepatan
tetesan semakin lambat ) volume yang dibutuhkan akan semakin besar. Hal ini
terjadi karena proses reaksi antara titran dan titrat berlangsung sempurna, dan
lambatnya penambahan titran menyebabkan kenaikan pH yang lambat, hal ini
terjadi karena pembentukan partikel terjadi secara sempurna dan akan habis
bereaksi yang menyebabkan volume di butuhkan lebih banyak. Tetapi pada hasil
pengamatan didapatkan hasil yang tidak sesuai dengan teori ,sehingga mungkin
terdapat faktor faktor yang dapat mempengaruhinya.
VIII. Kesimpulan
Oleh Nadua Bella Wardani
c. Dynamic adalah kecepatan titrasi dalam mencapai titik akhir
aquivalen dimana besar kecilnya dynamic dapat mempengaruhi
volume titran yang dibutuhkan untuk menitrasi titrat.
d. Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa kadar atau konsentrasi
HCl dapat ditentukan melalui proses titrasi, yaitu dengan
mereaksikan HCl (titrat) dengan NaOH (titer). Volume NaOH yang
digunakan akan mempengaruhi hasil konsentrasi dari HCl tersebut.
Dengan menggunakan alat combititrator kita tidak perlu menggambar
grafik secara manual karena sudah dibantu oleh alat dosigraph.
IX. Keselamatan Kerja
1. MSDS NaOH
Bahaya dan Penyebab
 Penyebab kerusakan pada organ paru-paru.
 Sangat berbahaya dalam kasus inhalasi (korosif paru-paru), kasus kulit
kontak (korosif, permeator), kontak mata (korosif), menelan.
 Menyebabkan iritasi kulit dan luka bakar parah. menyebabkan bisul
penetrasi.
 Mata : menyebabkan iritasi dan luka bakar
 Inhalasi : menyebabkan iritasi parah pada saluran pernafasan dan
selaput lendir dengan batuk, luka bakar, kesulitan bernapas, dan koma.
Serta dapat memicu pneumonitis kimia dan paru.
 Tertelan: menyebabkan kerusakan parah dan permanen, iritasi yang
berat, luka bakar, serta perforasi pada saluran pencernaan.
Cara Penanggulangannya
 Jangan sampai terkena mata, kulit, atau pakaian. Jangan menghirup
asap.
 Jika tertelan, berikanlah minum air atau susu.
 Jika terhirup, lepaskan ke udara segar, berikan pernafasan buatan dan
oksigen jika diperlukan. Segera meminta bantuan medis untuk semua
kasus.
 Dalam kasus kontak, segera siram mata atau kulit dengan air minimal
15 menit.
2. MSDS HCl
Identifikasi Bahaya
 Sangat korosif dan toksik serta iritatif bila kontak dengan kulit, mata
atau terhirup.
 Mata : menyebabkan iritasi bahkan dapat menyebabkan kebutaan
 Kulit : menyebabkan luka bakar dan dermatitis
 Tertelan : menyebabkan luka bakar membrane mukosa di mulut,
esophagus dan mulut
 Terhirup : menyebabkan bronchitis kronis
Tindakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
 Mata : bilas dengan air mengalir sekurang-kurangnya 15 menit
 Kulit : cuci dengan air sebanyak-banyaknya. Segera lepaskan pakaian
yang terkontaminasi.
 Tertelan : bila sadar, beri minum 1 – 2 gelas untuk pengenceran.
Hindari pemanis buatan.
 Terhirup : segera pindahkan korban ke tempat yang cukup udara,
berikan pernafasan buatan atau oksigen korban segera bawa ke dokter.
3. MSDS CH3COOH
Identifikasi Bahaya

 Mata : dapat menyebabkan iritasi.


 Kulit : dapat menyebabkan iritasi
 Tertelan : dapat menyebabkan ketidak nyamanan pencernaan.
 Terhirup : dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan

Tindakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan

 Mata : siram dengan air selama minimal 15 menit, menaikkan dan


menurunkan kelopak mata sesekali. Dapatkan perawatan medis jika
terjadi iritasi.
 Kulit : mencuci area yang terkena selama minimal 15 menit. Hapus
yang terkontaminasi pada pakaian. Mencuci pakaian yang
terkontaminasi sebelum digunakan kembali. Dapatkan perawatan
medis jika terjadi iritasi.
 Menelan : jangan menginduksi muntah. Jika tertelan, jika sadar,
berikan banyak air,segera memanggil seorang dokter atau pusat
kendali racun. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut
kepada orang yang tidak sadar.
X. Daftar Pustaka
a. Anonim. (2011, 11 Mei) Laboratorium Kalbrasi BBTKL & PPM Jakarta.
Diakses pada tanggal 28 april 2018 dari
https://kalibrasibbtkl.wordpress.com
b. Modul Praktikum Kimia Analisis dan Instrumentasi Jurusan Teknik
Kimia Poiteknik Negeri Malang

Malang,8 April 2018


Mengetahui,
Dosen Pembimbing

( Drs.Sigit Hadiantoro,M. Pd)