Anda di halaman 1dari 15

APPENDISITIS

Stase Bedah

Oleh:

Aris Putra Nandar


108170003

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
CIREBON
2012
DEFINISI

Appendisitis adalah peradangan dari Appendix vermicularis dan


merupakan kegawatdaruratan bedah abdomen yang paling sering ditemukan.

INSIDENSI

Appendisitis akut dapat terjadi pada semua umur. Pada anak sering terjadi
pada sekitar usia 6-10 tahun, jarang dilaporkan pada anak berusia kurang dari 1
tahun. Insidensi tertinggi pada usia 20-30 tahun, terjadi pada laki-laki dan
perempuan sama banyak. Nyeri abdomen pada anak disebabkan oleh kecerobohan
diet atau infeksi saluran pencernaan, namun dokter harus selalu
mempertimbangkan adanya apendisitis akut karena hal tersebut merupakan kasus
abdomen akut yang paling penting dan paling banyak pada anak. Di Amerika
Serikat ada penurunan jumlah kasus dari 100 kasus menjadi 52 kasus setiap 100
ribu penduduk dari tahun 1975 – 1991. Terdapat 15 – 30 % (30 – 45 % pada
wanita) gambaran histopatologi yang normal pada hasil appendektomi. Keadaan
ini menambah komplikasi pascaoperasi, seperti adhesi, konsekuensi beban sosial-
ekonomi, kehilangan jumlah hari kerja, dan produktivitas (Rothrock, Steven G,
2000).

APPENDIX VERMICULARIS

Appendiks sebagai bagian dari sistem pencernaan mulai diterangkan


secara tersendiri pada awal abad 16. Adalah seorang pelukis Italia terkenal yang
bernama Leonardo da Vinci yang pertamakali menggambarkan apendiks sebagai
organ tersendiri. Pada waktu itu disebutnya orecchio yang berarti telinga.
Sebelumnya appendisitis hanya dapat dibuktikan dengan dilakukannya bedah
jenasah. Pada tahun 1736 oleh Amyand, seorang dokter bedah Inggris, berhasil
dilakukan operasi pengangkatan apendiks pada saat melakukan operasi hernia
pada anak laki-laki. Dialah yang dikenal sebagai orang yang pertamakali
melakukan operasi apendektomi .

Istilah appendisitis pertama kali digunakan oleh Reginal Fitz, 1886,


seorang profesor patologi anatomi dari Harvard, untuk menyebut proses
peradangan yang biasanya disertai ulserasi dan perforasi pada apendiks. Tiga
tahun kemudian (1889), Charles Mc Burney seorang profesor bedah dari
universitas Columbia menemukan titik nyeri tekan maksimal dengan melakukan
penekanan pada satu jari yaitu tepat di 1,5-2 inchi dari spina iliaca anterior
superior (SIAS) yang ditarik garis lurus dari SIAS tersebut ke umbilikus. Titik
tersebut kemudian dikenal sebagai titik Mc Burney (Brunicardi,F.Charles, et al.,
2007)
Anatomi dan Fisiologi

Appendiks merupakan organ berbentuk tabung dengan panjang kurang


lebih 10 cm (3-15 cm), berpangkal di caecum dan merupakan pertemuan ketiga
taenia coli. Letak appendiks dapat bermacam-macam, yaitu: iliacal, retrocaecal
intraperitoneal (65%) atau retroperitoneal dan antecaecal, pelvical.
Appendiks dipersarafi oleh persarafan parasimpatis yang berasal dari
cabang N. Vagus dan persarafan simpatis yang berasal dari N. Thoracalis X.
Perdarahan appendiks berasal dari A. Appendicularis yang merupakan arteri tanpa
kolateral, sehingga jika arteri ini tersumbat, appendiks akan mengalami ganggren.
Appendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml per hari. Lendir ini
normalnya dicurahkan ke dalam lumen lalu mengalir ke dalam caecum. Hambatan
aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan dalam terjadinya apendisitis.

Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated


Lymphoid Tissue) di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks adalah IgA,
yang berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi. (Brunicardi,F.Charles, et al.,
2007)
Posisi Appendix vermicularis:

1. Subcaecal
2. Retrocaecal
3. Pre-ileal
4. Post-ileal
5. Pelvical

Etiologi Apendisitis
 Obstruksi lumen appendiks
 Hiperplasia jaringan limfe
 Benda asing, misalnya cacing Askaris
 Tumor
 Erosi mukosa appendiks, misalnya oleh E. Hystolitica
 Kebiasaan makan makanan yang rendah serat
 Striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya
(Rothrock, Steven G, 2000)

CARA PENJALARAN INFEKSI:


1. Melalui usus/Enterogenous
2. Melalui darah.
3. Dari sekitarnya

PEMBAGIAN APPENDISITIS:
1. Appendisitis acuta tanpa perforasi (Simple Appendicitis Acuta).
2. Appendisitis acuta dengan perforasi
3. Appendisitis kronika

PATOFISIOLOGI dan GEJALA KLINIS


Simple Appendicitis Acuta terdiri dari dua macam yaitu Non Obstruktif dan
obstruktif.
Simple appendicitis acuta non obstruktif:
Biasanya yang mula-mula terserang oleh bakteri adalah mukosa (Catarrhal
Appendicitis)  menyebar keluar  dinding appendix menjadi udem dan
pembuluh darah vasodilatasi (merah)  hemoragik infarks  nekrosis kecil-kecil
(ganggren)  ulkus kecil-kecil  serosa terkena (serosa appendiks = serosa
peritoneum)  memberikan reaksi untuk mengeluarkan fibrin eksudat yang putih
 omentum begerak menuju appendix untuk melokalisir/radang (localized
peritonitis).
Jika sembuh, jaringan appendix diganti dengan jaringan ikat sehingga dapat
menimbulkan obstruksi. Ini akan menimbulkan CHRONIC APPENDISITIS
atau APPENDISITIS AKUT lagi.

Patofisiologi appendisitis akut obstruktif:


Keterangan:
Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks. Obstruksi
tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks mengalami
bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elasitas
dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan
tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan edema dan ulaserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendisitis akut
fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium.

Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus
dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum yang
dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan bawah yang disebut apendisitis
supuratif akut.

Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infarkk dinding appendiks yang
diikuti ganggren. Stadium ini disebut apendisitis ganggrenosa. Bila dinding
appendiks rapuh maka akan terjadi prefesional disebut appendikssitis perforasi.

Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke
arah appendiks hingga muncul infiltrat appendikkularis.

Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang,
dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang
masih kurang memudahkan untuk terjadi perforasi, sedangkan pada orang tua
mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.
Gejala-gejala:
- Pada awalnya mengeluh tidak enak disekitar epigastrium umbilicus dan sering
disertai dengan enek, anorexia, malaise dan muntah (visceral pain).
- Nyeri menjalar ke kanan bawah disertai rasa sakit yang jelas. Rasa sakit di
kanan bawah disebabkan karena infeksi sudah menerobos peritonium visceral,
kemudian peritonium parietale (PARIETAL PAIN = nyeri karena terkena
peritonium parietale). Jika appendix RETRO-CAECAL/PELVICAL maka
gejala-gejala parietal pain terlambat.
- Nyeri pada flank, punggung
- Nyeri alih testis
- Anoreksia, mual, muntah
- Diare
- Febris ringan (37,5 -38,5 0 C)
- Malas bergerak, berbaring dgn lutut flexi

Gejala-gejala diatas dapat timbul mendadak dan bersifak kolik (hilang timbul).
Jika infeksi ringan dapat timbul mucocele. Jika infeksi berat dapat timbul
perforasi. Jika infeksi sangat hebat dapat terjadi perforasi (fulminating) dan
akhirnya timbul peritonitis generalisata. Ini disebut appendisitis tipe
fulminating.

JIKA TERJADI PERFORASI DAPAT MENYEBABKAN:


o Localized Peritonitis
 Kalau terlokalisir sempurnya menjadi apendisitis infiltrat. Kalau tidak
terlokalisir sempurna menjadi apendisitis abses.
o Generalized Peritonitis

Gejala appendisitis akut dengan peritonitis lokal:


Terjadi perforasi tetapi tubuh masih bisa melokalisir sehingga timbul peritonitis
lokal/abses.
Gejala-gejala lebih jelas, yaitu: pasien tampak toksis/lebih sakit, nadi cepat, panas
meningkat, nafas mulai berbau, lidah kotor.

Gejala appendisitis akut dengan peritonitis generalisata:


Pasien tampak payah, sakit berat (toksis), perforasi menjalar ke seluruh abdomen,
perut nyeri dan tegang di seluruh abdomen walaupun punctum maximum
mungkin di sebelah kanan, nyeri dan febris tinggi, kedaan umum jelek. Karena
fungsiolesa maka fungsi usus terhenti (tidak berkontraksi) sehingga terjadi
pembentukkan gas  perut kembung  paralitik ileus  muntah-muntah
(regurgitasi)

Appendisitis akut pada anak-anak :


TRIAS DRACHTER : febris, diare, leukositosis.
Gejala klinis pada neonatus (lahir – 30 hari) : distensi abdomen, muntah, gelisah,
lemas, dapat teraba massa pada abdomen, dan kadang terjadi hipotermi, hipotensi,
dan distres pernapasan.
Gejala klinis pada bayi (kurang dari 2 tahun) : muntah, rasa nyeri pada abdomen,
demam, diare (jarang terjadi), gelisah, napas merintih, rasa tidak enak/nyeri pada
panggul kanan.
Gejala klinis pada anak (2-5 tahun) : muntah, nyeri perut kanan bawah, demam,
anoreksia (John J., et al, 2009).

APPENDISITIS KRONIS
Gejala klinis:
1. Reccurent/Interval Appendisitis:
 Penyakit sudah berulang – ulang dan ada interval bebas.
 Biasanya pada anamnesa ada appendicitis acuta kemudian sembuh, setelah
beberapa lama kumat lagi tapi lebih ringan.
 Gejala utama dari kumat I dan kumat II dst adalah gejala dyspepsi (diare,
mual-mual, enek, tidak enak makan).
 Pemeriksaan klinis: Nyeri di titik Mc Burney’s tapi tidak ada defence
muscular.
2. Reccurent Appendicular Colic:
 Ada obstruksi pada lumen appendixnya.
 Gejala utama: kolik, tetapi tidak ada panas. Kolik disekitar umbilicus/ ke
arah lateral/ epigastrium.
 Pemeriksaan fisik: Nyeri tekan di Appendix

DIAGNOSIS APENDISITIS AKUT:


Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi) dan pemeriksaan laboratorium.
1. Anamnesis
Pada anamnesis dapat ditemukan gejala-gejala apendisitis.
2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
-Tidak ditemukan gambaran spesifik.
-Kembung sering terlihat pada komplikasi perforasi.
-Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses
periapendikuler.
-Tampak perut kanan bawah tertinggal pada pernafasan
b. Palpasi
-Nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri tekan
lepas.
-Defence muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum
parietale.
-Pada appendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam
untuk menentukan adanya rasa nyeri.
c. Perkusi
-Terdapat nyeri ketok , pekak hati
d. Auskultasi
- sering normal
- peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis
generalisata akibat apendisitis perforata pada keadaan lanjut.
-Bising usus tidak ada (pada peritonitis)
e. Rectal Toucher
-Tonus musculus sphincter ani baik
-Ampula kolaps
-Nyeri tekan pada daerah jam 09.00-12.00
-Terdapat massa yang menekan rectum (jika ada abses)
-Pada appendicitis pelvica tanda perut sering meragukan maka kunci
diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.
f. Sitkowsky sign : nyeri tekan perut kanan bawah pada posisi miring ke
kiri supaya appendix bebas tidak terhalang oleh ileum dan turun ke
bawah (kiri pasien).
g. Blumberg sign : nyeri lepas kontralateral.
h. Rovsing sign : nyeri dilatasi, nyeri di RLQ bila dilakukan palpasi secara
berurutan dari colon descendens ke arah caecum. Nyeri positif bila
tidak ada obstruksi atau basis appendix tidak menekuk, karena tekanan
masuk ke dalam appendix analog dengan ileus obstruktiva yang
disebabkan Ca sigmoid dimana terjadi distensi pada daerah proximal,
bila valvula Ileocaecal intak.
i. Obturator sign : nyeri RLQ bila dilakukan flexi sendi panggul dan lutut
(nyeri hipogastrik saat dilakukan rotasi interna dengan flexi paha kanan
secara pasif dan pasien dalam keadaan supinasi)
j. Wahl’s sign : nyeri perkusi
k. Psoas sign : nyeri saat kaki kanan diangkat (pasien dalam keadaan
terlentang), nyeri disebabkan adanya regangan peritoneum, terutama pada
appendiks retrosekal.
l. Baldwin’s sign : nyeri di flank bila tungkai bawah ditekuk
(Rothrock, Steven G, 2000).

m. Skor Alvarado
Manifestasi Skor

Gejala Adanya migrasi nyeri 1

Anoreksia 1

Mual/muntah 1

Tanda Nyeri RLQ 2

Nyeri lepas 1

Febris 1

Laboratorium Leukositosis 2

Shift to the left 1

Total poin 10

Keterangan:
0-4 : kemungkinan Appendisitis kecil
5-6 : bukan diagnosis Appendisitis
7-8 : kemungkinan besar Appendisitis
9-10 : hampir pasti Appendisitis
5-6  obs. di RS
>6  bedah

(Khan, Ihramullah, 2000)

Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium

Leukosit ↑ antara 12.000-18.000/mm3

neutrofilia (shift to the left)

Urinalisis: DD/ pyelonephritis,batu ginjal

2. Ultrasonografi
 Appendisitis: ≥ 7mm, appendicolith, cairan / massa periappendix
 False (+):infeksi sekunder appendix akibat salphingitis
inflammatory bowel disease
 False (-): appendix retrocaecal ,usus terisi banyak udara
Gambaran USG Apendisitis akut

3. CT-Scan
 Apendisitis: ≥ 5-7mm, dinding mengecil  halo

Gambaran CT Scan Apendiks


normal
Gambaran CT Scan Apendisitis
dengan Apendikolit

Apendisitis, dengan lumen yang


berdilatasi dan dinding apendiks
menebal
Apendisitis perforata, dengan
gambaran dilatasi lumen, dinding
menebal, dan udara di luar lumen
apendiks.

(http://www.mghradrounds.org/index.php?src=gendocs&link=2006_jan)

DIAGNOSA BANDING

1. Pria
 Crohn’s disease, klitis ulserativa, epididimitis
2. Wanita
 Kista ovarium, ISK, torsi kista ovarium kanan, KET

Penatalaksanaan

Tindakan yang paling tepat dan terbaik bila diagnosis klinis sudah jelas adalah
appendektomi, yag bisa dilakukan secara terbuka (Open appendectomy) maupun
dengan laparoscopic (Laparoscopic appendectomy). Indikasi untuk appendektomi
adalah appendisitis akuta, apendisitis infiltrat dalam stadium tenang, appendisitis
kronis dan appendisitis perforata.

KOMPLIKASI

1. Appendicular infiltrat
2. Appendicular abscess
3. Perforasi
4. Peritonitis
5. Syok septik
6. Mesenterial pyemia dengan Abscess Hepar
7. Gangguan peristaltik
8. Ileus

PROGNOSIS
Dengan diagnosis dan pembedahan yang cepat, tingkat mortalitas dan morbiditas
penyakit ini sangat kecil. Angka kematian lebih tinggi pada anak dan orang tua.
Apabila appendiks tidak diangkat, dapat terjadi serangan berulang.
DAFTAR PUSTAKA

 Brunicardi,F.Charles, et al. 2007. Schwartz’s Principles of Surgery. “The


Appendix”. Pennsylvania : Mc. Graw-Hills. Chapter 29
 Khan, Ihramullah, Ata ur Rehman. 2005. J Ayub MedColl AbboHabad 17 th
Ed. “Application of Alvarado Scoring System in Diagnosis of
Acute Appendicitis”
 Rothrock, Steven G. 2000. ANNALS OF EMERGENCY MEDICINE 36 :
1, “Acute Appendicitis in Children : Emergency Department
Diagnosis and Management”
 http://www.medicinenet.com/appendicitis/article.htm
 http://emedicine.medscape.com/article/773895-overview