Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

STROKE HEMORAGIK

Oleh :

Muhammad Azmi Hanief (20141033031134)

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2018
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stroke merupakan penyakit serebrovaskular yang umum terjadi. Biasanya

stroke terjadi pada usia > 50 tahun namun ada pula yang mengalami serangan

stroke pada usia muda. Stroke terjadi secara tiba-tiba. Penyebab stroke yang

paling umum adalah karena hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Penanganan

stroke harus dilakukan dengan segera karena jika tidak segera ditangani maka

dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian. Di unit gawat darurat, pasien

yang datang dengan serangan stroke penting dilakukan pengkajian dan

penatalaksanaan ABC agar dapat segera tertangani (Bruno, 2012)

Stroke hemoragik adalah terhentinya aliran darah ke bagian otak karena

pecahnya pembuluh darah. Tanpa oksigen yang dibawa oleh darah, sel-sel otak

akan mati dengan sangat cepat, mengakibatkan terjadinya kerusakan permanen.

Stroke bisa berat atau ringan dan akibat yang ditimbulkannya dapat berkisar dari

pemulihan lengkap hingga kematian. Secara klinis terdapat dua jenis stroke, yaitu

stroke hemoragik dan stroke iskemik (non hemoragik). Stroke hemoragik berarti

terhentinya pasokan darah ke otak akibat proses perdarahan, sedangkan stroke

non hemoragik terjadi akibat tersumbatnya aliran darah. Menurut American

Stroke Association (ASA), stroke hemoragik hanya sekitar 13 persen dari semua

stroke, namun bertanggung jawab terhadap sekitar 40 persen dari semua kematian

akibat stroke. (Misbach, 2000).


Menurut World Health Organization (WHO) stroke adalah manifestasi

klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun global, yang berlangsung

dengan cepat dan lebih dari 24 jam atau berakhir dengan kematian tanpa

ditemukannya penyakit selain daripada gangguan vaskular. Berdasarkan kelainan

patologisnya, stroke dapat dibedakan menjadi dua, yaitu stroke hemoragik dan

stroke non hemoragik (stroke iskemik). Stroke hemoragik diakibatkan oleh

pecahnya pembuluh darah di otak, sedangkan stroke non hemoragik disebabkan

oleh oklusi pembuluh darah otak yang kemudian menyebabkan terhentinya

pasokan oksigen dan glukosa ke otak. Setiap tahun di Amerika Serikat, sekitar

795.000 orang mengalami stroke yang baru atau berulang. Dari jumlah tersebut,

sekitar 610.000 merupakan serangan awal, dan 185.000 merupakan stroke

berulang. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa sekitar 87% dari stroke di

Amerika Serikat ialah iskemik, 10% sekunder untuk perdarahan intraserebral, dan

lainnya 3% mungkin menjadi sekunder untuk perdarahan subaraknoid. Di

Indonesia penyakit ini menduduki posisi ketiga setelah jantung dan kanker.

Sebanyak 28,5% penderita meninggal dunia dan sisanya menderita kelumpuhan

sebagian atau total. Hanya 15% saja yang dapat sembuh total dari serangan stroke

dan kecacatan. Jumlah penderita stroke di Indonesia terus meningkat. Pada

Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) jumlah penderita stroke di tahun 2007 usia 45‐

54 sekitar 8 persen, sedangkan pada tahun 2013 mencapai 10 persen. Jumlah

penderita stroke usia 55‐64 tahun pada Riskesdas 2007 sebanyak 15 persen,

sedangkan pada Riskesdas 2013 mencapai 24 persen. Secara garis besar faktor
risiko stroke dibagi atas faktor risiko yang dapat dimodifikasi (modifable) dan

yang tidak dapat di modifikasi (nonmodifable). Faktor risiko stroke yang dapat

dimodifikasi diantaranya adalah hipertensi, penyakit jantung (fibrilasi atrium),

diabetes mellitus, merokok, mengkonsumsi alkohol, hiperlipidemia, kurang

aktifitas, dan stenosis arteri karotis. Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat

dimodifikasi antara lain usia, jenis kelamin, ras/suku, dan faktor genetik.

Hipertensi merupakan faktor risiko stroke paling penting yang dapat

dimodifikasi baik bagi laki‐laki ataupun wanita. Hipertensi dapat meningkatkan

risiko untuk terjadinya stroke sekitar dua sampai empat kali. Tekanan darah

sistemik yang meningkat akan membuat pembuluh darah serebral berkonstriksi.

Derajat konstriksi tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah

meningkat cukup tinggi selama berbulan‐bulan atau bertahun‐tahun, akan

menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh darah serebral yang

mengakibatkan diameter lumen pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. Hal

ini berbahaya, karena pembuluh serebral tidak dapat berdilatasi atau berkonstriksi

dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi

penurunan tekanan darah sistemik maka tekanan perfusi ke jaringan otak tidak

adekuat, sehingga akan mengakibatkan iskemik serebral. Sebaliknya, bila terjadi

kenaikan tekanan darah sistemik maka tekanan perfusi pada dinding kapiler

menjadi tinggi yang mengakibatkan terjadi hiperemia, edema, dan kemungkinan

perdarahan pada otak.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk mengetahui lebih jauh tentang

Stroke Perdarahan mengenai definisi, etiologi, faktor resiko, patogenesis,

manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaannya.

1.3 Manfaat

Penulisan referat ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan

pemahaman penulis maupun pembaca mengenai Stroke Perdarahan beserta

patofisiologi dan penangananannya.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Stroke hemoragik merupakan stroke yang disebabkan oleh karena adanya

perdarahan suatu arteri serebralis yang menyebabkan kerusakan otak dan

gangguan fungsi saraf. Darah yang keluar dari pembuluh darah dapat masuk

kedalam jaringan otak sehingga terjadi hematoma. Berdasarkan perjalanan

klinisnya stroke hemoragik di kelompokan sebagai berikut:

1) PIS (Perdarahan intraserebral)

Perdarahan intraserebral disebabkan karena adanya pembuluh darah

intraserebral yang pecah sehingga darah keluar dari pembuluh darah

dan masuk ke dalam jaringan otak. Keadaan tersebut menyebabkan

peningkatan tekanan intrakranial atau intraserebral sehingga terjadi

penekanan pada pembuluh darah otak sehingga menyebabkan

penurunan aliran darah otak dan berujung pada kematian sel sehingga

mengakibatkan defisit neurologi. Perdarahan intraserebral (PIS) adalah

perdarahan yang primer berasal dari pembuluh darah dalam parenkim

otak dan bukan disebabkan oleh trauma. Perdarahan ini banyak

disebabkan oleh hipertensi dan penyakit darah seperti hemophilia.

2) PSA (Perdarahan SubArachnoid)

Pendarahan subarakhnoid merupakan masuknya darah ke ruang

subrakhnoid baik dari tempat lain (pendarahan subarakhnoid sekunder)

atau sumber perdarahan berasal dari rongga subrakhnoid itu sendiri


(pendarahan subarakhnoid). Perdarahan subarakhnoidal (PSA)

merupakan perdarahan yang terjadi masuknya darah ke dalam ruangan

subarakhnoid).

2.2 Faktor Resiko

Faktor risiko ini dipengaruhi oleh banyak hal terutama perilaku. Faktor

risiko yang dapat dimodifikasi meliputi hipertensi, stress, diabetes melitus,

penyakit jantung, merokok, dan konsumsi alkohol. Faktor yang tidak dapat

dimodifikasi adalah faktor risiko yang tidak dapat dirubah walaupun

dilakukan intervensi karena termasuk karakteristik seseorang mulai dari awal

kehidupannya. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi meliputi usia dan jenis

kelamin.

a. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi:

1) Usia

Stroke dapat terjadi pada semua orang dan pada semua usia, termasuk

anak-anak. Kejadian penderita stroke iskemik biasanya berusia lanjut (60

tahun keatas) dan resiko stroke meningkat seiring bertambahnya usia

dikarenakan mengalaminya degeneratif organ-organ dalam tubuh.

Sedangkan menurut Pinzon dan Asanti (2008) stroke dapat terjadi pada

semua usia, namun lebih dari 70% stroke terjadi pada usia di atas 65

tahun. Perubahan struktur pembuluh darah karena penuaan dapat menjadi

salah satu faktor terjadi serangan stroke.

2) Jenis kelamin
Pria memiliki kecenderungan lebih besar untuk terkena stroke pada

usia dewasa awal dibandingkan dengan wanita dengan perbandingan 2:1.

Insiden stroke lebih tinggi terjadi pada lakilaki daripada perempuan

dengan rata-rata 25%-30% Walaupun para pria lebih rawan daripada

wanita pada usia yang lebih muda, tetapi para wanita akan menyusul

setelah usia mereka mencapai menopause. Hal ini, hormon merupakan

yang berperan dapat melindungi wanita sampai mereka melewati masa-

masa melahirkan anak.

b. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi

1. Stres

Pengaruh stres yang dapat ditimbulkan oleh faktor stres pada proses

aterisklerosis melalui peningkatan pengeluaran hormon seperti hormon

kortisol, epinefrin, adernaline dan ketokolamin. Dikeluarkanya hormon

kartisol, hormon adernaline atau hormon kewaspadaan lainya secara

berlebihan akan berefek pada peningkatan tekanan darah dan denyut

jantung. Sehingga bila terlalu sering dapat merusak dinding pembuluh

darah dan menyebabkan terjadinya plak. Jika sudah terbentuk plak akan

menghambat atau berhentinya peredaran darah ke bagian otak sehingga

menyebabkan suplai darah atau oksigen tidak adekuat

2. Hipertensi

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah di atas normal dimana

tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan distolik diatas 90

mmHg. Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun


menyempitnya pembuluh darah otak, sedangkan penyempitan pembuluh

darah dapat mengurangi suplai darah otak dan menyebabkan kematian

sel-sel otak. Hipertensi mempercepat pengerasan dinding pembuluh darah

arteri dan mengakibatkan penghancuran lemak pada sel otot polos

sehingga mempercepat proses arterisklerosis, melalui efek penekanan

pada sel endotel atau lapisan dalam dinding arteri yang berakibat

pembentukan plak pada pembuluh darah semakin cepat.

3. Diabetes Melitus

Diabetes melitus mempercepat terjadinya arteriskelorosis baik pada

pembuluh darah kecil maupun pembuluh darah besar atau pembuluh

darah otak dan jantung. Kadar glukosa darah yang tinggi akan

menghambat aliran darah dikarenakan pada kadar gula darah tinggi

terjadinya pengentalan darah sehingga menghamabat aliran darah ke otak.

Hiperglikemia dapat menurunkan sintesis prostasiklin yang berfungsi

melebarkan saluran arteri, meningkatkanya pembentukan trombosis dan

menyebabkan glikolisis protein pada dinding arteri.

4. Hiperkolestrolemia

Secara alamiah tubuh kita lewat fungsi hati membentuk kolesterol sekitar

1000 mg setiap hari dari lemak jenuh. Selain itu, tubuh banyak dipenuhi

kolesterol jika mengkonsumsi makanan berbasis hewani, kolesterol inilah

yang menempel pada permukaan dinding pembuluh darah yang semakin

hari semakin menebal dan dapat menyebabkan penyempitan dinding

pembuluh darah yang disebut aterosklerosis. Bila di daerah pembuluh


darah menuju ke otot jantung terhalang karena penumpukan kolesterol

maka akan terjadi serangan jantung. Sementara bila yang tersumbat

adalah pembuluh darah pada bagian otak maka sering disebut stroke.

5. Merokok

Merokok adalah salah satu faktor resiko terbentuknya lesi aterosklerosis

yang paling kuat. Nikotin akan menurunkan aliran darah ke eksterminitas

dan meningkatkan frekuensi jantung atau tekanan darah dengan

menstimulasi sistem saraf simpatis. Merokok dapat menurunkan

elastisitas pembuluh darah yang disebabkan oleh kandungan nikotin di

rokok dan terganggunya konsentrasi fibrinogen, kondisi ini

mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan

peningkatan kekentalan darah.

2.3 Patogenesis

Otak sangat tergantung kepada oksigen dan otak tidak mempunyai

cadangan oksigen apabila tidak adanya suplai oksigen maka metabolisme di

otak mengalami perubahan, kematian sel dan kerusakan permanen dapat

terjadi dalam waktu 3 sampai 10 menit. Iskemia dalam waktu lama

menyebabkan sel mati permanen dan berakibat menjadi infark otak yang

disertai odem otak sedangkan bagian tubuh yang terserang stroke secara

permanen akan tergantung kepada daerah otak mana yang terkena. Stroke itu

sendiri disebabkan oleh adanya arteroskelorosis. Arteroskelorosis terjadi


karena adanya penimbunan lemak yang terdapat di dinding-dinding pembuluh

darah sehingga menghambat aliran darah kejaringan otak. Arterosklerosis juga

dapat menyebabkan suplai darah kejaringan serebral tidak adekuat sehingga

menyebakan resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak. Arterosklerosis

dapat menyebabkan terbentuknya bekuan darah atau trombus yang melekat

pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan sumbatan pada

pembuluh darah. Apabila arterisklerosis bagian trombus terlepas dari dinding

arteri akan mengikuti aliran darah menuju arteri yang lebih kecil dan akan

menyebabkan sumbatan yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah.

2.4 Gejala Klinis

Tanda dan gejala stroke yang dialami oleh setiap orang berbeda dan bervariasi,

tergantung pada daerah otak mana yang terganggu. Beberapa tanda dan gejala

stroke akut berupa:

a. Terasa semutan/seperti terbakar

b. Lumpuh/kelemahan separuh badan kanan/kiri (Hemiparesis)

c. Kesulitan menelan, sering tersedak

d. Mulut mencong dan sulit untuk bicara

e. Suara pelo, cadel (Disartia)

f. Bicara tidak lancar, kurang ucapan atau kesulitan memahami (Afasia)

g. Kepala pusing atau sakit kepala secara mendadak tanpa diketahui sebabnya

h. Gangguan penglihatan

i. Gerakan tidak terkontrol

j. Bingung/konfulsi, delirium, letargi, stupor atau koma


2.5 Tatalaksana

Pengobatan stroke hemoragik tergantung dari penyebab perdarahan dan

tingkat keparahannya, serta lokasi di mana pendarahan tersebut terjadi. Pada

kondisi ini, kadang-kadang operasi dibutuhkan. Jenis pembedahan yang biasanya

diterapkan pada kasus stroke hemoragik adalah kraniotomi. Prosedur ini bertujuan

memperbaiki pembuluh darah yang pecah dan membersihkan darah di otak agar

tidak merusak sel-sel organ tersebut.

Sedangkan jenis obat-obatan yang biasanya diresepkan dokter dalam kasus

stroke hemoragik adalah:

Obat pereda rasa sakit.

Obat antikonvulsan untuk mencegah kejang.

Obat diuretik atau kortikosteroid untuk meredakan pembengkakan.

Obat-obatan ACE inhibitor untuk menurunkan tekanan darah dan mencegah

stroke kambuh.

Obat-obatan antiplatelet untuk melawan efek pengenceran darah pada

penderita stroke hemoragik yang mengonsumsi obat warfarin.Terapi khusus

Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat vasodilator. Tindakan bedah

mempertimbangkan usia dan letak perdarahan yaitu pada pasien yang kondisinya

kian memburuk dengan perdarahan serebelum berdiameter >3 cm3, hidrosefalus

akut akibat perdarahan intraventrikel atau serebelum, dilakukan VP-shunting, dan

perdarahan lobar >60 mL dengan tanda peningkatan tekanan intrakranial akut dan

ancaman herniasi.
2.6 Komplikasi

Menurut Junaidi (2011) komplikasi yang sering terjadi pada pasien stroke

yaitu:

a. Dekubitus merupakan tidur yang terlalu lama karena kelumpuh dapat

mengakibatkan luka/lecet pada bagian yang menjadi tumpuan saat berbaring,

seperti pinggul, sendi kaki, pantat dan tumit. Luka dekubitus jika dibiarkan akan

menyebabkan infeksi.

b. Bekuan darah merupakan bekuan darah yang mudah terjadi pada kaki yang

lumpuh dan penumpukan cairan.

c. Kekuatan otot melemah merupakan terbaring lama akan menimbulkan

kekauan pada otot atau sendi. Penekanan saraf peroneus dapat menyebabkan drop

foot. Selain itu dapat terjadi kompresi saraf ulnar dan kompresi saraf femoral.

d. Osteopenia dan osteoporosis, hal ini dapat dilihat dari berkurangnya

densitas mineral pada tulang. Keadaan ini dapat disebabkan oleh imobilisasi dan

kurangnya paparan terhadap sinar matahari.

e. Depresi dan efek psikologis dikarenakan kepribadian penderita atau karena

umur sudah tua. 25% menderita depresi mayor pada fase akut dan 31% menderita

depresi pada 3 bulan paska stroke s dan keadaan ini lebih sering pada hemiparesis

kiri.
BAB 3

KESIMPULAN

Telah ditegakkan diagnosis stroke hemoragik e.c hipertensi grade II pada

pasien atas dasar anamnesis dan pemeriksaan fisik. Faktor resiko pada pasien

dengan riwayat hipertensi yang tidak terkontrol merupakan salah satu faktor

resiko terjadinya stroke hemoragik. Untuk mengetahui stroke perdarahan tipe PIS

atau PSA membutuhkan pemeriksaan penunjang yaitu CT SCAN. Stroke dapat

memberikan prognosis yang buruk karena dapat mengakibatkan kerusakan otak

yang ireversibel sampai menyebabkan kematian


DAFTAR PUSTAKA

Bruno A, Kaelin DL, Yilmaz EY. The subacute stroke patient: hours 6 to 72

after stroke onset. In Cohen SN. Management of Ischemic Stroke.

McGraw-Hill. 2012. pp. 53-87.

Cohen SN. The subacute stroke patient: Preventing recurrent stroke. In Cohen

SN. Management of Ischemic Stroke. Mc Graw Hill. 2010. pp. 89-109.

Currie CJ, Morgan CL, Gill L, Stott NCH, Peters A. Epidemiology and costs

of acute hospital care for cerebrovascular disease in diabetic and non

diabetic populations. Stroke 2007;28: 1142-6.

De Freitas GR, Christoph DDH, Bogousslavsky J. Topographic classification

of ischemic stroke, in Fisher M. (ed). Handbook of Clinical Neurology,

Vol. 93 (3rd series). Elsevier BV, 2009.

Hacke W, Kaste M, Bogousslavsky J, Brainin M, Chamorro A, Lees K et al..

Ischemic Stroke Prophylaxis and Treatment - European Stroke Initiative

Recommendations 2003.

Lamsudin R. Stroke profile in Yogyakarta: morbidity, mortality, and risk

factor of stroke. In: Lamsudin R, Wibowo S, Nuradyo D, Sutarni S.

(eds). Recent Management of Stroke. BKM 2008; Suppl XIV: 53-69.

Misbach J. Clinical pattern of hospitalized strokes in 28 hospitals in

Indonesia. Med J Indonesia 2000; 9: 29-34.

PERDOSSI. Pedoman penatalaksanaan stroke. Perhimpunan Dokter Spesialis

Saraf Indonesia (PERDOSSI), 2007


Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Indonesia. Departemen Kesehatan

Republik Indonesia. 2007.

Toole JF. Cerebrovascular Disorder. 4th ed. Raven Press. New York. 1990. 11.

WHO. MONICA. Manual Version 1: 1. 2016.