Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dunia usaha di Indonesia, dewasa ini telah memperlihatkan kemajuan.


Terbukti dengan semakin menjamurnya berbagai bentuk badan usaha yang bergerak dalam
bidang barang maupun jasa, baik itu skala kecil maupun besar. Untuk mengkampanyekan,
menyosialisasikan, atau mempromosikan suatu “produk” (program, barang, jasa, atau
lembaga) kepada khalayak perlu adanya program perencanaan komunikasi yang
mengharapkan tercapainya tujuan, lalu dalam sebuah perencanaan komunikasi terdapat
perencanaan media, Menurut Terence A. Shimp (2003: 5) bahwa perencanan media meliputi
proses penyusunan rencana penjadwalan yang menunjukkan bagaimana waktu dan ruang
periklanan akan mencapai tujuan pemasaran.

Perencanaan media sangat diperlukan, agar pesan sampai ke khalayak sasarannya.


Pentingnya sebuah perencanaan media karena dengan perencanaan, akan memudahkan untuk
memastikan bahwa sebuah pesan dari suatu iklan itu didengar sebanyak mungkin oleh khalayak
sasarannya, dalam lingkungan yang tepat dan pada waktu yang tepat. Perencanaan media terbagi
atas empat tahap, yaitu: menetapkan audiens sasaran, media objective, media strategy, serta
media schedule. Pada tahap menetapkan audiens sasaran merupakan pengenalan mengenai target
audience dan product knowledge. Tahap media objective adalah menjelaskan mengenai tujuan
yang ingin dicapai dari suatu perencanaan media, media objective merupakan pernyataan
bagaimana suatu perencanaan media akan memberikan kontribusinya yang berkaitan dengan
target pemasaran atau periklanan.
Media yang dibutuhkan untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain adalah
komunikasi. Sebuah institusi, perusahaan ataupun organisasi membutuhkan komunikasi yang
baik untuk menyampaikan informasi bahkan pesan yang diinginkan, yang kemudian komunikasi
ini adalah sebagai alat atau media untuk berpromosi adapun komunikasi yang lebih spesifik
dalam memasarkan suatu produk adalah komunikasi pemasaran, menurut Terence A. Shimp
(2003: 4) komunikasi pemasaran merupakan aspek penting dalam keseluruhan misi pemasaran
serta penentu suksesnya pemasaran.

Komunikasi pemasaran bertugas untuk membangun kesadaran, penetrasi pesan dan


melakukan rangsangan untuk melakukan tindakan. Untuk dapat berkomunikasi dengan
konsumen maka perusahaan harus membangun kepedulian konsumen, setelah mengetahui
perilaku konsumen maka selanjutnya menentukan media iklan yang tepat, efisien, dan efektif.
Iklan itu sendiri merupakan media yang dipakai perusahaan dengan tujuan mengingatkan,
membujuk dan memberi informasi (Kotler, 1993). Selain itu iklan sebagai sarana
memperkenalkan produk baru terutama kepada konsumen yang sesuai dengan sasaran. Dengan
kata lain seperti awal mula pemasaran produk baru tersebut.

Penyampaian iklan bergantung kepada media apa yang dipilih, seperti hal nya media televisi.
Media televisi merupakan wujud dari investasi manusia yang memikirkan cara lain dalam
berkomunikasi dan menjadikannya sebagai media yang paling menarik. Perkembangan ini
terbentuk sedemikian rupa sebagai pusat perhatian publik, karena media ini memiliki keterkaitan
yang kuat dengan audiens. Televisi merupakan ruang kreatifitas, informasi, investasi dan kini
televisi berkembang sebagai industri yang sangat potensial untuk berbagai kepentingan.
Sehingga media ini mampu bersaing dengan media lainnya, karena televisi merupakan produk
media massa yang terus bertransformasi dan menjadi bagian dari eksistensi perkembangan
zaman.

Oleh karenanya, media komunikasi ini oleh para pengusaha dimanfaatkan sebagai sarana
promosi yang dikemas dalam bentuk iklan televisi. Agar menarik perhatian, iklan televisi
diusahakan untuk dibuat semirip mungkin dengan kejadian – kejadian kehidupan nyata, dimana
masyarakat yang menjadi sasarannya. Sebuah paket iklan televisi sering mengadirkan fenomena
kemasyarakatan yang tengah berlangsung dan menjadi tren di kalangan masyarakat.
Selain media televisi, media yang cukup berpotensi dan sudah banyak dimanfaatkan oleh
perusahaan adalah kegiatan promosi melalui media baru (new media). Yosal Iriantara
berpendapat senada bahwa media baru juga berkembang bukan hanya menjadi sarana untuk
menyebarluaskan informasi, tetapi juga menjadi salah satu media periklanan. Perkembangan
teknologi internet yang sudah bergeser menjadi “kebutuhan primer” bagi banyak orang sangat
mempengaruhi laju perkembangan bisnis melalui media sosial atau jejaring sosial sebagai salah
satu media yang paling popular.

Diantara berbagai macam aplikasi media sosial atau jejaring sosial yang tengah ramai dan
menjadi trend diantara para pengguna smartphone sekarang ini adalah aplikasi Instagram,
aplikasi ini membuktikan bahwa Instagram telah melampaui media sosial seperti Facebook atau
Twitter yang juga merupakan platform media sosial yang dulu booming. Adapun yang akan
kami bahas dalam makalah ini mengenai perencanaan program komunikasi media televisi dan
media baru (new media) dalam memasarkan produk “Vegetable Nugget” .
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Komunikasi

Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, para
peminat komunikasi seringkali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell
dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell
menerangkan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialahmenjawab pertanyaan
sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Paradigma
Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari
pertanyaan yang diajukan itu, yakni komunikator, pesan, media,komunikan, efek. Jadi,
berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 2006:
10).

2.2 Pengertian Perencanaan Komunikasi


Perencanaan komunikasi adalah proses pengalokasian sumber daya komunikasi untuk
mencapai tujuan organisasi. Sumber daya tersebut tidak saja mencakup media massa dan
komunikasi antar pribadi, tapi juga setiap aktivitas yang dirancang untuk mengubah perilaku dan
menciptakan keterampilan-keterampilan tertentu di antara individu dan kelompok dalam lingkup
tugas-tugas yang dibebankan oleh organisasi (Middleton, 1978 dalam Cangara, 2014: 47).
Sejalan dengan pendapat Middleton di atas, Hancock (1978: 11) mengemukakan bahwa
perencanaan komunikasi berpusat pada pemanfaatan komunikasi sebagai suatu upaya mobilisasi
yang terintegrasi di dalam suatu komunitas. Perencanaan komunikasi dimaksudkan untuk
mengatasi rintangan-rintangan yang ada guna mencapai efektivitas komunikasi, sedangkan dari
sisi fungsi dan kegunaan komunikasi, perencanaan diperlukan untuk mengimplementasikan
program-program yang ingin dicapai, apakah itu untuk pencitraan, pemasaran, penyebarluasan
gagasan, kerjasama, atau pembangunan infrastruktur komunikasi (Cangara, 2014: 43).
Middleton (dalam Cangara, 2014: 83-84) menjelaskan bahwa terdapat beberapa langkah atau
tahapan dalam perencanaan komunikasi. Model yang dibuat oleh Middleton diawali dengan riset
untuk memperoleh data dan upaya untuk mengetahui kebutuhan khalayak (need assessment).
Adapun langkah-langkah perencanaan komunikasi menurut Middleton adalah:
• Pengumpulan data baseline dan need assessment
• Perumusan tujuan
• Analisis dan segmentasi khalayak
• Analisis perencanaan dan pengembangan strategi
• Pemilihan media
• Desain dan pengembangan pesan
• Perencanaan manajemen
• Impelementasi atau pelaksanaan program komunikasi
• Evaluasi program

2.3 Pengertian Program Perencanaan Komunikasi/ Kampanye Komunikasi dan Model


Komunikasi Kampanye
2.3.1 Pengertian Program Perencanaan Komunikasi/ Kampanye Komunikasi
Perencanaan Program Komunikasi (PPK) adalah upaya membuat rancangan pelaksanaan
suatu program komunikasi untuk mengkampanyekan, menyosialisasikan, atau mempromosikan
suatu “produk” (program, barang, jasa, atau lembaga) kepada khalayak sasarannya dengan
harapan tercapainya tujuan PPK yang telah ditetapkan. Nama lain dari program komunikasi ini
adalah kampanye komunikasi. Sven Windahl, Benno H. Signitzer dan Jean T. Olson (1992: 19),
menyebutkan bahwa kampanye komunikasi adalah sebuah usaha terencana dari seorang
komunikator (sender) untuk memengaruhi khalayak (audience) melalui satu atau seperangkat
pesan dengan tujuan tertentu. Oleh karena adanya tujuan yang tertentu inilah, program
komunikasi atau kampanye komunikasi ini disebut pula dengan perencanaan komunikasi
instrumentalis. Berikut ini, Windahl, dkk menguraikan karakteristik perencanaan komunikasi
instrumentalia, antara lain:
• Pekerjaan yang bisa dilakukan dalam jangka pendek maupun jangka
panjang, tetapi dengan penekanan kepada perencanaan jangka panjang (long-term
planning).
• Usaha komunikasi yang direncanakan dari bawah (bottom-up) bukan komunikasi yang
dilakukan dari atas (top down), artinya, isi pesan komunikasi didasarkan atas hasil
penggalian terhadap aspirasi dan kebutuhan khalayak.
• Komunikasi dengan tujuan yang lebih umum dan luas sebagai lawan dari kampanye yang
memiliki tujuan khusus dan pasti (fixed). Syarat ini tampaknya lebih cocok untuk
kampanye sosial, seperti kampanye kesehatan, penyuluhan pertanian.
• Komunikasi yang dilihat dari kepentingan penerima, bukan dari kepentingan pengirim.
Ini terkait dengan karakteristik nomor 2 di atas. Sekalipun pemilik program/perencana
komunikasi memiliki kepentingan tertentu, tetapi hendaknya tidak mengabaikan
kepentingan khalayak.
Agar kampanye komunikasi dilakukan berjalan secara optimal, menurut Simmons dan Mujica
(1987) (dalam Simmons 1990: 4) diperlukan perencanaan kampanye yang efektif (effective
campaign planning). Di dalamnya tercakup langkah-langkah sebagai berikut:
• Melakukan campur tangan yang tepat pada waktunya, artinya dalam rangka pelaksanaan
PPK, kita mesti merancang pesan yang menarik; memilih media yang tepat; menetapkan
target sasaran yang jelas; dan mengeksekusi pesan pada waktu yang tepat;
• Membuat segmentasi khalayak, yang bukan saja penting bagi pengiriman pesan, tetapi
juga baik untuk efektivitas biaya kampanye yang terbatas sumber dayanya
• Memakai riset untuk menelusuri pelaksanaan kampanye dan akhirnya untuk
mendapatkan balikan (feedback) bagi perbaikan siklus perencanaan selanjutnya
• Memilah usaha secara proporsional dalam mencapai target khalayak sesuai potensi
dampak yang ditimbulkannya.
2.3.2 Model Komunikasi Kampanye

Gambar 1.1

Sumber: McQuail & Windahl, (1993:184).


Dapat kita baca dalam model modul komunikasi kampanye tersebut bahwa di titik berangkat
(point of departure) pelaku kampanye mesti memperhatikan 4 (empat) unsur diantaranya,
• Pertama, tujuan yang ingin dicapai (intended effect). Untuk itu, pelaksana kampanye
mesti menetapkan tujuan dari kegiatan PPK yang ingin dicapai.
• Kedua, objek yang akan dikomunikasikan (communication object) kepada khalayak
sasaran. Hal ini berarti petugas kampanye berarti pelaku kampanye harus menguasai
“produk” atau materi kampanye dengan baik. Jika tidak menguasai “produk”nya maka
mustahil petugas dapat mengomunikasikan produk tersebut kepada khalayak sasarannya.
• Ketiga, kegiatan komunikasi yang menyaingi (competing communication) atas kampanye
yang akan dilakukan. Hal ini berarti pelaku kampanye perlu melakukan analisis terhadap
faktor-faktor komunikasi yang mendukung atau menghambat bagi pelaksanaan
kampanye. Analisis ini dilakukan untuk menjamin efektivitas kampanye; apakah kegiatan
komunikasi yang telah ada sejalan kegiatan kampanye ataukah sebaliknya bertentangan
dengan kampanye yang akan dilaksanakan
• Keempat, khalayak sasaran (target population) kampanye. Karena itu, petugas kampanye
mesti melakukan analisis khalayak siapa yang akan menjadi sasaran kampanye. Petugas
kampanye bisa membedakan mereka berdasarkan aspek-aspek geografis, demografis,
maupun psikografisnya.
Untuk memastikan adanya tujuan yang tercapai (obtained effect) perlu dilakukan upaya-upaya
memanipulasi sejumlah faktor (manipulative factors). Maksud dari manipulasi di sini bukanlah
menipu khalayak sasaran secara curang, melainkan mengatur strategi dan taktik secara cermat
faktor-faktor yang memengaruhi tercapainya tujuan PPK. Ada 3 faktor yang mesti dimanipulasi
di sini, diantaranya:
• Pertama, pesan yang hendak disampaikan kepada khalayak sasaran. Untuk ini, pelaksana
kampanye mesti merumuskan pesan yang mudah dipahami oleh khalayak sasaran.
• Kedua, media yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan. Di sini, pelaksana
kampanye hendaknya menggunakan media atau saluran yang sudah menjangkau (reach)
dan mencakup (coverage) khalayak sasaran.
• Ketiga, komunikator yang akan menyampaikan pesan kepada khalayak sasaran. Untuk
memastikan pesan itu sampai kepada khalayak sasaran diperlukan komunikator yang
komunikatif. Acap kali peran komunikator ini diperankan oleh para endorser, yang
lazimnya diambil dari orang-orang yang sudah dikenal kredibilitas dan popularitasnya
(prominent peoples).

2.4 Pengertian dan Tahap Perencanaan Media


2.4.1 Pengertian Perencanaan Media (Media Planning)
Ada beberapa pengertian tentang perencanaan media, salah satunya menurut Menurut Terence A.
Shimp (2003: 5) bahwa perencanan media meliputi proses penyusunan rencana penjadwalan
yang menunjukkan bagaimana waktu dan ruang periklanan akan mencapai tujuan pemasaran.
George dan Michael Belch (2001) sebagaimana dikutip Morissan (2007; 137) perencanaan media
(media planning) adalah the series of decision involved in delivering promotional message to the
prospective purchaser and/or users of the product or brand (serangkaian keputusan yang
tercakup dalam penyampaian pesan promosi kepada calon pembeli yang prospek dan atau
pemakai produk atau merek). Dengan demikian menurut definisi perencanaan media adalah
suatu proses untuk mengambil sejumlah keputusan. Perencanaan media menjadi panduan bagi
seleksi media.
Definisi lain adalah dari Tom Duncan (2005) sebagaimana dikutip oleh Morissan, (2007;
138) yang menyatakan bahwa: media planning is a process for determining the most cost
effective mix of media for achieving a set of media objectives. (Perencanaan media adalah suatu
proses untuk menentukan biaya paling efektif bauran media untuk mencapai proses untuk
mencapai sejumlah tujuan media), menurut definisi ini, perencanaan media merupakan upaya
untuk memaksimalkan dampak serta meminimalkan biaya.
2.4.2 Tahap dalam Perencanaan Media
Adapun tahap dalam perencanaan media diantaranya,
• Menentukan Audiens Sasaran
Empat faktor utama yang digunakan untuk mensegentasi audiens sasaran dalam
strategi media adalah (1) geografis, (2) denografis, (3) pemakaian produk (misalnya
pemakai produk berat, sedang dan ringan), dan (4) gaya hidup/psikografis (Terence A.
Shimp, 2004; 7). Rencana pemasaran suatu perusahaan memberikan informasi kepada
perencana media siapa target konsumen suatu produk. Tugas perencana media adalah
memilih kendaraan media dan menentukan pasar dengan konsumen yang memiliki sifat
atau karakteristik paling sesuia dengan konsumen (Morissan, 2007; 140). Suatu audiens
sasaran didefinisikan dalam batas spesifik yang mempunyai implikasi jelas untuk pesan
dan strategi media.
• Menentukan Tujuan Media (Media Objective)
Tujuan media adalah sasaran bagi program media dan harus dibatasi pada konsumen
yang dapat dicapai melalui strategi media. Tujuan media menjelaskan bagaimana
pemasar menyampaikan pesannya kepada konsumen sedemikian rupa sehingga pesan
menghasilkan efek terhadap pikiran, perasaan, dan tindakan konsumen (Morisan, 2007;
146).
Media objective merupakan pernyataan bagaimana suatu perencanaan media akan
memberikan kontribusinya yang berkaitan dengan target pemasaran dan tujuan
periklanan, dimana tujuan periklanan merupakan harapan-harapan dari klien yang ingin
diwujudkan (bagaimana caranya supaya tujuan periklanan terwujud dalam diri segmen,
melalui seleksi media). Misalnya, media objective adalah meningkatkan kesadaran merek
dengan menjangkau target audience 10.000.000 orang, melalui perencanaan media target
audience yang bisa dijangkau, menggunakan media yang sesuai untuk menjangkau
khalayak sasaran tersebut yang dilakukan pada saat seleksi media (atau memilih media
yang tepat bagi produk yang akan diiklanakan).
Tujuan periklanan dengan tujuan media bersinergi untuk mewujudkan harapan-
harapan perusahaan agar tercapai, sehingga pesan sampai ke target audience dan
menimbulkan kesadaran dalam diri khalayak sasarannya. Terdapat beberapa hal penting
atau langkah-langkah dalam menentukan tujuan media, diataranya jangkauan (reach)
dapat didefinisikan sebagai jumlah audiens yang menyaksikan, mendengar, atau
membaca suatu media dalam periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam suatu jumlah
atau angka absolute atau sebagai suatu bagian dari populasi (Morissan, 2007: 147).
Sedangkan frekuensi adalah nilai dari berapa kali suatu iklan diiklankan. Kemudian
perhitungan GRP (Gross Rating Point), jika nilai rating berfungsi sebagai indikator
jangkauan audiens tersebut dikalikan frekuensi atau banyaknya suatu iklan ditayangkan
pada suatu program akan mengahasilkan apa yang disebut dengan ‘nilai rating kotor’
atau gross rating point yang menunjukkan bobot yang diberikan kepada suatu kendaraan
media atau ‘bobot media,’ GRP merupakan pengukuran yang menggabungkan rating
program dengan jumlah rata-rata suatu rumah tangga yang terekspos pesan iklan pada
suatu periode waktu tertentu (frekuensi) yang ditulis dalam persamaan GRP adalah sama
dengan jangkauan dikalikan frekuensi, (Morissan, 2007: 160). Beberapa istilah ini sangat
penting terutama dalam menetapkan tujuan media, sebagai dasar pertimbangan dalam
memutuskan media yang tepat yang bisa menjangkau khalayak sasarannya.
• Menetapkan Strategi Media (Media Strategy)
Duncan sebagaimana dikutip Morisan (2007; 168), mengemukakan pengertian
strategi media sebagai ide atau gagasan mengenai bagaimana tujuan media akan dicapai
melalui seleksi berbagai kombinasi media. Strategi media membahas mengenai media
apa yang digunakan dan seberapa banyak. Dan karena banyak pilihan media yang
tersedia maka keputusan mengenai media akhir yang akan digunakan seringkali
dipengaruhi oleh anggaran. Instrumen yang digunakan untuk membantu dalam membuat
perbandingan berbagai media secara objektif adalah CPM (cost per thousand) dan CPP
(cost per point). Seleksi media disini maksudnya adalah tujuan media bisa dicapai dengan
mengkombinasi dalam arti melakukan bauran media atau media mix (menggunakan
beberapa media untuk menjangkau khalayak sasarannya, misalnya media televisi, radio,
atau majalah yang memang sesuai dengan segmennya). Dan untuk menjangkau khalayak
sasaran yang telah ditetapkan dalam tujuan media, maka untuk mencapainya yaitu lewat
strategi media (menggunakan media apa saja untuk menjangkau khalayak sasaran yang
akan dituju tersebut).
Media strategy merupakan cara untuk mencapai tujuan media (bagaimana pesan
sampai ke segmen), serta menjelaskan mengenai strategi dan taktik yang digunakan untuk
mencapai tujuan atau target media yang sudah ditetapkan.
Salah satu faktor penting dalam menentukan strategi media adalah tipe atau jenis
produk, apakah termasuk dalam produk keterlibatan tinggi atau produk keterlibatan
rendah (Morissan, 2007; 169). Sebelum melakukan seleksi terhadap media yang akan
digunakan, maka perencana media juga harus membedakan apakah produk tertentu
menurut persepsi konsumen dianggap sangat penting bagi dirirnya ataukah tidak. Dalam
hal ini, pemilihan produk tidak melalui tahap-tahap pencarian informasi dan pengambilan
keputusan berbelit atau rumit. Yang termasuk dalam kategori produk keterlibatan rendah
seperti sabun, deterjen, biasanya lebih ke produk-produk toiletries, maka harus
menggunakan media yang memang memiliki kemampuan paling jauh dalam menjangkau
khalayak sasaran seperti televisi atau radio.
Sementara itu produk keterlibatan tinggi (high-involvement) memerlukan beberapa
pertimbangan dalam memutuskan untuk membeli produk, misalnya seperti produk-
produk elektronik, property seperti rumah atau bahkan kendaraan seperti mobil atau
barang-barang mahal lainnya, maka dapat menggunakan media cetak seperti koran atau
majalah dimana tersedia ruang yang lebih banyak untuk memuat informasi lebih banyak,
karena khalayak sasaran untuk produk keterlibatan tinggi biasanya mereka yang
memerlukan informasi lebih banyak, salah satunya informasi yang bisa di dapat lewat
media atau bahkan mencari informasi melalui teman yang memang bisa mempengaruhi
keputusan mereka. Biasanya produk-produk keterlibatan tinggi akan menggunakan media
seperti majalah atau surat kabar, karena di media ini memungkinkan untuk memberikan
informasi yang tepat bagi khalayak sasarannya.
Kemudian dalam perencanaan media mesti tahu karakteristik masing-masing jenis
media untuk men-deliver reach, frekuensi dan dampak. Dengan mengetahui karakteristik
berbagai media, hal ini akan memudahkan proses seleksi media, dalam menentukan
media apa yang tepat untuk mewujudkan tujuan periklanan perusahaan, sesuai dengan
target audience yang dituju, sehingga pada akhirnya tujuan media mampu mewujudkan
keinginan dan harapan dari klien.
• Menetapkan Jadwal Media (Media Scheduling)
Untuk menetapkan penjadwalan media atau media scheduling perlu melihat kembali
tujuan media yang ingin dicapai, terhadap media yang terpilih tersebut semuanya perlu di
jadwal mengenai bulan, hari, tanggal, jam penayangan/pemasangannya, yang disesuakan
dengan tujuan media. Tujuan utama dari penjadwalan ini menurut Belch (2001)
sebagaimana dikutip Morissan (2007; 180) adalah mengatur waktu berbagai kegiatan
promosi yang bertepatan dengan potensi pembelian waktu tertinggi. Ini berarti perencana
media harus memilih kapan waktu yang tepat dalam beriklan namun lebih banyak lagi
dengan penjadwalan yang sangat jelas.
Penetapan jadwal media sangat diperlukan, apalagi memilih waktu yang memang
benar-benar tepat sesuai dengan khalayak sasaran yang akan dijangkau, misalnya jika
menggunakan media majalah, maka produk yang kita iklankan itu akan diiklanakan di
majalah apa, kapan, hal ini akan memudahkan agar pesan yang akan disampaikan ke
khalayak sasaran tepat. Terdapat tiga metode penjadwalan yang dapat digunakan
perencana media, yaitu continuity, flighting, dan pulsing.
• Penjadwalan iklan secara berkelanjutan atau continuity, jadwal yang kontinu
dalam suatu jadwal periklanan yang kontinyu, maka jumlah dolar iklan yang sama
atau relatif sama akan diinvestasikan sepanjang kampanye berlangsung (Shimp,
2003; 21), mengacu pada suatu pola penjadwalan iklan yang berkelanjutan (setiap
hari, setiap minggu, setiap bulan). Strategi penjadwalan ini dapat digunakan untuk
iklan produk makanan, sabun, shampoo, deterjen atau produk lainnya yang terus
menerus dikonsumsi masyarakat setiap hari.
• Metode kedua adalah flighting, diaman pemasang iklan mengeluarkan biaya yang
bervariasi selama kampanye dan tidak mengalokasikan biaya pada beberapa bulan
(Shimp, 2003: 21). Disini, menetapkan secara teratur berarti terdapat suatu
periode dengan iklan dan ada periode tanpa iklan sama sekali. Pada metode ini
hanya di periode tertentu saja beriklan, kadang beriklan kadang juga tidak.
Misalnya untuk produk minuman seperti sirup, ia kadang hanya beriklan gencar
contohnya pada saat bulan ramadhan.
• Metode ketiga yaitu pulsing dalam sebuah jadwal periklanan pulsing digunakan
beberapa iklan selama setiap periode kampanye, tetapi jumlahnya sangat
bervariasi dari periode ke periode (Shimp, 2003: 21). Metode ini merupakan
kombinasi dari dua metode pertama. Pada strategi ini, suatu iklan muncul di
media massa secara teratur namun pada periode tertentu frekuensi iklan
meningkat secara signifikan. Metode ini iklan kadang muncul dan kadang tidak,
biasanya produk season kebanyakan menggunakan metode ini, misalnya pada saat
musim hujan, maka obat batuk akan sering beriklan, atau pada musim kemarau
obat nyamuk akan banyak beriklan (karena jumlah nyamuk pada musin ini
biasanya banyak.
Pemilihan metode mana yang akan digunakan dari strategi penjadwalan ini bergantung
pada beberapa faktor antara lain tujuan iklan, siklus pembelian serta anggaran tersedia.

2.5 Fungsi Iklan dalam Pemasaran


Iklan yang berarti pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat
melalui suatu media (Kasali.1995:9). Iklan merupakan sarana komunikasi terhadap produk yang
disampaikan melalui berbagai media dengan biaya pemrakarsa agar masyarakat tertarik untuk
menyetujui dan mengikuti (Pujiyanto.2001:3-4). Iklan merupakan media informasi yang dibuat
sedemikian rupa agar dapat menarik minat khalayak, orisinal, serta memiliki karakteristik
tertentu dan persuasif sehingga para konsumen atau khalayak secara suka rela terdorong untuk
melakukan sesuatu tindakan
sesuai dengan yang diinginkan pengiklan (Jefkins, 1997:18).
Ralph S. Alexander dalam Jefkins (1997:110) merumuskan dengan Association Marketing
Association (AMA), bahwa iklan menegaskan empat pokok batasan,
Yaitu:
• Penyajian gagasan terhadap barang, yaitu suatu bentuk iklan yang ditampilkan
berdasarkan konsep produknya
• Iklan ditujukan kepada kalayak, yaitu iklan dapat menjangkau masyarakat kelompok
besar yang dipersempit menjadi kelompok pasar
• Iklan mempunyai sponsor yang jelas, yaitu terciptanya iklan atas pemrakarsa
perusahaanyang membiayainya
• Iklan dikenai biaya penyajian, yaitu dalam penyebaran, penerbitan dan penayangan atas
biaya perusahaan.
Fungsi iklan dalam pemasaran adalah memperkuat dorongan kebutuhan dan keinginan
konsumen terhadap suatu produk untuk mencapai pemenuhan kepuasannya. Agar iklan berhasil
merangsang tindakan pembeli. Menurut Djayakusumah (1982:60) setidaknya harus memenuhi
kriteria AIDCDA yaitu, Attention (mengandung daya tarik); Desire (memunculkan keinginan
untuk mencoba atau memiliki); Conviction (menimbulkan keyakinan terhadap produk); Decision
(menghasilkan kepuasan terhadap produk); Action (mengarah tindakan untuk membeli).
Berdasarkan konsep AIDCDA, promosi periklanan harus diperlukan pengetahuan yang
cukup tentang pola perilaku, kebutuhan, dan segmen pasar. Konsep tersebut diharapkan
konsumen dapat melakukan pembelian berkesinambungan. Segala daya upaya iklan dengan gaya
bahasa persuasinya berusaha membuat konsumen untuk mengkonsumsi, yang tidak
memperdulikan status sosialnya. Cak Nun berpendapat, “Iklan adalah anak jadah kebudayaan”,
yaitu bagaimana cara mengolah kelemahan produk menjadi itulah fungsinya sebagai ujung
tombak pemasaran (Blank Magazine.2002: 20).
Adapun Tujuan iklan menurut Rhenald Kasali (1995:159) biasanya dibangun atas empat
komponen, yaitu:
• Aspek perilaku, merupakan tindakan-tindakan yang diharapkan pada calon pembeli
• Sikap yang diharapkan, yang menyangkut sikap atau keistimewaan produk
• Kesadaran, dalam mengembangkan produk-produk baru di pasaran merebut calon pembeli
• Positioning, sasaran konsumen.

2.6 Media Televisi dan Media Baru


2.6.1 Media Televisi
Televisi berasal dari dua kata yang berbeda asalnya, yaitu tele (yunani) yang berarti jauh, dan
visi (videre, bahasa Latin) yang berarti penglihatan. Jadi, televisi berarti gambar dan suara yang
diproduksi di suatu tempat dan dapat dilihat di tempat lain melalui sebuah perangkat penerima
(televisi set).
Televisi adalah salah satu bentuk media komuniaksi massa yang mempunyai daya tarik yang
kuat, disebabkan unsur kata-kata, musik dan sound effect, juga memiliki keunggulan yaitu unsur
visual berupa gambar hidup yang dapat memberikan kesan mendalam bagi pemirsanya dan
mempengaruhi khalayak dengan jalan menggugah emosi dan membuka pikiran pemirsa.
Televisi sebagai salah satu media komunikasi massa memiliki peran yang besar dalam
menyebarkan informasi dan memberikan hiburan ke semua lapisan masyarakat. Televisi
merupakan media massa audiovisual yang sifatnya berbeda dengan media lain. Media cetak
mempunyai kekuatan pada sisi visualnya, media audio (radio) mempunyai kekuatan pada sisi
suara, dan media audiovisual memiliki kekuatan keduanya. Hampir setiap rumah di wilayah
Indonesia terdapat televisi yang hampir selama 24 jam dinyalakan untuk menerima siaran dari
berbagai stasiun televisi. Dengan demikian, media televisi memiliki kekuatan informatif
persuasif yang lebih tinggi dibandingkan dengan media lainnya sehingga media ini dapat
dikatakan lebih sempurna dan efek yang ditimbulkannya pun lebih dasyat baik yang positif
maupun yang negatif bila dibandingkan dengan kedua media tersebut.
Oleh karenanya, media komunikasi ini oleh para pengusaha dimanfaatkan sebagai sarana
promosi yang dikemas dalam bentuk iklan televisi. Agar menarik perhatian, iklan televisi
diusahakan untuk dibuat semirip mungkin dengan kejadian-kejadian kehidupan nyata, dimana
masyarakat yang menjadi sasarannya. Sebuah paket iklan televisi sering mengadirkan fenomena
kemasyarakatan yang tengah berlangsung dan menjadi tren di kalangan masyarakat. Untuk
memberikan pengaruh yang kuat, dimunculkan beberapa peristiwa tutur yang dilakukan oleh
para bintang iklan untuk menghadirkan gambaran kehidupan nyata yang ada di masyarakat,
sehingga dapat mempengaruhi atau mempropaganda minat masyarakat untuk menjadi konsumen
produk yang ditawarkan.

2.6.2 Media Baru (New Media)


New media merupakan media yang menawarkan digitisation, convergence, interactiviy, dan
development of network terkait pembuatan pesan dan penyampaian pesannya. Kemampuanya
menawarkan interaktifitas ini memungkinkan pengguna dari new media memiliki pilihan
informasi apa yang dikonsumsi, sekaligus mengendalikan keluaran informasi yang dihasilkan
serta melakukan pilihan-pilihan yang diinginkannya. Kemampuan menawarkan suatu
interactivity inilah yang merupakan konsep sentral dari pemahaman tentang new media. (Flew,
2002: 11-22)
Sebutan media baru (new media) ini merupakan pengistilahan untuk menggambarkan
kerakteristik media yang berbeda dari yang telah ada selama ini. Media seperti televisi, radio,
majalah, koran digolongkan menjadi media lama/ old media, dan media internet yang
mengandung muatan interaktif digolongkan sebagai media baru/ new media. Sehingga
pengistilahan ini bukan lah berarti kemudian media lama menjadi hilang digantikan media baru,
namun ini merupakan pengistilahan untuk menggambarkan karakteristik yang muncul saja. Utari
menyatakan, dalam media baru ada kombinasi antara komunikasi interpersonal dengan
komunikasi massa. Karena menjangkau khalayak secara global maka bisa dikatakan komunikasi
massa, dan pada saat yang sama karena pesan yang ada dibuat, diarahkan, dan dikonsumsi secara
personal, maka dikatakan komunikasi interpersonal. (Utari, 2011:52)
Era media baru, membawa kehadiran media komunikasi baru bagi masyarakat. Kondisi ini
hendaknya disadari oleh siapapun yang bergerak di dunia periklanan, karena perkembangan gaya
periklanan juga terjadi seiring pergerakan media baru, sehingga harapan teraihnya segmen pasar
yang dituju akan bisa tercapai dengan lebih baik lagi. Media baru (new media) merupakan salah
satu metode yang cukup berpotensi dan sudah banyak dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis
sekarang ini dalam kegiatan promosi. Yosal Iriantara berpendapat senada bahwa media baru juga
berkembang bukan hanya menjadi sarana untuk menyebarluaskan informasi, tetapi juga menjadi
salah satu media periklanan. (Iriantara,2014:8.1)
Internet bukan lagi menjadi ‘barang’ langka di Indonesia. Oleh karena internet merupakan
‘Ibu Kandung’ bagi media baru (new media), maka penggunaan media baru juga bukan lagi
menjadi metode yang asing dalam komunikasi pemasaran (Iriantara, 2014:8.6). Perkembangan
teknologi internet yang sudah bergeser hampir menjadi ‘kebutuhan primer’ bagi banyak orang
sangat mempengaruhi laju perkembangan bisnis melalui media sosial atau jerjaring sosial (social
networking) sebagai salah satu jenis medium (media baru) yang paling populer. (Nasrullah,
2016:40)

2.7 Aplikasi Instagram dalam Komunikasi Pemasaran

Berdasarkan kategorisasinya, instagram merupakan salah satu new media yang singkatnya
ditandai dengan sifat digitalnya yang memungkinkan pengguna satu dengan pengguna lain dapat
saling berinteraksi tidak hanya melalui pesan teks tetapi juga foto dan video. Kehadiran
instagram sebagai jejaring sosial / media sosial yang merupakan salah satu kategori new media
dalam komunikasi pemasaran bisa dilihat dari dua sisi, yakni sisi pengiklan dan sisi pengguna
media sosial.
Dari sisi pengiklan, media sosial memberikan tawaran konten yang beragam. Iklan tidak
hanya bisa diproduksi dalam bentuk teks, tetapi juga audio, visual, sampai audio-visual. Selain
itu, kehadiran media sosial juga memberikan alternatif pilihan bagaimana praktik komunikasi
pemasaran pada era digital ini bisa berubah dari iklan berbayar menjadi iklan berdasarkan
pengalaman penguna ( user experiences) yang cenderung berbiaya kecil dan kadang tanpa biaya
sama sekali. Fasilitas di media sosial dan bagaimana pengguna memanfaatkan media sosial
untuk berbagi realitas diri offline-nya secara online memberikan arah balik bagaimana periklanan
itu bekerja. Pengguna, secara sadar maupun tidak, menginformasikan pengalaman mereka dalam
menggunakan produk atau jasa. Banyak riset yang menyebutkan bahwa media sosial dianggap
sebagai sarana untuk pengguna berbagi pikiran, pengalaman, bahkan pandangan terhadap sebuah
peristiwa. Karena itu, tidak mengherankan apabila pengguna media sosial adalah juga konsumen
yang bisa mempromosikan sebuah produk. (Nasrullah, 2016:162)
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Deskripsi Produk dan Analisis Perencanaan Program Komunikasi Pemasaran Media
Televisi dan New Media dalam Memasarkan Produk ‘Vegetable Nugget’
3.1.1 Deskripsi Produk
Dalam makalah ini kami membahas suatu produk dalam bidang kuliner yaitu "Vegetable
Nuget". kami memilih vegatable nuget dikarenakan ini merupakan suatu terobosan baru dalam
bidang kuliner, biasanya nuget diisi dengan daging ayam,keju, atau daging sapi. Tetapi ini
berbeda produk ini menambahkannya dengan sayuran agar dapat menambah asupan protein bagi
tubuh. Vegetable Nuget dapat di konsumsi oleh semua kalangan tetapi di prioritaskan untuk
kalangan anak-anak, dimana biasanya anak-anak susah untuk mengkonsumsi sayuran maka dari
itu produk ini ingin membantu para orangtua yang mempunyai problem dengan anak susah
mengkonsumsi sayur dengan menkonsumsi Vegetable Nuget.
Disisi lain Vegetable Nuget terbuat dari bahan yg baik dan tidak menggunakan pengawet, dan
pembuatannya pun melalui prosedur Halal. Harga dari Vegetable Nuget pun sangat terjangkau
dan pas di kantong dengan cukup mengeluarkan uang RP.15.000,-/bungkus dan dalam satu
bungkus terdapat 5 buah nuget vegetable. Produk ini akan mampu bersaing dalam dunia bisnis
kuliner diakrenakan konsep yg di usung merupakan penggabungan antara makanan modern dan
olahan sayur.

3.1.2 Analisis Perencanaan Program Komunikasi Pemasaran Media Tlvvisi dan New Media
dalam Memasarkan Produk ‘Vegetable Nugget’
Dalam perkembangan bisnis dewasa ini membuat persaingan bisnis menjadi semakin ketat.
Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kemajuan dan perkembangan teknologi yang cukup pesat di
dunia. Konsumen semakin selektif dalam memilih informasi pemasaran yang tersedia. Pelaku
usaha juga mulai memikirkan bagaimana cara menarik calon konsumen untuk membeli produk
atau jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Perusahaan tentu perlu memikirkan cara yang
tepat untuk hal tersebut, salah satunya lewat strategi pemasaran. Selain itu, tidak jarang pelaku
bisnis membuat perubahan pada sistem bisnis tradisional menjadi modern, tidak terkecuali pada
sistem pemasarannya. Dengan sistem pemasaran yang modern tersebut menuntut pelaku bisnis
untuk lebih kreatif dan maju agar bisa memperoleh keunggulan kompetitif dari perusahaan lain.
Perusahaan tidak hanya melakukan pengembangan strategi pemasaran, melainkan juga
pengembangan suatu program komunikasi yang efektif dengan para pelanggan lewat promosi.
Promosi diharapkan bisa membawa perusahaan lebih mudah dalam mengenalkan produk atau
jasa yang dimilikinya kepada konsumen atau dengan kata lain sebagai media untuk
memperkenalkan produknya, sehingga nilai yang akan disampaikan oleh perusahaan terhadap
produk tersebut dapat sampai ke konsumen.
Promosi digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemasaran, seperti merangsang
antusiasme penjualan, memfasilitasi pengenalan produk baru, mendorong pembelian berulang,
dan memperkuat iklan (Shimp, 2010). Periklanan menjadi salah satu elemen dari promosi dan
periklanan juga dijadikan sesuatu hal yang tepat untuk menghasilkan consumer goods dengan
frekuensi penggunaan tinggi. Periklanan merupakan salah satu alat utama dari banyak
perusahaan dalam mempengaruhi konsumen. Selain itu, periklanan sebagai media yang
digunakan perusahaan untuk mengarahkan komunikasi yang persuasif pada konsumen. Iklan
ditujukan untuk mempengaruhi perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap, dan citra
konsumen yang berkaitan dengan suatu produk atau jasa.
Melalui iklan, perusahaan dapat menciptakan hubungan interaksi jangka panjang yang
menguntungkan antara perusahaan dengan konsumen. Iklan merupakan pesan suatu merek,
produk, atau perusahaan yang disampaikan kepada audiens melalui media. Pemilihan media
dalam periklanan harus dilakukan secara tepat. Perusahaan dapat melakukan periklanan di media
cetak, media elektronik, mapun media online seperti yang banyak terjadi saat ini. Adapun
periklanan di media cetak antara lain lewat surat kabar atau majalah. Untuk media elektronik
bisa melalui radio atau televisi, sedangkan untuk media baru (new media) dengan menggunakan
fasilitas internet. Diberbagai media tersebut, iklan harus tetap menarik sehingga kreatifitas dari
pengiklan sangat dibutuhkan. Pemilihan media yang tepat sesuai dengan sasaran dan produk
yang dimiliki oleh perusahaan juga diperlukan agar iklan tersebut bisa efektif dan nilai dari iklan
bisa tersampaikan ke konsumen. Fokus dalam analisis ini akan mengambil media elektronik dan
media baru (new media) dengan menggunakan media sosial yakni Instagram dalam memasarkan
produk “Vegetable Nugget”.
Dalam hal mempromosikan produk yang ditujukan kepada masyarakat luas disini kami
menggunakan media Televisi, karena pada dasarnya, televisi sebagai salah satu media
komunikasi massa memiliki peran yang besar dalam menyebarkan informasi dan memberikan
hiburan ke semua lapisan masyarakat. Televisi merupakan media massa audiovisual yang
sifatnya berbeda dengan media lain. Media cetak mempunyai kekuatan pada sisi visualnya,
media audio (radio) mempunyai kekuatan pada sisi suara, dan media audiovisual memiliki
kekuatan keduanya. Hampir setiap rumah di wilayah Indonesia terdapat televisi yang hampir
selama 24 jam dinyalakan untuk menerima siaran dari berbagai stasiun televisi. Dengan
demikian, media televisi memiliki kekuatan informatif persuasif yang lebih tinggi dibandingkan
dengan media lainnya sehingga media ini dapat dikatakan lebih sempurna dan efek yang
ditimbulkannya pun lebih dasyat baik yang positif maupun yang negatif bila dibandingkan
dengan kedua media tersebut.
Dengan menggunakan media Televisi kita bisa membuat iklan dengan unsur yang lebih
menarik, misalnya melalui adegan cerita yg dikemas dalam sebuah video seakan-akan itu terjadi
nyata . Karena pada dasarnya Iklan televisi mampu mengarahkan penontonnya memberikan
respons secara suka rela, dan pada akhirnya ia memiliki andil yang kuat dalam pembentukan
lingkungan atau perilaku manusia untuk bersikap hedonis. Iklan merupakan media untuk
mengenalkan suatu produk tertentu agar konsumen mengetahui keunggulan dari produk yang
kami tawarkan. Selain itu, iklan melalui televisi akan menjangkau masyarakat industri yang lebih
besar dan kompleks.
Adapun cara yang dilakukan untuk mengkomunikasikan produk yang kami tawarkan adalah
dengan menggunakan lagu-lagu singkat (jingle), motto atau slogan yang mudah diingat dan
dihafalkan oleh konsumen. Selain itu, melalui pendekatan kultural yaitu dengan menggunakan
public figure atau tokoh yang dikenal masyarakat sebagai model iklannya. Hal ini dilakukan agar
konsumen tertarik terhadap produk yang kami tawarkann dalam bentuk sebuah iklan. Ataupun
dengan cara menyisipkan acara kuis yg biasa hadir di tengah tanyangan televisi seperti drama,
sinetron dan sebagainya dengan iming-iming hadiah atau undian. Kuis tersebut menjadi salah
satu ajang dalam mempromosikan suatu produk dikarenakan iming-iming hadiah otomatis
antusias dari audiens akan meningkat dan menghasilkan feedback yg baik kepada pelaku usaha
yg sedang melakukan kegiatan promosi melalui program kuis dalam media televisi ini.
Berbeda dengan media baru yang sekarang sudah menjadi kebutuhan khalayak luas, dengan
perkembangan internet yang tinggi, tentunya penggunaan media internet untuk kebutuhan
promosi lewat periklanan juga meningkat. Salah satu tempat yang digunakan untuk periklanan
saat ini lewat internet adalah media sosial. Di Indonesia, media sosial menduduki peringkat
pertama penggunaan internet (APJII, 2012). Media sosial diartikan sebagai sekelompok aplikasi
berbasis internet yang membangun fondasi ideologi dan teknologi dari Web 2.0, dan
memungkinkan untuk melakukan penciptaan dan pertukaran yang menghasilkan muatan dari
pengguna (Kaplan and Haenlein, 2010). Dengan media sosial seseorang bisa melakukan
pertukaran atau membagikan informasi kepada orang lain yang tidak terbatas oleh jarak. Media
sosial dinilai menjadi salah satu media untuk promosi online yang efektif bagi sebuah bisnis.
Adapun media sosial yang akan kami gunakan dalam mempromosikan produk yang kami
tawarkan yakni intagram. Berdasarkan kategorisasinya, instagram merupakan salah satu new
media yang singkatnya ditandai dengan sifat digitalnya yang memungkinkan pengguna satu
dengan pengguna lain dapat saling berinteraksi tidak hanya melalui pesan teks tetapi juga foto
dan video. Kehadiran instagram sebagai jejaring sosial / media sosial yang merupakan salah satu
kategori new media dalam komunikasi pemasaran bisa dilihat dari dua sisi, yakni sisi pengiklan
dan sisi pengguna media sosial.
Dari sisi pengiklan, media sosial Instagram memberikan tawaran konten yang beragam. Iklan
tidak hanya bisa diproduksi dalam bentuk teks, tetapi juga audio, visual, sampai audio-visual.
Selain itu, kehadiran media sosial juga memberikan alternatif pilihan bagaimana praktik
komunikasi pemasaran pada era digital ini bisa berubah dari iklan berbayar menjadi iklan
berdasarkan pengalaman penguna ( user experiences) yang cenderung berbiaya kecil dan kadang
tanpa biaya sama sekali. Fasilitas di media sosial dan bagaimana pengguna memanfaatkan media
sosial untuk berbagi realitas diri offline-nya secara online memberikan arah balik bagaimana
periklanan itu bekerja. Pengguna, secara sadar maupun tidak, menginformasikan pengalaman
mereka dalam menggunakan produk atau jasa. Banyak riset yang menyebutkan bahwa media
sosial dianggap sebagai sarana untuk pengguna berbagi pikiran, pengalaman, bahkan pandangan
terhadap sebuah peristiwa. Karena itu, dalam hal ini pengguna media sosial yang juga konsumen
yang bisa mempromosikan produk yang kami tawarkan. Kami menjadikannya suatu alternatif
promosi dengan memuat suatu video dengan tema komedi,horror,meme atau magic yang
berhubungan dengan keseharan disertai testimony dari konsumen yang bisa menjadikan suatu
promosi lebih hemat, mudah dan praktis di bandingkan televisi yang mengeluarkan budget cukup
besar. Oleh karena itu, keduanya merupakan sarana untuk melakukan promosi dengan
melakukan komunikasi terhadap audiens menggunakan perantara (Media) yg mempunyai
kelebihan dan juga kekurangannya masing-masing dalam mempromosikan produk yang kami
tawarkan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Perencanaan Komunikasi merupakan hal mendasar yang diperlukan dalam suatu kegiatan
komunikasi sosial, utamanya untuk memperkenalkan atau memasarkan produk. Dalam hal ini,
untuk mengkampanyekan, menyosialisasikan, atau mempromosikan suatu “produk” (program,
barang, jasa, atau lembaga) kepada khalayak perlu adanya program perencanaan komunikasi
yang mengharapkan tercapainya tujuan dan di dalam sebuah perencanaan komunikasi terdapat
perencanaan media. Menurut Terence A. Shimp (2003: 5) bahwa perencanan media meliputi
proses penyusunan rencana penjadwalan yang menunjukkan bagaimana waktu dan ruang
periklanan akan mencapai tujuan pemasaran.
Perencanaan media sangat diperlukan, agar pesan sampai ke khalayak sasarannya.
Pentingnya sebuah perencanaan media karena dengan perencanaan, akan memudahkan untuk
memastikan bahwa sebuah pesan dari suatu iklan itu didengar sebanyak mungkin oleh khalayak
sasarannya, dalam lingkungan yang tepat dan pada waktu yang tepat. Perencanaan media terbagi
atas empat tahap, yaitu: menetapkan audiens sasaran, media objective, media strategy, serta
media schedule.
Dalam hal ini, kami menggunakan media Televisi sebagai sarana promosi produk yang kami
tawarkan, dengan cara mengemas iklan dengan unsur yang lebih menarik, misalnya melalui
adegan cerita yg dikemas dalam sebuah video seakan-akan itu terjadi nyata dengan
menambahkan lagu-lagu singkat (jingle), motto atau slogan yang mudah diingat dan dihafalkan
oleh konsumen. Selain itu, melalui pendekatan kultural yaitu dengan menggunakan public figure
atau tokoh yang dikenal masyarakat sebagai model iklannya. Hal ini dilakukan agar konsumen
tertarik terhadap produk yang kami tawarkann dalam bentuk sebuah iklan.. Karena pada
dasarnya Iklan televisi mampu mengarahkan penontonnya memberikan respons secara suka rela,
dan pada akhirnya ia memiliki andil yang kuat dalam pembentukan lingkungan atau perilaku
manusia untuk bersikap hedonis.
Selain menggunakan media televisi sebagai sarana promosi, kami pun menggunakan media
baru, yakni Instagram. Era media baru, membawa kehadiran media komunikasi baru bagi
masyarakat. Kondisi ini hendaknya disadari oleh siapapun yang bergerak di dunia periklanan,
karena perkembangan gaya periklanan juga terjadi seiring pergerakan media baru, sehingga
harapan teraihnya segmen pasar yang dituju akan bisa tercapai dengan lebih baik lagi. Media
baru (new media) merupakan salah satu metode yang cukup berpotensi dan sudah banyak
dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis sekarang ini dalam kegiatan promosi teruma media sosial
seperti hal nya instagram. Oleh karena itu, kami mencoba memasarkan produk yang kami
tawarkan yakni “Vegetable Nugget” melalui iklan dalam media televisi dan media baru yakni,
Instagram dengan tujuan untuk menjangkau khalayak sasaran yang lebih luas dan kompleks, baik
dalam bentuk teks, audiovisual dan lain sebagainya dengan sajian iklan yang semenarik mungkin
sehingga dapat menarik minat konsumen terhadap produk yang kami tawarkan