Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Cacat bawaan adalah suatu kelainan/cacat yang dibawa sejak lahir

baik fisik maupun mental. Cacat bawaan dapat disebabkan akibat kejadian

sebelum kehamilan, selama kehamilan dan saat melahirkan atau masa

perinatal. Cacat ini dapat akibat penyakit genetik, pengaruh lingkungan baik

sebelum pembuahan (bahan mutagenik) maupun setelah terjadi pembuahan

(bahan teratogenik).

Bila cacat bawaan terutama malformasi multipel disertai dengan

retardasi mental dan kelainan rajah tangan (dermataoglifi) memberikan

kecurigaan kelainan genetik (kromosomal). Penyakit genetik adalah penyakit

yang terjadi akibat cacat bahan keturunan pada saat sebelum dan sedang

terjadi pembuahan. Penyakit genetik tidak selalu akibat pewarisan dan

diwariskan, dapat pula terjadi mutasi secara spontan yang dipengaruhi oleh

lingkungan. Penyakit infeksi dalam kandungan, pengaruh lingkungan seperti

radiasi sinar radioaktif dan kekurangan/kelebihan bahan nutrisi juga dapat

menyebabkan cacat bawaan.

Kelainan bawaan pada neonatus dapat terjadi pada berbagai organ

tubuh. Diantaranya meningokel dan ensefalokel.

1
Meningokel dan ensefalokel merupakan kelainan bawaan di mana

terjadi pemburutan selaput otak dan isi kepala keluar melalui lubang pada

tengkorak atau tulang belakang.

Meningokel biasanya terdapat pada daerah servikal atau daerah

torakal sebelah atas. Kantong hanya berisi selaput otak, sedangkan korda

tetap dalam korda spinalis ( dalam durameter tidak terdapat saraf). Operasi

akan mengoreksi kelainan, sehingga tidak terjadi gangguan sensorik dan

motorik dan bayi akan menjadi normal.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi Meningokel ?

2. Apa etilogi dari Meningokel ?

3. Bagaimana patofisiologi dari Meningokel ?

4. Bagaimana tanda dan gejala Meningokel ?

5. Bagaimana manifestasi klinik dari meningokel

6. Apa saja klasifikasi Meningokel?

7. Bagaimana pathway dari Meningokel?

8. Apa pemeriksaan penunjang dari Meningokel ?

9. Apa Deteksi prenataldari meningokel?

10. Bagaimana diagnosis dari meningokel??

11. Bagiamana penatalaksanaan pada Meningokel ?

12. Apa komplikasi dari Meningokel ?

13. Apa saja pencegahan penyakit meningokel?

14. Bagaimana asuhan keperawatan Meningokel ?

2
C. TUJUAN

1. Tujuan umum

Mengetahui gambaran pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan

kasus meningokel

2. Tujuan khusus

3. mengetahui definisi Meningokel

4. mengetahui etilogi dari Meningokel

5. mengetahui manifestasi klinik meningokel

6. mengetahui gambaran patofisiologi dari Meningokel

7. mengetahui tanda dan gejala Meningokel

8. mengetahu klasifikasi Meningokel

9. mengetahui pathway dari Meningokel

10. mengetahui pemeriksaan penunjang dari Meningokel

11. mengetahui Deteksi prenataldari meningokel

12. Mengetahui gambaran diagnosis dari meningokel

13. Mengetahui gambaran patofisiologi dari Meningokel

14. Bagiamana penatalaksanaan pada Meningokel

15. Mengetahui komplikasi dari Meningokel

16. Mengetahui pencegahan penyakit meningokel

17. Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan Meningokel

D. MANFAAT

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi tenaga perawat dalam

menerapkan asuhan keperawatan pada anak dengan kasus Meningokel.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Meningokel adalah protusi meningen dan cairan serebrospinalais

kedalam suatu kantung yang di tutupi oleh epitel. Gejala klinis bervariasi

sesuai anomali korda spinalis yang mendasari.(Obstetri Willams).

Meningokel adalah satu dari tiga jenis kelainan bawaan spina bifida.

Meningokel adalah meningens yang menonjol melaluivertebrata yang tidak

utuh dan teraba sebagai suatu benjolan berisi cairan dibawah kulit. Angka

kejadiannya 3 dari 1000 kelahiran. Meningokel adalah penonjolan dari

pembungkus medulla spinalis melalui spina bifida dan terlihat sebagai

benjolan pada permukaan. Pembengkakan kistis ini ditutupi oleh kulit yang

sangat tipis. (Prinsip Keperawatan Pediatric, Rosa M. Sachrin, 2008).

Meningokel terbentuk saat meninges berherniasi melalui defek pada

lengkung vertebra posterior. Medulla spinalis biasanya normal dan menerima

posisi normal pada medulla spinalis, meskipun mungkin terlambat, ada

siringomielia, atau diastematomielia. Massa linea mediana yang berfluktuasi

yang dapat bertransiluminasi terjadi sepanjang kolumna vertebralis, biasanya

berada dipunggung bawah. Sebagian meningokel tertutup dengan baik

dengan kulit dan tidak mengancam penderita (Behrman dkk, 2000).

B. Etiologi

Penyebab spesifik dari meningokel atau belum diketahui. Banyak

factor seperti keturunan dan lingkungan diduga terlibat dalam terjadinya

4
defek ini. Tuba neural umumnya lengkap empat minggu setelah konsepsi.

Hal- hal berikut ini telah ditetapkan sebagai faktor penyebab; kadar vitamin

maternal rendah, termasuk asam folat: mengonsumsi klomifen dan asam

valfroat: dan hipertermia selama kehamilan. Diperkirakan hampir 50% defek

tuba neural dapat dicegah jika wanita bersangkutan meminum vitamin-

vitamin prakonsepsi, termasuk asam folat. (buku saku keperawatan pediatric

e/3 [Cecila L. Betz & Linda A. Sowden.2002] hal-468) Kelainan konginetal

SSP yang paling sering dan penting ialah defek tabung neural yang terjadi

pada 3-4 per 100.000 lahir hidup. Bermacam-macam penyebab yang berat

menentukan morbiditas dan mortalitas, tetapi banyak dari abnormalitas ini

mempunyai makna klinis yang kecil dan hanya dapat dideteksi pada

kehidupan lanjut yang ditemukan secara kebetulan.

(Patologi Umum Dan Sistematik Vol 2, J.C.E. Underwood. 1999.

hal-885) Gangguan pembentukan komponen janin saat dalam kandungan.

Penonjolan dari korda spinalis dan meningens menyebabkan kerusakan pada

korda spinalis dan akar saraf, sehingga terjadi penurunan atau gangguan

fungsi pada bagian tubuh yang dipersarafi oleh saraf tersebut atau bagian

bawahnya.

C. Patofisiologi

Ada dua jenis kegagalan penyatuan lamina vertebrata dan kolumna

spinalis yaitu spina bifida okulta dan spina bifida sistika. Spina bifida okulta

5
adalah defek penutupan dengan meningen tidak terpajan di permukaan kulit.

Defek vertebralnya kecil, umumnya pada daerah lumbosakral.

Spina bifida sistika adalah defek penutupan yang menyebabkan

penonjolan medula spinalis dan pembungkusnya. Meningokel adalah

penonjolan yang terdiridari meninges dan sebuah kantong berisi cairan

serebrospinal (CSS): penonjolanini tertutup kulit biasa. Tidak ada kelainan

neurologi, dan medulla spinalis tidak terkena. Hidrosefalus terdapat pada

20% kasus spina bifida sistika. Meningokel umumnya terdapat pada

lumbosakral atau sacral. Hidrosefalus terdapat pada hampir semua anak yang

menderita spina bifida (85% sampai 90%), kira-kira60% sampai 70% tersebut

memiliki IQ normal.Banyak ahli percaya bahwa defek primer pada NTD

(neural tube defect)merupakan kegagalan penutupan tuba neural selama

perkembangan awal embrio.Akan tetapi, ada bukti bahwa defek ini

merupakan akibat dari pemisahan tubaneural yang sudah menutup karena

peningkatan abnormal tekanan cairan serebrospinal selama trimester pertama.

D. Tanda dan gejala

Gejalanya bervariasi, tergantung kepada beratnya kerusakan pada

korda spinalis dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala

ringan atau tanpa gejala, sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhan

pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis atau akar saraf yang terkena.

6
Gejala pada umumnya berupa penonjolan seperti kantung

dipunggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir.

Kelumpuhan/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki, penurunan sensasi,

inkontinesia uri maupun inkontinensia tinja. Korda spinalis yang tekena

rentan terhadap infeksi (meningitis).

1. Gangguan persarafan

2. Gangguan mental

3. Gangguan tingkat kesadaran

E. Manifestasi Klinis

Gejala bervariasi tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda

spinalis dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan

atau tanpa gejala, sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhan pada

daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis maupunnakar saraf yang terkena.

Gejalanya dapat berupa :

1. Penonjolan seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi

baru lahir.

2. Jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya.

3. Kelumpuhan / kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki.

4. Seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang).

5. Lekukan pada daerah sakrum.

7
F. Pathway

Ibu Pathway
G. Hamil

Ketidakseimbangan
Kurang asupan nutrisi
Nutrisi
Terutama asam
Gangguan
folat / vit B9
pertumbuhan dan
perkembangan sel janin

Kegagalan pertumbuhan
lamina vertebrata

Terdapat celah pada lamina


vertebrata

SPINA BIFIDA

SB OKULTA SB SISTIKA

SB Meningokel SB
meningomeilokel

Orang tua Tonjolan mirip kantong


cemas pada meninges dan
cairan

Kurang cerebo spinal


informasi
tentang gangguan sistem saraf pada eksemitas bawah
penyakit fungsi saraf kelainan saraf (pinggul dan kaki)
pada sistem 8
perkemihan
kelainan
Tekanan pada peningkatan Kelumpuhan
Defisiensi produksi
tonjolan tulang
Pengetahuan

Hambatan
Kerusakan Cairan cerebo mobilitas fisik
integritas kulit spinal

Pmbedahan/oprasi

Resiko infeksi

9
G. Pemeriksaan Penunjang

1. Rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan.

2. USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pda korda

spinalis maupun vertebra

3. CT scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk

menentukan lokasi dan luasnya kelainan.

H. Deteksi prenatal

Terdapat kemungkinan untuk menentukan adanya beberapa NTD

terbuka selama masa prenatal. Pemindaian ultrasuara pada uterus dan

peningkatan konsentrasi alfafetoprotein (AFP), suatu gamma, globulin yang

spesifik pada fetus, dalam cairan amnion mengindikasikan adanya arensefali

atau mielomeningokel. Waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan

diagnostic ini adalah pada usia gestasi 16 dan 18 minggu, sebelum

konsentrasi AFP yang normalnya menurun, dan pada saat yang tepat untuk

melakukan aborsi terapeutik. Pengambilan sampel virus koronik (chorionic

villus sampling, CVS) juga merupakan pemeriksaan untuk diagnostik NTD

pada masa prenatal.

Prosedur diagnostic di atas direkomendasikan untuk semua ibu yang

telah melahirkan anak dengan gangguan ini dan dan pemeriksaan ditawarkan

bagi semua wanita hamil. Selain itu, rencana kelahiran dengan sesar dapat

menurunkan disfungsi motorik. (buku ajar keperawatan pediatrik, Donna L.

Wong. Hal-1425)

I. Diagnosis

10
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan

fisik. Pada trimester pertama, wanita hamil menjalani pemeriksaan darah

yang disebut triple screen. Tes ini merupakan tes penyaringan untuk spina

bifida, sindrom down, dan kelainan bawaan lainnya.

Sebanyak 85% wanita yang mengandung bayi spina bifida, akan

memiliki kadar serum alfa petoprotein yang tinggi. Tes ini memiliki angka

positif yang palsu tinggi, karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan

pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang

biasanya dapat menemukan adanya spina bifida. Kadang dilakukan

amniosentesis. Setelah bayi lahir dilakukan pemeriksaan rontgen tulang

belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan, pemeriksaan USG

tulang belakang bias menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis

maupun vertebrata, serta pemeriksaan CT-Scan atau MRI tulang belakang

kadang-kadang dilakukan untuk menentukan lokasi dan lokasi kelainan.

J. Penatalaksanaan

Tujuan dari pengobatan awal meningokel adalah mengurangi

kerusakan saraf, meminimalkan komplikasi (misalnya infeksi), serta

membantu keluarga dalam menghadapi kelainan ini. Pembedahan dilakukan

pada periode neonatal untuk mencegah rupture. Perbaikan dengan

pembedahan pada lesi spinal dan pirau CSS pada bayi hidrosefalus dilakukan

pada saat kelahiran. Pencangkokan kulit diperlakukan bila lesinya besar.

Antibiotic profilaktik diberikan untuk mencegah meningitis. Intervensi

11
keperawatan yang dilakukan tergantung ada tidaknya disfungsi dan berat

ringannya disfungsi tersebut pada berbagai system tubuh.

Terapi fisik dilakukan agar pergerakan sendi tetap terjaga dan untuk

memperkuat fungsi otot. Untuk mengobati dan mencegah meningitis, infeksi

saluran kemih dan lainnya diberikan antibiotic. Untuk membantu

memperlancar aliran kemih bias dilakukan penekanan lembut diatas kandung

kemih. Pada kasus yang berat kadang harus dilakukan pemasangan kateter.

Diet kaya serat dan program pelatihan buang air besar bisa membantu

memperbaiki fungsi saluran pencernaan.

Untuk mengatasi gejala muskulo skeletal (otot dan kerangka tubuh)

perlu campur tangan dari ortopedi (bedah tulang) maupun terapi fisik.

Keleinan saraf lainnya diobati sesuai dengan jenis dan luasnya gangguan

fungsi yang terjadi. Kadang-kadang pembedahan shunting untuk

memperbaiki hidrosefalus. Seksio sesarae terencana, sebelum melahirkan,

dapat mengurangi kerusakan neurologis yang terjadi pada bayi dengan defek

korda spinalis. Penatalaksanaan:

1. Sebelum dioperasi, bayi dimasukkan kedalam incubator dengan kondisi

tanpa baju.

2. Bayi dalam posisi telungkup atau tidur jika kantungnya besar untuk

mencegah infeksi.

3. Berkolaborasi dengan dokter anak, ahli bedah dan ahli ortopedi, dan ahli

urologi, terutama untuk tidakan pembedahan, dengan sebelumnya

melakukan informed consent.

12
Lakukan pengamatan dengan cermat terhadap adanya tanda-tanda

hidrosefalus (dengan mengukur lingkar kepala setiap hari) setelah dilakukan

pembedahan atau juga kemungkinan terjadinya meningitis (lemah, tidak mau

minum, mudah terangsang, kejang dan ubun-ubun akan besar menonjol).

Perhatikan juga banyak tidaknya gerakan tungkai dan kaki, retensi urin dan

kerusakan kulit akibat iritasi urin dan feses.

K. Komplikasi

1. Hedeosefalus

2. Meningitis

3. Hidrosiringomielia

4. Intraspinal tumor

5. Kiposkoliosis

6. Kelemahan permanen atau paralisis pada ekstermitas bawah

7. Serebral palsy disfungsi batang otak

8. Infeksi pada sistem organ lain

9. Sindroma Arnold-Chiari

10. Gangguan pertumbuhan

L. Pencegahan

Risiko dapat dikurangi dengan mengonsumsi asam folat.

Kekurangan asam folat pada seorang wanita harus dikoreksi sebelum wanita

tersebut hamil, karena kelainan ini terjadi sangat dini. Kepada wanita yang

berencana untuk hamil dianjurkan untuk mengonsumsi asam folat sebanyak

0.4 mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari.

13
M. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan kurang asupan makanan, intake inadekuat.

(00002)

2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif. (00004)

3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan

sekunder akibat peningkatan tekanan intrakranial ( 00085)

4. Defisiensi Pengetahuan Orang Tua berhubungan dengan kurang

informasi mengenai penyakit. (00126)

5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan pada tonjolan

tulang (00046)

N. Intervensi Keperawatan

1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan kurang asupan makanan, intake inadekuat..

Tujuan : Membantu terpenuhinya kebutuhan nutrisi.

Krtiteria Hasil :Dapat mempertahankan berat badan dalam batas normal

normal.

Intervensi keperawatan/rasional.

a. Beri dosis sedikit tetapi sering.

b. Pasang infuse.

c. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam menentukan jumlah intake

makanan bayi.

2. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif.

14
Tujuan :Pasien mengalami penurunan risiko terhadap infeksi

system saraf pusat.

Kriteria Hasil :Hasil yang di harapkan kantong meningeal tetap

bersih, utuh, dan tidak menunjukkan buktibukti infeksi

Intervensi / rasional

a. Posisikan bayi untuk mencegah kontaminasi urin dan feses.

b. Bersihkan mielomeningokel dengan cermat menggunakan salin

normal steril bila bagian ini menjadi kotor atau terkontaminasi.

c. Berikan balutan steril dan lembab dengan larutan steril sesuai instruksi

(salin normal, antibiotik) untuk mencegah pengeringan kantong.

d. Berikan antibiotik sesuai resep Pantau dengan cermat tanda-tanda

infeksi (peningkatan suhu, peka rangsang, latergi, kaku kuduk) untuk

mencegah keterlambatan pengobatan dalam pengobatan.

e. Berikan perawatan serupa untuk sisi operatif pada paskaoperasi.

3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan

sekunder akibat peningkatan tekanan intrakranial.

Tujuan :Pasien tidak mengalami deformitas ekstremitas bawah dan

panggul atau resiko pasien terhadap hal tersebut minimal.

Kriteria Hasil :Ekstremitas mempertahankan fleksibelitasnya Panggul

dan ekstremitas bawah dipertahankan pada artikulasi dan kesejajaran

yang benar.

Intervensi keperawatan/rasional

a. Lakukan latihan rentang gerak pasif untuk mencegah kontraktur;

jangan memaksakan suatu titik tahanan untuk mencegah trauma.

15
b. Lakukan peregangan otot bila diindikasikan untuk mencegah

kontraktur.

c. Pertahankan panggul pada abduksi ringan sampai sedang untuk

mencegah dislokasi, jaga agar kaki tetap berada pada posisi netral

untuk mencegah kontraktur.

d. Gunakan gulungan popok, bantalan, bantal pasir kecil, atau alat yang

dirancang khusus untuk mempertahankan posisi yang diinginkan

4. Defisiensi Pengetahuan Orang Tua berhubungan dengan kurang

informasi mengenai penyakit

Tujuan Pendek : orangtua klien dapat memahami proses penyakit

dan prosedur penanganan penyakit anaknya.

Tujuan Penunjang : orangtua klien mampu menjelaskan penyakit

anaknya

Kriteria Hasil : orang tua klien tampak tenang

Orang tua klien dapat menjelaskan proses penyakit dan prosedur

penanganan

Intervensi Keperawatan:

a. Kaji tingkat pengetahuan orangtua klien tentang preoses penyakit

dan penanganan penyakit anaknya

b. Berikan kesempatan orangtua klien untuk bertanya

c. Jelaskan dengan baik kepada orangtua tentang proses penyakit

dan prosedur penanganannya

d. Berikan dukungan positif kepada orang tua klien.

e.

16
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan imobilitas

sekunder akibat reposisi tidak efektif.

Tujuan : Individu menunjukkan integritas kulit bebas dekubitus

Kriteria Hasil : kulit tetap bersih dan kering tanpa bukti-bukti iritasi

Intervensi keperawatan/rasional

a. Ubah posisi individu untuk berbalik atau mengangkat berat

badannya setiap 30 menit sampai 2 jam untuk penurunan takanan

pada kulit.

b. Instruksikan keluarga tentang teknik spesifik yang digunakan

dirumah untuk mencegah dekubitus.

17
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By. P DENGAN DIAGNOSA

MENINGOKEL DI RUANG CHAMDANI A

RS PKU MUHAMMADIYAH SRUWENG

A. PENGKAJIAN

a. IDENTITAS BAYI

Nama Bayi : By. P

Tempat / Tgl lahir : Surabaya / 10 Februari 2013 jam 15.25 WIB

Jenis Kelamin : Perempuan

b. IDENTITAS IBU

Nama Ibu : Ny. P

Tempat / Tgl lahir : 25 tahun

Agama / Suku : Islam / Jawa

Warga Negara : WNI

Bahasa : Indonesia

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat Rumah : Surabaya

c. IDENTITAS AYAH

Nama Ayah : Tn. A

Tempat / Tgl lahir : 43 tahun

Agama / Suku : Islam / Jawa

18
Warga Negara : WNI

Bahasa : Indonesia

Pendidikan : SLTP

Pekerjaan : Swasta

Alamat Rumah : Surabaya

d. PENANGGUNG JAWAB

Nama : Tn. A

Alamat : Surabaya

Hubungan : Ayah By. P

e. Diagnosa Medis: Meningokel

f. Keluhan Utama :

Saat MRS : lemas,benjolan di bagian okspitalis , muka pucat,

Saat Pengkajian : keluarga pasien mengatakan ada benjolan di

bagian okspitalis, menangis dan susa tidur.

B. Riwayat Penyakit Sekarang

Keluarga mengatakan benjolan bagian kepala makin lama makin

besar dan bayinya sering menangis dan susah untuk tidur sehingga

merasa takut dan keluarga membawa bayi ke rumah sakit pada tanggal 19

april 2016 jam 14;00. Pada saat MRS

TD : 90/70, N :135 x/ menit, S : 36,5c, RR : 26x/mnt

Riwayat penyakit yang lalu :

Keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga mengalami penyakit

seperti yang di alami anaknya mereka saat ini.

19
C. Riwayat Kahamilan Dan Persalinan

1. Riwayat Pre Natal

Antenatal Care / ANC : Bidan setiap bulan ( 9 kali)

Imunisasi :-

Tablet Fe : Dapat

Keluhan saat hamil : Gula darah ibu naik (DM) selama hamil

Kebiasaan saat hamil : Selama hamil Ibu tidak pernah merasa

mual ataupun sakit hanya saja nafsu makannya semakin meningkat,

tidak seperti biasanya. Ibu mengalami PEB (hipertensi, oedema pada

kaki, protein urine), Diabetus mellitus dan obesitas.

2. Riwayat Natal

Jenis Persalinan : Operasi Sectio Sesaria

Pertolongan Persalinan : Dokter

Usia Kehamilan : 32 minggu

Anak ke : 1 (Pertama)

Waktu Pecah Ketuban : Spontan sebelum lahir (warna jernih)

KPP (-)

Bayi lahir 30 detik : Menangis

Resusitasi Neonatus : Dilakukan

IMD : Tidak dilakukan

APGAR SCORE :-

Lain – lain : Bayi lahir Jenis kelamin Perempuan BB

2000 gr, PB 48 cm, LK 34 cm, Gerak

tangis kuat, Anus (+)

20
3. Riwayat Post Natal

Setelah lahir bayi dirawat di ruang intermediet selama 4 hari

karena hipoglikemia.

4. Riwayat Kesehatan

Ibu bayi mengatakan bapak dan ibunya juga menderita penyakit

kencing manis.

5. Riwayat Psikososial

Ibu / Ayah dan keluarga bayi berharap agar bayinya lekas sembuh

dan bisa segera pulang ke rumah.

D. POLA NUTRISI

Bayi minum ASI diberikan 2 jam sekali

E. POLA ISTIRAHAT

Bayi tidur kurang dari 10 jam perhari

H. Pola Aktifitas

1. Bayi sering menangis

2. Bayi tidur miring (tidak menonjol benjolan) benjolan diberi kasa

steril.

I. PEMERIKSAAN FISIK

1. Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum : lemah

Kesadaran : komposmetis

Nadi : > 125x/menit

RR : > 26x/menit

Suhu : >36,5 C

21
2. kepala leher

a. Kepala :

b. Inpeksi : Bentuk bulat, terdapat benjolan/ odema pada area

okspitalis berupa selaput, warna rambut hitam, rambut lurus,

odema

c. Muka :

d. inspeksi : bentuk bulat, tidak chianosis dan ikterus, pucat,

tidak ada odema

e. Mata :

f. inpeksi : bentuk simetris, tidak ada kelainan, tidak adan

odema, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

g. Telinga :

h. inspeksi : Bentuk simetris, Bersih, Tidak ada serumen,

Fungsi pendengaran baik

i. Hidung :

j. inpeksi : bentuk simetris, tidak ada sekret, tidak ada kelainan,

tidak ada penapasan cuping hidung.

k. Mulut :

l. inspeksi : bentuk simetris, warna merah, mukosa bibir kering

3. Dada Dan Thoraks

a. Jantung

1) Inspeksi: Bentuk simetris, Tidak odem,tidak ada kelainan,

RR 26x/mnt

2) Palpasi : Tidak ada nyeri,

22
3) Auskultasi : Tidak ada bunyi tambahan ,suara jantung normal

4) Prekusi: Tidak ada pembesaran jantung

b. Paru

1) Inpeksi : simetris kiri kanan

2) Palpasi : tidak ada luka atau lesi

3) Prekusi : suara sonor

4) Askultasi : tidak ada bunyi tambahan whezing

c. Abdomen

1) Inspeksi : simetris kiri kanan ,tidak ada pembengkakan /odem

2) Palpasi : tidak ada massa

3) Prekusi : tidak ada hiper tampani

4) Askultasi pristastik usus normal 23x/menit

2. Genetalia dan anus

a. Inpeksi : Labia mayora sudah menutupi labia minor

b. Palpasi : ada lubang pada anus

3. Ekstermitas

a. Atas : bayi dapat menggerakan tangannya ,tidak ada polidalitili

b. Bawah : tidak ada varises

4. Sistem neurologi : Reflek bayi normal

5. Kulit dan kuku :

a. Kulit : turgor kulit baik, warna kulit mengkilat

b. Kuku : tidak ada kekuninga

23
J. Analisa Data

No Data Fokus Etiologi Problem


1 DS: orang tua klien mengatakan Tekanan pada tonjolan Kerusakan
anaknya jarang diberikan cairan kulit integritas kulit
DO: kulit klien tampak kering, kulit (00046)
pucat, adanya lesi
2 DS: orang tua klien mengatakan Gangguan neurologis Ketidakefektifan
anaknya susah minum asi
Tonjolan di selaput
DO:, klien terlihat lemah dan pola makan bayi
menangis spina bifida
(00107)

3 DS: orang tua klien mengatakan organisme infektif Resika Infeksi


terdapat benjolan di punggung

24
DO: terdapat benjolan di selaput spina (00004)
bifida
4 DS: orang tua klien mengatakan 1. Kelainan sistem Hambatan
anaknya lemah saat beraktivitas
saraf
anaknya menangis mobilisasi fisik
DO: klien bedrest, dan tubuh masih 2. Kelainan pada
lemah klien susah tidur (00085)
estermitas bawah (
pinggul ,kaki)
3. Kelumpuhan
Gangguan
mobilisasi fisik

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan pada

tonjolan tulang (00046)

2. Ketidakefektifan pola makan bayi berhubungan dengan gangguan

neurologis (00107)

3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif.

(00004)

4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan

ketahanan sekunder akibat peningkatan tekanan intrakranial ( 00085)

L. INTERVENSI

DIAGNOSA NOC NIC

1. Kerusakan Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Luka Tekan (3540)


integritas keperawatan selama 3 X 24 jam - Menggunakan metode
kulit diharapkan masalah keperawatan pengukuran suhu kulit yang
tepat untuk mengetahui
berhubungan teratasi
resiko luka tekan, sesuai
dengan Integritas jaringan: kulit & membran dengan protap yang ada.
tekanan pada mukosa(1101) - Dokumentasi berat badan
tonjolan pasien

25
tulang Indicator A T - Monitor ketat area yang
(00046) 1.elastisitas 3 5 mengalami kemerahan
2.tekstur 3 5 - Ubah posisi klien dengan
teknik yang benar.
3.sensasi 3 5
- Inspeksi kulit di area yang
4.integritas kulit 3 5 menonjol dan area yang
5.wajah pucat 2 5 tertekan lainnya setiap kali
Kriteria : merubah posisi pasien.
1.berat - Pasang perlak dari bahan
2.cukup berat yang nyaman
- Ajarkan anggota keluarga
3.sedang
atau yang merawat (pasien
4.ringan mengenai tanda-tanda kulit
5.tidak ada yang tidak utuh.
2. Ketidak Setelah dilakukan tindakan Pengajaran:nutrisi bayi 0-3 bulan
efektifan keperawatan selama 3 X 24 jam (5640)
pola makan diharapkan masalah keperawatan - Intruksikan orang tua
/pengasuh untuk memberi
bayi teratasi
makan hanya asi atau susu
berhubungan formula untuk tahun pertama
dengan Status nutrisi bayi (1020) (tidak ada makanan padat
gangguan sebelum 4 bulan)
neurologis - Intruksikan orang tua/
(00107) pengasuh untuk membatasi
intake air ½ sampai 1 ons
pada satu waktu,4 ons setiap
hari
- Berikan orang tua materi
indikator A T tertulis yang sesuai dengan
1. Intake nutrisi 2 5 kebutuhan pengetahuan yang
2. Intake cairan lewat 2 5 telah diindetifikasi
mulut
3. Toleransi makanan 2 5
4. Perbandingan berat 2 5
/tinngi
5. Intake cairan 2 5
intravena
Kriteria :
1. Berat
2. Cukup Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak Ada
3. Resiko Setelah dilakukan tindakan kontrol infeksi(6540)
infeksi keperawatan selama 3 X 24 jam - Pertahankan teknik isolasi
yang sesui

26
berhubungan diharapkan masalah keperawatan - Tingkatkan intake nutrisi
dengan teratasi yang tepat
adanya - Dorong untuk beristirahat
- Berikan imunisasi yang sesui
organisme Keparahan infeksi : baru lahir(0708)
- Ajarkan pasien dan keluarga
infektif. mengenai tanda dan gejala
(00004) indikator A T infeksi dan kapan harus
1.wajah pucat 3 5 melaporkannya kepada
2. gelisah 3 5 penyedia perawatan
3. menangis kuat 3 5 kesehatan
4.kulit kemerahan 3 5
Kriteria :
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
4. Hambatan Setelah dilakukan tindakan Pengaturan posisi
mobilitas keperawatan selama 3 X 24 jam neurologi(0844)
fisik diharapkan masalah keperawatan - Berikan posisi terapeutik
- Jangan berikan tekanan pada
berhubungan teratasi
bagian tubuh yang terganggu
dengan - Lindungi bagian tubuh yang
kekuatan dan Pergerakan (0208) terganggu
ketahanan - Berikan tempat tidur yang
sekunder indikator A T tepat
akibat 1.keseimbangan 3 5 - Pertahankan kesejajaran
peningkatan tubuh yang tepat
2.kinerja pengaturan 3 5
tekanan tubuh
intrakranial ( 3.bergerak dengan mudah 3 5
00085) Kriteria :
1.sangat terganggu
2.banyak terganggu
3.cukup terganggu
4. sedikit terganggu
5. tidak terganggu

M. IMPLEMENTASI

D Hari, Tindakan Respon Paraf


x tanggal jam

27
1 Senin, Mengukur TTV pada bayi Ds : -
6 agustus Do :
2018 N : 144x/m
pukul 06.00 S : 370C
WIB RR : 44x/m
UK : 2 hari
07.00 Memandikan bayi, melakukan Ds : -
tindakan asertif dan perawatan tali Do : bayi sudah mulai
pusat bergerak dan menangis
saat dimandikan
07.06 Memakaikan pakaian, popok, dan Ds : -
bedong pada bayi Do : bayi nampak merasa
hangat
07.10 Memberikan ASI ibu kepada bayi Ds : ibunya mengatakan
(ASI diberi sesering mungkin saat bayi hanya sedikit
bayi mulai menangis) meminum ASI
Do : bayi menangis
08.10 Pemberian terapi obat kepada bayi Ds :-
(kolab. Dokter) Do : obat masuk melalui
selang infus
09.00 Mengkaji benjolan yang terdapat Ds : bayi menangis saat
pada punggung bayi benjolan tersentuh
Do : benjolan nampak
elastis, tidak ada tanda-
tanda robek
11.00 Mengganti popok dan bedong bayi Ds : -
Do : bayi tampak BAB
dan BAK
12.30 Mengukur TTV pada bayi Ds : -
Do :
S : 37,20C
N : 144x/m
RR : 44x/m
12.45 Mengkaji benjolan yang terdapat Ds : bayi menangis saat
pada punggung bayi benjolan tersentuh
Do : benjolan nampak
elastis
15.45 Memandikan bayi, melakukan Ds : -
tindakan asertif dan perawatan tali Do : bayi sudah mulai
pusat bergerak dan menangis
saat dimandikan
20.00 Memberikan terapi obat kepada Ds : -
bayi (kolab. Dokter) Do : obat masuk melalui
selang infus pada bayi
20.45 Mengganti popok dan bedong pada Ds : -
bayi Do : bayi menangis,
tampak BAB dan BAK
2. Selasa, Memeriksa TTV pada bayi Ds : -

28
07 Agustus Do : S : 37,10C
2018 N : 140x/m
pukul 06.30 RR : 40x/m
WIB
07.00 Memandikan bayi, melakukan Ds : -
tindakan asertif dan perawatan tali Do : bayi sudah mulai
pusat bergerak dan menangis
saat dimandikan
07.06 mengganti pakaian bayi, popok dan Ds : -
bedong Do : bayi tidak menangis,
bayi tampak hangat dan
nyaman
07.10 Memberikan terapi obat kepada Ds : -
bayi (kolab. Dokter) Do : obat masuk melalui
selang infus pada bayi
07.15 Memanasi bayi denngan sinar Ds : keluarga mengamati
matahari dan memberi pemahaman dan memahami apa yang
untuk pembatasan penunjang dikatakan perawat
Do : bayi terlihat nyaman
08.00 Menimbang berat badan bayi Ds : -
Do : BB : 2.850gr
09.30 Mengkaji benjolan yang terdapat Ds : bayi menangis saat
pada punggung bayi benjolan tersentuh
Do : benjolan nampak
elastis tidak ada tanda-
tanda abrasi dan robek
12.00 Memeriksa TTV pada bayi Ds : -
Do : S : 37,10C
N : 140x/m
RR : 40x/m
12.20 Mengganti popok dan bedong pada Ds :
bayi Do : bayi tampak BAB
dan BAK
15.45 Memandikan bayi dan melakukan Ds :
perawatan tali pusat Do : bayi bergerak aktif,
menangis
19.30 Mengganti popok dan bedong pada Ds :
bayi Do : bayi tampak BAB
dan BAK
20.00 Memberikan terapi obat kepada Ds : -
bayi (kolab. Dokter) Do : obat masuk melalui
selang infus pada bayi
3 Rabu, Memeriksa TTV pada bayi Ds : -
08 Agustus Do : S : 37,10C
2018 N : 140x/m
pukul 06.30 RR : 40x/m
WIB
07.00 Memandikan bayi, melakukan Ds : -

29
tindakan asertif dan perawatan tali Do : bayi sudah mulai
pusat bergerak dan menangis
saat dimandikan
07.06 mengganti pakaian bayi, popok dan Ds : -
bedong Do : bayi tidak menangis,
bayi tampak hangat dan
nyaman
07.10 Memberikan terapi obat kepada Ds : -
bayi (kolab. Dokter) Do : obat masuk melalui
selang infus pada bayi
07.15 Memanasi bayi denngan sinar Ds : keluarga mengamati
matahari dan memberi pemahaman dan memahami apa yang
untuk pembatasan penunjang dikatakan perawat
Do : bayi terlihat nyaman
08.00 Menimbang berat badan bayi Ds : -
Do : BB : 2.850gr
09.30 Mengkaji benjolan yang terdapat Ds : bayi menangis saat
pada punggung bayi benjolan tersentuh
Do : benjolan nampak
elastistidak ada tanda-
tanda infeksi dan robek
12.00 Memeriksa TTV pada bayi Ds : -
Do : S : 37,10C
N : 140x/m
RR : 40x/m
12.20 Mengganti popok dan bedong pada Ds :
bayi Do : bayi tampak BAB
dan BAK
15.45 Memandikan bayi dan melakukan Ds :
perawatan tali pusat Do : bayi bergerak aktif,
menangis
19.30 Mengganti popok dan bedong pada Ds :
bayi Do : bayi tampak BAB
dan BAK
20.00 Memberikan terapi obat kepada Ds : -
bayi (kolab. Dokter) Do : obat masuk melalui
selang infus pada bayi

N. EVALUASI

Hari/tanggal Dx Catatan Perkembangan Paraf


Senin, 06 I S:-
Agustus O : 1. terdapat benjolan pada spina bifida
2018 2. kulit pada benjolan nampak elastis
3. KU : Composmentis

30
N : 144x/m
S : 370C
RR : 44x/m
UK : 2 hari
A : Integritas jaringan: kulit & membran
mukosa(1101)

Indicator Awal Tujuan Akhir


1.elastisitas 3 5 3
2.tekstur 3 5 3
3.sensasi 3 5 3
4.integritas kulit 3 5 3
5.wajah pucat 2 5 3
Kriteria :
1.berat
2.cukup berat
3.sedang
4.ringan
5.tidak ada

P : Lanjutkan Intervensi
II S :-
O : 1. KU : Composmentis
2. bayi nampak lemas, nafsu untuk meminum
ASI pada ibunya menurun
A : Status nutrisi bayi (1020)

indikator Awal Tujuan Akhir


1. Intake nutrisi 2 5 3
2. Intake cairan lewat 2 5 2
mulut
3. Toleransi makanan 2 5 2
4. Perbandingan berat 2 5 2
/tinngi
5. Intake cairan 2 5
intravena 3
Kriteria :
1. Berat
2. Cukup Berat
3. Sedang
4. Ringan

31
5. Tidak Ada

P : Lanjutkan Intervensi
III S:-
O : 1. KU : Composmentis
2. warna benjolan pada punggung bawah bayi
seperti warna kulit dan terdapat cairan didalamnya
A : Keparahan infeksi : baru lahir(0708)

indikator Awal Tujuan Akhir


1.wajah pucat 3 5 3
2. gelisah 3 5 3
3. menangis kuat 3 5 3
4.kulit kemerahan 3 5 4
Kriteria :
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

P : Lanjutkan Intervensi
IV S:-
O: 1. KU : Composmentis
2. bayi kesulitan saat bergerak karena benjolan
pada punggung bawahnya
3. bayi menangis saat benjolan tersentuh
A : Pergerakan (0208)

indikator Awal Tujuan Akhir


1.keseimbangan 3 5 3
2.kinerja pengaturan 3 5 3
tubuh
3.bergerak dengan 3 5 3
mudah
Kriteria :
1.sangat terganggu
2.banyak terganggu
3.cukup terganggu
4. sedikit terganggu
5. tidak terganggu
P: lanjutkan intervensi

32
Selasa, 07 I S:-
Agustus O : 1. terdapat benjolan pada spina bifida
2018 2. kulit pada benjolan nampak elastis
3. KU : Composmentis
N : 140x/m
S : 37,1C
RR : 40x/m
A:
Integritas jaringan: kulit & membran
mukosa(1101)

Indicator Awal Tujuan Akhir


1.elastisitas 3 5 3
2.tekstur 3 5 4
3.sensasi 3 5 4
4.integritas kulit 3 5 3
5.wajah pucat 2 5 4
Kriteria :
1.berat
2.cukup berat
3.sedang
4.ringan
5.tidak ada

P : Lanjutkan Intervensi
II S :-
O : 1. KU : Composmentis
2. bayi nampak lemas, nafsu untuk meminum
ASI pada ibunya menurun
A : Status nutrisi bayi (1020)

Indicator Awal Tujuan Akhir


1. Intake nutrisi 2 5 3
2. Intake cairan lewat 2 5 3
mulut
3. Toleransi makanan 2 5 3
4. Perbandingan berat 2 5 3
/tinngi
5. Intake cairan 2 5 3
intravena
Kriteria :

33
1. Berat
2. Cukup Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak Ada

P : Lanjutkan Intervensi
III S:-
O : 1. KU : Composmentis
2. warna benjolan pada punggung bawah bayi
seperti warna kulit dan terdapat cairan didalamnya
A : Keparahan infeksi : baru lahir(0708)

Indicator Awal Tujuan Akhir


1.wajah pucat 3 5 3
2. gelisah 3 5 3
3. menangis kuat 3 5 3
4.kulit kemerahan 3 5 4
Kriteria :
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

P : Lanjutkan Intervensi
IV S:-
O: 1. KU : Composmentis
2. bayi kesulitan saat bergerak karena benjolan
pada punggung bawahnya
3. bayi menangis saat benjolan tersentuh
A : Pergerakan (0208)

Indicator Awal Tujuan Akhir


1.keseimbangan 3 5 3
2.kinerja pengaturan 3 5 4
tubuh
3.bergerak dengan 3 5 3
mudah
Kriteria :
1.sangat terganggu
2.banyak terganggu

34
3.cukup terganggu
4. sedikit terganggu
5. tidak terganggu

P: lanjutkan intervensi
Rabu, 08 I S:-
Agustus O : 1. terdapat benjolan pada spina bifida
2018 2. kulit pada benjolan nampak elastis
3. KU : Composmentis
S : 37,10C
N : 140x/m
RR : 40x/m
A : Integritas jaringan: kulit & membran
mukosa(1101)

Indicator Awal Tujuan Akhir


1.elastisitas 3 5 4
2.tekstur 3 5 4
3.sensasi 3 5 4
4.integritas kulit 3 5 4
5.wajah pucat 2 5 5
Kriteria :
1.berat
2.cukup berat
3.sedang
4.ringan
5.tidak ada

P : Lanjutkan Intervensi
II S :-
O : 1. KU : Composmentis
2. bayi nampak lemas, nafsu untuk meminum
ASI pada ibunya menurun
A :Status nutrisi bayi (1020)

indikator Awal Tujuan Akhir

35
1. Intake nutrisi 2 5 3
2. Intake cairan lewat 2 5 3
mulut
3. Toleransi makanan 2 5 3
4. Perbandingan berat 2 5 3
/tinngi
5. Intake cairan 2 5
intravena 3
Kriteria :
1. Berat
2. Cukup Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak Ada
P : Lanjutkan Intervensi
III S:-
O : 1. KU : Composmentis
2. warna benjolan pada punggung bawah bayi
seperti warna kulit dan terdapat cairan didalamnya
A : Keparahan infeksi : baru lahir(0708)

Indicator Awal Tujuan Akhir


1.wajah pucat 3 5 3
2. gelisah 3 5 3
3. menangis kuat 3 5 4
4.kulit kemerahan 3 5 5
Kriteria :
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

P : Lanjutkan Intervensi
IV S:-
O: 1. KU : Composmentis
2. bayi kesulitan saat bergerak karena benjolan
pada punggung bawahnya
3. bayi menangis saat benjolan tersentuh
A : Pergerakan (0208)

36
indikator Awal Tujuan Akhir
1.keseimbangan 3 5 4
2.kinerja pengaturan 3 5 5
tubuh
3.bergerak dengan 3 5 3
mudah
Kriteria :
1.sangat terganggu
2.banyak terganggu
3.cukup terganggu
4. sedikit terganggu
5. tidak terganggu

P: lanjutkan intervensi

DAFTAR PUSTAKA

37
Cecila L. Betz & Linda A. Sowden.2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3.

EGC: Jakarta.

Diane M. Fraser. Dkk. 2009.Myles Buku Ajar Kebidanan. EGC: Jakarta.

Elizabet J. Corwin. 2000. Buku saku patofisiologi. EGC: Jakarta

J.C.E. Underwood. 1999. Patologi Umum Dan Sistematik. Vol 2. EGC:

Jakarta

Linda Juall Carpenito-moyet. 2006. Buku saku diagnosis keperawatan

Edisi 10. EGC: Jakarta

Marliynn E. Doengoes, Dkk. 1999.Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.

38